• Tidak ada hasil yang ditemukan

1.9 Metode Penelitian

1.9.5 Sistematika Penulisan

Untuk mempermudah dalam pemahaman hasil penelitian. Penulisan skripsi ini dibagi dalam beberapa bab yang di antaranya terdiri dari sub bab. Judul dari proposal skripsi ini yaitu tentang “ Tinjauan Yuridis Pelaksanaan Perkawinan Campuran bagi agama Katolik di Indonesia menurut Undang – Undang No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan “. Di dalam pembahasan nantinya dibagi menjadi empat bab, sebagaimana akan diuraikan tentang permasalahan dalam proposal skripsi ini.

Bab Pertama, merupakan bab pendahuluan. Dalam bab ini memberikan gambaran umum dan menyeluruh tentang pokok permasalahan yang akan dibahas dalam penulisan proposal skripsi ini, diantaranya latar

belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, kajian pustaka, metode penelitian, serta pertanggung jawaban sistematika.

Bab Kedua, penulis akan menjelaskan hal – hal yang berkaitan dengan perkawinan campuran di Indonesia. Dalam bab kedua ini penulis akan menjelaskan dalam 3 sub bab, yang terdiri atas : Sub bab pertama menjelaskan mengenai pelaksanaan perkawinan campuran di Indonesia. Sub bab yang kedua ini mengenai tata cara pelaksanaan perkawinan bagi yang beragama katolik di Indonesia. Dan sub bab ketiga ini mengenai aturan – aturan yang berlaku dalam perkawinan campuran bagi yang beragama katolik di Indonesia.

Bab Ketiga, penulis akan menguraikan tentang kekuatan hukum perkawinan campuran yang dilakukan di Indonesia menurut Undang – Undang No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan yang berlaku.

Bab Keempat, di bagian akhir ini penulis akan memberikan penjelasan secara garis besar dalam bentuk kesimpulan pokok – pokok permasalahan yang telah diuraikan pada bab – bab sebelumnya, serta mengemukakan beberapa saran. Bab terakhir ini sekaligus merupakan penutup Dari pembahasan atas permasalahan dalam proposal ini.

2.1 Tat a Car a dan Pelaksanaa n Per kawinan Campur an Di Indon esia Perkawinan campuran telah merambah seluruh pelosok tanah air dan kelas masyarakat. Globalisasi informasi, ekonomi, pendidikan, dan transportasi telah menggugurkan stigma bahwa kawin campur adalah perkawinan antara ekspatriat kaya dan orang Indonesia.26 Jalur perkenalan yang membawa pasangan beda kewarganegaan menikah antara lain adalah perkenalan melalui internet, kemudian bekas teman kerja / bisnis, berkenalan saat berlibur, bekas teman sekolah / kuliah, dan sahabat pena. Perkawinan campuran juga terjadi pada tenaga kerja Indonesia dengan tenaga kerja dari negara lain. Dengan banyak terjadinya perkawinan campuran di Indonesia sudah seharusnya perlindungan hukum dalam perkawinan campuran ini diakomodir dengan baik dalam Perundang – Undangan di Indonesia.

Perkawinan campuran yang dilakukan di Indonesia dilaksanakan berdasarkan hukum perkawinan yang berlaku di Indonesia. Untuk melaksanakan perkawinan campuran, terlebih dahulu harus dipenuhi syarat – syarat materiil dan syarat formil. Syarat formil ditentukan berdasarkan

26

http: // Status Hukum Anak Hasil Perkawinan Campuran Berdasarkan Hukum Indonesia, 20 Juni 2014, 15:25.

hukum personal para pihak (sesuai Pasal 16 AB), misalnya kewenangan atau kemampuan untuk kawin (batas usia minimum untuk kawin, ijin orang tua dan sebagainya) untuk membuktikan semua syarat materiil untuk melaksanakan perkawinan campuran telah dipenuhi, maka para pihak harus memiliki surat ijin kawin dan surat keterangan tidak ada halangan untuk kawin dari kantor catatan sipil atau pengadilan dan negara yang bersangkutan.

