Karena analisa teknikal juga menggambarkan faktor psikologis para pelaku pasar, maka pergerakan historis dapat dijadikan acuan untuk memprediksi pergerakan harga pasar di masa yang akan datang. Pola historis ini dapat terlihat dari waktu ke waktu di grafik. Pola-pola ini mempunyai makna yang dapat diintepretasikan untuk memprediksi pergerakan harga saham.
a) Supply and Demand
Pasar modal sebenarnya adalah perwujudan dari tawar-menawar, hanya saja barang yang diperjualbelikan adalah surat-surat berharga berupa saham, obligasi, waran, right dan lain sebagainya.
Karena banyaknya pembeli dan penjual serta tingginya varisai ekspektasi antara investor satu dengan yang lainnya, maka mekanisme pasar modal diatur dengan menggunakan model lelang. Model lelang disusun berdasarkan logika penjual dan pembeli. Penjual sebagai pemilik barang jelas akan berupaya mendapatkan harga sebesar-besarnya, sedangkan pembeli ingin mendapatkan barang dengan harga semurah-murahnya.
Untuk mengatur terjadinya transaksi atas penawaran-penawaran tersebut, maka dibuat suatu model lelang dengan cara mempertemukan harga penawaran yang terbaik untuk membeli maupun menjual.
Asumsi dasar dalam analisa teknikal adalah bahwa harga sangat ditentukan oleh keseimbangan antara supply dan demand. Dimana jika terjadi ekses supply (kelebihan supply atas demand), maka harga akan jatuh dan demikian sebaliknya, jika terjadi ekses demand, maka harga akan naik.
b) Trend
Trend atau kecenderungan pergerakan dalam suatu arah harga adalah salah satu terminologi terpenting dalam melakukan analisa teknikal, karena pada dasarnya analisa teknikal itu sendiri dikembangkan atas sebuah asumsi dasar, yaitu harga bergerak dalam sebuah kecenderungan (trend) itu sendiri.
Karena itu indikator-indikator yang terdapat dalam analisa teknikal modern atau yang sering disebut candlestick sebenarnya hanyalah merupakan alat untuk mendapatkan indikasi apakah trend harga itu akan muncul, berakhir, berlanjut, atau berubah. Setelah menemukan indikasi awal mengenai arah pergerakan trend harga, investor dapat mengambil keputusan apakah akan melakukan aksi buy, sell, atau hold.
Garis trend akan tetap berlaku selama tidak terjadi penetrasi atau penembusan oleh pergerakan harga. Dalam hal ini, garis trend akan memiliki perilaku yang sama dengan garis support dan resistance. Secara garis besar, garis trend dapat dibagi menjadi tiga, yaitu:
• Trend meningkat (uptrend)
Adalah garis yang memiliki kemiringan positif. Dibentuk dari minimal dua titik harga terendah. Dengan catatan titik harga terendah kedua harus berada di atas titik terendah pertama. Kenaikan harga yang didukung oleh suatu pertumbuhan demand, menunjukkan uptrend yang terjadi. Uptrend akan tetap valid selama harga yang terbentuk di pasar tetap berada di atas atau setara dengan uptrend line itu sendiri. Jika harga yang dibentuk di pasar mulai menembus uptrend line, maka dikatakan bahwa trend itu akan berakhir.
• Trend menurun (downtrend)
Kebalikan dari uptrend, downtrend dibentuk dengan cara menghubungkan minimal dua titik harga tertinggi dan memiliki kemiringan negative.
• Trend mendatar (horizontal trend)
Dalam analisa teknikal garis uptrend berlaku sama seperti garis support dan garis downtrend berlaku seperti garis resistance, sedangkan garis horizontal trend akan berlaku sebagai garis support dan resistance sekaligus.
c) Support and Resistance
Adalah sebuah titik batas atas (resistance) dan batas bawah (support) dari pergerakan harga. Titik support adalah sebuah level (titik/tingkat/range) dimana pada level harga tersebut akan timbul minat beli yang lebih kuat dari minat jual. Kondisi ini akan mengakibatkan terjadinya ekses demand yang akan meningkatkan harga di pasar, sehingga menghentikan trend penurunan harga. Sebaliknya titik resistance adalah sebuah level (titik/tingkat/range) dimana akan timbul penguatan minat jual yang lebih besar dibandingkan minta beli, yang secara otomatis akan mengakibatkan timbulnya ekses supply, sehingga mengakibatkan turunnya harga saham.
Contoh dalam satu bulan terakhir harga terendah (titik support) suatu saham adalah Rp 500 perlembar saham, maka jika batas harga terendah ini
tertembus, missal menjadi Rp 400, maka level Rp 500 akan menjadi batas atas pergerakan saham (resistance). Jika dalam satu bulan terakhir tingkat resistance (batas atas pergerakan harga) berada di level Rp 1.500 per saham, maka jika pergerakan harga saham menembus batas atas tersebut (contoh Rp 1.600 per saham), maka level harga Rp 1.500 itu akan menjadi garis support bagi pergerakan harga saham yang baru. Biasanya garis support dan resistance dibentuk dari batasan tertinggi dan terendah dari range transaksi selama satu tahun terakhir, karena dianggap mempunyai tingkat validasi yang tinggi.
d) Overbought and Oversold
Secara harfiah, overbought dapat diartikan sebagai kondisi jenuh beli, sedangkan oversold dapat dikatakan sebagai kondisi jenuh jual. Kondisi jenuh beli muncul setelah terjadinya aksi beli selama beberapa waktu, sementara aksi jenuh jual terjadi setelah terjadinya aksi jual selama beberapa waktu.
Di pasar para pembeli memiliki batas harga tertinggi yang akan mereka bayar untuk memperoleh sebuah barang atau jasa, sedangkan penjual memiliki batas harga minimal yang mereka akan terima untuk menjual barang atau jasa mereka.
Mekanisme overbought dan oversold juga bekerja dengan cara yang sama. Titik overbought adalah titik dimana harga telah mencapai level tertinggi yang dapat diterima oleh pembeli, karena itu untuk melakukan transaksi berikutnya mau tidak mau penjual harus menurunkan harga jualnya.
Pembentukan titik harga tertinggi yang dapat diterima oleh pembeli ini dapat didasarkan atas berbagai macam pertimbangan, yaitu dapat berupa target
keuntungan maksimum jangka pendek, atau dapat pula berupa batas harga teoritis maksimum yang biasanya didasarkan atas beberapa variabel, seperti: Price per Earning Ration, Growth Rate, PBV, dan lain-lain.
Setelah harga mencapai harga maksimum yang dapat diterima oleh pembeli, maka kenaikan harga akan berhenti dan kemungkinan besar akan mengalami perubahan arah (trend reversal). Penurunan harga ini sebagian besar diakibatkan oleh aksi jual yang dilakukan oleh investor guna mendapatkan keuntungan.
Kondisi oversold dapat pula diterangkan dengan menggunakan kurva demand dan supply yang cukup sederhana. Apabila pemunculan kondisi overbought diawali dengan aksi beli selama beberapa waktu, maka kondisi oversold akan didahului dengan aksi jual yang terjadi selama beberapa waktu. Kondisi oversold terjadi jika harga telah menyentuh level harga terendah yang dapat diterima oleh penjual, oleh karena itu untuk setiap unit tambahan yang diinginkan oleh pembeli, maka pembeli harus membayar lebih mahal.