• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hipotesis

Dalam dokumen : KHAIRINA ZAHRA TRIAMANDA LUBIS (Halaman 37-0)

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.12 Hipotesis

1. Terdapat hubungan antara pengetahuan menjaga kebersihan genitalia eksterna dengan kejadian keputihan.

2. Terdapat hubungan antara sikap menjaga kebersihan genitalia eksterna dengan kejadian keputihan.

3. Terdapat hubungan antara perilaku menjaga kebersihan genitalia eksterna dengan kejadian keputihan.

Pengetahuan, sikap, dan perilaku menjaga

kebersihan genitalia eksterna

Kejadian keputihan

BAB III

METODE PENELITIAN 3.1 JENIS PENELITIAN

Jenis penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan desain cross sectional.

Penelitian ini bertujuan untuk mencari hubungan pengetahuan, sikap, dan perilaku menjaga kebersihan genitalia eksterna dengan kejadian keputihan pada siswi Pesantren Modern Darul Hikmah Kota Medan.

3.2 LOKASI DAN WAKTU PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan di Pondok Pesantren Modern Darul Hikmah yang terletak di Jln. Pelajar No. 44, Teladan Timur, Kecamatan Medan Kota, Kota Medan, Sumatera Utara. Waktu penelitian dilakukan pada bulan Maret hingga Oktober 2019.

3.3 POPULASI DAN SAMPEL PENELITIAN 3.3.1 Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah siswi di Pondok Pesantren Modern Darul Hikmah Kota Medan. Populasi penelitian ini meliputi seluruh siswi (kelas 1-3 Tsanawiyah sampai kelas 4-6 Aliyah) di pesantren.

3.3.2 Sampel

Sampel pada penelitian ini diambil dengan menggunakan metode total sampling, dengan metode ini seluruh santri yang berjumlah 103 orang dan memenuhi kriteria inklusi.

a. Kriteria inklusi

 Seluruh siswi Pondok Pesantren Modern Darul Hikmah Kota Medan (kelas 1-3 Tsanawiyah dan 4-6 Aliyah).

 Menyetujui untuk menjadi subjek penelitian melalui informed consent dengan diketahui orang tua atau wali.

 Siswi yang pernah mengalami kejadian keputihan.

a. Kriteria eksklusi

 Tidak mengisi seluruh data pada kuesioner dengan lengkap.

 Tidak hadir pada saat penelitian berlangsung.

3.4 METODE PENGUMPULAN DATA 3.4.1 Metode

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer, yaitu data yang diperoleh langsung dari subjek penelitian dengan menggunakan suatu alat ukur dan kuesioner penilaian pengetahuan, sikap, dan perilaku menjaga kebersihan genitalia serta kejadian keputihan yang pernah dialami.

Data yang diperoleh berupa data pengetahuan, sikap, perilaku, dan frekuensi keputihan. Data pengetahuan, sikap, perilaku, dan frekuensi keputihan diambil melalui angket dengan media kuesioner yang telah divalidasi. Data yang diperoleh merupakan data yang diambil melalui sampel yang telah mengikuti kriteria inklusi dan kriteria eksklusi yang telah ditetapkan.

3.4.2 Alat

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar kuesioner.

3.4.3 Cara Kerja

a. Siswa menandatangani surat persetujuan.

b. Kuesioner dibagikan kepada seluruh siswa yang dilibatkan dalam penelitian.

3.6 METODE ANALISIS DATA

Dalam penelitian ini, data penelitian yang diperoleh dianalisis secara univariat dan bivariat dengan menggunakan program komputer dengan bantuan aplikasi statistik.

3.6.1 Analisis Univariat

Analisis univariat ini dilakukan untuk menganalisis data yang akan didistribusikan secara deskriptif dengan menggunakan tabel distribusi frekuensi berdasarkan variabel dependen dan independen yang akan diteliti yaitu keputihan.

3.6.2 Analisis Bivariat

Analisis bivariat ini dilakukan untuk menilai hubungan antara variabel dependen dengan variabel independen. Analisis ini dilakukan melalui uji statistik chi square yang akan memperoleh nilai p, di mana dalam penelitian ini digunakan tingkat kemaknaan sebesar 0,05. Penelitian antara dua variabel dikatakan bermakna jika mempunyai nilai p ≤ 0,05 yang berarti H0 ditolak dan Ha diterima dan dikatakan tidak bermakna jika mempunyai nilai p > 0,05 yang berarti H0 diterima dan Ha ditolak.

