Bab V: Bab ini merupakan kesimpulan dari penelitian ini, yang berisi komentar penulis dalam bentuk analisa kritis, komentar, masukan dan harapan
MATHLA’UL ANWAR DALAM KONSTELASI POLITIK NASIONAL PASCA ORDE BARU
A. Realitas Politik Mathla’ul Anwar Pasca Orde Baru
Runtuhnya rezim Orde Baru ditandai dengan mundurnya Presiden Soeharto pada 21 Mei 1998, yang kemudian digantikan B.J. Habibi sebagai Presiden keempat Republik Indonesia (RI), dan selanjutnya digantikan Abdurrahman Wahid yang terpilih sebagai Presiden dalam Sidang Umum Majlis Permusyawaratan Rakyat (SU MPR) tanggal 20 Oktober tahun 1999. Kemudian, proses transisi ke arah demokratisasi yang lebih otentik di Indonesia yang sebelumnya terpenjarakan selama 32 tahun rezim Soeharto.91 Perubahan politik di Indonesia di era reformasi khususnya kebebasan ekspresi politik yang diwujudkan dengan adanya sistem multipartai pada pemilihan umum (pemilu) tahun 1999 langsung, secara luber jurdil (jujur, adil, bebas, dan rahasia).
Selain itu, kekuasaan negara dan ideologi Pancasila di era reformasi tidak lagi menjadi momok yang menakutkan bagi organisasi masyarakat (ormas) dan partai politik yang sebelumnya secara ketat dikontrol oleh Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1985 Pasal 2 tentang organisasi kemasyarakatan berasaskan Pancasila sebagai satu-satunya asas dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Proses hegemoni ideologi Pancasila tidak hanya ditempuh melaui cara-cara legalistik, tetapi juga melalui sistem pendidikan. Penataran P4
91
Azyumardi Azra, Reposisi Hubungan Agama dan Negara Merajut Hubungan Antar
Umat., ed. Idris Thaha (Jakarta: PT Kompas Media Nusantara, Cet: 1, 2002), h. 20
(pendidikan Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) adalah program yang disponsori negara untuk mendidik seluruh lapisan masyarakat memahami ideologi dan interpertasi resmi negara untuk menjamin keseragaman pemahaman Pancasila sebagai ideologi negara.
Organisasi masyarakat (ormas) atau keagamaan merupakan salah satu bentuk pengorganisasian masyarakat sipil yang berlandaskan pada prinsip demokrasi, kemitraan, keswadayaan, dan partisipasi publik. Selain itu, ormas sebagai wadah dalam menyalurkan aspirasi kepedulian, kesadaran sosial dan politik masyarakat. Ormas-ormas nonpolitik memiliki peran penting sebagai penengah dan jembatan untuk kepentingan antara masyarakat pada satu pihak dengan negara pada pihak lain.
Menurut Azyumardi Azra92 dan Bachtiar Effendi93 bahwa organisasi sosial keagamaan di era reformasi seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU), Mathla’ul Anwar (MA), al-Washliyah, Perti, Persis, Nahdlatul Wathan, Darud-Dakwah wal-Irsyad, al-Khairat, Hidayatullah dan lain sebagainya, mengalami penurunan dan kehilangan daya tarik terhadap peranannya dalam merespon masalah-masalah keumatan dan kebangsaan. Jika pada masa Orde Baru, organisasi keagamaan atau kultural dilarang terlibat dalam politik praktis justeru sangat besar kontribusi sosialnya seperti pembangunan madrasah, pesantren, rumah sakit dan bidang-bidang sosial yang lainnya. Selain organisasi keagamaan mengalami penurunan dalam bidang kultural juga terjadinya demoralisasi para elit
92
Azyumardi Azra, “Islam: Politik dan Kultural,” artikel diakses pada 12 Agustus dari http:// www.uinjkt.ac.id/index.php/section-blog/28-artikel/834-islam-politik-dan-kultural-.pdf
93
Bachtiar Effendi, “Tokoh Agama Tak Lagi Didengar,” artikel diakses pada 12 Agustus dari http://www.koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=47286
77
organisasi keagamaan yang terjebak dalam kepentingan politik praktis dalam konstelasi politik Nasional, Daerah maupun Provinsi yang menyebabkan adanya stigmatisasi buruk terhadap eksistensi organisasi keagamaan.
