BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Hiperlipidemia
2.1.6 Hubungan Lipid dan Kolesterol
Lipid atau lemak merupakan suatu zat yang kaya dengan energi, dan berperan sebagai sumber energi utama untuk proses metabolisme tubuh. Sumber lemak dalam tubuh dari makanan dan hasil produksi dari organ hati, yang dapat disimpan dalam sel-sel lemak sebagai cadangan energi (Lichtensein & Jones, 2001; Murray et al., 2014). Lemak secara umum mempunyai manfaat sebagai sumber energi, pelindung organ tubuh, pembentukan sel, sumber asam lemak esensial, alat angkut vitamin larut lemak, menghemat protein, memberi rasa kenyang dan kelezatan, sebagai pelumas, dan memelihara suhu tubuh (Nugraha, 2011).
Secara klinis lemak yang penting, yaitu: fosfolipid, trigliserida, kolesterol dan asam lemak. Fospolipid merupakan senyawa lemak yang mengandung gugus fosfat, antara lain:
lecithin, cephalin, sphingosin, dan sphingomyelin. Fosfolipid termasuk dalam lipid polar yang merupakan komponen utama dari semua membran biologis. Kadar fosfolipid plasma mengalami peningkatan bersamaan dengan peningkatan kadar kolesterol plasma (Lichtensein
& Jones, 2001).
Trigliserida terbentuk dari 3 asam lemak dan gliserol. Trigliserida adalah salah satu bentuk lemak yang diserap oleh usus setelah mengalami hidrolisis, yang masuk ke dalam plasma dalam 2 bentuk yaitu sebagai kilomikron yang berasal dari penyerapan usus setelah mengkonsumsi lemak, dan sebagai very low density lipoprotein (VLDL) yang dibentuk oleh hati dengan bantuan insulin. Trigliserida di dalam jaringan di luar hati (pembuluh darah, otot, jaringan lemak) akan dihidrolisis oleh enzim lipoprotein lipase menjadi gliserol dan asam lemak sebagai sumber energi. Trigliserida sisa hidrolisis, dimetabolisme menjadi LDL oleh hati (Lichtensein & Jones, 2001).
Kolesterol memiliki struktur kimia dasar berupa steroid yang merupakan hasil dari metabolisme makanan yang bersumber dari hewan seperti kuning telur, otak, daging dan hati dan lain-lain. Kolesterol merupakan suatu lemak tubuh yang berada dalam bentuk bebas dan ester dengan asam lemak, serta merupakan komponen utama selaput sel otak dan saraf.
Kolesterol sangat penting dalam berbagai proses metabolisme tubuh contohnya sebagai bahan pembentuk dinding sel, membuat asam empedu, membuat vitamin D, dan sebagai bahan pembuat hormon (Murray et al., 2014).
Asam lemak merupakan asam monokarboksilat rantai panjang. Terdapat dua macam asam lemak yaitu asam lemak jenuh (saturated fatty acid) merupakan asam lemak ini tidak memiliki ikatan rangkap, sedangkan asam lemak tak jenuh (unsaturated fatty acid) merupakan asam lemak yang memiliki satu atau lebih ikatan rangkap (Murray et al., 2014).
2.1.7 Dampak dari hiperlipidemia
Hiperlipidemia memberikan dampak yang kurang baik terhadap kesehatan tubuh.
Hiperlipidemia terbukti menjadi salah satu faktor risiko penting penyakit kardiovaskuler seperti hipertensi, angina, infark miokard, penyakit jantung koroner dan beberapa penyakit lainnya (Nelson, 2013). Diet tinggi lemak, mengonsumsi junk food, kurangnya aktifitas fisik dan beberapa hal lain yang berhubungan dengan gaya hidup masih menjadi efek utama kejadian hiperlipidemia (Jacob, 2017).