3.7 DEFINISI OPERASIONAL

Adapun definisi operasional dari variabel yang diteliti meliputi variabel independen dan variabel dependen sebagai berikut:

Tabel 3.1 Definisi operasional.

Kuesioner Angket 1. Tidak normal 2. Normal

Nominal

kemaluan

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan di Pondok Pesantren Modern Darul Hikmah yang terletak di Jln. Pelajar No. 44, Teladan Timur, Kecamatan Medan Kota, Kota Medan, Sumatera Utara. Pesantren ini berdiri sejak tahun 1986. Jumlah kamar tidur santri laki-laki dan perempuan berjumlah 15 kamar dengan total santri di pesantren berjumlah 231 santri. Kamar mandi santri berjumlah 5 buah dengan sumber air yang berasal dari sumur sehingga tidak setiap saat tersedia air bersih.

Berdasarkan pengamatan peneliti didapatkan kondisi kamar santri yang terlalu padat karena setiap kamar dihuni oleh 10-15 santri dengan luas kamar 4x3 meter, dan didapatkan mayoritas santri tidak menggunakan alas tidur atau seprai.

4.2 DESKRIPSI KARAKTERISTIK SAMPEL

Sampel pada penelitian ini adalah santri kelas 1-3 Tsanawiyah dan 4-6 Aliyah di Pondok Pesantren Modern Darul Hikmah Kota Medan. Jumlah sampel yang dipilih berjumlah 103 responden dengan menggunakan metode total sampling dan telah memenuhi kriteria inklusi. Semua data responden merupakan data primer, yaitu data yang diperoleh langsung menggunakan metode kuesioner. Karakteristik sampel pada penelitian ini dideskripsikan berdasarkan usia, kejadian keputihan, serta pengetahuan, sikap, dan perilaku menjaga kebersihan genitalia eksterna.

4.3 ANALISIS UNIVARIAT

Tabel 4.1 Distribusi frekuensi keputihan

Keputihan Jumlah Persentase (%)

Ya 103 97

Tidak 3 3

Total 106 100

Tabel 4.1 menunjukkan bahwa dari 106 responden, sebagian besar responden pernah mengalami kejadian keputihan yaitu sejumlah 103 responden (97%).

Tabel 4.2 Distribusi frekuensi responden berdasarkan usia

Usia Jumlah Persentase (%)

Remaja Awal 30 29,1

Remaja Pertengahan 55 53,4

Remaja Akhir 18 17,5

Total 103 100

Tabel 4.2 menunjukkan bahwa dari 103 responden penelitian, responden terbanyak pada kelompok usia remaja pertengahan dengan jumlah 55 responden (53,4%).

Tabel 4.3 Distribusi frekuensi kejadian keputihan berdasarkan usia

Karakteristik Normal Tidak Normal Total

N % N % N % mengalami keputihan tidak normal. Angka kejadian keputihan tidak normal paling tinggi didapatkan pada kelompok usia remaja pertengahan yaitu 20 responden (19,4%).

Tabel 4.4 Distribusi frekuensi pengetahuan menjaga kebersihan genitalia eksterna Pengetahuan menjaga

kebersihan genitalia eksterna Jumlah Persentase (%)

Baik 60 58,3

Buruk 43 41,7

Total 103 100

Tabel 4.4 menunjukkan bahwa pengetahuan menjaga kebersihan genitalia eksterna yang baik memiliki jumlah terbanyak dengan jumlah 60 responden (58,3%).

Tabel 4.5 Distribusi frekuensi pengetahuan menjaga kebersihan genitalia eksterna berdasarkan usia

Pengetahuan Baik Buruk Total

N % N % N %

Tabel 4.5 menunjukkan bahwa responden dengan pengetahuan baik terbanyak terdapat pada rentang usia remaja pertengahan dengan jumlah 37 responden (35,9%). Begitu juga pada responden dengan pengetahuan buruk terbanyak didapati pada rentang usia remaja pertengahan dengan jumlah 18 responden (17,4%).

Tabel 4.6 Distribusi frekuensi sikap menjaga kebersihan genitalia eksterna Sikap menjaga kebersihan

genitalia eksterna Jumlah Persentase (%)

Baik 92 89,3

Buruk 11 10,7

Total 103 100

Tabel 4.6 menunjukkan bahwa sikap menjaga kebersihan genitalia eksterna yang baik memiliki jumlah terbanyak dengan jumlah 92 responden (89,3%).

