Bab V: Bab ini merupakan kesimpulan dari penelitian ini, yang berisi komentar penulis dalam bentuk analisa kritis, komentar, masukan dan harapan
MATHLA’UL ANWAR DALAM KONSTELASI POLITIK NASIONAL PASCA ORDE BARU
B. Hubungan Mathla’ul Anwar Dengan Partai Politik
Sesuai dengan rencana, tahun 2005 MA melaksanakan Muktamar ke-XVII dan Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) yang ke-89, di Pondok Gede Jakarta, dengan tema ”Revitalisasi Mathla’ul Anwar melalui tiga amal: Konsolidasi organisasi, Pendidikan, Dakwah dan Sosial (ekonomi)”. Muktamar secara resmi dibuka oleh Wakil Presiden RI. H. Muhammad Jusuf Kalla, dan ditutup oleh Ketua DPR RI H. R. Agung Laksono. Pada Muktamar MA ke-XVII, menetapkan
103
Wawancara Pribadi dengan Mohammad Idjen, Menes, 03 Agustus 2010. Selanjutnya lihat. Aas Syatibi, ”Partisipasi Politik Mathla’ul Anwar Di Indonesia,” (Skripsi S1 Fakultas Syari’ah dan Hukum, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2006), h. 59-60
85
M. Irsyad Djuwaeli sebagai Ketua Umum PBMA untuk keempat kalinya periode 2005-2010. Keputusan Muktamar MA ke-XVII, tidak menghasilkan keputusan yang signifikan dan tidak jauh berbeda dengan hasil Muktamar tahun 2001 (ke-XVII) yang memfokuskan gerakannya dalam bidang kultural yang bersifat independent.
Menurut Herman Fauzi,104 terpilihnya kembali M. Irsyad Djuwaeli menjadi ketua umum Pengurus Besar Mathla’ul Anwar (PBMA) adalah: Pertama, proses kaderisasi ditubuh organisasi MA pada kepemimpinan M. Irsyad Djuwaeli selama lima belas tahun tidak berjalan dan cenderung eksklusiv (tertutup), hanya boleh dipegang oleh orang-orang dilingkungan ”Pemerintah dan Golkar”. Kedua, tidak adanya peraturan baik dalam AD/ART maupun Khittah MA (1916) yang menyatakan untuk berapakali periode seorang boleh menjadi Ketua Umum. Ketiga, sosok M. Irsyad Djuwaeli memiliki peran politik yang cukup besar utamanya dalam menyebarkan perkembangan MA di seluruh daerah dan provinsi di Indonesia (lihat Bab III). Selain itu, posisinya yang terhormat dan kharismatik menyebabkan dia mampu untuk mempengaruhi dan menggerakkan aksi atau tanggapan (kritik) emosional warga MA sesuai dengan kepentingannya. Keempat, memiliki kekuatan baik secara finansial maupun jaringan diinternal dan eksternal (pemerintah), sehingga cukup menjadi alasan baginya untuk tidak memberikan peluang bagi orang lain menggantikan posisinya.
Sedangkan menurut Syihabudin,105 sebelumnya sudah ada keinginan dari M. Irsyad Djuwaeli untuk tidak mencalonkan kembali dirinya menjadi Ketua
104
Wawancara Pribadi dengan Herman Fauzi, Menes, 14 Juni 2010 105
Wawancara Pribadi dengan H. A. Shihabudin, Menes, 4 Agustus 2010.
Umum. Pertama, adanya aspirasi dari Pengurus Daerah, Provinsi dan warga MA untuk mencalonkan kembali dirinya sebagai Ketua Umum PBMA periode 2005-2010, yang dinilai oleh beberapa kalangan pada kepemimpinannya cukup berhasil dalam membangun dan mengembangkan organisasi. Kedua, sebagai strategi untuk mencekal atau menghambat calon lain, karena sebagian dari Pengurus Daerah (khusus Banten) MA yang mengkhawatirkan dan keberatan apabila posisi Ketua Umum PBMA di pegang oleh dan dari kandidat lain yang mencalonkan diri seperti AS Panji Gumilang (Ma’had Al-Zaytun), yang memiliki kekuatan yang cukup kuat secara finansial, tetapi pemahaman keagamaan “Islam” dan “kenegaraannya” yang dinilai berbeda dengan mayoritas warga MA sendiri. Kemudian, untuk menghambat lolosnya Panji Gumilang menjadi Ketua Umum adalah melawan M. Irsyad Djuwaeli yang menjabat (icumbent) Ketua Umum PBMA memiliki massa pendukung dan berpengalaman.
