• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1.3 Hubungan Hukum Waris Adat dan Hukum Islam

Menurut Pasal 176 kompilasi hukum Islam atau KHI (Instruksi Presiden No. 1 Tahun 1991), anak perempuan bila hanya seorang ia mendapat separoh bagian, bila dua orang atau lebih mereka bersama-sama mendapat dua pertiga bagian, dan apabila anak perempuan bersama-sama dengan anak laki-laki, maka bagian anak laki-laki adalah dua berbanding satu dengan anak perempuan. Pengaturan hak waris dalam Pasal 176 KHI sebagaimana dikutip di atas sesuai dengan ketentuan QS An-Nisa' (4): 11 yang berbunyi, Bagian anak lelaki sama dengan bagian dua anak perempuan; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan. Jadi, tidak ada perbedaan pengaturan hukum waris antara hukum Negara (KHI) dengan hukum Islam.

Menurut Hasby Ash-Shiddieqy:

Hukum kewarisan adalah hukum yang mengatur siapa-siap orang yang mewarisi dan tidak mewarisi, bagian setiap ahli waris dan cara-cara pembagiaannya.( Hasby Ash-Shiddieqy, hal 8)

Mengenai adanya keberatan wanita atas ketentuan tersebut, kita perlu memperhatikan ayat Al-Quran ketika mengakhiri salah satu uraian mengenai pembagian waris yaitu:

Kamu tidak mengetahui apakah orangtua kamu atau anak-anak kamu yang lebih dekat manfaatnya untuk kamu (QS An-Nisa [4]: 11).

Pakar tafsir Al-Quran Dr. M. Quraish Shihab menjelaskan ayat tersebut sebagai berikut:

(Ayat, red.) Ini menunjukkan bahwa nalar manusia tidak akan mampu mendapatkan hasil terbaik bila padanya diserahkan wewenang menetapkan bagian-bagian warisan. Ini juga menunjukkan bahwa ada tuntunan-tuntunan agama yang bersifat ma'qul al-ma'na (dapat dijangkau oleh nalar) dan ada yang juga yang tidak dapat dijangkaunya (M. Quraish Shihab, Fatwa-fatwa Seputar Tafsir Al-Quran, Bandung: Mizan, 2001, hal.113).

Lebih lanjut, Quraish Shihab menulis:

Bagian wanita yang satu itu sebenarnya cukup untuk dirinya sebagaimana kecukupan satu bagian untuk pria seandainya dia tidak kawin. Akan tetapi, jika wanita kawin, keperluan hidupnya ditanggung oleh suami, sedangkan bagiannya yang satu, dapat dia simpan tanpa dia belanjakan. Nah, siapakah yang habis dan siapa yang utuh bagiannya jika dia kawin? Jelas lelaki karena dua bagian yang dimilikinya harus dibagi dua, sedangkan apa yang dimiliki perempuan tidak digunakannya sama sekali. Jika demikian - dalam soal waris-mewarisi ini, keberpihakan Allah Swt. kepada perempuan lebih berat daripada keberpihakanNya kepada laki-laki. Ini karena lelaki ditugaskan keluar mencari nafkah (ibid, hal. 116).

Pada bagian lain, Quraish Shihab berpendapat bahwa:

Dapat dibenarkan jika salah seorang di antara ahli waris bersedia memberi haknya kepada orang lain, atau semua ahli waris sepakat membaginya secara merata, selama pembagian secara merata itu bukan atas dasar menilai bahwa kadar pembagian yang ditetapkan Allah tidak adil atau keliru. Dasarnya adalah karena harta warisan merupakan hak masing-masing ahli waris berdasarkan anugerah Allah Swt. dan berdasarkan ketetapan-Nya (M. Quraish Shihab, Anda Bertanya, Quraish Shihab Menjawab, Bandung: Al-Bayan, 2002, hal. 181).

