• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

C. Hubungan Kompetensi Guru Terhadap Prestasi Belajar

Berbagai macam cara telah dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan, salah satunya dengan memperhatikan standar kompetensi tenaga pendidik (guru). Karena kompetensi guru sangat mempengaruhi prestasi belajar siswa di sekolah. Guru yang memiliki tingkat kompetensi yang baik akan membawa anak didiknya menjadi anak yang berprestasi karena mengetahuimetode apa yang sesuai digunakan kepada anak

didiknya. Salah satu contoh adalah guru yang kompeten, memiliki kemampuan menguasai materi pembelajaran serta mengetahui cara yang terbaik atau metode pembelajaran yang dipakai agar siswa dapat dengan cepat memahami pelajaran yang sedang berlangsung. Akan tetapi sebaliknya jika seorang guru tidak memiliki kompetensi yang memadai maka akan kesulitan memberikan pemahaman kepada siswanya.

Guru yang kompeten mampu memberikan spirit bagi anak didik untuk berprestasi karena pada dirinya tercermin pribadi yang baik sehingga mendorong anak didiknya untuk menjadi yang lebih baik dari apa yang dilihat dan dirasakan.

Guru yang berkompeten juga memiliki wawasan yang luas tentang dunia pendidikan dan mampu menjalankan profesinya dengan baik sehingga anak didiknya dapat berprestasi.

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah penelitian survey dan merupakan penelitian kualitatif dengan mengoksplorasi data di lapangan dengan metode analisis deskriptif yang bertujuan memberikan gambaran secara cepat tepat tentang Hubungan antara Kompetensi Guru dengan Prestasi Belajar Siswa di SDN Kompleks IKIP Kec. Rappocini Kota Makassar.

Bogden dan Taylor (1993: 33) mendefinisikan bahwa metode kualitatif sebagai prosedur peneliti yang menghasilkan data kualitatif yang berupa ungkapan atau catatan orang itu sendiri atau tingkah laku mereka yang terobsesi. Pada sisi lain, Kirk dan Miller (Maleong, 1995:60) mendefinisikan bahwa penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengatahuan sosial yang secara fundamental tergantung pada pengamatan manusia dalam kawasannya sendiri dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasa dan peristilahannya.

B. Lokasi dan Objek Penelitian

Adapun lokasi penelitian ini yaitu di SDN Kompleks IKIP Kec.

Rappocini Kota Makassar. Penulis memilih SDN Kompleks IKIP Kec.

Rappocini Kota Makassar, sebagai lokasi penelitian karena di sekolah ini kompetensi guru sangat mendukung dalam mengembangkan potensi

25

kecerdasan anak didik. Maka dalam hal tersebut, menarik perhatian peneliti dalam hal mengetahui prestasi belajar siswa di SDN Kompleks IKIP Kec. Rappocini Kota Makassar. Adapun obyek dalam penelitian ini adalah guru dan siswa.

C. Variabel Penelitian

Menurut Suharsimi Arikunto (1998: 99) variabel adalah obyek penelitian, atau yang menjadi titik perhatian suatu penelitian.

Berdasarkan kajian teori diatas, maka dalam penelitian ini menggunakan dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat.

Variabel bebas dalam penelitian ini adalah Kompetensi Guru, sedangkan variabel terikatnya adalah Prestasi Siswa.

D. Defenisi Operasional Variabel

Dalam rangka memahami secara utuh uraian penulis dalam penelitian yang berjudul “Hubungan antara Kompetensi Guru dengan Prestasi Belajar Siswa di SDN Kompleks IKIP Kec. Rappocini Kota Makassar”. Maka penulis terlebih dahulu menjelaskan variabel penelitian ini yang dianggap memiliki peranan yang penting dalam membangun teori tersebut. Variabel yang dimaksud adalah :

1. Kompetensi Guru adalah penguasaan terhadap pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak dalam menjalankan profesi sebagai guru.