Selajutnya, M. Irsyad Djuwaeli selain sebagai Ketua Umum PBMA dan juga di DPP Partai Golkar sebagai Ketua Bidang Kerohanian, mempunyai ambisi yang cukup kuat untuk memperbesar kekuasaan yang puncaknya pada tahun 2006, Irsyad mencalonkan diri menjadi Calon Gubernur dengan menggandeng Mas Achmad Daniri sebagai Wakil Gubernur dari kalangan pengusaha pada Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Provinsi Banten 2006.106
Pencalonan Irsyad dalam Pilgub Banten di 2006 mendapat Rekomendasi DPP Partai Demokrat (PD) dan DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
106
Awalnya Provinsi Banten adalah bagian dari Provinsi Jawa Barat. Sejak 4 Oktober 2000, Banten berdiri sendiri menjadi provinsi. Provinsi Banten terdiri dari empat kabupaten Serang, Tangerang, Pandeglang dan Lebak dan dua kotamadya Tangerang dan Cilegon. Lihat. Aat Royhatudin, ”Keterlibatan Jawara Dalam Pembentukan Provinsi Banten,” (Skripsi S1 Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2004), h. 2
87
Sedangkan Partai Golkar yang justeru sebagai ”kendaraan” politik yang telah mengantarkannya menjadi Anggota DPR RI dalam Pemilu tahun 1992 dan 2004 tidak merestui dan menonaktifkan Irsyad dari DPR RI dari Golkar. Selain itu, keputusan hasil seleksi akhir diinternal Golkar dalam menentukan kandidat Pilgub Banten justeru pilihannya pada Ratu Atut Chosiyah (Plt Gubernur) yang dinilai secara politis lebih kuat baik secara finansial maupun jaringan yang sebelumnya pada 2001 menjabat sebagai Wakil Gubernur pada kepemimpinan Gubernur Djoko Munandar (PPP).
Kemudian, setelah melalui berbagai seleksi dan verifikasi oleh KPUD, akhirnya pada tanggal 3 Oktober 2006 sebagaimana tertuang dalam SK KPU Banten nomor 15/Kep-KPUD/2006, KPUD menetapkan 4 pasang calon untuk Pilgub Banten 2006.107 Pasangan M. Irsyad Djuwaeli- Achmad Daniri, walaupun tidak didukung oleh Partai Golkar dalam momentum Pemilukada 2006, tetapi pada dasarnya ia memiliki basis massa pendukung diakar rumput dari Pengurus Mathla’ul Anwar (MA) Banten yang secara kuantitas paling besar konstituen dan lembaga pendidikannya dibandingkan Daerah dan Provinsi lain sebagai modal kekuatan politiknya.
Selain itu, Irsyad pun membentuk Laskar Muda Banten (LMB) yang dipersiapkan sebagai salah satu mesin politiknya untuk memobilisasi massa ditingkat bawah. Partisipasi politik atau dukungan di internal MA sendiri tidak
107
Susunan Pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Pilgub Banten 2006 dan Partai Pendukung dan Jumlah Kursi di DPRD. (1). Trjana Sam’un-Benyamin (PAN, 4 Kursi-PPP, 8 Kursi). (2) Ratu Atut Chosiyah-Masduki (Partai Golkar, 16 Kursi, PDIP, 10 Kursi, PBR, 5 Kursi, PBB, 3 Kursi, PDS, 2 Kursi, PKPB, 1 Kusi). (3). M. Irsyad Djuwaeli-Achmad Daniri (Partai Demokrat, 9 Kursi, PKB, 5 Kursi). Lihat. Laporan Penelitian “Pemilihan Gubernur-Wakil Gubernur Provinsi Banten Tahun 2006 Regenerasi Sebuah Hegemoni Banten Institut,” artikel diakses pada tanggal 11 September 2010 dari http:// w ww .g oog le .co .id / se ar ch ?hl =id & cli ent=firefox-a&ie=UTF-8&q=laporan+akhir+pil kada+banten. pdf&lr=
bisa terlalu banyak diharapkan dalam memberikan suarannya untuk kemenangan Djuwaeli di Pilgub. Terlebih, Partai Golkar sendiri sudah cukup solid dengan dukungan untuk kemenangan pasangan Atut dan Masduki.
