• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sumarni

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Sumarni"

Copied!
85
0
0

Teks penuh

(1)

i

i SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana pada Program Studi Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan IlmuPendidikan

Universitas Muhammadiyah Makassar

Oleh :

Sumarni 10540 4392 10

PROGRAM STUDI GURU SEKOLAH DASAR (PGSD-S1) FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 2014

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE EXAMPLES NONEXAMPLES UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR

KECAMATAN SOMBA OPU KABUPATEN GOWA

ILMU PENGETAHUAN SOSIAL PADA MURID KELAS VI SEKOLAH DASAR NEGERI MANGASA

(2)

ii

ii

MOTTO

Dalam hidup tidak ada yang muda Tetapi tidak ada yang tidak mungkin Jika Allah menghendaki

Hidup adalah cobaan, dan senjata

Yang paling ampuh menghadapi cobaan adalah Bersabar karena sesungguhnya Allah Swt

selalu bersama orang yang bersabar

Kupersembahkan

buat kedua orang tuaku

sebagai tanda cinta dan terima kasihku

(3)

iii

iii

KATA PENGANTAR Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Alhamdulillah, Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelasaikan skripsi ini dengan judul Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Examples Non Examples untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPS pada Murid Kelas VI SDN Mangasa Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa. sebagaimana yang direncanakan sebelumnya. Salam dan shalawat senantiasa tercurah kepada Rasulullah Muhammad Saw, sosok pribadi yang agung dan wajib kita teladani dalam kehidupan sehari-hari.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penulisan skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Semuanya disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh sehingga penulis banyak mengalami kesulitan dan hambatan, namun atas karunia-Nya serta bantuan dari berbagai pihak. Sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

Melalui karya ini dengan hormat kepada Dra. Hidayah Quraisy, M.Pd, pembimbing I dan Dra. Hj. Rahmiah Badaruddin, M.Si pembimbing II yang dengan keikhlasan dan senantiasa bersedia meluangkan waktunya membimbing dan mengarahkan penulis dalam penyelesaian skripsi ini. Ucapkan terima kasih kepada kedua orang tuaku yang tercinta, yang tanpa mengenal lelah, panas, hujan, sakit, demi memeras keringat dengan bantuan do’a materi, support yang tiada henti – hentinya

(4)

iv

demi tercapainya cita – cita kami Selain itu pada kesempatan ini penulis ucapkan banyak terima kasih kepada:

Dr. H. Irwan Akib, M.Pd Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar, yang telah memberikan kesempatan untuk mengenyam pendidikan di Universitas Muhammadiyah Makassar

Dr.Andi Sukri Syamsuri, M.Hum. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar yang senantiasa memberikan bantuan hingga penulis menyelesaiakan studi pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Unismuh Makassar

Sulfasyah, MA., Ph.D Ketua jurusan S 1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar atas bantuannya dalam administrasi perkuliahan.

Sitti Fitriani Saleh, S.Pd, M,Pd, selaku Penasehat Akademik yang telah memberikan bimbingan selama dalam pendidikan.

Dosen Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar yang telah mengajarkan ilmunya dalam perkuliahan.

Bapak Halede sebagai Kepala SD Negeri Mangasa Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa yang telah memberi izin melaksanakan penelitian pada sekolah yang dipimpinnya, dan guru kelas VI yang telah membantu dalam pelaksanaan penelitian.

(5)

v

Buat rekan-rekan mahasiswa kelas F PGSD angkatan 2010 yang telah bersama- sama menempuh suka duka dalam perkuliahan yang Insya Allah menjadi kenangan yang tak terlupakan.

Semua pihak yang telah membantu penulisan ini baik secara langsung maupun tak langsung yang tak dapat penulis sebutkan satu persatu dalam penyusunan skripsi ini.

Akhirnya semoga dalam kesederhanaan dalam penyusunan skripsi ini dapat bermanfaat bagi dunia pendididkan dan kepada kita semua serta senantiasa bernilai ibadah di sisi Allah swt, Amin....!

Makassar, September 2014

penulis

(6)

vi

vi

SURAT PERNYATAAN Saya yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama : Sumarni

Nim : 10540 4392 10

Jurusan : Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Judul Skripsi : Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Examples Non Examples untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPS pada Murid Kelas VI SD Negeri Mangasa Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa.

Dengan ini menyatakan:

“Skripsi yang saya ajukan di depan tim penguji adalah asli karya saya sendiri, bukan hasil jiplakan dan tidak dibuatkan oleh siapapun”

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya dan saya bersedia menerima sanksi apabila pernyataan ini tidak benar.

Makassar, september 2014 Yang membuat pernyataan

Sumarni

NIM: 10540 4392 10

Diketahui

Pembimbing I Pembimbing II

Dra. Hidayah Quraisy, M.Pd. Dra. Hj. Rahmiah Badaruddin, M.Si

(7)

vii

vii ABSTRAK

Sumarni. 2014. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Examples Non Examples untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPS pada Murid Kelas VI SD Negeri Mangasa Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa. Skripsi. Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. Dibimbing oleh Hidayah Quraisy dan

Hj. Rahmiah Badaruddin.

Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (Class Action Research) yang bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar IPS SD Negeri Mangasa Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa. Pelaksanaan penelitian ini terdiri dari empat tahapan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan evaluasi serta refleksi. Subjek dalam penelitian ini adalah murid kelas VI SD Negeri Mangasa Kecematan Somba Opu Kabupaten Gowa sebanyak 28 orang, 17 murid laki-laki dan 11 murid perempuan.

Data hasil tingkat pemahaman murid terhadap mata pelajaran IPS materi Kenampakan Alam dan Keadaan Sosial Negara-Negara Tetangga melalui pemberian tes pada akhir siklus. Data keaktifan murid selama proses pembelajaran yaitu diperoleh dari hasil observasi yang diisi pada lembar observasi. Data yang diperoleh dari observasi dianalisis secara kualitatif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada siklus pertama yang tuntas secara individual dari 28 murid hanya 18 murid atau 64% yang memenuhi kriteria ketuntasan minimal (KKM). Secara klasikal belum terpenuhi karena nilai rata-rata diperoleh 68,21. Sedangkan pada siklus II dari 28 murid atau 89% telah memenuhi KKM dan secara klasikal sudah terpenuhi yaitu nilai rata-rata yang diperoleh 85,47.

Pada siklus I hasil belajar murid berada pada kategori sedang. Hal ini berarti hasil belajar murid terhadap materi pelajaran meningkat dari kategori sedang menjadi tinggi. Berdasarkan hasil penelitian tersebut di atas, dapat disimpulkan hasil belajar IPS murid SD Negeri Mangasa Kecematan Somba Opu Kabupaten Gowa melalui penerapan model pembelajaran Examples Non Examples mengalami peningkatan.

Kata Kunci : hasil belajar, model pembelajaran Kooperatif Tipe Examples Non Examples

(8)

viii

viii DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PENGESAHAN ... ii

LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii

SURAT PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN ... iv

SURAT PERJANJIAN PENULIS ... v

MOTTO ... ... vi

ABSTRAK ... ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... ... xi

DAFTAR TABEL ... xiv

DAFTAR GAMBAR ... xv

DAFTAR LAMPIRAN ... xvi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Masalah Penelitian ... 3

C. Tujuan Penelitian ... 4

D. Manfaat Penelitian ... 4

BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 6

A. Kajian Pustaka ... 6

1. Hasil Penelitian yang Relevan ... 6

2. Model Pembelajaran Kooperatif ... 7

3. Model Examples Non Examples... 10

4. Pengertian Belajar ... ... 12

5. Hakikat Pembelajaran ... 13

6. Hasil Belajar ... 13

7. Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar ... 15

8. Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial ... 15

B. Kerangka Pikir ... 28

(9)

ix

ix

C. Hipotesis Tindakan... 30

BAB III METODE PENELITIAN... 31

A. Jenis Penelitian ... 31

B. Lokasi dan Subjek Penelitian ... 31

C. Objek Penelitian ... 31

D. Prosedur Penelitian... 32

E. Teknik dan Instrumen Penilaian ... 38

F. Teknik Pengumpulan Data ... 38

G. Teknik Analisis Data ... 39

H. Indikator keberhasilan ... 40

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 41

A. Hasil Penelitian ... 41

1. Hasil penelitian Siklus I ... 42

2. Hasil Penelitian Siklus II ... 52

B. PEMBAHASAN ... 61

BAB V SIMPULAN DAN SARAN ... 65

A. Kesimpulan... 65

B. Saran ... 66

DAFTAR PUSTAKA ... ... 67 LAMPIRAN

RIWAYAT HIDUP

(10)

x

x

DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN 1 : Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ...………

LAMPIRAN 2 : Lembar Kerja Murid ………...

