• Tidak ada hasil yang ditemukan

Metodologi dan Interpretasi Sejarah Indonesia

Dalam dokumen Niat Zakat Fitrah Untuk Diri Sendiri (Halaman 65-80)

HISTORIOGRAFI INDONESIA

2. Metodologi dan Interpretasi Sejarah Indonesia

Dalam ilmu sejarah gagasan sosial mengikuti tradisi idealisme Jerman. Pokok-pokok gagasan sosial dari idealisme itu adalah sebagai berikut: diandaikan adanya pemisahan radikal antara dunia gejala (fenomena) dan dunia spritual, an- tara dunia ilmu dan alam, serta dunia aktivitas manusia. Dengan pokok pikiran tersebut, bangsa Jerman secara tegas membedakan antara naturwissenschaft (ilmu alam) dan geisteswissenschaft (ilmu-ilmu kebudayaan). Geisteswissenschaft men- cakup studi humaniora, ilmu sejarah, dan ilmu sosial yang bersifat idiografis ka- rena bertugas untuk mndeskripsikan sesuatu dengan tekanan pada aspek indivi- dual atau ide (geist) yang unik sebagai lawan dari dalil-dalil umum teori positi- visme.

49

Disunting dari buku Pemikiran dan Perkembangan Historiografi Indonesia; Suatu Alternatif

65

Pada awal perkembangannya, geisteswissenschaft menghadapi tantangan berat dari kaum positivisme karena dipandang sebagai sesautu yang tidak ilmiah. Untuk mengatasi masalah tersebut, ditemukan dua metodologi: (1) metode untuk memahami dari dalam (versthen) dari Wilhelm Dilthey; dan (2) metode yang di- arahkan untuk memahami kejadian satu per satu daripada berusaha mencari dalil- dalil umum, seperti yang dikembangkan oleh kelompok Neo-Kantian, Windel- band, dan Rickert. Pemikiran terakhir kemudian disintesiskan oleh Max Weber. Idenya adalah kenyataan itu pada akhirnya tidak dapat dikembalikan kepada suatu sistem hukum. Untuk memahami hal-hal yang unik, orang harus menghubung- kannya dengan nilai-nilai. Weber pun sejalan dengan kelompok idelais bahwa ilmu-ilmu kebudayaan bertujuan hendak memahami proses yang menyangkut suatu jenis evidensi tersendiri yang berhubungan dengan tangkapan relasi-relasi yang penuh arti. Relasi yang penuh arti adalah relasi-relasi seperti yang terdapat antara motif dan tindakan; antara alat dan tujuan.

Sejarawan menginterpretasikan kenyataan historis dengan menyeleksi dari kenyataan historis apa-apa yang dapat dihubungkan dengan ide-ide tentang nilai tersebut. Prinsip kausalitas dalam ilmu sejarah berbeda dengan prinsip kau- salitas dalam ilmu alam. Hanya faktor-faktor atau kejadian-kejadian yang berhu- bungan dengan nilai-nilai kebudayaan-lah yang dimasukkan dalam hubungan historis. Dalam metodologi Weber terdapat beberapa pengertian, yaitu: nilai, ob- jektivitas, sebab, dan tipe ideal.

66

Sementara itu, Wilhelm Dilthey berpendapat bahwa harus dibedakan an- tara bidang atau dunia alam dan bidang aktivitas manusia. Kedua bidang tersebut dapat dipelajari secara ilmiah meskipun dalam bidang riset, bentuk-bentuk pe- ngalaman, dan sikap si peneliti menunjukkan perbedaan. Metode Dilthey adalah pemahaman (verstehen) dan objek sejarah adalah manusia itu sendiri dalam kodratnya yang subjektif, sedangkan interpretasinya berdasarkan pemahaman psi- kologis.

Baik Dilthey maupun Weber mempertahankan pendapat bahwa seorang sejarawan harus memperhatikan keunikan (uniquenness) gejala historis. Untuk dapat memperhatikan gejala historis itu diperlukan pemahaman yang kemudian ditegaskan oleh Weber bahwa memahami merupakan prosedur dari ilmu-ilmu so- sial. Memahami mencakup kenyataan kelakuan (behaviour) manusia untuk men- capai tujuan-tujuan tertentu dan dengan memastikan akibat yang diharapkan, kita akan memahami sesuatu hal yang khusus dari kelakuan tersebut. Ada dua cara untuk dapat menerapkan metode verstehen Dilthey ini, yaitu (1) secara intelektual, jika tindakan itu rasional dan secara penghayatan (empati) jika tindakan itu irra- sional. Sumbangan pemikiran terbesar dari Max Weber adalah keberhasilannya dalam mengintroduksi konseptual baru yakni Tipe Ideal.

