• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makna Simbol

Dalam dokumen Islam Lokalitas dan Kebhinekaan (Halaman 130-136)

BAB III : ISLAM DAN SIMBOLISME DI INDONESIA

A. Makna Simbol

BAB III

Islam dan Simbolisme di Indonesia

A. Makna Simbol

Sebagai bentuk hubungan kultural, maka relasi antara Islam dan lokalitas di Indonesia tidak bisa lepas dari fenomena simbolis. Nilai-nilai kultural dan tradisional sebagai wujud dari akulturasi Islam dan lokalitas itu, banyak diwujudkan dalam bentuk-bentuk simbolik. Taruhlah misalnya, ritual selametan, kenduren, ziarah kubur, doa tujuh hari, empat puluh hari, hingga seribu hari untuk mendoakan orang yang meninggal dunia, halal bi halal, syawalan, padusan, kupatan dan sejenisnya. Kemudian jenis-jenis pakaian yang dikenakan, terutama yang digunakan untuk ritual atau beribadah seperti Sorjan, Sarung dan sebagainya juga bagian dari fenomena simbolik yang dihasilan dari akulturasi antara nilai-nilai Islam dan budaya lokal. Di balik jenis-jenis dan bentuk-bentuk simbol itu bersemayam makna dan nilai-nilai Islam.

Apa sesungguhnya fenomena simbol itu, sehingga turut juga me warnai bahkan membingkai proses terjadinya relasi antara Islam dan lokalitas, terutama yang ada di Nusantara? Simbol secara bahasa berasal dari bahasa Yunani symballo yang mempunyai arti ‘melempar bersama-sama’. Simbol dalam artian literalnya ini kemudian bermakna melempar atau meletakkan bersama-sama dalam satu sistem ide atau gagasan objek yang nampak oleh mata, sehingga objek tersebut dipandang mewakili dari ide atau gagasan.

Dalam fungsinya sebagai representasi dari gagasan atau ide inilah, simbol diwujudkan dalam gambar, bentuk, gerakan, atau benda yang mewakili suatu gagasan.

Meskipun simbol sesungguhnya bukan nilai itu sendiri, ia hanya sebuah representasi. Dalam perspektif Saussurian, simbol merupakan penanda (signifer) yang merepresentasikan sebuah makna atau petanda (signifed). Simbol dengan demikian hadir bukan karena dirinya, melainkan karena yang lain yaitu makna atau gagasan yang ada di baliknya. Bentuk simbol karenanya bisa beragam. Ia tidak hanya hal-hal material yang kasat mata, tetapi juga bisa berupa hal-hal yang non-material seperti ucapan, suara dan gerakan.

Simbol bisa membuat seseorang atau sebuah kelompok masyarakat melampaui apa yang diketahui atau dilihat dengan menciptakan hubungan antara konsep dan pengalaman yang sangat berbeda. Hal yang lebih vital adalah bahwa simbol inilah yang memungkinkan masyarakat untuk berinterksi, berkomunikasi bahkan bekerjasama. Bahasa yang digunakan sehari-hari oleh sebuah masyarakat atau komunitas sejatinya juga sebuah simbol. Melalui simbol yang berupa bahasa inilah, masya-rakat bisa saling berinteraksi dan berkomunikasi. Mereka melalui simbol ini, bisa melakukan kerjasama.

Bukan hanya bahasa. Produk kultural lainnya sesungguhnya juga simbol. Serangkaian tradisi, upacara atau ritual juga tergolong sebagai realitas simbol. ummah beragama yang melakukan ibadah, salat atau jenis-jenis upacara ritual lainnya sesungguhnya telah mempraktikkan serangkaian simbol. Di dalam sistem simbol yang tercermin dari wujud ritual dan seremoni itulah terdapat sistem makna. Salat sendiri, dalam agama Islam sesungguhnya merupakan laku simbolik. Di balik ritual salat itu terkandung makna dan nilai. Makna atau nilai di balik simbol ini sejatinya adalah hal-hal yang terkait dengan kenyataan dan kehiduan sosial.

Karenanya orang yang salat tetapi perilakunya dalam dunia sosial buruk, akan dicap sebagai orang yang beribadah sebatas simbolik. Dalam konteks sosial, apa yang disebut “simbol” sesungguhnya sarana komunikasi kompleks yang sering kali mengandung beragam lapis makna.180 Dari fungsinya sebagai medium komunikasi ini, simbol merupakan dasar dari semua pemahaman manusia dan berfungsi sebagai kendaraan konsepsi untuk semua pengetahuan manusia.181 Simbol menjadi perantara sekaligus media yang memfasilitasi pemahaman tentang dunia di mana manusia hidup, sehingga menjadi dasar penilaian bagi manusia itu sendiri terhadap lingkungan sekitarnya.182 Namun, dalam kerangka komunikasi ini, manusia menggunakan simbol sesungguhnya tidak hanya untuk memahami dunia di sekitar mereka, tetapi juga untuk mengidentifi kasi dan bekerja sama dalam masyarakat melalui retorika konstitutif.