LAMPIRAN 3 : Evaluasi Siklus I dan Siklus II………

LAMPIRAN 4 : Hasil Observasi Guru dan Murid ………

LAMPIRAN 5 : Nilai Hasil Belajar Siklus I dan II………

LAMPIRAN 6 : Dokumentasi………..………..

LAMPIRAN 7 : Surat- SuratPenelitian………..

(11)

xi

xi

DAFTAR TABEL

TABEL HALAMAN 3.1. Teknik Kategorisasi Ketuntasan belajar ... 40 4.1. Lembar Observasi Aktivitas Murid Selama Mengikuti Proses

Pembelajaran Pada Siklus I ... 43 4.2 Hasil Evaluasi Siklus I ... 46 4.3 Statistik Skor Hasil Belajar IPS Murid Kelas VI SD Negeri Mangasa

Kecamatan Somba Opu Kab Gowa Pada Tes Siklus I ... 47 4.4 Distribusi Frekuensi Dan Persentase Kategori Hasil Belajar IPS Murid

Kelas VI SD Negeri Mangasa Kecamatan Somba Opu Kab Gowa

Pada Siklus1 ... 47 4.5 Deskripsi Ketuntasan Belajar Murid Pada Siklus I ... 48 4.6 Lembar Obsevasi Aktifitas Murid selama mengikuti proses pembelajaran

pada siklus II ... 54 4.7 Hasil Evaluasi Pada Siklus II ... 57 4.8 Statistik Skor Hasil Belajar IPS Murid Kelas VI SD Negeri Mangasa

Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa Pada Tes Siklus II ... 58 4.9 Distribusi Frekuensi Dan Persentase Kategori Hasil Belajar IPS

Kelas IV SD Inpres Je’netllasa Kab Gowa Pada Siklus II ... 58 4.10 Deskripsi Ketuntasan Belajar Murid Pada Siklus II ... 60

(12)

xii

xii

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

2.1 Skema Kerangka Pikir ... 30

3.2 Bagan Penelitian Tindakan Kelas ... 32

4.1 Grafik Ketuntasan Belajar murid pada Siklus I ... 49

4.2 Grafik Ketuntasan Belajar Siswa pada Siklus II ... 60

(13)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sistem pendidikan nasional pada saat sekarang ini sedang menghadapi tantangan yang sangat kompleks dalam menyiapkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang mampu bersaing di era globalisasi. Oleh karena itu, dalam rangka meningkatkan kualitas SDM Indonesia, maka guru sangat dibutuhkan perannya sebagai tenaga yang profesional. Berbagai masalah yang berkaitan dengan kondisi guru, antara lain adanya keberagaman kemampuan guru dalam proses pembelajaran dan penguasaan pengetahuan. Peran guru sebagai fasilitator baik dari segi penyediaan sarana pembelajaran maupun dari segi penyediaan materi pembelajaran sangat menunjang proses pembelajaran.

Proses pembelajaran di Indonesia masih sangat dipengaruhi oleh model pembelajaran konvensional dimana guru menjadi titik paling sentral dalam kelas.

Melalui model pembelajaran konvensional, setiap murid dituntut untuk memperhatikan setiap yang disampaikan oleh guru sehingga dalam proses belajar mengajar murid hanya menjadi pendengar pasif dan terkadang penjelasan dari seorang guru cenderung melenceng dari materi yang diajarkan, ini disebabkan oleh metode yang digunakan hanya menyampaikan dan mengaitkan semua materi dan realita yang terjadi dengan tidak memiliki konsep yang mapan. Kondisi tersebut telah mempengaruhi gaya belajar murid yang terkesan tertutup, kurang begitu peka dan

(14)

xiv cenderung pemikiran mereka mengambang dalam merespon situasi sekitarnya.

Padahal mereka hidup dalam masyarakat yang membutuhkan solusi atas permasalahan yang dihadapi bukan hanya sekedar bermain-main dengan konsep atau menghafal setiap materi pembelajaran.

Model pembelajaran konvensional telah menjadi hal universal bagi setiap sekolah yang ada di Indonesia termasuk di SD Negeri Mangasa Kecematan Somba Opu Kabupaten Gowa. Setiap kelas yang berada di sekolah tersebut umumnya masih mengandalkan guru sebagai sentral pembelajaran dan murid hanya dianjurkan diam dan memperhatikan penjelasan dari guru. Justru melalui model konvensional guru hanya berpatokan pada terselesaikannya seluruh materi dan kurang memperhatikan proses belajar siswa yang berlangsung di dalam kelas.

Dari hasil observasi yang dilakukan pada tanggal 16 Mei 2014 di SD Negeri Mangasa Kecematan Somba Opu Kabupaten Gowa kebanyakan guru hanya menjelaskan materi secara keseluruhan tanpa melakukan umpan balik kepada para murid sehingga murid tidak menunjukkan ketertarikan terhadap pelajaran. Hal tersebut berdampak pada hasil belajar IPS murid SD Negeri Mangasa Kecematan Somba Opu Kabupaten Gowa yang relatif rendah. Data yang diperoleh dari hasil ujian murid pada awal semester I tahun ajaran 2013/2014 menunjukkan bahwa skor rata-rata murid hanya 58,14 masih berada di bawah kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang di tetapkan di sekolah tersebut adalah 70 dari perolehan maksimal 100, persentase murid yang telah tuntas sebesar 21,42% yaitu 6 orang dari 28 murid termasuk dalam kategori tuntas dan persentase murid yang belum tuntas adalah

(15)

xv 78,57% yaitu 22 orang dari 28 murid termasuk dalam kategori tidak tuntas dengan nilai tertinggi 87 dan terendah 40. Hal ini menunjukkan bahwa sebanyak 22 orang belum mampu mencapai kriteria ketuntasan minimal. Ini berarti hasil belajar IPS masi berada di bawah standar KKM yang diharapkan.

Rendahnya hasil belajar IPS murid kelas VI SDN Mangasa Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa tidak terlepas dari kurang fokusnya murid pada pelajaran yang disebabkan oleh materi yang disajikan oleh pendidik terlalu panjang lebar dan tidak berfokus pada konsep. Oleh karena itu, melalui penerapan model kooperatif tipe Examples Non Examples, diharapkan murid menjadi lebih berperan aktif dan meninggalkan gaya pasif mereka di dalam kelas. Setiap murid akan merasa bahwa belajar IPS itu menyenangkan dan tidak selamanya berputar-putar pada materi yang membosankan.

Berdasarkan hal tersebut, penulis merasa perlu untuk melakukan penelitian tindakan kelas di SD Negeri Mangasa Kecematan Somba Opu Kabupaten Gowa dengan judul “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Examples Non Examples untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPS pada Murid Kelas VI SDN Mangasa Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa.”

B. Masalah Penelitian 1. Identifikasi Masalah

Permasalahan pembelajaran yang terjadi di kelas VI SD Negeri Mangasa Kecematan Somba Opu Kabupaten Gowa adalah

(16)

xvi a. penyajian materi yang bersifat monoton dan kurang variatif

b. Guru hanya menggunakan model pembelajaran yang konvensional c. Tidak kreatif dalam menggunakan model pembelajaran inovatif d. Hasil belajar murid pada mata pelajaran IPS sangat rendah.

2. Alternatif Pemecahan masalah

Berdasarkan permasalahan, maka cara pemecahan masalah dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan model pembelajaran Examples Non Examples. Karena model pembelajaran Examples Non Examples merupakan salah satu pembelajaran kooperatif dalam penggunaannya murid menganalisis kasus/

gambar yang relevan dengan kompetensi dasar yang diajarkan. Kooperatif adalah strategi pembelajaran melalui kelompok kecil murid yang saling bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar.

3. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, dirumuskan masalah pokok penelitian ini, yaitu “Apakah Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Examples Non Examples dapat meningkatkan hasil belajar IPS murid kelas VI SD Negeri Mangasa Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa?”

C. Tujuan Penelitian

(17)

xvii Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar IPS murid kelas VI SD Negeri Mangasa Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa melalui model pembelajaran Kooperatif Tipe Examples Non Examples.

D. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini adalah:

1. Bagi Murid

Murid menjadi lebih termotivasi, kritis dalam menganilisis gambar dan berani mengemukakan pendapatnya, sehingga dapat meningkatkan hasil belajar murid pada mata pelajaran IPS melalu penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Examples Non Examples .