Untuk syarat formal, formalitas perkawinan campuran di Indonesia dilakukan menurut ketentuan hukum perkawinan Indonesia (Pasal 59 ayat (2) Undang – Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan). Untuk keabsahan perkawinan campuran yang dilakukan di luar wilayah Indonesia harus dilakukan menurut perkawinan yang berlaku di negara dimana perkawinan tersebut dilangsungkan (sesuai Pasal 18 AB) dan bagi Warga Negara Indonesia tidak melanggar Undang – Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan Pasal 56 ayat (2).27

Secara khusus tempat dan tata cara pencatatan Perkawinan campuran tidak ada diatur di dalam Undang – Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, akan tetapi sesuai dengan Pasal 59 ayat (2) Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan Pasal 1 ayat (1) AB, menegaskan bahwa bentuk suatu perbuatan hukum dilakukan menurut hukum dimana perbuatan hukum itu dilakukan. Oleh karena itu tata cara dan

27

http: // Keabsahan dan Akibat Hukum Perkawinan Campuran oleh Perempuan Warga Negara Indonesia Menurut Hukum Indonesia, 20 Juni 2014,16:40.

pencatatan perkawinan campuran itu dilakukan menurut hukum Nasional Indonesia. Tata cara dari pada perkawinan menurut Undang – Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, termasuk di dalamnya perkawinan campuran menyangkut tata cara yang mendahului perkawinan dan tata cara pada saat pencatatan dan perkawinan dilangsungkan, tata cara ini harus didukung oleh syarat – syarat perkawinan yang diperlukan yang ditentukan agar perkawinan dapat dilangsungkan. Mengenai tempat pencatatan perkawinan campuran antara Warga Negara Indonesia dan Warga Negara Asing, sesuai dengan Pasal 59 ayat (2) Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, ialah dilakukan pada pegawai pencatatan perkawinan pada kantor Catatan Sipil di wilayah tingkat II dimana perkawinan itu dilangsungkan.

Pada umumnya mereka yang melangsungkan perkawinan campuran pertama – tama dilakukan adalah dengan upacara keagamaan dan adat istiadat yang mereka anut khususnya bagi masyarakat Bali, bagi mempelai yang beragama Hindu bahwa perkawinan dilakukan dengan upacara Mebeakala dan Widhi Widana, sedangkan mempelai yang beragama Kristen perkawinan mereka dilakukan secara Gerejani dengan upacara di Gereja, dan bagi mempelai yang beragama Islam perkawinan mereka dilakukan dihadapan penghulu.28 Setelah dilakukan upacara

28

I Ketut Mandra, studi tentang pelaksanaan dan sahnya perkawinan Campuran Antar Warga Negara Indonesia dan Warga Negara Asing di Bali, Laporan Penelitian Fakultas Hukum Universitas Udayana, 1986, hlm 15

agama barulah mereka mencatatkan perkawinan di kantor Catatan Sipil. Disamping itu sebagian lagi dalam melangsungkan perkawinan campuran prosedur yang lebih dahulu ditempuh adalah mencatatkan perkawinannya di kantor Catatan Sipil, setelah itu barulah mereka melakukan upacara perkawinan sesuai dengan agamanya masing – masing berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak (bagi mempelai yang berbeda agamanya) tetapi ada juga diantara mereka yang hanya melangsungkan perkawinan dan sekaligus mencatatkan perkawinannya di kantor Catatan Sipil saja tanpa disertai dengan upacara keagamaan.

Dalam hal para mempelai melangsungkan dan mencatatkan perkawinannya di kantor Catatan Sipil prosedur yang ditempuh mereka adalah:

1. Tahap Pertama :

Pemberitahuan kehendak kedua mempelai untuk melangsungkan perkawinan dengan cara bersama – sama datang menghadap ke kantor Catatan Sipil bagian pencatatan perkawinan, untuk memberitahukan maksudnya itu. Selanjutnya pegawai pencatatan perkawinan memberitahukan kepada kedua calon mempelai agar mengisi formulir yang telah disediakan oleh kantor Catatan Sipil, kemudian formulir yang telah diisi itu diserahkan kepada pegawai pencatat perkawinan disertai dengan syarat – syarat yang diperlukan yakni29

:

29

Wawancara dengan Bapak Dwi , Bagian Tribunal Gereja St.Aloysius Gonzaga Surabaya, tanggal 22 Juni 2014. 10.00

1. Surat permohonan dan pernyataan bersama kedua mempelai ; 2. Akte kelahiran / Paspor bagi Warga Negara Asing ;

3. Kartu Tanda Penduduk (identitas) atau surat keterangan domisili ; 4. Surat bukti kewarganegaraan bagi Warga Negara Indonesia Keturunan; 5. Surat keterangan berkelakuan baik dari kepolisian ;

