BAB III METODE PENELITIAN
H. Teknik Analisis Data
Penelitian ini merupakan deskriptif dengan menggunakan data kualitatif, lalu dianalisis dengan menggunakan teknik induktif untuk melihat persentase kecenderungan variabel penelitian sesuai dengan rumus yang diungkapkan oleh Suharsimi Arikunto (2000: 246) sebagai berikut :
% 100 N x
P f
Keterangan :
F = Frekuensi / banyaknya individu N = Jumlah Frekuensi banyaknya individu P =Angka Persentas
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN
A. Selayang Pandang Lokasi Penelitian
1. Sejarah SD Negeri Kompleks IKIP Kota Makassar.
Sekolah adalah salah satu lembaga pendidikan yang menyelenggarakan proses pembelajaran untuk membimbing, membina, dan mengembangkan potensi peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan.
Sekolah bukan hanya mengembangkan potensi peserta didik yang bersifat keilmuan melainkan juga membimbing peserta didik agar mempunyai perilaku dan kepribadian yang sesuai dengan tuntutan nilai-nilai ajaran agama. Tugas sekolah dalam membina perilaku dan kepribadian bukanlah tugas mudah, karena memerlukan waktu yang lama dan tidak mudah untuk menilai keberhasilannya. Kalau bangsa Indonesia mau tetap eksis sebagai bangsa yang berdaulat dan bermartabat serta mempunyai daya saing maka tidak ada jalan lain kecuali memperbaiki kualitas pendidikannya. Inilah yang merupakan salah satu indikator mengapa sekolah didirikan, termasuk SDN Kompleks IKIP Kec. Rappocini Kota Makassar.
SDN Kompleks IKIP Kec. Rappocini Kota Makassar didirikan pada bulan April Tahun 1974 dengan status Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP) yang dikelolah oleh IKIP Ujung Pandang. Sejalan
32
dengan berakhirnya PPSP, maka pada tahun 1986 diserahkan pengelolaannya ke Pemerintah Tingkat II Ujung Pandang dengan nama SD Negeri Kompleks IKIP dan dibina oleh pemerintah pusat dengan status SDN Percobaan IKIP Ujung Pandang. Kemudian pada tahun 1991 dimekarkan menjadi SD Negeri Kompleks IKIP dan SD Negeri Kompleks IKIP I dengan status yang sama. Adapun tujuan didirikan sekolah ini adalah sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan sumber daya manusia dan menciptakan insan-insan terdidik dalam melanjutkan cita-cita bangsa khusunya ingin menjadikan Kota Makassar sebagai Kota pendidikan.
SDN Kompleks IKIP terletak di Desa/Kelurahan Banta-bantaeng Kec.
Rappocini Kota Makassar berdiri di areal tanah seluas 5. 509 M2. Seiring bergulirnya waktu yang begitu cepat dan animo masyarakat begitu besar terhadap lembaga pendidikan tersebut, maka saat ini SDN Kompleks IKIP diperuntukkan pada kegiatan pembelajaran dengan jumlah siswa 533 orang dengan tenaga pendidiknya 21 orang. Sejak berdirinya SDN Kompleks IKIP Kec. Rappocini Kota Makassar ini telah dipimpin 7 kepala sekolah yakni
No Nama Periode
1 Muh. Dahlan pakki 1974 – 1985
2 Drs. Abdul Majid 1985 – 1989
3 Drs. Abdullah Husain 1989 – 1992
4 Drs. H. Mansyur. S 1992 – 2005
5 Syamsuddin Hasyim Dahlan, S.Pd 2005 – 2010
6 Drs. Patta ujung 2010 – 2011
7 Drs. Baharuddin 2011 – Sekarang
SD Negeri Kompleks IKIP mendapat legalitas formal dari Dinas Pendidikan Nasional RI, dengan Nomor Statistik Sekolah (NSS): 101196004092.