Berdasarkan hasil penelitian hukum adat waris di Banjarmasin terdapat ke seragaman antara sistem pembagian hartawarisan dibeberapa daerah di Indonesia, Sajuti Thalib menyebutkan bahwa:

Mengenai pembagian warisan dikemukakan bahwa hukum adat tradisional pada umumnya tidak membedakan antara hak anak laki-laki dan anak perempuan. Sebagai anak dari pewaris kedudukan mereka terhadap warisan orang tuanya sama, tidak ada anak yang mendapat bagian lebih dari anak-anak lainnya. Mereka mempunyai hak sama. Orang banjar yang mempunyai turunan keluarga parental, anak berhak mendapat warisan dari kedua orang tuanya, sedangkan

hak-hak masing-masing dari anak laki-laki dan anak perempuan sepanjang kenyataanya tidak terdapat suatu keseragaman. (Sajuti Thalib receptiaon A Cotrario 1985 hal: 68-71)

Berdasarkan apa yang dikatakan di atas, tidak terdapat suatu keseragaman, bahwa kadang-kadang pembagian warisan itu memberikan hak untuk anak laki-laki dua kali (2x) hak anak perempuan dan kadang-kadang terdapat juga pembagian yang sama sehingga sulit untuk menarik kesimpulan yang positif. Bilamana timbul sengketa warisan biasanya dimintakan ketetapan dari kerapatan Qadhi dimana kerapatan Qadhi didasarkan pada fatwa yang diambil sebagai dasarnya ialah ketentuan hukum faraid. Sepanjang pengamatan bahwa terkadang fatwa ulama dari kerapatan Qadhi sebagaimana di atas kadang-kadang tidak dituruti oleh para ahli waris tetap melaksanakan sesuatu pembagian yang berdasarkan persamaan hak; hanya saja fatwa dimaksud sebagai pedoman untuk mengetahui siapa-siapa ahli yang berhak atas harta warisan berapa bagian masing-masing namun pembagiannya disepakati berdasarkan persamaan hak. Dikemukakan bahwa salah satu bagian dari pada kekayaan keluarga ialah harta benda yang diperoleh suami istri secara bersama-sama selama perkawinan. Harta ini bagi daerah ini biasa disebut sebagai “barang perpantangan”. Barang perpantangan ini mempunyai kedudukan tersendiri bila mana perkawinan putus (baik karena perceraian maupun karena kematian salah seorang suami atau istri), karena masing-masing pihak berhak atas 50% atau separuh dari harta itu. Mengenai kedudukan anak angkat dikemukakan bahwa bagi

orang banjar anak angkat dalam pengertian secara juridis jarang dijumpai, yang ada hanya pemeliharaan seorang anak (anak saudara atau anak orang lain di luar kerabat) dipelihara, dididik sebagai anak sendiri dan hidup dilingkungan keluarga sendiri, dengan demikian si anak mempunyai hak-hak tertentu terhadap harta benda keluarganya yang memeliharanya namun demikian si anak bukanlah ahli waris dari orangtua yang memeliharanya sungguhpun si anak berhak untuk menikmati barang perpantangan dari orangtua yang memeliharanya untuk nafkah hidup. Mengenai kemungkinan adanya harta yang tidak terbagi dikemukakan bahwa dengan meninggalnya si pewaris, timbul kewajiban dari para ahli waris untuk menyelenggarakan penguburannya dan membayar utang-utangnya si pewaris, disamping hak mereka untuk mengoperkan seluruh harta peninggalan pewaris. Untuk harta peninggalan pewaris tidak terdapat ketentuan bahwa harta peninggalan itu harus segerah dibagi-bagi lebih-lebih apabila pewaris pada saat meninggalnya meninggalkan anak-anak yang masih belum dewasa maka seluruh harta peninggalan tetap berada di bawah kekuasaan atau isteri si mati, dan sekalipun anak-anak pewaris sudah dewasa semua kebiasaanya mereka tidak ingin membagi-bagi harta peninggalan si mati.

