HUBUNGAN PENGETAHUAN, SIKAP, DAN PERILAKU MENJAGA KEBERSIHAN GENITALIA EKSTERNA DENGAN
KEJADIAN KEPUTIHAN PADA SISWI
PONDOK PESANTREN MODERN DARUL HIKMAH
SKRIPSI
Oleh :
KHAIRINA ZAHRA TRIAMANDA LUBIS 160100026
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2019
HUBUNGAN PENGETAHUAN, SIKAP, DAN PERILAKU MENJAGA KEBERSIHAN GENITALIA EKSTERNA DENGAN
KEJADIAN KEPUTIHAN PADA SISWI
PONDOK PESANTREN MODERN DARUL HIKMAH
SKRIPSI
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kedokteran
Oleh :
KHAIRINA ZAHRA TRIAMANDA LUBIS 160100026
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2019
HALAMAN PENGESAHAN
KATA PENGANTAR Bismillahirrahmanirrahim,
Puji dan syukur kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan karunia-Nya yang senantiasa menyertai penulis sehingga penelitian ini dapat diselesaikan dengan baik. Shalawat dan salam tidak lupa pula penulis sampaikan kepada utusan-Nya, Nabi Muhammad SAW, semoga kelak kita mendapatkan syafa’at Beliau di hari akhir nanti. Aamiin Aamiin yaa Rabbal’Alamiin.
Dengan selesainya penulisan karya tulis ilmiah ini yang berjudul “Hubungan Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Menjaga Kebersihan Genitalia Eksterna dengan Kejadian Keputihan pada Siswi Pondok Pesantren Modern Darul Hikmah” yang merupakan salah satu syarat kelulusan pendidikan sarjana kedokteran pada program studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Dalam proses penyelesaian penelitian ini, penulis banyak mendapatkan bantuan dan dukungan baik moriil maupun materiil dari berbagai pihak. Oleh sebab itu penulis ingin mengucapkan terimakasih dan penghargaannya kepada:
1. Kedua orang tua yang penulis hormati dan sayangi, ayahanda Ir. Ahmad Sofian Lubis, M.Si, dan ibunda Nur Aisyah Nasution, serta abangda Ahmad Arifin Porkas Lubis, S.T. dan Firmansyah Parlindungan Lubis, S.T. yang telah banyak memberikan dorongan moriil, doa, materiil serta pengorbanannya sehingga bisa mengantarkan penulis sampai titik ini.
2. Prof. Dr. Runtung, S.H., M.Hum. selaku Rektor Universitas Sumatera Utara
3. Dr. dr. Aldy S. Rambe, Sp.S (K) selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara beserta jajarannya.
4. dr. Dwi Rita Anggraini, M.Kes, Sp.PA selaku dosen pembimbing skripsi penulis yang telah banyak membantu penulis, meluangkan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk membimbing penulis mulai dari awal penyusunan penelitian hingga terselesaikannya laporan penelitian ini.
5. dr. Aida Fitri, Sp.S (K) dan dr. Sufitni, M.Kes, Sp.PA, selaku dosen penguji yang telah memberikan saran dan masukan yang sangat
membangun dan membantu penulis untuk mendapatkan hasil yang terbaik pada penelitian ini.
6. dr. Arya Tjipta, Sp.BP-RE selaku dosen penasihat akademik penulis dan seluruh staf pengajar FK USU yang telah banyak memberikan bimbingannya dan pembelajaran kepada penulis selama perkuliahan hingga terselesainya masa studi penulis.
7. Bapak H. Yose Rizal, S. Ag, MM selaku Wakil Direksi Pondok Pesantren Modern Darul Hikmah Kota Medan, Kepala Sekolah, serta para guru di pesantren yang telah memberikan dukungan, izin dan memfasilitasi tempat penelitian sehingga penelitian ini dapat berjalan dengan lancar.
8. Teman terbaik penulis Farid dan Marwin yang telah memberikan bantuan, saran, motivasi, dan memberikan semangat dalam melakukan penelitian di lapangan dan juga dalam penyusunan skripsi ini.
9. Teman-teman terbaik penulis, Alwina, Anggita, Bella, Hafizah, Maulida, Salsa, Siska, dan Yuriza yang telah membantu dan memberikan dukungan dalam penyusunan skripsi ini.
10. Saudara, sahabat serta sejawat, terkhusus angkatan 2016 Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara yang senantiasa menemani dan memberikan motivasi kepada penulis selama proses penelitian.
Demikianlah skripsi ini penulis selesaikan. Penulis menyadari bahwa penulisan karya tulis ilmiah ini belum sempurna, baik dari segi materi maupun tata cara penulisan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar lebih baik lagi kedepannya. Semoga karya tulis ilmiah ini dapat bermanfaat bagi penulis sendiri maupun orang lain khususnya dalam perkembangan ilmu pengetahuan terutama di bidang kedokteran.
Medan, Desember 2019 Hormat saya
Khairina Zahra Triamanda Lubis
DAFTAR ISI
Halaman
Halaman Pengesahan ... i
Kata Pengantar ... ii
Daftar Isi... iv
Daftar Gambar ... vi
Daftar Tabel ... vii
Daftar Lampiran ... viii
Daftar Singkatan... ix
Abstrak ... x
BAB I. PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 3
1.3 Tujuan Penelitian ... 3
1.3.1 Tujuan Umum ... 3
1.3.2 Tujuan Khusus... 3
1.4 Manfaat Penelitian ... 3
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ... 5
2.1 Sistem Reproduksi Wanita ... 5
2.1.1 Anatomi Sistem Reproduksi Wanita ... 5
2.2 Keputihan ... 8
2.2.1 Definisi ... 8
2.2.2 Epidemiologi ... 8
2.2.3 Etiologi dan Klasifikasi ... 9
2.2.4 Patogenesis ... 11
2.2.5 Manifestasi Klinis ... 12
2.2.6 Pemeriksaan Penunjang... 12
2.2.3 Etiologi dan Klasifikasi ... 12
2.2.8 Penatalaksanaan ... 12
2.2.9 Pencegahan ... 13
2.3 Pengetahuan ... 14
2.4 Sikap ... 16
2.5 Perilaku ... 17
2.6 Remaja... 17
2.7 Hubungan Pengetahuan Menjaga Kebersihan Genitalia Eksterna dengan Kejadian Keputihan ... 18
2.8 Hubungan Sikap Menjaga Kebersihan Genitalia Eksterna dengan Kejadian Keputihan ... 19
2.9 Hubungan Perilaku Menjaga Kebersihan Genitalia Eksterna dengan Kejadian Keputihan ... 19
2.10 Kerangka Teori... 21
2.11 Kerangka Konsep ... 22
2.12 Hipotesis ... 22
BAB III. METODE PENELITIAN ... 23
3.1 Jenis Penelitian ... 23
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 23
3.3 Populasi dan Sampel Penelitian ... 23
3.3.1 Populasi ... 23
3.3.2 Sampel ... 23
3.4 Metode Pengumpulan Data ... 24
3.4.1 Metode ... 24
3.4.2 Alat ... 24
3.4.3 Cara Kerja ... 24
3.6 Metode Analisis Data ... 24
3.6.1 Analisis Univariat ... 24
3.6.2 Analisis Bivariat ... 25
3.7 Definisi Operasional... 26
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN... 27
4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian... 27
4.2 Deskripsi Karakteristik Sampel... 27
4.3 Analisis Univariat... 27
4.4 Analisis Bivariat ... 30
4.4.1 Hubungan Pengetahuan Menjaga Kebersihan Genitalia Eksterna dengan Kejadian Keputihan... 30
4.4.2 Hubungan Sikap Menjaga Kebersihan Genitalia Eksterna dengan Kejadian Keputihan... 31
4.4.3 Hubungan Perilaku Menjaga Kebersihan Genitalia Eksterna dengan Kejadian Keputihan... 32
4.5 Pembahasan ... 32
4.5.1 Kejadian Keputihan Berdasarkan Usia ... 32
4.5.2 Pengetahuan dengan Kejadian Keputihan ... 33
4.5.3 Sikap dengan Kejadian Keputihan ... 35
4.5.4 Perilaku dengan Kejadian Keputihan ... 36
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 38
5.1 Kesimpulan ... 38
5.2 Saran ... 38
DAFTAR PUSTAKA ... 40
LAMPIRAN ... 44
DAFTAR GAMBAR
Nomor Judul Halaman
2.1. Anatomi genitalia eksterna wanita ... 6
2.2. Anatomi genitalia interna wanita... 7
2.3. Kerangka teori penelitian ... 21
2.4. Kerangka konsep penelitian ... 22
DAFTAR TABEL
Nomor Judul Halaman