Hal tersebut, sebagaimana yang terjadi secara realitas pada organisasi Mathla’ul Anwar (MA) sebagai salah satu organisasi keagamaan atau kultural (pendidikan, dakwah dan sosial) mengalami penurunan dalam merespon permasalahan keumatan, kebangsaan dan kenegaraan. Terlebih, para elit MA masih menyatakan dukungannya kepada Partai Golkar beberapa bulan setelah lengsernya Soeharto. Karena, proses konsolidasi yang dilakukan oleh organisasi MA terperangkap dalam skenario reformasi semu yang diperankan para elitnya. Dimana adanya proses dualisme antara kepentingan kultural dan politik, karena tidak ada upaya dari para elit MA untuk menarik diri dan menjaga jarak dengan sisa-sisa kekuatan Orde Baru dan Golkar.94
Untuk menjaga independensi organisasi agar tidak terjebak pragmatisme politik, Muktamar MA ke-XVI pada 26-30 Oktober 2001 di Bojolali, Jawa Tengah.95 Organisasi MA menegaskan perjuangannya dalam bidang pendidikan, dakwah dan sosial sebagai fokus gerakannya untuk meningkatkan mutu dan
94
Tahun 1998, MA mengeluarkan statemen moral untuk memaafkan dosa-dosa Soeharto dan menghukum mereka yang menyakitinya, yang ditanda tangani M. Irsyad Djuwaeli dan Usep Fathudin (Golkar). Tahun 1999, sejumlah madrasah MA diberbagai daerah di Banten Selatan seperti Pandeglang, Ujung Jaya, dan cabang Madrasah MA di Indramayu dan Cirebon menghentikan operasinya, akibat ketua umum Irsyad Djuwaeli tidak responsif terhadap aspirasi dana pendamping biaya operasional pendidikan. Tahun 2000-2003 para elit MA mendukung pembentukan Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB). Didin Nurul Rosidin, “Dari Kampung ke Kota, Sebuah Studi Perjalanan Mathla’ul Anwar dari Tahun 1916-1998,” (Disertasi Leiden University: T.pn., 2007), h. 152-156. Selanjutnya lihat. “Tutut, Siapa Capres Yang Bakal Kau Contreng,” artikel diakses pada 13 September 2010 dari http://www.indonesia-monitor.com/main /index.php? option=com_content &task=view&id=1494&Itemid=33
95
Syibli Sarjaya, dkk., Dirosah Islamiyah 1 Sejarah dan Khittah Mathla’ul Anwar (Jakarta: PB Mathla’ul Anwar, 1996), h. 48
kualitas kehidupan bangsa dan negara dengan keputusan “untuk tidak berafiliasi lagi dengan partai politik apapun”, dan menetapkan M. Irsyad Djuwaeli sebagai ketua umum MA untuk ketiga kalinya periode 2001-2005.
Keputusan Muktamar tersebut, secara kelembagaan memberikan kebebasan terhadap pilihan politik dan menumbuhkan optimisme para kader dan warga MA khsususnya di Daerah Menes-Banten dan wilayah lainnya dalam menyalurkan aspirasi politiknya tanpa diskriminasi dari para elit MA (tidak seperti di era Orde Baru). Nilai-nilai keterbukaan dan independensi yang diperjuangkan walaupun tidak seratus persen, merupakan sesuatu yang positif bagi perkembangan dan kemajuan organisasi MA dalam medistribusikan para kader untuk menggunakan “kendaraan” manapun sebagai alat penyalur aspirasi politiknya yang sesuai dengan AD/ART yang menyatakan tidak boleh membawa kepentingan pribadi dan partai politik kedalam organisasi MA, tetapi sebaliknya untuk kepentingan organisasi MA.96
Menurut Ali Nurdin,97 perubahan paradigma organisasi MA di era reformasi selain memberikan peluang organisasi untuk menata dan melakukan instrospeksi diri yang sebelumnya afiliasi para elitnya terpusat di partai Golkar. Pertama, perubahan orientasi politik MA sebelumnya mengalami ekslusivisme politik dan stigmatisasi negatif ketika segala keburukan Orde Baru yang disandarkan pada Golkar berdampak pada MA sendiri. Kedua, menumbuhkan semangat dan memperkuat inklusivisme organisasi, para anggota MA diberikan keleluasan untuk aktif dipartai politik manapun yang sesuai dengan hati
96
Wawancara Pribadi dengan Ketua PBMA KH. Ahmad Sadeli Karim. Menes, 7 Agustus 2010.
