BAB I. PENDAHULUAN
1.4 Manfaat Penelitian
Melalui penelitian ini penulis memperoleh pengalaman dalam melakukan penelitian ilmiah serta mengaplikasikan pengetahuan peneliti mengenai keputihan dalam penelitian.
2. Bagi pihak pesantren
Memberikan informasi bagi pihak pesantren mengenai pencegahan keputihan dan dapat dilaksanakan melalui penyuluhan kepada siswi akan pentingnya menjaga kebersihan genitalia eksterna.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 SISTEM REPRODUKSI WANITA
2.1.1 Anatomi Sistem Reproduksi Wanita
Organ reproduksi wanita terbagi atas organ genitalia eksterna dan organ genitalia interna. Organ genitalia eksterna berfungsi untuk bersenggama. Organ genitalia interna berfungsi pada saat ovulasi, tempat pembuahan sel telur, tumbuh kembang janin, dan lain-lain.
1. Organ genitalia eksterna a. Vulva
Vulva meliputi seluruh struktur eksternal yang dapat dilihat mulai dari pubis sampai perineum, yaitu mons veneris, labia mayora dan labia minora, klitoris, selaput darah (himen), vestibulum, muara uretra, berbagai kelenjar dan struktur vaskular.
b. Mons veneris (mons pubis)
Bagian yang menonjol di bagian depan simfisis. Terdiri dari jaringan lemak dan sedikit jaringan ikat. Setelah pubertas bagian ini akan ditutupi oleh rambut.
c. Labia mayora
Merupakan kelanjutan dari mons veneris yang terdiri atas bagian kanan dan kiri, lonjong mengecil ke bawah. Berisi jaringan lemak seperti mons veneris. Di bagian bawah bibir kiri dan kanan bertemu dan membentuk perineum.
d. Labia minora
Lipatan kulit yang kecil, terletak di bagian dalam labia mayora tanpa rambut.
Permukaan labia minora sama dengan mukosa vagina yaitu merah muda dan basah.
e. Klitoris
Ukurannya kira-kira sebesar biji kacang hijau. Klitoris memiliki jaringan yang penuh dengan ujung saraf sehingga sangat sensitif.
f. Himen
Jaringan yang menutupi lubang vagina.
Gambar 2.1 Anatomi genitalia eksterna wanita.
Sumber: Netter, 2010.
2. Organ genitalia interna a. Vagina
Vagina merupakan penghubung antara introitus vagina dan uterus. Ukuran panjang bagian depan 6,5 cm dan dinding belakang 9 cm. Bagian dalam vagina terdapat lipatan-lipatan yang disebut rugae.
b. Serviks
Dikenal juga sebagai mulut rahim. Serviks merupakan bagian yang menonjol dan letaknya terdepan dari rahim sehingga berhubungan dengan vagina.
c. Rahim (uterus)
Berbentuk seperti buah pir yang terletak di antara kandung kemih dan anus dengan ukuran sebesar telur ayam dan memiliki rongga. Dindingnya terdiri atas otot polos. Uterus memiliki 3 lapisan yaitu endometrium, miometrium, dan perimetrium. Pada saat menstruasi terjadi peluruhan bagian endometrium.
d. Saluran telur (tuba falopii)
Tuba falopii merupakan saluran jalan ovum dari ovarium menuju rongga uterus dengan panjang 12 cm.
e. Indung telur (ovarium)
Perempuan pada umumnya memiliki 2 indung telur yaitu kanan dan kiri.
Mesovarium menggantung ovarium di bagian belakang ligamentum latum kiri dan kanan. Ovarium berukuran kurang lebih sebesar ibu jari tangan. Sejak pubertas, ovarium secara bergantian melepas satu ovum melalui tuba falopii ke uterus (Prawirohardjo, 2010).
Gambar 2.2 Anatomi genitalia interna wanita.
Sumber: Netter, 2010.
2.2 KEPUTIHAN 2.2.1 Definisi
Keputihan adalah cairan selain darah yang keluar dari liang vagina yang tidak biasa, baik berbau atau tidak dan disertai gatal setempat (Kusmiran, 2014).