Tabel 4.7 Distribusi frekuensi sikap menjaga kebersihan genitalia eksterna berdasarkan usia

Sikap Baik Buruk Total

Tabel 4.7 menunjukkan bahwa sikap baik terbanyak terdapat pada rentang usia remaja pertengahan dengan jumlah 51 responden (49,5%). Sedangkan responden dengan sikap buruk terbanyak didapati pada rentang usia remaja awal dengan jumlah 6 responden (5,8%).

Tabel 4.8 Distribusi frekuensi perilaku menjaga kebersihan genitalia eksterna Perilaku menjaga kebersihan

genitalia eksterna Jumlah Persentase (%)

Baik 81 78,6

Buruk 22 21,4

Total 103 100

Tabel 4.8 menunjukkan bahwa perilaku menjaga kebersihan genitalia eksterna yang baik memiliki jumlah terbanyak dengan jumlah 81 responden (21,4%).

Tabel 4.9 Distribusi frekuensi perilaku menjaga kebersihan genitalia eksterna berdasarkan usia

Perilaku Baik Buruk Total

Tabel 4.9 menunjukkan bahwa responden dengan perilaku baik terbanyak terdapat pada rentang usia remaja pertengahan dengan jumlah 43 responden (41,7%). Begitu juga pada responden dengan perilaku buruk terbanyak didapati pada rentang usia remaja pertengahan dengan jumlah 12 responden (11,6%).

4.4 ANALISIS BIVARIAT

4.4.1 Hubungan Pengetahuan Menjaga Kebersihan Genitalia Eksterna dengan Kejadian Keputihan

Hubungan pengetahuan menjaga kebersihan genitalia eksterna dengan kejadian keputihan dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 4.10 Hubungan pengetahuan menjaga kebersihan genitalia eksterna dengan kejadian keputihan

Keputihan

Nilai p

Pengetahuan Normal Tidak normal Total

N % N % N %

0,001

Baik 47 45,6 15 14,5 62 60,1

Buruk 13 12,6 28 27,3 41 39,9

Total 60 58,2 43 43,8 103 100

Tabel 4.10 menunjukkan bahwa dari 103 responden terdapat 60 responden dengan keputihan normal (58,2%). Kemudian dari 103 responden ditemukan 62 responden (60,1%) memiliki pengetahuan menjaga kebersihan genitalia eksterna yang baik. Berdasarkan tabel 4.10 juga didapatkan 60 responden dengan keputihan normal dan dari 60 responden tersebut ada 47 responden dengan pengetahuan yang baik (45,6%).

Uji chi square dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan pengetahuan menjaga kebersihan genitalia eksterna dengan kejadian keputihan pada siswi Pondok Pesantren Modern Darul Hikmah. Hasil uji dinyatakan signifikan dengan nilai p = 0,001 (p 0,05) maka H0 ditolak dan Ha diterima yang menunjukkan adanya hubungan pengetahuan menjaga kebersihan genitalia eksterna dengan kejadian keputihan.

4.4.2 Hubungan Sikap Menjaga Kebersihan Genitalia Eksterna dengan Kejadian Keputihan

Hubungan sikap menjaga kebersihan genitalia eksterna dengan kejadian keputihan dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 4.11 Hubungan sikap menjaga kebersihan genitalia eksterna dengan kejadian keputihan Keputihan

Nilai p

Sikap Normal Tidak normal Total

N % N % N % dengan keputihan normal (60,1%). Kemudian ditemukan juga responden dengan sikap menjaga kebersihan genitalia eksterna yang baik dengan jumlah 92 responden (89,4%). Berdasarkan tabel 4.11 juga didapatkan 62 responden dengan keputihan normal dan dari 62 responden tersebut terdapat 59 responden memiliki sikap yang baik (57,2%).

Uji chi square dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan sikap menjaga kebersihan genitalia eksterna dengan kejadian keputihan pada siswi

Pondok Pesantren Modern Darul Hikmah. Hasil uji dinyatakan signifikan dengan nilai p = 0,018 (p 0,05) maka H0 ditolak dan Ha diterima yang menunjukkan terdapat hubungan sikap menjaga kebersihan genitalia eksterna dengan kejadian keputihan.

