BAB 3 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
3.2 Pembagian Harta Warisan Berdasarkan Adat Mandar
Dalam hal pembagian harta warisan berdasarkan adat Mandar berdasarkan hasil penelitian penulis, perbedaan dengan hukum-hukum pembagian harta warisan lain yang perlu digaris bawahi adalah, yang pertama, harta Warisan berdasarkan adat Mandar dalam implementasinya dapat dibagi atau ada sebelum pewaris meninggal dunia. Yang kedua, rumah adalah milik mutlak anak terakhir dengan ketentuan-ketentuan sebagai berikut:
1. Jika anak terakhir yang dimaksud di atas adalah anak yang terakhir keluar dari rumah atau yang terakhir pisah rumah dengan orang tua.
2. Jika bukan anak bungsu yang terakhir menikah dan pisah rumah dengan orang tuanya sampai orang tuanya meninggal dunia maka anak itulah yang berhak memiliki rumah peninggalan orang tuanya.
Berdasarkan dua syarat di atas maka penulis menarik kesimpulan bahwa, istilah "Boyang anunna” (rumah adalah milik mutlak) anak terakhir bukanlah istilah anak bungsu berdasar kelahiranya melainkan bungsu dalam artian terakhir meninggalkan rumah atau yang menetap di rumah peninggalan orang tuanya.
Menurut hasil wawancara penulis dengan Abdullah tokoh adat Mandar pada tanggal 3 februari 2018 Desa Balanipa Kec. Balanipa Abdullah mengatakan bahwa:
Sistem pembagian harta warisan pada daerah ini yang juga merupakan masyarakat yang dominan adalah suku Mandar sangatlah beragam adanya. Mengapa demikian? Sebab sebagian dari masyarakat yang masih berpegang teguh kepada adat kebiasaan orang terdahulunya tentu akan lebih memilih cara pembagian harta warisan secara adat, yang dalam konteks ini tidak mengenal dengan istilah angka matematika namun sesuai dengan taksiran suatu barang dan juga keyakinan beserta kesepakatan antara ahli waris yang berhak, namun sebagian lagi dari masyarakat desa ini ada juga yang dalam proses pembagian harta warisannya mengikuti hukum Islam seperti bagian anak perempuan separuh dari bagian laki-laki, tapi jika dilihat lagi dari adat kebiasaan masyarakat kebanyakan dari mereka memilih pembagian sesuai dengan adat seperti yang telah saya sebutkan tadi.
Lebih lanjut Abdullah mengatakan, bahwa:
Pembagian harta warisan pada masyarakat disini lebih memilih secara adat karena mayoritas penduduk disini adalah suku Mandar, biasanya harta peninggalan dari orang tua itu baik sawah, kebun, ternak dsb, dibagi rata sesuai dengan harga taksiran barang yang akan dibagi, baik bagi anak laki-laki atau perempuan, namun kebiasaan masyarakat desa setempat juga yang membagi warisannya secara adat, anak terakhirlah yang paling berhak mendapatkan rumah atau lebih akrab dikenal dengan istilah boyang anunna atau Totappalaus barena boyang (rumah adalah milik mutlak) anak terakhir.
Berdasarkan pernyataan di atas menurut penulis, jika dalam pembagian harta warisan masyarakat lebih condong kepada pembagian secara adat kebiasaan atau adat kekeluargaan, hal demikian sah-sah saja apa bila di dasari dengan mufakat, tidak ada yang merasa kurang dan para ahli waris ridha atau iklas menerima bagian masing-masing, artinya mengenai ahli waris yang sudah sepakat wajib memberikan pemahaman kepada anak cucu mereka, agar dikemudian hari tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan yang mengarah kepada persengketaan. Alasan yang mungkin ada pada benak masyarakat mengenai pembagian harta warisan jika melalui aturan hukum Islam yaitu dua berbanding satu, ditakutkan si anak laki-laki tidak mau bekerja, lebih memilih untuk bermalas-malasan, enggan untuk membantu pekerjaan baik itu di sawah, kebun, ternak atau pekerjaan lainnya sebab keyakinan dalam benaknya bahwa ia telah pasti memiliki bagian lebih banyak itu di bandingkan dengan yang separuh. Sedang jika dilihat dari sudut anak perempuan yang telah bekerja membantu keluarga baik itu di sawah, kebun atau ternak mendapat bagian hanya separuh dibandingkan dengan anak laki-laki yang tadinya malas dan enggan untuk membantu. Jika dilihat secara naluri tentu pembagian secara dua berbanding satu dengan anak laki-laki tidaklah adil, sama halnya diskriminasi bagi si perempuan tadi yang sudah bersusah payah untuk bekerja dibanding dengan anak laki-laki yang tadinya malas, dan hal demikian sangat rentan menimbulkan
persengketaan di antara para ahli waris sebab dirasa adanya ketidakadilan.