2. Visi, Misi, Tujuan, dan Prestasi Peserta Didik SDN Kompleks IKIP Kota Makassar
a. Visi
Visi SD Negeri Kompleks IKIP Makassar adalah “Terwujudnya siswa yang berakhlak mulia, cerdas, terampil dan unggul dalam prestasi”. Dengan motto “BERAKHLAK” yaitu Bersih, Aman, Kekeluargaan, Harmonis, Lingkungan Asri dan Kualitas. Untuk mewujudkan budi pekerti yang mulia ditempuh dengan cara: budaya salam, budaya permisi dan budaya saling menghargai.
b. Misi:
1) Menumbuhkan perilaku mulia dan bermoral keagamaan.
2) Meningkatkan kualitas PBM melaui pembelajaran aktif, kreatif efektif menyenangkan (PAKEM).
3) Melaksanakan model pembelajaran yang berorientasi pada keterampilan dan kecakapan hidup dengan menggunakan teknologi dasar.
4) Aktif dalam berbagai kegiatan akademik maupun non akademik baik di tingkat Kota, Provinsi dan Nasional.
5) Menjalin kerjasama yang baik dengan warga sekolah, masyarakat dan stage holder .
6) Menumbuhkan prilaku berbudaya lingkungan yang bersih dan sehat.
c. Tujuan:
Secara umum tujuan kelembagaan pada jenjang pendidikan SDN Kompleks IKIP adalah “Meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan,
kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut yang ingin dicapai”.
3. Struktur Organisasi SDN Kompleks IKIP Kota Makassar
Adapun struktur organisasi SDN Kompleks IKIP dapat dilihat pada bagan di bawah ini :
Struktur Organisasi SDN Kompleks IKIP Kec. Rappocini Kota Makassar
Ferlina Istiatuti, S.Pd Pengurus Koperasi
Masliati, S.Pd Tata Usaha
Sukmawati
Pustakawan
Ramdani A G, S.Pd Pembina KTK Ferlina Istiastuti,
Dari stuktur organisasi di atas dapat dipahami bahwa terlaksananya kegiatan pembelajaran dengan baik jika ada hubungan kerjasama antara berbagai unsur, mulai dari kepala sekolah dan jajarannya sebagai mitra kerja sampai kepada orang tua peserta didik, masyarakat, dan pemerintah sebagai penunjang terlaksananya pendidikan di sekolah dalam rangka pencapaian tujuan pendidikan Nasional.
4. Keadaan Guru
Guru adalah pendidik profesional, karena secara implisit ia telah merelakan dirinya menerima dan memikul sebagian tanggung jawab pendidikan yang dipikul oleh orang tua, sehingga tatkala orang tua menyerahkan (memasukkan) anaknya ke sekolah itu berarti melimpahkan sebahagian tanggung jawab pendidikan kepada guru. Hal itu menunjukkan pula bahwa orang tua tidak mungkin menyerahkan anaknya kepada sembarang guru (sekolah).
Guru memiliki peranan yang sangat penting dalam pendidikan, ia merupakan salah satu komponen dalam pendidikan, sehingga keberadaannya sangat dibutuhkan. Bahkan tanpa guru, proses belajar mengajar tidak akan bisa terwujud.
Mengenai keadaan guru di SDN Kompleks IKIP, penulis memberikan gambaran sebagaimana tercantum pada tabel berikut ini:
Tabel III
Keadaan Guru di SDN Kompleks IKIP Kota Makassar
No Nama Jabatan Status Sumber Data: Papan potensi Guru Tahun 2010/2011 PTT
Dari tebel di atas menunjukkan bahwa populasi guru yang ada di SDN Kompleks IKIP sebanyak 21 orang yang terdiri dari: 1 orang kepala sekolah dan 20 tenaga pengajar/ Guru.
5. Keadaan Siswa
Dalam dunia pendidikan formal, Siswa merupakan obyek atau sasaran utama untuk dididik. Dengan demikian setiap lembaga pendidikan hendaknya
terdapat suatu sistem yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya, yaitu disamping adanya berbagai fasilitas, adanya guru, juga terdapat Siswa yang merupakan bagian integral dalam pendidikan formal.