3.1. Definisi operasional ... 26 4.1. Distribusi frekuensi keputihan ... 27 4.2. Distribusi frekuensi responden berdasarkan usia ... 28 4.3. Distribusi frekuensi kejadian keputihan berdasarkan usia 28 4.4. Distribusi frekuensi pengetahuan menjaga kebersihan
genitalia eksterna ... 28 4.5. Distribusi frekuensi pengetahuan menjaga kebersihan
genitalia eksterna berdasarkan usia ... 29 4.6. Distribusi frekuensi sikap menjaga kebersihan genitalia
eksterna ... 29 4.7. Distribusi frekuensi sikap menjaga kebersihan genitalia
eksterna berdasarkan usia ... 29 4.8. Distribusi frekuensi perilaku menjaga kebersihan
genitalia eksterna ... 30 4.9. Distribusi frekuensi perilaku menjaga kebersihan
genitalia eksterna berdasarkan usia ... 30 4.10. Hubungan pengetahuan menjaga kebesihan genitalia
eksterna dengan kejadian keputihan ... 30 4.11. Hubungan sikap menjaga kebersihan genitalia eksterna
dengan kejadian keputihan ... 31 4.12. Hubungan perilaku menjaga kebersihan genitalia eksterna
dengan kejadian keputihan ... 32
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Judul Halaman
Lampiran A Daftar Riwayat Hidup 44
Lampiran B Lembar Pernyataan 46
Lampiran C Surat Persetujuan Komisi
Etik 47
Lampiran D Surat Izin Survei Awal 48
Lampiran E Surat Izin Penelitian 49
Lampiran F Lembar Penjelasan 51
Lampiran G Lembar Persetujuan
Penelitian 52
Lampiran H Lembar Kuesioner 53
Lampiran I Lembar Uji Validitas dan
Reliabilitas 61
Lampiran J Data Induk 68
Lampiran K Hasil Pengolahan Data
Statistik 71
Lampiran L Dokumentasi Kegiatan 75
DAFTAR SINGKATAN
BKKBN : Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana
HPV : Human Papilloma Virus
HSV : Herpes Simplex Virus
IUD : Intrauterine Device
PHBS : Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
SMP : Sekolah Menengah Pertama
SMA : Sekolah Menengah Atas
SMAS : Sekolah Menengah Atas Swasta
SMK : Sekolah Menengah Kejuruan
UKS : Usaha Kesehatan Sekolah
VB : Vaginosis Bakterial
VC : Vulvovaginal Candidiasis
ABSTRAK
Latar Belakang. Organ reproduksi adalah suatu organ tubuh yang sensitif dan membutuhkan perawatan yang khusus. Tiga puluh tiga persen dari jumlah total beban penyakit yang menyerang wanita di seluruh dunia adalah masalah kesehatan reproduksi wanita yang buruk. Keputihan sering dikeluhkan oleh remaja wanita sebagai salah satu masalah kesehatan reproduksi.
Kebiasaan menjaga kebersihan diri adalah salah satu faktor yang penting untuk menghindari infeksi. Hal ini dikarenakan infeksi dapat menyebabkan keputihan dan kanker leher rahim. Setiap tahun, 1 dari 1.000 penduduk diperkirakan mengalami insiden kanker leher rahim dan bisa berujung pada kematian. Di Asia, sebanyak 76% dari masalah kesehatan reprduksi adalah keputihan. Indonesia yang beriklim tropis menyebabkan sekitar 90% remaja putri di Indonesia berpotensi mengalami keputihan yang mengakibatkan bakteri, jamur, dan virus mudah tumbuh dan berkembang sehingga kasus keputihan pada remaja putri di Indonesia bertambah banyak.
Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan, sikap, dan perilaku menjaga kebersihan genitalia eksterna terhadap kejadian keputihan pada siswi Pondok Pesantren Modern Darul Hikmah. Metode. Penelitian ini merupakan studi penelitian analitik dengan desain penelitian cross sectional, menggunakan data primer yaitu data yang diperoleh langsung dari subjek penelitian dengan menggunakan suatu alat ukur kuesioner pengetahuan, sikap, dan perilaku menjaga kebersihan genitalia eksterna terhadap kejadian keputihan. Hasil. Angka kejadian keputihan pada 103 responden didapatkan keputihan normal berjumlah 62 responden (60,2%) dan keputihan tidak normal berjumlah 41 responden (38,9%). Kejadian keputihan terbanyak terdapat di rentang usia remaja pertengahan. Ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan menjaga kebersihan genitalia eksterna dengan kejadian keputihan (p = 0,001). Ada hubungan yang bermakna antara sikap menjaga kebersihan genitalia eksterna dengan kejadian keputihan (p = 0,018). Ada hubungan yang bermakna antara perilaku menjaga kebersihan genitalia dengan kejadian keputihan (p = 0,002). Kesimpulan. Terdapat hubungan antara pengetahuan, sikap, dan perilaku menjaga kebersihan genitalia eksterna terhadap kejadian keputihan pada siswi Pondok Pesantren Darul Hikmah.
Kata Kunci: Keputihan, Pengetahuan, Sikap, Perilaku, Pondok Pesantren
ABSTRACT
Introduction. Reproduction organ is one of the sensitive organ in the body and need special care.
Thirty three percent of the total disease that infect women all over the world is poor reproduction health. Girl teenagers often complain about vaginal discharge as one of a reproduction problem.
Personal hygiene habit is one of the important factor to avoid infection. It is because infection can cause vaginal discharge and cervical carcinoma. Every year, 1 out of 1.000 people estimated to have cervical cervix and could be deadly. In Asia, about 76% of reproduction health problem is leucorrhoea. Tropical climate in Indonesia lead about 90% of girl teenagers potentially have vaginal discharge causing bacteria, fungi, and virus easily grow so the number of teenagers with leucorrhoea increased. Objectives. To identify the relationship between knowledge, attitude, and behaviour of taking care of external genitalia with vaginal discharge on students at Pondok Pesantren Modern Darul Hikmah. Methods. This is an analytical study with cross sectional design. The data was taken with primary data using questionnaire about knowledge, attitude, and behaviour of taking care of external genitalia. Results. Leucorrhoea incidence rate at 103 respondents are 62 respondents (60,2%) of normal vaginal discharge and 41 respodents (38,9%) of abnormal vaginal discharge. Leucorrhoea incidence rate is mostly happen to middle teenagers.
There is correlation between knowledge of taking care of external genitalia with vaginal discharge (p=0,001). There is correlation between attitude of taking care of external genitalia with vaginal discharge (p=0,018). There is correlation between behaviour of taking care of external genitalia with vaginal discharge (p=0,002). Conclusion. There is correlation between knowledge, attitude, and behaviour of taking care of external genitalia with vaginal discharge on students at Pondok Pesantren Modern Darul Hikmah.
Keywords: Vaginal discharge, Knowledge, Attitude, Behaviour, Boarding school
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG
Organ reproduksi adalah suatu organ tubuh yang sensitif dan membutuhkan perawatan yang khusus. Pengetahuan dan perawatan yang baik menjadi faktor penentu dalam memelihara kesehatan reproduksi (Ratna dalam Ayuningtyas, 2011). Menurut RISKESDAS (2010) kesehatan reproduksi adalah keadaan sejahtera fisik, mental, dan sosial secara utuh yang tidak semata-mata terbebas dari penyakit atau kecacatan dalam hal yang berkaitan dengan sistem reproduksi, fungsinya, dan prosesnya.
Tiga puluh tiga persen dari jumlah total beban penyakit yang menyerang wanita di seluruh dunia adalah masalah kesehatan reproduksi wanita yang buruk.
Prevalensi tahun 2006 menyatakan bahwa 25%-50% disebabkan oleh kandidiasis, 20%-40% bakterial vaginosis, dan 5%-15% trikomoniasis (WHO, 2009).
