• Tidak ada hasil yang ditemukan

Historiografi Jepang

Dalam dokumen Niat Zakat Fitrah Untuk Diri Sendiri (Halaman 43-48)

HISTORIOGRAFI ASIA, AFRIKA, DAN ISLAM

3. Historiografi Jepang

Ciri khusus historiografi Jepang adalah berkembang lebih menjurus un- tuk menghasilkan sejarah domestik daripada membentuk sistem tafsiran yang penting. Sejarah tidak hanya populer, tetapi juga penting bagi rakyat Jepang dalam pencarian identitas mereka. Pandangan sejarah tertua dan paling asli yang dianut oleh Jepang adalah suatu kepercayaan bahwa Jepang merupakan pusat dunia. Seiring dengan persentuhan dengan Cina, India, dan barat, pandangan tersebut

38

Disunting dari tulisan John Whitney Hall dalam Taufik Abdullah dan Abdurrachman Surjomi- hardjo (eds.). 1985. Ilmu Sejarah dan Historiografi; Arah dan Perspektif. Jakarta: Gramedia. Hlm. 89-105.

43

mendapat tekanan yang mendorong bangsa Jepang untuk menyesuaikan penulisan historiografinya baik dalam konsep maupun metodologinya.

Tradisi menulis sejarah telah dilakukan oleh Jepang sejak abad ke-8 me- lalui Kojiki (720) yang berisi “Catatan Mengenai Masalah-Masalah Kuno” dan

Nihon Shoki (720; Babad Jepang). Keduanya merupakan bentuk penjelasan dari penguasa tentang tata politik. Sumber yang dipakai dalam Kojiki tidaklah jelas dan konsepsi historiografinya sangat sulit untuk diberi penanggalan. Kojiki tidak mengandung cerita tentang proses penciptaan alam, para pahlawan, dan para dewa. Penciptaan yang diceritakan oleh Kojiki hanya sebatas tentang penciptaan sepasang manusia yang kelak menurunkan kaisar sebagai penguasa di Jepang.

Nihon Shoki memiliki kelebihan dibandingkan Kojiki karena para penu- lisnya memiliki kesadaran diri yang lebih dibandingkan dengan para penulis Ko- jiki. Mereka mencoba untuk memberikan penanggalan terhadap kejadian-kejadian yang tidak begitu jelas. Dari usaha itu, terciptalah suatu keyakinan bahwa Jimmu, Kaisar Jepang I memerintah pada 660 SM.39

Tradisi historiografi yang berpusat di sekitar istana masih terus berlanjut walaupun terjadi pergeseran kekuasaan dari tangan kaisar ke tangan para aris- tokrat. Pada masa ini, historiografi yang dihasilkan berpusat pada penulisan seja- rah-sejarah partikelir, seperti: Monogatori (Hikayat-hikayat), Kagamii (Cermin- cermin), dan yang terkenal adalah Okagami (Cermin Besar) yang merangkaikan suatu perpaduan mengenai bangkitnya kelurga Fujiwara.

39

Oleh para sejarawan modern, penanggalan tersebut diragukan karena walau bagaimanapun

Nihon Shoki masih terpengaruh oleh cerita-cerita mitos. Para sejarawan modern Jepang, memberikan penanggalan pada peristiwa itu sekitar abad ke-3 atau abad ke-4 masehi.

44

Pada abad ke-12, historiografi Jepang mendapat pengaruh konep karma dan keselamatan dari Budhisme. Penulisan sejarah umumnya dilakukan oleh para pendeta dengan memperhatikan belas kasihan terhadap penderitaan, kesedihan umat manusia, dan kekhawatiran akan keabadian masa kebobrokan. Gukansho

(Bunga Rampai dari Pandangan-pandangan yang Kurang Mengerti) karya Pendeta Fujiwara Jien (1155-1225) merupakan contoh pertama dari penulisan sejarah de- ngan penuh maksud sehingga penulis tidak hanya mencatat, tetapi juga melakukan survai, menafsrkan, dan menjelaskan sementara sambil melatih menyendiri. De- mikian juga dengan Jinno Shotoki karya Kitabatake Chikafusa (1291-1354) me- miliki nilai penting karena berhasil menghidupkan kembali pokok pikiran eung- gulan Jepang sebagai suatu bangsa karena kebajikan yang tiada taranya dari garis kekaisaran yang tidak pernah terputus.