Jika tugas pokok guru untuk mengajar, maka tugas siswa adalah belajar. Oleh karena itu saling berkaitan antara satu sama lain yang tidak dapat dipisahkan dan berjalan seiring dalam proses belajar mengajar.
Jumlah siswa SDN Kompleks IKIP pada tahun pelajaran 2010/2011 dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel IV
Keadaan siswa SDN Kompleks IKIP pada tahun pelajaran 2010/2011
No Obyek Analisis Jenisi KelaminL P Total 12
34 56
Kelas I A dan IB Kelas II A dan IIB Kelas III A dan IIIB Kelas IV A dan IV B
Sumber : Dokumentasi Tata Usaha SDN Kompleks IKIP 6. Keadaan Sarana dan Prasarana
Selanjutnya, keberadaan sarana prasarana mempunyai fungsi yang sangat urgen dalam hal memproses segala kegiatan. Dalam undang-undang RI. No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 1 ayat 10 menyebutkan:
Sumber daya pendidikan adalah pendukung dan penunjang pelaksanaan pendidikan yang terwujud sebagai tenaga, dana, sarana dan prasarana yang tersedia atau diadakan dan di dayagunakan oleh keluarga masyarakat peserta didik dan pemerintah, baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama.
Pasal 42 Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, (standar sarana dan prasarana) ayat 1 dan 2 menyebutkan bahwa:
1. Setiap satuan pendidikan wajib memiliki sarana yang meliputi perabot, peralatan pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya, bahan habis pakai, serta perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang peroses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.
2. setiap satuan pendidikan wajib memiliki perasarana yang meliputi lahan, ruang kelas, ruang pimpinan satuan pendidikan, ruang pendidik, ruang tata usaha, ruang perpustakaan, ruang laboratorium, ruang bengkel kerja, ruang unit produksi, ruang kantin, imstalasi daya dan jasa, tempat berolahraga, tempat beribadah, tempat bermain, tempat berkreasi, dan ruang/tempat lain yang diperlukan untuk menunjang peroses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.
Dengan demikian sarana menjadi salah satu media yang sangat menentukan dalam proses belajar mengajar. Tanpa adanya sarana pendidikan, maka proses belajar mengajar tak akan bisa dilakukan, khususnya oleh lembaga pendidikan formal. Dengan tidak adanya sarana pendidikan, secara otomatis pencapaian tujuan pendidikan nasional tidak bisa dicapai.
Dalam suatu lembaga pendidikan, sarana dan prasarana merupakan salah satu faktor penunjang terselenggaranya proses pendidikan dan pengajaran di sekolah sebab tanpa sarana dan prasarana yang memadai
tentulah tidak dapat menunjang berlangsungnya proses belajar mengajar di sekolah. Keberadaan sarana dan prasarana bersifat mutlak ada, sehingga pengajaran dapat berjalan secara efektif dan efisien.
Sarana dan prasarana yang dimaksud disini adalah segala perabotan yang dimiliki sekolah yang menjadi obyek penelitian, seperti dapat dilihat dalam tabel dibawah ini :
Tabel V
Keadaan Sarana dan Prasarana SDN Kompleks IKIP Tahun Ajaran 2010/2011
No. Sarana dan Prasarana Banyak Keterangan 1.
23 Sumber data : Kantor SDN Kompleks IKIP Kota Makassar
B. Tingkat kompetensi guru di SD Kompleks IKIP Kec. Rappocini Kota Makassar
Adapun tingkat kompetensi guru yang dimiliki sebagai agen pembelajaran adalah sebagai berikut:
1. Kompetensi Pedagogik
Dalam Undang-undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dikemukakan kompetensi pedagogik adalah “kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik”. Depdiknas (2004: 9) menyebut kompetensi ini dengan “kompetensi pengelolaan pembelajaran. Kompetensi ini dapat dilihat dari kemampuan merencanakan program belajar mengajar, kemampuan melaksanakan interaksi atau mengelola proses belajar mengajar, dan kemampuan melakukan penilaian.
