BAB III : ISLAM DAN SIMBOLISME DI INDONESIA
B. Historisitas Simbol
simbol selalu menunjuk pada hal di luar dirinya sendiri lalu pada sesuatu yang tidak dapat dikuantifi kasi dan misterius. Dengan demikian simbol, bagi Tillich, membuka dimensi kedalaman dari kenyataan itu sendiri.188
Simbol-simbol itu sendiri bersifat kompleks, dan maknanya bisa ber kembang ketika individu atau budaya berevolusi. Ketika sebuah simbol kehilangan makna dan kekuatannya bagi individu atau budaya, maka ia menjadi simbol mati. Kemudian, jika sebuah simbol diidentifi kasikan dengan realitas yang lebih dalam atau lebih sublim yang menjadi rujukannya, maka simbol akan bisa bertransformasi menjadi ‘berhala’ ketika simbol tercerabut dari akar realitasnya. Simbol itu sendiri bisa diganti dengan makna yang lebih dalam yang hendak diekspresikan dan disampaikannya. Sifat unik dari simbol ini merupakan akses ke lapisan realitas yang lebih dalam yang tidak dapat diakses.189
B. Historisitas Simbol
Sebagai produk kultural, simbol merupakan produk kebudayaan yang lahir melalui proses sejarah; simbol lahir tidak dari ruang kosong, melainkan berkait erat dengan aktivitas kultural manusia di ruang se jarah. Karenanya, tidak ada simbol yang sifatnya suprahistoris atau di luar koridor dan jangkauan sejarah.
Sejak lahir sampai meninggal, kehidupan manusia diliputi oleh bera gam ritual, upacara dan beragam pernak-pernik tradisi dengan berbagai jenis simbol yang menyertainya. Di dalam masyarakat Jawa misalnya, berlaku sebuah tradisi bahwa bagi orang yang meninggal di rumahnya dipasang lampu teplok atau lampu listrik yang tetap dinyalakan. Ini jelas praktik simbolik yang di baliknya terdapat makna atau maksud tertentu. Di balik tradisi itu terkandung sebuah harapan bahwa agar orang yang meninggal 188 Ibid
mendapat jalan yang terang sampai di tujuan, kembali kepada Allah SWT..
Di kalangan masyarakat Tionghoa berlaku sebuah keyakinan bahwa air dianggap sebagai simbol keberuntungan, karena air merupakan simbol harta dan kekayaan. Terjadinya air yang mengalir melewati pintu/gerbang utama rumah, oleh masyarakat Tionghoa dipandang sama saja menerima keberlimpahan harta dan kekayaan. Di kawasan masyarakat Pantura (Pantai Utara Jawa) sudah berabad-abad berlangsung tradisi Kupatan yaitu hari raya kecil yang terjadi tujuh hari paska hari raya Idul Fitri. Pada perayaan Kupatan ini, masyarakat di kawasan Pantura seperti Jepara, Pati, Kudus dan sekitarnya memasak makanan khas yaitu
ketupat (kupat) dan lepet. Ketupat merupakan makanan yang
terbuat dari beras dan dibungkus dengan janur dengan bantuknya persegi empat. Kemudian lepet merupa kan makanan yang terbuat dari ketan dan parutan kelapa yang juga dibungkus dengan janur dengan bentuknya yang bulat panjang (lonjong).
Pertanyaannya kemudian kenapa di hari raya kecil yang terjadi tujuh hari paska Idul Fitri itu yang digunakan adalah kupat dan lepet. Kedua makanan ini sesungguhnya simbol mengenai tentang tradisi saling memaafkan dan kembalinya manusia (ummah Islam) yang kembali fi tri paska melaksanakan ibadah puasa dan zakat fi trah di malam Idul Fitri. Dalam fi losofi Jawa, ketupat lebaran bukanlah sekedar hidangan khas hari raya lebaran. Ketupat atau kupat sendiri mempunyai makna khusus. Ketupat atau kupat dalam bahasa Jawa kononmerupakan kependekan dari istilah Ngaku Lepat (Mengaku salah) dan Laku Papat (Tindakan empat).
