• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V KEPERCAYAAN MASYARAKAT TERHADAP

5.1. Pengertian Modal Sosial

Menurut Meyerson (1994), modal sosial merupakan sumber kekuatan yang dihasilkan oleh manusia dalam kehidupan bermasyarakat. Di dalam masyarakat sendiri tersimpan sejumlah potensi dan kekuatan yang bila didayagunakan secara baik akan memberikan kontribusi positif terhadap pembangunan. Modal sosial menurut Collier (1998), adalah kumpulan dari hubungan yang aktif di antara manusia; rasa percaya, saling pengertian dan kesamaan nilai dan perilaku yang mengikat anggota dalam sebuah jaringan kerja dan komunitas yang memungkinkan adanya kerjasama.

Fukuyama (1995), mengatakan bahwa modal sosial adalah serangkaian nilai-nilai atau norma-norma informal yang dimiliki bersama diantara para anggota suatu kelompok masyarakat yang memungkinkan terjalinnya kerjasama diantara mereka. Pendapat Fukuyama ini sejalan dengan pendapat Coleman (1986) bahwa Modal sosial merupakan kemampuan masyarakat untuk bekerja sama dengan mencapai tujuan bersama dalam berbagai kelompok dan organisasi. Menurut Putnam (1995), modal sosial menunjuk pada ciri-ciri pada organisasi sosial yang berbentuk jaringan- jaringan horisontal yang di dalamnya berisi norma-norma yang memfasilitasi koordinasi, kerja sama, dan saling mengendalikan yang manfaatnya bisa dirasakan bersama anggota organisasi

Kepercayaan ibarat pelumas yang membuat jalannya organisasi menjadi lebih efisien dan efektif. Menurut Coleman (dalam Rajab, 2005), modal sosial yang efektif cenderung lebih

Konsep modal sosial sangat beragam namun pada umumnya modal sosial dimaknai sebagai sebagai institusi, hubungan, sikap dan nilai yang memfasilitasi interaksi antar individu, antar kelompok masyarakat dalam rangka peningkatan kesejahteraan melalui pembangunan ekonomi dan pembangunan masyarakat itu sendiri.

Dari beberapa definisi di atas, maka yang dimaksud dengan modal sosial adalah serangkaian nilai-nilai atau norma- norma informal, seperti rasa saling percaya, saling pengertian, kesamaan nilai dan perilaku, yang dimiliki bersama di antara para anggota suatu kelompok masyarakat yang memungkinkan terjalinnya kerjasama di antara mereka dan akhirnya mencapai tujuan bersama.

5.1.1. Pengertian kepercayaan

Menurut Fukuyama (2000), kerja sama yang ada dalam modal sosial membentuk suatu organisasi dimana para anggotanya secara sukarela menyerahkan sebagian hak-hak individunya untuk bekerja bersama-sama mencapai suatu tujuan, berdasarkan aturan-aturan yang disepakati. Kesepakatan tersebut menyebabkan setiap orang melaksanakan kewajibannya masing-masing secara bebas tanpa perlu diawasi, karena satu sama lain menaruh kepercayaan bahwa setiap orang akan melaksanakan kewajibannya. Itulah yang disebut saling percaya (mutual trust), karena setiap orang berusaha untuk mengemban amanah.

tertutup dan lebih ketat. Jaringan komunitas yang dikembangkan kelompok-kelompok perantau di berbagai daerah lazimnya dibuat eksklusif yang keanggotaannya didasari relasi kekerabatan dan kesamaan daerah, bahasa, etnis, dan agama.

Kepercayaan merupakan kunci penting terjadinya ekspektasi dan the action of others, hal ini menggambarkan bahwa konsep kepercayaan membawa konotasi aspek negosiasi harapan dan kenyataan yang dibawakan oleh tindakan sosial individu atau kelompok dalam kehidupan kemasyarakatan. Ketepatan antara harapan dan realisasi tindakan yang ditunjukkan oleh individu atau kelompok dalam menyelesaikan suatu masalah, dipahami sebagai tingkat kepercayaan. Jadi kepercayaan merupakan keberhasilan masyarakat dalam menjalin interaksi sosial terkait dengan persoalan tertentu. Pada posisi ini, ada semacam kepercayaan dari interaksi tersebut yaitu tingkat kepercayaan akan tinggi bila penyimpangan antara harapan dan realisasi tindakan sangat kecil. Sebaliknya, menurut Dharmawan (2001), tingkat kepercayaan menjadi sangat rendah apabila harapan yang diinginkan tak dapat dipenuhi oleh realisasi tindakan sosial.