Adapaun kompetensi pedagogik yang dimiliki oleh guru adalah sebagai berikut:
a. Kompetensi Menyusun Rencana Pembelajaran
Kemampuan merencanakan program belajar mengajar mencakup
kemampuan: (1) merencanakan pengorganisasian bahan-bahan pengajaran, (2) merencanakan pengelolaan kegiatan belajar mengajar, (3) merencanakan pengelolaan kelas, (4) merencanakan penggunaan media dan sumber pengajaran; dan (5) merencanakan penilaian prestasi siswa untuk kepentingan pengajaran.
Depdiknas (2004: 9) mengemukakan kompetensi penyusunan rencana pembelajaran meliputi (1) mampu mendeskripsikan tujuan, (2) mampu memilih materi, (3) mampu mengorganisir materi, (4) mampu menentukan metode/strategi pembelajaran, (5) mampu menentukan sumber belajar/media/alat peraga pembelajaran, (6) mampu menyusun perangkat penilaian, (7) mampu menentukan teknik penilaian, dan (8) mampu mengalokasikan waktu.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa, merencanakan program belajar mengajar merupakan proyeksi guru mengenai kegiatan yang harus dilakukan siswa selama pembelajaran berlangsung, yang mencakup:
merumuskan tujuan, menguraikan deskripsi satuan bahasan, merancang kegiatan belajar mengajar, memilih berbagai media dan sumber belajar, dan merencanakan penilaian penguasaan tujuan.
b. Kompetensi Melaksanakan Proses Belajar Mengajar
Melaksanakan proses belajar mengajar merupakan tahap pelaksanaan program yang telah disusun. Dalam kegiatan ini kemampuan yang di tuntut adalah keaktifan guru menciptakan dan menumbuhkan
kegiatan siswa belajar sesuai dengan rencana yang telah disusun. Guru harus dapat mengambil keputusan atas dasar penilaian yang tepat, apakah kegiatan belajar mengajar dicukupkan, apakah metodenya diubah, apakah kegiatan yang lalu perlu diulang, manakala siswa belum dapat mencapai tujuan-tujuan pembelajaran.
Pada tahap ini disamping pengetahuan teori belajar mengajar, pengetahuan tentang siswa, diperlukan pula kemahiran dan keterampilan teknik belajar, misalnya: prinsip-prinsip mengajar, penggunaan alat bantu pengajaran, penggunaan metode mengajar, dan keterampilan menilai hasil belajar siswa.
Sebagamana yang di ungkapkan oleh Ferlina Istiastuti, S.Pd salah seorang guru SDN Kompleks IKIP sebagai berikut:
“Persyaratan kemampuan yang harus di miliki guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar meliputi kemampuan: (1) menggunakan metode belajar, media pelajaran, dan bahan latihan yang sesuai dengan tujuan pelajaran, (2) mendemonstrasikan penguasaan mata pelajaran dan perlengkapan pengajaran, (3) berkomunikasi dengan siswa, (4) mendemonstrasikan berbagai metode mengajar, dan (5) melaksanakan evaluasi proses belajar mengajar”. (wawancara, pada tanggal 20 Oktober 2011)
Hal serupa dikemukakan oleh Dra. Sukesti, MM sebagai berikut:
“Kemampuan yang harus dimiliki guru dalam melaksanakan program mengajar adalah mencakup kemampuan: (1) memotivasi siswa belajar sejak saat membuka sampai menutup pelajaran, (2) mengarahkan tujuan pengajaran, (3) menyajikan bahan pelajaran dengan metode yang relevan dengan tujuan pengajaran, (4) melakukan pemantapan belajar, (5) menggunakan alat-alat bantu pengajaran dengan baik dan benar, (6) melaksanakan layanan bimbingan penyuluhan, (7)
memperbaiki program belajar mengajar, dan (8) melaksanakan hasil penilaian belajar”. (wawancara, pada tanggal 20 Oktober 2011)
Dari ungkapan diatas dapat disimpulkan bahwa, dalam pelaksanaan proses belajar mengajar menyangkut pengelolaan pembelajaran, dalam menyampaikan materi pelajaran harus dilakukan secara terencana dan sistematis, sehingga tujuan pengajaran dapat dikuasai oleh siswa secara efektif dan efisien. Kemampuan-kemampuan yang harus dimiliki guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar terlihat dalam mengidentifikasi karakteristik dan kemampuan awal siswa, kemudian mendiagnosis, menilai dan merespon setiap perubahan perilaku siswa.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa melaksanakan proses belajar mengajar merupakan sesuatu kegiatan dimana berlangsung hubungan antara manusia, dengan tujuan membantu perkembangan dan menolong keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Pada dasarnya melaksanakan proses belajar mengajar adalah menciptakan lingkungan dan suasana yang dapat menimbulkan perubahan struktur kognitif para siswa.