2. Bagi guru

Menambah pengetahuan tentang pemanfaatan model pembelajaran kooperatif tipe Examples Non Examples ng dalam mata pelajaran IPS. Guru lebih termotivasi untuk melakukan penelitian tindakan kelas yang bermanfaat bagi perbaikan dan peningkatan proses belajar mengajar, sehingga termotivasi untuk menerapkan strategi pembelajaran yang lebih bervariasi, agar materi pelajaran akan lebih menarik.

3. Bagi Sekolah

Sebagai konstribusi dalam penggunaan Model Kooperatif Tipe Examples Non Examples agar hasil belajar IPS murid kelas VI dapat meningkat.

4. Bagi Peneliti

(18)

xviii Hasil penelitian dapat menambah pengalaman dan pengetahuan khususnya dalam mencari model pembelajaran yang sesuai dengan materi pelajaran IPS.

(19)

xix BAB II

KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS

A. Kajian Pustaka

1. Hasil Penelitian yang Relevan

Banyak penelitian yang terkait dengan pembelajaran Examples Non Examples yang sudah berhasil, namun penulis mengambil 2 contoh yang relevan dengan penelitian ini sebagai acuan dalam penulisan proposal ini. Seperti penelitian yang berjudul “Peningkatan Hasil Belajar IPA Konsep Daur Hidup Hewan Melalui Model Kooperatif Tipe Examples Non Examples Pada Murid Kelas IV SDN Borongkaramasa Kabupaten Gowa “ menyimpulkan bahwa dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Example Non Example maka hasil belajar murid dapat ditingkatkan dengan nilai rata-rata 65,25 pada siklus I dan meningkat pada siklus II dengan nilai rata-rata 75,07. Peningkatan hasil belajar ini terjadi dari nilai terendah 60 dan nilai tertinggi 90.

Penelitian yang kedua adalah penelitian yang berjudul Meningkatkan Hasil Belajar IPS Melalui Model Koperatif Tipe Examples Non Examples Siswa Kelas V SD Inpres Bontoala I Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa oleh Andi Ivonilawani menyimpulkan bahwa berdasarkan hasil belajar IPS siswa pada siklus I adalah 65,64, pada siklus II hasil belajar IPS murid meningkat 75,42. Dari hasil tersebut dapat dimaknai bahwa pelaksanaan pembelajaran IPS melalui model

(20)

xx Examples Non Examples dapat meningkatkan hasil belajar murid. Dari hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa pembelajaran IPS menggunakan model Examples Non Examples dapat meningkatkan hasil belajar murid kelas V di SD Inpres Bontoala I Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa. Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti menyarankan agar guru dapat menggunakan dan memilih strategi yang sesuai atau relevan dalam mengajar, diantaranya dapat menggunakan model pembelajaran Examples Non Examples untuk meningkatkan hasil belajar murid.

Untuk penelitian yang akan dilaksanakan yang berjudul Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Examples Non Examples untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPS pada Murid Kelas VI SD Negeri Mangasa Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa diharapkan juga akan mencapai keberhasilan seperti yang dilakukan oleh peneliti-peneliti sebelumnya. Dengan dasar bahwa dari jumlah murid kelas VI SD Negeri Mangasa Kecamatan Somba Opu yang berjumlah 28 murid, sebanyak 22 dari 28 murid yang mendapatkan hasil belajar di bawah KKM yang ditetapkan yaitu 70.

2. Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)

a. Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning) Depdiknas (Komalasari, 2013:62) mengemukakan bahwa: Pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning) adalah strategi pembelajaran melalui

(21)

xxi kelompok kecil murid yang saling bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar.

Bern dan Erickson (Komalasari, 2013:62) juga berpendapat bahwa:

Cooperative Learning (Pembelajaran kooperatif) merupakan strategi pembelajaran yang mengorganisir pembelajaran dan menggunkan kelompok kecil di mana murid bekerja bersama untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Slavin (2005:4) mengemukakan bahwa: pembelajaran kooperatif bukanlah gagasan baru dalam dunia pendidikan, tetapi sebelum masa belakangan ini, metode hanya digunakan oleh beberapa guru untuk tujuan- tujuan tertentu, seperti tugas-tugas atau laporan kelompok tertentu. Namun demikian, penelitian selama dua tahun terakhir ini telah mengidentifikasikan metode pembelajaran kooperatif ini yang dapat digunakan secara efektif pada setiap tingkatan kelas dan untuk mengajarkan berbagai macam mata pelajaran.

Artzt dan Newman (Trianto, 2009:56) menyatakan bahwa dalam belajar kooperatif siswa belajar bersama sebagai suatu tim dalam menyelesaikan tugas- tugas kelompok untuk mencapai tujuan bersama. Jadi, setiap anggota kelompok memiliki tanggung jawab yang sama untuk keberhasilan kelompoknya.

Jadi pembelajaran kooperatif didefenisikan sebagai suatu sistem pengajaran dimana murid diberikan kesempatan untuk bekerja sama sesama murid dalam suatu kelompok heterogen yang anggotanya antara empat sampai lima orang. Heteroginitas anggota kelompok ditinjau dari jenis kelamin dan tingkat kemampuan murid.

(22)

xxii b. Tujuan Pembelajaran Kooperatif

Rusman (2010:205), dalam situasi belajar pun sering terlihat sifat individualisme siswa. Siswa cenderung berkompetisi secara individual, bersikap tertutup teman, kurang memberi perhatian ke teman sekelas, bergaul dengan orang tertentu, ingin menang sendiri, dan sebagainya. Jika keadaan ini dibiarkan tidak mustahil akan dihasilkan warga negara yang egois, inklusif, introfert, kurang bergaul dalam masyarakat, acuh tak acuh dengan tetangga dan lingkungan, kurang meghargai orang lain serta tidak mau menerima kelebihan dan kekurangan orang lain.

Johnson dan Johnson (Trianto, 2009:57) menyatakan bahwa: tujuan pokok belajar kooperatif adalah memaksimalkan belajar murid untuk peningkatkan prestasi akademik dan pemahaman baik secara individual maupun secara kelompok.

Slavin (2005:103) mengemukakan bahwa: pembelajaran kooperatif adalah solusi ideal terhadap masalah menyediakan kesempatan berinteraksi secara kooperatif dan tidak dangkal kepada para siswa dari latar latar belakang etnik yang berbeda.

c. Prinsip-prinsip Pembelajaran Kooperatif

Menurut Roger dan David Johnson (Rusman, 2012:212) ada lima unsur dasar dalam pembelajaran kooperatif (cooperative learning), yaitu sebagai berikut:

(23)

xxiii (1) Prinsip ketergantungan positif (positive independence), yaitu

dalam pembelajaran kooperatif, keberhasilan dalam penyelesaian tugas tergantung pada usaha yang dilakukan oleh kelompok tersebut. Keberhasilan kerja kelompok ditentukan oleh kinerja masing-masing anggota kelompok. Oleh karena itu, semua anggota dalam kelompok akan merasakan saling ketergantungan. (2) Tanggung jawab perseorangan (individual accountability), yaitu keberhasilan kelompok sangat tergantung dari masing-masing anggota kelompoknya. Oleh karena itu setiap anggota kelompok mempunyai tugas dan tanggung jawab yang harus dikerjakan dalam kelompok tersebut. (3) Interaksi tatap muka (face to face promotion interaction), yaitu memberikan kesempatan yang luas kepada setiap anggota kelompok untuk bertatap muka melakukan interaksi dan diskusi untuk saling memberi dan menerima informasi dari anggota kelompok lain. (4) Partisipasi dan komonikasi (participation communication), yaitu melatih siswa untuk dapat berpartisipasi aktif dan berkomunikasi dalam kegiatan pembelajaran. (5) Evaluasi Proses Kelompok, yaitu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka, agar selanjutnya bisa bekerja sama dengan lebih efektif.

3. Model Examples Non Examples

a. Pengertian Examples Non Examples

(Heru Setyawan, 2011) Model Examples Non Examples adalah medel yang menggunkan media gambar dalam penyampaian materi pembelajaran yang bertujuan mendorong murid untuk belajar berpikir kritis dengan jalan memecahkan permasalahan-permasalahan yang terkandung dalam contoh- contoh gambar yang disajikan.

(Rien Suciati. 2013) Model Examples Non Examples adalah model pembelajaran yang menggunakan gambar sebagai media pembelajaran.

Penggunaan media gambar ini disusun dan dirancang agar anak dapat

(24)

xxiv menganalisis gambar tersebut menjadi sebuah bentuk diskripsi singkat mengenai apa yang ada di dalam gambar.