Tipe Ideal adalah suatu konsep batasan ideal dengan mana kenyataan di- ukur dengan niat hendak memperjelas fase-fase tertentu dari tata susun empirisnya yang penuh arti. Bagaimana orang menyusun Tipe Ideal? Tipe Ideal disusun de- ngan cara menekankan satu segi dan mengintensifkan satu atau beberapa aspek

67

struktur mental yang uniform. Sifat dari Tipe Ideal adalah utopia, ide yang di- khayalkan, dan konstruksi yang abstrak dengan tujuan memberi alat agar peristiwa konkret dapat diperbandingkan dan diukur. Bagaimana Tipe Ideal itu diperguna- kan? Suatu situasi konkret dibandingkan dengan konstruksi iadeal tersebut, dapat dipastikan: (a) seberapa jauh situasi aktual tersebut merealisasikan konstruksi ter- sebut; dan (b) perbedaan antara kejadian aktual dan konstruksi ideal, memudahkan penemuan motif-motif aktual atau kondisi yang telah menentukan situasi konkret yang sedang berlangsung itu. Apakah Tipe Ideal memiliki fungsi? Fungsi utama dari Tipe Ideal adalah untuk menciptakan kausalitas historis yang menyangkut pertanggungjawaban akibat-akibat konkret dari sebab-sebab yang konkret pula, dan bukannya mengenai kepastian hukum abstrak. Kausalitas historis menjelaskan kejadian-kejadian yang telah pasti dan konkret sebagai akibat dari sebab-sebab konkret tertentu. Tipe Ideal merupakan alat yang memungkinkan kita untuk me- nertibkan dan mengklasifikasikan suatu bagian (fraksi) kenyataan empiris.

Keunikan dari tiap rangkaian sejarah tidak dapat dibandingkan dengan yang lain sehingga kenyataan ini menimbulkan kesulitas bagi Weber. Setiap anali- sis historis dari kejadian di masa lampau mencari kepastian mengenai arti sebab akibat bagi kejadian-kejadian selanjutnya. Untuk mengatasi persoalan kausalitas dalam sejarah, Weber menyodorkan tiga prinsip, yakni 1) prinsip kemungkinan objektif, (2) prinsip analisis intern, dan (3) prinsip hubungan sebab akibat yang

68

Untuk dapat merekonstruksi peristiwa sejarah, seorang sejarawan akan selalu berhubungan dengan fakta-fakta sejarah. Kesepakatan di kalangan sejara- wan adalah suatu fakta tidak dapat berbicara sendiri sehingga suatu fakta tidak dapat dimengerti atau dilukiskan oleh fakta itu sendiri. Selain itu, fakta-fakta pun bukan sesuatu yang dapat berdiri sendiri karena memang kategori dari fakta itu memiliki sifat yang kompleks. Dengan demikian, seorang sejarawan tidak dapat menghindari dari keharusan untuk memberikan interpretasi terhadap fakta agar fakta-fakta itu dapat dimengerti.

Untuk dapat memberi makna terhadap fakta-fakta lebih mendalam, seja- rawan dituntut untuk menerapkan pendekatan yang multidisiplin. Rekonstruksi dengan mengandalkan sejarah yang naratif tidak akan membantu memaknai fakta secara mendalam. Akan tetapi dengan menerapkan metode dan pendekatan multi- disipliner, sifat kompleks dari fakta dapat lebih dipahami. Dalam kaitan ini, ada dua hal yang perlu diperhatikan, yaitu (1) problem pengertian. Fakta ditempatkan dalam kerangka konseptual. Semakin baik kerangka konseptualnya, semakin sem- purnalah pengertian baru yang akan dihasilkan; (2) kadangkala prakonsepsi dan teori menghalangi proses penemuan baru, terutama kalau prakonsepsi dan teori itu berat sebelah. Kondisi ini biasanya terjadi apabila pendekatan yang digunakan bersifat unidisipliner sehingga cara mengatasinya tiada lain kecuali menggunakan pendekatan multidimensional. Dengan menggunakan pendekatan ini, studi sejarah akan menjadi mendalam dan meluas.