Keputihan merupakan gejala yang sangat sering dialami oleh sebagian besar wanita. Gangguan ini merupakan masalah kedua sesudah gangguan haid.
Keputihan seringkali tidak ditangani dengan serius oleh remaja. Keputihan bisa menjadi indikasi adanya penyakit. Hampir semua perempuan mengalami keputihan, akan tetapi pendapat ini tidak sepenuhnya benar, karena ada berbagai sebab yang dapat mengakibatkan keputihan. Keputihan yang normal memang merupakan hal yang wajar. Namun, keputihan yang tidak normal dapat menjadi petunjuk adanya penyakit yang harus diobati (Joseph dan Nugroho, 2010).
Faktor pendorong terjadinya keputihan ada dua, yaitu faktor endogen yang berasal dari dalam tubuh dan faktor eksogen yang berasal dari luar tubuh. Kedua faktor ini saling memengaruhi. Kelainan pada lubang kemaluan dapat dikategorikan sebagai faktor endogen, sementara faktor eksogen dibedakan menjadi infeksi dan non infeksi. Faktor infeksi yaitu bakteri, jamur, parasit, dan virus. Sedangkan faktor non infeksi adalah masuknya benda asing ke dalam vagina baik disengaja maupun tidak, membasuh kemaluan tidak bersih, lembap di sekitar kemaluan, kondisi tubuh, kelainan endokrin atau hormon, dan menopause (Indriyani, Indriyawati dan Pratiwi, 2012).
2.2.2 Epidemiologi
Penelitian yang dilakukan secara epidemiologi mendapatkan bahwa fluor albus patologis dapat mengenai wanita mulai dari usia muda hingga usia tua dan tidak mengenal tingkat pendidikan, ekonomi, dan sosial budaya, walaupun kasus ini lebih banyak dijumpai pada wanita dengan tingkat pendidikan dan sosial ekonomi yang rendah. Infeksi sering menjadi penyebab terjadinya fluor albus patologis, beberapa diantaranya adalah vaginosis bakterial (VB) pada 40-50%
kasus, vulvovaginal kandidiasis (VC) 80-90% kasus yang disebabkan oleh
Candida albicans, dan trikomoniasis yang disebabkan oleh Trichomonas vaginalis dengan angka kejadian 5-20% dari kasus infeksi vagina (Nduru, 2015).
2.2.3 Etiologi dan Klasifikasi
Keputihan terbagi dua macam, yaitu keputihan fisiologis dan keputihan patologis. Menurut Tambak (2014) dan Marpaung (2015) keputihan fisiologis dapat ditemukan pada bayi baru lahir sampai umur kira-kira 10 hari, saat menarke, menjelang menstruasi, ovulasi, sesudah menstruasi, pada sekitar fase sekresi antara hari ke 10-16 menstruasi, melalui rangsangan seksual, pada saat hamil, dan saat penggunaan kontrasepsi hormonal. Keputihan fisiologis memiliki gejala klinis berupa berwarna bening sampai putih, tidak berbau, tidak disertai nyeri dan gatal.
Keputihan patologis dapat disebabkan oleh beberapa hal berikut ini, yaitu:
1. Infeksi a. Jamur
Infeksi jamur terjadi jika ada kelainan pada flora vagina. 80-95% disebabkan oleh Candida albicans. C. albicans juga ditemukan dalam flora vagina kira-kira 25% wanita tanpa gejala. Kontaminasi vagina dari sumber-sumber ini umum terjadi. Biasanya vulva dirasakan lebih gatal dibandingkan dengan infeksi trikomonas, tetapi lebih sedikit rasa terbakar yang dirasakan. Discharge vagina biasanya mempunyai penampakan seperti keju lembut dan tidak berbau disertai rasa gatal pada vulva, rasa terbakar, dan dispareunia (Benson dan Pernoll, 2009).
b. Bakteri
Gonokokus
Penyakit ini disebut dengan Gonorrhea, disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae. Penyakit ini sering ditularkan melalui aktivitas seksual. N.
gonorrhoeae berbentuk diplokokus dan memiliki silia. Gejala yang ditimbulkan adalah keputihan berwarna kekuningan atau nanah, nyeri saat berkemih dan nyeri saat bersenggama. Terapi: seftriakson 125 mg intramuskular dosis tunggal (Sibagariang, 2016).
