BAB III METODE PENELITIAN
D. Korelasi antara kompetensi guru dengan prestasi
1. Adanya kerjasama antara guru dengan siswa
Dalam hal ini, korelasi antara kompetensi guru dengan prestasi belajar siswa di SDN Kompleks IKIP Kota Makassar adalah dengan adanya kerja sama antara guru dengan siswa dalam meningkatkan prestasi belajar siswa.
Sebagaimana pada gambar tabel berikut:
Tabel XI
Daftar Distribusi Frekuensi Tanggapan Responden Tentang Adanya Kerjasama Antara Guru Dengan Siswa
No Kategori Jawaban Prekuensi Persentase 01
Sumber data : Olah data Angket No. 10 Tahun 2011
Berdasarkan hasil agket di atas, menunjukkan bahwa kerjasama antara guru dengan siswa sangat baik. Ini terbukti dengan adanya kategori jawaban sangat baik 22 siswa atau (79%), sedangkan baik 4 siswa atau (14%) dan kurang baik 2 siswa atau (7%) sedangkan sangat kurang baik tidak ditemukan.
Oleh karena itu, guru dan siswa merupakan dua bagian yang tidak dapat dipisahkan antara satu sama lain. Hubungan kerjasama antara
keduanya sangat mempengaruhi peningkatan prestasi belajar siswa.
Karena siswa merupakan masa transisi atau masa peralihan dari kanak-kanak menuju remaja yang banyak mengalami perubahan dan kesukaran pada dirinya baik jasmani, rohani, pikiran, perasaan, sosial, ekonomi dan sebagainya.
Guru harus memahami kiat-kiat mendidik anak secara praktis. Dengan demikian setiap gejala dalam tahap-tahap pertumbuhan anak dapat ditanggapi dengan cepat.
Sebelum mentransfer nilai, guru harus melaksanakannya lebih dulu dalam kehidupan sehari-hari. Karena di usia kecil, anak-anak cenderung meniru dan merekam segala perbuatan orang terdekat termasuk guru mereka.
2. Memiliki hubungan positif
Persepsi terhadap kompetensi guru adalah proses ketika siswa menerima, mengorganisasikan dan menginterpretasi kemampuan, pengetahuan, ketrampilan, dan perilaku yang dimiliki gurunya pada saat mengajar. Proses interaksi antara siswa dengan gurunya akan menghasilkan persepsi siswa mengenai sosok guru yang di kenalnya. Siswa menganggap guru sebagai figur yang menarik dan menyenangkan, sehingga hal ini akan meningkatkan minat siswa untuk mengikuti mata pelajaran yang diampunya.
Dalam hal ini Idrus,S.Pd, M.Pd salah seorang guru di SDN Kompleks IKIP mengatakan bahwa:
Sikap siswa yang positif terhadap guru merupakan pertanda awal yang baik bagi proses belajarnya. Sikap yang positif dari diri siswa ini yang akan meningkatkan motivasinya dalam berprestasi. (wawancara, pada tanggal 03 November Tahun 2011)
Persepsi siswa akan menentukan sikapnya. Siswa yang mempunyai persepsi positif seringkali mempunyai sikap yang positif juga. Ketika siswa mempersepsikan kompetensi gurunya secara positif, maka sikap yang positif terhadap guru itu pun terbentuk.
3. Guru selalu memberikan motivasi berprestasi pada siswa
Individu dengan tingkat inteligensi yang tinggi belum tentu menghasilkan prestasi yang tinggi, demikian juga individu dengan tingkat inteligensi yang rendah belum tentu menghasilkan prestasi yang rendah juga.
Lingkungan sekolah ikut menentukan prestasi siswa. Lingkungan sekolah terdiri dari lingkungan fisik dan lingkungan nonfisik. Lingkungan fisik meliputi gedung dan sarana yang ada dalam sekolah, sedangkan lingkungan nonfisik adalah lingkungan yang berkaitan dengan sumber daya manusianya.
Berkaitan dengan lingkungan nonfisik, guru merupakan hal yang berperan penting dalam menentukan prestasi belajar siswa.