c. Kompetensi Melaksanakan Penilaian Proses Belajar Mengajar
Proses belajar mengajar dilaksanakan untuk mengetahui keberhasilan perencanaan kegiatan belajar mengajar yang telah disusun dan dilaksanakan. Penilaian diartikan sebagai proses yang menentukan betapa baik organisasi program atau kegiatan yang dilaksanakan untuk mencapai maksud-maksud yang telah ditetapkan.
Sebagaimana yang di ungkapkan oleh Ernawati, S.Pd sebagai berikut:
“Melaksanakan penilaian proses belajar mengajar merupakan bagian tugas guru yang harus dilaksanakan setelah kegiatan pembelajaran berlangsung dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa mencapai tujuan pembelajaran, sehingga dapat diupayakan tindak lanjut hasil belajar siswa”. (wawancara, pada tanggal 22 Oktober 2011)
Dari uraian yang telah dikemukakan diatas dapat disimpulkan bahwa kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran perserta didik meliputi pemahaman terhadap peserta didik, kemampuan merancang RPP, kemampuan melaksanakan pembelajaran baik di dalam maupun di luar kelas, kemampuan merangcang dan melaksakan evaluasi hasil belajar, dan kemampuan mengembangkan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki oleh peserta didik.
2. Kompetensi Kepribadian
Kompetensi keperibadian, yaitu kemampuan mengenal diri sendiri sebagai mahkluk sosial yang sadar akan potensi diri dan sadar dalam pengembangan diri. Kemampuan berpikir yang meliputi menggali informasi, mengelola informasi, kemudian mengambil keputusan yang cerdas dan bijak, berikir secara sistematis dan analisis dan memecahkan masalah secara dialogis, demokratis, kreatif dan arif.
Sebagaimana yang diungkapkan oleh Drs. Baharuddin kepala sekolah Kompleks IKIP Kota Makassar sebagai berikut :
“Guru sebagai tenaga pendidik yang tugas utamanya mengajar, memiliki karakteristik kepribadian yang sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pengembangan sumber daya manusia. Kepribadian yang mantap dari sosok seorang guru akan memberikan teladan yang baik terhadap anak didik maupun masyarakatnya, sehingga guru akan tampil sebagai sosok yang patut “digugu” (ditaati nasehat/ucapan/perintahnya) dan “ditiru” (di contoh sikap dan perilakunya). Kepribadian guru merupakan faktor terpenting bagi keberhasilan belajar anak didik”. (wawancara, pada tanggal 23 Oktober 2011)
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa karakteristik kepribadian yang berkaitan dengan keberhasilan guru dalam menggeluti profesinya adalah meliputi fleksibilitas kognitif dan keterbukaan psikologis. Fleksibilitas kognitif atau keluasan ranah cipta merupakan kemampuan berpikir yang diikuti dengan tindakan secara simultan dan memadai dalam situasi tertentu.