Konsep-konsep tersebut menempatkan kepercayaan sebagai komponen yang menyatu dan mengakar dalam keseharian aktivitas sosial kemasyarakatan. Kenyataan ini menjadikan kepercayaan oleh beberapa ilmuwan sosial dikategorikan sebagai modal sosial (social capital). Putnam (1995) yang menyatakan “features of social life – networks, norms, and trust - that enable participants to act together more effectively to pursue shared objectives”. Modal sosial sering dikaitkan dengan variabel penting dalam rangka menjaga integrasi sistem sosial dan modal sosial ada di dalamnya.

Terkait dengan modal sosial Fukuyama (1995) senada dengan Putnam, menyatakan bahwa kepercayaan merupakan

“jiwa” dari social capital. Posisi mendasar kepercayaan ini yang akan mempengaruhi bangunan sosial suatu masyarakat, struktur sosial yang kuat (high trust society) manakala kelembagaan trust terinternalisasi dengan kokoh, dan sebaliknya ikatan-ikatan konstruksi sosial melemah (low trust society) ketika kepercayaan melemah. Bahkan Fukuyama mengajukan kategori masyarakat yang dikotomis: masyarakat high-trust dan masyarakat low-trust.

Jenis pertama menunjukkan tingkat kepercayaan yang tinggi dan terus berkelanjutan di bawah otoritas politik yang sudah didesentralisasi pada tahap pra-modern (Fukuyama, 1995).

Menurut Hermawan (2008), negara yang masyarakatnya high-trust seperti Jepang, Jerman, dan Amerika Serikat, masyarakatnya mempunyai solidaritas komunal sangat tinggi yang mengakibatkan rakyat mereka mau bekerja mengikuti aturan, sehingga ikut memperkuat rasa kebersamaan. Sementara itu masyarakat jenis kedua, masyarakat low-trust, dianggap lebih inferior dalam perilaku ekonomi kolektif. Negara yang masyarakatnya low-trust adalah Cina, Korea, Perancis dan Italia.

Penjelasan Fukuyama tersebut memberikan keterangan pentingnya modal sosial trust dalam mempengaruhi wajah sosial kemasyarakatan suatu wilayah.

Kaitan dengan hal tersebut, Fukuyama (1995) melakukan suatu penelitian tentang Western And Eastern Views On Social Networks dikatakan bahwa apabila suatu negara dalam membangun usaha dan berorientasi mendapatkan keuntungan maka hal yang harus menjadi perhatian dan apresiasi pertama adalah memahami hubungan sosial dan dinamika masyarakat itu sendiri, seperti masyarakat eropa yang sangat terkenal dengan High trust dan masyarakat konghucu cina, jepang dan korea yang low trus.

Trust

Net Working

Shared Norms

Karakter dan Konstitusi (physical quality) suatu Masyarakat

Social capital

Coleman (1986), mengemukakan bahwa kepercayaan adalah salah satu esensi atau pilar penting konsep modal sosial selain pilar lainnya: jaringan sosial dan norma-norma sosial.

Ketiga elemen penting modal sosial tersebut secara bersama- sama menentukan corak karakter (physical quality) suatu masyarakat, sebagaimana diperlihatkan pada Gambar 5.1

Gambar 5.1

Kepercayaan (Trust) dan Elemen Lain Pembentuk Modal Sosial, Dharmawan, 2002)

Merujuk dari Gambar 5.4., nampak bahwa modal sosial membentuk karakter masyarakat karena kuatnya kepercayaan yang dibentuk oleh jaringan dan dukungan norma yang lahir dalam masyarakat itu sendiri. Hal ini sekali lagi menunjukkan betapa krusialnya kepercayaan di dalam bangunan jaringan tidak hanya menyangkut struktur jaringan, melainkan juga para aktor

kelompok.

yang menjalin interaksi di dalamnya. Kuatnya pengaruh kepercayaan di dalam struktur jaringan sosial dikarenakan fungsi-fungsi modal sosial kepercayaan yang amat penting.

Dengan kata lain kepercayaan yang bersifat timbal- balik antara seluruh komponen stakeholders jaringan akan menjadi modal yang penting dalam menumbuhkan partisipasi, kerjasama, bahkan kemitraan stakeholders dalam perencanaan pembangunan. Tanpa adanya kepercayaan maka yang terbentuk adalah low trust society, dimana masyarakat tidak saling mempercayai. Rakyat tidak mempercayai pemerintah, market tidak percaya pemerintah, civil society tidak percaya pemerintah dan begitu sebaliknya terjadi secara timbal balik.