Chlamydia trachomatis
Chlamydia trachomatis dapat menyebabkan infeksi menular seksual dan infeksi mata. Bakteri ini merupakan bakteri intraselular obligat. Pada laki-laki, C.
trachomatis sering menjadi penyebab uretritis. Sedangkan pada perempuan dapat menyebabkan terjadinya uretritis, servisitis, dan penyakit radang panggul yang dapat meningkatkan risiko kehamilan ektopik. Gejala yang ditimbulkan berupa disuria, sekret nonpurulen, dan bertambahnya frekuensi berkemih. Terapi:
Tetrasiklin (Jawetz, Melnick dan Adelberg, 2012).
Gardnerella vaginalis
Gardnerella vaginalis adalah penyebab terjadinya vaginosis bakterial. Ciri yang ditemukan adalah clue cells (sel epitel vagina yang tertutupi oleh banyak basil dengan gram yang dapat berubah-ubah), sekret vagina yang dihasilkan memiliki karakteristik bau amis dan mengandung banyak bakteri anaerob tambahan selain G. vaginalis. Terapi: Metronidazol oral (Jawetz, Melnick dan Adelberg, 2012).
c. Parasit
Parasit yang sering menyebabkan keputihan adalah Trichomonas vaginalis.
Trikomonas memiliki ciri berbentuk seperti buah pir, terdapat flagela uniseluler, dan dapat diamati bergerak di sekitar daerah yang mempunyai banyak leukosit pada sediaan basah. T. vaginalis dapat ditularkan secara seksual. Sumber kuman seringkali berasal dari pria. Namun trikomonas juga dapat ditularkan melalui pakaian, handuk, atau karena berenang (Tambak, 2014). Diagnosis berdasarkan keluhan keputihan dengan ciri sekret cair, berbusa, berbau tidak sedap, dan berwarna kuning kehijauan disertai rasa panas, gatal, dan hiperemia pada vagina (Susanto et al., 2015).
d. Virus
Menurut Benson dan Pernoll (2009) gejala keputihan yang disebabkan oleh virus, yaitu:
Virus Herpes Simpleks (HSV)
Infeksi HSV pada traktus genitalia biasanya tipe 2 bertanggung jawab kira-kira 90% infeksi dan 10%-nya HSV tipe 1. Lesi genital yang khas berupa vesikel
multipel yang berkembang menjadi ulserasi dangkal yang seringkali dikelilingi bercak kemerahan atau eritematosa. Gejala yang ditimbulkan berupa vesikel-vesikel, demam, nyeri kepala, malaise, myalgia, disuria, dan keputihan.
Human Papilloma Virus (HPV)
HPV menyebabkan kondiloma akuminata. Virus ini ditularkan secara seksual.
Keluhan yang paling umum adalah adanya lesi tetapi memungkinkan ditemukan adanya discharge vagina berbau tanpa rasa gatal.
2. Kelainan alat kelamin didapat atau bawaan
Kelainan bawaan seperti fistel vesikovaginalis atau rektovaginalis, cedera persalinan, atau kanker.
3. Benda asing
Benda asing seperti kondom yang tertinggal, pesarium pada pasien hernia, atau prolaps uteri dapat merangsang sekret vagina berlebihan.
4. Neoplasma jinak
Tumor yang sebagian atau seluruh bagiannya memasuki lumen saluran genital dapat menyebabkan keputihan dengan gejala cairan yang banyak disertai darah tak segar, dan berbau busuk (Sibagariang, 2016).
5. Menopause
Penurunan kadar estrogen saat memasuki masa menopause menyebabkan penurunan lubrikasi vagina sehingga dapat terjadi penipisan mukosa dan inflamasi pada uretra dan kandung kemih (Oentari, Liwang dan Hestiantoro, 2014).
6. Fisik
Trauma pada genitalia, pemakaian alat kontrasepsi IUD, dan penggunaan tampon.
7. Iritasi
Iritasi dapat disebabkan oleh celana yang ketat dan tidak menyerap keringat, pembersih vagina, cairan antiseptik untuk mandi, sabun cuci dan pelembut pakaian (Tambak, 2014).