69

Hal penting dalam studi sejarah adalah historical mindedness yakni me- ngukur dan menentukan tempat sikap manusia dalam rangka adat istiadat rakyat, konvensi-konvensi, dan standar sehingga dapat menempatkan orang dalam ke- rangka sejarahnya sendiri. Masalahnya adalah apakah historical mindedness ter- kait dengan evaluasi atau interpretasi teoretis? Apakah historical mindedness tidak sama dengan identifikasi historis? Apakah mungkin menempatkan diri kita pada tempat individu pada masa yang lain? Jenis metodologis seperti apa yang timbul dari pemikiran ini?

Selama historical mindedness itu identik dengan identifikasi historis, da- patlah dipastikan bahwa historical mindedness harus dipisahkan dari pertimba- ngan moral. Dalam pengertian bahwa kita mesti berupaya untuk memahami bahwa setiap periode memiliki semangatnya sendiri yang tentunya akan berbeda dengan semangat yang waktu yang lalu maupun waktu yang akan datang. Histori- cal mindedness menuntut dilakukannya studi yang luas terhadap seluruh aspek kehidupan darri periode yang diteliti itu. Masalahnya adalah timbulnya keragu- raguan terhadap ketersediaan sumber yang dibutuhkan. Untuk mengatasinya dapat menggunakan konsep atau teori dari disiplin ilmu sosial selama konsep dan teori itu relevan dengan fakta yang ditemukan. Untuk memahami suatu tindakan manu- sia pada periode tertentu, seorang sejarawan harus dapat menempatkan dirinya pada periode yang sedang diteliti itu. Terkait dengan itu semua, metodologi yang diterapkannya harus multidimensional.

70

Bagaimana teori dan metodologi multidimensional diterapkan dalam studi sejarah Indonesia? Pada sekitar tahun 1970-an, historiografi Indonesia masih berkutat di sekitar visi dan konsepsi historis sehingga umumnya bersifat spekulatif dan tidak kritis-analitis. Penelitian seperti ini ternyata tidak diimbangi oleh suatu kegiatan penelitian sejarah berdasarkan sumber-sumbernya. Jenis penelitian seja- rah seperti sangat membantu kita dalam upaya merealisasikan Historiografi Indo- nesia yang bersifat Indonesiasentris.

Pada hakikatnya, penggunaan metodologi dalam studi sejarah sangat erat hubungannya dengan jenis historiografi yang akan dihasilkan. Metodologi hanya akan dipergunakan apabila jenis sejarah yang akan dihasilkan bersifat kritis-anali- tis. Jadi, tidak semata-mata merekonstruksi masa lampau dalam sebuah cerita atau kisah, tetapi hendak mengetahui juga struktur terdalam dari peristiwa tersebut. Nilai strategis dari pendekatan multidimensional yaitu daya penerangnya utuk mengatasi pendekatan yang berakar pada filsafat tertentu dan menimbulkan de- terminisme. Dengan konsep dan teori dari ilmu sosial, fakta-fakta historis dapat distrukturilasasikan dan berbagai aspek dari fenomena sejarah dapat dirumuskan sehingga masalah-masalah kausalitas dan objektivitas dapat dicakup dalam pen- dekatan ini. Jadi dengan perkataan lain, penggunaan metodologi yang multidi- mensional akan menambah sensitivitas sejarawan terhadap permasalahan-perma- salahan, memperkuat kemampuan sejarawan dalam mengkonseptualisasi dan menganalisis, dan meningkatkan kemampuan sejarawan dalam proses pengum- pulan data.

71

Sebagai suatu langkah untuk mengatasi kesatupihakan dari sejarah kon- vensional dengan dominasi sejarah politik, scope penelitian sejarah harus diper- luas sesuai dengan berbagai kepentingan dan aktivitas manusia. Fenomena historis sebagai kompleksitas dapat diinterpretasikan menurut ekonomi, sosiologi, antro- pologi, atau politikologi. Hal tersebut mendorong ilmu sejarah untuk menyusun metodologi baru dalam proses penelitian dan penulisan sejarah. Inti dari metodo- logi itu sendiri adalah pendekatan apa yang akan diterapkan untuk meneliti suatu bidang kajian sejarah. Dengan perkataan lain, penggunaan seperangkat konsep dan teori merupakan alternatif terbaik dalam melakukan penelitian dan penulisan sejarah nasional.

