• Tidak ada hasil yang ditemukan

4. GAMBARAN LOKASI PENELITIAN

5.3 Kondisi Tingkat Ketergantungan

5.3.4 Hubungan antara Tingkat Ketergantungan Finansial

Hipotesis empat adalah terdapat hubungan antara tingkat ketergantungan finansial nelayan dalam ikatan patron-klien yang terjadi dengan perilaku nelayan dalam pemasaran hasil tangkapan (Tabel 15). Tingkat ketergantungan finansial nelayan dihitung dengan menggunakan delapan pernyataan yang ditanyakan kepada responden (lampiran 3). Pada Tabel 10 dijelaskan bahwa sebanyak 17,5 persen responden nelayan yang memiliki tingkat ketergantungan finansial tinggi

akan memutuskan untuk memasarkan hasil tangkapannya kepada langgan. Responden nelayan yang memiliki tingkat ketergantungan rendah dan memutuskan untuk memasarkan hasil tangkapannya kepada TPI adalah sebanyak 57,5 persen. Terdapat 15 persen responden nelayan yang memiliki tingkat ketergantungan finansial tinggi dan memasarkan hasil tangkapannya kepada

langgan dan TPI. Terdapat 2,5 persen responden nelayan yang memiliki tingkat ketergantungan finansial sedang kemudian memasarkan hasil tangkapan kepada

langgan dan TPI. Akan tetapi, perlu diketahui bahwa nelayan yang memasarkan hasil tangkapan kepada langgan dan TPI akan memilih salah satu tempat pemasaran sesuai dengan kondisi finansial dan hasil tangkapan. Semua responden yang memasarkan hasil tangkapan kepada langgan dan TPI menyatakan bahwa apabila mereka memiliki hutang kepada langgan, mereka akan memasarkan hasil tangkapan kepada langgan. Akan tetapi, apabila tidak memiliki hutang, maka mereka akan memilih untuk memasarkan hasil tangkapan melalui proses lelang di TPI. Selain itu, dapat dilihat dari data bahwa tidak ada atau nol persen responden nelayan yang memiliki tingkat ketergantungan tinggi dan memasarkan hasil tangkapan ikannya melalui proses lelang di TPI. Sebaliknya, tidak ada atau nol persen responden nelayan yang memiliki tingkat ketergantungan rendah dan memasarkan hasil tangkapan ikannya kepada langgan.

Tabel 15. Hubungan antara Tingkat Ketergantungan Finansial Nelayan dengan Perilaku Nelayan dalam Pemasaran Hasil Tangkapan.

Tingkat ketergantungan finansial nelayan terhadap

langgan

Perilaku Nelayan dalam Pemasaran Hasil Tangkapan (%)

Langgan TPI Langgan dan TPI

Tinggi 17,5 0 15

Sedang 7,5 0 2,5

Rendah 0 57,5 0

Hasil survai yang diperoleh dari 40 responden menyebutkan bahwa tingkat ketergantungan finansial nelayan sangat berpengaruh terhadap perilaku nelayan dalam pemasaran hasil tangkapan. Nelayan akan cenderung untuk memasarkan hasil tangkapan ikan kepada langgan apabila memiliki tingkat ketergantungan

tinggi (Gambar 12). Sebaliknya, nelayan akan bebas menjual hasil tangkapan ikannya melalui proses lelang di TPI apabila tingkat ketergantungan finansialnya rendah (Gambar 13).

Langgan TPI TPI dan

Langgan T ingkat Ketergantungan T inggi Arah Pemasaran Pancing Jaring 46,15 % 42,86 % 0% 0% 14,28% 14,28%

Gambar 12. Diagram Jumlah Responden yang Memiliki Tingkat Ketergantungan Tinggi Berikut dengan Arah Pemasarannya.

Sebanyak 42,86 persen responden yang memiliki tingkat ketergantungan tinggi merupakan nelayan pancing dan akan memasarkan hasil tangkapan ikan kepada langgan. Sebanyak 14,28 persen responden yang memiliki tingkat ketergantungan tinggi merupakan nelayan jaring dan akan memasarkan hasil tangkapan ikan kepada langgan. Sebaliknya, sebanyak 34,78 persen responden yang memiliki tingkat ketergantungan rendah merupakan nelayan pancing dan akan memasarkan hasil tangkapan ikan kepada TPI. Sebanyak 65,22 persen responden yang memiliki tingkat ketergantungan rendah merupakan nelayan jaring dan akan memasarkan hasil tangkapan ikan kepada TPI.