Guru yang fleksibel pada umumnya ditandai dengan adanya keterbukaan berpikir dan beradaptasi. Selain itu, ia memiliki resistensi atau daya tahan terhadap ketertutupan ranah cipta yang prematur dalam pengamatan dan pengenalan.
Kepribadian mencakup semua unsur, baik fisik maupun psikis.
Sehingga dapat diketahui bahwa setiap tindakan dan tingkah laku seseorang merupakan cerminan dari kepribadian seseorang, selama hal tersebut dilakukan dengan penuh kesadaran. Setiap perkataan, tindakan, dan tingkah laku positif akan meningkatkan citra diri dan kepribadian seseorang. Begitu kepribadian seseorang naik maka akan naik pula wibawa orang tersebut.
Dalam hal ini, sebagaimana pada tabel berikut:
Tabel VI
Daftar Distribusi Frekuensi tanggapan responden tentang kepribadian guru
No Uraian Jawaban Frekuensi Persentase
12
-Sumber Data: Olah data, Angket No. 03 Tahun 2011
Dari uraian di atas menggambarkan bahwa pada hakikatnya terdapat 15 dari 28 responden atau 54 % mengatakan kepribadian guru sangat baik, 10 dari 28 responden atau 36% mengatakan baik, sedangkan yang ragu-ragu/ sangat tidak berminat tidak ditemukan, 3 dari 28 responden atau 10%
mengatakan tidak baik. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa kepribadian guru sangat baik dengan besarnya persentase (54%).
Dari uraian diatas dapatlah disimpulkan bahwa, kepribadian akan turut menetukan apakah para guru dapat disebut sebagai pendidik yang baik atau sebaliknya, justru menjadi perusak anak didiknya. Sikap dan citra negative seorang guru dan berbagai penyebabnya seharusnya dihindari jauh-jauh agar tidak mencemarkan nama baik guru. Kini, nama baik guru sedang berada pada posisi yang tidak menguntungkan, terperosok jatuh. Para guru harus mencari jalan keluar atau solusi bagaimana cara meningkatkannya kembali sehingga guru menjadi semakin berwibawa dan terasa sangat dibutuhkan anak didik dan masyarakat luas.
Sebagaimana yang di ungkapkan oleh Idrus,S.Pd, M.Pd salah seorang guru di SDN Kompleks IKIP Kota Makassar sebagai berikut:
“Guru sebagai teladan bagi murid-muridnya harus memiliki sikap dan kepribadian utuh yang dapat dijadikan tokoh panutan idola dalam seluruh segi kehidupannya. Karenanya guru harus selalu berusaha memilih dan melakukan perbuatan yang positif agar dapat mengangkat citra baik dan kewibawaannya, terutama di depan murid-muridnya.
Disamping itu guru juga harus mengimplementasikan nilai-nilai tinggi terutama yang diambilkan dari ajaran agama, misalnya jujur dalam perbuatan dan perkataan, tidak munafik. Sekali saja guru didapati berbohong, apalagi langsung kepada muridnya, niscaya hal tersebut akan menghancurkan nama baik dan kewibawaan sang guru, yang pada gilirannya akan berakibat fatal dalam melanjutkan tugas proses belajar mengajar”. (wawancara, tanggal 24 Oktober 2011)
Guru yang demikian, sebagaimana ungkapan di atas niscaya akan selalu memberikan pengarahan kepada anak didiknya untuk berjiwa baik juga. Hampir sulit ditemukan munculnya guru yang memiliki keinginan buruk terhadap muridnya. Dalam menggerakkan murid, guru juga dianggap sebagai partner yang siap melayani, membimbing dan mengarahkan murid, bukan sebaliknya justru menjerumuskannya.