Suprijono (2009:125) Langkah-langkah dalam model pembelajaran Tipe Examples Non Examples ini adalah:

1) Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran, 2) Guru menempelkan gambar di papan atau ditayangkan melalui OHP,

3) Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan pada murid untuk memperhatikan/menganalisa gambar,

4) Melalui diskusi kelompok 2-3 orang murid, hasil diskusi dari analisa gambar tersebut dicatat pada kertas,

5) Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya,

6) Melalui komentar/hasil diskusi murid, guru mulai menjelaskan materi sesuai tujuan yang ingin dicapai,

7) Kesimpulan.

b. Kelebihan dan Kekurangan Examples Non Examples Kelebihan

1) Murid lebih kritis dalam menganalisa gambar.

2) Murid mengetahui aplikasi dari materi berupa contoh gambar.

3) Murid diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya.

Kekurangan

1) Tidak semua materi dapat disajikan dengan gambar.

2) Memakan waktu yang lama.

(25)

xxv c. Karakteristik Model Pembelajaran Tipe Examples Non Examples

Konsep umumnya dipelajari melalui dua cara. Paling banyak konsep yang dipelajari diluar sekolah melalui pengamatan dan juga melalui definisi konsep itu sendiri.

Examples Non Examples adalah taktik yang dapat digunakan untuk menjajarkan definisi konsep. Taktik ini bertujuan untuk mempersiapkan murid untuk secara cepat dengan menggunakan dua hal yang terdiri dari Examples Non Examples dari suatu definisi konsep yang ada dan meminta murid untuk mengklasifikasikan keduanya sesuai dengan konsep yang ada.

Slavin dalam Ibrahim (1994) menyarankan bahwa jika guru akan menyajikan contoh dari suatu konsep maka ada tiga hal yang harus diperhatikan, yaitu:

1) Urutkan contoh dari yang gampang ke yang sulit 2) Pilih contoh-contoh yang berbeda satu sama lain

3) Bandingkan dan bedakan contoh-contoh dan bukan contoh.

Menyiapkan pengalaman dengan contoh dan bukan contoh akan membantu murid untuk membangun makna yang kaya dan lebih mendalam dari sebuah konsep penting.

4. Pengertian Belajar

(26)

xxvi Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.

Gagne (Susanto, 2013:1) mengemukakan bahwa: “belajar” sebagai suatu proses perubahan tingkah laku yang meliputi perubahan kecendurungan manusia seperti sifat, minat, atau nilai dan perubahan kemampuan yakni peningkatan kemampuan untuk melakukan berbagai jenis performance (kinerja).

Perubahan yang terjadi dalam diri individu banyak sekali, baik sifat maupun jenisnya, karena itu sudah barang tentu bahwa tidak setiap perubahan dalam diri individu merupakan perubahan dalam arti belajar.

Sunaryo (1989:1) mengemukakan bahwa: “belajar merupakan suatu kegiatan dimana seseorang membuat atau menghasilkan suatu perubahan tingkah laku yang ada pada dirinya dalam pengetahuan, sikap, dan keterampilan.

5. Hakikat Pembelajaran

Pembelajaran adalah proses interaksi murid dengan guru dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan guru agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, dan tabiat, sikap dan kepercayaan pada murid. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu murid agar dapat belajar dengan baik.

Proses pembelajaran akan dialami sepanjang hayat seorang manusia serta dapat berlaku di manapun dan kapan pun. Dalam konteks pendidikan, guru

(27)

xxvii mengajar supaya murid dapat belajar dan menguasai isi pelajaran sehingga mencapai sesuatu objektif yang ditentukan (aspek kognitif) dapat juga mempengaruhi perubahan sikap (aspek afektif) serta keterampilan (aspek psikomotorik) seorang murid.

6. Hasil Belajar

Hasil adalah kemampuan yang dimiliki murid setelah ia menerima perjalanan belajarnya. Hasil belajar digunakan oleh guru untuk dijadikan ukuran atau kriteria dalam mencapai suatu tujuan pendidikan. Hal ini dapat tercapai apabila murid sudah memahami belajar dengan diiringi tingkah laku yang lebih baik.

Hasil belajar mempunyai peranan penting dalam proses pembelajaran.

Proses penilaian terhadap hasil belajar murid dapat memberikan informasi kepada guru tentang kemajuan murid dalam upaya mencapai tujuan-tujuan belajarnya melalui kegiatan belajar. Selanjutnya dari informasi tersebut guru dapat menyusun dan membina kegiatan-kegiatan murid lebih lanjut, baik untuk keseluruhan kelas maupun individu. Hasil belajar merupakan kemampuan keterampilan, sikap dan keterampilan yang diperoleh murid setelah ia menerima perlakuan yang diberikan oleh guru, sehingga dapat mengkonstruksikan pengetahuan itu dalam kehidupan sehari-hari.

Sudjana (1989:111) mengemukakan bahwa: hasil belajar yang diperoleh murid adalah sebagai akibat dari proses belajar yang dilakukan oleh murid, harus

(28)

xxviii semakin tinggi hasil belajar yang diperoleh murid. Proses belajar merupakan penunjang hasil belajar yang dicapai murid.

Keefektifan pembelajaran biasanya diukur dengan tingkah pencapaian si pembelajar dan untuk mendeskripsikan keefektifan pembelajaran ada 4 aspek penting yang dapat dipakai yaitu:

a) Kecermatan penguasaan prilaku yang dipelajari atau sering disebut “tingkat kesalahan”.

b) Kecepatan unjuk kerja.

c) Tingkat alih belajar.

d) Tingkat retensi dari apa yang dipelajari.

Selanjutnya efesiensi pembelajaran biasanya diukur dengan rasio antara keefektifan dan jumlah waktu yang dipakai di pembelajaran atau jumlah biaya pembelajaran yang digunakan. Daya tarik pembelajaran biasanya diukur dengan mengamati kecenderungan murid untuk tetap belajar. Daya tarik pembelajaran erat sekali kaitannya dengan daya tarik mata pelajaran, dimana kualitas pembelajaran akan mempengaruhi keduanya.

7. Faktor-faktor yang Memengaruhi Hasil Belajar a) Faktor Internal (dari dalam individu)

Faktor yang mempengaruhi kegiatan belajar ini lebih ditekankan pada faktor dari dalam individu yang belajar. Adapun faktor yang mempengaruhi

(29)

xxix kegiatan tersebut adalah faktor psikologis antara lain yaitu : motivasi, perhatian, pengamatan, tanggapan dan sebagainya.

b) Faktor Eksternal (dari luar individu yang belajar)

Pencapaian tujuan belajar perlu diciptakan adanya system lingkungan belajar yang kondusif. Hal ini akan berkaitan dengan faktor dari luar murid.

Adapun faktor yang mempengaruhi adalah mndapatkan pengetahuan, penanaman konsep dan keterampilan dan pembentukan sikap.

8. Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)

a. Pengertian Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)

Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku manusia baik tingkah laku perorangan maupun tingkah laku kelompok. Dunfee dan Sagl dalam Hamdat (2007:3) mengemukakan bahwa kajian IPS bukan hanya mengembangkan pengetahuan dan keterampilan yang berhubungan dengan manusia saja melainkan juga tentang tindakan-tindakan empetik yang melahirkan pengetahuan tersebut.

Alma (Susanto, 2013:141) mengemukakan bahwa: pengertian IPS sebagai suatu program pendidikan yang merupakan suatu keseluruhan yang pada pokonya mempersoalkan manusia dalam lingkungan alam fisik,maupun dalam lingkungan sosialnya dan yang bahanya diambil dari berbagai ilmu sosial, seperti: geografi, ekonomi, antropologi, sosiologi, politik, dan pesikologi.

(30)

xxx Dari pendapat-pendapat tersebut dapat penulis simpulkan bahwa IPS adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku manusia baik selaku individu maupun kelompok dan mengkaji tentang tindakan-tindakan empetik yang melahirkan pengetahuan tersebut.

b. Ruang Lingkup Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)

Ruang lingkup pembelajaran IPS di SD meliputi keluarga, masyarakat setempat, uang, pajak, tabungan, ekonomi setempat, wilayah propinsi, wilayah kepulauan, wilayah pemerintah daerah, negara Republik Indonesia. Untuk membina konsep dan mengembangkan generalisasi diperlukan khusus.

Strategi dalam menanamkan konsep pada murid hendaknya didasarkan pada keperluan, ketepatan, kegunaan dan kemudahan. Oleh karena itu guru harus menggunakan model dan media pembelajaran yang tepat.

c. Tujuan Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)

Untuk mewujudkan pembangunan nasional di bidang pendidikan diperlukan peningkatan dan penyempurnaan penyelenggaraan pendidikan nasional yang disesuaikan perkembangan zaman, perkembangan masyarakat serta kebutuhan pembangunan. Landasan pembangunan kurikulum IPS SD Tahun 1994 tidak lepas dari pendidikan nasional yang berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia dan berdasarkan pada pancasila serta undang- undang dasar 1945.