Dalam konteks sosial-politik, manusia, masyarakat atau bangsa menggunakan simbol untuk mengekspresikan dan mengkomunikasikan ideologi dan struktur sosial juga untuk meneguhkan budaya spesifik mereka. Maka, makna yang terekspresikan oleh simbol sangat bergantung pada latar belakang budaya seseorang. Dengan kata lain, makna simbol tidak hanya melekat pada simbol itu sendiri tetapi juga diinterpretasikan atau direspon secara kultural oleh manusia di luar dirinya.183 Sebagai media komunikasi, simbol juga digunakan untuk mempengaruhi pikiran dan pemikiran orang lain. Simbol bahkan menjadi alat yang sangat efektif untuk mempengaruhi dan menggerakkan 180 Mari Womack, Symbols and Meaning: A Concise Introduction ( California:

AltaMira Press, 2005), hlm.22

181 Susanne K. Langer , A Th eory of Art, Developed From: Philosophy in a New Ke, ( New York: Charles Scribner’s Sons, 1953), 30

182 Catherine Palczewski and Ice, Richard, and Fritch, John, Rhetoric in Civic

Life, (Pennsylvania: Strata Publishing, Inc., 2012), 60.

masyarakat. Seringkali sebuah ideologi atau pemikiran dijelaskan secara retoris dan verbal kepada khalayak, namun artikulasi yang verablistik dan retoris itu tidak bisa menyentuh jiwa dan pikiran masyarakat.

Tetapi, ketika ideologi dan pemikiran itu disosialisasikan dengan simbol tertentu, maka hal ini akan mudah menarik perhatian masyarakat dan nilai-nilai ideologis dan pemikiran di balik simbol itu mudah sekali merasuk dan mempengaruhi mereka. Dengan memandang efek atau dampak simbol terhadap dimensi psikologis atau jiwa seseorang atau masyarakat ini, Joseph Campbell kemudian mendefenisikan simbol sebagai energi yang membangkitkan, dan mengarahkan, agen.184

Dalam penjelasannya lebih lanjut, Campbell menyatakan bahwa se buah simbol, seperti aspek kultural lainnya menunjukkan aspek ganda. Dalam hal ini, Campbell membedakan antara ‘pengertian’ (sense) dan ‘makna’ (meaning) dari simbol. Menurut Campbell semua sistem simbolik ini, dalam konteks pengertian, baik yang besar maupun kecil di masa lalu secara simultan mempunyai fungsi pada tiga tingkatan: penopang kesadaran, spiritual mimpi, dan tak terlukiskannya hal-hal yang sungguh tak bisa diketahui. Kemudian dalam konteks makna (meaning) simbol, kata Campbell,hanya bisa merujuk pada dua hal dari tiga hal yang pertama di atas.

Tetapi sekarang ini, simbol lebih berada dalam ranah ilmu pengetahuan (sains). Sementara itu, pada aspek ‘yang tak terlukiskan’, oleh Campbell tidak dimasukkan ke dalam kategori simbol melainkan tanda. Untuk aspek ‘yang tak terlukiskan’ ini, yang sama sekali tidak dapat diketahui, hanya bisa dirasakan. Dari statusnya yang seperti inilah yang barangkali membuat Campbell tidak memasukkannya ke dalam ilmu pengetahuan 184 Joseph Campbell, Flight of the Wild Gander:- Th e Symbol without Meaning,

sebab, yang masuk kategori ilmu pengetahuan tentu saja bukan hanya bisa diketahui tetapi juga bisa diobervasi dan diteliti. Alih-alih memasukkannya ke dalam ranah sains, Campbell memasukkan hal yang tak terlukiskan itu ke dalam ranah seni (art). Sebagai bagian dari seni, aspek ini bukan ‘ekspresi’ semata, melainkan juga wahana pencarian, dan perumusan, pengalaman yang membangkitkan dan membangkitkn energi. Hal inilah yang Herbert Read disebut juga dengan pencerapan terhadap kenyataan yang lebih bertumpu pada perasaan.185

Dari pengertian yang diintrodusir lebih Campbell itu bisa ditarik se buah pemahaman bahwa simbol sesungguhnya berbeda dengan tan da. Simbol masuk kategori pengetahuan, sementara tanda lebih masuk pada kategori seni atau perasaan karena yang terakhir ini lebih berkaitan dengan hal-hal yang tak terlukiskan secara absolut. Kenyataan yang masuk kategori tanda ini tidak bisa diketahui melainkan hanya bisa dirasakan, kehadirannnya. Tanda kemudian lebih dekat dengan seni. Pengertian alternatif tentang ‘simbol’, sebagai sesuatu yang berbeda dengan istilah ‘tanda’ ini juga dicetuskan oleh psikoanalis Swiss Carl Jung.