2.2.4 Patogenesis
Keputihan adalah keadaan yang terjadi secara fisiologis dan dapat menjadi keputihan patologis akibat infeksi kuman penyakit. Keputihan patologis
disebabkan oleh perubahan pH pada sekitar alat genital yang awalnya bersifat asam dengan pH 4,5 menjadi lebih basa. PH asam pada genital wanita berfungsi sebagai mekanisme pertahanan alat genital terhadap patogen-patogen di daerah tersebut. Perubahan pH asam menjadi basa menyebabkan flora normal-flora normal pada genital menjadi patogen dan patogen-patogen lain dapat menginvasi daerah genital. Keadaan ini mengakibatkan vagina mengeluarkan sekret yang tergantung kepada penyebab ataupun mikroorganisme yang menyebabkan keputihan (Sibagariang, 2016).
2.2.5 Manifestasi Klinis
Gejala klinis keputihan dapat ditentukan berdasarkan karakteristik keputihan yaitu jumlah cairan, warna, bau, dan konsistensi (Setyana, 2013). Pada penderita keputihan patologis didapatkan rasa gatal, nyeri vagina, rasa terbakar di bagian luar vagina, serta nyeri saat senggama dan berkemih (Triyani dan Ardiyani, 2013).
2.2.6 Pemeriksaan Penunjang
Menurut Sibagariang dalam Tambak (2014) keputihan merupakan gejala suatu penyakit, maka diagnosis pasti perlu ditetapkan. Oleh karena itu, dilakukan berbagai pemeriksaan penunjang untuk meyakinkan pasien adanya keputihan normal yang tidak memerlukan terapi. Pemeriksaan yang dapat dilakukan yaitu pemeriksaan preparat basah dengan NaCl 0,9% atau KOH 10%, pewarnaan gram, kultur sekret vagina, pap smear, penilaian pH cairan vagina, kultur urin, atau pemeriksaan sampel urin.
2.2.7 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan keputihan sebaiknya dilakukan sedini mungkin untuk menghindari komplikasi dan untuk menyingkirkan penyebab lain dengan gejala keputihan. Cairan yang keluar dari vagina yang normal kadang bisa dikurangi jumlahnya dengan bantuan pembilasan air. Namun cairan vagina berlebihan yang disebabkan oleh infeksi perlu diobati secara khusus sesuai dengan penyebabnya.
Infeksi dapat diobati dengan antibiotik, anti-jamur, atau anti-virus, tergantung kepada organisme penyebabnya. Golongan flukonazol dapat diberikan pada infeksi jamur. Metronidazol, ceftriaxon, atau azithromycin untuk mengatasi
infeksi bakteri dan parasit. Infeksi virus dapat diberikan acyclovir. Sediaan obat yang diberikan dapat berupa sediaan tablet oral, injeksi, dan sediaan topikal untuk dioleskan. Pada infeksi menular seksual, kedua pasangan harus diobati pada saat yang sama untuk menghindari infeksi berulang (Nugroho dan Utama, 2014).
2.2.8 Pencegahan
Menurut Marhaeni (2016) dan Kusmiran (2014) selain pengobatan farmakologi, penderita keputihan dianjurkan untuk selalu menjaga kebersihan genital sebagai pencegahan berulangnya keputihan dengan:
1. Menjaga kebersihan alat genital
Vagina secara anatomis berada di antara uretra dan anus. Cara membasuh alat genital yang benar yaitu dari depan ke belakang dapat mengurangi risiko infeksi dan menghindari terjadinya keputihan. Membasuh alat genital dari belakang ke depan dapat meningkatkan risiko masuknya kuman dari anus ke dalam vagina.
2. Menjaga kebersihan pakaian dalam
Dianjurkan untuk mengganti celana dalam minimal dua kali sehari. Pakaian dalam yang tidak bersih dapat menjadi alat perpindahan kuman dari udara ke dalam alat genital. Bakteri, jamur, dan parasit tidak dapat bertahan hidup pada suhu tinggi sehingga menyetrika pakaian dalam dapat menghindarkan infeksi kuman melalui pakaian dalam.