Dapat disimpulkan bahwa responden yang memiliki tingkat ketergantungan finansial tinggi akan memilih untuk memasarkan hasil tangkapan ikannya kepada langgan. Hal tersebut disebabkan karena nelayan tidak memiliki modal awal untuk melakukan aktifitas melaut. Keterikatan terhadap hutang ini yang membuat nelayan terpaksa memasarkan hasil tangkapannya kepada langgan

tersebut, walaupun harga yang diberikan jauh dibawah harga pasar atau harga lelang di TPI. Hal tersebut menunjukkan terdapat hubungan pengaruh antara tingkat ketergantungan finansial nelayan dalam ikatan patron-klien yang terjadi

dengan perilaku nelayan dalam pemasaran hasil tangkapan, maka hipotesis empat dapat diterima.

Langgan TPI TPI dan

Langgan T ingkat Ketergantungan Rendah Arah Pemasaran Pancing Jaring 0 % 34,78 % 0 % 65,22 % 0 % 0 %

Gambar 13. Diagram Jumlah Responden yang Memiliki Tingkat Ketergantungan Rendah Berikut dengan Arah Pemasarannya.

5.4 Perilaku Nelayan dalam Pemasaran Hasil Tangkapan

Perilaku nelayan dalam pemasaran hasil tangkapan adalah tingkah laku nelayan dalam memilih tempat pemasaran hasil tangkapan ikannya. Dalam kasus ini, nelayan dapat memilih antara institusi TPI ataupun langgan sebagai tempat pemasaran. Hipotesis lima adalah terdapat hubungan antara persepsi nelayan mengenai kondisi TPI dengan perilaku nelayan dalam pemasaran hasil tangkapan. Kondisi institusi TPI diukur menggunakan enam indikator yaitu:

1) waktu lelang; 2) kebersihan; 3) retribusi; 4) harga lelang;

5) kinerja pengelola TPI;

6) kondisi gedung dan peralatan lelang.

Data hubungan pengaruh antara persepsi nelayan mengenai kondisi TPI dengan perilaku nelayan dalam pemasaran hasil tangkapan yang diperoleh dari responden disajikan pada tabel 16. Tabel 16 menunjukkan bahwa 57,5 persen responden nelayan yang memiliki persepsi positif terhadap kondisi institusi TPI maka akan lebih cenderung memasarkan hasil tangkapannya melalui proses lelang

di TPI. Sedangkan sebanyak 7,5 persen responden nelayan yang memiliki persepsi sedang mengenai institusi TPI cenderung memasarkan hasil tangkapannya kepada TPI maupun langgan. Tidak ada atau sebanyak nol persen responden nelayan yang memiliki persepsi rendah terhadap institusi TPI. Data di atas menunjukkan persepsi nelayan yang memasarkan ikan kepada langgan ataupun TPI cenderung positif terhadap institusi TPI sebagai sarana untuk memasarkan hasil tangkapan ikan. Akan tetapi dapat ditunjukkan bahwa semakin tinggi tinggi persepsi responden nelayan mengenai kondisi institusi TPI maka semakin cenderung responden memasarkan hasil tangkapan ikannya melalui proses lelang di TPI. Setelah ditarik kesimpulan, data tersebut dapat menunjukkan terdapat hubungan pengaruh antara persepsi nelayan mengenai kondisi institusi TPI terhadap perilaku nelayan dalam pemasaran hasil tangkapan, maka hipotesis lima dapat diterima.

Tabel 16. Hubungan antara Persepsi Nelayan mengenai Kondisi Institusi TPI dengan Perilaku Nelayan dalam Pemasaran Hasil Tangkapan.

Persepsi Nelayan Perilaku Nelayan dalam Pemasaran Hasil Tangkapan (%)

Langgan TPI Langgan dan TPI

Tinggi 25 57,5 10

Sedang 0 0 7,5

Rendah 0 0 0

Data TPI Tanjung Pasir (2011) menyebutkan bahwa sebanyak 233 nelayan yang terdiri dari 79 juragan dan 154 anak buah kapal (ABK) telah menjadi anggota tetap TPI. Nelayan yang merupakan anggota tetap TPI akan secara rutin menjual hasil tangkapannya melalui proses lelang di TPI. Jika dibandingkan dengan total nelayan Desa Tanjung Pasir secara keseluruhan yaitu sebanyak 348 orang nelayan, maka hanya sebanyak 66,95 persen nelayan yang memanfaatkan institusi TPI. Sisanya sebesar 33,05 persen nelayan memasarkan hasil tangkapan kepada langgan. Dari data yang telah dipaparkan sebelumnya, banyak nelayan yang memiliki pendapat positif mengenai institusi TPI. Meskipun demikian, masih banyak nelayan yang tidak memanfaatkan institusi TPI dan memasarkan hasil tangkapannya kepada langgan. Berikut ini dijelaskan keuntungan menggunakan institusi TPI:

Keuntungan menggunakan institusi TPI sebagai sarana pemasaran ikan bagi nelayan, antara lain:

1) Harga lelang di TPI yang lebih tinggi karena penawar tertinggilah yang berhak membeli ikan.