2. Prestasi Siswa diperoleh dari adanya usaha yang dilakukan dalam

aktivitas belajar, dimana usaha yang dilakukan tersebut bukan hanya semata-mata lakon siswa, tetapi harus melibatkan pihak-pihak lain.

Dengan demikian untuk mencapai prestasi yang baik bukan hanya didasari pada usaha siswa itu sendiri akan tetapi harus ditunjang oleh berbagai faktor, adapun faktor yang paling dominan mempengaruhi prestasi belajar siswa adalah faktor yang bersumber dari dalam diri dan faktor yang bersumber dari luar diri siswa.

E. Populasi dan Sampel 1. Populasi

Pada setiap kegiatan penelitian yang dilakukan seseorang selalu memerlukan adanya obyek yang dijadikan sebagai sasaran penelitian, obyek itulah yang disebut populasi. Menurut Suharsimi Arikunto (1998:

115), populasi adalah keseluruhan subyek penelitian. Dalam penelitian ini populasinya adalah 533 siswa SDN Kompleks IKIP Kec. Rappocini Kota Makassar dan guru sebanyak 21 orang. Jadi jumlah populasi secara keseluruhan yaitu 554 sebagai mana pada gambar tabel berikut :

Tabel I

Keadaan Populasi SDN Kompleks IKIP

No. Guru dan Siswa Laki-lakiJenis KelaminPerempuan Jumlah

1 Siswa Kelas 1 39 38 77

2 Siswa Kelas 2 51 37 88

3 Siswa Kelas 3 46 52 98

4 Siswa Kelas 4 46 45 91

5 Siswa Kelas 5 44 45 89

6 Siswa Kelas 6 46 44 90

7 Guru 6 15 21

Jumlah 554

Sumber: Dokmentasi SDN Kompleks IKIP Kec. Rappocini Kota Makassar.

2. Sampel

Menurut Suharsimi Arikunto (2002:109) Sampel adalah sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti. Jika subyek penelitian kurang dari 100 maka lebih baik diambil semua. Tetapi apabila subyek penelitian lebih besar jumlahnya (lebih dari 100) maka dapat diambil sampel antara 10%-15% atau 20%-25% atau lebih.

Setiap penelitian tidak selamanya perlu menyelidiki setiap individu yang ada dalam populasi. Oleh karena itu perlu adanya sampel yang dapat mewakili dari semua objek yang akan menjadi sasaran dalam penelitian ini.

Penentuan besarnya sampel yang penulis ambil dalam penelitian ini adalah 10 % dari jumlah populasi, hal ini berdasarkan teori Suharsimi Arikunto di atas.

Berdasarkan pendapat di atas, karena populasinya terlalu banyak maka penulis mengambil kesimpulan bahwa penelitian ini memakai tehnik Cluster Sampling/ judgmental sampling yakni sampel diambil di SDN Kompleks IKIP yakni 10 % per-kelas. Adapun responden selaku sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas III, IV dan V di SDN Kompleks IKIP Kota Makassar dengan tehnik penarikan sampelnya adalah tehnik Quota Sampling yakni penentuan jumlah responden dengan sistem penjataan yakni 10 responden setiap sampel yakni Kelas III sebanyak 10 orang, Kelas IV sebanyak 9 orang dan Kelas V sebanyak 9 orang ditambah guru

sebanyak 5 orang. Jadi jumlah sampel secara keseluruhan yakni 33 responden. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada table berikut:

Tabel II

Keadaan Sampel SDN kompleks IKIP

No. Guru dan Siswa Laki-lakiJenis kelaminperempuan Jumlah

1 Siswa Kelas III 5 5 10

2 Siswa Kelas IV 5 4 9

3 Siswa Kelas V 5 4 9

4 Guru 3 2 5

Jumlah 18 15 33

F. Instrumen Penelitian

Instrument penelitian mempunyai kedudukan yang sangat penting, karena instrumen sangat menentukan bagi lancarnya dan valitnya hasil penelitian dan merupakan alat bantu agar kegiatan penelitian berjalan secara sistimatis dan terstruktur. Instrumen penelitian adalah “Alat penelitian pada waktu peneliti menggunakan suatu metode” (Arikunto, 1998: 121).

