• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IX PEREKONOMIAN KABUPATEN

9.2. Pengaruh Perubahan Kelembagaan Terhadap Kewirausahaan

Perubahan kelembagaan masyarakat ditandai penyesuaian kehidupan ekonomi baru akibat perubahan kondisi sosial ekonomi masyarakat sekitar. Rata-rata pedagang di perbatasan awalnya berprofesi sebagai petani, pegawai kontrak dan usaha swasta lainnya. Respon perubahan terjadi ketika tuntutan dan desakan permintaan masyarakat distric enclave Oekusi sepanjang

perbatasan mengalami pergeseran akibat tuntutan pemenuhan barang kebutuhan pokok. Pada awal mula masyarakat menanggapi sebagai hal yang lumrah dan biasa saja untuk saling membantu sebagai saudara. Namun karena besarnya arus permintaan masyarakat akan kebutuhan pokok semakin meningkat, maka perilaku masyarakat kabupaten Timor Tengah Utara sekitar perbatasan ikut mengalami perubahan. Konsentrasi masyarakat pada mata pencaharian awal, baik sebagai petani atau profesi lainnya mulai perlahan terabaikan dan berorientasi pada perdagangan karena memberikan keuntungan jauh lebih besar dan memberi harapan baru.

Fenomena baru kemudian bermunculan di kawasan perbatasan. Masyarakat yang mulanya hanya ingin membantu sebagai saudara, berubah ingin memperoleh profit atau keuntungan. Kehidupan sosial masyarakat perbatasan yang konsumtif, perlahan mengalami perubahan, seperti kegiatan serimonial adat di perbatasan mengalami perubahan. Masyarakat yang dulunya mengukur tingkat derajad sosial melalui pembayaran mahar perkawinan atau belis (bahasa lokal), rumah adat, kenduri orang meninggal dunia mengalami perubahan besar. Masyarakat kini lebih berpikir dan bertindak ekonomis, realistis dimana setiap kegiatan lebih memperhitungkan untung rugi dan lebih berorientasi pada aktivitas yang mendatangkan penghasilan. Dinamika yang demikian, menurut Utari Vipriyanti (2011), rekayasa sosial sangat besar pengaruh dan mengubah struktur ekonomi, politik, hukum, dan budaya masyarakat.

Perubahan karakter masyarakat tersebut diyakini karena trasformasi pemahaman akan pergeseran nilai strategis wilayah perbatasan. Semasa Timor Leste masih bergabung dengan Indonesia, wilayah tersebut hanyalah perbatasan antar kabupaten biasa dan tidak memiliki pengaruh apa-apa terhadap masyarakat

lokal. Pasca kemerdekaan Timor Leste sebagai negara berdaulat, serta-merta, daerah perbatasan berubah nilai menjadi daerah yang strategis secara ekonomis dan politis. Sebagai daerah yang bertentangga sejak dulu, kedekatan kekerabatan melalui turun temurun, perkawinan dan lain sebagainya tidak bisa dipisahkan.

Akibatnya antar masyarakat saling memahami kebutuhan, karakter, terutama yang memilih profesi baru sebagai pedagang.

Berkaitan dengan transformasi ekonomi masyarakat dikawasan perbatasan, Collier (1998), mengatakan bahwa perubahan kelembagaan merupakan kesepakatan bersama dengan mempertimbangkan berbagai sumber perubahan.

Dimaksudkan dari pertimbangan sumber perubahan tersebut adalah;

1) Perubahan harga relatif mendorong peningkatan aktivitas ekonomi tertentu atau aktivitas ekonomi baru. Jika kelembagaan ekonomi masyarakat berjalan lamban, tidak cocok untuk menciptakan aktivitas ekonomi baru maka akan terjadi dorongan dalam melakukan perubahan kelembagaan masyarakat.

2) Perubahan teknologi berpotensi terjadinya transformasi ekonomi masyarakat. Dalam jangka panjang, teknologi merupakan sumber perubahan karena mengadopsi hal-hal baru yang berorientasi inovasi dan perubahan.

3) Perubahan masyarakat mencari rente (rent-seeking) memicu kepentingan kelompok melakukan perubahan kelembagaan. Kesempatan tersebut akan muncul jika terjadi perubahan dalam sistem ekonomi. Seperti munculnya perdagangan internasional akan memicuh kehadiran perilaku mencari rente bagi yang terlibat dalam proses pengiriman barang.

4) Perubahan sikap kolektif. Perubahan kelembagaan bersifat kolektif jika terjadi sesuatu perubahan sikap sosial masyarakat seperti kemiskinan dan perbudakan.

