Semenjak lahirnya Undang – Undang Kewarganegaraan di tahun 2006, anak-anak yang lahir setelah Agustus 2006, otomatis mendapatkan kewarga-negaraan ganda. Setelah usia 18 dengan masa tenggang hingga tiga tahun, barulah si anak diharuskan memilh kewarganegaraan yang mana yang akan dipilihnya. Jika terjadi perceraian maka ibu dapat mengajukan permohonan kewarga-negaraan anak dengan berdasarkan pada Ketentuan Pasal 29 ayat (1) s.d ayat (3) Undang – Undang No.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, yang selanjutnya disingkat dengan Undang Undang Perlindungan Anak
40
yang pada prinsipnya menjamin kesejahteraan tiap-tiap warga negaranya, termasuk perlindungan terhadap hak anak yang merupakan hak asasi manusia.
Adapun Ketentuan Pasal 29 Undang – Undang Perlindungan Anak menyebutkan sebagai berikut41:
1. Jika terjadi perkawinan campuran antara warga negara Indonesia dan warga negara asing, anak yang dilahirkan dari perkawinan tersebut berhak memperoleh kewarganegaraan dari ayah atau ibunya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
2. Dalam hal terjadi perceraian dari perkawinan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), anak berhak untuk memilih atau berdasarkan putusan pengadilan, berada dalam pengasuhan salah satu dari kedua orangtuanya.
3. Dalam hal terjadi perceraian sebagaimana dimaksud dalam ayat(2), sedangkan anak belum mampu menentukan pilihan dan ibunya berkewarganegaraan Republik Indonesia, demi kepentingan terbaik anak atau atas permohonan ibunya, pemerintah berkewajiban mengurus status kewarganegaraan Republik Indonesia bagi anak tersebut.
Apabila ternyata terjadi perceraian dalam perkawinan campuran, maka anak memiliki hak untuk memilih pengasuhan orangtua. Demi
41
hukumnya maka anak yang masih di bawah umur otomatis akan mengikuti ibu dan mendapat kewarganegaraan Indonesia. Namun jika anak lahir sebelum terbitnya Undang - Undang Kewarganegaraan, maka anak tersebut harus dilaporkan terlebih dahulu ke pihak yang berwenang agar bisa mendapat kewarganegaraan Indonesia. Ada baiknya pada saat mengambil keputusan bercerai, pasangan yang akan bercerai membuat kesepakatan baik mengenai harta bersama setelah perkawinan dan hak perwalian anak maupun status kewarganegaraan anak dan masing-masing pihak. Sehingga ke depannya tidak memunculkan masalah pada akibat hukum yang ditimbulkannya. 3.2.2 Masalah Waris
Seorang Warga Negara Indonesia yang menikah secara sah dengan Warga Negara Asing, dimana Warga Negara Indonesia tersebut memperoleh asset berupa tanah dengan status Hak Milik, Hak Guna Bangunan (HGB), Hak Guna Usaha (HGU), Hak Milik Atas Satuan Rumah Susun di atas tanah HGB, baik karena pewarisan, peralihan hak melalui jual beli, hibah atau wasiat, maka dia wajib melepaskan hak-haknya dalam jangka waktu satu tahun sejak diperolehnya hak-hak tersebut (Ketentuan Pasal 21 ayat (3) Undang – Undang Perlindungan Anak). Pelepasan hak tersebut adalah dengan cara menjual atau menghibahkan hak-hak atas tanah tersebut.
Jika jangka waktu tersebut lewat, maka hak-hak tersebut hapus karena hukum dan tanah-tanah tersebut jatuh pada negara, dengan
ketentuan bahwa hak-hak pihak lain yang membebani tetap berlangsung (Ketentuan Pasal 21 ayat (3) Undang – Undang Perlindungan Anak). Ketentuan tersebut dapat dikecualikan dengan adanya perjanjian kawin pisah harta yang dibuat sebelum perkawinan berlangsung. Perjanjian kawin tersebut dibuat secara notariil yang disahkan oleh pegawai pencatat perkawinan, yaitu baik di Kantor Urusan Agama (KUA) maupun Kantor Catatan Sipil (Ketentuan Pasal 29 Undang - Undang Perkawinan). Apabila akta perjanjian kawin tersebut tidak disahkan pada pegawai pencatat perkawinan terkait, maka secara hukum, perkawinan yang berlangsung tersebut dianggap sebagai perkawinan percampuran harta. Dalam Undang-Undang Perkawinan menggariskan bahwa harta benda yang diperoleh selama perkawinan menjadi harta bersama. Kecuali, kedua belah pihak membuat perjanjian perkawinan untuk menghindari percampuran harta secara hukum42.