Dapat dilihat bahwa guru juga memiliki peran penting dan tanggung jawab yang besar dalam menenuntukan hasil belajar, dan untuk melaksanakannya dibutuhkan kompetensi. Mengacu pada Pasal 28 ayat (3) Bagian I Bab VI Peraturan Pemerintah RI No. 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan dan Pasal 3 ayat (2) Bagian I Bab II Peraturan
Pemerintan RI No. 74/2008 tentang Guru, kompetensi guru terdiri dari empat bentuk yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional.
Kompetensi dalam mengajar guru menarik untuk dikaji, mengingat guru sebagai sentral dalam proses belajar mengajar. Guru dipandang sebagai gudangnya ilmu dan metodologi, sekaligus tempat bertanya siswa.
Oleh karenanya, kemampuan guru mengajar menjadi keharusan yang harus perlu terpenuhi. Artinya, guru harus memenuhi standar kompetensi minimal sebagai seorang guru.
Motivasi berprestasi merupakan suatu dorongan baik yang berasal dari dalam individu ataupun dari luar individu yang menggerakkan individu untuk menyelesaikan tugas dengan lebih cepat dan lebih baik untuk mencapai prestasi yang diinginkan sesuai dengan standar keunggulan yang ditetapkan.
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
Berdasarkan pada uraian di atas maka pada bab ini penulis mengemukakan beberapa kesimpulan antara lain:
1. Tingkat kompetensi guru di SDN Kompleks IKIP Kec. Rappocini Kota Makassar adalah sebagai berikut: Kompetensi pedagogik yang meliputi: Kompetensi menyusun rencana pembelajaran, kompetensi melaksanakan proses belajar mengajar dan kompetensi melaksanakan penilaian proses belajar mengajar. Kompetensi kepribadian, kompetensi profesional dan kompetensi sosial.
2. Tingkat prestasi belajar siswa di SDN Kompleks IKIP Kec. Rappocini Kota Makassar dapat kita lihat dari tingkat prestasi akadeik dan Non akademik siswa di SDN Kompleks IKIP Kota Makassar berada pada tingkat rata-rata 8,31 dengan kategori sangat baik (A).
3. Korelasi antara kompetensi guru dengan prestasi belajar siswa di SDN Kompleks IKIP Kec. Rappocini Kota Makassar adalah melalui adanya kerjasama antara guru dengan siswa, memiliki hubungan positif antara guru denga siswa serta guru selalu memberikan motivasi berprestasi kepada siswa.
66
B. Saran-Saran
Setelah melakuakan penelitian (observasi) secara langsung, maka penulis ingin memberian saran sebagai harapan yang ingin di capai sekaligus sebagai kelengkapan dalam skripsi ini.
1. Agar para guru dan orangtua senantiasa memberikan motivasi dan dorongan untuk belajar bagi para siswa-siswanya, serta memberikan perhatian yang cukup dan memberikan bantuannya jika siswa menghadapi kesulitan dalam belajarnya.
2. Kerjasama antara orang tua, guru, pemerintah dan masyarakat dapat berhasil secara optimal apabila menjalin komunikasi yang baik. Guru perlu bersikap lebih proaktif untuk melibatkan orangtua sebagai pendidik pertama dan utama. Pembelajaran di sekolah sangat terbatas. Sikap proaktif guru dilakukan untuk mengoptimalkan peran orang tua sebagai pendidik di rumah dan di masyarakat.
3. Agar pemerintah lebih memperhatikan sarana dan prasarana yang dapat menunjang keberhasilan kegiatan proses belajar mengajar di SD Negeri Kompleks IKIP Kec. Rappocini Kota Makassar.
4. Agar kepala sekolah SD Negeri Kompleks IKIP memotivasi para guru untuk mengoptimalkan pemamfaatan serta pengoperasian LCD proyektor secara maksimal, merata dan berkelanjutan. Hal ini
diharapkan hasil proses belajar mengajar akan menjadi lebih meningkat dari pada sebelumnya.
5. Demikianlah karya tulis ini, bagi yang sempat membacanya kami harapkan banyak terima kasih. Dan apabila terdapat kekeliruan dalam penulisan ini, itu adalah kehilafan penulis sebagai manusia yang tak lupuk dari kesalahan semoga Allah senantiasa memberi rahmat dan pertolongan sehingga penulis dapat membuat karya-karya yang lebih baik lagi. Amien…
DAFTAR PUSTAKA Al-qur’an al-Karim
Arikunto, Suharsimi. 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.
Jakarta: Rineka Cipta.