Transformasi kelembagaan masyarakat diperbatasan merupakan spontanitas masyarakat secara kolektif untuk keluar dari suatu situasi yang hadir sebelumnya. Kemiskinan dan keterbatasan akses ekonomi masyarakat dalam mencukupi kebutuhan menjadi sebab utama dan pada saat bersamaan terjadi pergeseran nilai startegis daerah hunian. Sebagaimana disampaikan oleh Zimmerer (1996), bahwa perubahan kelembagaan akan menciptakan kreasi dan inovasi baru dalam memecahkan persoalan dan menemukan peluang guna memperbaiki kehidupan.

Masyarakat perbatasan mayoritas petani lahan kering sejak lama menggantungkan hidup pada sektor tersebut sebagai sumber penghasilan utama. Pilihan masyarakat untuk berkreasi menggunakan potensi sumber daya sekeliling sangat terbatas modal usaha, kemampuan ketrampilan (skill), minim sumber daya karena keterbatasan pendidikan formal dan non formal serta persoalan sosial lainnya. Kontribusi sektor pertanian untuk menghidupi kebutuhan masyarakat menjadi terbatas, akibatnya lingkaran persoalan sosial yang sulit dibeda dan menjadi warisan masyarakat.

Menurut Lupiyoadi (2001), tingkat kreatifitas menentukan karakteristik wirausahawan dimiliki dalam menciptakan peluang dan kesempatan. Hal tersebut mempertegas bahwa wirausahawan dibentuk oleh faktor lingkungan`sekitar dan bukan karena bawaan dari lahir. Kewirausahaan intinya merupakan jiwa yang diekspresikan melalui sikap dan perilaku kreatif dan inovatif dalam melakukan suatu kegiatan.

barang). Menurut Hart, Michael and Bill Dymond (1995), tentang Menurut Challen (2000), perubahan kelembagaan dalam karena faktor historis. Perubahan itu tidak berlanjut oleh karena adanya revolusi penakluk dan bisa berlanjut jika perubahan bersifat spontan dan inkremental masyarakat untuk berubah karena perilaku umum. Perubahan inkremental akan terjadi manakala adanya evolusi aturan (evolution of common law) dan dilakukan oleh birokrat atau politik.

Perubahan kelembagaan masyarakat dikawasan diperbatasan dimungkinkan karena faktor historis, ekonomi dan birokrasi pemerintah. Dari faktor historis masyarakat perbatasan berasal dari kultur budaya yang sama, agama yang sama, dan masih memiliki kedekatan kekerabatan. Faktor ekonomi mengikuti terjadinya pergeseran perilaku oleh karena masyarakat mengharapkan adanya perubahan hidup yang bermartabat. Masyarakat memiliki banyak keinginan untuk hidup sejajar dengan masyarakat lain dalam kemandirian ekonomi, kesejahteraan, dan hidup layak.

Transformasi yang dilakukan melalui pendekatan birakrasi menjadi kunci utama memungkinkan terjadinya perubahan dan pergeseran perilaku masyarakat. Peraturan pemerintah yang bersifat kaku dan terikat, oleh masyarakat dimaknai sebagai penghambat dalam berkreasi. Sebagai bentuk keberpihakan pemerintah pada masyarakat, aturan tersebut kemudian diperlunak dengan kebijakan yang bersifat permanen dan jangka waktu tidak menentu. Berkaitan dengan perdagangan lintas batas di kabupaten Timor Tengah Utara dan distric enclave Oekusi, pemerintah mengeluarkan kebijakan khusus masyarakat disekitar perbatasan seperti membuka pasar tradisonal pada beberapa titik sepanjang perbatasan, kartu pelintas orang dan barang tanpa biaya (PLB untuk orang dan PLBB untuk pelintas

sepanjang garis perbatasan dan proses transaksi bersifat Trade Theory, Trade Policy, and Cross-Border Integration disebutkan bahwa perdagangan baru tidak ada alasan untuk tidak mempergunakan kebijakan perdagangan baru dan sangat diperlukan dalam menghadapi integrasi global.

Kebijakan pemerintah selain memberi ruang kepada masyarakat untuk berkreasi memanfaatkan potensi lingkungan sekitar, meminimalisir praktek ilegal yang semakin berkembang dan bermuara pada peningkatan penghasilan. Respon masyarakat menanggapi kebijakan pemerintah tersebut cukup positif terukur dari tingginya partisipasi masyarakat dalam berwirausaha.

Aneka profesi dilakoni masyarakat dalam berwirausaha dengan memanfaatkan kedekatan pemukiman masyarakat, saling memahami akan kebutuhan masing-masing pihak dan relasi yang lama terbangun. Menurut Yustika (2012), kebijakan yang dikeluarkan pemerintah pada prinsipnya bertujuan untuk memperbaiki tingkat kesejahteraan masyarakat.

9.3. Pengaruh modal Sosial Terhadap Perdagangan Lintas