4.4.3 Hubungan Perilaku Menjaga Kebersihan Genitalia Eksterna dengan Kejadian Keputihan

Hubungan perilaku menjaga kebersihan genitalia eksterna dengan kejadian keputihan dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 4.12 Hubungan perilaku menjaga kebersihan genitalia eksterna dengan kejadian keputihan Keputihan

Nilai p

Perilaku Normal Tidak normal Total

N % N % N % dengan keputihan normal (53,97%). Kemudian dari 103 responden ditemukan 81 responden (78,5%) memiliki perilaku menjaga kebersihan genitalia eksterna yang baik. Berdasarkan tabel 4.12 juga didapatkan 62 dari 103 responden mengalami keputihan normal dengan 55 responden memiliki perilaku yang baik (53,3%).

Uji chi square dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan perilaku menjaga kebersihan genitalia eksterna dengan kejadian keputihan pada siswi Pondok Pesantren Modern Darul Hikmah. Hasil uji dinyatakan signifikan dengan nilai p = 0,002 (p 0,05) maka H0 ditolak dan Ha diterima yang menunjukkan adanya hubungan perilaku menjaga kebersihan genitalia eksterna dengan kejadian keputihan.

4.5 PEMBAHASAN

4.5.1 Kejadian Keputihan Berdasarkan Usia

Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa dari 103 responden terdapat 41 responden mengalami keputihan tidak normal (38,9%). Dari 41 responden tersebut didapatkan bahwa kejadian keputihan tidak normal lebih banyak terjadi

pada responden dengan kelompok usia remaja pertengahan dengan jumlah 20 responden (19,4%). Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Nikmah dan Widyasih (2016) di Pondok Pesantren Al-Munawwir Yogyakarta yang menunjukkan bahwa wanita dengan rentang usia remaja pertengahan sebanyak 63 responden mengalami keputihan patologis. Hasil penelitian ini juga sesuai dengan Rahmi et al. (2014) yang dilakukan di SMA Negeri 1 Rumbio Jaya dengan karakteristik responden terbanyak adalah remaja pertengahan dengan jumlah 82 orang.

Masalah reproduksi adalah salah satu permasalahan yang kompleks bagi remaja putri. Masalah ini perlu mendapat penanganan serius karena akses informasi mengenai kesehatan reproduksi pada remaja masih kurang tersedia (Darma et al., 2017). Remaja dengan pengetahuan dan informasi tentang kebersihan alat genital yang kurang baik akan berdampak pada perilaku remaja dalam menjaga kebersihan alat genitalianya. Kejadian keputihan banyak dialami oleh usia remaja karena pada usia remaja didapatkan kurangnya perawatan terhadap kebersihan diri terutama dalam menjaga kebersihan alat genitalia (Darma et al., 2017).. Hasil dari wawancara melalui media kuesioner dan pengamatan peneliti didapatkan bahwa santri di pondok pesantren tersebut kurang memperhatikan pengetahuan, sikap, dan perilaku untuk menjaga kebersihan genitalia luar mereka. Masih banyak santri yang menggunakan pembersih vagina, menggunakan celana ketat, tidak mencukur rambut kemaluan, dan tidak mencuci tangan sebelum dan sesudah menyentuh alat genital. Usia responden yang masih muda dapat menjadi salah satu faktor karena belum mendapat informasi dan kurangnya pengalaman sehingga kejadian keputihan memiliki angka yang tinggi pada responden penelitian ini.