Hiperlipidemia juga memberikan dampak buruk terhadap organ tubuh, salah satu diantaranya adalah organ hepar. Hepar merupakan organ terpenting terhadap pengaturan sintesis lemak di dalam tubuh. Hiperlipidemia menyebabkan terjadinya peningkatan akumulasi
lemak di dalam hepar. Akumulasi lemak tersebut menyebabkan peningkatan kadar reactive oxygen species (ROS) yang berasal dari mitokondria sel hepatosit. Peningkatan kadar ROS meningkatkan peroksidase lemak di dalam tubuh. Peningkatan zat tersebut berefek pada kerusakan sel-sel hepatosit dan peradangan jaringan yang dapat berujung terhadap penyakit hepar seperti non-alcoholic fatty liver disease (NAFLD), chronic cholestatic liver disease, alcoholic steatohepatitis (NASH), sirosis hepar dan beberapa penyakit hepar lainnya (Köroğlu et al., 2016; Kweon et al., 2014; Irfan et al., 2014).
Penyakit NAFLD sampai saat ini masih menjadi penyebab utama penyakit hati kronis di dunia barat dengan prevalensi sekitar 20%-30% dari populasi umum masyarakat yang ada di dunia bagian barat (Ahmed, 2015).Sedangkan di Benua Asia, menurut data observasi kesehatan global dari World Health Organization (WHO) tahun 2014 menyatakan bahwa obesitas dan peningkatan profil lipid berhubungan sangat kuat dengan prevalensi NAFLD.
Terdapat sekitar 27,4% penduduk asia menderita NAFLD. Sedangkan pasien NAFLD yang terbukti menderita NASH menunjukkan angka yang cukup tinggi pada penduduk asia, yakni sekitar 63,5% dari keseluruhan pasien NAFLD (Fan et al., 2017).
2.1.8 Faktor Resiko
Ernawati (2006) menyatakan beberapa faktor yang memicu terjadinya hiperlipidemia, antara lain usia, berat badan, pola makan, aktivitas fisik, merokok, stress dan faktor keturunan.
Usia merupakan salah satu faktor terjadinya hiperlipidemia, karena kimiawi tubuh berubah seiring bertambahnya usia. Pada usia yang semakin lanjut, plak kolesterol yang menumpuk pada pembuluh darah akan semakin menebal sehingga memperbesarkan risiko terjadi penyakit jantung dan masalah saluran peredaran darah (Arsana et al., 2015).
Obesitas adalah kelebihan berat badan (BMI = body mass index ≥ 30) yang dihasilkan akibat makan terlalu banyak dan aktifitas terlalu sedikit. Obesitas merupakan hasil interaksi kompleks antara faktor-faktor genetik, perilaku dan lingkungan, menyebabkan ketidak- seimbangan antara asupan dan pengeluaran energi. Orang dengan obesitas maka di dalam tubuhnya cenderung akan banyak timbunan lemak yang berlebih, dan timbunan lemak yang ada di dalam tubuh akan menyebabkan penyempitan pada pembuluh darah (Pignatelli et al., 2010).
Faktor lain penyebab hiperlipidemia adalah perilaku makan yang tidak baik. Perilaku makan yang tidak baik disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya adalah karena lingkungan dan sosial. Gaya hidup seperti pola konsumsi dan gaya hidup tak teratur menyebabkan gangguan metabolik. Pola makan yang berlebih, tidak teratur dan kebiasaan makan makanan
cepat saji yang kurang serat, tinggi karbohidrat dan lemak menyebabkan hiperlipidemia.
Konsumsi lemak yang berlebihan meningkatkan resiko penyakit-penyakit degeneratif (Arsana et al., 2015).
Kurang olahraga merupakan faktor terjadinya hiperlipidemia. Kurang berolahraga atau bergerak akan mengakibatkan makanan yang masuk tidak termanfaatkan dengan baik, akhirnya membuat timbunan lemak pada tubuh semakin tebal, dan kadar kolesterol akan semakin meningkat (Menafoglio et al., 2015).
Pada zaman modern seperti sekarang ini, stress merupakan salah satu faktor terjadinya hiperlipidemia. Penelitian Cohen (2015) menunjukkan orang yang stress 1,5x lebih besar mendapatkan resiko PJK daripada orang yang tidak stress, karena dengan adanya stress terjadi peningkatan kadar kolesterol darah dan tekanan darah dalam tubuh.
Kebiasaan merokok merupakan faktor hiperlipidemia karena ketika merokok, mereka akan menghisap nikotin yang terkandung dalam rokok. Nikotin dalam rokok merupakan salah satu zat yang dapat mengganggu kerja tubuh dan mempengaruhi metabolisme kolesterol dalam tubuh. Merokok dapat merusakkan dinding dari saluran darah sehingga dinding-dinding yang rusak itu ditempel oleh lemak (Najafipour et al., 2012).