Keputihan sering dikeluhkan oleh remaja wanita sebagai salah satu masalah kesehatan reproduksi. Keputihan pada remaja perlu mendapatkan perhatian khusus dan jika diabaikan akan menimbulkan penyakit yang serius. Keputihan adalah suatu hal yang wajar dan terjadi menjelang menstruasi. Keputihan yang berwarna bening atau jernih, tidak berbau, tidak terasa gatal, dan dalam jumlah yang tidak berlebihan disebut dengan keputihan yang masih dalam batas normal.
Bila cairan berubah menjadi warna kekuningan, berbau, dan disertai gatal maka telah terjadi keputihan yang tidak normal (Herdalena dalam Ilmiawati dan Kuntoro, 2016).
Kebiasaan menjaga kebersihan diri adalah salah satu faktor yang penting untuk menghindari infeksi. Hal ini dikarenakan infeksi dapat menyebabkan keputihan dan kanker leher rahim. Setiap tahun, 1 dari 1.000 penduduk diperkirakan mengalami insiden kanker leher rahim. Hal ini bisa berujung pada kematian (Nduru, 2015). Menurut Octaviyanti (2006) sekitar 75% wanita di dunia pernah mengalami keputihan. Sedangkan wanita di Eropa yang mengalami
keputihan sebesar 25%. Berdasarkan data dari Badan Kependudukan dan
Keluarga Berencana (BKKBN)
wanita Indonesia yang mengalami keputihan sekitar 75%. Angka ini berbeda tajam dengan Eropa karena cuaca di Indonesia yang lembab.
Di Asia, sebanyak 76% dari masalah kesehatan reproduksi adalah keputihan (Setiani, Prabowo dan Paramita, 2015). Indonesia yang beriklim tropis menyebabkan sekitar 90% remaja putri di Indonesia berpotensi mengalami keputihan yang mengakibatkan bakteri, jamur, dan virus mudah tumbuh dan berkembang sehingga kasus keputihan pada remaja putri di Indonesia bertambah banyak. Hal ini menunjukkan remaja putri memiliki risiko lebih tinggi terhadap infeksi atau keputihan patologis (Sunarti, 2015). Persentase wanita Indonesia yang pernah mengalami keputihan cukup besar. Sekitar 75% dari 118 juta wanita di Indonesia pernah mengalami kejadian keputihan, paling tidak satu kali dalam hidupnya (Hurlock, 2007).
Pada penelitian yang dilaksanakan di Pekanbaru, prevalensi keputihan pada remaja SMK Kansai Pekanbaru didapatkan 46 orang (61,3%) berpengetahuan cukup tentang higiene vulva, sebanyak 40 orang (53,3%) bersikap negatif dan sebanyak 43 orang (57,3%) mempunyai tindakan pencegahan keputihan yang buruk (Zalni, 2018). Penelitian lainnya yang dilakukan di Medan juga menunjukkan angka kejadian keputihan di SMA Swasta Santo Thomas 2 Medan sangat tinggi, 96% responden pernah mengalami keputihan dan 89,5% di antaranya mengalami keputihan patologis (Tambak, 2014). Penelitian lain yang dilaksanakan di Pesantren AL-Munawwir Yogyakarta menunjukkan bahwa 52%
santri memiliki kebiasaan menjaga kebersihan diri yang buruk dan sebanyak 75,5% santri mengalami fluor albus patologis (Nikmah and Widyasih, 2016).
Menurut Akmal, Semiarty dan Gayatri (2013) remaja di pesantren memiliki perilaku yang buruk terhadap personal hygiene yakni mencapai 68%. Remaja tersebut sering menggunakan peralatan teman kamarnya saling bergantian, di antaranya handuk, baju, celana dan alat mandi. Berdasarkan penelitian-penelitian di atas didapatkan bahwa pengetahuan, sikap, dan perilaku siswa dalam menjaga kebersihan genitalia eksterna masih buruk dan kejadian keputihan masih banyak dialami. Adapun alasan peneliti melakukan penelitian di Pondok Pesantren Modern Darul Hikmah karena siswa yang tinggal di asrama cenderung kurang
mendapatkan bimbingan langsung mengenai cara menjaga kebersihan genitalia dari orang tuanya sehingga siswa mendapatkan pengetahuan mengenai kebersihan genitalia dari teman-temannya dan berdasarkan pengalamannya saja.
1.2 RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, dapat dirumuskan pertanyaan penelitian yakni; bagaimanakah hubungan pengetahuan, sikap, dan perilaku menjaga kebersihan genitalia eksterna terhadap kejadian keputihan pada siswi Pondok Pesantren Modern Darul Hikmah?
1.3 TUJUAN PENELITIAN 1.3.1 Tujuan Umum
Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pengetahuan, sikap, dan perilaku menjaga kebersihan genitalia eksterna terhadap kejadian keputihan pada siswi Pondok Pesantren Modern Darul Hikmah.
1.3.2 Tujuan Khusus
Tujuan khusus dari penelitian ini adalah:
1. Mengetahui frekuensi keputihan di Pondok Pesantren Modern Darul Hikmah.
2. Mengetahui tingkat pengetahuan siswi menjaga kebersihan genitalia eksterna terhadap kejadian keputihan di Pondok Pesantren Modern Darul Hikmah.
3. Mengetahui tingkat sikap siswi menjaga kebersihan genitalia eksterna terhadap kejadian keputihan di Pondok Pesantren Modern Darul Hikmah.
4. Mengetahui tingkat perilaku siswi menjaga kebersihan genitalia eksterna terhadap kejadian keputihan di Pondok Pesantren Modern Darul Hikmah.
1.4 MANFAAT PENELITIAN 1. Bagi peneliti
Melalui penelitian ini penulis memperoleh pengalaman dalam melakukan penelitian ilmiah serta mengaplikasikan pengetahuan peneliti mengenai keputihan dalam penelitian.
2. Bagi pihak pesantren
Memberikan informasi bagi pihak pesantren mengenai pencegahan keputihan dan dapat dilaksanakan melalui penyuluhan kepada siswi akan pentingnya menjaga kebersihan genitalia eksterna.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 SISTEM REPRODUKSI WANITA
2.1.1 Anatomi Sistem Reproduksi Wanita
Organ reproduksi wanita terbagi atas organ genitalia eksterna dan organ genitalia interna. Organ genitalia eksterna berfungsi untuk bersenggama. Organ genitalia interna berfungsi pada saat ovulasi, tempat pembuahan sel telur, tumbuh kembang janin, dan lain-lain.
1. Organ genitalia eksterna a. Vulva
Vulva meliputi seluruh struktur eksternal yang dapat dilihat mulai dari pubis sampai perineum, yaitu mons veneris, labia mayora dan labia minora, klitoris, selaput darah (himen), vestibulum, muara uretra, berbagai kelenjar dan struktur vaskular.
b. Mons veneris (mons pubis)
Bagian yang menonjol di bagian depan simfisis. Terdiri dari jaringan lemak dan sedikit jaringan ikat. Setelah pubertas bagian ini akan ditutupi oleh rambut.
c. Labia mayora
Merupakan kelanjutan dari mons veneris yang terdiri atas bagian kanan dan kiri, lonjong mengecil ke bawah. Berisi jaringan lemak seperti mons veneris. Di bagian bawah bibir kiri dan kanan bertemu dan membentuk perineum.
d. Labia minora
Lipatan kulit yang kecil, terletak di bagian dalam labia mayora tanpa rambut.
Permukaan labia minora sama dengan mukosa vagina yaitu merah muda dan basah.
e. Klitoris
Ukurannya kira-kira sebesar biji kacang hijau. Klitoris memiliki jaringan yang penuh dengan ujung saraf sehingga sangat sensitif.
f. Himen
Jaringan yang menutupi lubang vagina.
Gambar 2.1 Anatomi genitalia eksterna wanita.
Sumber: Netter, 2010.
2. Organ genitalia interna a. Vagina
Vagina merupakan penghubung antara introitus vagina dan uterus. Ukuran panjang bagian depan 6,5 cm dan dinding belakang 9 cm. Bagian dalam vagina terdapat lipatan-lipatan yang disebut rugae.
b. Serviks
Dikenal juga sebagai mulut rahim. Serviks merupakan bagian yang menonjol dan letaknya terdepan dari rahim sehingga berhubungan dengan vagina.
c. Rahim (uterus)
Berbentuk seperti buah pir yang terletak di antara kandung kemih dan anus dengan ukuran sebesar telur ayam dan memiliki rongga. Dindingnya terdiri atas otot polos. Uterus memiliki 3 lapisan yaitu endometrium, miometrium, dan perimetrium. Pada saat menstruasi terjadi peluruhan bagian endometrium.
d. Saluran telur (tuba falopii)
Tuba falopii merupakan saluran jalan ovum dari ovarium menuju rongga uterus dengan panjang 12 cm.
e. Indung telur (ovarium)
Perempuan pada umumnya memiliki 2 indung telur yaitu kanan dan kiri.