2) Pendapatan nelayan dari hasil menangkap ikan membaik.

3) Terdapat simpanan nelayan untuk musim paceklik (ditarik melalui retribusi).

Mekanisme pemasaran ikan melalui TPI (Gambar 14) dimulai saat nelayan melalui institusi TPI menjual ikannya kepada palele13 melalui proses lelang. Setelah itu, palele mendistribusikannya kepada konsumen. Jalur transaksi lelang atau proses lelang dimulai dengan pemisahkan hasil tangkapan ikan oleh nelayan sesuai dengan jenisnya setelah itu dijejer dengan kondisi ikan diikat. Seorang petugas TPI melakukan perhitungan dan pencatatan jumlah ikan yang terdapat dalam setiap satu kelompok ikan yang akan dilelang. Jumlah ikan ini dicatat dalam karcis total satuan lelang. Setelah palele berkumpul, maka kegiatan lelang dimulai. Pelelangan dipimpin oleh juru lelang yang menawarkan harga lelang. Naik turunnya harga penawaran tergantung pada volume ikan dan kemampuan modal pedagang. Palele yang ingin membeli dapat langsung menawar dan harga tertinggi yang berhak membeli ikan. Setelah itu palele

membayar ikan kepada kasir penerima, kemudian kasir penerima menyerahkan karcis lelang kepada kasir bayar. Kasir bayar akan membayarkan ikan sesuai dengan harga ikan setelah dipotong retribusi kepada nelayan. Pelaksanaan lelang dilakukan secara berurut sesuai dengan nomor urut lelang.

      

13

Palele adalah sebutan lain untuk bakul yaitu orang yang akan membeli ikan di dalam proses lelang. Palele terdiri dari pedagang, langgan, dan orang umum.

Institusi TPI Nelayan Kasir Penerima Juru Lelang Palele Kasir Bayar 5 1 2 3 4 Konsumen 1 2 3 Keterangan:

: Jalur Transaksi Lelang : Mekanisme Pemasaran : Lingkup TPI

Gambar 14. Mekanisme Pemasaran Ikan melalui TPI

Faktor pendorong nelayan dalam pemasaran hasil tangkapan tidak kepada

langgan adalah:

1) Nelayan sadar manfaat dan kegunaan TPI.

2) Kondisi Fisik dan non-fisik institusi TPI baik. Kondisi fisik TPI meliputi gedung dan peralatan TPI. Sedangkan kondisi non-fisik TPI meliputi waktu lelang, harga lelang, kebersihan, retribusi, dan kinerja pengelola TPI. Kinerja institusi TPI dapat diketahui berdasarkan kesesuaian antara status dan peran setiap individu pengelola (Tabel 17).

Nelayan yang mengetahui manfaat dan keuntungan dari institusi TPI akan lebih cenderung untuk memasarkan hasil tangkapan ikannya melalui proses lelang di TPI. Namun, pengaruh yang lebih besar dalam pemasaran hasil tangkapan nelayan melalui proses lelang terjadi ketika nelayan melihat rekan nelayan lainnya mendapatkan penghasilan yang lebih besar pada kuota ikan yang sama.

Tabel 17. Status dan Peranan Pengelola TPI

Status Peranan Manajer Penanggung jawab keseluruhan kegiatan lelang

TU Pengurus administrasi dan pembukuan kegiatan lelang

Juru Lelang - Penanggung jawab kegiatan pelelangan

- Pemimpin jalannya proses pelelangan, termaksud tawar-menawar harga, serta penentu harga ikan

Juru Tulis Lelang Pencatat tansaksi lelang nelayan

Kasir Penerima Menerima uang pembelian ikan pada kegiatan lelang dari palele/bakul

Kasir Bayar Membayarkan uang hasil lelang ikan kepada nelayan setelah dipotong retribusi

Selain melalui institusi TPI, nelayan juga dapat memasarkan hasil tangkapan kepada langgan. Berikut adalah mekanisme pemasaran hasil tangkapan dan hubungan yang terjadi di dalamnya, disajikan pada Gambar 15. Arah pemasaran hasil tangkapan dimulai dari nelayan yang menjual hasil tangkapannya kepada langgan. Setelah itu, langgan memasarkan kembali atau mendistribusikannya kepada konsumen.

