• Tidak ada hasil yang ditemukan

Homicide, Suara Mahasiswa, Dan Kolom Opin

Dalam dokumen Stairway To Heaven Esai Sosio Musikologi (Halaman 97-110)

90

Bagi penggemar musik hip-hop lokal, siapa yang tidak kenal Homicide? Hampir setiap mahasiswa yang gemar dengan wacana kritis tentunya tahu mengenai album fenomenal Tha Nekrophone Dayz. Saya sendiri baru tahu akan Homicide saat awal masuk kuliah pertama. Waktu itu pada tahun akhir 2010 saya baru mendengarkan rima-rima cerdas, kritis dan full wacana milik Homicide. Orasi-orasi mereka pada lagu “Tantang Tirani” pun menjadi penggugah semangat bagi saya yang waktu itu masih berstatus sebagai mahasiswa baru. Bahkan semua lirik yang tidak bisa saya cerna pun menjadi hal yang keren bagi saya yang baru mengenal wacana-wacana internasional dengan balutan rima.

Awalnya, saya memang bukanlah penggemar hip-hop. Mendengarkan musiknya saja jarang, maka dari itu saat teman saya gempar akan Homicide yang statusnya sama dengan saya sebagai mahasiswa baru, rima Homicide tidak menarik perhatian saya. Seringkali teman saya menyuruh saya mendengarkan lagu-lagu mereka dikarenakan penyampaiannya sangat jenius, saat kami selesai berdiskusi tentang topik yang sangat sok tahu. Teman saya juga sempat berkata jika seandainya ada konser mereka, maka dia akan merelakan diri menonton meskipun keluar provinsi. Kami

91

yang anak perantauan dari Jawa Tengah memang memiliki keterbatasan biaya untuk menonton konser musik, apalagi konser musik yang kami anggap biasa saja. Akan tetapi teman saya ini tetap bersikeras dan berjanji akan nonton. Hal ini menandakan bahwa Homicide ini cukup spesial, karena saya tahu bahwa teman saya tidak akan mengeluarkan uangnya jika bukan untuk hal yang penting.

Saya juga saat mendengarkan lagu yang sekilas disetel dengan loud speaker lewat HP teman saya merasakan bahwa ini bukan hip-hop. Saya awalnya mengira adalah band metal dengan sedikit rap ditengahnya. Lagu yang pertama saya dengarkan adalah

“Tantang Tirani” yang suara gitarnya khas nuansa metal. Melihat sikap teman saya yang sebegitu sering mendengarkan rima-rima Homicide itu, sampai akhirnya saya juga penasaran juga dengan grup rap kolektif tersebut. Meskipun mereka sudah bubar sejak tahun 2007 tersebut, tidak membuat rasa penasaran saya hilang.

Penelusuran di internet akhirnya saya dapatkan dan mendapati album mereka yang berjudul Tha Nekrophone Dayz termasuk salah satu album terbaik Indonesia versi majalah Rolling Stone Indonesia. Saya

92

juga mendapati bahwa salah satu pentolan mereka bernama Ucok alias Morgue Vanguard alias Herry Sutresna. Mereka mengeluarkan album pertama, kedua dan langsung bubar, dan berbagai artikel memuat gambar album mereka yang terlihat ada seorang penggali kubur dengan boombox di depannya dengan ekspresi menangis dengan membawa cangkul. Saya merasa album ini terkesan mistis dan musiknya akan terdengar horor.

Selanjutnya saya menjelajahi laman kaskus dan menemukan obrolan menarik seputar Homicide ini. Berbagai fans yang ikut dalam diskusi membuat saya senang membaca pembicaraan mereka dalam forum. Mereka juga menyebutkan lagu-lagu mereka serta mendeskripsikan arti lagu tersebut sesuai dengan pengetahuan mereka. Tidak lupa, dalam forum tersebut dishare lirik lagu mereka yang saya menganggapnya cukup panjang dan gila. Saya membaca lirik “Tantang Tirani” pun menjadi bergidik saat berbagai upaya melawan hegemoni pemerintahan yang disebutkan satu persatu dalam berbagai daerah di dunia. Maka dari itu, saya langsung mencari lagu tersebut dan mengunduh secara ilegal lagu “Tantang Tirani”.