6. Surat ijin atau keterangan dari konsulat / kedutaannya yang dinamakan Certificate Of Ability to Marry ;

7. Surat keterangan tidak / belum kawin atau surat perceraian dari Pengadilan Negeri setempat (bagi mempelai yang sudah pernah kawin)

8. Surat keterangan / ijin orang tuanya bagi mempelai yang belum berumur 21 (duapuluh satu) tahun ;

9. Surat keterangan sehat dari dokter ; 10. pas photo

Adapun tujuan pemberitahuan di atas adalah dimaksudkan untuk mengetahui dan mengecek apakah syarat – syarat materiil perkawinan telah dipenuhi atau tidak. Cara pengawasan ini dilakukan antara lain dengan mengadakan penelitian terhadap surat – surat yang dilampirkan oleh para pihak pada waktu menyatakan pemberitahuan itu, dengan demikian dapat kiranya dihindarkan adanya perkawinan yang tidak memenuhi persyaratan.

2. Tahap Kedua:

perkawinan oleh pejabat kantor Catatan Sipil agar diketahui oleh umum. Pengumuman ini untuk memberi kesempatan kepada pihak lain atau keluarganya untuk mencegah atau menghalangi dilangsungkannya perkawinan campuran tersebut. Apabila ternyata ada syarat – syarat yang dipalsukan oleh salah satu pihak yang akan melangsungkan perkawinan, maka pihak yang merasa dirugikan atau keberatan dapat membatalkan perkawinan campuran tersebut dengan melaporkan kepada pejabat Catatan Sipil. Pengumuman dapat dilakukan di dua tempat yakni :

a. Di kantor Pencatatan perkawinan ditempat pernikahan akan dilangsungkan ;

b. Di kantor pencatatan perkawinan tempat kediaman masing – masing calon mempelai.30

3. Tahap Ketiga :

Jika dalam waktu 10 (sepuluh) hari sejak pengumuman itu ditempelkan dan diumumkan ternyata tidak ada sanggahan atau keberatan dari kalangan publik atau masyarakat, keluarga ataupun pihak lain, maka pejabat kantor Catatan Sipil memberikan ijin untuk melangsungkan perkawinan

4. Tahap Keempat :

Pada tahap ini merupakan tahap pelaksanaan atau dilangsungkan

30

K. Wantjik Saleh, Hukum Perkawinan Indonesia, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1980, hlm 98

perkawinan oleh calon mempelai sesuai dengan agamanya dan kepercayaannya masing – masing. Dalam hal ini hukum adat dan kebiasaan adat masing – masing mempunyai peranan di dalam melangsungkan perkawinan khususnya perkawinan campuran di Indonesia.

5. Tahap Kelima :

Mengenai pencatatan / pendaftaran serta pembuatan akta perkawinan di kantor Catatan Sipil menurut ketentuan Pasal 11 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 sebagaimana pelaksanaan dari Pasal 2 ayat (2) Undang – Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, dinyatakan bahwa perkawinan yang dilangsungkan itu harus dicatatkan, masing – masing pihak (suami – isteri) harus menandatangani akta perkawinan dan dilanjutkan penandatanganan oleh saksi – saksi dan disahkan oleh pejabat pencatat perkawinan.

Dengan dibuatnya akta perkawinan tersebut maka perkawinan yang mereka lakukan dianggap sah dan telah tercatat secara resmi, dengan demikian apa yang dikehendaki oleh Undang – Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan terutama Pasal 2 baik ayat (1) dan (2) telah dipenuhi.

2.2 Per kawin an Ca mpur an Di Indonesia Secar a Agama K at olik

Perkawinan katolik menurut Kitab Hukum Kanonik 1983 Kan.1055 - §1 adalah perjanjian (foedus) antara seorang laki-laki dan seorang perempuan

untuk membentuk kebersamaan hidup. Latar belakang definisi ini adalah dokumen Konsili Vatikan II, Gaudium et Spes §48). GS dan Kitab Hukum Kanonik (KHK) tidak lagi mengartikan perkawinan sebagai kontrak.

Perkawinan mempunyai tiga tujuan yaitu: kesejahteraan suami-isteri, kelahiran anak, dan pendidikan anak. Tujuan utama ini bukan lagi pada prokreasi atau kelahiran anak. Hal ini berpengaruh pada kemungkinan usaha pembatasan kelahiran anak (KB).

Perkawinan Katolik itu pada dasarnya berciri satu untuk selamanya dan tak terceraikan. Kita menyebutnya sifat Monogam dan Indissolubile.