Adanya riwayat keluarga yang memiliki kolesterol tinggi dan juga penyakit jantung koroner ternyata dapat pula memicu anggota keluarga lain memiliki risiko tersebut. Faktor genetik merupakan faktor yang dapat menurun itu biasanya berpengaruh terhadap konsentrasi kolesterol HDL dan LDL di dalam darah. Bila mempunyai riwayat keluarga yang memiliki kadar kolesterol LDL tinggi, kemungkinan besar ahli waris keluarga tersebut memiliki LDL tinggi. Tingginya kadar LDL yang terkandung dalam darah,akan memicu kolesterol LDL menumpuk di saluran darah. Oleh sebab itu, ahli keluarga harus berwaspada, kemungkinan penyakit ini dapat menurun dan berisiko tinggi memiliki penyakit yang sama (Barbara et al., 2015).
2.1.9 Terapi
Terapi farmakologi dan non farmakologi digunakan sebagai terapi untuk menurunkan kadar lipid. Terapi non farmakologi antaranya ialah perubahan gaya hidup, termasuk aktivitas fisik, terapi nutrisi medis, dan penghentian merokok (Arsana et al., 2015).
Aktivitas fisik merupakan setiap gerakan tubuh yang diakibatkan kerja otot rangka dan meningkatkan pengeluaran tenaga serta energi. Secara umum aktivitas fisik dibagi menjadi 3 kategori berdasarkan intensitas dan besaran kalori yang digunakan yaitu aktivitas fisik ringan, sedang dan berat. Aktifitas fisik yang disarankan meliputi program latihan yang mencakup
setidaknya 30 menit aktivitas fisik dengan intensitas sedang (menurunkan 4-7 kkal/menit) 4 - 6 x seminggu, dengan pengeluaran minimal 200 kkal/hari. Kegiatan yang disarankan meliputi jalan cepat, bersepeda statis, ataupun berenang. Tujuan aktivitas fisik harian dapat dipenuhi dalam satu sesi atau beberapa sesi sepanjang rangkaian dalam sehari (minimal 10 menit) (Arsana et al., 2015).
Pola makanan merupakan salah satu faktor yang selalu dianggap sebagai penyebab utama hiperlipidemia. Konsumsi berlebihan daging, apalagi jeroan, maka kemungkinan menderita hiperkolesterolemia akan lebih besar dibandingkan mereka yang lebih banyak mengonsumsi sayuran dan ikan. Oleh sebab itu, disarankan untuk mengkonsumsi diet rendah kalori yang terdiri dari buah-buahan dan sayuran (≥ 5 porsi/hari), biji-bijian (≥ 6 porsi/hari), ikan, dan daging tanpa lemak. Asupan lemak jenuh, lemak trans, dan kolesterol harus dibatasi, sedangkan makronutrien yang menurunkan kadar LDL-C harus mencakup tanaman stanol/sterol (2 g/hari) dan serat larut air (10-25g /hari) (Arsana et al., 2015)
Merokok merupakan faktor risiko kuat, terutama untuk penyakit jantung koroner, penyakit vaskular perifer, dan stroke. Merokok mempercepat pembentukan plak pada koroner dan dapat menyebabkan ruptur plak sehingga sangat berbahaya bagi orang dengan aterosklerosis koroner yang luas. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Framingham Heart Study di Amerika ditemukan bahwa kebiasaan merokok menyebabkan kadar HDL menurun. Penelitian ini dilakukan pada pria dan wanita berusia 20-49 tahun. Dalam penelitian ini disimpulkan bahwa faktor penyebabnya adalah jumlah batang rokok yang dihisap per hari, bukan durasi seseorang memulai kebiasaan merokok dan berhenti merokok minimal dalam 30 hari dapat meningkatkan kolesterol HDL secara signifikan (Arsana et al., 2015).