Dalam pembelajaran IPS di SD, seorang guru IPS hendaknya mampu menguasai perbedaan-perbedaan konsep esensial ilmu sosial dengan ilmu

(31)

xxxi pengetahuan sosial atau studi sosial sehingga upaya membentuk peserta didik sesuai dengan tujuan pembelajaran IPS dapat tercapai. Perbedaan antara ilmu sosial dengan ilmu pengetahuan sosial adalah sebagai berikut :

Ilmu Pengetahuan Sosial adalah bidang studi yang mempelajari gejala dan masalah sosial di masyarakat ditinjau dari berbagai aspek kehidupan secara terpadu. Sedangkan pengertian ilmu sosial adalah semua bidang ilmu yang berkenaan dengan manusia dalam konteks sosialnya atau semua bidang ilmu yang mempelajari manusia sebagai anggota masyarakat.

Sumantri (2001:79) memberikan batasan pendidikan IPS sebagai pedoman pendidikan yang memilih bahan pendidikan dari disiplin ilmu-ilmu sosial dan humanities yang diorganisasikan dan disajikan secara ilmiah dan psikologis untuk tujuan pendididikan.

Sehingga dengan demikian bahwa pendidikan IPS di SD merupakan salah satu mata pelajaran yang menunjang tujuan pendidikan nasional dan yang akan mempersiapkan peserta didik untuk menjadi warga negara yang baik. Hal ini bisa diamati dari tujuan pendidikan IPS itu sendiri dimana tujuan dari pembelajaran IPS adalah untuk membentuk warga negara yang memiliki kepekaan sosial yang tinggi dan yakin akan kehidupannya sendiri di tengah- tengah dinamika kehidupan sosial, yang pada gilirannya akan menjadi warga negara yang baik dan bertanggung jawab.

(32)

xxxii Berdasarkan peraturan menteri pendidikan nasional (Permendiknas) Nomor 22 tahun 2006 Tujuan pembelajaran IPS di tingkat sekolah dasar adalah sebagai berikut:

1) Mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungannya.

2) Memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis, rasa ingin tahu, inkuiri, pemecahan masalah dan keterampilan dalam kehidupan sosial.

3) Memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan

4) Memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerja sama dan berkompetensi dalam masyarakat yang majemuk di tingkat lokal, nasional, dan global.

Tujuan pembelajaran IPS harus mampu mempersiapkan, membina dan membentuk kemampuan murid yang menguasai pengetahuan, sikap, nilai dan kecakapan dasar yang diperlukan dalam kehidupan masyarakat. Di sisi lain pendidikan IPS di SD juga bertujuan untuk mengembangkan kemampuan dan sikap rasional murid yang nantinya akan bermuara pada pembentukan individu sebagai aktor sosial yang cerdas. Aktor sosial yang cerdas dalam hal ini tidak lain adalah anggota masyarakat yang matang secara rasional dan secara emosional serta spiritual yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Pendidikan IPS berusaha membantu murid dalam memecahkan persoalan/permasalahan yang dihadapi sehingga akan menjadi

(33)

xxxiii dirinya semakin mengerti dan memahami lingkungan sosial masyarakat disekitarnya.

d. Konsep Dasar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)

Adapun hal-hal yang menjadi konsep dasar ilmu pengetahuan sosial (IPS) adalah sebagai berikut:

1) Interaksi

Konsep Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) adalah adanya interkasi atau hubungan dengan orang/pihak lain. Interaksi merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia, sehingga manusia harus mampu melakukan hubungan dengan orang/pihak lain di lingkungan sekitarnya. Interaksi semakin meluanya pergaulan dan seiring dengan bertambahnya usia seseorang.

2) Saling Ketergantungan

Konsep Ilmu Pengetahuan sosial (IPS) adalah adanya saling ketergantungan. Yakni membicarakan tentang konsep dalam kehidupan antara manusia satu dangan yang lainnya, bermasyarakat dan bernegara serta memerlukan bantuan orang lain.

3) Kesinambungan dan Perubahan

Konsep Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) adalah adanya saling kesinambungan dan perubahan. Hal ini terjadi pada kehidupan masyarakat yang berindividu atau berkelompok dengan pengalaman waktu yang panjang yaitu dalam lembaga perkawinan guna melanjutkan keturunan sehingga hal ini mengalami perubahan.

(34)

xxxiv 4) Keberagaman/kesamaan/perbedaan

Konsep Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) adalah keragaman, persamaan dan perbedaan. Dalam kehidupan bermasyarakat, setiap manusia pasti memiliki karakteristik yang berbeda sehingga manusia itu menginginkan keberadaan dirinya sendiri. Dengan demikian konsep IPS membicarakan tentang keberagaman, kesamaan dan perbedaan yang dialami baik individu maupun secara kelompok.

5) Konflik dan Konsensus

Konsep Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) adalah konflik dan konsensus.

Di dalam masyarakat selalu ada konflik yang timbul dan berbagai macam sebab. Demikian pula dengan konsensus, dapat pula muncul setelah adanya konflik atau bahkan sebaliknya

Solihatin (2007:13) mengemukakan bahwa: konsensus atau kesepakatan dapat menghindari ataupun mengatasi konflik. Konsensus sangat penting untuk menjalin kerja sama menegakkan tertib hidup bermasyarakat.

Adapun beberapa cara untuk mencapai konsensus. Seperti melalui dialog, metode pemecahan masalah (problem solving), perundingan, saling menolong serta pengorbanan kepentingan diri demi untuk kepentingan umum, sehingga konflik yang terjadi tidak sampai pada tingkat perpecahan.

6) Nilai Kepercayaan

Konsep Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) adalah adanya nilai-nilai kepercayaan. Solihatin (2007:6) mengemukakan bahwa: “Nilai simbol dan

(35)

xxxv lambang adalah sesuatu yang berharga dan memiliki karakteristik tertentu, nilai merupakan keyakinan yang dipegang dan dilaksanakan dari generasi ke generasi secara turun temurun”.

Dengan demikian nilai adalah sesuatu yang menjadi ciri atau krakteristik. Suatu masyarakat tidak memilik nilai maka masyarakat tersebut tidak akan berharga di mata orang lain.

e. Fungsi Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)

Pembelajaran IPS mempunyai fungsi utama yang sangat mulia, sebagaimana di kemukakan oleh Djahiri (Susanto, 2013: 148), memanusiakan manusia dan memasyarakatkan secara fungsional, dan penuh rasa kebersamaan serta rasa tanggung jawab, hendaknya mampu menampilkan harapan-harapan, sebagai berikut:

1) Mampu memberikan pembekalan pengetahuan tentang manusia dan seluk beluk kehidupan dalam astagarata kehidupan.

2) Membina kesadaran keyakinan,dan sikap pentingnya hidup bermasyarakat dengan penuh kebersamaan, bertangung jawab, dan manusiawi.

3) Membina keterampilan dalam bermasyarakat dalam negara Indonesia yang berlandasan Pancasila.

4) Membina pembekalan dan kesiapan siswa untuk belajar lebih lanjut atau melanjutkan jenjang yang lebih tinggi.

(36)

xxxvi Selanjutnya Djahiri juga menekankan bahwa keempat fungsi dan peran harapan pembelajaran IPS di sekolah dasar hendaknya memperhatikan prinsip- prinsip, sebagai berikut:

1) Tingkat perkembangan usia dan belajar murid.

2) Pengalaman belajar 3) Lingkungan budaya murid.

4) Kondisi kehidupan masyrakat sekitar masa kini dan kelak yang diharapkan.

5) Proyeksi harapan pembangunan nasional atau daerah yang tentunya mampu diajangkau.

6) Isi dan pesan nilai moral budaya bangsa, pancasila dan agama yang dianut yang diakui bangsa dan negara indonesia

f. Pengertian Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)

Setelah melakukan kegiatan pembelajaran dengan memanfaatkan berbagai sumber dan media, yang harus dilakukan guru selanjutnya adalah menilai atau mengevaluasi hasil belajar murid. Evaluasi dilakukan untuk mengetahui keberhasilan yang dicapai murid dari proses pembelajaran yang telah ditempuh.

Evaluasi dalam konteks ini dimaknai sebagai penilaian program, proses, dan hasil pembelajaran IPS. Jika evaluasi ditinjau dari proses pembelajaran yang merupakan kegiatan bertahap dan berkesinambungan, maka evaluasi merupakan titik puncak dari proses kegiatan keseluruhan. Akan tetapi, bukan berarti pelaksanaan evaluasi hanya dilakukan pada akhir proses tersebut.

