DAFTAR LAMPIRAN
5. PENCEMARAN PANTAI KOTA MAKASSAR 1 Beban Pencemaran Perairan Pantai Kota Makassar 1 Beban Pencemaran Perairan Pantai Kota Makassar
5.4 Hubungan Pencemaran Perairan dan Perikanan
Berdasarkan analisis kesesuai lahan dan daya dukung, di perairan pantai kota Makassar terdapat beberapa area yang dipat dijadikan lokasi perikanan. Untuk itu perlu diketahui bagaimana pengaruh dar berbagai parameter kualitas air terhadap aktivitas perikanan, terutama budidaya KJA dan rumput laut. Gambaran tentang kondisi beberapa parameter kualitas air di perairan pantai Kota Makassar adalah sebagai berikut:
5.4.1 Suhu
Hasil pengukuran suhu pada tiap stasiun pengamatan menunjukkan bahwa suhu di perairan Pantai Kota Makassar berkisar antara 28,6-31,30C. Suhu terendah terdapat pada perairan sekitar Pelabuhan Soekarno-Hata dan tertinggi terdapat pada beberapa stasiun diantaranya Tanjung Bungan dan Muara Sungai Tallo,
sedangkan suhu perairan rata-rata pada stasiun pengukuran adalah 30,44 0C. Fluktuasi dan variasi suhu perairan dipengaruhi berbagai faktor terutama oleh intensitas sinar matahari
Gambar 11 Sebaran suhu pada berbagai stasiun pengamatan
Kisaran nilai paramater suhu pada stasiun-stasiun pengukuran masih berada dalam toleransi untuk mendukung kehidupan biota (ikan/rumput laut). Berdasarkan acuan baku mutu (Kepmen LH No 51 Tahun 2004 lampiran III) untuk kehidupan biota/ kegiatan budidaya laut kisaran suhu air masih diperbolehkan < 20C dari suhu alami. Suhu Nybakken (1988) menjelaskan bahwa suhu merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam mengatur proses kehidupan dan penyebaran organisme. Kaidah umum menyebutkan bahwa reaksi kimia dan biologi air (proses fisiologis) akan meningkat 2 kali lipat pada kenaikan temperatur 100 C, selain itu suhu juga berpengaruh terhadap penyebaran dan komposisi organisme. Kisaran suhu yang baik bagi kehidupan organisme perairan adalah antara 18-30 oC. Selain itu di dukung oleh pernyataan Nontji (1984) Tiap organisme perairan mempunyai batas toleransi yang berbeda terhadap perubahan suhu perairan bagi kehidupan dan pertumbuhan organisme perairan. Oleh karena itu suhu merupakan salah satu faktor fisika perairan yang sangat penting bagi kehidupan organisme atau biota perairan. Secara umum suhu berpengaruh langsung terhadap biota perairan berupa reaksi enzimatik pada organisme dan tidak berpengaruh langsung terhadap struktur dan disperse hewan air. Berdasarkan hal tersebut maka suhu perairan di Pantai Kota Makassar dapat
mendukung dan memungkinkan untuk kegiatan budidaya termasuk KJA dan rumput laut
5.4.2pH
pH sangat penting sebagai parameter kualitas air karena ia mengontrol tipe dan laju kecepatan reaksi beberapa bahan dalam air. Selain itu, ikan dan makhlukmakhluk lainnya hidup pada selang pH tertentu, sehingga dengan diketahuinya nilai pH, kita dapat mengetahui apakah air tersebut sesuai atau tidak untuk menunjang kehidupan mereka. Nilai pH suatu perairan memiliki ciri yang khusus, adanya keseimbangan antara asam dan basa dalam air dan yang diukur adalah konsentrasi ion hidrogen. Dengan adanya asam-asam mineral bebas dan asam karbonat menaikkan pH, sementara adanya karbonat, hidroksida dan bikarbonat dapat menaikkan kebasaan air.