Terkait dengan itu, sejarawan dapat menggolong-golongkan fenomena empiris dan menetapkan hubungannya. Selain itu, dengan konsep dan teori, per- masalahan mengenai data dapat diperluas dan keadaan historis dapat ditempatkan dalam konteks tertentu. Sejarawan mulai lebih memperhatikan soal tendensi-ten- densi, pola, dan struktur dari fenomena historis. Penggunaan metodologi ini dalam penelitian dan penulisan sejarah Indonesia, seperti yang telah dilakukan oleh be- berapa sarjana, telah mampu mengungkap struktur masyarakat, golongan sosial, struktur birokrasi, dan golongan elite. Dengan demikian, kontinuitas sejarah Indo- nesia selama masa penjajahan dapat dikemukakan.

Terkait dengan harapan terwujudnya Historiografi Indonesia yang bersi- fat Indonesiasentris, beberapa aspek penelitian sejarah Indonesia yang perlu men- dapat perhatian adalah segi mesianistis, gerakan sosial, dan kepemimpinan. Ketiga

72

aspek ini diyakini melibatkan bangsa Indonesia sehingga apabila dapat diungkap historiografi yang dihasilkannya akan bersifat Indonesiasentris.

Mesianistis, terlepas dari beragamnya versi tentang mesianistis yang sa- lah satunya adalah Pralambang Jayabaya, intinya adalah suatu ramalan akan ke- datangan Ratu Adil yang akan membawa kemakmuran dan keadilan. Harapan ter- sebut menjadi salah satu motif utama dari kejadian-kejadian yang kemudian di- kenal dengan nama gerakan sosial. Harapan masa depan yang penuh keadilan dan kemakmuran yang dibawa oleh Ratu Adil ditujukan kepada raja-raja yang akan melenyapkan segala kekacauan dan kejahatan. Raja-raja itu akan memerintah dengan adil sehingga kerajaan akan menjadi makmur lagi dan berdiri dengan se- gala keadilannya. Raja-raja dimaksud telah ditentukan menurut kronologisnya: Tanjung Putih tahun 1700, Erucakra abad ke-19, Prabu Asmarengkung yang me- merintah pada masa menjelang kedatangan Imam Mahdi pada akhir zaman. Masa menjelang kedatangan raja-raja itu ditandai dengan gejala alam dan masyarakat: bencana alam, tata susila merosot, kejahatan merajalela, dan kehidupan rakyat begtu sengsara. Saat itulah, Ratu Adil akan datang melenyapkan semua kesengsa- raan dan kejahatan serta menggantikannya dengan keadilan dan kemakmuran.

Dalam Pralambang Jayabaya, Ratu Adil digambarkan sebagai tokoh yang sakti sehingga akan mampu menegakkan kembali keadilan dan kemakmuran. To- koh yang akan membawa keadilan dan ketertiban dinmi wetgever dan tokoh yang akan membawa ketertiban etis dan religius lazim dinamai nabi. Sulit memasukkan

73

Ratu Adil ke dalam salah satu tokoh mesianistis itu karena Ratu Adil memiliki unsur-unsur keempat kategori tokoh mesianistis itu.

Erat kaitannya dengan Ratu Adil adalah harapan yang berkaitan dengan unsur eskatologi yakni sampainya pada akhir zaman yang penuh dengan keten- traman, kemakmuran, keadilan, dan ketertiban. Dalam hal ini, pengaruh Islam ma- suk yang ditandai dengan proses islamisasi Imam Mahdi yang akan menghancur- kan nabi palsu, Dajjal, dan kemudian menegakkan hukum Islam. Eskatologi Islam menempatkan regenerasi setelah hari kiamat pada waktu metahistoris yang tran- senden. Sementara itu, pemerintahan Ratu Adil terjadi pada zaman historis. Na- mun yang pasti, eskatologi religius mengharapkan penegakkan hukum agama; eskatologi sosial mengharapkan masyarakat yang makmur; dan eskatologi etis mengharapkan keadilan dan ketatasusilaan yang tinggi. Orientasi kepada eskaton (perkara-perkara yang terakhir) ini menjadikan mesianisme suatu pandangan hi- dup atau falsafah sejarah.

