Bab V: Bab ini merupakan kesimpulan dari penelitian ini, yang berisi komentar penulis dalam bentuk analisa kritis, komentar, masukan dan harapan
MATHLA’UL ANWAR DALAM KONSTELASI POLITIK NASIONAL PASCA ORDE BARU
C. Partisipasi Mathla’ul Anwar Dalam Politik Pasca Orde Baru
Tahun 2010, MA melaksanakan Muktamar ke-XVIII dan Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-94 yang diselenggarakan pada tanggal 16-19 Juli di Hotel Sol Elite Marbela Anyer Serang-Banten yang dibuka langsung oleh Menteri Agama RI Suryadarma Ali, dengan tema "Reposisi Peran Mathla’ul Anwar dalam Pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia yang Unggul dan Berakhlakul Karimah," dengan tema tersebut diharapkan akan dapat melahirkan generasi-generasi muda yang kritis dan progresif yang mampu menjadi generasi muda MA sebagai mercusuar yang menerangi kehidupan bangsa dan negara.
91
Selain itu, Muktamar MA ke-XVIII merupakan momentum untuk melakukan penataan organisasi melalui pergantian Ketua Umum Pengurus Besar Mathla’ul Anwar (PBMA) untuk periode 2010-2015, dan melakukan konsolidasi antar pengurus dan ajang Silaturrahim Keluarga Besar MA dari 26 Pengurus Wilayah Provinsi, Kabupaten dan Kota se-Indonesia.111
Pada Muktamar ke-XVIII, menetapkan KH. Ahmad Sadeli Karim sebagai Ketua Umum PBMA periode 2010-2015, Muktamar MA menghasilkan beberapa keputusan yang cukup signifikan, utamanya dalam melakukan perubahan-perubahan yang tepat untuk menancapkan tonggak sejarah yang akan menentukan masa depan MA kembali menjadi ormas keagamaan yang sesungguhnya yang bermartabat dan kuat (solid). Pertama, MA menegaskan kembali sebagai organisasi keagamaan (kultural) yang independent dan tidak menjadi underbouw (antek) Partai Politik dan organisasi manapun. Kedua, menjalin dan membangun jaringan (network) dengan ormas-ormas keagamaan lainya seperti NU, Muhammadiyah dan lain sebagainya sebagai upaya untuk memperkenalkan dan menyebarkan MA di Daerah dan Provinsi yang belum ada baik pengurus cabang maupun lembaga pendidikan Mathla’ul Anwar seperti di Papua Barat, Gorontalo dan Bali. Ketiga, melarang Ketua Umum PBMA merangkap dua jabatan baik di Partai Politik Maupun organisasi lainnya. Keempat, membatasi masa jabatan Ketua Umum PBMA paling banyak 2 (dua) periode setelah terpilih.Kelima,
111
"Muktamar Mathla’ul Anwar Jadi Momentum," Radar Bamten, 18 Juli 2010 81
meningkatkan gerakannya dalam pembangunan pendidikan atau madrasah Mathla’ul Anwar yang berorientasi ke kota tidak hanya dipedesaan.112
Kemudian, independensi MA ditegaskan pula oleh M. Irsyad Djuwaeli113 bahwa, MA pasca Muktamar (2010) dan kepemimpinannya selama 20 tahun menjadi Ketua Umum PBMA, melarang Ketua Umum PBMA kedepan adanya dualisme antara kepentingan politik dan kultural, sedangkan untuk para anggota dan pengurus MA tidak ada sanksi (larangan) aktif di partai politik dan organisasi lainnya, dengan catatan tidak diperbolehkan membawa kepentingan pribadi dan kelompok kedalam organisasi MA (tidak seperti pada era kepemimpinan M. Irsyad Djuwaeli).