3. Tidak bertukar handuk
Hindari penggunaan handuk yang sama dengan orang lain. Handuk yang telah terkontaminasi bakteri, jamur, dan parasit apabila digunakan dapat menularkan infeksi.
4. Menghindari celana ketat
Alat genital yang hangat dan lembab dapat meningkatkan kolonisasi bakteri, jamur, dan parasit. Peningkatan kolonisasi tersebut dapat meningkatkan risiko infeksi yang memicu keputihan. Maka hindari pemakaian celana ketat yang terlalu lama karena dapat menyebabkan alat genital menjadi hangat dan lembab.
Gunakan celana dalam yang bersih, kering, dan terbuat dari bahan katun.
5. Menghindari pembersih vagina
Penggunaan produk pembersih vagina dapat mengurangi jumlah flora normal dalam vagina karena bersifat basa. Ekosistem dalam vagina yang bersifat asam terganggu sehingga kuman dapat berkembang dengan baik. Produk pembersih vagina yang digunakan harus sesuai dengan petunjuk dokter.
6. Mencuci tangan sebelum menyentuh alat genital
Tangan dapat menjadi perantara kuman penyebab infeksi. Mencuci tangan sebelum menyentuh alat genital dapat menghindarkan perpindahan kuman yang menyebabkan infeksi.
7. Sering mengganti pembalut
Mengganti pembalut minimal 3-4 kali sehari dapat menghindari kelembapan.
Gunakan pembalut dengan bahan yang lembut, menyerap dengan baik, tidak mengandung bahan yang membuat alergi seperti parfum atau gel, dan merekat dengan baik pada celana dalam (Amelia dalam Nurhayati, 2013).
8. Hindari penggunaan panty liner
Menurut Farage dkk. (2007) penggunaan panty liner pada saat keputihan akan meningkatkan tumbuhnya bakteri jahat dalam vagina. Penggunaan panty liner dalam waktu 6 bulan dan frekuensi mengganti panty liner 5 jam sekali tidak membuat cairan yang keluar dari vagina berkurang, justru cairan akan bertambah banyak.
9. Mencukur atau merapikan rambut kemaluan
Mencukur atau merapikan rambut kemaluan dianjurkan karena rambut kemaluan dapat ditumbuhi jamur atau kutu yang dapat menimbulkan rasa tidak nyaman dan gatal.
10. Mengelola stres
Stres dapat meningkatkan hormon adrenalin yang menyebabkan penyempitan pembuluh darah. Pembuluh darah yang sempit menyebabkan aliran estrogen ke vagina terhambat sehingga dengan menghindari stres dapat mengurangi keputihan.
2.3 PENGETAHUAN
Pengetahuan adalah hasil pengindraan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap suatu objek dari indra yang dimilikinya (Notoatmodjo, 2012).
Menurut Kholid dan Notoatmodjo (2012) tedapat 6 tingkat pengetahuan, yaitu tahu, memahami, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi. Tahu adalah mengingat kembali memori yang telah ada sebelumnya setelah mengamati sesuatu.
Memahami adalah suatu kemampuan untuk menjelaskan tentang suatu objek yang diketahui dan diinterpretasikan secara benar. Aplikasi adalah suatu kemampuan untuk mempraktekkan materi yang sudah dipelajari pada kondisi sebenarnya.
Analisis adalah kemampuan menjelaskan suatu objek atau materi tetapi masih di dalam struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu dengan yang lainnya. Sintesis adalah suatu kemampuan menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Evaluasi adalah pengetahuan untuk melakukan penilaian terhadap suatu materi atau objek.
Indikator-indikator lainnya yang dapat digunakan untuk menilai tingkat pengetahuan terhadap kesehatan, dapat dikelompokkan menjadi:
1. Pengetahuan tentang sakit dan penyakit, meliputi penyebab penyakit, gejala penyakit, bagaimana cara mengobati penyakit, bagaimana penyakit tersebut dapat menular, dan bagaimana cara mencegah penyakit tersebut.
2. Pengetahuan tentang cara pemeliharaan kesehatan dan cara hidup sehat, meliputi jenis dan contoh makanan bergizi, manfaat makanan yang bergizi bagi kesehatan, fungsi olahraga bagi kesehatan, bahaya merokok, minum-minuman keras, dan pentingnya istrirahat yang cukup bagi kesehatan.