Menurut penulis, berbicara mengenai pembagian harta warisan berdasar sistem adat akan lebih kepada prinsip musyawarah dan mufakat, bukan pada ketentuan adat itu sendiri atau hukum positif.
Menurut Kahar salah satu tokoh adat yang penulis wawancarai pada tanggal 4 Februari 2018 desa Pambusuang Kec. Balanipa mengatakan, bahwa:
Dahulu, pembagian harta warisan pada suku Mandar ada yang mengikuti pembagian secara hukum Islam yaitu jika anak laki-laki mendapat 1 bagian maka anak perempuan mendapat separuh atau setengah, namun perkembangan zaman terus berubah maka pemberlakuan pembagian harta warisan seperti itu sudah sering menimbulkan masalah, sebab sudah banyak kasus si anak perempuan minta persamaan hak dalam hal pembagian harta warisan, maka timbulah perselisihan disertai dengan persengketaan di antara kedua belah pihak. Seiring dengan sering kalinya timbul persengketaan saat melakukan pembagian harta warisan melalui ketetapan hukum Islam, maka orang tua dahulu itu bersepakat melakukan pembagian harta warisan menggunakan metode kekeluargaan, musyawarah yang dihadiri oleh semua ahli waris yang bersama-sama mempunyai hak yang sama dalam pembagian tersebut. Itulah metode yang digunakan oleh masyarakat hingga saat ini dalam proses pembagian harta warisan yaitu menggunakan kebiasaan orang tua dahulu kekeluargaan (adat). Jika dalam proses pembagian warisan secara kekeluargaan (adat) ini ada yang tidak sepakat maka akan di datangkan seorang Ulama untuk membagi harta warisan tersebut secara rata sesuai hukum Islam.
Berdasarkan pernyataan di atas, penulis berkesimpulan bahwa, pembagian harta warisan adat Mandar lebih kepada hasil mufakat tidak kepada hukum atau sistem adat, artinya, sistem kebiasaan adat dalam hal ini bisa saja berubah seiring perkembangan zaman yang disebabkan oleh segala sesuatu kebiasaan adat mengacu kepada hasil musyawarah
atau mufakat. Namun dalam implementasi pembagian harta warisan berdasarkan hasil mufakat tersebut rata-rata sama hasilnya, yaitu bagian anak laki-laki lebih banyak dari pada anak perempuan. Hal ini diakibatkan oleh pengaruh sistem pembagian harta warisan berdasarkan hukum Islam yang mayoritas penduduk suku Mandar beragama Islam. Namun dalam proses pembagian warisan ini anak tertua laki-lakilah yang diberi mandat untuk membagi harta warisan tersebut kepada ahli waris yang lain.
Mengenai proses pembagian harta warisan terhadap barang atau benda secara adat yaitu dengan mengukur berapa luas dan juga lebar benda tersebut, apakah itu sawah, ladang ataupun kebun. Jika ada barang atau benda yang produktif dengan tidak produktif, maka yang tidak produktif tersebut ukuran yang dibagikan bisa lebih luas dibanding dengan yang produktif, misalnya tanah kebun dan sawah itu berbeda penghasilannya.
Dan mengenai masalah rumah dari si pewaris, menurut adat kebiasaan bahwa anak terakhirlah yang berhak atas rumah tersebut, dalam hal ini anak terakhir yang dimaksudkan bukan hanya berpatokan kepada anak terakhir dari beberapa saudara atau to tappalaus, melainkan anak yang terakhir menikah dan hidup lebih lama dengan si pewaris, namun jika dilihat dari adat kebiasaan masyarakat desa Balanipa Kec. Balanipa mengenai hal perkawinan orang tua lah yang paling berperan besar di dalamnya, anak tertua haruslah lebih dahulu menikah dibandingkan dengan adiknya, atau anak to tappalaus maka dari itu kebanyakan dari anak terakhirlah yang mengambil rumah sebab ia yang paling lama tinggal
bersama orang tua (pewaris). Hal inilah yang melatar belakangi istilah to tappalaus atau Boyang anunna (rumah adalah milik mutlak) anak terakhir.