Sejarah perjalanan MA dengan segala bentuk kemajuan dan kemundurannya, seringkali MA disuguhi "dramatisasi" elit politik dengan berbagai manuvernya bukan untuk memperjuangkan rakyat, terutama bagi kaum marginal, melainkan hanya mengikuti syahwat politiknya, yaitu kepentingan pragmatis-ekonomis kekuasaan. Hal tersebut yang telah melahirkan rasa skeptisisme dan rasa apriori bagi sebagian kalangan dimasyarakat terhadap kinerja para politisi, sebagaimana terlihat dengan adanya fenomena penurunan tingkat
112
Peraturan untuk calon Ketua Umum PBMA periode 2010-2015 tidak merangkap jabatan. Seperti, posisi Ahmad Sadeli Karim sebelum menjadi Ketua Umum PBMA adalah Ketua Majlis Pengurus Wilayah (MPW) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di Banten. Kemudian, untuk mentaati aturan, akhirnya Sadeli membuat pernyatan pengunduran diri dari jabatan MPW Partai PKS baik secara tertulis maupun lisan. Wawancara Pribadi dengan Ketua Umum PBMA KH. Ahmad Sadeli Karim, Menes, 07 Agustus 2010. Selanjutnya Lihat. ”Mathla’ul Anwar Tidak Menjadi Bagian Partai Politik,” artikel diakses pada 08 Agustus 2010 dari http:// banten. antara news.com/berita/13395/mathlaul-anwar-tidak-menjadi-bagian-partai-politik
113
Jaenal Abidin, ”Irsyad Siap Berhenti Pimpin MA,” artikel diakses pada 08 Agustus 2010 dari http://mediabanten.com/berita-517-irsyad-siap-berhenti-pimpin-ma.html
93
partisipasi masyarakat (khususnya MA) terhadap proses demokratisasi demi kemajuan bangsa Indonesia.114
Bagaimanapun, dewasa ini tidak dapat di pungkiri bahwa peran tokoh atau elit keagamaan (ulama, intelektual, cendikiawan) dalam sebuah organisasi keagamaan sangat membantu dalam menentukan pilihan politik konstituen seperti dalam Pemilu dan lain sebagainya. Karena, seorang tokoh tersebut menjadi panutan banyak orang atau minimal di puja karena ide-idenya dengan modal kharisma dan kekuasaan yang dimiliki.115 Maka tak heran apabila banyak partai politik yang memperebutkan dan mendekatinya dengan harapan memperoleh suara dari para konstituen yang memiliki hubungan emosional dengan para elit organisasi tersebut.
Suryadharma Ali (Menteri Agama RI) dalam sambutan pembukaan Muktamar Mathla’ul Anwar ke-XVIII dan HUT MA ke-94 di Anyer Serang-Banten mengatakan bahwa, keberhasilan para ulama (intelektual, cendikiawan) pada masa terdahulu, telah mampu memberikan kontribusi riil (nyata) kepada bangsa, negara dan umat baik dalam bidang pendidikan, dakwah dan pemberdayaan masyarakat (sosial) tanpa mengharapkan imbalan atau pamrih. Karena, keberhasilan para ulama tersebut bukan karena memiliki kekayaan harta atau melimpahnya dana yang dimiliki, tetapi kesuksesannya adalah oleh jiwa semangat idealisme dan keikhlasan dalam melakukan sesuatu. Bagaimanapun,
114
M. Irsyad Djuwaeli, Laporan Pertanggung Jawaban Pengurus Besar Mathla’ul
Anwar Periode 2005-2010, Makalah disampaikan pada Acara Muktamar MA ke-XVIII dan HUT
MA ke-94 di Anyer-Serang Banten, 16-19 Juli 2010, h. 1 115
Haniah Hanafi, ”Transformasi Peran Ulama Dalam Pergerakan Politik,” Refleksi
Jurnal Kajian Agama dan Filsafat Vol. VIII, No. 1, 2006 (Jakarta: Fakultas Ushuluddin dan
Filsafat Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2006), h. 49
spirit keikhlasan dan tak kenal lelah itulah yang menjadikan ulama atau elit keagamaan memiliki peran strategis di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang mesti diteladani dan dibangun oleh MA dewasa ini.116
Realitas yang ada menunjukan, umumnya ormas-ormas (keagamaan) di Indonesia disinyalir telah dimanfaatkan untuk mengakomodasi kepentingan politik para elit ormas. Kepatuhan dan ketaatan terhadap Anggaran Dasar dan Rumah Tangga (AD/ART) sebagai pondasi organisasi sudah tidak ditaati dan digubris oleh para elit ormas tersebut. Oleh karena itu, MA pada momentum Muktamar (2010) ini, diharapkan dapat kembali pada tujuan (Khittah) utamanya ketika pertama kali didirikannya (1916), MA harus kembali berfungsi sebagai pembangun keummatan, kenegaraan dan kebangsaan serta menjadi pengawal moral yang berdiri sendiri secara netral di atas semua golongan.117 Sedangkan peran politik MA yang dapat diambil dan dimainkan tanpa harus terperangkap dalam pergulatan politik praktis, yaitu ; MA dapat mengambil posisi sebagai kekuatan politik atau “kekuatan moral” yang memainkan fungsi selaku kelompok kepentingan atau sebagai kelompok penekan yang efektif yang berusaha mempengaruhi kebijakan negara atau pemerintah (Pusat dan Daerah) tanpa harus memperoleh jabatan-jabatan politik.