(37)

xxxvii Evaluasi bisa dilakukan terus-menerus untuk mengecek keberlangsungan proses pembelajaran, khususnya terkait dengan pemahaman peserta didik. Sementara itu, sebagai titik puncak, evaluasi dilakukan untuk menilai keberhasilan seluruh rangkaian proses kegiatan pembelajaran.

Dalam proses pembelajaran IPS, evaluasi memiliki beberapa fungsi yang bermakna, baik bagi guru maupun peserta didik yang sedang menjalani proses pembelajaran. Bagi guru, evaluasi berfungsi untuk mengungkapkan dan memperbaiki kelemahan proses pembelajaran, yang meliputi bobot materi yang disajikan, metode yang diterapkan, dan media yang digunakan. Bagi murid, evaluasi berfungsi untuk mengungkapkan penguasaan materi pembelajaran dan kemajuannya secara individual maupun kelompok.

Hasil belajar adalah merupakan istilah suatu keberhasilan murid selama dan setelah proses belajar yang diukur melalui suatu alat tertentu. Dalam hal ini alat tersebut adalah berupa tes, baik tes tertulis maupun tes lisan.

Sudjana (2009:22) berpendapat bahwa: “ proses adalah kegiatan yang dilakukan oleh murid dalam mencapai tujuan pengajaran, sedangkan hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh murid setelah ia menerima pengalaman belajarnya.”

Dalam pembelajaran IPS terdapat tiga macam keterampilan yang harus dimiliki murid yaitu:

1) Keterampilan Intelektual

(38)

xxxviii (Nursid Sumaatmadja(anonim, 10)) mengemukakan bahwa:

keterampilan intelektual adalah keterampilan berpikir, kecekatan, dan kecepatanmemanfaatkan pikiran, cepat tanggap dalam menghadapi permasalahan sosial di masyarakat. (Saidihardjo & Sumadi HS, (Anonim, 10)) mengemukakan bahwa: keterampilan ini memungkinkan individu untuk berinteraksi dengan lingkungan dalam bentuk simbol atau konsep.Individu belajar mulai dari tingkat yang paling rendah, misalnya menulis huruf “a”.

Keterampilan intelektual yang dikembangkan dalam pembelajaran IPS bertujuan untuk melatih murid berpikir logis dan sistematis dalam memecahkan persoalan yang nyata dalam kehidupan bermasyarakat. Aktivitas yang Nampak dalam proses belajar adalah mengumpulkan, menunjukkan, menerapkan, menganalisis, dan menilai.

Untuk meningkatkan dan memantapkan keterampilan ini, metode yang dapat digunakan guru antara lain adalah metode tanya jawab dan diskusi.

Melalui metode ini, murid diberikan stimulus sehingga dapat mengajukan persoalan sendiri tentang permasalahan yang terjadi di masyarakat. Dengan demikian, murid menjadi cepat tanggap, kritis, dan kreatif terhadap hal-hal yang dirasa tidak wajar yang mereka lihat dan alami dalam kehidupan sehari- hari. Murid juga akan memiliki penalaran yang lebih peka terhadap masalah sosial yang terjadi di masyarakat.

2) Keterampilan Personal

(39)

xxxix Kepribadian (personality) seseorang terbentuk sejak lahir dan berkembang karena pengaruh lingkungan tempat tinggal. Kepribadian merupakan organisasi dinamis dari proses-proses kejiwaan yang diwariskan secara biologis berkenaan dengan sikap, keinginan, pikiran,dan tingkah laku sesuai dengan kondisi dan situasi lingkungannya. Tiap orang memiliki kepribadian yang berbeda. Akan tetapi, sebagai kelompok/masyarakat, bahkan sebagai bangsa memiliki kepribadian tertentu dengan ciri-ciri yang dapat dibedakan dengan kelompok/masyarakat atau bangsa lain. Kepribadian seseorang dibina dan dikembangkan oleh lingkungan tertentu, baik luas maupun sempit. Kepribadian seseorang juga dapat mempengaruhi lingkungan, bahkan dapat mengendalikan lingkungan kearah tertentu. Contohnya kepala Negara, tokoh-tokoh dalam berbagai bidang yang memiliki kepribadian kuat.

Bekal pengetahuan IPS akan memberikan ciri atau karakter tertentu dalam pembentukan kepribadian. Dalam lingkungan masyarakat, seseorang yang memiliki keterampilan personal yang baik dapat memberikan contoh sebagai teladan yang dapat dijadikan panutan anggota masyarakat lainnya.

Selain itu, dengan keterampilan ini pula seseorang dapat mempengaruhi dan mengendalikan hal-hal yang dianggap kurang baik kearah yang lebih baik.

Misalnya saja beberapa sistem nilai yang dapat menghambat pembangunan seperti banyak anak banyak rejeki, makan tidak makan yang penting kumpul, dsb.

(40)

xl 3) Keterampilan Sosial

(Nursid SumaatmadjaAnonim,11) mengemukakan bahwa: Keterampilan sosial adalah keterampilan melakukan sesuatu yang berhubungan dengan kepentingan hidup bermasyarakat, seperti bekerja sama, bergotong royong, menolong orang lain yang memerlukan dan melakukan tindakan secara cepat dalam memecahkan persoalan sosial di masyarakat. Keterampilan ini menuntut guru IPS sebagai anggota masyarakat untuk berperan dan peka terhadap berbagai kejadian dan masalah yang terjadi di masyarakat. Guru IPS tidak boleh bersifat masa bodoh, tetapi harus aktif dan melibatkan diri serta bersatu dengan anggota masyarakat lainnya untuk meningkatkan taraf hidup. Selain itu, juga membantu masyarakat mencari alternatif solusi permasalahan yang dihadapi.

Sehingga dalam tulisan ini, hasil belajar IPS dapat diartikan sebagai tingkat keberhasilan murid setelah melalui proses belajar mengajar dalam ilmu pengetahuan sosial yang diukur dengan menggunakan alat ukur keberhasilan belajar yang disebut dengan tes hasil belajar.

g. Komponen Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di SD

Makmun (2000:89) mengemukakan bahwa: Proses belajar mengajar pun tersusun atas sejumlah komponen atau unsur yang saling berinteraksi dan beriterdependensi satu sama lain. Di antara komponen-komponen utama yang selalu akan terdapat dalam setiap proses belajar mengajar ialah:

(41)

xli 1) murid (dengan segala karakteristiknya) yang terus mengembangkan dirinya

secara optimal mungkin melalui berbagai kegiatan belajar guna mencapai tujuan sesuai dengan tahapan perkembangan yang dijalaninya.

2) Tujuan (ialah yang diharapkan tercapai setelah adanya kegiatan belajar mengajar) yang merupakan seperangkat tugas atau kebutuhan yang harus dipenuhi atau sistem nilai yang harus nampak dalam perilaku dan merupakan karakteristik kepribadian seperti yang ditetapkan oleh murid sendiri, guru atau masyarakat yang seyogyanya diterjemahkan ke dalam berbagai bentuk yang berencana dan dapat terukur.

3) Guru ialah orang dewasa yang karena jabatannya secara formal selalu mengusahakan terciptanya situasi yang tepat (mengajar) sehingga memungkinkan lagi terjadinya proses pengalaman belajar pada diri murid dengan mengarahkan segala sumber pembelajaran dan menggunakan strategi belajar mengajar yang tepat

4) Media merupakan perantara atau pengantar. Gerlac dan Ely (1971) mengatakan bahwa:

Media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi tau kejadian yang membangun kondisi yang membuat murid mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap. Dalam pengertian, guru, buku teks dan lingkungan sekolah merupakan media dalam proses belajar mengajar cenderung diartikan sebagai alat-alat grafis, photografy, atau elektronis untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali informasi visual dan verbal.

Sumaatmadja (1984: 117) menjelaskan bahwa media pembelajaran adalah “segala benda dan alat yang dipergunakan untuk membantu proses

(42)

xlii pelaksanaan belajar mengajar ilmu pengetahuan sosial seperti slide, proyektor, peta globe, diaroma, potret, market, film, tape recorder, radio dan lain sebagainya”

B. Kerangka Pikir

Belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh suatu perubahan yang baru sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.

Daya tarik pembelajaran biasanya diukur dengan mengamati kecenderungan murid untuk tetap belajar. Daya tarik pembelajaran erat sekali kaitannya dengan daya tarik mata pelajaran, dimana kualitas pembelajaran akan mempengaruhi keduanya.

Agar pembelajaran dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan guru harus merancang pembelajaran dengan baik yang memungkinkan peserta didik dan guru sama-sama aktif terlibat dalam pembelajaran.

