2. PENDEKATAN TEORITIS
2.1 Tinjauan Pustaka
2.1.9 Tempat Pelelangan Ikan (TPI)
Berkaitan dengan fungsi TPI, sebagaimana contoh Dinas Perikanan dan Kelautan Propinsi Jawa Tengah telah mengeluarkan Perda nomor I/ tahun 1984 mengenai petunjuk penyelenggaraan pelelangan Ikan di Jawa Tengah. Pada Perda tersebut antara lain menyebutkan bahwa:
a) Yang disebut dengan Tempat Pelelangan Ikan adalah tempat yang disediakan oleh Pemerintah Daerah untuk penyelenggaraan pelelangan ikan, disingkat TPI.
b) Penanggung jawab pelelangan ikan di TPI adalah Dinas Perikanan. c) Pelaksanaan pelelangan ikan di TPI diserahkan kepada organisasi
nelayan dalam bentuk koperasi.
Mohogito (1991) dalam Widyastuti (1993) menyebutkan fungsi TPI adalah sebagai berikut: (1) pusat pendaratan ikan, (2) pusat pembinaan mutu hasil perikanan, (3) pusat pengumpulan data, dan (4) pusat pengembangan kegiatan para nelayan di bidang pemasaran.
Tujuan pendirian TPI adalah untuk:
1) Melindungi nelayan dari permainan harga yang dilakukan oleh tengkulak/pengijon (Pramitasari, Anggoro dan Susilowati 2006).
2) Membantu nelayan mendapatkan harga yang layak (Pramitasari, Anggoro dan Susilowati 2006).
3) Membantu nelayan dalam mengembangkan usahanya (Pramitasari, Anggoro dan Susilowati 2006).
4) Memperlancar pelaksanaan penyelenggaraan lelang (Widayanti 2008). 5) Mengusahakan stabilitas harga ikan (Widayanti 2008).
6) Meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan nelayan beserta keluarganya (Widayanti 2008).
7) Meningkatkan pendapatan asli daerah (Widayanti 2008).
Selain empat hal tersebut, Widiastuti (1993) menyebutkan keuntungan TPI yang disajikan pada Tabel 3. Dari Tabel 3, dapat dilihat manfaat Institusi TPI yang dapat diterima oleh tiga pihak, yaitu bagi nelayan, pembeli dan pemerintah . Tabel tersebut juga menjelaskan keuntungan penggunaan jasa TPI bagi ketiga pihak tersebut serta kerugian yang akan diperoleh apabila tidak menggunakan jasa TPI.
Tabel 3. Keuntungan Jasa Tempat Pelelangan Ikan9
Pemakai Menggunakan Jasa TPI Tidak Menggunakan Jasa TPI Nelayan - Penanganan ikan cepat
- Harga yang diperoleh wajar - Jumlah tangkapannya dapat
diketahui
- Penanganan ikan kurang cepat - Harganya rendah
Pemerintah - Pembinaan ke nelayan mudah - Ada pemasukan untuk kas
daerah
- Pembinaan dan pengawasan nelayan sulit
- Tidak ada pemasukan ke kas daerah
Konsumen - Mutu ikan terjamin - Harga wajar
- Mutu ikan bisa tidak terjamin - Harga dapat dipermainkan - Penanganan kurang cepat
Sumber: Direktorat Jenderal Perikanan (1985) dalam Widiastuti (1993)
2.1.9.2 Teknis Pelelangan Ikan
Menurut Silalahi (2006), pelelangan dimulai dari pemisahan hasil tangkapan sesuai dengan jenisnya. Pelelangan dilakukan oleh juru lelang di TPI, harga tertinggi yang menang. Pelaksanaan lelang dipimpin oleh juru tawar yang secara struktural bertanggung jawab kepada kepala teknik lelang. Dipaparkan
9
Direktorat Jenderal Perikanan (1985) dalam skripsi Widiyastuti (1993) yang berjudul Keadaan Pelelangan Ikan dan Sikap Nelayan terhadap Tempat Pelelangan Ikan Pelabulan ratu, Kecamatan Pelabuhan ratu, Kabupaten Sukabumi, Propinsi Jawa Barat.
lebih rinci, kegiatan pelelangan dimulai pagi hari setelah terdapat sejumlah pedagang yang telah mencukupi untuk terjaminnya lelang dengan baik. Sebelum kegiatan pelelangan dimulai, seorang petugas TPI melakukan perhitungan dan pencatatan jumlah ikan yang terdapat dalam setiap satu kelompok ikan yang akan dilelang. Jumlah ikan ini dicatat dalam karcis total satuan lelang. Sebelum pelelangan dimulai semua pedagang diberi kesempatan untuk memeriksa ikan yang akan dilelang. Setelah kegiatan pencatatan dan pemeriksaan selesai, kemudian pelelangan ikan dimulai dengan dipimpin juru tawar. Sebelum juru tawar menawarkan ikan kepada peserta lelang, pembantu juru tawar lebih dulu menyebutkan jenis dan mutu ikan, pemilik ikan dan volume ikan sesuai dengan catatan yang terdapat dalam karcis total satuan lelang. Kemudian juru tawar mulai menawarkan ikan dengan harga patokan adalah harga ikan sehari sebelumnya sesuai dengan jenis dan mutu ikan bersangkutan. Naik turunnya harga penawaran tergantung pada volume ikan dan kemampuan modal pedagang. Pemenang lelang ditetapkan oleh juru tawar berdasarkan harga penawaran tertinggi. Juru tawar lelang kemudian mengumumkan pemenang lelang dengan menyebutkan harga ikan, nama dan alamat pemenang lelang. Pelaksanaan lelang dilakukan secara berurut sesuai dengan nomor urut lelang. Terdapat beberapa tata tertib yang harus dipatuhi dalam suatu kegiatan pelelangan ikan. Mekanisme pelelangan ikan disajikan pada Gambar 1.