Gerakan-gerakan mesianistis banyak yang dipengaruhi oleh unsur reli- gius sehingga gerakannya menjadi suatu aksi suci. Gerakan melawan orang asing berubah menjadi perang sabil melawan kaum kafir dengan tujuan menegakan hu- kum Islam. Mesianistis memiliki potensi untuk berkembang menjadi suatu gera- kan yang bertendensi nasionalistis yang bersifat nativistis. Potensi ini dapat dige- rakan untuk mengadakan perlawanan terhadap kolonialisme atau membangkitkan semangat revivalistis.

74

Sampai tahun 1970-an, gerakan sosial sebagai sebuah fenomena dari se- jarah Indonesia masih kurang mendapat perhatian dari para sejarawan Indonesia. Hal ini mudah saja untuk dipahami karena bangsa Indonesia telah diwarisi penuli- san sejarah yang bersifat Eropasentris. Dalam pandangan ini tidak ada tempat un- tuk melihat peranan rakyat kecuali kalau dihadapkan sebagai musuh bagi Peme- rintah Hindia Belanda. Gerakan sosial, seperti pemberontakan petani, gerakan ratu adil, dan revivalisme agama tidak disinggung-singgung karena sifatnya yang pra- politis dan terlalu kecil artinya bagi peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah ko- lonial.

Agar peran bangsa Indonesia muncul ke permukaan seperti yang diama- natkan dalam Seminar Nasional Sejarah Indonesia I tahun 1957, gerakan sosial perlu menjadi lapangan penelitian sejarah. Untuk dapat mengungkap berbagai as- pek dari gerakan sosial, pendekatan struktural perlu diterapkan menggantikan pendekatan kovensional politik kolonial. Dengan pendekatan ini akan berhasil di- ungkap struktur sosial, struktur birokrasi, dan struktur kekuasaan dalam masyara- kat tradisional. Untuk meneliti gerakan sosial, sudah barang tentu dibutuhkan se- perangkat teori dan metodologi untuk menyeleksi dan menyusun fakta-fakta. De- mikian juga ketersediaan sumber karena Pemerintah Hindia Belanda menerapkan kebijakan untuk mengawasi secara ketat terhadap tindak tanduk rakyat yang di- duga memiliki kecenderung untuk berkembang menjadi sebuah gerakan sosial. Pengawasan itu tentunya ada laporan tertulisnya meskipun mudah ditebak hanya untuk gerakan yang begitu dramatis.

75

Sebagai aktivitas kolektif, gerakan sosial bertujuan hendak mewujudkan atau atau menolak suatu perubahandari susunan masyarakat yang acapkali dila- kuka dengan jalan radikal dan revolusioner. Pendekatan multidimensional akan sangat membantu untuk mengungkap gerakan sosial, terutama konsep dan teori sosiologi, antropologi, dan politik. Penulisan gerakan sosial akan sangat mem- bantu kita yang berupaya mewujudkan historiografi Indonesia yang Indonesia- sentris.

Dominasi Barat beserta perubahan sosial yang mengikutinya, telah men- ciptakan suatu kecenderungan bagi rakyat untuk melakukan gerakan sosial. Peru- bahan sosial dimaksud, di antaranya runtuhnya pranata-pranata sosial yang sebe- lum kedatangan Barat berperan secara mapan di tengah kehidupan masyarakat. Dominasi Barat di bidang ekonomi, politik, dan budaya telah menyebabkan terja- dinya disorganisasi masyarakat tradisional beserta lembaga-lembaganya. Masuk- nya ekonomi uang faktor produksi: tanah, tenaga kerja, dan hasil bumi, diperda- gangkan dan pajak diterapkan sehingga menambah beban rakyat. Di bidang poli- tik, banyak ketegangan dan ketidakstabilan sebagai akibat penetrasi yang semakin meluas dari administrasi yang bersifat regal-rasional.

Gerakan sosial lazimnya dianggap sebagai gerakan yang bersifat arkhais karena organisasinya, programnya, strateginya, dan tan taktiknya masih terlalu sederhana jika dibandingkan dengan gerakan sosial modern, seperti: fasisme, ko- munisme, sosialisme, dan sebagainya. Ciri lain dari gerakan sosial adalah berusia pendek, cakupan gerakan lokal atau regional dan tidak ada koordinasi antargera-

76

kan, bersifat mesanistis, milerianistis, dan nativistis. Oleh Pemerintah Kolonial, gerakan sosial itu disebut dengan istilah gangguan ketentraman (rustverstoring), huru hara (woelingen), kerusuhan (onlusten), atau gerakan rohani (geestdrijverij).