Monogam berarti satu laki-laki dengan satu perempuan, sedang

Indissolubile berarti, setelah terjadi perkawinan antara orang-orang yang dibaptis secara sah dan disempurnakan dengan persetubuhan, maka perkawinan menjadi tak terceraikan, kecuali oleh kematian. Ini dapat kita temukan dalam Hukum Gereja tahun 1983 (Kan. 1141). Yang dimaksud dengan perkawinan Katolik adalah perkawinan yang mengikuti tata acara Gereja Katolik. Perkawinan semacam ini pada umumnya diadakan antara mereka yang dibaptis dalam Gereja Katolik (keduanya Katolik), tetapi dapat terjadi bila perkawinan antara mereka yang salah satunya dibaptis di Gereja lain non-Katolik atau Gereja Kristen.

Perkawinan antara orang-orang yang dibaptis disebut ratum (kan. 1061) sedangkan perkawinan antara orang yang salah satunya tidak Katolik disebut perkawinan non ratum. Perkawinan ratum, setelah disempurnakan dengan persetubuhan (consummatum) menjadi perkawinan yang ratum et

consummatum yang tidak dapat diputuskan atau dibatalkan oleh kuasa manapun, kecuali kematian (kan. 1141). Perkawinan yang ratum et non consummatum dapat diputuskan oleh Tahta suci oleh permintaan salah satu pasangan (kan. 1142).

2.2.1 K esep akat an Nikah

Kesepakatan nikah atau perjanjian (feodus) yang dibuat oleh kedua pihak yang menikah adalah satu- satunya unsur penentu yang “membuat “perkawinan itu sendiri. Kesepakatan ini harus muncul dari pasangan suami isteri itu sendri, bukan dari orang lain. Kesepakatan ini mengandaikan kebebasan dari masing- masing pihak untuk meneguhkan perkawinannya. Ini berarti masing- masing pihak harus 1 bebas dari paksaan pihak luar, 2 tidak terhalang untuk menikah, dan 3 mampu secara hukum. Kesepakatan ini harus dinyatakan secara publik dan sah menurut norma hukum. Gereja melarang adanya pernikahan bersyarat. Setiap pernikahan bersyarat selalu menggagalkan perkawinan. Gereja mengikuti teori dari Paus Alexander III (1159-1182) bahwa perkawinan sakramen mulai ada atau bereksistensi sejak terjadinya kesepakatan nikah . Namun perkawinan sakramen itu baru tak terceraikan mutlak setelah disempurnakan dengan persetubuhan, karena setelah itu menghadirkan secara sempurna dan utuh kesatuan kasih antara Kristus dan Gereja-Nya. Objek kesepakatan nikah

adalah kebersamaan seluruh hidup (consortium totius vitae) yang terarah pada 3 tujuan perkawinan di atas.

2.2.2 Penataan Hukum

Setiap perkawinan orang Katolik, meski hanya satu yang Katolik, diatur oleh ketiga hukum ini, yaitu 1 hukum ilahi, 2 hukum kanonik, dan 3 hukum sipil sejauh menyangkut akibat-akibat sipil. Hukum ilahi adalah hukum yang dipahami atau ditangkap atas dasar pewahyuan, atas dasar akal sehat manusia sebagai berasal dari Allah sendiri. Contohnya, sifat monogam, indissolubile, kesepakatan nikah sebagaipembuat perkawinan, dan halangan-halangan nikah. Hukum ini mengikat semua orang, tanpa kecuali (termasuk non-katolik). Hukum kanonik atau hukum Gereja adalah norma yang tertulis yang disusun dan disahkan oleh Gereja, bersifat Gerejawi dan dengan demikian hanya mengikat orang-orang yang dibaptis Katolik saja (kan. 11). Sedangkan hukum sipil adalah hukum yang berhubungan dengan efek sipil yang berlaku di daerah yang bersangkutan, misalnya di Indonesia ini, ada hal-hal yang ditetapkan oleh pemerintah, seperti usia calon, pencatatan sipil, dan sebagainya. Karena perkawinan menyangkut kedua belah pihak bersama-sama, maka orang non-Katolik yang menikah dengan orang Katolik selalu terikat juga oleh hukum Gereja. Gereja mempunyai kuasa untuk mengatur perkawinan warganya, meski hanya salah satu dari pasangan yang beriman Katolik. Artinya, perkawinan mereka

baru sah kalau dilangsungkan sesuai dengan norma-norma hukum kanonik (dan tentu ilahi).