Sehingga bisa kita simpulkan bahwa hukum waris yang berlaku bagi orang-orang Banjar adalah bagian hukum Islam dengan beberapa pengecualian, yang pertama, Adanya barang perpantangan yang pembagiannya secara tersendiri. Kedua, dalam pembagian warisan hak

anak laki-laki dan perempuan adalah sama (asas persamaan hak) dan berlaku pada asas kerukunan. Ketiga, Anak yang dipelihara, Anak tiri bukan ahli waris tetapi mereka berhak untuk menikmati hasil dari harta warisan sebagai nafkah hidupnya. Keempat, Janda ahli waris, tetapi dalam perpantangan janda berhak separuh dari jumlah barang perpantangan dan terhadap barang-barang asal janda berhak menguasainya sekedar dan selama janda memerlukannya untuk penghidupannya.dan kelima, Harta peninggalan pewaris biasanya tidak dibagi-bagi. Hal ini menunjukan bahwa disetiap suku adat memiliki banyak ragam sistem pembagian harta warisan yang sangat dipengaruhi oleh hukum Islam.

Adapun penggantian Kewarisan Pewarisan berdasarkan Undang-undang (BW) terutama dengan didasarkan kekeluargaan sedarah antara si pewaris dan ahli waris. Undang-undang menunjukkan urutan pewarisannya siapa yang berhak mewaris lebih dahulu. Dalam hal ini, maka Undang-undang membedakan antara mewarisi sendiri dan mewaris sebagai pengganti. Menurut Undang-undang ada tiga macam penggantian dalam hak waris:

1. Pengganti dalam garis menurun (ke bawah) Penggantian ini terjadi dengan tiada batasnya, tiap anak yang meninggal lebih dahulu digantikan oleh semua anak-anaknya begitu pula jika dari pengganti-pengganti ini ada salah satu yang meninggal lebih dahulu lagi, ia juga harus digantikan oleh anak-anaknya,

dan begitu seterusnya. Dengan ketentuan bahwa segenap turunan dari satu orang yang meninggal lebih dahulu harus dianggap sebagai suatu steak (cabang) dan bersama-sama memperoleh bagian yang mereka gantikan.

2. Pengganti dalam garis menyamping tiap saudara si meninggal, baik sekandung maupun saudara tiri, jika meninggal lebih dahulu, digantikan oleh anak-anaknya. Juga penggantian ini dapat dilakukan dengan tiada batasnya.

3. Pengganti dalam garis menyamping dalam hal yang tampil ke muka sebagai ahli waris anggotaanggota keluarga yang lebih jauh tingkat hubungannya dari pada seorang saudara, misalnya; seorang paman atau keponakan. Di sini diterapkan, bahwa saudara dari seorang yang tampil kemuka sebagai ahli waris itu, jika meninggal lebih dahulu dapat juga digantikan oleh keturunannya.

Sedangkan menurut yang dikemukakan Effendi Perangin:

Hukum waris adalah hukum yang mengatur tentang peralihan harta kekayaan yang ditinggalkan seseorang yang meninggal serta akibatnya bagi para ahli warisnya. Pada asasnya hanya hak-hak dan kewajaban-kewajiban dalam lapangan hukum kekayaan/harta benda saja yang dapat diwaris. Beberapa pengecualian,seperti hak seorang bapak untuk menyangkal sahnya dinyatakan sebagai anak sah dari bapak atau ibunya(kedua hak itu adalah dalam lapangan hukum kekeluargaan), dinyatakan dalam oleh Undang-undang diwarisi oleh ahli warisnya.(Effendi Perangin hal:3)

Sedangkan menurut ketentuan Pasal 171 huruf a kompilasi hukum Islam, bahwa hukum kewarisan (waris) adalah hukum yang mengatur tentang pemindahan hak pemilikan harta peninggalan (tirkah) pewaris.

