SOSIAL PROSEDURAL TUGAS
2.4. Karakteristik Personal
2.4.2. Pengalaman Bertani
Pengalaman adalah yang mana individu mewujudkan pemahamannya dalam bentuk ucapan, tindakan, perilaku, dan sikap. Pengalaman bagi seseorang mengandung arti yang mendalam serta mempunyai nilai tersendiri dalam kehidup-annya. Pengalaman bertani merupakan salah satu faktor yang dapat menentukan tingkat adopsi inovasi. Menurut Soekartawi (1988) petani yang berpengalaman lebih cepat mengadopsi teknologi pertanian dibandingkan dengan petani yang belum atau kurang pengalaman bertaninya. Tamarli (1994) menyimpulkan bahwa pengalaman bertani mempunyai korelasi nyata dengan penerapan program Supra Insus. Abdurachman (1998) mengemukakan bahwa pengalaman bertani nyata hubungannya dengan tingkat adopsi PHT. Pengalaman bertani dapat diketahui dengan cara mengukur berapa lama seseorang pernah melaksanakan usahatani.
2.4.3. Kekosmopolitan
Kekosmopolitan menurut Rogers (1995) adalah orang yang memiliki sifat keterbukaan, mudah bepergian ke berbagai tempat, banyak kenalan, mencari
15 informasi da n digunakan dalam pekerjaannya, serta responsif terhadap inovasi. Kekosmopolitan seseorang untuk mencari informasi atau ide baru adalah tingkat keterbukaan seseorang dalam menerima pengaruh dari luar.
Ada tiga kriteria tentang sifat kosmopolitan seseora ng yang dapat disim-pulkan dari pendapat Roger (1995) yaitu: (a) intensitas kontak dengan banyak orang, masyarakat, bangsa, organisasi atau negara, (b) intensitas penggunaan berbagai media massa dalam berkomunikasi dan mencari informasi, dan (3) ber-orientasi ke masyarakat dunia. Seseorang yang kosmopolit adalah bersedia mencari ide-ide baru atau terbuka terhadap inovasi, selalu melakukan dialog atau komunikasi yang menimbulkan kesadaran kritis, mempunyai kemampuan em-pati yang tinggi sehingga membuahkan komunikasi yang tepat, mempunyai tingkat innovativeness, motivasi, dan aspirasinya yang tinggi, selalu mengalami perubahan pengetahuan, keterampilan dan sikap terhadap proses adopsi suatu inovasi. Tamarli (1994) menyimpulkan bahwa kekosmopolitan petani mempu-nyai hubungan yang nyata dengan penerapan program Supra Insus. Kemudian Abdurachman (1998) juga menyimpulkan bahwa kekosmopolitan petani memi-liki hubungan yang nyata dengan tingkat penerimaan PHT. Kekosmopolitan seseorang dapat diketahui dengan cara mengukur: (a) Jumlah sumber informasi inovasi yang dikunjungi, (b) frekuensi kontak dengan orang-orang di luar ke-lompoknya, (c) jarak dari tempat tinggal ke sumber informasi, (d) lama waktu menonton televisi, mendengarkan Radio, dan (e) frekuensi membac a surat kabar. Dari pengertian dan beberapa hasil penelitian tersebut, karakteristik perso-nal anggota yang berupa pendidikan nonformal, pengalaman bertani, dan kekos-mopolitan diduga memiliki hubungan dengan perilaku komunikasi anggota KWT.
16 2.4.4. Penge tahuan
Menurut Rakhmat (1995) pengetahuan adalah persepsi yang jelas tentang apa yang dipandang sebagai fakta atau nyata, obyektif, kebenaran, atau kewajiban. Pengetahuan dibedakan kedalam tiga golongan: (a) pengetahuan teoritis, (b) pengetahuan praktis, dan (c) pengetahuan produktif. Pengetahuan merupakan sejumlah tumpukan pengalaman selama perjalanan hidup manusia sejak kanak-kanak sampai dewasa dan pengetahuan dapat diartikan sebagai suatu usaha yang sengaja untuk menemukan suatu yang baru.