Selanjutnya pembelajaran mengandung arti setiap kegiatan yang dirancang untuk membantu seseorang mempelajari suatu kemampuan dan nilai-nilai yang baru dan proses pembelajaran pada awalnya meminta guru untuk mengetahui kemampuan dasar yang dimiliki oleh murid meliputi kemampuan dasarnya, motivasinya, latar belakang sosialnya dan sebagainya. Kemudian kesiapan guru untuk mengetahui karakteristik murid dalam pembelajaran merupakan modal utama penyampaian bahan belajar dan menjadi indikator suksesnya pembelajaran. Salah satu model pembelajaran yang dipandang dapat menjadi indikator keberhasilan proses belajar mengajar adalah pembelajaran dalam bentuk kelompok (pembelajaran kooperatif).

(43)

xliii Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang dilakukan secara kerja sama pembelajaran yang bergantung pada kelompok kerja kecil yang mengkombinasikan tujuan kelompok (dukungan), tanggung jawab individual dan kesamaan kesempatan untuk sukses. Examples Non Examples adalah salah satu model pembelajaran kooperatif dimana dalam penggunaannya murid menganalisis kasus/gambar yang relevan dengan kompetensi dasar yang diajarkan.

Dalam model pembelajaran ini murid diberi kesempatan untuk membacakan hasil diskusi kelompoknya, selanjutnya guru akan menjelaskan materi berdasarkan hasil diskusi murid. Setelah diberikan penjelasan maka guru membantu murid menyimpulkan materi yang sudah diterimanya.

Berikut kerangka pikir penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Examples Non Examples dalam meningkatkan hasil belajar.

Kondisi Awal

1. Guru menggunakan metode konvensional

2. Pembelajaran terpusat pada guru 3. Murid kurang aktif dan kurang

termotivasi dalam pembelajaran 4. Hasil belajar IPS rendah

Tindakan

Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Examples Non Examples.

1. Siklus I 2. Siklus II

(44)

xliv

Gambar 2.1. Skema Kerangka Pikir

C. Hipotesis Tindakan

Hipotesis tindakan penelitian ini adalah jika model Pembelajaran Kooperatif Tipe Example Non Examples diterampak maka hasil belajar murid pada mata pelajaran IPS kelas VI SD Negeri Mangasa Kecematan Somba Opu Kabupaten Gowa, meningkat.

Kondisi Akhir

Hasil Belajar IPS meningkat

(45)

xlv BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (class room action research). Arikunto (2012:3) mengemukakan bahwa: penelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas. Penelitian tindakan kelas dilaksanakan dalam bentuk kegiatan bersiklus yang terdiri atas empat tahap yaitu, perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi.

B. Lokasi dan Subjek Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri Mangasa Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa untuk mata pelajaran ilmuh pengetahuan sosial. Subjek dalam penelitian ini adalah kelas VI SD Negeri Managasa tahun ajaran 2013/2014, dengan jumlah murid adalah 28 orang yang terdiri dari 17 laki-laki dan 11 perempuan.

C. Objek Penelitian

Ada beberapa faktor yang diselidiki dalam penelitian ini adalah:

1. Faktor proses yakni melihat aktivitas belajar murid serta interaksi antara guru dan murid serta murid dengan murid melalui model pembelajaran Kooperatif Tipe Examples Non Examples selama proses pembelajaran.

31

(46)

xlvi 2. Faktor hasil belajar yakni melihat hasil belajar murid setiap akhir siklus setelah

diterapkannya model pembelajaran Kooperatif Tipe Examples Non Examples.

D. Prosedur Penelitian

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus terdiri dari empat tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan evaluasi, refleksi seperti pada gambar berikut:

Adapun tahapan pelaksanaan penelitian ini adalah seperti tampak pada bagan sebagai berikut:

Gambar 3.2 Bagan Penelitian Tindakan Kelas Arikunto (2012:16)

Perencanaan

Pelaksanaan

SIKLUS I

Observasi

Observasi

SIKLUS II

Perencanaan Refleksi

Refleksi Pelaksanaan

(47)

xlvii

Dalam setiap siklus secara rinci pelaksanaan penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Siklus Pertama

a. Tahap Perencanaan

1) Menelaah Kurikulum KTSP kelas VI yang berjalan tahun 2013/2014;

2) Membuat rencana pembelajaran yang sesuai dengan kurikulum SD kelas VI dengan menerapkan model pembelajaran Kooperatif Tipe Examples Non Examples;

3) Membuat lembaran observasi untuk melihat bagaimana kondisi belajar di kelas ketika pembelajaran berlangsung dengan menggunakan model pembelajaran Kooperatif Tipe Examples Non Examples;

4) Membuat alat evaluasi untuk melihat apakah hasil belajar IPS murid kelas VI dapat meningkat.

b. Tahap Pelaksanaan Tindakan

1) Mempersiapkan kondisi murid untuk menerima pelajaran

2) Membentuk kelompok yang beranggotakan 5 orang murid secara heterogen 3) Menjelaskan materi secara singkat di depan kelas yang selanjutnya diperjelas

dengan mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran.

4) Menempelkan gambar di papan atau ditayangkan lewat OHP

(48)

xlviii 5) Memberi petunjuk dan memberikan kesempatan kepada murid untuk

memperhatikan/menganalisa gambar

6) Melalui diskusi kelompok 4-5 orang murid, hasil diskusi dari analisa gambar tersebut dicatat pada kertas

7) Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya

8) Melalui komenter/hasil diskusi murid, guru mulai menjelaskan materi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai

9) Membuat kesimpulan.

c. Tahap Observasi/Evaluasi

Pada tahap observasi ini digunakan lembar observasi. Observasi dilakukan pada saat guru melakukan proses belajar mengajar. Guru mencatat tentang situasi dan kondisi belajar murid berdasarkan lembar observasi yang sudah disiapkan dalam hal ini mengenai :

1) Kehadiran murid;

2) Murid yang mengerjakan PR;

3) Murid yang bertanya;

4) Murid yang memperhatikan pelajaran;

5) Murid yang belum mengerti dan membutuhkan bimbingan guru dalam mengerjakan soal;

6) Murid yang menjawab pertanyaan atau tampil menyelesaikan soal di papan tulis;

7) Murid yang minta izin.

(49)

xlix d. Tahap Refleksi

Merefleksi setiap hal yang diperoleh melalui lembar observasi, menilai dan mempelajari perkembangan hasil belajar murid pada akhir siklus I. Dari hasil inilah yang selanjutnya dijadikan acuan peneliti untuk merencanakan perbaikan dan penyempurnaan siklus II sehingga hasil yang dicapai lebih baik dari siklus sebelumnya.

2. Siklus Kedua

a. Tahap Perencanaan

Pada tahap ini dirumuskan perencanaan siklus kedua yang sama dengan perencanaan siklus pertama dengan mengadakan beberapa perbaikan sesuai dengan kenyataan yang ditemukan di lapangan. Pada siklus kedua dilaksanakan tiga kali pertemuan. Secara rinci prosedur pelaksanaan tindakan pada siklus ini dapat dijabarkan sebagai berikut:

1) Membuat rencana pembelajaran yang sesuai dengan kurikulum SD kelas VI dengan menerapkan model pembelajaran Kooperatif Tipe Examples Non Examples;

2) Membuat lembaran observasi untuk melihat bagaimana kondisi belajar di kelas ketika pembelajaran berlangsung dengan menggunakan model pembelajaran Kooperatif Tipe Examples Non Examples;

3) Membuat alat evaluasi untuk melihat apakah hasil belajar IPS murid kelas VI dapat meningkat.

b. Tahap Pelaksanaan Tindakan

(50)

l 1) Mempersiapkan kondisi murid untuk menerima pelajaran

2) Membentuk kelompok yang berangotakan 5 orang murid secara heterogen.

3) Menjelaskan materi secara singkat di depan kelas yang selanjutnya diperjelas dengan mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran.