Merokok memicu banyak masalah yang berkontribusi terhadap penyakit jantung. Ini mempromosikan aterosklerosis, meningkatkan kadar LDL, dan mendorong peradangan dan pembentukan gumpalan darah. Berhenti merokok akan menghasilkan tingkat HDL yang lebih tinggi. Ini mungkin salah satu alasan mengapa risiko penyakit kardiovaskular berkurang setelah seseorang berhenti merokok (Arsana et al., 2015).
Salah satu obat yang paling banyak diresepkan di seluruh dunia sebagai obat penurun kadar lipid yaitu statin, suatu inhibitor enzim HMG Ko-A Reduktase (3-hidroksi-3- metilglutaril-KoA) (Ma et al., 2010;Karrowni et al., 2011). Mekanisme kerja obat statin adalah dengan mengurangi pembentukan kolesterol di liver dengan menghambat secara kompetitif kerja dari enzim HMG-KoA reduktase. Pengurangan konsentrasi kolesterol intraseluler meningkatkan ekspresi reseptor LDL pada permukaan hepatosit yang berakibat meningkatnya pengeluaran LDL-C dari darah dan penurunan konsentrasi dari kolesterol LDL dan lipoprotein
apo-B lainnya termasuk trigliserida (Bonfim et al., 2015; Ma et al., 2010; Karrowni et al., 2011). Adapun efek samping akibat obat statin yang sering dijumpai pada 5% pasien adalah miopati, muncul sebagai gejala nyeri pada otot dan persendian tanpa adanya perubahan kadar Creatinine Kinase (CK). Miopati yang parah (rhabdomyolysis fatal) dialami oleh 0,2% pasien, disertai dengan peningkatan CK (10 x batas atas kadar normal, CK normal adalah 10‐ 150 IU/L), dan dalam hal ini penggunaan statin harus segera dihentikan. Jika CK berkisar antara 3‐
10 x batas atas normal, statin tetap dilanjutkan tetapi CK harus terus dipantau sampai diketahui apakah keadaan membaik atau memburuk (sehingga memerlukan penghentian statin) (Lee, 2013).
Selain kelompok statin, kelompok asam fibrat, asam nikotinik dan ezetimibe juga digunakan sebagai obat hipolipidemik. Terdapat empat jenis asam fibrat yaitu gemfibrozil, bezafibrat, ciprofibrat, dan fenofibrat. Obat ini menurunkan kadar trigliserida plasma, dan menurunkan sintesis trigliserida di hati. Obat ini bekerja mengaktifkan enzim lipoprotein lipase yang kerjanya memecahkan trigliserida. Selain menurunkan kadar trigliserida, obat ini juga meningkatkan kadar kolesterol- HDL yang diduga melalui peningkatan apoprotein A-I, dan A- II. Banyak dipasarkan di Indonesia ialah gemfibrozil dan fenofibrat (Arsana et al., 2015).
Asam nikotinik bekerja menghambat enzim hormone sensitive lipase di jaringan adipose. Obat ini dapat mengurangi jumlah asam lemak bebas. Diketahui bahwa asam lemak bebas yang terdapat dalam darah sebagian akan ditangkap oleh hati dan akan menjadi sumber pembentukkan VLDL. Dengan menurunnya sintesis VLDL di hati, akan mengakibatkan penurunan kadar trigliserid, dan juga kolesterol LDL di plasma. Ternyata dengan pemberian asam nikotinik dapat meningkatkan kadar kolesterol HDL. Efek samping dari asam nikotik yang paling sering terjadi adalah flushing yaitu perasaan panas pada muka bahkan di badan (Arsana et al., 2015).
Obat golongan ezetimibe bekerja dengan menghambat absorbsi kolesterol di usus halus.
Kemampuannya tingkat moderate dalam menurunkan kolesterol LDL yaitu sebanyak 15-25%.
Pertimbangan penggunaan ezetimibe adalah untuk menurunkan kadar LDL, terutama pada pasien yang tidak tahan terhadap pemberian statin. Pertimbangan lainnya adalah penggunaannya sebagai kombinasi dengan statin untuk mencapai penurunan kadar LDL yang lebih rendah (Arsana et al., 2015).
2.2 Makanan Tinggi Lemak
Lemak merupakan zat makanan yang penting untuk menjaga kesehatan tubuh manusia.