Menurut Sumaila Ismail, wawancara tanggal 5 Februari 2018 Desa Balanipa Kecamatan Balanipa mengatakan, bahwa:
Justru untuk menghindari perselisihan serta pertikaian dalam proses pembagian harta warisan maka orang tua dahulu lebih memilih penyelesainnnya secara kekeluargaan atau hukum adat. Kemudian sepeninggan pewaris, yang berhak untuk memegang sementara warisan sebelum dibagikan secara rata ialah anak laki-laki tertua dari para ahli waris tersebut. Mengenai pembagian harta warisan kepada anak- anaknya padahal orang tua masih hidup memang ada, orang tua yang membagi terlebih dahulu hartanya apakah itu sawah, kebun ataupun ternak kepada anaknya, namun disini yang dimaksud apabila anak itu sudah menikah terlebih dahulu maka ia mendapat bagiannya terlebih dahulu, kemudian hari jika terjadi pembagian harta warisan maka ia sudah tidak dapat mendapat bagian lagi karena sudah terlebih dahulu mendapat bagiannya ketika pewaris masi hidup.
Dari uraian penulis di atas dapat penulis simpulkan bahwa sistem adat khususnya tentang pembagian harta warisan atau prinsip adat lebih menekankan prinsip pembagian harta warisan berdasarkan hasil musyawarah atau mufakat tidak pada peristiwa adat sebelumnya, artinya, pembagian harta warisan tidak menutup kemungkinan akan berlainan tata cara pembagiannya antara keluarga atau keturunan yang lain dengan yang lainnya jika dimungkinkan dalam hasil musyawarah atau mufakat tersebut disepakati untuk berlainan. Namun pada kenyataannya mayoritas suku Mandar pada prinsipnya, hasil musyawarah atau mufakat lebih banyak pada kesimpulan,. Yang pertama sistem hibah atau harta yang diberikan orang tua sebelum meninggal dunia kepada anak tertuanya,
kedua, to tappalaus atau boyang anunna rumah milik mutlak anak terakhir yang tinggal di rumah orang tua, bagian laki-laki lebih banyak daripada perempuan.
Seperti yang penulis paparkan di atas, hukum adat Mandar pada prinsipnya tidak mengenal cara pembagian dengan perhitungan pada umumnya, tetapi selalu didasarkan atas pertimbangan mengingat wujud benda, kebutuhan waris bersangkutan serta keadilan. Bagi adat Mandar dalam pembagian warisan mereka mempercayai mambulei tommuane, matteweqi towaine (laki-laki memikul, sedangkan wanita menjinjing).
Maksudnya bagian laki-laki lebih banyak dari pada perempuan atau dua berbanding satu, dengan dasar pertimbangan bahwa laki-laki lebih kuat berperan membantu orang tua dalam membantu melakukan pekerjaan orang tua dari pada perempuan. Keistimewaan hukum waris adat Mandar ini juga terdapat pada rumah peninggalan orang tua yang menjadi milik to tappalaus (anak bungsu), sebab dia bersama orang tuanya sampai orang tuanya itu meninggal dunia. Biasanya anak bungsu mendapat warisan istimewa dari orang tua karena kasih sayang orang tua lebih banyak melimpah kepadanya sebagai anak yang terakhir dan lebih lama tinggal bersama mereka dari kakaknya. Apabila anak bungsu tidak serumah dengan pewaris, maka rumah tersebut jatuh kepada anak yang kebetulan bersama-sama atau serumah dengan pewaris, dengan alasan dia Mappoitomate atau maqala bosi-bosinna (dia yang memiliki kematian orang tuanya).
Karakteristik waris adat Mandar ini menunjukkan bahwa sebelum pewaris meninggal dunia mereka telah membagi secara individual kepada ahli warisnya dengan pembagian hukum Islam dan adanya keistimewaan bagi anak bungsu, tetapi mereka menempatkan anak laki-laki tertua sebagai penguasa yang sementara hingga saudara saudaranya dapat bertanggung jawab atas warisan yang ditinggalkannya atau yang disebut sistem kolektif mayorat laki-laki.Anak tertua laki-laki disini tidak hanya bertanggung jawab pada warisan yang ditinggalkan, ia bertugas menjaga, merawat dan bertanggung jawab atas kehidupan adik-adiknya yang masih kecil sampai mereka dapat berumah tangga dan berdiri sendiri.