Sebagaimana yang ungkapan Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum Ad-Din (1933) yang dikutip oleh Ali Rahmena bahwa, dekatnya ulama (intelektual, cendikiawan) atau para elit kegamaan terhadap kekuasaan atau pemerintah, akan menghilangkan daya kontrol ulama terhadap penguasa. Sehingga, hilangnya daya kontrol ulama
116
“Spirit Ulama Harus Dihidupkan,” Radar Banten, 18 Juli 2010, h. 1. 117
Iin Solihin, “Jelang Muktamar ke-18 Mathla’ul Anwar Kembali ke Khittah 1916,”
95
terhadap penguasa menyebabkan terjadinya demoralisasi terhadap ulama atau elit keagamaan yang dapat merusak moral pemerintah atau penguasa yang berdampak buruk bagi masyarakat, hal tersebut sebagaimana dewasa ini terjadi di Indonesia dengan adanya budaya Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN).118
Dari komitmen ini, sebagaimana dijelaskan di atas bahwa partisipasi politik Mathla’ul Anwar pasca Muktamar 2010 dalam konstelasi politik baik ditingkat Nasional, Provinsi maupun Daerah, secara kelembagaan bersifat independent dan di atas semua golongan. Walaupun keterlibatan tokoh-tokoh MA dalam politik praktis merupakan bukan hal yang baru, karena memang sudah dijalani oleh tokoh-tokoh MA sejak awal berdirinya organisasi, seperti yang dilakukan oleh KH. Entol Yasin, KH, Mas Abdurahman (1916-1920), KH. Uwes Abu Bakar, KH. Nafsirin Hadi (1945-1970), M. Irsyad Djuwaeli (1980-2009) dan tokoh lainnya.
Dewasa ini, beberapa tokoh MA (kecuali Ketua Umum PBMA) yang masuk dalam partai politik dilandasi oleh beberapa pemikiran. Pertama, karena mereka ingin menjadikan politik sebagai areal atau media dakwah yang mampu membawa perubahan bagi partai yang mereka masuki. Kedua, mereka melihat bahwa partai tersebut mampu mengembangkan potensi dan naluri politik yang mereka miliki. Ketiga, masuk dalam partai politik adalah upaya untuk memperoleh kekuasaan dan untuk memengaruhi kebijakan-kebijakan pemerintah, sehingga menghasilkan pemerintahan yang kuat dan dapat mensejahterakan masyarakat.