Selain itu juga berkaitan dengan penentuan siapa-siapa yang berhak menjadi ahli waris dan berapa bagiannya masing-masing. Hukum kewarisan dalam Islam dikenal dengan istilah faraidh, bentuk jamak dari faridah yang artinya pembagian tertentu. Hal ini karena dalam Islam, bagian-bagian warisan yang menjadi hak ahli waris telah dibakukan dalam al-qur‟an, meskipun dalam realitasnya sering tidak tepat secara persis nominalnya misalnya masalah radd dan aul.

Tujuan Hukum waris Islam adalah mengatur cara-cara membagi harta peninggalan agar dapat bermafaat kepada ahli waris secara adil dan baik. Berdasarkan hal itu, Islam tidak hanya memberikan warisan kepada pihak suami atau istri saja tetapi juga dari kedua belah pihak baik garis ke atas, garis ke bawah, atau garis ke sisi. Sehingga, hukum waris Islam bersifat bilateral individual.

Sedangkan asas-asas hukum kewarisan Islam dapat digali dari ayat ayat mengenai hukum kewarisan serta sunnah-sunnah dari Rasulullah Shallallahu „alayhi wasallam. Asas-asas yang dimaksud dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

1. Asas Ijbari.

Secara etimologis, kata ijbari mengandung arti paksaan (compulsory) yaitu melakukan sesuatu di luar kehendak sendiri. Dalam hal hukum waris berarti terjadinya peralihan harta seseoarng yang telah meninggal dunia kepada yang masih hidup dengan sendirinya. Maksudnya, tanpa ada perbuatan hukum atau pernyataan kehendak dari si pewaris bahkan si

pewaris (semasa hidupnya) tidak dapat menolak atau menghalang-halangi terjadinya peralihan tersebut. Dengan kata lain, dengan adanya kematian si pewaris maka secara otomatis hartanya beralih kepada ahli warisnya tanpa terkecuali apakah ahli warisnya suka menerima atau tidak (demikian juga halnya dengan si pewaris).

Asas ijbari dapat dilihat dari beberapa segi, yaitu:

1. dari segi peralihan harta;

2. dari segi jumlah harta yang beralih;

3. dari segi kepada siapa harta itu beralih. Ketentuan asas ijbari ini dapat dilihat antara lain dalam ketentuan yang termuat dalam al-qur‟an surah An-nisa (4) ayat 7 yang menjelaskan bahwa bagi seseorang laki-laki maupun perempuan ada bagian dari harta peninggalan orang tua dan karib kerabatnya.

2. Asas Bilateral

Adapun asas bilateral yang dimaksud di dalam hukum waris Islam adalah bahwa seseorang menerima hak warisan dari kedua belah pihak garis kerabat, yaitu garis keturunan perempuan maupun garis keturunan laki-laki. Asas ini juga berlaku untuk kerabat garis ke samping (yaitu melalui ayah dan

ibu).

3. Asas Individual

Pengertian asas individual ini adalah bahwa setiap ahli waris (secara individu) berhak atas bagian yang didapatnya tanpa terikat oleh ahli waris

lainnya (sebagaimana halnya dengan pewarisan kolektif yang dijumpai dalam ketentuan hukum adat). Dengan demikian, bagian yang diperoleh ahli waris dari harta pewaris dimiliki secara perorangan, dan ahli waris lainnya yang tidak ada sangkutpaut sama sekali dengan bagian yang diperolehnya tersebut. Sehingga individu masing-masing ahli waris bebas menentukan (berhak penuh) atas bagian yang diperolehnya.

4. Asas Keadilan Berimbang

Asas keadilan berimbang maksudnya adalah keseimbangan antara hak dan kewajiban serta keseimbangan antara yang diperoleh dengan keperluan dan kegunaan.

5. Kewarisan Semata Akibat Kematian

Hukum waris memandang bahwa terjadinya peralihan harta hanya semata-mata disebabkan adanya kematian. Dengan perkataan lain, harta seseorang tidak dapat beralih (dengan pewarisan) seandainya dia masih hidup. Walaupun ia berhak mengatur hartanya, hak tersebut semata-mata hanya sebatas keperluannya semasa ia masih hidup dan bukan untuk penggunaan harta tersebut sesudah ia meninggal dunia.