Mesovarium menggantung ovarium di bagian belakang ligamentum latum kiri dan kanan. Ovarium berukuran kurang lebih sebesar ibu jari tangan. Sejak pubertas, ovarium secara bergantian melepas satu ovum melalui tuba falopii ke uterus (Prawirohardjo, 2010).
Gambar 2.2 Anatomi genitalia interna wanita.
Sumber: Netter, 2010.
2.2 KEPUTIHAN 2.2.1 Definisi
Keputihan adalah cairan selain darah yang keluar dari liang vagina yang tidak biasa, baik berbau atau tidak dan disertai gatal setempat (Kusmiran, 2014).
Keputihan merupakan gejala yang sangat sering dialami oleh sebagian besar wanita. Gangguan ini merupakan masalah kedua sesudah gangguan haid.
Keputihan seringkali tidak ditangani dengan serius oleh remaja. Keputihan bisa menjadi indikasi adanya penyakit. Hampir semua perempuan mengalami keputihan, akan tetapi pendapat ini tidak sepenuhnya benar, karena ada berbagai sebab yang dapat mengakibatkan keputihan. Keputihan yang normal memang merupakan hal yang wajar. Namun, keputihan yang tidak normal dapat menjadi petunjuk adanya penyakit yang harus diobati (Joseph dan Nugroho, 2010).
Faktor pendorong terjadinya keputihan ada dua, yaitu faktor endogen yang berasal dari dalam tubuh dan faktor eksogen yang berasal dari luar tubuh. Kedua faktor ini saling memengaruhi. Kelainan pada lubang kemaluan dapat dikategorikan sebagai faktor endogen, sementara faktor eksogen dibedakan menjadi infeksi dan non infeksi. Faktor infeksi yaitu bakteri, jamur, parasit, dan virus. Sedangkan faktor non infeksi adalah masuknya benda asing ke dalam vagina baik disengaja maupun tidak, membasuh kemaluan tidak bersih, lembap di sekitar kemaluan, kondisi tubuh, kelainan endokrin atau hormon, dan menopause (Indriyani, Indriyawati dan Pratiwi, 2012).
2.2.2 Epidemiologi
Penelitian yang dilakukan secara epidemiologi mendapatkan bahwa fluor albus patologis dapat mengenai wanita mulai dari usia muda hingga usia tua dan tidak mengenal tingkat pendidikan, ekonomi, dan sosial budaya, walaupun kasus ini lebih banyak dijumpai pada wanita dengan tingkat pendidikan dan sosial ekonomi yang rendah. Infeksi sering menjadi penyebab terjadinya fluor albus patologis, beberapa diantaranya adalah vaginosis bakterial (VB) pada 40-50%
kasus, vulvovaginal kandidiasis (VC) 80-90% kasus yang disebabkan oleh
Candida albicans, dan trikomoniasis yang disebabkan oleh Trichomonas vaginalis dengan angka kejadian 5-20% dari kasus infeksi vagina (Nduru, 2015).
2.2.3 Etiologi dan Klasifikasi
Keputihan terbagi dua macam, yaitu keputihan fisiologis dan keputihan patologis. Menurut Tambak (2014) dan Marpaung (2015) keputihan fisiologis dapat ditemukan pada bayi baru lahir sampai umur kira-kira 10 hari, saat menarke, menjelang menstruasi, ovulasi, sesudah menstruasi, pada sekitar fase sekresi antara hari ke 10-16 menstruasi, melalui rangsangan seksual, pada saat hamil, dan saat penggunaan kontrasepsi hormonal. Keputihan fisiologis memiliki gejala klinis berupa berwarna bening sampai putih, tidak berbau, tidak disertai nyeri dan gatal.
Keputihan patologis dapat disebabkan oleh beberapa hal berikut ini, yaitu:
1. Infeksi a. Jamur
Infeksi jamur terjadi jika ada kelainan pada flora vagina. 80-95% disebabkan oleh Candida albicans. C. albicans juga ditemukan dalam flora vagina kira-kira 25% wanita tanpa gejala. Kontaminasi vagina dari sumber-sumber ini umum terjadi. Biasanya vulva dirasakan lebih gatal dibandingkan dengan infeksi trikomonas, tetapi lebih sedikit rasa terbakar yang dirasakan. Discharge vagina biasanya mempunyai penampakan seperti keju lembut dan tidak berbau disertai rasa gatal pada vulva, rasa terbakar, dan dispareunia (Benson dan Pernoll, 2009).
b. Bakteri
Gonokokus
Penyakit ini disebut dengan Gonorrhea, disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae. Penyakit ini sering ditularkan melalui aktivitas seksual. N.
gonorrhoeae berbentuk diplokokus dan memiliki silia. Gejala yang ditimbulkan adalah keputihan berwarna kekuningan atau nanah, nyeri saat berkemih dan nyeri saat bersenggama. Terapi: seftriakson 125 mg intramuskular dosis tunggal (Sibagariang, 2016).
Chlamydia trachomatis
Chlamydia trachomatis dapat menyebabkan infeksi menular seksual dan infeksi mata. Bakteri ini merupakan bakteri intraselular obligat. Pada laki-laki, C.
trachomatis sering menjadi penyebab uretritis. Sedangkan pada perempuan dapat menyebabkan terjadinya uretritis, servisitis, dan penyakit radang panggul yang dapat meningkatkan risiko kehamilan ektopik. Gejala yang ditimbulkan berupa disuria, sekret nonpurulen, dan bertambahnya frekuensi berkemih. Terapi:
Tetrasiklin (Jawetz, Melnick dan Adelberg, 2012).
Gardnerella vaginalis
Gardnerella vaginalis adalah penyebab terjadinya vaginosis bakterial. Ciri yang ditemukan adalah clue cells (sel epitel vagina yang tertutupi oleh banyak basil dengan gram yang dapat berubah-ubah), sekret vagina yang dihasilkan memiliki karakteristik bau amis dan mengandung banyak bakteri anaerob tambahan selain G. vaginalis. Terapi: Metronidazol oral (Jawetz, Melnick dan Adelberg, 2012).
c. Parasit
Parasit yang sering menyebabkan keputihan adalah Trichomonas vaginalis.
Trikomonas memiliki ciri berbentuk seperti buah pir, terdapat flagela uniseluler, dan dapat diamati bergerak di sekitar daerah yang mempunyai banyak leukosit pada sediaan basah. T. vaginalis dapat ditularkan secara seksual. Sumber kuman seringkali berasal dari pria. Namun trikomonas juga dapat ditularkan melalui pakaian, handuk, atau karena berenang (Tambak, 2014). Diagnosis berdasarkan keluhan keputihan dengan ciri sekret cair, berbusa, berbau tidak sedap, dan berwarna kuning kehijauan disertai rasa panas, gatal, dan hiperemia pada vagina (Susanto et al., 2015).
d. Virus
Menurut Benson dan Pernoll (2009) gejala keputihan yang disebabkan oleh virus, yaitu:
Virus Herpes Simpleks (HSV)
Infeksi HSV pada traktus genitalia biasanya tipe 2 bertanggung jawab kira- kira 90% infeksi dan 10%-nya HSV tipe 1. Lesi genital yang khas berupa vesikel
multipel yang berkembang menjadi ulserasi dangkal yang seringkali dikelilingi bercak kemerahan atau eritematosa. Gejala yang ditimbulkan berupa vesikel- vesikel, demam, nyeri kepala, malaise, myalgia, disuria, dan keputihan.
Human Papilloma Virus (HPV)
HPV menyebabkan kondiloma akuminata. Virus ini ditularkan secara seksual.
Keluhan yang paling umum adalah adanya lesi tetapi memungkinkan ditemukan adanya discharge vagina berbau tanpa rasa gatal.
2. Kelainan alat kelamin didapat atau bawaan
Kelainan bawaan seperti fistel vesikovaginalis atau rektovaginalis, cedera persalinan, atau kanker.