118
Ali Rahmena, Para Perintis Zaman Baru Islam (Bandung: Mizan, Cet: II, 1996), h. 11 85
Secara personal orang-orang MA dituntut memainkan peran-peran politik itu secara efektif dan produktif dan jangan sampai melakukan uzlah (keluar dari komunitas) politik. Karena politik hendaknya dipandang secara positif dan dijadikan media dakwah yang dimainkan secara beradab dan bermoral untuk pencerahan umat, bangsa, dan dunia kemanusiaan secara universal
Sedangkan secara institutional, MA dituntut untuk merevitalisasi peran politik sebagai kelompok kepentingan yang memainkan berbagai macam fungsi politik tanpa harus terperangkap pada permainan riel politik atau politik praktis. Pertama, mengenai politik dalam konteks ajaran Islam sebagai ajaran yang menyeluruh yang menyangkut aspek aqidah, ibadah, akhlak, dan mu’amalat dunyawiyah. Politik sebagaimana aspek-aspek kehidupan lainnya termasuk ke dalam bagian dari ibadah dalam artian umum atau merupakan wilayah dari mu’amalah, yang harus dijamah dan dikelola oleh MA sebagai bagian tedak terpisahkan dari misi membentuk masyarakat utama dan mengemban pesan rahmatan lil ‘alamin.
Kedua, politik sebagai bagian penting dari kehidupan dan merupakan instrument dakwah. Bahwa politik sebagai bagian dari al-amr ad-dunya (urusan dunia) merupakan komponen kehidupan yang penting dan strategis sebagaimana bidang kehidupan lainnya, yang tidak kotor, hina dan jahat sebagaimana kesan umum dalam pandangan yang negative tentang politik. Politik itu dapat menjadi baik, mulia dan bersih manakala dibingkai oleh moral dan diperankan oleh orang-orang yang juga bermoral sehingga melahirkan politik yang berkeadaban.
97
Ketiga, masalah implikasi dari sikap negative terhadap politik, selain bertentangan dengan pandangan dasar keagamaan MA sebagai pembangun atau pengawal moral keumatan, kebangsaan dan kenegaraan. Tentunya, partisipasi politik MA akan berpengaruh dan bermanfaat untuk mempengaruhi suatu kebijakan pemerintah baik Pusat maupun Daerah. Karena, hal tersebut jika tdak dilakukan selain bertentangan dengan hakikat MA sendiri sebagai pengawal moral, juga berdampak terjadi marginalisasi bagi organisasi MA dari dunia kultural maupun struktural yang pada akhirnya tidak mustahil MA sendiri akan menjadi korban politik kekuatan-kekuatan lain.
Keempat, menyangkut tuntutan dan pertanggungjawaban atas moralitas politik. Bahwa jika kekuatan-kekuatan sosial-keagamaan yang memiliki misi luhur dan didukung massa yang besar seperti MA tidak mengambil bagian dalam proses politik nasional secara aktif, maka dunia politik pada khususnya dan nasib bangsa pada umumnya akan merasa rugi karena tidak memperoleh sentuhan moralitas nilai-nilai keagamaan yang dibawa oleh gerakan-gerakan keagamaan seperti MA.
D. Masa Depan Mathla’ul Anwar, Antara Peluang dan Tantangan 1. Peluang
Sebagai organisasi keagamaan yang bergerak dalam bidang pendidikan, dakwah dan sosial (ekonomi), MA telah melewati masa-masa perjuangannya yang cukup panjang. Kini diusianya yang ke- 94 tahun, MA berjuang dan berkhidmat kepada masyarakat dengan senantiasa menebar cahaya, berupaya secara terus
menerus dan konsisten merubah kondisi masyarakat yang diliputi kebodohan dan keterbelakangan menjadi masyarakat maju dan cerdas yang bertakwa kepada Allah SWT.
Ormas keagamaan baik secara teoritis-normatif maupun historis-empirik, menempati posisi strategis dalam melakukan pemberdayaan kultural dan politik masyarakat. Secara historis, posisi yang pernah dimainkan memiliki effektivitas melebihi peran dan posisi yang dimainkan oleh organisasi politik formal (Partai Politik). Karena itu, organisasi politik formal sulit memperlihatkan konsistensi pada suatu prinsip, antara lain karena strategi politik yang dilatari oleh kepentingan-kepentingan politik yang terkesan pragmatis.