93

Setiap malam saya putar lagu tersebut, terutama pada pukul dua dini hari membuat suasana mistis menjadi harmonis terhadap rima-rima Homicide. Saya pelajari kata per kata, kalimat per kalimat, dan akhirnya saya mulai suka dengan musik dan lagu mereka. Benar- benar gila ini musik hip-hop, saya terkagum-kagum dan benar-benar norak sekali saya baru suka hip-hop dan wacana-wacana internasional ini. Bahkan saya sedikit mencoba menghafalnya agar terlihat keren jika bisa nge- rap dengan bahasa berat. Dan, usaha tersebut tidak berhasil dan malah membuat intonasi dan pengucapan saya terdengar seperti suara cucian yang sedang dibilas.

Penjelajahan masih berlanjut, dan akhirnya saya menemukan lagu mereka yang paling fenomenal menurut diskusi di laman kaskus. Judul lagu mereka adalah “Puritan” yang bercerita tentang militansi agama yang dekat dengan kefasisan. Menurut saya artinya kurang lebih seperti itu, dan hal tersebut membuat album ini juga dilarang beredar ke Malaysia. Informasi yang saya dapatkan di laman kaskus tersebut juga menjelaskan bahwa lagu “Puritan” Homicide juga dilawan oleh salah satu rapper yang bernama Thufail Al Ghifari yang melawan dengan lagu dengan musik yang cukup sama akan tetapi dengan lirik yang berbeda. Maka

94

dari itu saya mengunduh secara ilegal kembali lagu Homicide – Puritan (Godbless Facist) dan Thufail Al Ghifari –Puritan (Homicide Is Dead).

Jika dalam lagu Puritan (Godbless Facist) Homicide menyatakan perlawanan terhadap kaidah- kaidah agama dengan berbagai wacana, maka Thufail Al Ghifari melawan dengan tetap mempertahankan kaidah agama. Pertarungan lagu dengan tema yang sangat kontras ini membuat saya penasaran dengan apa makna dari sebuah fasis tersebut. terlepas perdebatan mereka mengenai isi lagu masing-masing, saya yang saat itu masih belajar Pengantar Sosiologi masih belum dapat apa-apa mengenai teori fasis. Berbagai cerita dari teman kampus saya menjelaskan bahwa Adolf Hitler adalah simbol kefasisan dan fasis tersebut dapat menghegemoni masyarakat.

Pencarian mengenai definisi fasis pun saya tanyakan ke teman saya yang berkuliah di filsafat, sastra, politik, hukum, dan kriminologi. Saya tidak mencari definisi dalam textbook karena saya pasti mengantuk jika membaca buku. Maka dari itu saya memilih berdiskusi dengan rekan-rekan kampus untuk mengetahui makna dari sebuah fasis yang membuat lagu yang sedang saya gandrungi tersebut

95

diperdebatkan habis-habisan. Sebagai mahasiswa yang dalam kondisi labil pemikiran, saya bahkan tidak bisa membedakan manakah wacana yang benar diantara perdebatan lagu Puritan tersebut. Hal pertama yang harus saya lakukan adalah apa maksud yang dimaksud dalam lagu “Puritan” tersebut. Meskipun berbagai media telah banyak yang menyatakan bahwa lagu itu tentang Front Pembela Islam (FPI).

Berberapa teman diskusi saya di kampus pun sepakat bahwa segerombolan militan agama tersebut memang fasis setelah mendengarkan lagu “Puritan” yang saya berikan. Diskusi saya dengan teman-teman sekitar masalah fasis ini berlangsung lama dan tidak menentu.