3. Pengetahuan tentang kesehatan lingkungan, meliputi guna dan manfaat air bersih, cara membuang limbah yang benar, manfaat pencahayaan dan penerangan rumah yang benar, dan dampak dari polusi bagi kesehatan.
Pengukuran tingkat pengetahuan dapat dinilai dengan menggunakan angket atau wawancara mengenai isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden (Notoatmodjo, 2012).
Menurut Nursalam (2008) tingkat pengetahuan dibagi menjadi 3 kategori:
1. Baik apabila responden dapat menjawab dengan benar 76%-100% dari keseluruhan pertanyaan yang diberikan.
2. Cukup apabila responden dapat menjawab pertanyaan dengan benar 56%-75% dari keseluruhan pertanyaan yang diberikan.
3. Tingkat pengetahuan kurang baik apabila responden dapat menjawab dengan benar, kurang dari 56% dari keseluruhan pertanyaan tersebut.
2.4 SIKAP
Menurut Notoatmodjo (2012) sikap adalah respons atau reaksi tertutup dari individu terhadap suatu objek atau stimulus. Manifestasi sikap tidak dapat langsung terlihat, namun hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu melalui perilaku yang tertutup. Seorang ahli psikologi sosial bernama Newcomb menyatakan bahwa sikap adalah kesiapan untuk bertindak, dan bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu. Sikap belum menentukan suatu tindakan, namun berupa predisposisi tindakan suatu perilaku.
Sikap terdiri dari empat tingkatan, yaitu menerima, merespons, menghargai, dan bertanggung jawab. Menerima diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memberi perhatian kepada stimulus yang diberi (objek). Merespons artinya bahwa seseorang memberikan tanggapan terhadap stimulus yang diterima. Misalnya, memberi jawaban apabila ditanya, menyelesaikan tugas yang diberikan, dan lain-lain. Ketika seseorang ada dalam tingkat menghargai, maka orang tersebut dapat mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah.
Mampu menerima semua resiko dari tindakan-tindakan yang telah dipilihnya merupakan indikator bahwa seseorang bertanggung jawab.
Sama seperti pengetahuan, sikap juga memiliki indikator-indikator sikap yang memiliki hubungan terhadap kesehatan. Indikator-indikator tersebut antara lain:
1. Sikap terhadap sakit dan penyakit
Adalah penilaian atau tanggapan seseorang terhadap gejala dan tanda penyakit, penyebab atau etiologi penyakit, bagaimana cara penyakit tersebut dapat menular, cara mencegah penyakit, dan lain-lain.
2. Sikap cara pemeliharaan dan cara hidup sehat
Adalah penilaian individu terhadap pemeliharaan hidup sehat. Misalnya, penilaian terhadap makanan, minuman, olahraga, istirahat, dan lain-lain.
3. Sikap terhadap kesehatan lingkungan
Adalah penilaian atau tanggapan terhadap lingkungan dan hubungan serta pengaruh terhadap kesehatan. Misalnya, penilaian terhadap pembuangan limbah, air bersih, dan lain-lain.
Pengukuran sikap dapat dilakukan baik secara langsung maupun tak langsung. Secara langsung dapat berupa wawancara mengenai pendapat atau pernyataan responden perihal sebuah objek. Secara tidak langsung dapat diukur dengan menggunakan pernyataan-pernyataan hipotesis, kemudian ditanyakan pendapat responden. Misalnya, saya akan menikah apabila saya berusia 25 tahun (sangat setuju, tidak setuju, sangat tidak setuju).
2.5 PERILAKU
Perilaku merupakan totalitas penghayatan dan aktivitas individu, yang merupakan hasil dari berbagai faktor, baik faktor internal maupun faktor eksternal. Faktor internal adalah karakteristik individu yang bersangkutan, misalnya tingkat pengetahuan, jenis kelamin, dan lain-lain. Faktor eksternal meliputi lingkungan, baik lingkungan fisik, sosial, budaya, politik, dan lain-lain.
Faktor ini adalah faktor yang cenderung mewarnai perilaku individu (Notoatmodjo, 2012).