Istilah Ngaku lepat (Mengaku salah) ini jelas sangat terkait dengan aktivitas di hari raya Idul Fitri, di mana di momentum ini semua ummah Islam saling meminta maaf kepada sesamanya, terutama kepada kedua orangtua, guru dan saudara, sebagai
wujud pengakuan salah. Sementara Laku papat (Tindakan empat) merujuk pada empat kegiatan di momen Idul Fitri: 1). Lebaran [berakhirnya puasa].2). Luberan [artinya: meluber ini merupakan tradisi bersedekah/meluberkan sebagian rezeki kepada faqir miskin yang diwujudkan dalam zakat fi trah, sedekah dan infaq di hari raya Idul Fitri], 3). Leburan [leburnya salah dan dosa kita], dan 4). Laburan [berasal dari kata labur yang berarti kapur. Ini menandakan di momentum Idul Fitri itu telah mensucikan dirinya dari segala dosa dan kesalahan sehingga dirinya kembali putih dan bersih layaknya sebuah kapur). Dari makna ini, Ketupat atau
kupat ini bermakna selesainya ibadah puasa yang disempurnakan
dengan zakat fi trah dan saling memaafk an pada hari raya Idul Fitri sehingga lahirlah diri manusia yang kembali bersih dan suci. Selain kupat, masyarakat Pantura juga membuat lepet. Berbeda dari kupat yang berbentuk segi empat, lepet lebih lonjong dan ditali atau diikat dengan tiga tali. Lepet secara kebahasaan berasal dari kata Jawa: lepat yang artinya salah. Atau ada yang menyatakan berasal dari ungkapan silep kang rapet (ikat yang rapat). Artinya, makanan lepet yang dibungkus janur dan diikat tiga itu mempunyai makna segala kesalahan haruslah dilebur dan ditutup rapat alias diakhiri jangan samapai kesalahan itu diulangi kembali. Lepet yang diikat dengan tiga tali itu menunjukkan hendaknya berbagai kesalahan yang telah termaafk an jangan diulangi lagi di masa-masa yang akan datang. Jadi makan kupat dan lepet di momen lebaran Kupatan itu artinya, diri kita yang sudah bersih dan suci karena berpuasa, zakat fi trah dan saling memaafk an itu hendaknya dipertahankan terus dengan cara menutup sepenuhnya perilaku-perilaku yang mengandung dosa; kesucian dan kebersihan diri itu harus dipertahankan dengan cara tidak mengulangi kesalahan dan dosa.
Dari contoh di atas, menunjukkan bahwa kehidupan manusia sejak dulu hingga sekarang ini tidak bisa dilepaskan dari yang
namanya simbol. Dalam menjalankan aktivitas kehidupan dan komunikasi sosial, manusia senantiasa menggunakan simbol sebagai medianya. Dari sinilah manusia kemudian disebut dengan makhluk simbolik (homo symbolicum). Dengan status dan eksistensinya yang seperti ini, maka di antara hal yang digeluti oleh manusia selama hidupnya dalam ruang sejarah ini adalah aspek simbolisme. Sehingga simbol itu sendiri merupakan bagian dari historisitas atau kesejarahan ummah manusia. Sebagai bagian dari nilai historis manusia, simbol muncul melalui refl eksi dan ijtihad ummah manusia.
Dalam kerangka interaksi simbolik, simbol menjadi perhatian utama sebagai media komunikasi atau interaksi sosial. Proses terjadinya interaksionisme simbolik ini berakar pada hakikat eksistensialisme manusia sebagai makhluk relasional, di mana bahwa setiap individu atau personal tentu terlibat hubungan dengan sesamanya. Dalam proses interaksi atau relasi sosial ini, manusia membutuhkan simbol-simbol tertentu. Simbol-simbol sebagai media interaksi sosial ini tentunya telah disepakati bersama, baik dalam skala kecil maupun skala besar. Bahasa, tulisan, ritual, tradisi dan jenis-jenis lainnya diciptakan untuk membangun interaksi sosial dalam ruang sejarah itu. Pada akhirnya, interaksi sosial melalui perangkat simbol ini jika dilakukan dengan baik, benar, dan dipahami secara utuh makna di balik simbol yang digunakan, maka akan bisa melahirkan berbagai kebaikan dan kemajuan dalam hidup manusia.190
Jadi, kehidupan manusia dalam ruang-waktu sejarah ini tidak bisa lepas dari eksistensi simbol sehingga simbol itu sendiri bagian dari sejarah ummah manusia dalam membangun peradabannya. Karenanya, simbol merupakan sesuatu yang sifatnya historis karena keberadaannya tidak bisa lepas dari kesejarahan ummah 190 Dadi Ahmadi, “Interaksi Simbolik”, Jurnal Media Tor, Vo. 9. No.2., Desember
manusia di muka bumi. Simbol merupakan entitas yang terdapat dalam ruang-waktu sejarah ummah manusia.