4.5.2 Hubungan Pengetahuan Menjaga Kebersihan Genitalia Eksterna dengan Kejadian Keputihan

Pada penelitian ini, terdapat hubungan antara pengetahuan menjaga kebersihan genitalia eksterna dengan kejadian keputihan. Hasil analisis dengan uji chi square diperoleh nilai p = 0,001 (p 0,05) sehingga H0 ditolak.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian oleh Pamaruntuan et al. (2015) di SMA Negeri 4 Manado yang menunjukkan hasil responden dengan pengetahuan buruk yang mengalami keputihan patologis sebanyak 45 responden (50%). Adapun responden dengan pengetahuan baik yang mengalami keputihan fisiologis sebanyak 89 responden (79.5%). Berdasarkan hasil penelitian tersebut didapatkan hasil uji statistik diperoleh nilai p = 0,000, berarti terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan kejadian keputihan. Hasil penelitian ini sesuai juga dengan penelitian Nduru (2015) yang dilaksanakan di Kelurahan Bagan Deli Kecamatan Medan Belawan yang menunjukkan bahwa wanita dengan tingkat pengetahuan buruk, 9 dari 14 orang (64,3%) mengalami keputihan patologis. Berdasarkan hasil penelitian tersebut didapatkan hasil uji statistik diperoleh nilai p = 0,008, berarti terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan responden dengan kejadian keputihan. Hasil penelitian ini juga sejalan dengan penelitian Hassan (2015) di Kelurahan Labuan Deli, Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan yang menunjukkan bahwa wanita dengan pengetahuan yang buruk dan keputihan abnormal sebanyak 8 dari 12 orang (66,7%). Berdasarkan hasil penelitian tersebut didapatkan hasil uji statistik diperoleh nilai p = 0,021, berarti terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan responden dengan kejadian keputihan. Hasil penelitian lainnya oleh Sondakh et al. (2014) di SMA Negeri 1 Pineleng menunjukkan bahwa siswi dengan pengetahuan yang buruk dan mengalami kejadian keputihan sebanyak 12 orang (20,3%). Hasil uji statistik menunjukkan nilai p = 0,047 maka terdapat hubungan antara pengetahuan dengan kejadian keputihan.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia dalam Ilmiawati dan Kuntoro (2016), pengetahuan yaitu suatu hal yang dapat diketahui serta berkaitan dengan proses belajar mengajar. Kegiatan belajar dipengaruhi banyak yang berasal dari faktor dalam, seperti motivasi dan faktor luar berupa sarana informasi yang tersedia, serta keadaan sosial budaya (Agus dan Budiman, 2013). Menurut Rahmi et al.

(2014) keputihan juga dapat dipengaruhi oleh pengetahuan remaja yang masih rendah tentang keputihan, kurangnya informasi yang didapatkan oleh remaja, akses pelayanan kesehatan yang kurang memadai dan cara perawatan organ

reproduksi wanita yang kurang baik. Santri yang tidak diperbolehkan membawa dan menggunakan ponsel dan televisi serta jauh dari orang tua dapat menyebabkan kurangnya pengetahuan mengenai kebersihan diri dan keputihan sehingga pengetahuan siswi menjadi buruk.

4.5.3 Hubungan Sikap Menjaga Kebersihan Genitalia Eksterna dengan Kejadian Keputihan

Pada penelitian ini, terdapat hubungan antara sikap menjaga kebersihan genitalia eksterna dengan kejadian keputihan. Hasil analisis dengan uji chi square diperoleh nilai p = 0.018 (p 0.05) sehingga H0 ditolak.

Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Sari (2018) di SMAS Pertiwi diperoleh bahwa dari 53 responden yang memiliki sikap buruk, yang pernah mengalami keputihan berjumlah 50 orang (94,3%), dan responden yang bersikap baik dan tidak mengalami keputihan sebanyak 12 orang (36,4%). Berdasarkan hasil penelitian tersebut didapatkan hasil uji statistik diperoleh nilai p = 0,001, berarti terdapat hubungan yang signifikan antara sikap responden dengan keputihan. Hasil penelitian lainnya yang dilakukan oleh Hassan (2015) yang menunjukkan bahwa terdapat 40 responden (85,1%) memiliki sikap baik dan mengalami keputihan normal, sementara terdapat 18 orang (78,3%) responden yang memiliki sikap buruk dan mengalami keputihan patologis. Hasil uji statistik pada penelitian tersebut didapatkan nilai p = 0,001 yang menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara sikap responden dengan kejadian keputihan. Penelitian lainnya oleh Tombokan et al. (2014) di SMA Negeri 1 Manado juga didapatkan hasil 14 responden (56%) memiliki sikap yang buruk dan mengalami keputihan. Sedangkan 57 responden (70,4%) memiliki sikap baik dan tidak mengalami keputihan. Uji statistik yang dilakukan pada penelitian tersebut mendapatkan nilai p = 0,002 maka terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan dengan kejadian keputihan. Oleh Nduru (2015) didapatkan responden dengan sikap baik dan mengalami keputihan normal berjumlah 51 orang (75%) dan responden dengan sikap buruk dan mengalami keputihan patologis berjumlah 8 orang (66,7%). Berdasarkan hasil penelitian tersebut

didapatkan hasil uji statistik diperoleh nilai p = 0,007, berarti terdapat hubungan yang signifikan antara sikap responden dengan kejadian keputihan.