Dalam pandangan hukum Islam atau syariat Islam menetapkan aturan waris dengan bentuk yang sangat teratur dan adil. Di dalamnya ditetapkan hak kepemilikan harta bagi setiap manusia, baik laki-laki maupun perempuan dengan cara yang legal. Syariat Islam juga menetapkan hak pemindahan kepemilikan seseorang sesudah meninggal

dunia kepada ahli warisnya, dari seluruh kerabat dan nasabnya, tanpa membedakan antara laki-laki dan perempuan, besar atau kecil.

Menurut Ahmad Azhar Basyir.

kewarisan menurut Hukum Islam adalah proses pemindahan Harta peninggalan seseorang yang telah meninggal,baik yang berupa benda yang wujud maupun yang berupa hak kebendaan, kepada keluarganya yang dinyatakan berhak menurut hukum. (Ahmad Azhar Basyir:132)

Sedangkan Munawir mengemukakan gagasannya tentang reaktualisasi hukum waris boleh jadi karena dia mempunyai pengalaman pribadi. Dimana pada saat itu dia memiliki tiga orang anak lelaki dan tiga orang anak wanita. Tiga anak lelakinya tersebut menyelesaikan pendidikannya disalah satu universitas luar negeri dan biayanya ditanggung oleh Munawir sendiri, sedangkan dua dari tiga anak perempuannya atas kemauan mereka sendiri tidak meneruskan ke perguruan tinggi, tetapi hanya memilih dan belajar disekolah kejuruan yang jauh lebih murah biayanya. Persoalannya kemudian yang dipikirkan oleh Munawir apakah anak lelaki saya yang sudah diongkosi mahal dan belajarnya di luar negeri masih menerima dua kali lebih besar dari apa yang akan diterima anak perempuan saya manakala saya meninggal dunia. Persoalan ini diajukan Munawir kepada salah seorang ulama yang luas ilmu tentang agama. Ulama tersebut tidak dapat memberikan fatwa.

Beliau hanya memberitahukan apa yang beliau alami sendiri dan ulama lain telah melakukannya. Mumpung masih hidup, lalu beliau membegi sama rata harta kekayaannya kepada putra-putrinya sebelum meninggal

sebagai hibah. Dengan demikian kalau beliau meninggal sisa sedikit yang harus dibagi menurut faraid.

Mendengar jawaban tersebut, Munawir kemudian termenung sebentar lalu berkata dalam bentuk pertanyaan:

Apakah dari segi keyakinan Islam kebijaksanaan tersebut tidak lebih berbahaya. Sebab menurutnya, beliau membagi rata kekayaannya kepada putraputrinya sebagai hibah sebelum meninggal dunia.

Dengan demikian ulama tersebut tidak percaya kepada hukum faraid, sebab kalau percaya maka beliau tidak menempuh jalan yang lain lagi. Hal ini banyak dilakukan oleh masyarakat Islam dewasa ini.

( Munawir Sjadzali, hal: 76.)

Menurut Munawir, cara berislam orang seperti itu mendua. Disatu sisi, ia ingin tetap menjalankan hukum warisan Islam, tetapi di sisi lain ia mencari jalan yang lebih memberi nilai keadilan sekaligus meragukan secara tidak langsung nilai keadilan. Inilah yang mendorong Munawir melakukan reaktualisasi hukum waris tersebut. Bias kita simpulkan bahwa menurut Munawir di atas tata cara pembagian harta Warisan boleh dilakukan berdasarkan kebijaksanaan orang tua atau pewaris sebelum meninggal dunia yang bersifat hibah.