Saat semester empat, pada bulan Februari 2012, saya berdiskusi mengenai fasis dan militansi agama di Jakarta yang menjadi tema, dan saya mencatat hal-hal penting di laptop saya. Saya menemukan berbagai alasan dan awal munculnya fasisme dari seorang dosen sosiologi.

Di sela-sela saya mengikuti diskusi tersebut, iseng-iseng saya mendengarkan lagu “Puritan” kembali dengan menggunakan headset, sambil membuat lima paragraf tulisan mengenai isi diskusi ini. Saat itu tema

96

diskusi mengenai “Indonesia Tanpa FPI” dan saya cukup

antusias mendengarkan diskusi dan presentasi dari berbagai narasumber yang sampai saya lupa namanya. Karena ruangan diskusinya penuh, saya di tengah diskusi keluar dan kembali ke kelas saya yang memang ada kuliah.

Selang enam bulan berlalu, saat itu saya sedang iseng membaca koran online Seputar Indonesia dan membaca kolom opini dari pakar. Tepat pada kolom opini tersebut, tersedia kolom untuk mahasiswa agar mengirimkan artikel sebanyak 350 kata. Cukup singkat untuk sebuah opini, namun kita harus merangkainya secara efisien dan agar pembaca juga cepat mengerti. Selain itu mungkin keterbatasan kolom membuat opini harus dirangkai sesederhana mungkin. Karena waktu itu saya membaca koran pada pukul sepuluh malam dan saya sudah mengantuk, maka saya secara iseng-iseng mengirim aritikel yang menjadi catatan saya pada waktu

diskusi tentang “Indonesia Tanpa FPI” tersebut.

Kebetulan, tema suara mahasiswa edisi 1-9 September 2012 adalah Intoleransi Beragama dan Ketegasan Pemerintah. Tepat sekali dengan catatan saya yang waktu itu saya buat, maka dari itu keesokan

97

harinya pada hari senin 10 November 2012 tulisan saya dimuat di harian Seputar Indonesia.

Ini adalah cuplikan beritanya:

Kekerasan dan Fasisme Pemerintah Monday, 10 September 2012

Penolakan terhadap Front Pembela Islam (FPI) pada dasarnya sudah sangat lama terdengar di

masyarakat kita, tetapi munculnya aksi “Indonesia Tanpa FPI” seakan-akan memberikan angin segar terhadap masyarakat pemuja pluralitas.

Kita sepakat bahwa dasar dari ajaran agama adalah cinta kasih saling memakmurkan. Hal ini juga yang menjadi pedoman munculnya dasar negara kita. Gerakan politik yang dilakukan FPI merupakan bentuk kecil dari fasisme. Menurut N Poulantzas, fasisme diakibatkan krisis ekonomi dan ideologi dalam kelas penguasa. Penguasa memanfaatkan ini sebagai upaya mempertahankan diri dari pendomplengan politik. Dalam kasus ini, awal mula terbentuknya FPI akibat peran besar pemerintah.

Pemerintah mencari badan yang cukup merasuk ke masyarakat dominan dengan alasan memiliki norma yang lebih besar. Pemerintah memanfaatkan kekuatan agama dominan sebagai alat untuk menertibkan masyarakat. Dengan label agama yang sakral, pemerintah dapat membuat situasi terkendali tanpa mengeluarkan aparat yang menjadi citra dirinya. Masyarakat akan tertib apabila perlakuan otoriter berada di bawah bendera klaim agama dominan. Dengan demikian, agama dominan yang menjadi alat pemerintah untuk menertibkan masyarakat menjadi kambing hitam.

Pada dasarnya sifat yang dilakukan pemerintah ini bersifat otoriter terhadap masyarakat. Hal ini

98

membuat agama yang dijadikan alat pemerintah terlihat fasis. Padahal, tanpa label agama pun fasis tetaplah fasis. Menurut teori fasis klasik oleh W Reich yang pemahamannya cukup relevan dengan anarkisme, disebutkan bahwa fasisme diakibatkan oleh represi sekuel dalam masyarakat yang otoriter dan terkekang. Ini mengindikasikan bahwa pemerintah yang tidak dapat menertibkan masyarakat dengan aparatnya menggunakan FPI sebagai alat pengganti aparat.