Hasil pengukuran nilai derajat keasaman (pH) perairan Pantai dan sungai di sekitar Kota Makassar berkisar antara 6,93 – 8,4 dengan nilai rata-rata 7,58. Hal ini menunjukkan bahwa perairan pantai dan sungai cenderung bersifat basa. Kondisi ini diperkirakan karena massa air yang dibawa oleh sungai Jenneberang dan sungai Tallo banyak melewati pegunungan dan bukit kapur sebelum bermuara ke pantai, terutama perairan sungai Tallo yang mana nilai pH tertinggi ditemukan yakni 8,4.
Gambar 12 Sebaran pH pada berbagai stasiun pengamatan
Kisaran nilai paramater pH pada stasiun-stasiun pengukuran masih berada dalam toleransi untuk mendukung kehidupan biota, kecuali pada stasiun
kanal Panampu yang mepunyai nilai pH relatif rendah yakni 6,92 . Berdasarkan acuan baku mutu (Kepmen LH No 51 Tahun 2004 lampiran III) untuk kehidupan biota bahwa kisaran yang diperbolehkan antara 7-8,5 dan diperbolehkan terjadi perubahan sampai dengan < 0,2 satuan pH. Kisaran nilai yang aman bagi biota perairan juga dikemukakan oleh Novotny dan Olem dalam Effendi 2003 bahwa sebagian besar biota akuatik sensitif terhadap perubahan pH dan menyukai pH dalam kisara 7-8,5
Ada 2 fungsi dari pH yaitu sebagai faktor pembatas, setiap organism mempunyai toleransi yang berbeda terhadap pH maksimal, minimal serta optimal dan sebagai indeks keadaan lingkungan. Batas toleransi organisme terhadap pH bervariasi tergantung pada suhu air, oksigen terlarut, adanya berbagi anion dan kation serta jenis organisme. Bengen et.al (1994) menyatakan bahwa pH pada perairan laut selalu dalam keadaan keseimbangan, karena ekosistem laut mempunyai kapasitas penyangga yang mampu mempertahankan kisaran nilai pH. Dengan demikian dapat dikatakan pH perairan di lokasi penelitian masih dapat mendukung aktivitas budidaya
Table 14 Pengaruh pH terhadap komunitas biologi perairan Nilai pH Pengaruh Umum
6,0 – 6,5 Keanekaragaman plankton dan bentos sedikit menurun
Kelimpahan total, biomassa dan produktivitas tidak mengalami perubahan
5,5 – 6,0 Penurunan nilai keanekaragaman plankton dan benthos semakin tampak
Kelimpahan total, biomassa dan produktivitas belum mengalami perubahan yang berarti
Alga hijau berfilamen semakin banyak
5,0 – 5,5 Penurunan nilai keanekaragaman dan komposisi jenis plankton, perifiton dan benthos semakin tampak
Terjadi penurunan Kelimpahan total, biomassa zooplankton dan benthos
Alga hijau berfilamen semakin banyak Proses nitrifikasi terhambat
4,5 – 5,0 Penurunan nilai keanekaragaman dan komposisi jenis plankton, perifiton dan benthos semakin besar
Penurunan kelimpahan total dan biomassa zooplankton dan benthos Alga berfilamen semakin banyak
Proses nitrifikasi terhambat
Sumber : Modifikasi Baker et al., 1990 in effendi 2003 5.4.3Salinitas
Salinitas merupakan gambaran jumlah garam dalam suatu perairan (Dahuri, et al, 1996). Salinitas pada umumnya dinyatakan sebagai berat jenis (specific gravity), yaitu rasio antara berat larutan terhadap berat air murni dalam volume yang sama Sebaran salinitas di air laut dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti pola sirkulasi air, penguapan, curah hujan dan aliran sungai (Nontji, 1987). Berdasarkan pengukuran salinitas didapatkan nilai yang bervariasi antara stasiun ,salinitas yang terukur berada pada kisaran yang cukup lebar antara 2 – 35 ppm dengan nilai rata-rata 22,75 ppm (gambar 16). Kondisi ini bergantung pada lokasi pengukuran, nilai terendah 2 ppm ditemukan pada stasiun kanal benteng dan H Bau, sementara tertinggi di sekitar pelabuhan Makassar. Pengukuran nilai salinitas pada perairan pantai selain sungai dan muara ditemukan nilai fariasi yang kecil antara 30 – 35 ppm. Kondisi ini terkait dengan sifat dari suatu lingkungan pesisir yang dinamis karena dipengaruhi oleh adanya pasang surut. Nybakken (1992) menyatakan bahwa daerah pesisir (litoral) merupakan perairan yang dinamis, yang menyebabkan variasi salinitas tidak begitu tinggi