Namun berbeda dengan Campbell, Jung justru berpandangan bahwa simbol lebih berhubungan dengan hal-hal yang tak diketahui dan sebaliknya dengan tanda. Dalam studinya tentang apa yang sekarang disebut ‘arketipe Jungian’ (Jungian archetypes) dijelaskan bahwa tanda hadir untuk sesuatu yang diketahui, sebagai sebuah kata yang menjadi rujukan (referensi) atau penanda bagi sesuatu yang yang tak bisa disentuh oleh pengetahuan itu. Dalam pengertian ini, maka tanda oleh Jung dibedakan dengan simbol. Simbol dalam kerangka Jungian ini didefi nisikan sebagai sesuatu yang tidak diketahui dan yang tidak bisa dibuat jelas atau tepat. Salah satu contoh dari simbol dalam pengertian ini, kata Jung,adalah Kristus sebagai simbol pola dasar yang disebut diri. 185 Ibid

Simbol kemudian melahirkan sebuah nilai yang disebut dengan simbolis. Nilai simbolis ini secara umum dibagi menjadi tiga: Ideologis, komparatif, dan isomorfi k. Nilai-nilai ideologis seperti yang terdapat di dalam simbol-simbol agama dan negara mengekspresikan serangkaian keyakinan, ide dan gagasan kompleks yang menunjukkan ‘sesuatu yang benar untuk dilakukan’. Sementara itu, nilai komparatif bisa dilihat dalam serangkaian simbol alamat kantor yang bergengsi, seni rupa, dan beberapa jenis penghargaan, di mana ilai-nilai ini menunjukkan makna bahwa sesuatu ‘lebih baik atau lebih buruk’ dari sesuatu yang lain, atau sesuatu lebih unggul atau lebih rendah dari sesuatu yang lain.

Dan nilai isomorfi k berbaur dengan lingkungan budaya sekitarnya sehingga memungkinkan individu dan komunitas masyarakat harus menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan menghindari pengawasan sosial dan politik. Contoh nilai isomorfi k yang berada dalam fenomena simbolik ini adalah mengenakan pakaian profesional selama pertemuan bisnis, atau mengenakan pakaian resmi ketika di kantor, berjabat tangan untuk menyambut orang lain dan sejenisnya. Dalam hal ini, sebuah simbol tunggal dapat mengandung banyak makna yang berbeda sehingga memberikan berbagai jenis nilai simbolik.186

Seorang pemikir kebudayaan, Paul Tillich berpandangan bahwa sementara tanda-tanda diciptakan dan dilupakan, simbol-simbol dilahirkan dan mati. 187 Karena itu, kata Tillich, ada simbol mati dan hidup. Simbol yang hidup, kata Tillich, bisa mengungkapkan level makna tersembunyi dan transenden. Hal ini pula yang disebut dengan realitas religius individual. Bagi Tillich, 186 Andrew K. Schnackenberg; Bundy, Jonathan; Coen, Corinne; Westphal, James. “Capitalizing on Categories of Social Construction: A Review and Integration of Organizational Research on Symbolic Management Strategies”.

Academy of Management Annals.,.2017.

simbol selalu menunjuk pada hal di luar dirinya sendiri lalu pada sesuatu yang tidak dapat dikuantifi kasi dan misterius. Dengan demikian simbol, bagi Tillich, membuka dimensi kedalaman dari kenyataan itu sendiri.188

Simbol-simbol itu sendiri bersifat kompleks, dan maknanya bisa ber kembang ketika individu atau budaya berevolusi. Ketika sebuah simbol kehilangan makna dan kekuatannya bagi individu atau budaya, maka ia menjadi simbol mati. Kemudian, jika sebuah simbol diidentifi kasikan dengan realitas yang lebih dalam atau lebih sublim yang menjadi rujukannya, maka simbol akan bisa bertransformasi menjadi ‘berhala’ ketika simbol tercerabut dari akar realitasnya. Simbol itu sendiri bisa diganti dengan makna yang lebih dalam yang hendak diekspresikan dan disampaikannya. Sifat unik dari simbol ini merupakan akses ke lapisan realitas yang lebih dalam yang tidak dapat diakses.189

Dalam dokumen Islam Lokalitas dan Kebhinekaan (Halaman 130-136)