Kekuatan-kekuatan kultural yang dimiliki oleh ormas keagamaan pada era reformasi, tetap menawarkan peluang yang besar untuk memainkan peran penting dalam melakukan pemberdayaan kultural dan politik masyarakat. Sekalipun ormas keagamaan memiliki ketangguhan kultural, ini tidak berarti bahwa hanya mampu bermain diseputar lingkar wilayah kultural, karena wibawa serta potensi kultural yang dimilikinya tetapi diperhitungkan oleh kekuatan-kekuatan struktural (pemerintah). Sehingga dengan demikian Ormas keagamaan memiliki kekuatan dan potensi untuk melakukannya dengan pendekatan kultural maupun struktural sekaligus. Dengan demikian, peran ormas keagamaan selain memperluas perannya dalam proses menciptakan kesejahteraan keumatan, kenegaraan dan kebangsaan, juga akan memperkuat organisasi untuk lebih maju dan dituntut untuk mererspon setiap permasalan-permasalahan kekinian.
99
2. Tantangan
MA sebagai organisasi keagamaan terbesar di Banten dan terbesar ketiga di Indonesia setelah NU (1926) dan Muhammadiyah (1912). Tetapi, MA merupakan salah satu organisasi keagamaan yang kurang dikenal baik dikalangan akademisi maupun dikalangan masyarakat muslim umumnya. Menurut Ali Nurdin,119 ada tiga alasan yang menyebabkan MA kurang dikenal. Pertama, MA sejak awal pendiriannya (1916) hingga dewasa ini memfokuskan gerakan-gerakanya (kultural) di wilayah pedesaan atau pinggiran. Kedua, akibat kurangnya perhatian publik (media cetak dan elekronik). Ketiga, kontribusi MA dalam politik mempunyai pengaruh yang relatif kecil.
Hal senada juga diungakapkan oleh Herman Fauzi,120 selain MA masih orientasinya ke pedesaan, akibatnya tak jarang warga MA tidak mendapatkan informasi. Pertama, MA kedepan dalam gerakannya harus berorientasi kota, karena akses untuk mendapatkannya berada diwilayah perkotaan. Sehingga hal ini tentunya turut memandekan dunia pendidikan yang merupakan unsur penting dalam membangun sebuah peradaban besar. Kedua, MA saat ini mengalami degradasi menyangkut persoalan ideologi yang tidak pernah dievaluasi dalam konteks hubungan sosial, tetapi MA lebih fokus kepada soal-soal fiqiyah. Ketiga, pada kepemimpinan Ketua Umum. Irsyad Djuwaeli selama 20 tahun telah menghilangkan independensi MA yang terkooptasi untuk kepentingan politik praktis dan untuk kepentingan pribadi. Sehingga, menyebabkan warga MA kehilangan sebagian hasrat warga MA untuk membangun dan bergabung dengan
119
Wawancara Pribadi dengan Ali Nurdin. 120
Wawancara Pribadi dengan Herman Fauzi.
MA lagi. Keempat. rendahnya aksebilitas terhadap pemerintah baik Pemerintah Daerah maupun Pusat untuk menjalin kerja sama dalam program pemberdayaan masyarakat secara luas. Kelima, tidak adanya kesinambungan komunikasi antara pengurus ditingkat Pusat (PBMA), Daerah, Provinsi dan konstituen sebagai sarana untuk memperkuat institution building. Maka dari itu, sudah selayaknya organisasi MA meninjau kembali untuk meningkatkan kiprahnya disegala aspek.
101
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
Mathla’ul Anwar (MA) sebagai salah satu organisasi keagamaan yang bergerak dalam bidang kultural (pendidikan, dakwah dan sosial) memiliki posisi yang strategis dan khas dibandingkan dengan organisasi lain umumnya. Pertama,
bahwa secara khusus ormas keagamaan dibentuk bukan untuk mencari keuntungan apalagi yang bersifat material financial. Kedua, organisasi sosial keagamaan berada di luar wilayah organisasi pemerintah dan nonpolitik. Ketiga, bahwa dalam gerakan atau kegiatannya lebih memusatkan sasarannya pada kepentingan untuk kemajuan keumatan, kebangsaan dan kenegaraan.