Untuk memperoleh data, peneliti menggunakan suatu metode, masing-masing dari metode tersebut mempunyai alat atau instrumen.

Beberapa metode dalam penelitian ini penulis menggunakan beberapa instrumen penelitian yaitu :

1. Angket adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atau hal-hal yang ia ketahui (Suharsimi Arikunto, 2002:128). Angket yang akan peneliti berikan pada responden dalam hal ini adalah berbentuk cheklist.

2. Pedoman Observasi, yaitu mengamati dan menggunakan komunikasi langsung dengan sumber informasi tentang objek penelitian, keadaan sekolah, dan keadaan siswa di SDN Kompleks IKIP Kota Makassar.

3. Wawancara adalah sebuah dialog yang dilakukan oleh pewawancara (interviewer) untuk memperoleh informasi dari terwawancara atau interviewed (Suharsimi Arikunto, 2002:132).

Wawancara dilakukan secara langsung dengan Kepala Sekolah SDN Kompleks IKIP, untuk mengetahui keadaan sekolah dan dan keadaan guru, wawancara dengan Wali, dilakukan untuk mengetahui keadaan siswa yang akan diteliti.

4. Dokumentasi, yaitu mencatat semua data secara langsung dari referensi yang membahas tentang objek penelitian.

G. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini, Peneliti menggunakan beberapa teknik antara lain :

1. Observasi, yaitu pengamatan dengan memperhatikan sesuatu meliputi kegiatan pemuatan perhatian terhadap suatu objek dengan menggunakan seluruh alat indra. Dalam hal ini, dengan menggunakan observasi maka peneliti akan mengamati Keadaan sekolah, dan keadaan siswa. Peneliti menggunakan observasi terlibat atau pengamatan secara langsung pada objek penelitian.

2. Angket, merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya.

3. Interview (wawancara), yaitu sebuah dialog yang dilakukan pewawancara (Interviewe) untuk memperoleh informasi dari terwawancara. Yang akan penulis wawancarai dalam penelitian ini adalahKepala Sekolah SDN Kompleks IKIP, untuk mengetahui keadaan sekolah dan keadaan guru, wawancara dengan Wali Kelas, dilakukan untuk mengetahui keadaan siswa yang akan diteliti.

4. Dokumentasi yaitu bentuk pengumpulan data dengan cara mengumpulkan data yang berhubungan dengan permasalahan melalui dokumen-dokumen tertulis baik pada instansi terkait maupun referensi-referensi ilmiah lainnya.

H. Teknik Analisis Data

Penelitian ini merupakan deskriptif dengan menggunakan data kualitatif, lalu dianalisis dengan menggunakan teknik induktif untuk melihat persentase kecenderungan variabel penelitian sesuai dengan rumus yang diungkapkan oleh Suharsimi Arikunto (2000: 246) sebagai berikut :

% 100 N x

P  f

Keterangan :

F = Frekuensi / banyaknya individu N = Jumlah Frekuensi banyaknya individu P =Angka Persentas

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN

A. Selayang Pandang Lokasi Penelitian

1. Sejarah SD Negeri Kompleks IKIP Kota Makassar.

Sekolah adalah salah satu lembaga pendidikan yang menyelenggarakan proses pembelajaran untuk membimbing, membina, dan mengembangkan potensi peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan.

Sekolah bukan hanya mengembangkan potensi peserta didik yang bersifat keilmuan melainkan juga membimbing peserta didik agar mempunyai perilaku dan kepribadian yang sesuai dengan tuntutan nilai-nilai ajaran agama. Tugas sekolah dalam membina perilaku dan kepribadian bukanlah tugas mudah, karena memerlukan waktu yang lama dan tidak mudah untuk menilai keberhasilannya. Kalau bangsa Indonesia mau tetap eksis sebagai bangsa yang berdaulat dan bermartabat serta mempunyai daya saing maka tidak ada jalan lain kecuali memperbaiki kualitas pendidikannya. Inilah yang merupakan salah satu indikator mengapa sekolah didirikan, termasuk SDN Kompleks IKIP Kec. Rappocini Kota Makassar.