Variasi salinitas selain dipengaruhi oleh aliran sungai yang masuk pada perairan pantai juga dipearuhi oleh penguapan dan curah hujan. Organisme yang hidup diperairan pesisir cenderung mempunyai toleransi terhadap perubahan salinitas sampai dengan 15 ‰. Salinitas mempunyai peran penting dan memiliki ikatan erat dengan kehidupan organisme perairan termasuk ikan, dimana secara fisiologis salinitas berkaitan erat dengan penyesuaian tekanan osmotik ikan tersebut. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kadar salinitas pada lokasi penelitian dapat mendukung kegiatan budidaya (mengacu pada standur baku mutu Kepmen LH No 51 Tahun 2004)
Gambar 13 Sebaran kadar salinitas pada berbagai stasiun pengamatan 5.4.4 Oksigen Terlarut (DO)
Dalam badan air oksigen ditemukan dalam bentuk oksigen terlarut dan berbentuk gelembung yang berukuran mikroskopik diantara molekul-molekul air. Oksigen yang terlarut dalam air berasal dari proses fotosintesis oleh fitoplankton dan tumbuhan air lainnya serta difusi dari udara (APHA 1989). Difusi oksigen dari atmosfer ke perairan berlangsung relatif lambat walaupun terjadi pergolakan massa air, sehingga sumber oksigen terlarut yang berasal dari difusi oksigen hanya sekitar 35 % (Effendi 2003).
Peranan Oksigen terlarut ini sangat penting bagi kehidupan organisme untuk pernapasan dan mengoksidasi bahan organik didalam tambak. Pencemaran limbah organik dapat menyebabkan menurunnya kandungan oksigen terlarut dalam perairan (Connel dan Miller 1995 in Efendi 2003). Peranan oksigen terlarut juga diungkapkan oleh Salmin (2000) yang meyatakan bahwa (Oksigen terlarut (Dissolved Oxygen =DO) dibutuhkan oleh semua jasad hidup untuk pernapasan, proses metabolisme atau pertukaran zat yang kemudian menghasilkan energi untuk pertumbuhan dan pembiakan. Disamping itu, oksigen juga dibutuhkan untuk oksidasi bahan-bahan organik dan anorganik dalam proses aerobik. Sumber utama oksigen dalam suatu perairan berasal sari suatu proses difusi dari udara bebas dan hasil fotosintesis organisme yang hidup dalam perairan tersebut. Variasi nilai parameter DO juga ditentukan oleh suhu dan aktivitas fotosintesa dalam perairan (Imam and El Baradei, 2009). Kadar oksigen juga berfluktuasi secara harian (diurnal) dan musiman, bergantung pada pencampuran (mixing) dan
pergerakan (turbulence) massa air, aktivitas fotosintesis, respirasi dan limbah (effluent) yang masuk ke badan air (Effendi, 2003). Hal ini mengindikasikan bahwa kadar konsentrasi DO dalam perairan, termasuk di sungai-sungai dan kanal-kanal yang ada di kota Makassar sangat dipengaruhi oleh banyak faktor penentu
Berdasarkan hasil pengukuran konsentrasi DO pada perairan di sekitar pantai Kota Makassar, ditemukan nila konsentrasi dengan rentang yang cukup lebar yakni 2,4 – 7,8 mg/l, dengan nilai rata-rata 5,27 mg/l. Nilai DO terendah didapatkan di perairan kanal Jongaya dan tertinggi di sekitar sekitar perairan pelabuhan. Nilai oksigen yang rendah sangat membahayakan karena Oksigen terlarut merupakan salah satu komponen penting dalam kehidupan biota, karena diperlukan untuk pernapasan dan proses metabolism. Dalam kondisi oksigen yang rendah dapat mengakibatkan kematian bagi organism dan disisi lain bila berada dalam kondidi optimum dapat meningkatkan rasio pertumbuhan dari ikan.
