• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IX PEREKONOMIAN KABUPATEN

9.5. Hubungan Modal Sosial Dan Perubahan Kelembagaan

Kewirausahaan Di Perbatasan Kabupaten Timor Tengah Utara Dan Distric Enclave Oekusi

Modal sosial dan perubahan kelembagaan serta faktor kewirausahaan berpengaruh signifikan terhadap perdagangan lintas batas di kawasan perbatasan. Positifnya hubungan tersebut menunjukkan bahwa faktor kepercayaan masyarakat yang lahir dari kekerabatan telah menciptakan relasi bisnis dan hubungan sosial lainnya. Kaitan dengan perdagangan lintas batas,

dan hanya diperbolehkan untuk pedagang kecil. Pendekatan yang antar masyarakat dalam berinteraksi. Jaringan informasi kian meluas dan sempurna antar masyarakat karena kontinyutas masyarakat untuk mencari informasi berkaitan dengan kebutuhan ekonomi. Media komunikasi masyarakat perbatasan dibangun melalui kegiatan sosial kemasyarakatan, seperti upacara adat, perkawinan, kenduri kematian, kegiatan keagamaan, dan media telepon seluler.

Desakan kekuatan modal sosial masyarakat tersebut kemudian menciptakan transformasi kelembagaan masyarakat yang berasal dari internal masyarakat ataupun dari pemerintah.

Perilaku dan pola interaksi masyarakat mengalami kebaharuan yang lama tumbuh sebagai budaya. Sebagian masyarakat memilih untuk menomor duakan mata pencaharian dan beralih menjadi wirausahawan. Pola interaksi juga mengalami transformasi secara alamiah. Orientasi masyarakat mengalami transformasi alamiah dari masyarakat dikenal dengan semangat sosial tinggi berubah pada orientasi bisnis.

Menindaklanjuti upaya meningkatkan interaksi masyarakat kedua negara dalam bidang ekonomi khususnya masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah perbatasan, dibangun kesepakatan pelintas batas tradisional dan pengaturan pasar bersama (Arragement between the government of the Republic of Indonesia and the government of the Democratic Republic of Timor Leste on traditional border Crossing and regulated markets) di jakarta pada 13 juni 2003 oleh pemerintah kedua negara.

Sejalan dengan penelitian Titeca et al (2012), yang melakukan penelitian perdagangan lintas bantas antara negara- negara afrika yaitu Rwanda, Uganda, dan Burundi menemukan bahwa aktifitas bisnis di perbatasan dominan perdagangan secara informal. Negara melegalkan praktek perdagangan diperbatasan

tingginya permintaan akan kebutuhan pokok dan kebutuhan dilakukan pemerintah adalah, pedagang kecil tersebut tidak didaftar sebagai eksportir pada lembaga terkait dalam pemerintahan dan tidak membayar pajak penghasilan, namun diperkenankan hanya untuk membayar iuran keluar masuknya barang sesuai dengan aturan yang terdokumentasi. Tujuan pemerintah melegalkan pengusaha kecil karena asumsinya bahwa kegiatan perdagangan informal tersebut hanya sebatas untuk memenuhi kebutuhan dasar dan meningkatkan kesejahteraan mereka.

Menurut Todaro (2012), terdapat dua keuntungan besar dari perdagangan bebas; pertama, perdagangan memungkinkan negara melepaskan diri dari keterkurungan kemampuan menyediakan sumber daya dan mengkonsumsikan komoditi dalam kombinasi-kombinasi yang di luar batas kemampuan produksinya. Implikasi kedua adalah bahwa perdagangan bebas akan memperbesar output global dengan spesialisasi produksi yang memberikan keunggulan komparatif.

Latar belakang terjadinya perdagagangan lintas batas kabupaten Timor Tengah Utara dan distric enclave Oekusi berawal dari faktor kedekatan emosional masyarakat sebagai saudara dekat untuk saling membantu. Faktor ikutan selain itu faktor tersebut karena distric enclave Oekusi merupakan daerah enclave yang berada di tengah kepungan wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kabupaten Timor Tengah Utara merupakan pintu utama keluar masuk distric enclave Oekusi dari Dili sebagai ibu kota negara Timor Leste (Gambar 1.1. peta pulau timor).

Transformasi permanen atau perubahan kondisi dalam menciptakan keseimbangan baru dalam masyarak perbatasan ditandai dengan adanya pergeran pola hidup. Masyarakat sekitar wilayah perbatasan mayoritas berprofesi sebagai petani. Gejolak

lainnya di perbatasan kemudian secara spontan mengajak masyarakat beranjak menekuni profesi baru sebagai pelaku bisnis keliling sepanjang garis perbatasan atau pada setiap pasar perbatasan. Transformasi tersebut juga berdampak pada pola interaksi. Masyarakat yang masih memiliki hubungan kekerabatan dalam menjalin hubungan sebagai saudara juga mengalami pergeseran.