SDN Kompleks IKIP Kec. Rappocini Kota Makassar didirikan pada bulan April Tahun 1974 dengan status Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP) yang dikelolah oleh IKIP Ujung Pandang. Sejalan

32

dengan berakhirnya PPSP, maka pada tahun 1986 diserahkan pengelolaannya ke Pemerintah Tingkat II Ujung Pandang dengan nama SD Negeri Kompleks IKIP dan dibina oleh pemerintah pusat dengan status SDN Percobaan IKIP Ujung Pandang. Kemudian pada tahun 1991 dimekarkan menjadi SD Negeri Kompleks IKIP dan SD Negeri Kompleks IKIP I dengan status yang sama. Adapun tujuan didirikan sekolah ini adalah sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan sumber daya manusia dan menciptakan insan-insan terdidik dalam melanjutkan cita-cita bangsa khusunya ingin menjadikan Kota Makassar sebagai Kota pendidikan.

SDN Kompleks IKIP terletak di Desa/Kelurahan Banta-bantaeng Kec.

Rappocini Kota Makassar berdiri di areal tanah seluas 5. 509 M2. Seiring bergulirnya waktu yang begitu cepat dan animo masyarakat begitu besar terhadap lembaga pendidikan tersebut, maka saat ini SDN Kompleks IKIP diperuntukkan pada kegiatan pembelajaran dengan jumlah siswa 533 orang dengan tenaga pendidiknya 21 orang. Sejak berdirinya SDN Kompleks IKIP Kec. Rappocini Kota Makassar ini telah dipimpin 7 kepala sekolah yakni

No Nama Periode

1 Muh. Dahlan pakki 1974 – 1985

2 Drs. Abdul Majid 1985 – 1989

3 Drs. Abdullah Husain 1989 – 1992

4 Drs. H. Mansyur. S 1992 – 2005

5 Syamsuddin Hasyim Dahlan, S.Pd 2005 – 2010

6 Drs. Patta ujung 2010 – 2011

7 Drs. Baharuddin 2011 – Sekarang

SD Negeri Kompleks IKIP mendapat legalitas formal dari Dinas Pendidikan Nasional RI, dengan Nomor Statistik Sekolah (NSS): 101196004092.

2. Visi, Misi, Tujuan, dan Prestasi Peserta Didik SDN Kompleks IKIP Kota Makassar

a. Visi

Visi SD Negeri Kompleks IKIP Makassar adalah “Terwujudnya siswa yang berakhlak mulia, cerdas, terampil dan unggul dalam prestasi”. Dengan motto “BERAKHLAK” yaitu Bersih, Aman, Kekeluargaan, Harmonis, Lingkungan Asri dan Kualitas. Untuk mewujudkan budi pekerti yang mulia ditempuh dengan cara: budaya salam, budaya permisi dan budaya saling menghargai.

b. Misi:

1) Menumbuhkan perilaku mulia dan bermoral keagamaan.

2) Meningkatkan kualitas PBM melaui pembelajaran aktif, kreatif efektif menyenangkan (PAKEM).

3) Melaksanakan model pembelajaran yang berorientasi pada keterampilan dan kecakapan hidup dengan menggunakan teknologi dasar.

4) Aktif dalam berbagai kegiatan akademik maupun non akademik baik di tingkat Kota, Provinsi dan Nasional.

5) Menjalin kerjasama yang baik dengan warga sekolah, masyarakat dan stage holder .

6) Menumbuhkan prilaku berbudaya lingkungan yang bersih dan sehat.

c. Tujuan:

Secara umum tujuan kelembagaan pada jenjang pendidikan SDN Kompleks IKIP adalah “Meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan,

kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut yang ingin dicapai”.