97
79
nuraninya, terutama yang memperjuangkan kesejahteraan dan tegaknya keadilan. Ketiga, menjaga eksistensi organisasi yang bergerak dalam bidang kultural.
Namun, menurut Mohammad Zen,98 walaupun organisasi MA menyatakan independen (mandiri tanpa adanya ketergantungan) dan tidak lagi berafiliasi dengan partai politik. Tetapi, secara realitas tidak ditunjukan oleh ketua umum M. Irysad Djuwaeli dan tokoh-tokoh lainnya yang masih mendominasi untuk membawa kepentingan diri dan kelompok (Golkar) di atas kepentingan organisasi MA. Misalnya, seperti yang terjadi pada acara perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) MA ke-87, dan Rapat Kerja Nasional (rakernas) Pengurus Besar Mathla’ul Anwar (PBMA) tanggal 28-30 Mei 2004 di Bandar Lampung.
Kebijakan-kebijakan ketua umum M. Irsyad Djuwaeli yang dinilai terlalu “politis” memaksakan kehendaknya dengan memutuskan dan mendeklarasikan diri (tetapi secara organisasi tidak) secara sepihak membawa organisasi MA untuk menyalurkan aspirasi politiknya yang kemudian menginstruksikan kepada pengurus MA yang ada di daerah dan provinsi untuk menjadi pendukung (tim sukses) pasangan Presiden dan Wakil Presiden H. Wiranto dan Salahuddin Wahid pada pemilihan umum (pemilu) tahun 2004.99 Keputusan tersebut, selain menimbulkan reaksi keras dari para pengurus MA yang berbeda partai maupun non partai yang diakibatkan oleh sikap kepemimpinan M. Irsyad Djuwaeli yang dinilai otoriter dan arogan, bahkan tidak segan-segan melakukan pengusiran
98
Wawancara Pribadi dengan Mohammad Zen, Ciputat, 17 Mei 2010. 99
Kebijakan ketua umum M. Irsyad Djuwaeli selain mengajurkan pilihan politiknya untuk pasangan Wiranto dan Salahuddin Wahid, juga memberikan waktu orasi politik Wiranto pada acara Rekernas dan HUT MA ke-87 di Lampung. Sehingga membuat para peserta kecewa dengan sikap Ketua Umum yang dinilai hanya mementingkan karir politiknya.
peserta atau pengurus didalam forum (acara HUT dan Rakernas MA) bagi mereka yang menolak “syahwat” politiknya.100
Hal tersebut terjadi, selain untuk kepentingan pribadi (M. Irsyad Djuwaeli) dan kelompok, juga karena kuatnya cengkraman elit Golkar yang mempunyai kepentingan untuk menjaga massa yang begitu besar dari MA. Langkah yang dilakukan Golkar adalah mendekati dan mempertahankan beberapa elit di tubuh MA untuk tetap masuk kedalam Partai Golkar. Asumsi yang dipakai adalah dengan istilah “ekor mengikuti kepala” dimana pilihan politik individu warga suatu organisasi keagamaan akan ditentukan atau disinyalir akan sama dengan pilihan politik organisasi atau pemimpinnya. Sehingga asumsi yang dibangun kemudian dapat diterima, khususnya para pemilih (Partai Golkar) yang memiliki kedekatan emosional yang kuat dengan organisasi keagamaan dan pemimpinnya dapat menjaga hubungan yang telah lama dibangun sejak munculnya Orde Baru sampai pasca Orde Baru tetap terpelihara.