Al-Qur‟an menjelaskan dan merinci hukum-hukum yang berkaitan dengan hak kewarisan tanpa mengabaikan hak seorang pun. Bagian yang harus diterima semuanya dijelaskan sesuai kedudukan nasab terhadap pewaris, apakah dia sebagai anak, ayah, istri, suami, kakek, ibu, paman, cucu, atau bahkan hanya sebatas saudara seayah atau seibu. Adapun ayat-ayat Al-Qur‟an yang menjadi sumber bagi hukum waris Islam secara garis besarnya dapat dibagi atas dua kelompok, yaitu ayat-ayat mawaris

utama, dan ayat-ayat mawaris tambahan. Ayat-ayat mawaris utama menyebutkan secara rinci para ahli waris dan bagian mereka masing-masing yang dinyatakan dalam enam macam angka pecahan, yaitu 1/2, 1/4, 1/8, 2/3, 1/3, dan 1/6. Sementara itu, ayat-ayat mawaris tambahan hanya memberikan ketentuan umum yang berkaitan dengan pembagian warisan, tetapi tidak memberikan rinciannya.

Ayat-ayat mawaris utama hanya ada tiga ayat di dalam Al-Qur‟an, yang ketiganya berada dalam Surat An-Nisa‟, yaitu ayat 11, adalah sebagai berikut:

Allah mensyari'atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu bahagian seorang anak lelaki sama dengan bahagian dua orang anak perempuan; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separuh harta. Dan untuk dua orang ibu-bapak, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.(

Q.S. An-Nisa‟ ayat 11)

M.Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah menyatakan:

Allah memerintahkan kalian, dalam urusan warisan anak-anak dan kedua orangtua kalian bila kalian meninggal dunia, untuk melakukan sesuatu yang bias mewujudkan keadilan dan perbaikan. Apabila anak yang ditinggalkan terdiri atas laki-laki dan perempuan, maka bagian seorang anak laki-laki dua kali bagian anak perempuan.

Secara tersirat ayat ini bias dipahami bahwa bila jumlah anak perempuan itu hanya dua orang, bagian mereka sama dengan bila mereka berjumlah lebih dari dua orang. Jika anak perempuan itu seorang saja maka ia memperoleh separuh harta yang

ditinggalkan. Apabila si mayit meninggalkan bapak dan ibu, maka bagian masing-masing seperenam, jika ia mempunyai anak laki-laki atau perempuan. Tetapi bila ia tidak mempunyai anak, dan yang mewarisi hanya ibu dan bapak saja, maka bagian itu adalah sepertiga dan sisanya menjadi bagian bapak. Jika mayit itu mempunyai saudara maka ibunya menerima seperenam dan sisanya menjadi bagian bapak tanpa ada bagian untuk saudara-saudaranya.

Bagian-bagian ini diberikan kepada yang berhak setelah dibayar utang-utangnya dan telah dilaksanakan apa yang diwasiatkan, selama dalam batasan syariat. Inilah hukum Allah yang adil dan mengandung kebijaksanaan. Kalian tidak mengetahui siapa di antara bapak dan anak kalian yang lebih banyak manfaatnya bagi kalian. Sesungguhnya kebaikan ada pada perintah Allah. Allah maha mengetahui maslahat kalian dan maha bijaksana pada apa-apa yang diwajibkan kepada kalian. .(An-Nisa ayat 11).(M.Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, hal:342)

Sedangkan di ayat 12 nya mengatakan bahwa:

Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isterimu jika mereka tidak mempunyai anak. Jika isteri-isterimu itu mempunyai anak, maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. Para isteri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Jika kamu mempunyai anak, maka para isteri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar hutang-hutangmu. Jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja), maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar hutangnya dengan tidak memberi mudharat (kepada ahli waris). (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syari'at yang benar-benar dari Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun.( Q.S. An-Nisa‟ ayat 12)