Posisi MA, secara formal tidak terlibat langsung dalam politik praktis terkait dengan pencalonan M. Iryad Djuwaeli di Pilgub Banten. Tetapi secara umum, MA mengalami kondisi sebagaimana yang terjadi dalam organisasi Muhammadiyah dengan melakukan tidak adanya politik pemihakan atau political disengagement dari arus ”mabuk politik dan demokrasi” yang terjadi diseluruh masyarakat di Indonesia.108
Konsekuensi dari political disengagement adalah terjadinya penyebaran atau pemencaran warga MA dalam berbagai partai politik (parpol) baik yang berideologi nasionalis religius Islam (PBB, Partai Politik Islam Masyumi, PUI) maupun nasionalis ”sekuler” (PAN, Golkar, PDI dan lain sebagainya). Sehingga, hasilnya tidak ada satupun parpol yang dapat diidentifikasikan dengan MA (di era Orde Baru MA identik Golkar), maka, dengan adanya penyebaran tersebut, warga MA sebagai sebuah komunitas atau kesatuan tidak dapat memiliki peranan yang sigifikan dalam proses politik untuk kemenangan pencalonan M. Irsyad Djuwael dalam Pilgub Banten.
Karena, penggabungan atau penyatuan para elite MA dalam satu partai partai politik merupakan hal yang tidak strategis dan demokratis, mengingat banyaknya dampak yang diterima oleh organisasi MA. Pertama, partai tersebut akan dicap sebagai partainya orang MA dan di luar MA akan menjaga jarak dan
108
Azyumardi Azra, Reposisi Hubungan Agama dan Negara Merajut Hubungan Antar
89
akhirnya partai tersebut tidak berkembang, karena hanya akan diisi oleh warga MA, dan mereka tidak dapat mengembangkan sayap kepada kelompok lain. Kedua, MA akan terkena imbas ketika beberapa tokoh yang ada di partai politik tersebut bermasalah sehingga akan merugikan MA secara kelembagaan. Ketiga, MA tidak mempunyai akses lagi kepada partai lain, sehingga perkembangan organisasi hanya akan terbatas pada satu partai politik saja.109
Sehingga, kekalahan yang dialami oleh M. Irsyad Djuwaeli dalam Pilgub Banten yang memiliki massa dari organisasi MA (Banten) yang terbesar di Indonesia. Tetapi, dalam kenyataannya mengalami kekalahan, karena MA merupakan organisasi keagamaan yang bergerak dalam bidang kultural yang bersifat independent tidak berafiliasi dengan partai politik maupun salah satu calon di Pilgub sekalipun itu Ketua Umum PBMA.
Secara realitas, MA sebagaimana yang sudah dijelaskan di atas bahwa, hubungan antara MA dan Partai Politik hanya bersifat personal tak langsung dengan organisasi. Namun, Pada kasus-kasus tertentu, terdapat proses dalam tubuh organisasi MA sendiri yang menunjukkan keterlibatan dalam pembentukan dan dukungan partai politik yang dibidani oleh tokoh-tokoh MA. Pada kasus lain, keterlibatan itu bersifat praktis dan hanya melibatkan tokoh-tokoh MA.110
Dari kenyataan sosiologis di atas, hubungan MA dan politik tidaklah tunggal, melainkan menunjukkan pola yang beragam. Pola hubungan antara MA dan politik dapat ditunjukkan dalam tiga varian yaitu pertama, hubungan yang
109
Wawancara Pribadi dengan Mohammad Zen, Ciputat, 17 Mei 2010. 110
Wawancara Pribadi dengan Herman Fauzi, Menes, 14 Juni 2010.
bersifat formal dan langsung; kedua, hubungan yang bersifat personal dan tidak langsung; dan ketiga, hubungan yang lebih netral dan murni.
Dinamika perjalanan MA secara politis dapat diklasifikasikan atas dua orientasi, yaitu orientasi politis struktural dan orientasi politis kultural. Orientasi politis struktural atau politik yang berorientasi kekuasaan dilakukan melalui alat-alat kekuasaan dan mobilisasi massa. Dalam konteks Menes-Banten, keterlibatan MA dalam politik praktis dapat dilihat pada indikator kemenangan beberapa tokoh MA (Eksekutif dan Legislatif) di parpol selain Golkar. Walaupun MA dan parpol tidak memiliki hubungan organisasi. Tetapi, MA bersifat mengayomi partai politik manapun dan menjaga kedekatan dengan partai politik untuk berjuang bersama-sama dalam membangun masyarakat yang bersifat horizontal, yaitu MA melakukan strategi pengembangan amal usaha yang dikembangkan secara merata, dan juga melalui metode dakwah baik formal maupun informal.