3. Struktur Organisasi SDN Kompleks IKIP Kota Makassar

Adapun struktur organisasi SDN Kompleks IKIP dapat dilihat pada bagan di bawah ini :

Struktur Organisasi SDN Kompleks IKIP Kec. Rappocini Kota Makassar

Ferlina Istiatuti, S.Pd Pengurus Koperasi

Masliati, S.Pd Tata Usaha

Sukmawati

Pustakawan

Ramdani A G, S.Pd Pembina KTK Ferlina Istiastuti,

Dari stuktur organisasi di atas dapat dipahami bahwa terlaksananya kegiatan pembelajaran dengan baik jika ada hubungan kerjasama antara berbagai unsur, mulai dari kepala sekolah dan jajarannya sebagai mitra kerja sampai kepada orang tua peserta didik, masyarakat, dan pemerintah sebagai penunjang terlaksananya pendidikan di sekolah dalam rangka pencapaian tujuan pendidikan Nasional.

4. Keadaan Guru

Guru adalah pendidik profesional, karena secara implisit ia telah merelakan dirinya menerima dan memikul sebagian tanggung jawab pendidikan yang dipikul oleh orang tua, sehingga tatkala orang tua menyerahkan (memasukkan) anaknya ke sekolah itu berarti melimpahkan sebahagian tanggung jawab pendidikan kepada guru. Hal itu menunjukkan pula bahwa orang tua tidak mungkin menyerahkan anaknya kepada sembarang guru (sekolah).

Guru memiliki peranan yang sangat penting dalam pendidikan, ia merupakan salah satu komponen dalam pendidikan, sehingga keberadaannya sangat dibutuhkan. Bahkan tanpa guru, proses belajar mengajar tidak akan bisa terwujud.

Mengenai keadaan guru di SDN Kompleks IKIP, penulis memberikan gambaran sebagaimana tercantum pada tabel berikut ini:

Tabel III

Keadaan Guru di SDN Kompleks IKIP Kota Makassar

No Nama Jabatan Status Sumber Data: Papan potensi Guru Tahun 2010/2011 PTT

Dari tebel di atas menunjukkan bahwa populasi guru yang ada di SDN Kompleks IKIP sebanyak 21 orang yang terdiri dari: 1 orang kepala sekolah dan 20 tenaga pengajar/ Guru.

5. Keadaan Siswa

Dalam dunia pendidikan formal, Siswa merupakan obyek atau sasaran utama untuk dididik. Dengan demikian setiap lembaga pendidikan hendaknya

terdapat suatu sistem yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya, yaitu disamping adanya berbagai fasilitas, adanya guru, juga terdapat Siswa yang merupakan bagian integral dalam pendidikan formal.

Jika tugas pokok guru untuk mengajar, maka tugas siswa adalah belajar. Oleh karena itu saling berkaitan antara satu sama lain yang tidak dapat dipisahkan dan berjalan seiring dalam proses belajar mengajar.

Jumlah siswa SDN Kompleks IKIP pada tahun pelajaran 2010/2011 dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel IV

Keadaan siswa SDN Kompleks IKIP pada tahun pelajaran 2010/2011

No Obyek Analisis Jenisi KelaminL P Total 12

34 56

Kelas I A dan IB Kelas II A dan IIB Kelas III A dan IIIB Kelas IV A dan IV B

Sumber : Dokumentasi Tata Usaha SDN Kompleks IKIP 6. Keadaan Sarana dan Prasarana

Selanjutnya, keberadaan sarana prasarana mempunyai fungsi yang sangat urgen dalam hal memproses segala kegiatan. Dalam undang-undang RI. No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 1 ayat 10 menyebutkan:

Sumber daya pendidikan adalah pendukung dan penunjang pelaksanaan pendidikan yang terwujud sebagai tenaga, dana, sarana dan prasarana yang tersedia atau diadakan dan di dayagunakan oleh keluarga masyarakat peserta didik dan pemerintah, baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama.

Pasal 42 Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, (standar sarana dan prasarana) ayat 1 dan 2 menyebutkan bahwa:

1. Setiap satuan pendidikan wajib memiliki sarana yang meliputi perabot, peralatan pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya, bahan habis pakai, serta perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang peroses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.