Hubungan historis dengan Golkar dan ikatan emosional para elit yang masih ada dalam struktural organisasi MA yang berkiprah di dunia politik menyebabkan konsentrasinya bercabang dua; pendidikan keagamaan dan politik kenegaraan. Tentunya, sebagai sebuah kekuatan politik yang mapan Golkar bukan tidak mungkin menarik dan mempertahankan massa untuk memperkuat posisi para elit organisasi keagamaan di partai Golkar pasca runtuhnya Soeharto.
Kemudian, sistem dalam tubuh MA telah melanggengkan hubungan yang harmonis antara elit MA dengan Partai Golkar. Sehingga menyebabkan para elit
100
Mohammad Zen, ”Diusir dari Sidang Mathla’ul Anwar,” artikel diakses pada 13 September 2010 dari http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2004/06/21/SRT/mbm.20040621 SRT92296.id.html
81
MA non partisan seperti akademisi dan lain sebagainya tidak dapat menembus sistem yang telah terbentuk, hal ini dapat dilihat pada gambar dibawah ini:
Gambar 2.101
Harmonisasi Mathla’ul Anwar dan Partai Golkar
Proses harmonisasi hubungan simbiosis mutualisme antara MA dan Partai Golkar terjadi akibat tidak adanya ketegasan (sanksi) dari organisasi MA untuk merealisasikan peraturan-peraturan (AD/ART) bagi para elit-elit MA yang memiliki kepengurusan ganda, menjadi pengurus MA dan pengurus di partai politik (Golkar). Kondisi tersebut secara tidak langsung telah melegitimasi para elit untuk menjadi pengurus partai politik yang lebih dominan. Sementara garis demarkasi yang terlihat di gambar tidak dapat ditembus oleh para elit non partisan, mengingat akan terjadinya pergeseran ketika elit-elit yang tidak memiliki afiliasi politik tidak dapat menembus garis tersebut yang akan dapat merombak atau merubah sistem yang telah lama terbentuk antara MA dan Partai Golkar.
101
Hardi Putra Wirman, “Menakar Peran Politik Organisasi Sosial Keagamaan di Sumatera Barat Pasca Orde Baru Studi Kasus Muhammadiyah dan Persatuan Tarbiyah Islamiyah, ” artikel diakses pada 10 September 2010 dari http://dualmode.depag.go.id/acis09/file/dokumen/ HardiPutraWirman.pdf
Harmonisasi di tubuh MA dengan Partai Golkar
Elit yang terlibat dalam partai Golkar Elit non partisan terdiri dari para akademisi dan lain sebagainya
…Elit yang masuk dalam Partai Golkar seakan-akan tidak tersentuh oleh elit non partisan, sehingga terjadi harmonisasi di tubuh MA. Elit non partisan dan lainnya tidak dapat menyentuh sistem yang telah dibuat oleh elit partai dan elit pengurus MA. Tidak terjadinya pergeseran yang dilakukan oleh elit masa terhadap elit.
Selain itu, tidak adanya ketegasan dari organisasi MA menyebabkan kondisi tersebut memperkuat legitimasi adanya “proses pembenaran”102 para elit MA untuk tetap aktif di partai politik (Golkar) yang secara tidak langsung adanya stigmatisasi buruk terhadap organisasi MA. Walaupun, aspirasi warga MA yang non partisan menginginkan agar organisasi untuk tetap menjaga independensinya. Namun, kondisi tersebut terkadang berbenturan dengan kuatnya kepentingan politis para elit MA yang menjadi pengurus partai politik, justeru melegitimasi diri dengan menyatakan yang mereka lakukan merupakan bagian dari hak asasi dari individu-individu di organisasi MA.