3. Benda asing
Benda asing seperti kondom yang tertinggal, pesarium pada pasien hernia, atau prolaps uteri dapat merangsang sekret vagina berlebihan.
4. Neoplasma jinak
Tumor yang sebagian atau seluruh bagiannya memasuki lumen saluran genital dapat menyebabkan keputihan dengan gejala cairan yang banyak disertai darah tak segar, dan berbau busuk (Sibagariang, 2016).
5. Menopause
Penurunan kadar estrogen saat memasuki masa menopause menyebabkan penurunan lubrikasi vagina sehingga dapat terjadi penipisan mukosa dan inflamasi pada uretra dan kandung kemih (Oentari, Liwang dan Hestiantoro, 2014).
6. Fisik
Trauma pada genitalia, pemakaian alat kontrasepsi IUD, dan penggunaan tampon.
7. Iritasi
Iritasi dapat disebabkan oleh celana yang ketat dan tidak menyerap keringat, pembersih vagina, cairan antiseptik untuk mandi, sabun cuci dan pelembut pakaian (Tambak, 2014).
2.2.4 Patogenesis
Keputihan adalah keadaan yang terjadi secara fisiologis dan dapat menjadi keputihan patologis akibat infeksi kuman penyakit. Keputihan patologis
disebabkan oleh perubahan pH pada sekitar alat genital yang awalnya bersifat asam dengan pH 4,5 menjadi lebih basa. PH asam pada genital wanita berfungsi sebagai mekanisme pertahanan alat genital terhadap patogen-patogen di daerah tersebut. Perubahan pH asam menjadi basa menyebabkan flora normal-flora normal pada genital menjadi patogen dan patogen-patogen lain dapat menginvasi daerah genital. Keadaan ini mengakibatkan vagina mengeluarkan sekret yang tergantung kepada penyebab ataupun mikroorganisme yang menyebabkan keputihan (Sibagariang, 2016).
2.2.5 Manifestasi Klinis
Gejala klinis keputihan dapat ditentukan berdasarkan karakteristik keputihan yaitu jumlah cairan, warna, bau, dan konsistensi (Setyana, 2013). Pada penderita keputihan patologis didapatkan rasa gatal, nyeri vagina, rasa terbakar di bagian luar vagina, serta nyeri saat senggama dan berkemih (Triyani dan Ardiyani, 2013).
2.2.6 Pemeriksaan Penunjang
Menurut Sibagariang dalam Tambak (2014) keputihan merupakan gejala suatu penyakit, maka diagnosis pasti perlu ditetapkan. Oleh karena itu, dilakukan berbagai pemeriksaan penunjang untuk meyakinkan pasien adanya keputihan normal yang tidak memerlukan terapi. Pemeriksaan yang dapat dilakukan yaitu pemeriksaan preparat basah dengan NaCl 0,9% atau KOH 10%, pewarnaan gram, kultur sekret vagina, pap smear, penilaian pH cairan vagina, kultur urin, atau pemeriksaan sampel urin.
2.2.7 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan keputihan sebaiknya dilakukan sedini mungkin untuk menghindari komplikasi dan untuk menyingkirkan penyebab lain dengan gejala keputihan. Cairan yang keluar dari vagina yang normal kadang bisa dikurangi jumlahnya dengan bantuan pembilasan air. Namun cairan vagina berlebihan yang disebabkan oleh infeksi perlu diobati secara khusus sesuai dengan penyebabnya.
Infeksi dapat diobati dengan antibiotik, anti-jamur, atau anti-virus, tergantung kepada organisme penyebabnya. Golongan flukonazol dapat diberikan pada infeksi jamur. Metronidazol, ceftriaxon, atau azithromycin untuk mengatasi
infeksi bakteri dan parasit. Infeksi virus dapat diberikan acyclovir. Sediaan obat yang diberikan dapat berupa sediaan tablet oral, injeksi, dan sediaan topikal untuk dioleskan. Pada infeksi menular seksual, kedua pasangan harus diobati pada saat yang sama untuk menghindari infeksi berulang (Nugroho dan Utama, 2014).
2.2.8 Pencegahan
Menurut Marhaeni (2016) dan Kusmiran (2014) selain pengobatan farmakologi, penderita keputihan dianjurkan untuk selalu menjaga kebersihan genital sebagai pencegahan berulangnya keputihan dengan:
1. Menjaga kebersihan alat genital
Vagina secara anatomis berada di antara uretra dan anus. Cara membasuh alat genital yang benar yaitu dari depan ke belakang dapat mengurangi risiko infeksi dan menghindari terjadinya keputihan. Membasuh alat genital dari belakang ke depan dapat meningkatkan risiko masuknya kuman dari anus ke dalam vagina.
2. Menjaga kebersihan pakaian dalam
Dianjurkan untuk mengganti celana dalam minimal dua kali sehari. Pakaian dalam yang tidak bersih dapat menjadi alat perpindahan kuman dari udara ke dalam alat genital. Bakteri, jamur, dan parasit tidak dapat bertahan hidup pada suhu tinggi sehingga menyetrika pakaian dalam dapat menghindarkan infeksi kuman melalui pakaian dalam.
3. Tidak bertukar handuk
Hindari penggunaan handuk yang sama dengan orang lain. Handuk yang telah terkontaminasi bakteri, jamur, dan parasit apabila digunakan dapat menularkan infeksi.
4. Menghindari celana ketat
Alat genital yang hangat dan lembab dapat meningkatkan kolonisasi bakteri, jamur, dan parasit. Peningkatan kolonisasi tersebut dapat meningkatkan risiko infeksi yang memicu keputihan. Maka hindari pemakaian celana ketat yang terlalu lama karena dapat menyebabkan alat genital menjadi hangat dan lembab.
Gunakan celana dalam yang bersih, kering, dan terbuat dari bahan katun.
5. Menghindari pembersih vagina
Penggunaan produk pembersih vagina dapat mengurangi jumlah flora normal dalam vagina karena bersifat basa. Ekosistem dalam vagina yang bersifat asam terganggu sehingga kuman dapat berkembang dengan baik. Produk pembersih vagina yang digunakan harus sesuai dengan petunjuk dokter.
6. Mencuci tangan sebelum menyentuh alat genital
Tangan dapat menjadi perantara kuman penyebab infeksi. Mencuci tangan sebelum menyentuh alat genital dapat menghindarkan perpindahan kuman yang menyebabkan infeksi.
7. Sering mengganti pembalut
Mengganti pembalut minimal 3-4 kali sehari dapat menghindari kelembapan.
Gunakan pembalut dengan bahan yang lembut, menyerap dengan baik, tidak mengandung bahan yang membuat alergi seperti parfum atau gel, dan merekat dengan baik pada celana dalam (Amelia dalam Nurhayati, 2013).
8. Hindari penggunaan panty liner
Menurut Farage dkk. (2007) penggunaan panty liner pada saat keputihan akan meningkatkan tumbuhnya bakteri jahat dalam vagina. Penggunaan panty liner dalam waktu 6 bulan dan frekuensi mengganti panty liner 5 jam sekali tidak membuat cairan yang keluar dari vagina berkurang, justru cairan akan bertambah banyak.
9. Mencukur atau merapikan rambut kemaluan
Mencukur atau merapikan rambut kemaluan dianjurkan karena rambut kemaluan dapat ditumbuhi jamur atau kutu yang dapat menimbulkan rasa tidak nyaman dan gatal.
10. Mengelola stres
Stres dapat meningkatkan hormon adrenalin yang menyebabkan penyempitan pembuluh darah. Pembuluh darah yang sempit menyebabkan aliran estrogen ke vagina terhambat sehingga dengan menghindari stres dapat mengurangi keputihan.
2.3 PENGETAHUAN
Pengetahuan adalah hasil pengindraan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap suatu objek dari indra yang dimilikinya (Notoatmodjo, 2012).
Menurut Kholid dan Notoatmodjo (2012) tedapat 6 tingkat pengetahuan, yaitu tahu, memahami, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi. Tahu adalah mengingat kembali memori yang telah ada sebelumnya setelah mengamati sesuatu.
Memahami adalah suatu kemampuan untuk menjelaskan tentang suatu objek yang diketahui dan diinterpretasikan secara benar. Aplikasi adalah suatu kemampuan untuk mempraktekkan materi yang sudah dipelajari pada kondisi sebenarnya.