5.1.2. Pengertian norma

Norma adalah sekumpulan aturan yang diharapkan dipatuhi dan diikuti oleh anggota masyarakat pada suatu entitas sosial tertentu. Menurut Hasbullah (2006), aturan-aturan kolektif tersebut biasanya tidak tertulis tapi dipahami oleh setiap anggota masyarakat dan menentukan pola tingkah laku yang diharapkan dalam konteks hubungan sosial. Menurut Fukuyama (1995), norma merupakan bagian dari modal sosial yang terbentuknya tidak diciptakan oleh birokrat atau pemerintah namun memiliki kekuatan yang mengakar dalam kehidupan masyarakat. Norma terbentuk melalui tradisi, sejarah, tokoh kharismatik yang membangun sesuatu tata cara perilaku seseorang atau sesuatu kelompok masyarakat, di dalamnya kemudian akan timbul modal sosial secara spontan dalam kerangka menentukan tata aturan yang dapat mengatur kepentingan pribadi dan kepentingan

kebutuhan (religious beliefs) cenderung memiliki kohesif tinggi Pada bagian lain Plateau (2000) mengatakan bahwa modal sosial sebagai norma informal yang bersifat instan yang dapat mengembangkan kerjasama antara dua atau lebih individu.

Norma yang merupakan modal sosial dapat disusun dari norma repiprositas antar teman. Melalui definisi tersebut selanjutnya dikatakan bahwa rasa percaya, norma dan civil society serta semua yang berkaitan dengan modal sosial muncul sebagai hasil dari modal sosial namun bukan merupakan modal sosial itu sendiri.

Menurut Lin (2001) tingkah laku modal sosial penduduk secara langsung digambarkan melalui norma, nilai dan aturan yang berlaku dalam masyarakat tersebut. Norma menurut Yustika (2012), merupakan sanksi yang efektif (norms and effective sanctions). Artinya norma dalam sebuah komunitas yang mendukung individu untuk memproleh prestasi (achievement) dalam modal sosial sangat penting. Dengan dasar tersebut, modal sosial bisa merujuk kepada norma atau jaringan yang memungkinkan orang untuk melakukan tindakan kolektif.

5.1.3. Pengertian jaringan informasi

Jaringan informasi menurut Yustika (2012), modal sosial tidak dibangun hanya oleh satu individu melainkan terletak pada kecenderungan yang tumbuh dalam suatu kelompok untuk bersosialisasi sebagai bagian penting dari nilai-nilai yang melekat. Jaringan hubungan sosial biasanya akan diwarnai oleh suatu tipologis khas sejalan dengan karakteristik dan orientasi kelompok. Pada kelompok sosial biasanya terbentuk secara tradisional atas dasar kesamaan garis turun temurun (repeated sosial experiences) dan kesamaan kepercayaan pada dimensi

Pada kondisi demikian menurut Yustika (2012), perubahan kelembagaan memiliki dua dimensi; pertama, perubahan konfigurasi antarpelaku ekonomi akan memicu namun rentang jaringan maupun kepercayaan yang terbangun sangat sempit. Sebaliknya pada kelompok yang dibangun atas dasar kesamaan orientasi dan tujuan serta dengan ciri pengelolaan organisasi yang lebih modern akan memiliki tingkat partisipasi anggota yang lebih baik dan memiliki rentang jaringan yang lebih luas. Pada tipologi kelompok yang disebut terakhir akan lebih banyak menghadirkan dampak positif bagi kelompok maupun kontribusinya pada pembangunan masyarakat secara luas (Hasbullah, 2006).

Coleman (1986), mengatakan bahwa kekuatan jaringan tergantung dari sudut apa jaringan tersebut yaitu pertimbangan asal dan berada pada tingkat mana jaringan tersebut. Jaringan masyarakat paling kuat pada tingkat tujuan dan berlanjut menjadi lemah ketika melihat pada tingkatan daerah, nasional dan internasional. Menurut Tridico (2011), jaringan dan koneksi baik dibangun pada grup kecil dan suku dominan merupakan jaringan dan koneksi memiliki sisi gelap, yaitu ketika dibawa pada lingkungan untuk hal-hal yang tidak terlihat dalam menjelaskan modal sosial.