Gerakan sosial yang terjadi sepanjang abad ke-19 dan awal abad ke-20 terutama yang terjadi di Pulau Jawa, dibagi ke dalam beberapa kelompok menurut tendensnya yang dasar. Pertama, perbanditan sosial yang mencakup perampokan, pengecuan, penyamunan, yang bertentangan dengan pihak penguasa atau tata ter- tib masyarakat. Kedua, gerakan yang memprotes keadaan yang dirasakan tidak adil. Ketiga, gerakan yang bersifat revivalitas yaitu gerakan yang bertujuan agar rakyat lebih rajin menjalankan kewajiban agamanya. Keempat, gerakan yang ber- corak nativistis yang bertujuan hendak menegakkan kembali kerajaan kuno. Ke- lima, gerakan yang bersifat mesianistis yaitu gerakan yang mengharapkan keda- tangan ratu adil atau imam mahdi. Keenam, gerakan sosial yang dijiwai oleh se- mangat perang sabil.

Tidak kalah pentingnya dengan segi-segi mesinistis dan gerakan sosial, kepemimpinan dalam sejarah Indonesi merupakan satu bidang kajian sejarah yang sudah sepatutnya mendapat perhatian. Kepemimpinan di masyarakat Indonesia telah mengalami perkembangan dalam tiga fase, yakni kepemimpinan tradisional, kepemimpinan kharismatis, dan kepemimpinan yang legal-rasional.

Kepemimpinan dalam masyarakat tradisional berakar pada struktur sosial yang tersusun berdasarkan kelahiran, kekayaan, dan status. Kepemimpinan formal ada pada raja, bangsawan, dan golongan aristokrasi yang dikenal juga sebagai ke-

77

las menengah atau elite politik. Elite politik adalah mereka yang memegang ke- kuasaan di daerah, duduk di birokrasi, pengendali angkatan perang, pengadilan, dan urusan keagamaan. Dengan kekuasaan politik yang dimilikinya ditambah dengan kekayaan dan status sosialnya, mereka memiliki wilayah kehidupan yang terpisah dengan rakyatnya.

Kepemimpinan kharismatis didasarkan pada dimiliki tidaknya wahyu,

pulung, atau cahaya nurbuat oleh seseorang. Pendiri dinasti atau kerajaan menda- pat pulung dan akan terus berkuasa selama pulung itu hilang atau berpindah tem- pat. Apabila pulung itu pindah, maka dinasti akan runtuh dan kedudukannya se- bagai pemimpin kharismatis akan digantikan orang lain yang mendapat pulung.

Pulung digambarkan secara konkret sebagai benda bercahaya yang dapat bergerak di udara dan akan jatuh di tempat orang yang mendapat pulung itu. Kepemimpi- nan kharismatis tidak selamanya berkaitan dengan kekuasaan politik. Tidak sedi- kit kepemimpinan kharismatis ini bersinggung dengan aspek kehidupan lain. To- koh-tokoh agama dipandang memiliki kekuasaan kharismatis yang bisa karena kesaktiannya atau karena kedalaman ilmu keagamaannya.

Sementara itu, kepemimpinan di masyarakat modern tidak didasarkan atas sturktur sosial atau kharisma, melainkan pada aspek legal-rasional. Aspek ini lebih menekankan pendidikan, keterampilan, dan kecakapan seseorang. Sepanjang ketiga kriteria ini dimiliki, status sosial, keturunan, dan kekayaan menjadi tidak berarti. Demikian juga kharisma yang dimiliki seseorang tidak dapat dijadikan re- ferensi bagi seseorang untuk memiliki kekuasaan yang legal-rasional. Akan tetapi,

78

jenis kepemimpinan ini tidaklah secara murni diterapkan oleh pemerintah ko- lonial. Untuk birokrasi pribumi, aspek tradisional dan kharisma masih menjadi bahan pertimbangan dan pada kenyataannya di masyarakat masih tetap hidup.

Baik kepemimpinan tradisional, kharismatis, maupun legal-rasional se- lalu mendapat tekanan dari kelompok masyarakat yang secara informal dipandang sebagai pemimpin juga. Lazimnya mereka itu disebut sebagai counter elite yang memiliki potensi menghancurkan kemapanan kekuasaan elite selama syarat-sya- ratnya terpenuhi, seperti: munculnya ketimpangan sosial.

79

BAB V

Dalam dokumen Niat Zakat Fitrah Untuk Diri Sendiri (Halaman 65-80)