Sistem kolektif mayorat laki-laki yang diserahkan kepada anak tertua laki-laki disini dimaksudkan hanya sementara selama adik-adiknya dapat menggunakan dan memanfaatkan harta warisan yg diberikan oleh orangtuanya. Tetapi sering disalah tafsirkan, anak tertua sebagai pengganti orang tua yang telah meninggal bukanlah pemilik harta peninggalan secara perseorangan, ia hanya berkedudukan sebagai penguasa, sebagai pemegang mandat orang tua sampai saudara-saudaranya dapat mandiri dan memanfaatkan warisan yang telah diberikan kepadanya.
Menurut Syaifuddin Syam, wawancara tanggal 7 Februari 2018 menyebutkan bahwa proses pewarisan dalam hukum waris adat masyarakat Mandar Kabupaten Polewali Mandar ini dapat terjadi dengan dua cara, yaitu:
Sebelum orang tua meninggal dunia pembagian warisan itu dilakukan atau dilaksanakan sebelum orang tua meninggal dengan cara menunjukkan bagian kepada ahli warisnya masing-masing.
Tetapi warisan yang di bagikan mulai menjadi hak ahli waris pada saat pewaris meninggal dunia namun selama pewaris belum meninggal dunia, maka hak pakai masih menjadi milik pewaris.
Sehingga sebelum pewaris wafat, pewaris masih berhak dan berwenang menguasai harta yang ditunjukkan itu atau dapat juga merubah keputusannya. Hal ini dilakukan agar setelah pewaris meninggal tidak terjadi perkelahian di antara para ahli warisnya.
Seperti yang sudah penulis paparkan di atas, lebih lanjut Syaifuddin menyebutkan bahwa sebelumnya dalam pembagian warisan biasanya dilakukan berdasarkan musyawarah keluarga yang di hadiri pewaris, ahli waris, dan para pemangku adat.
Sesudah Pewaris meninggal dunia Menurut hukum waris adat masyarakat Mandar ini pada dasarnya tidak ditentukan jangka waktu pembagian harta warisan. Tetapi pada kebiasaannya mereka membagi 40 hari atau 100 hari setelah orang tuanya meninggal dunia. Hal ini dilakukan karena mereka meyakini bahwa pada pembagian warisan lebih cepat agar tidak terjadi perkelahian antar ahli warisnya kelak.
Bagi to menreyang menjadi ahli waris pertama ialah pasangan hidupnya. Namun apabila pasangan hidupnya telah meninggal dunia maka yang menjadi ahli waris ialah anak kandungnya, oleh karena itu anggota-anggota lain tidaklah termasuk sebagai ahli waris. Seperti yang dikatakan oleh Syabir salah satu tokoh adat berdasarkan hasil wawancara tanggal 8 Februari 2018 mengatakan:
jika yang wafat tidak memiliki anak, maka ahli waris tersebut dapat dipindah tangankan kepada orang tua dari si wafat. Kalau tidak ada maka diserahkan kepada keluarga dekatnya.
Yang lebih menariknya disini adalah untuk anak angkat pada masyarakat adat Mandar dikatakan tidak diakui untuk menjadi ahli waris seperti yang berlaku pada waris hukum Islam, karena prinsip pokok dalam kewarisannya ialah hubungan darah. Akan tetapi ada alasan-alasan tersendiri yang mirip dengan waris Islam yaitu anak angkat dapat menjadi ahli waris, yaitu dengan ketentuan yang pertama, Pewaris tidak memiliki keturunan atau anak kandung,. Kedua, Hubungan baik dengan anak angkat dan yang ketiga, Rasa kekeluargaan dan peri kemanusiaan (pangamaseang).
Pada umumnya masyarakat adat Mandar yang tidak memiliki anak kandung, maka mereka akan mengangkat kemenakan dari boyang pissang atau boyang penda'dua (sama asal keturunan) sehingga harta yang dimiliki tidak jatuh ke tangan orang lain kecuali pada keluarganya sendiri.