Hubungan yang terjadi dimulai saat nelayan meminjam modal melaut kepada langgan (1). Dalam proses pemberian modal tersebu, terjadi perjanjian antara nelayan dan langgan yaitu hasil tangkapan nelayan tersebut harus dijual kembali kepada langgan dengan harga yang ditentukan oleh langgan. Setelah terjadi kesepakatan, barulah langgan meminjamkan modal (2). Setelah nelayan pulang melaut, hasil tangkapan ikan nelayan dijual seluruhnya kepada langgan

sesuai dengan harga yang ditentukan langgan (3). Uang yang diterima dari penjualan tersebut kemudian dipotong dari banyaknya hutang.

Nelayan Langgan 2 3 1 2 1 Konsumen Keterangan: : Arah pemasaran : Hubungan Perilaku

Gambar 15. Mekanisme Pemasaran Ikan kepada Langgan

Alasan utama nelayan memasarkan ikannnya kepada langgan adalah karena nelayan tidak memiliki modal melaut. Nelayan tidak memiliki modal melaut yang cukup karena tidak mampu membeli solar sebagai bahan bakar perahu dan tidak mempunyai cukup dana untuk membeli perbekalan melaut dan untuk kebutuhan sehari-hari keluarga mereka di rumah.

Faktor penarik nelayan dalam menjual hasil tangkapannya kepada langgan

adalah:

1) Langgan dapat meminjamkan modal melaut kepada nelayan.

2) Langgan dapat dengan cepat memberikan hutang kepada nelayan untuk kebutuhan sehari-hari.

3) Langgan memberikan kepastian dalam membeli hasil tangkapan nelayan. Selain faktor penarik yang disebutkan diatas, terdapat faktor lain yang juga dapat menyebabkan nelayan menjual hasil tangkapan ikannya kepada langgan

yaitu:

1) Jenis alat tangkap nelayan dan waktu melaut nelayan. 2) Hubungan kekerabatan atau keluarga.

Jenis alat tangkap juga menentukan arah pemasaran hasil tangkapan. Sebanyak 47,06 persen responden yang memasarkan hasil tangkapannya kepada

langgan menggunakan pancing klitik sebagai alat tangkapannya. Kemudian 23,53 persen menggunakan pancing rawe, dan sisanya 29,41 persen menggunakan jaring rampus. Dari observasi lapang, 100 persen nelayan yang menggunakan alat tangkap pancing klitik memasarkan hasil tangkapannya kepada langgan. Hal tersebut karena nelayan yang menggunakan pancing klitik memiliki waktu melaut yang lebih lama dan melakukan bongkar muatan pada sore hari. Waktu melaut nelayan yang menggunakan pancing klitik biasanya berkisar antara delapan sampai sepuluh jam perhari. Nelayan pergi melaut pukul 05.00 WIB dan bongkar muatan / pulang melaut pukul 17.00 WIB. Nelayan dengan jenis alat tangkap pancing klitik akan lebih mudah mendapatkan ikan apabila menjelang sore hari karena ikan akan lebih dekat ke permukaan laut.

Nelayan yang memasarkan hasil tangkapan ikannya di TPI umumnya menggunakan alat pancing berjenis pancing rawe dan jaring rampus. Pancing rawe memiliki mata pancing yang banyak sehingga ikan yang akan tertangkap lebih banyak. Jaring rampus juga dapat menangkap ikan dengan hasil yang lebih banyak dibanding menggunakan pancing klitik. Jaring rampus dapat menangkap ikan pada kedalaman yang lebih dalam sehingga tidak perlu bagi nelayan untuk menunggu sore hari agar ikan naik ke permukaan air. Umumnya nelayan yang menggunakan alat pancing berupa pancing rawe dan jaring rampus melakukan aktifitas melaut mulai pukul 23.00 WIB - 03.00 WIB dan pulang melaut atau bongkar muatan pukul 08.00 WIB – 10.00 WIB. Jadwal tersebut sesuai dengan kegiatan lelang yang dimulai pukul 10.00 WIB.

Perilaku nelayan dalam pemasaran hasil tangkapan juga dipengaruhi oleh hubungan kekerabatan atau keluarga. Nelayan yang mempunyai kerabat seorang

langgan akan cenderung memasarkan hasil tangkapan ikannya kepada langgan

tersebut. Hal ini dilakukan nelayan karena rasa sungkan nelayan apabila memasarkan hasil tangkapan ikannya di tempat lain. Menurut informan, pengaruh hubungan kekerabatan ini berada dalam jumlah yang sangat sedikit, hanya berkisar antara 0,5 sampai satu persen dari total nelayan. Pengaruh terbesar

pemasaran hasil tangkapan nelayan terletak pada ketergantungan finansial kepada

langgan.

5.5 Analisis Pengaruh Ikatan Patron-Klien Terhadap Perilaku Nelayan

Dokumen terkait