• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kepala Dukuh

III. Sebagai Kader Kelompok:

5.4.1. Hubungan Komunikasi

Jaringan komunikasi terbentuk karena adanya hubungan komunikasi antar individu pada proses komunikasi dalam sebuah sistem. Selanjutnya hubungan antar individu tersebut dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung. 1) Pilihan Hubungan Komunikasi

Pilihan hubungan komunikasi dihitung berdasarkan jumlah individu pa-sangan komunikasi responden pada saat mereka membicarakan DPG. Persentasi pilihan hubungan komunikasi responden dapat dilihat pada Tabel 27. Dari Tabel 27 dapat diketahui bahwa semua anggota mempunyai pilihan hubungan komuni-kasi. Hal ini berarti pada KWT tersebut tidak mempunyai pemencil (isolated), karena semua anggota melakukan pertukaran informasi dengan sesama anggota lainnya. Setiap anggota mempunyai pilihan komunikasi yang tinggi, artinya setiap anggota saling berkomunikasi, baik dengan ketua, pengurus dan anggota lain -nya. Hasil pengamatan di lapangan terlihat bahwa semua anggota mempunyai kebiasaan menyampaikan atau pun mencari informasi ke anggota lainnya.

86 Tabel 27 Persentasi Pilihan Hubungan Komunikasi Anggota KWT Di Kecamatan

Pundong Kabupaten Bantul DIY Tahun 2001

Pilihan Hubungan Komunikasi Jumlah individu %

Memilih 10 - -

Memilih 11-15 7 17,5

Memilih 16 33 82,5

Total 40 100

Sumber : Data Lapangan 2001.

2) Arah Hubungan Komunikasi

Persentasi arah hubungan komunikasi responden dapat dilihat pada Tabel 28. Dari Tabel 28 diketahui sebagian besar anggota me lakukan hubungan komunikasi dua arah, hanya sedikit yang melakukan hubungan komunikasi searah. Hal ini berarti bahwa setiap individu anggota KWT saling memilih dalam mempertukarkan informasi, sehingga terjadi komunikasi timbal balik.

Tabel 28 Persentasi Arah Hubungan Komunikasi Anggota KWT di Kecamatan Pundong Kabupaten Bantul DIY Tahun 2001

Pilihan Hubungan Komunikasi Jumlah individu %

Satu arah 47 6,68

Dua arah 656 93,32

Total 703 100

Sumber : Data Lapangan 2001.

Komunikasi satu arah yang te rjadi dimungkinkan karena adanya orang-orang yang dianggap sebagai sumber informasi. Berdasarkan pengamatan di lapangan, ternyata orang-orang tempat bertanya anggota kelompok adalah orang yang mereka anggap mempunyai dan menguasai informasi, serta berpera n sebagai opinion leader. Sosiogram hubungan komunikasi anggota KWT di Kecamatan Pundong dapat diikuti pada Gambar 18.

88 5.4.2. Peranan Individu Dalam Jaringan Komunikasi

Jika seorang individu dipilih oleh sejumlah individu lain dalam suatu jaringan komunikasi melebihi jumlah rata-rata pilihan yang diterima, maka individu tersebut dikatakan Pemuka Pendapat (opinion leader). Perbandingan jumlah Pemuka Pendapat dan Non-Pemuka Pendapat tersebut lihat Tabel 29.

Tabel 29 Perbandingan Pemuka Pendapat dan Non-Pemuka Pendapat pada KWT di Kecamatan Pundong Kabupaten Bantul DIY Tahun 2001

Posisi Individu dalam Jaringan Jumlah individu %

Pemuka Pendapat 10 25

Non-Pemuka Pendapat 30 75

Total 40 100

Sumber : Data Lapangan 2001.

Hasil pengamatan di lapangan, mereka yang dianggap sebagai pemuka pendapat ternyata mempunyai kekosmopolitan dan status sosial yang lebih tinggi, lebih aktif mencari informasi ke luar sistem, lebih intensif berhubungan dengan penyuluh maupun sumber informasi lainnya. Hal ini sesuai de ngan pendapat Roger (1995) yang menyatakan bahwa opinion leader atau pemuka pendapat memiliki sejumlah atribut dan kelebihan diban-dingkan anggota lainnya di dalam sistem, kelebihan tersebut antara lain pendidikan formal yang lebih baik, status sosial ekonomi yang lebih tinggi, kekosmopolitan yang lebih tinggi. Responden yang berperan sebagai pemuka pendapat antara lain yaitu: 1. Ny. Suyati KT, 2. Ny. Dasimah, 3. Ny. Sarjilah, 4. Ny. Suratmi, 5. Ny. Martini, 6. Ny. Ponirah, 7. Ny. Mugirah, 8.Ny. Muhari, 9. Ny. Tri Murjiati, 10. Ny. Marsini.