Ketika memasuki zaman Tokugawa (1600-1868), penulisan sejarah me- ngalami masa kebesaran. Pada masa ini, penulisan sejarah tidak didasarakan atas ilmu mistik dari Budha, tetapi lebih berdasarkan pada akal. Selain itu, ada juga upaya untuk mengkaji kembali nilai-nilai asli Jepang dengan melakukan studi mengenai Kojiki dengan mengembalikan lagi perhatiannya kepada keluarga kai- sar. Untuk maksud ini, keluarga Tokugawa menulis sebuah sejarah nasional Han- cho Tsugan (Cermin Besar Mengenai Jepang) yang diselesaikan oleh keluarga Hayoshi tahun 1670. Sementara itu, Dai Nihon Shi (Sejarah Jepang) yang disusun di bawah lindungan cabang Mito dari keluarga Tokugawa merupakan histoiografi yang jauh lebih berpengaruh dari Hancho Tsugan. Sedikit berbeda dengan Arai

45

Hokuseki yang menuli buku Dokushi Yoron (Komentar tentang Sejarah), tidak hanya memuat peristiwa, tetapi juga mengajukan argumen betapa perlunya studi filologi untuk menyelami zaman klasik Jepang. Ia juga membuat periodisasi Seja- rah Jepang yang didasarkan atas masa perubahan kekuasaan politik Khosi Tsu

(Survai Sejarah Kuno).

Menjelang abad ke-18, penulisan sejarah di Jepang tidak hanya dilakukan sekitar istana, melainkan telah menyebar ke tingkat yang lebih kecil lagi. Para

daimyo hampir seluruhnya menuliskan kisah keluarganya masing-masing atau se- tidak-tidaknya mengumpulkan berbagai dokumen yang memiliki kaitannya de- ngan mereka. Tradisi penulisan sejarah di Jepang semakin mantap seiring dengan mulai bersinggungan dengan kekuatan barat dan para cendekiawannya menda- patkan ilmu pengetahuan dari mereka. Meskpiun Jepang dengan cepat menerima metode dan filsafat sejarah yang disodorkan Barat, namun mereka memiliki pan- dangan sama untuk mempertahankan kenedikiawan dan kesejarahan mereka seba- gai sebuah bangsa.

Tradisi penulisan sejarah yang mantap diawali dengan didirikannya Kantor Pengumpulan Bahan-bahan Sejarah dan Penyusunan Sejarah Nasional ta- hun 1869. Pada zaman Meiji ini, terjadi perdebatan dalam bidang ideologi sejarah. Sebagian sejarawan menginginkan sejarah sebagai mediia untuk membangkitkan patriotisme dan menghidupkan terus kenangan kesatriaan di masa lampau. Mereka merujuk Rai Sanyo sebagai model penulisan sejarah. Sebagian lagi menginginkan adanya kemajuan dan kebebasan intelektual dalam menuliskan sejarah. Mereka

46

adalah para sejarawan yang telah menerima konsep-konsep dari barat sebagai lan- dasan untuk memikirkan kembali kesejarahan Jepang. Bummei ron no gairyaku

karya Fukuzawa Yukichi dan Nihon Kaika Shosi karya Taguchi Ukichi merupa- kan model historiografi baru Jepang. Dalam historiografi itu telah terjadi pergese- ran penulisan sejarah dari politik berkaisar ke arah dimensi-dimensi intelektual dam artistik. Aliran baru ini semakin mantap dalam tradisi historiografi Jepang seiring dengan didirikannya Jurusan Sejarah di Universitas Tokyo dan mengem- bangkan aliran Geschichtewissenschaft yang diperkenalkan oleh Ludwig Reiss.

Dari situ, era historiografi modern Jepang dimulai yang ditandai oleh ha- sil nyata menurut empat garis besar: 1) kesempurnaan dari suatu metodologi seja- rah modern; 2) studi-studi monografi dan aspek yang khas dari peradaban Jepang; 3) persiapan survai sejarah secara umum; dan 4) penerbitan buku referensi dan bahan-bahan sejarah. Kokushi no kenkyu karya Kuroita Katsumi (1908) merupa- kan karya utama masa historiografi modern Jepang. Bidang historiografi diperluas sehingga lahirlah karya-karya sejarah kebudayaan, ekonomi, dan corak-corak khusus lainnya. Menjelang pertengahan tahun 1930, masa-masa ekspansi Jepang, sejarah diperdebatkan kembali untuk suatu kemungkinan dijadikan sebagai media bagi usaha membangun keyakinan bangsa Jepang atas keunggulan tiada tara di- rinya dibandingkan dengan bangsa lainnya. Ketika Perang Dunia II berakhir, his- toriografi Jepang pun mulai dengan menempatkan kembali pada jalur akademik, meskipun filsafat sejarah dan ideologi masih menjadi masalah bagi para sejarawan Jepang.

47

Dalam dokumen Niat Zakat Fitrah Untuk Diri Sendiri (Halaman 43-48)