Sikap merupakan hal yang paling penting dalam psikologi sosial untuk menentukan perilaku seseorang. Melalui sikap remaja terhadap keputihan bisa menentukan tindakan nyata berupa perilaku sehat terhadap penanganan dan pencegahan agar terhindar dari keputihan tidak normal (Sari, 2018). Dalam hal ini masih terdapat sikap responden yang buruk, kemungkinan karena kurangnya informasi yang didapatkan mengenai kebersihan diri dan keputihan. Pengetahuan yang baik akan meningkatkan sikap responden menjadi lebih baik. Kesadaran diri yang masih kurang untuk mencari informasi mengenai kebersihan diri dan keputihan dapat menyebabkan sikap responden masih buruk.

4.5.4 Hubungan Perilaku Menjaga Kebersihan Genitalia Eksterna dengan Kejadian Keputihan

Pada penelitian ini, terdapat hubungan antara perilaku menjaga kebersihan genitalia eksterna dengan kejadian keputihan. Hasil analisis dengan uji chi square diperoleh nilai p = 0,002 (p 0,05) sehingga H0 ditolak.

Penelitian lain yang dilakukan oleh Nduru (2015) menunjukkan bahwa responden yang mengalami keputihan normal, 52 dari 55 orang (81,3%) memiliki perilaku baik. Responden yang mengalami keputihan patologis, 13 dari 25 orang (81,3%) memiliki perilaku buruk. Berdasarkan hasil penelitian tersebut didapatkan hasil uji statistik diperoleh nilai p = 0,001, berarti terdapat hubungan yang signifikan antara perilaku responden dengan kejadian keputihan. Rahmi et al. (2014) di SMA Negeri 1 Rumbio Jaya juga mendapatkan hasil penelitian yang sejalan yaitu sebanyak 31 responden (37,8%) memiliki tindakan buruk dan mengalami keputihan. Berdasarkan hasil penelitian tersebut didapatkan hasil uji statistik diperoleh nilai p = 0,041, berarti terdapat hubungan yang signifikan antara perilaku responden dengan terjadinya keputihan. Penelitian lainnya oleh Sari (2012) di SMA Negeri 1 Seunuddon Kabupaten Aceh Utara didapatkan hasil dari 32 responden yang berperilaku baik dengan tidak adanya kejadian keputihan pada remaja putri sebanyak 30 orang (93,8%), sedangkan dari 40 responden yang

berperilaku buruk dengan adanya kejadian keputihan pada remaja putri sebanyak 38 orang (95%). Hasil uji statistik diperoleh nilai p = 0,000, maka terdapat hubungan yang signifikan antara perilaku responden dengan kejadian keputihan.

Penelitian lainnya oleh Hassan (2015) didapatkan hasil 44 responden (74,6%) memiliki perilaku baik dan mengalami keputihan normal, sementara responden yang memiliki perilaku buruk dan mengalami keputihan abnormal berjumlah 13 orang (81,3%). Berdasarkan hasil penelitian tersebut didapatkan hasil uji statistik diperoleh nilai p = 0,001, berarti terdapat hubungan yang signifikan antara perilaku responden dengan kejadian keputihan.

Perilaku manusia yang memengaruhi kesehatan dapat digolongkan dalam dua kategori yaitu, perilaku yang terwujud sengaja (sadar) dan perilaku yang disengaja atau tidak disengaja merugikan atau tidak disengaja membawa manfaat bagi kesehatan baik bagi diri individu yang melakukan perilaku tersebut maupun masyarakat. Sebaliknya ada perilaku yang disengaja atau tidak disengaja merugikan kesehatan baik bagi diri individu yang melakukan maupun masyarakat (Notoatmodjo, 2012). Pengetahuan dan sikap yang buruk dapat mempengaruhi perilaku responden. Namun, sikap dan perilaku seringkali jauh berbeda. Hal ini karena perilaku dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal lainnya sehingga seringkali seseorang memperlihatkan perilaku yang bertentangan dengan sikapnya (Rahmi et al., 2014).

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Angka kejadian keputihan di Pondok Pesantren Modern Darul Hikmah terbagi atas keputihan dengan jumlah 103 responden (97%) dan tidak keputihan dengan jumlah 3 responden (3%).