Menurut Hazairin tafsir An-Nisa ayat 11-12 mengemukakan bahwa:

a. Bagimu seperdua dari harta peninggalan isteri-isterimu,jika bagi isteri-isterimu itu tidak ada anak;

b. Bagimu seperempat dari harta peninggalan isteri-isterimu, jika bagi isteri-isterimu itu ada anak;

c. Bagi isteri-isterimu sebagai janda peninggalanmu seperempat dari harta peninggalanmu,jika bagimu tidak ada anak;

d. Bagi isteri-isterimu sebagai janda peninggalanmu seperdelapan dari harta peninggalanmu,jika bagimu ada anak;

e. Pembagian yang dimaksud dalam IV:12 huruf a sampai dengan d itu adalah setelah dikeluarkannya wasiat atau/dan hutangmu;

f. Jika seseorang laki-laki maupun perempuan, diwarisi secara kalalah dan baginya adaseorang saudara laki-laki atau seorang saudara perempuan maka bagi saudara itu masing-masing seperenam dari harta peninggalannya;

g. Jika seseorang,laki-laki maupun perempuan, diwarisi secara kalalah dan baginya ada beberapa orang saudara, semua laki-laki atau semuanya perempuan atau semuanya campuran antara laki-laki dan perempuan, maka semua saudara itu berbagi sama rata atas sepertiga dari harta peninggalannya h. Pembagian yang dimaksud dalam IV:12 huruf f dan g itu

adalah setelah dikeluarkan wasiat atau/dan hutangnya,dengan tidak boleh seorangpun mengumpat karena terasa dirugikan(ghaira mudarrin).(Hazairin, hal:7)

Sedangkan M.Quraish Shihab meyetakan:

suami mendapatkan separuh dari harta yang ditinggalkan oleh istri, jika si istri tidak mempunyai anak darinya atau dari suami yang lain.

Jika sang istri mempunyai anak maka suami mendapatkan seperempat dari harta yang ditinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau sesudah utangnya dibayar. Istri satu atau lebih memperoleh seperempat harta yang ditinggalkan suami, jika suami tidak mempunyai anak dari istri yang ditinggalkan atau dari istri yang lain. Jika si suami mempunyai anak dari istri itu atau dari istri yang lain,maka si istri menerima seperdelapan dari harta yang ditinggalkan sesudah dipenuhi wasiat atau sesudah dibayar uatang-utangnya. Bagian cucu sama dengan bagian anak seperti di atas.

Jika si pewaris itu, baik laki-laki maupun perempuan, tidak meninggalkan ayah dan anak tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki atau perempuan seibu, maka masing-masing mendapat seperenam dari harta yang ditinggalkan. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersama-sama menerima sepertiga dari harta yang ditinggalkan, sesudah utang-utangnya dibayar atau setelah dilaksanakan wasiat yang tidak mendatangkan mudarat bagi ahli waris,yaitu yang tidak melampaui sepertiga dari harta yang ditinggalkan setelah melunasi hutang.

Laksanakanlah, wahai orang-orang yang beriman, apa-apa yang diwasiatkan Allah kepada kalian. Sesungguhnya Allah maha mengetahui orang-orang yang berbuat adil dan zalim di antara kalian dan maha penyabar, tidak menyegerakan hukuman bagi

yang melanggar. .(An-Nisa ayat 12).(M.Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, hal:342)

Beberapa ayat yang dapat dianggap sebagai ayat-ayat mawaris tambahan terdapat dibeberapa surat, antara lain An-Nisa‟, Al-Anfal, dan Al-Ahzab. Berikut ini terjemahan untuk masing-masing ayat itu.

“Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, dan bagi wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bahagian yang telah ditetapkan.( Q.S. An-Nisa‟ ayat 7)”

“Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir kerabat, anak yatim dan orang miskin, maka berilah mereka dari harta itu (sekedarnya) dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik.(Q.S. An-Nisa‟ ayat 8)”

Ayat ini menyebutkan bahwa, Laki-laki dan wanita (baik masih kecil maupun sudah dewasa, baik kuat berjuang maupun tidak) sama-sama mempunyai hak untuk mendapatkan harta warisan meskipun dengan jumlah bagian yang tidak sama. Ayat ini sekaligus menghapus ketentuan warisan pada masa jahiliyah yang memberikan harta warisan kepada orang laki-laki saja, ditambah lagi dengan syarat harus sudah dewasa dan kuat berjuang (berperang). kedua Ayat ini memberikan anjuran kepada keluarga yang melaksanakan pembagian harta warisan agar memperhatikan kerabat (yang tidak memperoleh harta warisan), anak yatim, dan orang miskin serta memberikan sebagian (sekedarnya) dari harta warisan kepada mereka sehingga mereka tidak berkecil hati atas pembagian harta itu.