89 5.4.3. Indikator-indikator Struktur Komunikasi

1) Derajat keterhubungan individu

Banyak sedikitnya anggota dalam sebuah sistem jaringan sangat mempe-ngaruhi tinggi rendahnya derajat keterhubungan individu. Tingginya derajat keterhubungan individu berarti keterhubungan seseorang melalui hubungan satu arah atau hubungan langsung itu tinggi, hal ini membentuk hubungan komunikasi yang sangat erat. Demikian pula sebaliknya, jika rendah derajat keterhubung-annya, maka hubungan komunikasinya pun tidak erat. Dengan demikian jika semakin tinggi derajat keterhubunbgan anggota KWT, maka semnakin intensif pula komunikasinya tentang DPG.

Opinnion Leader atau Ketua Kelompok merupakan contoh individu yang memiliki derajat keterhubungan individu yang tinggi, karena mereka mempunyai pilihan komunikasi langsung yang tinggi. Hampir semua informasi untuk anggota kelompok selalu melalui Ketua Kelompok, baru kemudian dilanjutkan kepada para anggotanya. Derajat keterhubungan individu pada KWT di Kecamatan Pundong dapat diikuti pada Tabel 30.

Tabel 30 Derajat Keterhubungan Individu Anggota KWT di Kecamatan Pundong Kabupaten Bantul DIY Tahun 2001

Derajat Keterhubungan Individu Jumlah Individu %

Rendah 8 20

Sedang 4 10

Tinggi 28 70

Total 40 100

Sumber : Data Lapangan 2001.

Dari Tabel 30 tersebut dapat diketahui bahwa sebagian besar (70 %) anggota mempunyai derajat keterhubungan individu yang tinggi, artinya bahwa

90 komunikasi tentang DPG berlangsung intensif. Kemudian untuk inde ks keterhubungannya adalah sebesar 17,95 (700 : 39) yang dihitung dengan rumus:

2) Derajat kekompakan individu

Guna mengukur kepaduan sebuah sistem adalah dengan mengetahui derajat kekompakannya. Derajat kekompakan anggota KWT di Kecamatan Pundong lihat Tabel 31 berikut.

Tabel 31 Derajat Kekompakan Individu Anggota KWT di Kecamatan Pundong Kabupaten Bantul DIY Tahun 2001

Derajat Kekompakan Individu Jumlah Individu %

Rendah - -

Sedang 11 27,5

Tinggi 29 72,5

Total 40 100

Sumber : Data Lapangan 2001.

Dari Tabel 31 tersebut dapat diketahui bahwa sebagian besar (72,5 %) anggota mempunyai derajat ke kompakan individu yang tinggi, artinya bahwa kelompok sudah kuat di mana kelompok sekaligus sebagai klik, konfigurasi jaringannya adalah tipe semua saluran. Indeks keterhubungannya adalah sebesar 307,95 (11.987 : 39) yang dihitung dengan rumus:

Jumlah Hubungan Dua Langkah Indeks Kekompakan =

Jumlah Hubungan Yang Mungkin Jumlah Hubungan Aktual Individu Indeks Keterhubungan =

91 3) Derajat keragaman individu

Gambaran tentang tinggi rendahnya hubungan seorang anggota kelompok dengan orang lain yang tidak seprofesi disebut “derajat keragaman individu”. Derajat keragaman individu anggota KWT dapat diikuti pada Tabel 32.

Tabel 32 Derajat Keragaman Individu Anggota KWT di Kecamatan Pundong Kabupaten Bantul DIY Tahun 2001

Derajat Keragaman Individu Jumlah Individu %

Rendah - -

Sedang 40 100

Tinggi - -

Total 40 100

Sumber : Data Lapangan 2001.

Tabel 32 menunjukkan bahwa derajat keragaman individu anggota KWT adalah sedang, artinya anggota kelompok yang bertukar informasi tentang DPG dengan orang di luar kelompok adalah sedang. Ada beberapa faktor yang membuat kon-disi tersebut antara lain karena: a) anggota kelompok relatif masih baru sehingga tertutup dengan lingkungan luar, b) anggota kelompok belum atau tidak tahu harus berhubungan dengan siapa, c) jenis kelamin. Hasil pe ngamatan di lapangan ternyata dalam bertukar informasi tentang DPG hanya dilakukan dengan para Pemandu Lapangan saja. Kemudian indeks keragaman anggota KWT adalah sebesar 0,12 (5 : 39) yang dihitung dengan rumus:

Jumlah Hubungan Menyimpang Indeks Keragaman =

92 Dari uraian di muka ada beberapa ha l penting yang dapat dijelaskan sebagai berikut:

(a) Pilihan komunikasi sebesar 82,5 % atau 33 orang memilih atau berhubungan dengan 16 orang. Hal ini dapat dipahami karena dari sisi usia yang masih muda dan sebaya sebanyak 28 orang yaitu berumur antara 20-34 tahun, sehingga hubungan terjalin tanpa ada perasaan di “tua” kan dan di “muda” kan atau tidak perlu dengan unggah -ungguh yang ketat. Kemudian tingkat pendidikan anggota pun tidak berbeda jauh, yaitu sebanyak 35 orang berpen-didikan dasar yaitu SD hingga SLTP, oleh karena itu perasaan equal atau merasa sederajat ada pada setiap diri anggota KWT. Faktor satu alumni dari diklat SL-DPG membuat semakin baiknya hubungan di antaranya. Kemudian kedekatan tempat tinggal atau rumah para anggota dan masih adanya hubungan keluarga membuat hubungan yang baik pula. Hal ini sekaligus menciptakan sangat baiknya hubungan komunikasi dua arah (two way traffic communication) dari para anggota KWT (93,32 %). Pengalaman bertani, kekosmopolitan juga mempunyai andil pada pilihan komunikasi.

(b) KWT di Kecamatan Pundong mempunyai 10 orang opinion leader, yaitu dua orang usia muda berumur antara 30 – 33 tahun berpendidikan SLTA yang menjabat sebagai Ketua dan Sekretaris. Sedangkaan enam orang berusia di atas rata-rata berumur antara 35 - 40 tahun berpendidikan SD dan SLTP. Jadi dapat dimengerti jika opinion leader mereka adalah orang yang pada umumnya berpendidikan cukup baik, berumur di atas rata -rata atau lebih dari 32 tahun dan menduduki jabatan dalam kelompok.

93 (c) Pengetahuan dan peranan anggota dalam kelompok juga mempunyai andil terhadap Jaringan komunikasi. Anggota yang mempunyai pengetahuan yang baik tentang menjadi sumber informasi bagi anggota kelompok lainnya. Anggota lain mencari informasi atau bertanya bisa lebih satu orang dan dapat dalam waktu bersamaan. Interaksi tersebut memberikan sumbangan terhadap terbentuknya jaringan komunikasi yang baik pula. Kemudian peranan seorang anggota dalam kelompok yang tinggi berarti makin intensif pula proses interaksi yang terjadi, baik kualitas dan kuantitasnya yang pada gilirannya membentuk jaringan komunikasi yang baik pula.

5.5. Keragaan Adopsi Teknologi DPG 5.5.1. Tingkat adopsi teknologi DPG

Tingkat adopsi teknologi DPG adalah kecepatan relatif inovasi teknologi DPG diadopsi oleh para anggota kelompok KWT. Tingkat adopsi teknologi DPG diukur menurut jumlah individu yang mengadopsi suatu inovasi selama jangka waktu tertentu. Paket Teknologi DPG meliputi usahatani sayuran, peternakan, dan perikanan; di mana masing-masing mempunyai delapan unsur teknologi.

Keragaan tingkat adopsi paket teknologi DPG oleh anggota KWT di Kecamatan Pundong tersebut dapat diikuti pada Tabel 33. Dari Tabel 33 tersebut dapat diketahui bahwa tingkat adopsi untuk paket teknologi tanaman sayuran dan peternakan masih belum optimal. Tingkat adopsi yang tinggi hanya untuk unsur teknis mengairi tanaman dan memberi minum ternak. Tingkat adopsi yang rendah adalah untuk unsur teknis peerbenihan atau pembibitan, pemupukan, pemakaian pestisida untuk tanaman dan obat-obatan untuk ternak. Demikian pula halnya untuk teknologi panen, pengolahan hasil dan pemasaran hasil tingkat adopsi masih

94 rendah hal ini disebabkan karena: a) produk hasil usahanya masih sedikit dan hanya untuk konsumsi rumah tangga, b) kurang tersedianya peralatan yang diperlukan, c) mereka merasa bahwa teknologi yang dipakai sehari-hari selama ini tidak bermasalah. Kemudian untuk paket teknologi perikanan yang tidak diadopsi oleh anggota KWT adalah karena tidak tersedianya lahan kolam dan tidak tersedianya air yang berkesinambungan.

Tabel 33 Tingkat Adopsi Paket Teknologi DPG oleh Anggota KWT Di Kecamatan Pundong Kabupaten Bantul DIY Tahun 2001

Komoditas

Tanaman Sayuran Peternakan Perikanan

Tingkat Adopsi

Orang % Orang % Orang %

Tinggi 11 27,5 4 10 - 0

Sedang 14 35 10 25 - 0

Rendah 15 37,5 26 65 40 100

Jumlah 40 100 40 100 40 100

Keterangan: T = Tinggi (mengadopsi 6 unsur inovasi), S = Sedang (mengadopsi 3-5 unsur inovasi), R = Rendah (mengadopsi 2 unsur inovasi),

Sumber: Data Lapangan 2001.