2. Kejadian keputihan terbanyak terdapat di rentang usia remaja pertengahan yaitu sebanyak 55 responden (53.4%). Pada rentang usia remaja awal didapatkan jumlah 30 responden (29,1%) dan pada rentang usia remaja akhir berjumlah 18 responden (17,5%).

3. Terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan menjaga kebersihan genitalia eksterna dengan kejadian keputihan di Pondok Pesantren Modern Darul Hikmah yang ditunjukkan dari nilai p = 0,001 (p 0,05).

4. Terdapat hubungan yang bermakna antara sikap menjaga kebersihan genitalia eksterna dengan kejadian keputihan di Pondok Pesantren Modern Darul Hikmah yang ditunjukkan dari nilai p = 0,018 (p 0,05).

5. Terdapat hubungan yang bermakna antara perilaku menjaga kebersihan genitalia eksterna dengan kejadian keputihan di Pondok Pesantren Modern Darul Hikmah yang ditunjukkan dari nilai p = 0,002 (p 0,05).

5.2 SARAN

Beberapa hal yang dapat disarankan berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan antara lain:

1. Bagi responden

Responden diharapkan dapat mencari informasi untuk meningkatkan pengetahuan mengenai kebersihan terutama kebersihan genital sebagai pencegahan terjadinya keputihan tidak normal maupun penyakit lainnya.

Informasi bisa disalurkan kepada santri melalui konseling dan pembelajaran.

Pengetahuan yang baik mengenai cara menjaga kebersihan genital akan mempengaruhi sikap dan perilaku sehingga lebih baik lagi.

2. Bagi pihak pesantren

Dapat meningkatkan tingkat pendidikan mengenai kesehatan reproduksi terutama mengenai kebersihan genitalia dan keputihan. Dapat dilakukan dengan penyuluhan, promosi, kegiatan konseling dan memberikan fasilitas seperti poster yang dipasang di seluruh area pesantren sehingga informasi mengenai kesehatan reproduksi dapat diperoleh secara menyeluruh oleh masyarakat umum, tidak hanya remaja putri saja.

3. Bagi penelitian selanjutnya

Peneliti selanjutnya diharapkan dapat mengembangkan penelitian ini dengan faktor-faktor lain yang mempengaruhi kejadian keputihan. Selain itu, peneliti selanjutnya diharapkan dapat melakukan diagnosis secara spesifik seperti pemeriksaan laboratorium sehingga diagnosis lebih objektif dan tatalaksana yang efektif dapat diberikan.

DAFTAR PUSTAKA

Agus, R. dan Budiman 2013, Kapita Selekta Pengetahuan dan Sikap dalam Penelitian Kesehatan. Salemba Medika, Jakarta.

Akmal, S. C., Semiarty, R. dan Gayatri, G. 2013, Hubungan Personal Hygiene dengan Kejadian Skabies di Pondok Pendidikan Islam Darul Ulum, Pelarik Air Pecah, Kecamatan Koto Tengah Padang Tahun 2013. Jurnal Kesehatan Andalas, Padang.

Amelia 2012, Gambaran Perilaku Remaja Putri Menjaga Kebersihan Organ Genitalia dalam Mencegah Keputihan. Jakarta.

Ayuningtyas, D. N. 2011, Hubungan antara Pengetahuan dan Perilaku Menjaga Kebersihan Genitalia Eksterna dengan Kejadian Keputihan pada Siswi SMA Negeri 4 Semarang. Universitas Diponegoro.

Benson, R. C. dan Pernoll, M. L. 2009, Buku Saku Obstetri dan Ginekologi. 9th edn. EGC, Jakarta.

Darma, M., Yusran, S. dan Fachlevy, A. F. 2017, Hubungan Pengetahuan, Vulva Hygiene, Stres, dan Pola Makan dengan Kejadian Infeksi Flour Albus (Keputihan) pada Remaja Siswi SMA Negeri 6 Kendari 2017. Jurnal Ilmiah

Darma, M., Yusran, S. dan Fachlevy, A. F. 2017, Hubungan Pengetahuan, Vulva Hygiene, Stres, dan Pola Makan dengan Kejadian Infeksi Flour Albus (Keputihan) pada Remaja Siswi SMA Negeri 6 Kendari 2017. Jurnal Ilmiah

Dalam dokumen : KHAIRINA ZAHRA TRIAMANDA LUBIS (Halaman 37-0)

Dokumen terkait