Analisis adalah kemampuan menjelaskan suatu objek atau materi tetapi masih di dalam struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu dengan yang lainnya. Sintesis adalah suatu kemampuan menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Evaluasi adalah pengetahuan untuk melakukan penilaian terhadap suatu materi atau objek.
Indikator-indikator lainnya yang dapat digunakan untuk menilai tingkat pengetahuan terhadap kesehatan, dapat dikelompokkan menjadi:
1. Pengetahuan tentang sakit dan penyakit, meliputi penyebab penyakit, gejala penyakit, bagaimana cara mengobati penyakit, bagaimana penyakit tersebut dapat menular, dan bagaimana cara mencegah penyakit tersebut.
2. Pengetahuan tentang cara pemeliharaan kesehatan dan cara hidup sehat, meliputi jenis dan contoh makanan bergizi, manfaat makanan yang bergizi bagi kesehatan, fungsi olahraga bagi kesehatan, bahaya merokok, minum-minuman keras, dan pentingnya istrirahat yang cukup bagi kesehatan.
3. Pengetahuan tentang kesehatan lingkungan, meliputi guna dan manfaat air bersih, cara membuang limbah yang benar, manfaat pencahayaan dan penerangan rumah yang benar, dan dampak dari polusi bagi kesehatan.
Pengukuran tingkat pengetahuan dapat dinilai dengan menggunakan angket atau wawancara mengenai isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden (Notoatmodjo, 2012).
Menurut Nursalam (2008) tingkat pengetahuan dibagi menjadi 3 kategori:
1. Baik apabila responden dapat menjawab dengan benar 76%-100% dari keseluruhan pertanyaan yang diberikan.
2. Cukup apabila responden dapat menjawab pertanyaan dengan benar 56%- 75% dari keseluruhan pertanyaan yang diberikan.
3. Tingkat pengetahuan kurang baik apabila responden dapat menjawab dengan benar, kurang dari 56% dari keseluruhan pertanyaan tersebut.
2.4 SIKAP
Menurut Notoatmodjo (2012) sikap adalah respons atau reaksi tertutup dari individu terhadap suatu objek atau stimulus. Manifestasi sikap tidak dapat langsung terlihat, namun hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu melalui perilaku yang tertutup. Seorang ahli psikologi sosial bernama Newcomb menyatakan bahwa sikap adalah kesiapan untuk bertindak, dan bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu. Sikap belum menentukan suatu tindakan, namun berupa predisposisi tindakan suatu perilaku.
Sikap terdiri dari empat tingkatan, yaitu menerima, merespons, menghargai, dan bertanggung jawab. Menerima diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memberi perhatian kepada stimulus yang diberi (objek). Merespons artinya bahwa seseorang memberikan tanggapan terhadap stimulus yang diterima. Misalnya, memberi jawaban apabila ditanya, menyelesaikan tugas yang diberikan, dan lain- lain. Ketika seseorang ada dalam tingkat menghargai, maka orang tersebut dapat mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah.
Mampu menerima semua resiko dari tindakan-tindakan yang telah dipilihnya merupakan indikator bahwa seseorang bertanggung jawab.
Sama seperti pengetahuan, sikap juga memiliki indikator-indikator sikap yang memiliki hubungan terhadap kesehatan. Indikator-indikator tersebut antara lain:
1. Sikap terhadap sakit dan penyakit
Adalah penilaian atau tanggapan seseorang terhadap gejala dan tanda penyakit, penyebab atau etiologi penyakit, bagaimana cara penyakit tersebut dapat menular, cara mencegah penyakit, dan lain-lain.
2. Sikap cara pemeliharaan dan cara hidup sehat
Adalah penilaian individu terhadap pemeliharaan hidup sehat. Misalnya, penilaian terhadap makanan, minuman, olahraga, istirahat, dan lain-lain.
3. Sikap terhadap kesehatan lingkungan
Adalah penilaian atau tanggapan terhadap lingkungan dan hubungan serta pengaruh terhadap kesehatan. Misalnya, penilaian terhadap pembuangan limbah, air bersih, dan lain-lain.
Pengukuran sikap dapat dilakukan baik secara langsung maupun tak langsung. Secara langsung dapat berupa wawancara mengenai pendapat atau pernyataan responden perihal sebuah objek. Secara tidak langsung dapat diukur dengan menggunakan pernyataan-pernyataan hipotesis, kemudian ditanyakan pendapat responden. Misalnya, saya akan menikah apabila saya berusia 25 tahun (sangat setuju, tidak setuju, sangat tidak setuju).
2.5 PERILAKU
Perilaku merupakan totalitas penghayatan dan aktivitas individu, yang merupakan hasil dari berbagai faktor, baik faktor internal maupun faktor eksternal. Faktor internal adalah karakteristik individu yang bersangkutan, misalnya tingkat pengetahuan, jenis kelamin, dan lain-lain. Faktor eksternal meliputi lingkungan, baik lingkungan fisik, sosial, budaya, politik, dan lain-lain.
Faktor ini adalah faktor yang cenderung mewarnai perilaku individu (Notoatmodjo, 2012).
Menurut Setyaningrum (2015) indikator PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) tatanan institusi pendidikan (pesantren) meliputi tersedianya kamar mandi yang bersih, tersedia air keran dan bersih yang mengalir, tidak ada sampah yang berserakan, ketersediaan UKS yang berfungsi dengan baik, siswa berpenampilan bersih dan baik, dan beberapa siswa ada yang menjadi dokter remaja atau promosi kesehatan.
2.6 REMAJA
Masa remaja adalah salah satu periode perkembangan manusia di mana terjadi perubahan atau peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa yang diikuti perubahan biologis, psikologis, dan sosial. Berdasarkan usia, remaja dapat dibagi menjadi remaja awal (early adolescent) yaitu 10-13 tahun, remaja menengah (middle adolescent) yaitu 14-16 tahun, dan remaja akhir (late adolescent) yaitu 17-20 tahun (Notoatmodjo, 2010).
Perkembangan remaja terbagi atas 3 tahap, yaitu:
a. Remaja awal (early adolescent)
Pada tahap ini seorang remaja masih terheran akan perubahan yang terjadi pada tubuhnya sendiri dan dorongan-dorongan yang menyertai perubahan- perubahan itu. Mulai mengembangkan pikiran-pikiran baru, cepat tertarik pada lawan jenis, dan mudah terangsang secara erotis. Tampak merasa lebih dekat dengan teman sebayanya dan merasa ingin bebas.
b. Remaja menengah (middle adolescent)
Pada tahap ini remaja sangat membutuhkan teman. Ia senang kalau banyak teman yang mengakuinya. Terdapat kecenderungan bersifat narsistik yaitu mencintai diri sendiri, menyukai teman-teman yang sama dengan dirinya.
Tampak ingin mencari identitas diri, keinginan, atau ketertarikan terhadap lawan jenis.
c. Remaja akhir (late adolescent)
Tahap ini adalah masa konsolidasi menuju periode dewasa dan ditandai dengan pencapaian minat yang semakin mantap terhadap fungsi kognitif, terbentuk identitas seksual yang tidak akan berubah lagi, tumbuh batasan yang memisahkan kepribadian dirinya dengan masyarakat umum, ego untuk mencari kesempatan untuk bersatu dengan orang lain dan dalam pengalaman-pengalaman baru, serta mulai adanya keseimbangan antara kepentingan diri sendiri dengan orang lain.
2.7 HUBUNGAN PENGETAHUAN MENJAGA KEBERSIHAN GENITALIA EKSTERNA DENGAN KEJADIAN KEPUTIHAN
Pengetahuan adalah hasil pengindraan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap suatu objek dari indra yang dimilikinya (Notoatmodjo, 2012). Menurut hasil penelitian yang dilakukan Sondakh dkk. (2014) di SMA Negeri 1 Pineleng juga didapatkan bahwa responden yang memiliki pengetahuan baik dan mengalami keputihan ada 43 orang (72,9%) dan yang memiliki pengetahuan baik namun tidak mengalami keputihan ada 1 orang (1,7%), sedangkan responden yang memiliki pengetahuan kurang baik dan mengalami keputihan ada 12 orang (20,3%) dan yang memiliki pengetahuan kurang baik namun tidak mengalami keputihan ada 3 orang (5,1%). Hasil penelitian lainya yang dilakukan oleh
Ilmiawati dan Kuntoro (2016) di SMP Plus Fityani Malang diketahui bahwa sebagian besar responden memiliki pengetahuan yang tidak baik sebesar 23 responden (46%) tentang personal hygiene. Tidak ada responden yang memiliki pengetahuan baik tentang personal hygiene. Sedangkan untuk yang memiliki pengetahuan cukup sebanyak 14 responden (28%) dan kurang baik 13 responden (26%). Berdasarkan hasil penelitian-penelitian di atas didapatkan bahwa terdapat hubungan pengetahuan menjaga kebersihan genitalia eksterna dengan kejadian keputihan.