Meskipun demikian, sikap oposisi dari kaum idealis atau non partisan diberbagai daerah dan provinsi yang menuntut ketua umum M. Irsyad Djuwaeli dan elit-elit MA (Golkar) untuk menghormati dan memberikan keleluasan terhadap pilihan dan aspirasi politik para kader MA yang aktif diberbagai partai politik (selain Golkar) dan organisasi lainnya. Sebagaimana kebebasan dalam menyalurkan aspirasi politik merupakan hasil keputusan Muktamar MA ke-XVI 2001. Kuatnya aspirasi para kader untuk diberikan kebebasan menyalurkan aspirasi politik, maka aspirasi tersebut kemudian akhirnya diberikan oleh para elit MA untuk para kader yang aktif di partai politik dan organisasi lainnya, diberikan keleluasan pilihan politiknya pada putaran kedua pemilu 2004 (untuk putaran pertama warga MA disarankan memilih pasangan H. Wiranto dan Salahuddin Wahid). Selain itu, untuk memberikan kesempatan dan keleluasan warga MA
102
Wawancara Pribadi dengan KH. Wahid Sahari, Mantan Ketua Majlis Fatwa PBMA Menes, 07 Agustus 2010.
83
yang mencalonkan diri di partai politik selain Golkar untuk menjadi wakil rakyat baik ditingkat Legislativ maupun di Eksekutiv.
Kebebasan dan keleluasan untuk menyalurkan aspirasi politik pada akhirnya membuahkan hasil khususnya bagi para kader MA untuk mencalonkan diri di partai manapun. Para kader MA yang mendapat kesempatan duduk di Eksekutiv diantaranya adalah Andung Nitiharja (2004) sebagai Menteri Perindustrian pada kabinet Indonesia Bersatu, sementara kader-kader MA yang duduk di DPR RI adalah ketua umum organisasi Mathla’ul Anwar (MA) yakni M. Irsyad Djuwaeli (2004), Ali Yahya dan Usep Fathuddin menjadi anggota MPR RI (Fraksi Golkar-2004) yang ketiganya dari partai Golkar, Jajuli Juwaeni dari Partai Keadilan Sejahtera (2004-2010). Sedangkan untuk tingkat provinsi Banten dari PKS dan Partai Bulan Bintang (PBB) adalah KH. Sadeli Karim (2004), Mas’a Toyib (2004), Asnin Syafiuddin dan Jaenal Abibin Suja’i (2004), Bueti Nasir, Saris Priada Rahmat dan Babay Sujawandi dari Partai Bintang Reformasi (PBR-2004).
Untuk tingkat Kabupaten Pandeglang dan Serang adalah HM. Acang (2004-2010) dari Partai Golkar dan menjabat sebagai anggota DPRD, Aksan Sukroni dari Partai Amanah Nasional (PAN-2004)), Ace Zaenal Sholihin (PKS-2004), A. Baehaqi (PBB-2004) dan Wahyudin Wahab (PBR-2004). Sedangkan ditingkat Kabupaten Serang terdapat tiga orang kader MA, yaitu H. Daifun dari Partai Persatua Pembangunan (PPP-2004) dan A. Basuni dari PAN, Mohammad
Idjen (2004) anggota DPRD dari Fraksi PPP dan terakhir Ratu Tatu Chasanah (Wakil Bupati Serang periode 2010-2015).103
Realitas orietasi politik MA sebagaimana di atas, mengalami perubahan yang lebih akomodatif dari para elit MA untuk mentoleransi bagi anggota yang non Golkar maupun non partai. Sehingga anggota MA di era reformasi memiliki kebebasan dan keleluasan untuk menyalurkan aspirasi politiknya tidak hanya di satu partai maupun organisasi kemasyarakatn lainnya. Keleluasan dan kebebasan politik pada perkembangannya mendapat banyak keuntungan bagi organisasi MA yang lebih terbuka dan tidak lagi adanya stigmatisasi buruk. Selain itu, adanya kepedulian dari anggota dan warga MA untuk melakukan dan menata kembali kehidupan organisasi yang lebih maju dalam bidang kultural. Sehingga, beberapa anggota MA yang duduk dalam pemerintahan dapat membantu masalah pendanaan (sumbangan anggota) dan memperluas jaringan organisasi untuk meningkatkan kesejahteraan anggota dan pembangunan masyarakat.