Lemak mempunyai beberapa fungsi dalam tubuh, yaitu sebagai sumber energi dan
pembentukan jaringan adipose. Lemak merupakan sumber energi paling tinggi yang menghasilkan 9 kkal untuk tiap gramnya, yaitu 2,5 kali energi yang dihasilkan oleh karbohidrat dan protein dalam jumlah yang sama (Harsa, 2014). Lemak akan menghasilkan asam-asam lemak dan kolestrol yang dibutuhkan untuk membentuk membrane sel pada semua organ.
Berlebihan konsumsi lemak akan menimbulkan kegemukan, meningkatkan resiko terkena penyakit jantung koroner dan penyakit degeneratif lain (Koswara, 2006)
Gaya hidup yang tidak sehat termasuk berlebihan konsumsi makanan yang mengandung tinggi lemak merupakan salah satu faktor hiperlipedemia. Masyarakat yang tinggal di kota besar dewasa ini cenderung memiliki tingkat gangguan mental dan stres yang tinggi akibat kesibukan dan kegiatan yang sangat padat. Keterbatasan waktu membuat masyarakat berpikir mudah dan praktis dalam memenuhi kebutuhan terhadap makanan (Supardi, 2018). Sebagian besar masyarakat cenderung mengabaikan dampak buruk mengkonsumsi berbagai macam makanan yang mengandung lemak tinggi. Mengkonsumsi makanan tinggi kolesterol dan lemak jenuh menyebabkan peningkatan kolesterol intrasel, dan akan disimpan sebagai ester kolesterol yang menyebabkan penurunan transkripsi gen reseptor HDL dan menurunkan sintesis LDL. Hal ini menyebabkan kadar kolesterol LDL di dalam sirkulasi akan semakin meningkat (Harsa, 2014).
2.3 Kayu Manis
2.3.1 Anatomi Tanaman Kayu Manis
Kayu manis merupakan tanaman tahunan,termasuk salah satu komoditas ekspor penting di Indonesia dan memiliki pohon yang tinggi. Tinggi tanaman ini boleh mencapai 15 meter. Pohon kayu manis (Cinnamomum burmanii) mempunyai daun tunggal yang berbentuk lanset, daun mudanya berwarna merah pucat dan setelah tua berwarna hijau. Produk utama yang diperoleh dari tanaman kayu manis (Cinnamomum burmanii) adalah potongan kulit batang yang dikeringkan. Hasil yang diharapkan dari kulit batang kayu manis adalah memiliki aroma yang kuat, dimana kandungan utamanya adalah sinnamaldehid (Ramadhani, 2017).Kulit dipanen mulai dari sebelah bawah batang yang panjangnya sekitar 1 meter dan lebarnya 4- 10cm. Kemudian pohon kayu manis ditebang pada ketinggian 20-30cm dari permukaan tanah.
Setelah itu,batang dikuliti dimulai dari bagian atas dari batang dan pada cabang-cabang yang besar. Kulit yang telah dipanen diletakkan di atas tikar atau diatas kawat kasa dan dijemur dibawah sinar matahari selama 2-3 hari. Kulit kayu manis sudah kering akan menggulung yang menyerupai pipa atau biasa disebut quill yang siap untuk diperdagangkan.
Quill ini berwarna coklat kemerahan. Hasil kulit batang untuk pohon berukuran sedang sekitar 2,9 kg perpohon (Paimin & Rismunandar, 2001).
2.3.2 Klasifikasi Tanaman
Kayumanis (Cinnamom sp) termasuk famili Lauraceae, ada 3 yaitu genus Cinnamomum burmanii, C. zeylanikum dan C. casia. Pada saat ini yang sudah dikenal/berkembang di Indonesia dalam perdagangan yaitu Cinnamomum burmanii (Abdullah, 1990). Penyebaran Cinnamomum burmannii di Indonesia banyak terdapat di daerah Jawa dan Sumatra, khususnya daerah Sumatra Barat dan Kerinci.Manakala Cinnamomum Cassia merupakan spesies kayu manis khas Sri Lanka yang tumbuh di daerah Asia Tenggara dan Cinnamomum Zeylanikum berasal dari China (Ravindran et al, 2004;Plumeriastuti et al., 2019).