Menurut penulis pembagian warisan menurut hukum adat Mandar adalah hukum adat yang tidak lepas dari sistem pembagian waris menurut hukum Islam seperti telah dijelaskan sebelumnya karena mayoritas penduduknya beragama Islam. Adapun yang tampak berbeda dari praktik pembagian warisan adat Mandar yaitu pemberian atau hibah tidak termasuk dalam harta pewarisan. Seperti yang di jelaskan oleh salah satu tokoh masyarakat yang sudah penulis singgung di atas bahwa, Jika seorang anak perempuan yang telah kawin diberikan sawah, dan beberapa perhiasan yang dipakai sebelum melangsungkan
perkawinannya maka harta pemberian tersebut tidak termasuk dalam harta warisan. Selain hibah atau pemberian di atas, rumah peninggalan orang tua yang menjadi milik tapalaus (anak bungsu) seperti yang dijelaskan pada karakteristik waris adat Mandar juga merupakan warisan yang menjadi hibah atau pemberian.
Pembagian harta warisan harus dalam keadaan bersih dari segala sangkutan, maksudnya bahwa harta-harta warisan ini harus dikurangi dengan hutang-hutang pewaris yang ditinggalkan, pemberian atau hibah kepada ahli waris dan juga rumah yang diperuntukkan untuk anak bungsu.
Bila harta dalam keadaan bersih, barulah dibagi-bagikan kepada ahli warisnya hingga terbagi habis. Pada adat Mandar juga seperti hukum-hukum lain menyebutkan bahwa, Setiap anak kandung pada dasarnya adalah ahli waris dari orang tua kandungnya sendiri, namun demikian ada kalanya seorang anak dapat kehilangan hak mewaris dikarenakan perbuatannya yang bertentangan dengan hukum adat Mandar. Adapun perbuatan yang dapat menghilangkan hak mewaris seseorang terhadap harta warisan orang tuanya menurut adat Mandar di Kabupaten Polewali yaitu:
1. Membunuh atau berusaha menghilangkan nyawa pewaris 2. Melakukan penganiayaan terhadap pewaris
3. Melakukan perbuatan yang memalukan nama baik keluarga seperti kawin lari atau Silariang
4. Murtad dari agamanya anak yang siala siti'ang dan murtad di lipas (tidak diakui lagi sebagai anak). Dengan kata lain, sudah tidak ada hubungan lagi antara anak dan orang tua termasuk dalam pewarisan. Bagi orang Mandar, bila sudah lappasang (di lepas) anaknya bisa dikatakan:
1. Andiangmo ana‟na di lino lambai lao diahera' (tidak ada lagi anaknya di dunia sampai di akherat),
2. uita matemi (saya sudah anggap mati),
3. Purami nanusan sau disasi taminindulu (saya sudah hanyutkan dia ke laut dan tidak kembali lagi). Pemutusan warisan karena siala siti'ang kebanyakan terjadi disebabkan terdapat perbedaan derajat dan stratifikasi sosial (Tania sambona anna kapparna). Misalnya si perempuan berasal dari golongan todiang laiyana/
mara'dia dan si laki-laki berasal dari golongan tau maradeka (orang biasa). Kecuali jika anak yang di lipas tersebut datang meminta maaf kepada kedua orang tua dan keluargnya, lalu di maafkan, maka anak tersebut dapat kembali memiliki hak mewaris.
.Selain hilangnya hak mewaris tersebut, adat Mandar juga memiliki istilah 'hijab' yang dapat menghalangi seseorang menjadi ahli waris. Dari hal ini dapat kita lihat kentalnya sistem pembagian Hukum Waris Islam dalam praktik pembagian harta warisan menurut adat Mandar. Hijab
menurut hukum kewarisan Islam artinya menutup, mendindingi, menghalangi seseorang menjadi ahli waris karena ada ahli waris lain yang lebih utama yang lebih berhak menerima harta peninggalan. Contohnya cucu terhijab oleh anak. Seperti yang dikatakan oleh salah satu tokoh masyarakat.
Ahmad wawancara tanggal 10 Februari 2018 menjelaskan bahwa:
“menurut adat Mandar, seorang cucu dapat terhijab oleh paman atau bibinya sebagai ahli waris. Karena anak-anak pewaris adalah yang utama atau yang lebih berhak dalam mendapatkan warisan dari orang tuanya atau dikatakan dalam bahasa Mandar napelei mana'”
Napelei mana' atau cucu yang terhijab dapat diberikan warisan karena dengan ketentuan bahwa harta yang diberikan tidak boleh lebih banyak dari bibi yang masih hidup sekalipun orang tua dari cucu yang terhijab tersebut merupakan anak laki-laki dari pewaris.