2. setiap satuan pendidikan wajib memiliki perasarana yang meliputi lahan, ruang kelas, ruang pimpinan satuan pendidikan, ruang pendidik, ruang tata usaha, ruang perpustakaan, ruang laboratorium, ruang bengkel kerja, ruang unit produksi, ruang kantin, imstalasi daya dan jasa, tempat berolahraga, tempat beribadah, tempat bermain, tempat berkreasi, dan ruang/tempat lain yang diperlukan untuk menunjang peroses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.

Dengan demikian sarana menjadi salah satu media yang sangat menentukan dalam proses belajar mengajar. Tanpa adanya sarana pendidikan, maka proses belajar mengajar tak akan bisa dilakukan, khususnya oleh lembaga pendidikan formal. Dengan tidak adanya sarana pendidikan, secara otomatis pencapaian tujuan pendidikan nasional tidak bisa dicapai.

Dalam suatu lembaga pendidikan, sarana dan prasarana merupakan salah satu faktor penunjang terselenggaranya proses pendidikan dan pengajaran di sekolah sebab tanpa sarana dan prasarana yang memadai

tentulah tidak dapat menunjang berlangsungnya proses belajar mengajar di sekolah. Keberadaan sarana dan prasarana bersifat mutlak ada, sehingga pengajaran dapat berjalan secara efektif dan efisien.

Sarana dan prasarana yang dimaksud disini adalah segala perabotan yang dimiliki sekolah yang menjadi obyek penelitian, seperti dapat dilihat dalam tabel dibawah ini :

Tabel V

Keadaan Sarana dan Prasarana SDN Kompleks IKIP Tahun Ajaran 2010/2011

No. Sarana dan Prasarana Banyak Keterangan 1.

23 Sumber data : Kantor SDN Kompleks IKIP Kota Makassar

B. Tingkat kompetensi guru di SD Kompleks IKIP Kec. Rappocini Kota Makassar

Adapun tingkat kompetensi guru yang dimiliki sebagai agen pembelajaran adalah sebagai berikut:

1. Kompetensi Pedagogik

Dalam Undang-undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dikemukakan kompetensi pedagogik adalah “kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik”. Depdiknas (2004: 9) menyebut kompetensi ini dengan “kompetensi pengelolaan pembelajaran. Kompetensi ini dapat dilihat dari kemampuan merencanakan program belajar mengajar, kemampuan melaksanakan interaksi atau mengelola proses belajar mengajar, dan kemampuan melakukan penilaian.

Adapaun kompetensi pedagogik yang dimiliki oleh guru adalah sebagai berikut:

a. Kompetensi Menyusun Rencana Pembelajaran

Kemampuan merencanakan program belajar mengajar mencakup

kemampuan: (1) merencanakan pengorganisasian bahan-bahan pengajaran, (2) merencanakan pengelolaan kegiatan belajar mengajar, (3) merencanakan pengelolaan kelas, (4) merencanakan penggunaan media dan sumber pengajaran; dan (5) merencanakan penilaian prestasi siswa untuk kepentingan pengajaran.

Depdiknas (2004: 9) mengemukakan kompetensi penyusunan rencana pembelajaran meliputi (1) mampu mendeskripsikan tujuan, (2) mampu memilih materi, (3) mampu mengorganisir materi, (4) mampu menentukan metode/strategi pembelajaran, (5) mampu menentukan sumber belajar/media/alat peraga pembelajaran, (6) mampu menyusun perangkat penilaian, (7) mampu menentukan teknik penilaian, dan (8) mampu mengalokasikan waktu.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa, merencanakan program belajar mengajar merupakan proyeksi guru mengenai kegiatan yang harus dilakukan siswa selama pembelajaran berlangsung, yang mencakup:

merumuskan tujuan, menguraikan deskripsi satuan bahasan, merancang kegiatan belajar mengajar, memilih berbagai media dan sumber belajar, dan merencanakan penilaian penguasaan tujuan.

b. Kompetensi Melaksanakan Proses Belajar Mengajar

Melaksanakan proses belajar mengajar merupakan tahap pelaksanaan program yang telah disusun. Dalam kegiatan ini kemampuan yang di tuntut adalah keaktifan guru menciptakan dan menumbuhkan

kegiatan siswa belajar sesuai dengan rencana yang telah disusun. Guru harus dapat mengambil keputusan atas dasar penilaian yang tepat, apakah kegiatan belajar mengajar dicukupkan, apakah metodenya diubah, apakah kegiatan yang lalu perlu diulang, manakala siswa belum dapat mencapai tujuan-tujuan pembelajaran.