2.8 HUBUNGAN SIKAP MENJAGA KEBERSIHAN GENITALIA EKSTERNA DENGAN KEJADIAN KEPUTIHAN
Seorang ahli psikologi sosial bernama Newcomb menyatakan bahwa sikap adalah kesiapan untuk bertindak, dan bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu. Sikap belum menentukan suatu tindakan, namun berupa predisposisi tindakan suatu perilaku (Notoatmodjo, 2012). Hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan di SMA Negeri 1 Wonosari Kabupaten Klaten juga didapatkan proporsi responden dengan sikap baik dan mengalami keputihan terdapat 6 orang (10,3%) sedangkan responden dengan sikap baik dan tidak mengalami keputihan terdapat 52 orang (89,7%). Proporsi responden dengan sikap tidak baik tentang pemeliharaan organ reproduksi yang mengalami keputihan juga cenderung lebih tinggi yaitu sebesar 50,8% dari pada proporsi responden dengan sikap tidak baik tentang pemeliharaan organ reproduksi yang tidak mengalami keputihan (Fitrianingsih, 2012). Penelitian lainnya yang dilakukan oleh Zalni (2018) didapatkan hasil mayoritas sikap remaja putri tentang vulva hygiene adalah bersifat negatif sebanyak 40 orang (53,3%), sedangkan sebanyak 35 orang (46,7%) mempunyai sikap yang positif tentang vulva hygiene. Berdasarkan hasil penelitian-penelitian di atas didapatkan bahwa sikap menjaga kebersihan genitalia eksterna berhubungan dengan kejadian keputihan.
2.9 HUBUNGAN PERILAKU MENJAGA KEBERSIHAN GENITALIA EKSTERNA DENGAN KEJADIAN KEPUTIHAN
Perilaku merupakan totalitas penghayatan dan aktivitas individu, yang merupakan hasil dari berbagai faktor (Notoatmodjo, 2012). Pada penelitian sebelumnya di SMA Negeri 1 Seunuddon Kabupaten Aceh Utara pada tahun 2012 didapatkan hasil 32 responden yang berperilaku positif dengan tidak adanya kejadian keputihan pada remaja putri sebanyak 30 orang (93,8%), sedangkan dari 32 responden yang berperilaku negatif dengan adanya kejadian keputihan pada remaja putri sebanyak 38 orang (95%) (Sari, 2012). Menurut penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Tulus dkk. (2014) menunjukkan responden yang memiliki perilaku yang baik dan mengalami keputihan ada 16 orang (72,7%) dan yang memiliki perilaku baik namun tidak mengalami keputihan ada 6 orang (27,3%), sedangkan responden dengan perilaku sedang dan mengalami keputihan ada 40 orang (95,2%) dan responden dengan perilaku sedang namun tidak mengalami keputihan ada 2 orang (4,8%). Maka, berdasarkan hasil kedua penelitian di atas diketahui bahwa perilaku menjaga kebersihan genitalia eksterna berhubungan dengan kejadian keputihan.
Usia Keputihan
Keterangan:
= Diteliti Pengetahuan
Keputihan
fisiologis Keputihan
patologis 2.10 KERANGKA TEORI
Gambar 2.3 Kerangka teori penelitian.
Sikap Perilaku
2.11 KERANGKA KONSEP
Variabel Independen Variabel Dependen
Gambar 2.4 Kerangka konsep penelitian.
2.12 HIPOTESIS
1. Terdapat hubungan antara pengetahuan menjaga kebersihan genitalia eksterna dengan kejadian keputihan.
2. Terdapat hubungan antara sikap menjaga kebersihan genitalia eksterna dengan kejadian keputihan.
3. Terdapat hubungan antara perilaku menjaga kebersihan genitalia eksterna dengan kejadian keputihan.
Pengetahuan, sikap, dan perilaku menjaga
kebersihan genitalia eksterna
Kejadian keputihan
BAB III
METODE PENELITIAN 3.1 JENIS PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan desain cross sectional.
Penelitian ini bertujuan untuk mencari hubungan pengetahuan, sikap, dan perilaku menjaga kebersihan genitalia eksterna dengan kejadian keputihan pada siswi Pesantren Modern Darul Hikmah Kota Medan.
3.2 LOKASI DAN WAKTU PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan di Pondok Pesantren Modern Darul Hikmah yang terletak di Jln. Pelajar No. 44, Teladan Timur, Kecamatan Medan Kota, Kota Medan, Sumatera Utara. Waktu penelitian dilakukan pada bulan Maret hingga Oktober 2019.
3.3 POPULASI DAN SAMPEL PENELITIAN 3.3.1 Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah siswi di Pondok Pesantren Modern Darul Hikmah Kota Medan. Populasi penelitian ini meliputi seluruh siswi (kelas 1-3 Tsanawiyah sampai kelas 4-6 Aliyah) di pesantren.
3.3.2 Sampel
Sampel pada penelitian ini diambil dengan menggunakan metode total sampling, dengan metode ini seluruh santri yang berjumlah 103 orang dan memenuhi kriteria inklusi.
a. Kriteria inklusi
Seluruh siswi Pondok Pesantren Modern Darul Hikmah Kota Medan (kelas 1-3 Tsanawiyah dan 4-6 Aliyah).
Menyetujui untuk menjadi subjek penelitian melalui informed consent dengan diketahui orang tua atau wali.
Siswi yang pernah mengalami kejadian keputihan.
a. Kriteria eksklusi
Tidak mengisi seluruh data pada kuesioner dengan lengkap.
Tidak hadir pada saat penelitian berlangsung.
3.4 METODE PENGUMPULAN DATA 3.4.1 Metode
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer, yaitu data yang diperoleh langsung dari subjek penelitian dengan menggunakan suatu alat ukur dan kuesioner penilaian pengetahuan, sikap, dan perilaku menjaga kebersihan genitalia serta kejadian keputihan yang pernah dialami.
Data yang diperoleh berupa data pengetahuan, sikap, perilaku, dan frekuensi keputihan. Data pengetahuan, sikap, perilaku, dan frekuensi keputihan diambil melalui angket dengan media kuesioner yang telah divalidasi. Data yang diperoleh merupakan data yang diambil melalui sampel yang telah mengikuti kriteria inklusi dan kriteria eksklusi yang telah ditetapkan.
3.4.2 Alat
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar kuesioner.
3.4.3 Cara Kerja
a. Siswa menandatangani surat persetujuan.
b. Kuesioner dibagikan kepada seluruh siswa yang dilibatkan dalam penelitian.
3.6 METODE ANALISIS DATA
Dalam penelitian ini, data penelitian yang diperoleh dianalisis secara univariat dan bivariat dengan menggunakan program komputer dengan bantuan aplikasi statistik.
3.6.1 Analisis Univariat
Analisis univariat ini dilakukan untuk menganalisis data yang akan didistribusikan secara deskriptif dengan menggunakan tabel distribusi frekuensi berdasarkan variabel dependen dan independen yang akan diteliti yaitu keputihan.
3.6.2 Analisis Bivariat
Analisis bivariat ini dilakukan untuk menilai hubungan antara variabel dependen dengan variabel independen. Analisis ini dilakukan melalui uji statistik chi square yang akan memperoleh nilai p, di mana dalam penelitian ini digunakan tingkat kemaknaan sebesar 0,05. Penelitian antara dua variabel dikatakan bermakna jika mempunyai nilai p ≤ 0,05 yang berarti H0 ditolak dan Ha diterima dan dikatakan tidak bermakna jika mempunyai nilai p > 0,05 yang berarti H0 diterima dan Ha ditolak.
3.7 DEFINISI OPERASIONAL
Adapun definisi operasional dari variabel yang diteliti meliputi variabel independen dan variabel dependen sebagai berikut:
Tabel 3.1 Definisi operasional.
No Variabel Definisi Alat
Ukur
Cara Ukur
Kategori (Hasil Ukur)
Skala Ukur
1.