Menurut Quraish Shihab, tidak begitu berbeda dengan terjemahan atau teks asli dari Al-Qur‟an An-Nisa‟ ayat 7 dan ayat 8, adapaun tafsirnya:

Laki-laki mendapatkan hak bagian dari harta peninggalan orangtua dan kerabat karibnya sebagai warisan. Demikian pula bagi wanita, ada hak bagian dari harta bagian itu, tanpa dihilangkan atau dikurangi. Bagian-bagian tersebut telah ditentukan demikian, baik harta itu sedikit maupun banyak.(An-Nisa ayat 7).(M.Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, hal:335)

Apabila sewaktu pembagian ituhadir kerabat, anak yatim atau orang-orang miskin yang tidak memiliki hak atas bagian itu, maka berikanlah kepada mereka secukupnya dari bagian itu sebagai penghargaan atas mereka agar terhindar dari rasa dengki dihati mereka. Dan, sebaiknya, pemberian itu disertai dengan ucapan yg baik. .(An-Nisa ayat 8).(M.Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah, hal:336) “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.( Q.S. An-Nisa‟ ayat 9)”

Ayat ini memberikan tuntunan kepada orang-orang yang memiliki harta agar sebelum wafat memperhatikan kesejahteraan anak keturunan mereka, misalnya dengan mengutamakan pemberian harta warisan kepada anak daripada pemberian wasiat kepada orang lain, sehingga kebutuhan dan kesejahteraan anak nantinya dapat dipenuhi dengan layak.

“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zhalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).( Q.S. An-Nisa‟ ayat 10)”

Intisari ayat ini memberikan tuntunan kepada kerabat dari yang meninggal agar anak-anak yang ditinggalkan oleh orang tua mereka, terutama yang masih belum baligh (masih kanak-kanak) hendaklah bagian mereka disimpan dan dijaga sebaik-baiknya supaya mereka (anak-anak yatim itu) nantinya dapat menggunakan harta warisan yang menjadi hak mereka dari orang tua mereka, bukan malah sebaliknya memakan harta anak yatim itu secara zhalim.

(Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah.

Barangsiapa ta`at kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar.(Q.S. An-Nisa‟ ayat 13)

Ayat di atas memberikan janji balasan Allah atas orang-orang yang melaksanakan hukum waris (membagi harta warisan) sesuai dengan ketentuan Allah dan Rasulnya, yaitu berupa surga diakhirat kelak.

Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.( Q.S. An-Nisa‟ ayat 14)

Ayat ini memberikan ancaman Allah atas orang-orang yang membagi harta warisan tidak sesuai dengan ketentuan Allah dan Rasul-Nya, yaitu berupa neraka diakhirat kelak.

“Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa… (Q.S. An-Nisa‟ ayat 19)”

Dalam ayat ini menghapus adat jahiliyah yang menjadikan wanita sebagai harta warisan, karena pada masa jahiliyah apabila seorang laki-laki meninggal dunia, maka anaknya yang tertua atau anggota keluarganya yang lain mewarisi janda itu. Janda tersebut boleh dikawini sendiri atau dikawinkan dengan orang lain yang maharnya diambil oleh keluarga pewaris atau tidak dibolehkan kawin lagi. Ayat ini tidak menunjukkan bahwa mewariskan wanita tidak dengan jalan paksa dibolehkan. Dengan demikian, maka tidak diperbolehkan lagi wanita dijadikan sebagai harta warisan dari suaminya yang meninggal lebih dahulu.

“Bagi tiap-tiap harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan

Dokumen terkait