3. Kompetensi Profesional
Guru yang professional adalah guru yang siap untuk memberikan bimbingan nurani dan akhlak yang tinggi kepada muridnya. Karena pendidikan anak barupa bimbingan yang diberikan bersumber dari ketulusan hati, maka guru benar-benar siap sebagai spiritual partner bagi muridnya.
Guru yang ideal sangat meresa gembira bersama dengan muridnya, ia selalu
berinteraksi kepada muridnya, ia merasa senang dapat memberikan obat bagi muridnya yang sedang bersedih hati, murung, berkelahi, malas belajar.
Guru professional akan selalu memikirkan bagaimana memacu perkembangan pribadi anak didiknya agar tidak mengalami kendala yang biasa mengganggu.
Kemuliaan hati seorang guru diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Guru secara nyata dapat berbagi dengan anak didiknya. Guru tidak akan merasa lelah dan tidak mungkin mengembangkan sifat iri hati, munafik, suka menggunjing, menyuap, malas, marah-marah dan berlaku kasar terhadap orang lain, apalagi terhadap anak didiknya.
Guru sebagai pendidik dan murid sebagai anak didik dapat saja dipisahkan kedudukannya, akan tetapi mereka tidak dapat dipisahkan dalam mengembangkan diri murid dalam mencapai cita-citanya. Disinilah kemanfaatan guru bagi orang lain atau murid benar-benar dituntut, seperti hadits Nabi :”Khoirunnaasi anfa’uhum linnaas,” artinya adalah sebaik-baiknya manusia adalah yang paling besar memberikan manfaat bagi orang lain.
Penguasaan bahan ajar tentunya terkait dengan isi mata pelajaran yang diasuh oleh guru. Namun demikian perlu dipahami bahwa guru tidak cukup menguasai materi ajar seperti yang tercantum dalam kurikulum sekolah, tetapi juga materi “di atasnya” yang menjadi payung materi yang bersangkutan. Banyak pengorbanan yang telah diberikan oleh seorang guru semata-mata ingin melihat anak didiknya bisa berhasil dan sukses kelak.
Tetapi perjuangan guru tersebut tidak berhenti sampai disitu, guru juga merasa masih perlu meningkatkan kompetensinya agar benar-benar menjadi guru yang lebih baik dan lebih profesional terutama dalam proses belajar mengajar sehari-hari.
Dalam hal ini sebagaimana yang diungkapkan oleh salah seorang orang tua siswa yang merupakan ketua paguyuban kelas 3B, A.Chitrawaty Sjata, A.Amf sebagai berikut:
”seorang guru harus memiliki keahlian khusus dalam melaksanakan prosos belajar mengajar, yang tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang di luar bidang pendidikan. Guru harus menguasai materi yang akan diajarkan dan mengetahui metode yang cocok untuk dipakai dalam proses belajar mengajar. Hal ini akan mempengaruhi prestasi belajar siswa akan semakin baik”. (wawancara, pada tanggal 24 Oktober 2011)
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa, guru profesional adalah orang yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga ia mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan maksimal. Atau dengan kata lain, guru profesional adalah orang yang terdidik dan terlatih dengan baik, serta memiliki pengalaman yang kaya di bidangnya.
4. Kompetensi Sosial
Guru yang efektif adalah guru yang mampu membawa siswanya dengan berhasil mencapai tujuan pengajaran. Mengajar di depan kelas merupakan perwujudan interaksi dalam proses komunikasi. Menurut
Undang-undang Guru dan Dosen kompetensi sosial adalah “kemampuan guru untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan efisien dengan peserta didik, sesama guru, orangtua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar”.
Memang guru harus memiliki pengetahuan yang luas, menguasai berbagai jenis bahan pembelajaran, menguasai teori dan praktek pendidikan, serta menguasai kurikulum dan metodologi pembelajaran. Namun sebagai
Memang guru harus memiliki pengetahuan yang luas, menguasai berbagai jenis bahan pembelajaran, menguasai teori dan praktek pendidikan, serta menguasai kurikulum dan metodologi pembelajaran. Namun sebagai