42
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 KESIMPULAN
1. Pelaksanaan perkawinan campuran beda warga Negara bagi Agam Katolik menurut Undang – Undang No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan sebenarnya tidak ada perbedaan signifikan dengan perkawinan sesama warga Negara Indonesia. Yang menjadi perbedaan adalah diperlukannya dokumen N1, N2, dan surat ijin dari Kedubes Negara yang bersangkutan, kemudian dari hukum gereja Katolik diperlukan adanya surat baptis dan surat pernyataan belum pernah menikah sebelumnya.
2. Akibat perkawinan campuran bagi agama Katolik menurut undang – undang nomor 12 tahun 2006 tentang Kewarganegraan adalah mengenai persoalan status kewarganegaraan, dimana pasangan yang warga Negara asing dapat mengikuti warga Negara Indonesia, bagi yang warga Negara Indonesia dapat menjadi Warga Negara asing, atau dapat memilih untuk tetap pada kewarganegraannya masing-masing (pasal 26 ayat 1 sampai 4). Sedangkan mengenai status kewarganegaraan anak dijelaskan bahwa anak mendapatkan kewarganegaraan ganda, namun setelah usia 18 dengan masa tenggang hingga 3 tahun barulah si anak diharuskan memilih kewarganegaraan yang mana akan dipilihnya.
4.2 SARAN
1. Bagi Pejabat pemerintah, khususnya yang berwenang dalam permasalahan Perkawinan sebaiknya bertindak secara proporsional dan melakukannya dengan baik sesuai dengan Undang-Undang No 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan.
2. Bagi petugas pengurus Perkawinan di Gereja Katolik St. Aloysius Gonzaga, agar lebih tanggap dan memahami Undang-Undang sipil tentang perkawinan (Undang-Undang No 1 Tahun 1974), supaya tidak menimbulkan kerancuhan dengan hukum perkawinan gereja katolik. 3. Bagi masyarakat, sebelum melakukan perkawinan beda warga Negara
yang dilakukan di Indonesia atau dapat disebut dengan perkawinan campuran, agar memahami peraturan atau tata cara yang sudah ditetapkan oleh pejabat pemerintah setempat, sehingga syarat-syarat perkawinan yang ditentukan oleh hukum yang berlaku bagi keduabelah pihak masing-masing dapat dipenuhi. Karena Indonesia adalah Negara hukum, dan sepantasnya kita harus mematuhi aturan-aturan yang berlaku.
1. Buku-buku
Abdulkadir Muhammad, Hukum Perdata Indonesia, Citra Aditya Bakti, Catakan Ketiga, Bandung, 2008
Amirudin dan Zainal Asikin, Pengantar Metode Penelitian Hukum, Raja Grafindo Persada, Mataram, 2003
Bayu Seto Hardjowahono, Dasar – Dasar Hukum Perdata Internasional, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2006
Hilman Hadikusuma, Hukum Perkawinan Indonesia, Mandar Maju, Bandung, 2007
K. Wantjik Saleh, Hukum Perkawinan Indonesia, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1980
M. Yahya Harahap, Hukum Perkawinan Nasional, Zahir, Medan, 1975 Mgr. V. Kartosiswoyo, Kitab Hukum Kanonik, Grafika Mardi Yuana,
Bogor, 2006
R. Soetojo Prawirohamidjojo, Pluralisme Dalam Perundang-Undang
Perkawinan Di Indonesia, Airlangga University Press,
Surabaya, 2006
Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, Cetakan III, UI-Pers, Jakarta, 1986
Sutiono Usman Adji, Kawin Lari dan Kawin Antar Agama, Liberty, Cetakan Pertama, Yogyakarta, 1898
Winarno, Pendidikan Kewarganegaran, Bumi Aksara, Cetakan Kedelapan, Jakarta, 2011
Wirjono Projodikoro, Hukum Perkawinan di Indonesia, Liberty, Yogyakarta, 2007
Undang No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan
Peraturan Presiden No. 25 Tahun 2008 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil.
Undang – Undang No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan
Undang – Undang No. 62 Tahun 1958 jo Undang – Undang No. 12 Tahun 2006 Tentang Kewarganegaraan
UU No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak
3. J ur nal
I Ketut Mandra, Studi tentang pelaksanaan dan sahnya perkawinan Campuran Antar Warga Negara Indonesia dan Warga Negara Asing di Bali, Laporan Penelitian Fakultas Hukum Universitas Udayana, 1986
Trusto Subekti, Sahnya Perkawinan Menurut Undang – Undang No. 1
Tahun 1974 Tentang Perkawinan Ditinjau dai Hukum Perjanjian,
Purwokerto : FH Universitas Jenderal Soedirman, Program Sarjana 2010
4. Website
http://katolisitas.org/7831/apakah-yang-membatalkan-perkawinan-menurut-hukum-kanonik 22 Juni 2014. 13.10 wib
www.hukumonline.com 23 Juni 10.00 wib