Karena bersifat Gerejani, maka negara tidak mempunyai hak apapun untuk menyatakan sah/tidaknya perkawinan Katolik maupun perkara di antara pasangan yang menikah. Kantor Catatan Sipil di Indonesia mempunyai tugas hanya mencatat perkawinan yang telah diresmikan agama, dan tidak bertugas melaksanakan perkawinan, dalam arti mengesahkan suatu perkawinan.31

2.2.3Dua jenis Per kawinan Campur menur ut Gereja Katolik

a.Perkawinan campur beda gereja (seorang baptis Katolik menikah dengan seorang baptis non-Katolik) perkawinan ini membutuhkan ijin.

b.Perkawinan campur beda agama (seorang dibaptis Katolik menikah dengan seorang yang tidak dibaptis) untuk sahnya dibutuhkan dispensasi. Dispensasi adalah: Ijin dari Gereja Katolik untuk pernikahan beda agama. Dispensasi utk Katolik non Kristiani (islam, buddha, hindu) adalah: Disparitas Cultus sedangkan untuk Katolik - Protestan/Orthodox adalah Mixta Religio.32

2.2.4 Syarat untuk melakukan per kawinan beda agama di Gereja Katolik:

1. Mengikuti KURSUS PERNIKAHAN ( sertifikat yang didapat sesudahnya berlaku 6 bulan)

31

Hasil Wawancara dengan Romo Otong Setiawan, 24 Juni 2014, 09.00 32

2. Mendapatkan surat DISPENSASI

Calon mempelai bersama-sama menghadap Pastor, untuk melakukan penyelidikan persiapan sebelum pernikahan sesuai hukum Gereja Katolik (Kanonik), sekaligus membawa dua orang terpercaya yang akan disumpah utk memberi kesaksian bahwa pihak non-Katolik berstatus bebas atau tidak terikat perkawinan. mempersiapkan foto 4x6 berduaan, fotocopy sertifikat kursus perkawinan, surat baptis terbaru paling lama 6 bulan & surat pengantar dari ketua lingkungan (bagi pihak katolik).

Surat Janji dan surat kesaksian status bebas akan dibuat bersama pastor ketika sudah ketemu. Pastor akan membantu mengirim surat permohonan dispensasi ke Keuskupan (terutama untuk KAJ). Surat DISPENSASI didapatkan biasanya paling cepat sekitar satu (1) bulan setelah dimohon. Dan untuk mendapatkan itu, harus dilampirkan sertifikat kursus pernikahan.

Apabila sudah memenuhi syarat-syarat pernikahan secara Katolik, maka bisa melakukan pemberkatan perkawinan di Gereja. Di dalam pemberkatan perkawinan di Gereja, ada janji perkawinan yaitu saling diberikan dan dilaksanakan oleh seorang dibaptis dan tidak dibaptis (non-Katolik) di hadapan dua saksi awam dan seorang imam. Inti isi janjinya sama: setia sampai mati memisahkan, saling mencintai dan menghormati, hanya modelnya yang berbeda karena yang Katolik akan memakai model Jesus yang mencintai, sedang

yang Islam memakai Muhammad atau orang tuanya sebagai model, atau yang budhis memakai Budha atau orang tuanya sebagai model. Yang berbeda antara upacara sakramen (calon mempelai keduanya Katolik) dengan pemberkatan (calon mempelai Katolik dan Non Katolik) adalah pertanyaan penyelidikan atas kesediaan pasangan, rumusan janji, doa dari imam, juga pihak non katolik tidak diwajibkan untuk berdoa secara katolik tentu saja.

Tata cara pemberkatan pernikahan akan dijelaskan dalam Kursus Persiapan Perkawinan. Tidak ada tatacara yang membuat orang non-katolik menjadi orang katolik secara tidak langsung, karena orang non-katolik bersama yang katolik akan menyusun teks upacara perkawinan dan pihak non-katolik tidak harus mengucapkan doa-doa orang katolik. Maka tata cara itu tidak akan mengganggu iman masing-masing. Untuk jadi orang katolik tidak mudah, harus pelajaran minimal sekitar setahun, harus ujian tertulis, tes wawancara dengan pastor, melakukan beberapa latihan, dan kalau dianggap tidak lulus ya tidak akan dibaptis.