Orientasi masyarakat kini mengalami pergeseran, interaksi masyarakat tidak sebatas pada kegiatan adat istiadat namun pada kegiatan bisnis. Transformasi permanen atau disebut sebagai perubahan kelembagaan didukung dengan adanya pergeseran aturan. Paspor dan visa sebagai syarat legal seseorang memasuki wilayah yang berbeda negara dikonversi dengan Pas Lintas Batas khusus masyarakat di sepanjang perbatasan. Demikian juga berkaitan dengan ijin pengiriman barang dan jasa ke Timor leste, pemerintah mengeluarkan kebijakan berupa dokumen Pas Lintas Batas Barang.

Dalam Undang-Undang Nomor 6 tahun 2011 Pasal 29 tentang Keimigrasian di dalamnya menjelaskan bahwa Pas Lintas Batas adalah surat perjalanan laksana paspor yang dikeluarkan oleh pihak imigrasi bagi warga negara Indonesia yang berdomisili di wilayah perbatasan negara Republik Indonesia dengan negara lain sesuai dengan perjanjian lintas batas. Sebagaimana tertuang dalam perjanjian antara pemerintah Indonesia dan Timor Leste yang menjadi dasar dalam penggunanan Pas Lintas Batas adalah Border Trade Agreement (BTA) menjelaskan bahwa Pas Lintas Batas berfungsi sebagai pengganti paspor dan memberikan kemudahan kepada masyarakat perbatasan ketika melakukan perdagangan antara kedua negara. Pemegang Pas Lintas Batas diizinkan untuk melakukan kegiatan yang bersifat kunjungan kekeluargaan, kegiatan sosial budaya dan kegiatan sosial lainnya.

Terjalinnya hubungan yang baik menjadikan kebijakan Pas Lintas Batas cukup efektif dalam memecahkan permasalahan sarana lintas batas yang menghubungkan kedua wilayah.

Sekalipun kebijakan Pas Lintas Batas memberikan nilai manfaat sebagaimana pertimbangan pemerintah namun kebijakan tersebut juga berdampak negatif terhadap kehidupan masyarakat perbatasan. Dampak negatif tersebut timbul akibat adanya usaha memanfaatkan peluang yang timbul dari kebijakan Pas Lintas Batas untuk kepentingan diri sendiri dengan melakukan praktek perdagangan ilegal (black market), mobilisasi tenaga kerja ilegal dan lain sebagainya.

Modal sosial dan perubahan kelembagaan mendorong masyarakat untuk berwirausaha di perbatasan dengan aneka pilihan. Sebagian besar masyarakat yang beralih profesi sebagai wirausaha dengan aneka pilihan sebagai pedagang keliling pasar lintas batas dan pedagang keliling sepanjang garis perbatasan, sebagai agen money changer. Sebagian lagi masyarakat memilih membuka usaha menetap seperti kios/toko, kuliner dan lain sebaginya. Menurut Alma (2011), kewirausahaan di pandang sebagai moment seseorang mampu mengeksploitasi aneka peluang yang muncul di pasar. Dijelaskan lebih lanjut bahwa, proses kewirausahaan diawali oleh inovasi yang dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal misalnya Locus of Control, toleransi nilai-nilai, pendidikan, pengalaman, sedangkan faktor eksternal berupa peran, aktivitas, peluang, dan keluarga.

Kaitan dengan transformasi pilihan, sebagian masyarakat diperbatasan memiliki jiwa kewirausahaan untuk berbisins dengan memanfaatkan peluang merupakan kemampuan kreatif dan inovatif yang dijadikan dasar, kiat, siasat, proses untuk mencapai peluang menuju sukses. Drucker (1984) mengatakan

bahwa inti dari kewirausahaan adalah; pertama, kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda melalui pemikiran kreatif dan tindakan inovatif demi terciptanya peluang (bring creative opportunities). Kedua, peluang akan memunculkan tindakan kreatif bernilai ekonomis dengan memanfaatkan kesempatan (bring up creative opportunities).

Dari pembahasan diatas dapat dikatakan bahwa modal sosial merupakan kekuatan yang dimiliki masyarakat dalam meningkatkan efesiensi dan relasi antar masyarakat yang terkoordinir melalui norma. Bersamaan dengan perubahan kelembagaan yang menciptakan transformasi dalam menciptakan keseimbangan baru melalui pola perilaku, pola interaksi dan regulasi. Dimensi tersebut menyebabkan kreasi baru masyarakat untuk meningkatkan pendapatan melalui kegiatan usaha perdagangan lintas batas dengan memanfaatkan peluang dan kesempatan.

9.6. Faktor Modal Sosial, Perubahan Kelembagaan dan