• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I V. PENYELESAIAN BANK GARANSI OLEH BANK NEGARA

B. Hubungan antara Bank Garansi dengan Borgtocht

Berdasarkandefinisi Bank Garansiyang telah dijelaskan sebelumnya

tergambarkan bahwa mengenai pemberian Bank Garansiini sebenarnya terjadinya suatu pengalihan kewajiban karena dipersyaratkan adanya suatu perjanjian atau kontrak sebelumnya. Dalam praktek perbankan, umumnya juga menuju kepada suatu pengertian dan maksud yang sama mengenai pengalihan kewajiban dimaksud.

Dalam ketentuan yang mengatur materi Bank Garansi, antara lain diatur mengenai klausula yaitu ketentuan yang mengatur bahwa dalam fungsinya sebagai

penanggung (borg), bank melepaskan hak-hak istimewa sebagaimana diatur dalam

Pasal 1831 KUH Perdata, sehingga dengan demikian bank harus membayar klaim yang diajukan oleh penerima Bank Garansi apabila nasabah wanprestasi. Sejalan dengan pengertian di atas, pemberian Bank Garansi harus dilakukan sesuai dengan filosofis dan

proses pemberian kredit, baik menyangkut analisis kelayakan dan analisis resiko

maupun ketentuan kewenangan memutus.60

Dilihat dari keentuan KUH Perdata, garansi bank adalah perjanjian penangguhan utang (borgtoch) sebagaimana diatur dalam Buku III Bab XVII, yakni Pasal 1820 sampai dengan 1850, dimana bank dalam hal ini bertindak sebagai penanggung.

Pengaturan Bank Garansi semula diatur dalam Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia Nomor 11/110/KEP/DIR/UPPB tentang pemberian jaminan oleh bank dan pemberian jaminan oleh Lembaga Keuangan Bukan Bank, tanggal 29 Maret 1977. Mengingat perkembangan perbankan Indonesia setelah Paket Kebijakan 1988, maka peraturan mengenai pemberian Bank Garansi tersebut perlu disempurnakan sehingga keluarlah Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia Nomor 23/88/KEP/DIR tentang Pemberian Garansi Bank tanggal 18 Maret 1999.

Bentuk Bank Garansi menurut Pasal 1 Ayat (3) Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia Nomor 23/88/KEP/DIR tersebut di atas adalah:

1. Garansi dalam bentuk warkat yang diterbitkan oleh bank yang mengakibatkan

kewajiban membayar terhadap yang menerima garansi apabila pihak yang dijamin cidera janji (wanprestasi);

2. Garansi dalam bentuk penandatanganan kedua dan seterusnya atas surat

berharga, seperti aval dan endosemen dengan hak regres yang dapat

60

menimbulkan kewajiban membayar bagi bank apabila yang dijamin cidera janji (wanprestasi); dan

3. Garansi lainnya yang terjadi karena perjanjian bersyarat sehingga dapat

menimbulkan kewajiban finansial bagi bank.

Bentuk dari garansi sebagaimana yang diuraikan pada angka 1 tersebut berupa

Bank Garansi atau disebut sebagai Standby Letter of Credit (Standby L/C atau

SBLC).Menyangkut penerbitan garansi ini, bank dapat menerbitkannya, baik dalam mata uang rupiah maupun mata uang asing. Hal yang harus diperhatikan pula oleh bank yang menjalankan kegiatan pelayanan atau penerbitan garansi, yaitu:

1. Penerbitan garansi terkena ketentuan tentang batas maksimum pemberian

kredit dan Kewajiban Pemenuhan Modal Minimum (KPMM), dimana penghitungannya dilakukan secara gabungan sehingga meliputi pemberian garansi oleh kantor bank, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 7 Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia Nomor 23/88/KEP/DIR tersebut di atas;

2. Penerbitan Bank Garansiatau Standby L/C atas permintaan bukan penduduk

hanya diperkenankan apabila disertai dengan kontrak garansi dari bank di luar negeri yang bonafid (dalam pengertian bank tersebut tidak termasuk cabang bank yang bersangkutan di luar negeri), atau setoran sebesar 100% dari nilai garansi yang diberikan, hal ini sesuai denga ketentuan dalam Pasal 8 Ayat (1)

Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia Nomor 23/88/KEP/DIR tersebut di atas; dan

3. Bank dilarang bertindak sebagai Penjamin Emisi Efek, ditentukan dalam Pasal 8 Ayat (2) Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia Nomor 23/88/KEP/DIR tersebut di atas.