4) Menempelkan gambar di papan atau ditayangkan lewat OHP

5) Memberi petunjuk dan memberikan kesempatan kepada murid untuk memperhatikan/menganalisa gambar

6) Melalui diskusi kelompok 4-5 orang murid, hasil diskusi dari analisa gambar tersebut dicatat pada kertas

7) Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya

8) Mulai dari komenter/hasil diskusi murid , guru mulai menjlaskan materi sesuai dengan tujuan yang ingin di capai

9) Membuat kesimpulan.

c. Tahap Observasi/Evaluasi

Pada tahap observasi ini digunakan lembar observasi. Observasi dilakukan pada saat guru melakukan proses belajar mengajar. Guru mencatat tentang situasi dan kondisi belajar murid berdasarkan lembar observasi yang sudah disiapkan dalam hal ini mengenai:

1) Kehadiran murid

2) Murid yang mengerjakan PR 3) Murid yang bertanya

4) Murid yang memperhatikan pelajaran

(51)

li 5) Murid yang belum mengerti dan membutuhkan bimbingan guru dalam

mengerjakan soal

6) Murid yang menjawab pertanyaan atau tampil menyelesaikan soal di papan tulis

7) Murid yang minta izin.

d. Tahap Refleksi

Merefleksi setiap hal yang diperoleh melalui lembar observasi, menilai dan mempelajari perkembangan hasil belajar murid pada akhir siklus I. Dari hasil inilah yang selanjutnya dijadikan acuan peneliti untuk merencanakan perbaikan dan penyempurnaan siklus II sehingga hasil yang dicapai lebih baik dari siklus sebelumnya.

Langkah yang dilakukan pada siklus II pada umumnya sama dengan kegiatan yang telah dilakukan pada siklus I dengan melakukan beberapa perbaikan, seperti mengawasi murid lebih tegas dan memberi teguran bagi murid yang kurang disiplin. Untuk murid yang hasil belajarnya rendah dan mengalami kesulitan menyelesaikan soal diberikan bimbingan dan diberikan kesempatan untuk mengerjakan soal latihan di papan tulis serta meotivasir murid agar lebih bersemangat dan senang dalam belajar.

Hasil yang diperoleh dari siklus ini diharapkan lebih baik dari siklus sebelumnya. Selanjutnya akan diadakan evaluasi untuk mengukur keberhasilan pembelajaran IPS dengan menggunakan model pembelajaran Kooperatif Tipe

(52)

lii Examples Non Examples. Murid juga akan diberi kesempatan untuk memberi tanggapan secara tertulis.

E. Teknik dan Instrumen Penilaian 1. Teknik Penilaian

a. Tes b. Observasi c. Dokumentasi d. Wawancara 2. Instrument Penilaian

a. Tes: berupa butir-butir soal untuk memperoleh data tentang hasil belajar murid.

b. Observasi: berupa format penilaianuntuk merekam kehadiran dan keaktifan murid dalam proses pembelajaran.

c. Dokumentasi: untuk mengetahui nama murid, arsip-arsip lain yang berhubungan dengan penelitian seperti sarana dan prasarana SD Negeri mangasa.

d. Wawancara: berupa tanya jawab yang dilakukan kepada murid untuk mengetahui pendapat murid tentang penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Examples NonExamples.

F. Teknik Pengumpulan data

(53)

liii 1. Data tentang hasil belajar diambil dengan memberikan tes hasil belajar kepada

murid pada setiap akhir siklus

2. Data mengenai aktifitas murid diperoleh dengan mengisi lembar observasi pada saad pemberian tindakan

G. Teknik Analisis Data

Adapun analisis yang digunakan adalah kuantitatif, dimana data yang telah diperoleh dari lapangan berupa data kuantitatif yang dianalisis dengan menggunakan persamaan korelasi sederhana, kemudian digambarkan atau didekskripsikan sejauh mana implementasi model pembelajaran Examples Non Examples berkaitan secara signifikan terhadap pemahaman murid tentang materi Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).

Analisis ini dihitung dengan menggunakan statistik sederhana, yaitu sebagai berikut:

1. Penilaian Rata-rata

Peneliti menjumlahkan nilai yang diperoleh murid kemudian dibagi dengan jumlah murid kelas tersebut sehingga diperoleh nilai rata-rata. Nilai rata-rata ini dapat diperoleh dengan menggunakan rumus :

dengan :

P = Persentasi F = Frekuensi

N = Jumlah Responden

(54)

liv 2. Penilaian untuk ketuntasan belajar.

Untuk menghitung presentase ketuntasan digunakan dengan rumus :

Sedangkan untuk memperoleh nilai akhir dari murid yaitu dengan menggunakan rumus:

Untuk jelasnya dapat dilihat tabel dibawah ini :

Tabel 3.1 Teknik Kategorisasi Standar Berdasarkan Ketetapan Pendidikan Nasional

No

Tingkat Penguasaan Kategori

1.

0 – 59 Sangat rendah

2.

60 – 69 Rendah

3.

70 - 79 Sedang

4.

80 – 89 Tinggi

5.

90 – 100 Sangat tinggi

Sumber: Departemen Pendidikan Nasional (Drs. Cece, 1999: 156)

(55)

lv

H. Indikator Keberhasilan

Indikator keberhasilan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah bila skor rata-rata murid yang diperoleh dari tes akhir siklus II lebih tinggi dari tes akhir siklus I. Selain itu dapat juga dilihat dari meningkatnya keaktifan murid dalam proses belajar mengajar dan kemampuan guru dalam mengolah pembelajaran dengan nilai KKM untuk mata pelajaran IPS adalah 70.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Setelah dilakukan observasi awal penelitian ini dilanjutkan pada bulan agustus.

Penelitian ini dilaksanakan 2 siklus, sedangkan sasaran yang dicapai dalam penelitian ini adalah meningkatkan hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) melalui penerapan model pembelajaran Kooperatif Tipe Examples Non Examples pada murid kelas VI SD Negeri Mangasa Kecamaatan Somba Opu Kabupaten Gowa. Dalam pelaksanaan penelitian ini, peneliti bertindak sebagai guru yang mengajar dan wali kelas VI bertindak sebagai pengamat dengan materi Kenampakan Alam dan Keadaan Sosial Negara-Negara Tetangga .

Penelitian dilaksanakan 2 siklus yang setiap siklus terdiri dari 3 kali pertemuan.

Setiap siklus terdiri dari 4 tahap, yakni tahap perencanaan, tindakan, observasi dan

(56)

lvi refleksi, dari ke 4 tahap ini dapat dilihat hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) setelah penerapan model pembelajaran kooperatif Tipe Examples Non Examples pada murid kelas VI SD Negeri Mangasa Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa.

A. Pemaparan Hasil Penelitian

Pada bab ini akan dibahas hasil penelitian dan pembahasan dari penelitian yang telah dilaksanakan dengan menggunakan model pembelajaran Kooperatif Tipe Examples Non Examples dalam meningkatan hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) pada murid kelas VI SD Negeri Mangasa Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa.

Hasil penelitian yang diperoleh disajikan berdasarkan hasil yang telah didapatkan di lapangan dengan ditindaklanjuti selama 2 siklus. Setiap siklus dilakukan sebanyak tiga kali pertemuan.

1. Hasil Penelitian Siklus I a. Tahap Perencanaan

Pada tahap ini peneliti melakukan konsultasi dengan pihak sekolah mengenai rencana teknis penelitian.dengan diterapkannya model pembelajaran Kooperatif Tipe Examples Non Examples Pada murid kelas VI SD Negei Mangasa Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa.

Berdasarkan kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, standar kompetensi yang akan dicapai melalui kegiatan pembelajaran adalah memahami kenampakan alam dan keadaan sosial negara-nagara tetangga sebagaimana yang tercantum pada lampiran kegiatan perencanaan dilanjutkan dengan membuat instrument penelitian berupa, tes

41

Referensi

Dokumen terkait

Ikan paus tidak mempunyai masalah tersebut, karena Allah telah memberi makhluk hidup apa yang diperlukan untuk hidup di lingkungannya. Ikan laut dapat hidup di lautan seperti

Apabila Formulir Penjualan Kembali/Redemption Form Unit Penyertaan yang telah lengkap sesuai dengan syarat dan ketentuan yang tercantum dalam Prospektus ini dan Formulir

Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 12 Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2014 tentang Dana Desa Yang Bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara,

Hasil yang akan dicapai dari proyek perubahan ini adalah untuk memudahkan masyarakat mendapatkan pelayanan informasi yang berkualitas tentang data, potensi dan kegiatan yang

(2) Rencana pola ruang wilayah kabupaten sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digambarkan dalam peta dengan tingkat ketelitian 1:50.000 (satu banding lima puluh

Dalam penelitian ini, kopi dapat menurunkan aktivitas ALT dan AST serum darah tikus alkoholik dan dosis kopi berkorelasi negatif dengan kadar ALT dan AST..

Bentuk baja beam pada bangunan Anak Panah Coffee digunakan juga sebagai kolom yang memiliki keuntungan karena berkekuatan tinggi sehingga tidak mudah roboh untuk

Dengan hormat, sehubungan akan dilaksanakannya Pemilihan Calon Wakil Rektor, Dekan,Direktur dan Wakil Direktur Pascasarjana, Ketua Lembaga di Lingkungan Institut