2.3.2.1 Cinnamon
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta Subdivisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliidae
Ordo : Laurales
Farmili : Lauraceae
Genus : Cinnamomum
Spesies : Cinnamomum burmannii,Cinnamomun zeylanicum, Cinnamomum cassia (Ranasinghe et al., 2012)
Gambar 3. Kayu Manis Cinnamomum burmannii
2.3.3 Deskripsi Tanaman
Berdasarkan penelitian Ravindran et al. (2004) komposisi kayu manis terdiri dari abu (2,4%), protein (3,5%), lemak (4%), serat (33,0%), karbohidrat (52,0%) dan menghasilkan energi 285 Kcal/100g. Sedangkan komposisi mineralnya terdiri dari zat besi (7,0mg/g), zinc (2,6mg/g), kalsium (83,8mg/g), chromium (0,4mg/g), mangan (20,1mg/g), magnesium (85,5mg/g), kalium (134,7mg/g) dan fosfor (42,2mg/g).
Komponen bioaktif tanaman yang memiliki efek hipoglikemik adalah flavonoid, alkaloid, glikosida, polisakarida, peptidoglikan, steroid dan terpenoid. Flavonoid adalah substansi yang paling banyak dan terpenting pada kelompok polifenol di dalam tanaman (Lukačínová1 et al., 2008).
Efek lain yang dimiliki oleh kayu manis adalah penghambatan aktifitas enzim HMG- CoA reduktase di hepar dan menurunkan kadar lipid darah pada hewan percobaan juga manusia (Lukačínová1 et al., 2008).
Kandungan polifenol yang terdapat dalam kayu manis adalah quercetin, kaempferol, isorhamnetin dan catechin. Kayu manis juga memiliki komponen bioaktif seperti cinnamaldehyde, cinnamic acid, cinnamate dan essensial oil (Baker et.al, 2008; Pulungan &
Pane, 2020).
2.3.4 Kandungan Kimia Kayu Manis
Dari beberapa penelitian yang telah dilakukan, kayu manis dilaporkan telah terbukti mempunyai efek hipoglikemik dan efek hipolipidemik pada tikus diabetes (Sujono et al., 2015).Hasil analisa fitokimia dari beberapa studi menunjukkan adanya beberapa senyawa
penting dalam ekstrak kayu manis diantaranya ialah alkaloid, protein, tannin, glikosida, flavonoid, saponin, asam cinnamat, poliferol dan cinnamaldehid (Noer et al., 2018). Dari sekian banyak senyawa tersebut, bahan aktif yang paling berperan adalah asam cinnamat, cinnamaldehid, polifenol dan flavonoid (Panjaitan, 2018). Beberapa penelitian melaporkan bahwa cinnamaldehyde dapat menghambat aktivitas HMG-KoA reduktase hepar dan menurunkan peroksidasi lipid di hepar (Anderson et al., 2004; Lukačínová1 et al., 2008).
2.3.5 Mekanisme Kerja Kayu Manis dalam Menurunkan Kadar Kolesterol
Cinnamaldehyde yang merupakan komponen dalam kayu manis diduga dapat menurunkan kadar kolesterol total dengan mekanisme kerjanya memblokir enzim HMG Ko-A Reduktase dan menekan peroksidasi lipid melalui peningkatan aktivitas enzim antioksidan (Lee et al., 2003).
Methylhydroxychalcone polymer (MCHP) merupakan suatu polyphenol (flavonoid) yang terdapat dalam kayu manis. Flavonoid ini berfungsi sebagai senyawa yang dapat meningkatkan HDL dan juga dikatakan mampu menaikkan densitas dari reseptor LDL di liver dan mengikat apolipoprotein B (Gabriela, 2013; Parfene et al., 2013)
Studi yang dilakukan Sekhon (2012), menyatakan bahwa flavonoid bekerja menurunkan kadar kolesterol total, Low Density Lipoprotein (LDL),High Density Lipoprotein (HDL) dan trigliserida (TG) dari dalam darah dengan menghambat kerja enzim 3 metilglutaril koenzim-A reduktase (HMG Co-A reduktase). Flavonoid juga dapat menurunkan penyerapan kolesterol dan asam empedu serta dapat meningkatkan aktivitas reseptor kolesterol LDL.