NELAYAN PROSES PELELANGAN BAKUL PENGECER BAKUL PENGUSAHA KONSUMEN
Terlihat jelas dari Gambar 1, bahwa nelayan selaku penjual ikan menjual hasil tangkapannya melalui TPI, kemudian terjadi proses lelang untuk menentukan harga jual ikan. Para bakul ikan menawar ikan atau hasil tangkapan nelayan tersebut dan harga tertinggi yang menang. Bakul ikan yang menang lelang berhak mendapatkan hasil tangkapan tersebut dengan membayar sesuai dengan harga kesepakatan. Selanjutnya bakul ikan menjual ikan tersebut kepada konsumen.
TPI sebagai salah satu tempat pelelangan ikan masih mengutamakan pengumpulan dana dan retribusi. Pada dasarnya apabila seluruh pembayaran retribusi ini berjalan dengan baik, maka akan memberikan pengaruh positif baik bagi nelayan maupun bagi pemerintah daerah setempat. Pengaruh positif tersebut berasal dari pengalokasian biaya retribusi yang cukup adil, disamping dapat memberikan pemasukan bagi pemerintah daerah, juga pengalokasian yang memperhatikan keamanan dan kesejahteraan nelayan (Silalahi 2006).
2.1.9.3 Status dan Peranan dalam Institusi Tempat Pelelangan Ikan (TPI)
Struktur sosial erat kaitannya dengan status dan peran masing-masing aktor yang terlibat dalam interaksi. Rincian tentang status dan peranan komponen-komponen pokok dan komponen-komponen lainnya disajikan pada Tabel 4 dan Tabel 5.
Tabel 4. Status dan Peranan Komponen Pokok Pelelangan Ikan
Status Peranan Nelayan Produsen
Bakul Ikan Pembeli
Pengelola TPI Pemegang fungsi manajemen
Sumber: Silalahi (2006)
Dari Tabel 4 dapat dilihat status dan peranan masing-masing individu. Nelayan berperan sebagai produsen yaitu menangkap serta memasok hasil tangkapan dan dijual ke TPI. Peran bakul ikan adalah sebagai pembeli yang melakukan transaksi tawar-menawar dalam proses lelang ikan. TPI berperan
sebagai fungsi manajemen yaitu yang memfasilitasi nelayan dan bakul ikan dalam proses lelang.
Tabel 5. Status dan Peranan Komponen dalam Pelaksanaan Proses Lelang10
Status Peranan
Manager Penanggung jawab secara keseluruhan terhadap keberlangsungan TPI
Tata Usaha Pengurus administrasi
Juru Lelang - Penanggung jawab kegiatan pelelangan
- Pemimpin jalannya proses pelelangan, termaksud tawar-menawar harga
Juru Timbang Menimbang hasil tangkapan nelayan yang akan dilelang
Juru Catat Mencatat seluruh hasil pelelangan, termasuk mencatat tangkapan nelayan yang telah ditimbang dan mencatat harga ikan yang terjual
Juru Kasir Bertanggung jawab terhadap pengaturan para pembeli atau para peserta pelelangan
Keamanan Menjaga keamanan di wilayah TPI terutama pada proses berlangsungnya pelelangan
Kebersihan Penjaga kebersihan lingkungan gedung TPI
Sumber: Silalahi (2006)
Pada Tabel 5 dijelaskan bahwa dalam kegiatan TPI, pelaksanaan lelang dipimpin oleh juru tawar yang secara struktural bertanggung jawab kepada kepala teknik lelang. Peranan juri tawar dibantu oleh pembantu juru tawar dan juru tulis. Juru tawar bertugas melaksanakan lelang ikan dengan cepat, tertib, lancar, tegas, dan sopan. Juru tawar juga berwenang menetapkan pemenang lelang berdasarkan penawaran tertinggi. Pembantu juru tawar bertugas melaporkan jenis, mutu, berat ikan yang siap dilelang kepada juru tawar. Juru tulis karcis bertugas mengikuti jalannya pelelangan dengan cermat dan mengerjakan karcis lelang dengan baik dan dapat dibaca dengan baik. Juru tulis buku bakul (pedagang) berfungsi
10
Berdasarkan penelitian David Ganda Silalahi (2006) yang berjudul Efektifitas Kelembagaan Tempat Pelelangan Ikan sebagai Kelembagaan Ekonomi masyarakat Nelayan. Kasus Kelembagaan TPI Kelurahan Pelabuhan ratu, Kecamatan Pelabuhan ratu, Kabupaten Sukabumi, Propinsi Jawa Barat.
mencatat dengan baik dan benar sesuai dengan ketentuan dan mengikuti jalannnya lelang dengan cermat dan menutup buku bakul (pedagang) setiap hari setelah selesai lelang. Juru tulis buku nelayan bertugas mencatat buku nelayan dengan baik dan benar sesuai ketentuan dan berkewajiban pula menutup buku nelayan setiap hari.