Secara umum, peran ormas keagamaan dalam pemberdayaan terdapat berbagai permasalahan yang dihadapi masyarakat muslim di Indonesia. Pertama, ormas keagamaan telah memberikan solusi terhadap berbagai permasalahan yang dihadapi masyarakat muslim. Kedua, sebagai media atau menjadi “kendaraan” untuk memobilisasi sosial untuk melakukan identifikasi keagamaan dimana umar Islam menegaskan kerjasama sosialnya dan pandangan keagamaanya. Ketiga, ormas keagamaan memberikan rasa aman untuk pelarian politik dan kelompok solidaritas diluar etalase politik. Keempat, ormas keagamaan membentuk makna yang efektif untuk mengekspresikan ide-ide dan pilihan politik mereka. Kelima, melalui struktur organisasi yang ekstensif, network, dan hiraki mereka memberikan pelayanan sebagai sarana latihan kepemimpinan dan untuk
melahirkan pemimpin-pemimpin muslim yang siap menghadapi tantangan jaman.121
Maka, keterlibatan organisasi keagamaan dalam bidang politik praktis yang diperankan baik secara organisasi maupun oleh para elit keagamaan (ormas) selain telah menyalahi atau mengkhianati Khittah dan AD/ART sebagai pondasi dari visi dan misi didirikannya organisasi keagaman untuk menciptakan kesejahteraan dan mencerdaskan masyarakat secara umum yang bersifat independent yang berdiri diatas semua golongan. Secara umum, tujuan yang ingin dicapai oleh organisasi keagamaan adalah untuk mencapai tujuan yang bersifat makro yang meliputi: faktor ekonomi, politik, hukum, budaya, ekologi (lingkungan) dan faktor Sosial.
B. Saran-Saran
Dalam penghujung tulisan ini penulis ingin menyampaikan beberapa buah saran, yaitu:
Pertama, MA sebagai organisasi keagamaan kultural terbesar di Banten dan ketiga di Indonesia setelah NU dan Muhammadiyah. Secara kuantitas tidak dikenal oleh masyarakat secara umum, MA dimasa depan tidak hanya memfokuskan gerakannya diwilayah pedesaan atau pinggiran, tetapi juga harus diperkotaan untuk mendapatkan dan meningkatkan akses atau jaringan serta segala informasi.
121
Didin Nurul Rosidin, “Dari Kampung ke Kota, Sebuah Studi Perjalanan Mathla’ul Anwar dari Tahun 1916-1998,” (Disertasi Leiden University: T.pn., 2007), h.3-4
103
Kedua, MA dimasa depan tidak hanya bergerak dalam bidang kultural dan juga sekaligus peran struktural yang terorganisir. Peran struktural, sebagai strategi untuk berpartisipasi dalam setiap proses pengambilan kebijakan-kebijakan untuk menjadi trend maker (penentu kecenderungan) dalam merespon terhadap permasalahan keumatan, kenegaraan dan kebangsaan
Ketiga, MA harus lebih meningkatkan komunikasi antar Pengurus Pusat (PBMA), Daerah, Provinsi dan konstituen untuk memperkuat institution building. Selain itu, MA sebagai organisasi nasional, diawal pendiriannya hingga dewasa ini, adanya primodialisme atau dominasi dari masyarakat Banten dalam perebutan jabatan atau kursi baik posisi Ketua Umum PBMA, Dewan Pengurus Pusat dan Dewan Majlis Fatwa. kedepan, MA seharus dapat mengayomi dan mengedepankan integritas dan kapasitas seorang pigur atau ketokohan dari berbagai latar belakang kedaerahan dan kesukuan.
Kelima, MA harus meningkatkan kualitas pendidikan (madrasah), dakwah dan sosial (ekonomi) untuk mencetak generasi muda MA yang sesuai dengan Imtak (iman dan takwa) dan iptek (informasi dan teknologi).
Demikian penutup dari skripsi ini. Semoga dapat memberikan manfaat. Amien