Flavonoid sebagai inhibitor kompetitif berikatan dengan HMG-CoA reductase yang membuat asam melanovat (senyawa biosintesis kolesterol) tidak akan terbentuk sehingga pembentukan kolesterol dalam hati menjadi terhambat (Sekhon, 2012)
Flavonoid dalam bentuk quersetin memiliki mekanisme yang serupa dengan simvastatin dalam menurunkan kadar Low Density Lipoprotein (LDL) darah pada tikus putih (Sekhon, 2012). Mekanisme kerja senyawa antioksidan tersebut dalam menurunkan kadar kolesterol total dan trigliserida darah bekerja dengan cara meningkatkan aktivitas Lecithin Cholesterol Acyl Taransferase (LCAT). LCAT merupakan enzim yang dapat mengkonversi kolesterol bebas menjadi ester kolesterol yang lebih hidrofobik, sehingga ester kolesterol dapat berikatan dengan partikel inti lipoprotein untuk membentuk HDL baru. Hal ini akan meningkatkan kadar HDL serum (Sekhon, 2012).
2.4 Pengetahuan
Pengetahuan (knowledge) adalah hasil tahu dari manusia, yang sekedar menjawab pertanyaan. Pada dasarnya pengetahuan merupakan hasil tahu dari manusia terhadap sesuatu, atau segala perbuatan dari manusia untuk memahami suatu objek tertentu. Pengetahuan dapat berwujud barang-barang baik lewat indra maupun lewat akal, dapat pula objek yang dipahami oleh manusia berbentuk ideal atau bersangkutan dengan masalah kejiwaan (notoatmodjo, 2010). Menurut Bloom, 1968 (dalam buku notoatmodjo, 2007). Pengetahuan yang tercakup dalam area kognitif ini mempunyai 6 tingkatan, yaitu:
1. Tahu (know)
Tahu dapat diartikan sebagai suatu kemampuan untuk mengingat suatu bahan yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) sesuatu yang bersifat khusus dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh karena itu, tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah.
2. Memahami (comprehension)
Memahami dapat diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benartentang objek yang diketahui dan dapat menjelaskan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus mampu dan dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari.
3. Aplikasi (application)
Aplikasi dapat diartikan sebagai suatau kemampuan untuk melakukan apa yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi pengunaan hukum-hukum,rumus, metode, prinsip, dan sebagiannya dalam konteks dan situasi yang lainnya.
4. Analisis (analysis)
Analisis dapat diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatuobjek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam satu lingkup organisasi, dan masih ada kaitannya dengan satu sama lain.
5. Sintesis (synthesis)
Sintesis dapat diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun fomulasi baru dari formulasiformulasi yang ada.
6. Evaluasi (evaluation)
Evaluasi dapat diartikan sebagai suatau kemampuan untuk melakukan penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian itu dilandaskan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.
2.5 Sikap
Menurut (Azwar, 2007) adalah suatu respon evaluatif. Respon hanya akan timbul apabila individu dihadapkan pada suatu stimulus yang menghendaki adanya reaksi individu.
Menurut (Notoatmodjo, 2007) dalam hal sikap, dapat di bagi dalam berbagai tingkatan, antara lain :
a. Menerima (receiving)
Diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberika (objek).
b. Merespon (responding)
Memberi jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan.
c. Menghargai (valuating)
Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan dengan orang lain terhadap suatu masalah.
d. Bertanggung jawab (responsible)
Atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala risiko.
2. Komponen Sikap
Menurut (Alpert, 1954 dalam Notoatmodjo, 2010) sikap itu terdiri dari 3 komponen pokok yaitu:
a. Kepercayaan atau keyakinan ide, dan konsep terhadap objek. Artinya, bagaimana keyakinan dan pendapat atau pemikiran seseorang terhadap ojek.
b. Kehidupan emosional atau evaluasi orang terhadap objek. Artinya bagaimana penilaian (terkandung di dalamnya faktor emosi) orang tersebut terhadap objek.
c. Kecenderungan untuk bertindak (jend to behave). Artinya sikap adalah merupakan komponen mendahului tindakan atau prilaku terbuka. Sikap adalah ancang-ancang untuk
c. Kecenderungan untuk bertindak (jend to behave). Artinya sikap adalah merupakan komponen mendahului tindakan atau prilaku terbuka. Sikap adalah ancang-ancang untuk