Usia Lama waktu
hidup sejak dilahirkan
Kuesioner Angket 1. Remaja Awal 2. Remaja
Pertengahan 3. Remaja Akhir
Ordinal
2.
Pengetahuan menjaga
kebersihan organ genitalia
eksterna terhadap kejadian keputihan
Penilaian pengetahuan anak mengenai keputihan
Kuesioner Angket 1. Buruk <16 2. Baik >17
Ordinal
3.
Sikap menjaga kebersihan organ genitalia
eksterna terhadap kejadian keputihan
Respon anak untuk
menanggapi terjadinya keputihan
Kuesioner Angket 1. Buruk <39 2. Baik >40
Ordinal
4.
Perilaku menjaga kebersihan organ genitalia
eksterna terhadap kejadian keputihan
Hal yang dilakukan anak terhadap terjadinya keputihan
Kuesioner Angket 1. Buruk <10 2. Baik >11
Ordinal
5.
Kejadian keputihan
Cairan selain darah yang keluar dari
Kuesioner Angket 1. Tidak normal 2. Normal
Nominal
kemaluan
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan di Pondok Pesantren Modern Darul Hikmah yang terletak di Jln. Pelajar No. 44, Teladan Timur, Kecamatan Medan Kota, Kota Medan, Sumatera Utara. Pesantren ini berdiri sejak tahun 1986. Jumlah kamar tidur santri laki-laki dan perempuan berjumlah 15 kamar dengan total santri di pesantren berjumlah 231 santri. Kamar mandi santri berjumlah 5 buah dengan sumber air yang berasal dari sumur sehingga tidak setiap saat tersedia air bersih.
Berdasarkan pengamatan peneliti didapatkan kondisi kamar santri yang terlalu padat karena setiap kamar dihuni oleh 10-15 santri dengan luas kamar 4x3 meter, dan didapatkan mayoritas santri tidak menggunakan alas tidur atau seprai.
4.2 DESKRIPSI KARAKTERISTIK SAMPEL
Sampel pada penelitian ini adalah santri kelas 1-3 Tsanawiyah dan 4-6 Aliyah di Pondok Pesantren Modern Darul Hikmah Kota Medan. Jumlah sampel yang dipilih berjumlah 103 responden dengan menggunakan metode total sampling dan telah memenuhi kriteria inklusi. Semua data responden merupakan data primer, yaitu data yang diperoleh langsung menggunakan metode kuesioner. Karakteristik sampel pada penelitian ini dideskripsikan berdasarkan usia, kejadian keputihan, serta pengetahuan, sikap, dan perilaku menjaga kebersihan genitalia eksterna.
4.3 ANALISIS UNIVARIAT
Tabel 4.1 Distribusi frekuensi keputihan
Keputihan Jumlah Persentase (%)
Ya 103 97
Tidak 3 3
Total 106 100
Tabel 4.1 menunjukkan bahwa dari 106 responden, sebagian besar responden pernah mengalami kejadian keputihan yaitu sejumlah 103 responden (97%).
Tabel 4.2 Distribusi frekuensi responden berdasarkan usia
Usia Jumlah Persentase (%)
Remaja Awal 30 29,1
Remaja Pertengahan 55 53,4
Remaja Akhir 18 17,5
Total 103 100
Tabel 4.2 menunjukkan bahwa dari 103 responden penelitian, responden terbanyak pada kelompok usia remaja pertengahan dengan jumlah 55 responden (53,4%).
Tabel 4.3 Distribusi frekuensi kejadian keputihan berdasarkan usia
Karakteristik Normal Tidak Normal Total
N % N % N %
Usia
Remaja Awal 14 13,6 16 15,5 30 29,1
Remaja
Pertengahan 35 34 20 19,4 55 53,4
Remaja Akhir 13 12,6 5 4,9 18 17,3
Total 62 60,2 41 38,9 103 100
Tabel 4.3 menunjukkan bahwa terdapat 41 responden (38,9%) yang mengalami keputihan tidak normal. Angka kejadian keputihan tidak normal paling tinggi didapatkan pada kelompok usia remaja pertengahan yaitu 20 responden (19,4%).
Tabel 4.4 Distribusi frekuensi pengetahuan menjaga kebersihan genitalia eksterna Pengetahuan menjaga
kebersihan genitalia eksterna Jumlah Persentase (%)
Baik 60 58,3
Buruk 43 41,7
Total 103 100
Tabel 4.4 menunjukkan bahwa pengetahuan menjaga kebersihan genitalia eksterna yang baik memiliki jumlah terbanyak dengan jumlah 60 responden (58,3%).
Tabel 4.5 Distribusi frekuensi pengetahuan menjaga kebersihan genitalia eksterna berdasarkan usia
Pengetahuan Baik Buruk Total
N % N % N %
Usia
Remaja Awal 13 12,6 17 16,5 30 70,9
Remaja
Pertengahan 37 35,9 18 17,4 55 90,9
Remaja Akhir 10 0,9 8 16,7 18 17,6
Total 60 49,4 43 50,6 103 100
Tabel 4.5 menunjukkan bahwa responden dengan pengetahuan baik terbanyak terdapat pada rentang usia remaja pertengahan dengan jumlah 37 responden (35,9%). Begitu juga pada responden dengan pengetahuan buruk terbanyak didapati pada rentang usia remaja pertengahan dengan jumlah 18 responden (17,4%).
Tabel 4.6 Distribusi frekuensi sikap menjaga kebersihan genitalia eksterna Sikap menjaga kebersihan
genitalia eksterna Jumlah Persentase (%)
Baik 92 89,3
Buruk 11 10,7
Total 103 100
Tabel 4.6 menunjukkan bahwa sikap menjaga kebersihan genitalia eksterna yang baik memiliki jumlah terbanyak dengan jumlah 92 responden (89,3%).
Tabel 4.7 Distribusi frekuensi sikap menjaga kebersihan genitalia eksterna berdasarkan usia
Sikap Baik Buruk Total
N % N % N %
Usia
Remaja Awal 24 23,3 6 5,8 30 29,1
Remaja
Pertengahan 51 49,5 4 3,9 55 53,4
Remaja Akhir 17 16,5 1 1 18 17,5
Total 92 89,3 11 10,7 103 100
Tabel 4.7 menunjukkan bahwa sikap baik terbanyak terdapat pada rentang usia remaja pertengahan dengan jumlah 51 responden (49,5%). Sedangkan responden dengan sikap buruk terbanyak didapati pada rentang usia remaja awal dengan jumlah 6 responden (5,8%).
Tabel 4.8 Distribusi frekuensi perilaku menjaga kebersihan genitalia eksterna Perilaku menjaga kebersihan
genitalia eksterna Jumlah Persentase (%)
Baik 81 78,6
Buruk 22 21,4
Total 103 100
Tabel 4.8 menunjukkan bahwa perilaku menjaga kebersihan genitalia eksterna yang baik memiliki jumlah terbanyak dengan jumlah 81 responden (21,4%).
Tabel 4.9 Distribusi frekuensi perilaku menjaga kebersihan genitalia eksterna berdasarkan usia
Perilaku Baik Buruk Total
N % N % N %
Usia
Remaja Awal 22 21,3 8 7,7 30 29,1
Remaja Pertengahan 43 41,7 12 11,6 55 53,3
Remaja Akhir 16 15,5 2 2,2 18 17,6
Total 81 78,5 22 21,5 103 100
Tabel 4.9 menunjukkan bahwa responden dengan perilaku baik terbanyak terdapat pada rentang usia remaja pertengahan dengan jumlah 43 responden (41,7%). Begitu juga pada responden dengan perilaku buruk terbanyak didapati pada rentang usia remaja pertengahan dengan jumlah 12 responden (11,6%).
4.4 ANALISIS BIVARIAT
4.4.1 Hubungan Pengetahuan Menjaga Kebersihan Genitalia Eksterna dengan Kejadian Keputihan
Hubungan pengetahuan menjaga kebersihan genitalia eksterna dengan kejadian keputihan dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 4.10 Hubungan pengetahuan menjaga kebersihan genitalia eksterna dengan kejadian keputihan
Keputihan
Nilai p
Pengetahuan Normal Tidak normal Total
N % N % N %
0,001
Baik 47 45,6 15 14,5 62 60,1
Buruk 13 12,6 28 27,3 41 39,9
Total 60 58,2 43 43,8 103 100