Lebih lanjut Ahmad mengatakan bahwa:
cucu yang terhijab oleh paman atau bibinya, dapat mendapat bagian sebagai ahli waris pengganti, yang menggantikan posisi ayahnya yang telah meninggal lebih dahulu dari pewaris dengan ketentuan bagiannya tidak boleh melebihi bagian dari ahli waris yang sederajat dan oleh karena anak pewaris terdiri dari laki-laki dan perempuan, maka bagian ahli waris pengganti sama dengan bagian satu orang anak perempuan pewaris
Jika terjadi sengketa mengenai harta warisan, masyarakat adat Mandar melaksanakan peradilan warisan secara umum seperti yang berlaku di Indonesia. Peradilan yang dimaksud disini adalah cara bagaimana menyelesaikan sesuatu masalah yang timbul dikarenakan adanya perbedaan pendapat atau adanya persengketaan mengenai harta warisan. Penyelesaian mengenai sengketa harta warisan pada umumnya
masyarakat hukum adat menghendaki adanya penyelesaian yang rukun dan damai tidak saja terbatas pada para pihak yang berselisih tetapi juga termasuk semua anggota keluarga almarhum pewaris. alan penyelesaian damai yang ditempuh oleh masyarakat adat Mandar di Kabupaten Polewali Mandar Sulawesi Barat ini dengan cara bermusyawarah antara para anggota keluarga. Apabila terjadi sengketa para anggota keluarga akan berkumpul atau dikumpulkan oleh anak tertua laki-laki sebagai penanggung jawab atau oleh anak yang dianggap berwibawa. Namun jika dalam musyawarah keluarga tidak berhasil untuk menciptakan kerukunan dan kedamaian, maka masalah yang terjadi di ajukan kepada musyawarah adat, yang di hadiri oleh tua-tua adat atau kepala desa. Jika musyawarah adat masih tidak mampu menyelesaikan permasalahan sengketa waris tersebut maka jalan terakhir yaitu memperkarakannya di pengadilan.
Menurut penulis istilah peradilan yang dikenal oleh adat Mandar adalah istilah yang dikenal dalam peradilan sebagai istilah mediasi.
Namun mayoritas masyarakat menyebutnya sebagai peradilan. Begitupun istilah pembagian harta warisan yang dikenal oleh adat Mandar yang dibagi sebelum pewaris meninggal dunia, sedangkan istilah dalam Kompilasi Hukum Islam dikenal sebagai Hibah atau pemberian bukan warisan, adapun istilah warisan muncul apa bila si pewaris meninggal dunia.
3.3 Hambatan yang dialami menurut hukum adat Mandar
Pada dasarnya masyarakat adat, merupakan masyarakat yang hidup harmonis dalam bingkai kekeluargaan yang menghormati nilai-nilai adat. Namun di sisi lain dalam hal pembagian harta warisan masyarakat adat Mandar akan mendapat hambatan yang biasanya terjadi pada saat musyawarah, dimana keputusan dari hasil musyawarah atau mufakat adalah penentu dari pembagian harta warisan yang akan dibagikan. Di sinilah kadang terdapat hambatan jika salah satu dari anggota keluarga atau ahli waris tidak sepakat dengan keputusan musyawarah, namun peristiwa ini terjadi setelah masyarakat adat Mandar mulai meninggalkan nilai-nilai adat dan mulai mengenal alternatif hukum yang bersifat fleksibel atau berupa pilihan hukum masyarakat untuk penyelesaian perkara khususnya pembagian harta warisan.
Menurut Tammalele yang merupakan salah satu tokoh masyarakat pada hasil wawancara Tanggal 11 Februari 2018 mengatakan bahwa:
Dulu kendala pada saat pembagian harta warisan adat Mandar tidak ada karena dalam musyawarah masyarakat adat Mandar baik itu anak tertua ataupun adik-adiknya saling menghormati satu sama lainnya, yaitu anak tertua yang diberikan kekuasaan penuh untuk memegang kuasa terhadap harta warisan yang akan dibagikan kepada saudara-saudaranya yang menurutnya sudah cakap sangat menghormati nilai-nilai adat Mandar dan di hormati oleh saudara-saudaranya. Namun sekarang nilai-nilai itu sudah hilang sedikit demi sedikit yang berakibat pada kendala yang dihadapi dalam proses pembagian hartawarisan dimana anak tertua dan saudara-saudaranya tidak lagi menghormati nilai-nilai adat dan tidak saling mempercayai.
Menurut penulis hal inilah yang menjadikan nilai-nilai adat di nusantara ini sedikit demi sedikit hilang, khususnya pada masyarakat adat