__________________2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.
Jakarta: Rineka Cipta.
Arifin, H.M 2003. Tugas dan Tanggung Jawab Guru dalam Satuan Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara
Bogden dan Taylor. 1993. Analisis Penelitian Kualitatif. Jakarta : Rineka Cipta.
Depdiknas, 2004. Manajemen Berbasis Sekolah, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Jakarta.
Davies. 1991. Prinsip-prinsip Belajar Efektif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Hamalik, Oemar, 2003. Proses Belajar Mengajar, Penerbit : Bumi Aksara, Jakarta.
_____________, 1983. Proses Belajar Mengajar, Penerbit : Bumi Aksara, Jakarta.
Joni, T. Raka. 1984. Pedoman Umum Alat Penilaian Kemampuan Guru.
Jakarta: Dirjen Pendidikan Tinggi Depdikbud
Kirk dan Miller. 1995. Pengantar Penelitian Kualitatif. Jakarta : Bulan Bintang Mulyasa, E, 2004. Menjadi Kepala Sekolah Profesional dalam Konteks
Menyukseskan MBS dan KBK, Penerbit : PT Remaja Rosdakarya, Bandung.
Majid, Abdul. 2005. Perencanaan Pembelajaran: Mengembangkan Standar Kompetensi Guru. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Muhaimin, 2004. Paradigma Pendidikan Islam. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
70
Nasution, S. 1980. Asas-asas Kurikulum. Cet. IV. Bandung. CV Jemmars.
Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru (Lembaran Negera RI Tahun 2008 Nomor 194).
Poerwadarminta. W.J.S 1976. Kamus Umum Bahasa Indonesia. PT. Balai Pustaka. Jakarta.
Rusyam, Thabrani, dkk. 1981. Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar.
Cet. I. CV. Remaja Rosda Karya, Bandung.
Robbins, Stephen P., 2001, Organizational Behavior, New Jersey: Pearson Education International.
Robotham, David, (1996), Competences : Measuring The Immeasurable, Management Development Review, Vol. 9, No. 5.
Saud, Udin Saefudin, 2009. Pengembangan Profesi Guru, Penerbit : CV.
Alfabeta, Banudng.
Surya, Muhammad. 2003. Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Bandung:
Yayasan Bhakti Winaya.
Sutisna, Oteng. (1993). Administrasi Pendidikan Dasar Teoritis dan Praktis Profesional. Bandung: Angkasa
Syah, Muhibbin. 2000. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Said, M. 1986. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Cet. I. CV. Rajawali.
Jakarta.
Slameto. 1995. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Cet. III, PT. Rineka Cipta. Jakarta.
Undang-Undang RI Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (Lembaran Negara RI Tahun 2005 Nomor 157).
Winkel. 1996. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Cet. IV, Sinar Baru Algosindo. Bandung.
LAMPIRAN-LAMPIRAN
1. Surat Penelitian Dari Lembaga Penelitian Pengembangan Dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Muhammadiyah Makassar
2. Surat Penelitian Dari Dari Badan Penelitian Dan Pengembangan Daerah Pemerinrah Provinsi Sulawasi Selatan
3. Surat Penelitian Dari Kantor Kesatuan Bangsa Dan Perlindungan Masyarakat Pemerintah Kota Makassar
4. Surat Izin Penelitian Dari Dinas Pendidikan Pemerintah Kota Makassar 5. Surat Keterangan Melakukan Penelitian Dari Sekolah Dasar Negeri
Kompleks IKIP Makassar 6. Pedoman Wawancara 7. Format Angket penelitian
LAMPIRAN-LAMPIRAN
1. Surat Penelitian Dari Lembaga Penelitian Pengembangan Dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Muhammadiyah Makassar
2. Surat Penelitian Dari Dari Badan Penelitian Dan Pengembangan Daerah Pemerinrah Provinsi Sulawasi Selatan
3. Surat Penelitian Dari Kantor Kesatuan Bangsa Dan Perlindungan Masyarakat Pemerintah Kota Makassar
4. Surat Izin Penelitian Dari Dinas Pendidikan Pemerintah Kota Makassar 5. Surat Keterangan Melakukan Penelitian Dari Sekolah Dasar Negeri
Kompleks IKIP Makassar 6. Pedoman Wawancara 7. Format Angket penelitian