Dalam kegiatan pelayanan jasa berupa penerbitan garansi, maka bank penerbit akan menerima imbalan jasa dari si terjamin berupa provisi (keuntungan berupa fee). Di samping pembebanan provisi, semua biaya yang timbul akibat pemberian Bank Garansimenjadi beban pihak yang diberi jaminan sebagaimana juga yang berlaku dalam pemberian kredit.

Dalam KUH Perdata secara umum mengenal bentuk perjanjian semacam garansi bank atau Bank Garansi.Dengan demikian ketentuan-ketentuan dalam KUH Perdata berlaku pula dalam perjanjian Bank Garansi.Tetapi mengenai bentuk dan syarat-syarat yang lebih rinci diserahkan kepada para pihak. Hanya saja karena Bank Garansiini perjanjiannya sering dilakukan dan banyak digunakan, maka agar bank-bank memiliki pedoman yang lengkap dalam pelaksanaan pemberian Bank Garansisesuai dengan Pasal 2 Ayat (2) ditetapkan syarat-syarat pemberian Bank Garansi.61

Telah disebutkan terdahulu bahwa Bank Garansimerupakan bagian dari pemberian kredit yang juga merupakan salah satu bentuk fasilitas usaha yang diperbolehkan dikelola oleh bank-bank. Dalam pemberian garansi, di samping

61

pemberian Bank Garansi, ada bentuk lain yang berhubungan dengan Bank Garansiini yaitu:

1. Garansi yang berhubungan dengan surat berharga. Bentuk lain dari garansi yang diterbitkan bank dapat berbentuk penandatanganan kedua dan seterusnya atas surat berharga seperti aval dan endosemen dengan hak regres yang dapat menimbulkan kewajiban membayar bagi bank apabila yang dijamin cidera janji (wanprestasi). Menurut ketentuan dalam Pasal 3 Ayat (2) Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia Nomor 23/88/KEP/DIR, pemberian Bank Garansiini berlaku sejak tanggal dilakukannya pembubuhan tanda tangan oleh bank dan berakhir apabila:

a) Telah ada pembayaran dari debitur, baik dalam hal tidak terjadi protes

maupun dalam hal terjadi protes yang kemudian diterima;

b) Tidak diterima pemberitahuan protes dalam tenggang waktu dan menurut

ketetuan yang ditetapkan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Dagang; dan

c) Tenggang waktu penuntutan pembayaran menurut Kitab Undang- Undang

Hukum Dagang dan KUH Perdata telah kadaluarsa, dalam hal diterima pemberitahuan protes sesuai dengan tenggang waktu yang ditetapkan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Dagang.

2. Garansi yang berhubungan dengan perjanjian bersyarat. Bentuk lain dari garansi yang diterbitkan oleh bank dapat berbentuk garansi lainnya yang terjadi karena perjanjian bersyarat sehingga dapat menimbulkan kewajiban finansial bagi

bank. Adapun konkritnya dapat berupa surat yang dapat menimbulkan kewajiban membayar suatu jumlah tertentu apabila pihak yang dijamin tersebut cidera janji (wanprestasi) atau berupa Letter of Credit (L/C). Penerbitan L/C

tunduk pada ketentuan Uniform Customs and Practices for Documentary Credit

(UCP). Menurut ketentuan Pasal 4 Ayat (2) Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia Nomor 23/88/KEP/DIR, pemberian garansi ini berlaku sejak saat penandatanganan garansi dan berakhir pada saat realisasi garansi dalam hal syarat perjanjian dipenuhi atau pada saat tidak dipenuhi syarat perjanjian.

Dokumen terkait