Perkawinan adalah peristiwa sadar dan terencana, maka tidak ada yang disembunyikan dari pihak Katolik. Bahkan orang Katolik yang berjanji mendidik anak secara katolik pun janjinya diketahui pihak non-Katolik.33

33

Setelah menerima pemberkatan pernikahan, lalu Pencatatan Sipil (bisa dibantu koordinasinya dengan sekretariat Paroki Gereja dimana akan melangsungkan pemberkatan pernikahan, bisa juga utk mengurus sendiri dgn Catatan Sipil, tapi yg lazim adalah setelah pemberkatan di Gereja, prosesi dengan Catatan Sipil dilakukan di ruangan lain di lingkungan Gereja, jadi petugasnya datang). Agama yang akan tercantum di buku nikah akan tertulis sesuai kenyataan, yaitu Katolik dan Islam atau Buddha atau Kristen atau Hindu. Tidak keduanya katolik.

Yang hadir dalam pemberkatan pernikahan adalah34: (a) calon mempelai pria dan wanita (tidak boleh diwakilkan), (b) dua orang saksi. Saksi dalam pemberkatan perkawinan adalah orang yang menyaksikan berlangsungnya perkawinan yang diakui sebagai saksi kalau ada masalah hukum di kemudian hari, sekaligus yang berperan untuk menjadi penasehat (yang didengarkan dan dipercaya pasangan baru) jika ada masalah keluarga pada pasangan baru.

Kalau saksinya keluarga campur beda agama, sebaiknya juga pasangan yang memang berhasil mengatasi perbedaan agama dalam damai. Jadi saksi adalah suami istri, yang disetujui oleh pasangan baru yang mau menikah. Bersama-sama mencari saksi ini juga bisa menjadi latihan bagi pasangan baru untuk membiasakan

34

mencapai tujuan bersama: yaitu kesejahteraan suami istri sesuai dengan kehendak Tuhan yang maha kasih.

(c) seorang imam.

(d) orang tua pun tidak wajib hadir, karena dianggap sudah dewasa. Untuk konsultasi mengenai pencatatan sipil dengan petugas sekretariat Paroki Gereja dimana pemberkatan perkawinan akan berlangsung, sedangkan untuk pengurusan dispensasi dan pemberkatan pernikahan dengan Pastor.

Berikut ini adalah contoh kasus pernikahan beda warga Negara yang dilaksanakan secara agama katolik di Gereja Katolik Santo Yakobus, Keuskupan Surabya, Jalan Puri Widya Kencana Blok LL No. 1, Surabaya;

Sedangkan prosedur dan persyaratan untuk perkawinan beda warga Negara secara agama katolik di Gereja St. Aloysius Gonzaga adalah sebagai berikut:

1. Calon mempelai wajib mendaftarkan sendiri ke sekretariat (tidak diwakilkan orang tuanya), bagi pasangan non-Katolik 6 bulan sebelum perkawinan dan selambat-lambatnya 3 bulan bagi calon yang keduanya katolik.

2. Calon mengambil formulir dan menyerahkan kembali formulir pendaftaran yang sudah ditandatangani Ketua Lingkungan dan Ketua Wilayah masing-masing calon, dengan dilampiri:

a. Surat babtis TERBARU ASLI (tidak boleh lebih dari 6 bulan dari jadwal perkawinan) bagi calon beragama katolik

b. Fotocopy surat babtis bagi calon beragama Kristen

c. Pas photo berwarna dengan background sama, diri sendiri 4x6=3 lembar dan berdampingan 4x6=3 lembar

d. Fotocopy KTP, KK, dan Akta kelahiran (masing-masing 1 lembar)

e. 1 lembar fotocopy surat babtis dan surat perkawinan saksi (Pasangan Suami Istri Katolik)

f. Fotocopy KTP 2 orang saksi (yang benar-benar mengenal calon) dari calon non Katolik

3. Mengikuti kursus persiapan perkawinan setiap minggu mulai Minggu I, II, III, dan IV mulai jam 8.00 sampai jam 11.00 wib

4. Apabila salah satu keduanya pernah menikah, persyaratan ditambah: a. Fotocopy surat perceraian, bila terjadi bagi calon mempelai yang

beragama non Katolik

b. Menyerahkan fotocopy akte kematian (bila sudah pernah menikah dan terjadi kematian)

5. Bagi Warga Negara Asing, menyerahkan surat izin nikah dari kedutaan, dan Fotocopy passport, KTP, KSK, Akte Kelahiran dan surat babtis.

Dokumen terkait