Pada tahap ini disamping pengetahuan teori belajar mengajar, pengetahuan tentang siswa, diperlukan pula kemahiran dan keterampilan teknik belajar, misalnya: prinsip-prinsip mengajar, penggunaan alat bantu pengajaran, penggunaan metode mengajar, dan keterampilan menilai hasil belajar siswa.

Sebagamana yang di ungkapkan oleh Ferlina Istiastuti, S.Pd salah seorang guru SDN Kompleks IKIP sebagai berikut:

“Persyaratan kemampuan yang harus di miliki guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar meliputi kemampuan: (1) menggunakan metode belajar, media pelajaran, dan bahan latihan yang sesuai dengan tujuan pelajaran, (2) mendemonstrasikan penguasaan mata pelajaran dan perlengkapan pengajaran, (3) berkomunikasi dengan siswa, (4) mendemonstrasikan berbagai metode mengajar, dan (5) melaksanakan evaluasi proses belajar mengajar”. (wawancara, pada tanggal 20 Oktober 2011)

Hal serupa dikemukakan oleh Dra. Sukesti, MM sebagai berikut:

Kemampuan yang harus dimiliki guru dalam melaksanakan program mengajar adalah mencakup kemampuan: (1) memotivasi siswa belajar sejak saat membuka sampai menutup pelajaran, (2) mengarahkan tujuan pengajaran, (3) menyajikan bahan pelajaran dengan metode yang relevan dengan tujuan pengajaran, (4) melakukan pemantapan belajar, (5) menggunakan alat-alat bantu pengajaran dengan baik dan benar, (6) melaksanakan layanan bimbingan penyuluhan, (7)

memperbaiki program belajar mengajar, dan (8) melaksanakan hasil penilaian belajar”. (wawancara, pada tanggal 20 Oktober 2011)

Dari ungkapan diatas dapat disimpulkan bahwa, dalam pelaksanaan proses belajar mengajar menyangkut pengelolaan pembelajaran, dalam menyampaikan materi pelajaran harus dilakukan secara terencana dan sistematis, sehingga tujuan pengajaran dapat dikuasai oleh siswa secara efektif dan efisien. Kemampuan-kemampuan yang harus dimiliki guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar terlihat dalam mengidentifikasi karakteristik dan kemampuan awal siswa, kemudian mendiagnosis, menilai dan merespon setiap perubahan perilaku siswa.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa melaksanakan proses belajar mengajar merupakan sesuatu kegiatan dimana berlangsung hubungan antara manusia, dengan tujuan membantu perkembangan dan menolong keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Pada dasarnya melaksanakan proses belajar mengajar adalah menciptakan lingkungan dan suasana yang dapat menimbulkan perubahan struktur kognitif para siswa.

c. Kompetensi Melaksanakan Penilaian Proses Belajar Mengajar

Proses belajar mengajar dilaksanakan untuk mengetahui keberhasilan perencanaan kegiatan belajar mengajar yang telah disusun dan dilaksanakan. Penilaian diartikan sebagai proses yang menentukan betapa baik organisasi program atau kegiatan yang dilaksanakan untuk mencapai

Proses belajar mengajar dilaksanakan untuk mengetahui keberhasilan perencanaan kegiatan belajar mengajar yang telah disusun dan dilaksanakan. Penilaian diartikan sebagai proses yang menentukan betapa baik organisasi program atau kegiatan yang dilaksanakan untuk mencapai

Dokumen terkait