Menurut Setyaningrum (2015) indikator PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) tatanan institusi pendidikan (pesantren) meliputi tersedianya kamar mandi yang bersih, tersedia air keran dan bersih yang mengalir, tidak ada sampah yang berserakan, ketersediaan UKS yang berfungsi dengan baik, siswa berpenampilan bersih dan baik, dan beberapa siswa ada yang menjadi dokter remaja atau promosi kesehatan.
2.6 REMAJA
Masa remaja adalah salah satu periode perkembangan manusia di mana terjadi perubahan atau peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa yang diikuti perubahan biologis, psikologis, dan sosial. Berdasarkan usia, remaja dapat dibagi menjadi remaja awal (early adolescent) yaitu 10-13 tahun, remaja menengah (middle adolescent) yaitu 14-16 tahun, dan remaja akhir (late adolescent) yaitu 17-20 tahun (Notoatmodjo, 2010).
Perkembangan remaja terbagi atas 3 tahap, yaitu:
a. Remaja awal (early adolescent)
Pada tahap ini seorang remaja masih terheran akan perubahan yang terjadi pada tubuhnya sendiri dan dorongan-dorongan yang menyertai perubahan-perubahan itu. Mulai mengembangkan pikiran-pikiran baru, cepat tertarik pada lawan jenis, dan mudah terangsang secara erotis. Tampak merasa lebih dekat dengan teman sebayanya dan merasa ingin bebas.
b. Remaja menengah (middle adolescent)
Pada tahap ini remaja sangat membutuhkan teman. Ia senang kalau banyak teman yang mengakuinya. Terdapat kecenderungan bersifat narsistik yaitu mencintai diri sendiri, menyukai teman-teman yang sama dengan dirinya.
Tampak ingin mencari identitas diri, keinginan, atau ketertarikan terhadap lawan jenis.
c. Remaja akhir (late adolescent)
Tahap ini adalah masa konsolidasi menuju periode dewasa dan ditandai dengan pencapaian minat yang semakin mantap terhadap fungsi kognitif, terbentuk identitas seksual yang tidak akan berubah lagi, tumbuh batasan yang memisahkan kepribadian dirinya dengan masyarakat umum, ego untuk mencari kesempatan untuk bersatu dengan orang lain dan dalam pengalaman-pengalaman baru, serta mulai adanya keseimbangan antara kepentingan diri sendiri dengan orang lain.
2.7 HUBUNGAN PENGETAHUAN MENJAGA KEBERSIHAN GENITALIA EKSTERNA DENGAN KEJADIAN KEPUTIHAN
Pengetahuan adalah hasil pengindraan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap suatu objek dari indra yang dimilikinya (Notoatmodjo, 2012). Menurut hasil penelitian yang dilakukan Sondakh dkk. (2014) di SMA Negeri 1 Pineleng juga didapatkan bahwa responden yang memiliki pengetahuan baik dan mengalami keputihan ada 43 orang (72,9%) dan yang memiliki pengetahuan baik namun tidak mengalami keputihan ada 1 orang (1,7%), sedangkan responden yang memiliki pengetahuan kurang baik dan mengalami keputihan ada 12 orang (20,3%) dan yang memiliki pengetahuan kurang baik namun tidak mengalami keputihan ada 3 orang (5,1%). Hasil penelitian lainya yang dilakukan oleh
Ilmiawati dan Kuntoro (2016) di SMP Plus Fityani Malang diketahui bahwa sebagian besar responden memiliki pengetahuan yang tidak baik sebesar 23 responden (46%) tentang personal hygiene. Tidak ada responden yang memiliki pengetahuan baik tentang personal hygiene. Sedangkan untuk yang memiliki pengetahuan cukup sebanyak 14 responden (28%) dan kurang baik 13 responden
Ilmiawati dan Kuntoro (2016) di SMP Plus Fityani Malang diketahui bahwa sebagian besar responden memiliki pengetahuan yang tidak baik sebesar 23 responden (46%) tentang personal hygiene. Tidak ada responden yang memiliki pengetahuan baik tentang personal hygiene. Sedangkan untuk yang memiliki pengetahuan cukup sebanyak 14 responden (28%) dan kurang baik 13 responden