Masyarakat yang juga terkekang oleh regulasi rumit menjadi korban dari penertiban yang dilakukan pemerintah. Akibat dari penggunaan FPI sebagai aparat akan menimbulkan pertengkaran antar agama. Pertentangan ini justru akan merusak hubungan harmonis yang seharusnya melumuri masyarakat kita yang Bhinneka Tunggal Ika. Pemerintah yang menginginkan hasil secara instan dengan menggunakan FPI justru akan menjadikan masalah baru yang lebih besar dan rentang waktunya lama.

Fasis yang menjadi ideologi pemerintah tetaplah tidak dapat mengharmoniskan masyarakat. Otoritas hanya akan menjadikan pelanggaran nilai-nilai kemanusiaan. Jadi, dengan demikian kita setuju bahwa fasis yang baik adalah fasis yang mati.

Hardiat Dani Satria

(Mahasiswa Departemen Kriminologi, FISIP Universitas Indonesia).

Hal yang tidak disangka-sangka dari artikel sebanyak 350 kata tersebut dimuat oleh Redaksi Seputar Indonesia. Hal yang menjadi unik dan membuat saya kaget adalah, saya lupa untuk mengedit ulang sebelum

99

mengirimnya ke redaksi, sehingga tulisannya benar- benar seperti apa yang saya kirimkan. Bahkan lirik lagu

„”Puritan” pun masuk kedalam artikel tersebut. Seperti

“tanpa label agama pun fasis tetaplah fasis” belum sempat saya edit. Hal ini yang membuat saya merasa kurang nyaman, karena saya tidak mencantumkan siapa penulisnya dan dari mana asalnya. Bahkan pasti penggemar Homicide pun akan menganggap saya plagiat dan menyalahi kode etik penulisan. Saya sadar akan hal ini, karena ini murni dari kelalaian saya.

Hal ini dikarenakan saat saya menulis artikel ini sembari mendengarkan lagu “Puritan” dan sedang dalam

diskusi “Indonesia Tanpa FPI” jadi memang awalnya

saya menulis tulisan ini bukan untuk artikel, melainkan hanya untuk catatan saja. Hal yang lebih ekstrim lagi di akhir artikel saya yang menjelaskan “Jadi,dengan demikian kita setuju bahwa fasis yang baik adalah fasis

yang mati”.

Istilah fasis yang baik adalah fasis yang mati adalah slogan khas Homicide yang belum juga saya edit. Hal ini juga membuat kaget teman saya yang mengenalkan saya pada lagu Homicide pada awal kuliah tersebut menyadari saya menulis artikel dengan lirik lagu

100

Terlepas dari kelalaian saya tersebut dalam mengedit tulisan, saya akan menyimpulkan terkait fasisme yang saya dapatkan dalam waktu 1,5 tahun. Kesimpulannya sangat sederhana dan saya tidak menyangka tulisan ini juga cukup diapresiasi oleh dosen sosiologi karena aplikasi teorinya. Fasis merupakan kecenderungan ideologi pemerintah dengan kemampuan hegemoni yang begitu kuat. Terlepas dari definisi saya ini tepat atau salah, yang terpenting bagi saya adalah petualangan dalam mencari definisi tidaklah pernah berakhir dan akan terus berlanjut. Saya juga menyadari bahwa di dalam sebuah lirik pun akan membuat saya yang awalnya tidak menggubris menjadi terbawa oleh petualangan wacana-wacana yang diangkat dalam lirik lagu sekalipun.

101

Harap Diperhatikan

102 Catatan:

Dalam dokumen Stairway To Heaven Esai Sosio Musikologi (Halaman 97-110)

Dokumen terkait