Pengetahuan mengacu kepada pengenalan fakta, terutama sejumlah fakta yang disusun menjadi dasar-dasar perilaku manusia. Menurut Albrecht (1985) pengetahuan dibedakan menjadi tiga macam yaitu: (a) pengetahuan populer, yaitu pengetahuan yang diperoleh dari pengalama n sehari-hari, (b) pengetahuan ima-jinasi atau literer yaitu pengetahuan yang diciptakan dalam proses abstraksi orang, dan (c) pengetahuan ilmiah, adalah diperoleh dengan cara memadukan pengujian sebagai ciri pengetahuan populer dengan penyusunan teori sebagai ciri dari pengetahuan literer. Jadi dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengetahuan itu dapat diperoleh dari pengalaman, pendidikan, dan penelitian. Seran (1997) mengemukakan bahwa pengetahuan gizi anggota meningkatkan perilaku komuni-kasi dan mempunyai hubungan yang nyata terhadap kesinambungan program intervensi diversifikasi konsumsi pangan dan gizi pada kelompok Mitra di Bogor. Pengetahuan seseorang dapat diketahui dengan cara menguji atau memberikan pertanyaan terhadap materi-materi yang te lah diajarkan kepadanya. Berdasar pengertian dan hasil penelitian tersebut di atas, diduga pengetahuan tentang DPG yang dimiliki anggota memiliki hubungan dengan perilaku komunikasi KWT.
17 2.4.5. Kedudukan Dalam Kelompok
Kedudukan (status) dan peranan (role) menurut Sukanto (1990) adalah unsur-unsur baku dan penting bagi sistem sosial. Sistem sosial adalah pola-pola yang mengatur hubungan timbale balik antar individu dalam masyarakat dan antara individu dengan masyarakatnya, dan tingkah laku individu-indiv idu ter-sebut. Status adalah kedudukan sosial seseorang dalam kelompok serta dalam masyarakat yaitu aspek struktural dan fungsional. Aspek struktural adalah bersifat hierarkhis tinggi atau rendah, sedang aspek fungsional yang dimaksud adalah peranan sese orang. Status yang dimaksud adalah status sosial dimana tempat seseorang secara umum dalam masyarakat yang dapat dihubungkan dengan “pergaulannya, prestisenya, hak dan kuajibannya”. Status sosial berbeda dengan kedudukan sosial. Kedudukan sosial adalah sebagai tempat atau posisi seseorang dalam suatu kelompok sosial yang dihubungkan dengan orang lain dalam kelom-pok tersebut. Posisi atau tempat seseorang dalam masyarakat merupakan unsur yang statis yang menunjukkan tempat dalam organisasi masyarakat. Kedudukan secara abstrak adalah sebagai tempat atau posisi seseorang dalam suatu kelompok sosial. Jika dipisahkan dari individu yang memilikinya kedudukan hanya merupa-kan kumpulan hak-hak dan kewajiban. Karena hak dan kewajiban itu hanya dapat terlaksana melalui individu, maka agak sulit memisahkannya secara tegas. Jadi orang yang mempunyai kedudukan, maka ia mempunyai hak dan kewajiban melaksanakan tugas. Ada tiga macam kedudukan dalam sistem sosial yaitu: 1) Dibebankan (Ascribed-status) adalah kedudukan seseorang dalam sistem sosial
atau kelompok atau masyarakat tanpa memperhatikan perbedaan-perbedaan rohaniah dan kemampuan.
18 2) Diperjuangkan (Achieved-status) adalah kedudukan yang dicapai seseorang
dengan usaha -usaha yang disengaja.
3) Diberikan (Assigned-status); adalah kedudukan yang diberikan karena hal-hal tertentu (misalnya karena berjasa).
Kedudukan dalam kelompok adalah perilaku individu di dalam dimensi tugas dan sosial pada proses interaksi kelompok. Kedudukan dalam kelompok terkait erat denga n pelaksanaan tugas dan kewajiban seseorang sesuai dengan keanggotaannya. Dengan mengacu pada pengertian di atas maka kedudukan atau keanggotaan dalam kelompok pada penelitian ini adalah jabatan yang dipegang atau yang diberikan kepada seseorang yaitu sebagai Ketua, Pengurus, Anggota hubungannya dengan hak-hak, tugas dan kewajiban dalam kelompok. Tamarli (1994) menyimpulkan bahwa terdapat hubungan yang nyata antara keanggotaan dalam kelompoktani dengan adopsi program Supra Insus.
Dari pengertian dan hasil penelitian tersebut, diduga kedudukan dalam kelompok memiliki hubungan dengan perilaku komunikasi KWT.