Gambar 14 Sebaran kadar DO pada berbagai stasiun pengamatan
Secara umum level oksigen terlarut yang direkomendasikan dalam perairan minimal 5 mg/l, karena dibawah level tersebut dapat mengakibatkan stress bahkan kematian. Huguenin and colt (1989) merekomendasikan untuk ikan laut kadar oksigen terlarut >6 mg/l. Linsley dan Franzini (1995) menyatakan bahwa keseimbangan oksigen terlarut juga akan berpengaruh pada biota dalam air. Organisme tingkat tinggi pada badan air selalu membutuhkan terpeliharanya kondisi aerob. Ikan dan biota air lainnya hanya dapat hidup pada kondisi kadar
oksigen terlarut (DO = dissolved oxygen) dalam air di atas 3-4 mg/lt. Variasi level oksigen dalam perairan dikelompokkan Menurut Lee et al. (1978) bahwa kandungan oksigen terlarut pada suatu perairan dapat digunakan sebagai indikator kualitas perairan dan terbagi dalam empat kategori, yaitu: 1) kadar oskigen terlarut > 6 mg/l kategori tidak tercemar sampai tercemar sangat ringan; 2) kadar oskigen terlarut antara 4.5 – 6.4 termasuk kategori tercemar ringan; 3) kadar oksigen terlarut 2.0 – 4.4 mg/l termasuk kategori tercemar sedang; dan 4) kadar oksigen terlarut < 2.0 termasuk kategori tercemar berat. Jadi dengan melihat nilai parameter DO yang terukur, dapat dikatakan bahwa perairan sekitar Pantai Makassar dapat mendukung kegiatan budidaya perikanan, kecuali pada stasiun Sungai Tallo dan semua kanal, terkecuali untuk beberapa jenis ikan tertentu yang mempunyai kemampuan toleransi DO yang rendah
5.4.5 BOD (Biological Oxygen Demand)
Kebutuhan oksigen biokimia (BOD) adalah parameter yang menunjukkkan besarnya oksigen yang dibutuhkan oleh mikroorganisme untuk menguraikan bahan organik dalam proses dekomposisi secara kimia Boyd (1982) in Adnan (2008). Selain itu nilai BOD dapat digunakan sebagai indikator adanya Kebutuhan oksigen biologi (BOD) didefinisikan sebagai banyaknya oksigen yang diperlukan oleh organisme pada saat pemecahan bahan organik, pada kondisi aerobik. Pemecahan bahan organik diartikan bahwa bahan organik ini digunakan oleh organism sebagai bahan makanan dan energinya diperoleh dari proses oksidasi (Pescod,1973). Parameter BOD, secara umum banyak dipakai untuk menentukan tingkat pencemaran air buangan. Penentuan BOD sangat penting untuk menelusuri aliran pencemaran dari tingkat hulu ke muara. Sesungguhnya penentuan BOD merupakan suatu prosedur bioassay yang menyangkut pengukuran banyaknya oksigen yang digunakan oleh organisme selama organisme tersebut menguraikan bahan organik yang ada dalam suatu perairan, pada kondisi yang harnpir sama dengan kondisi yang ada di alam. Parameter ini merupakan salah satu parameter kunci dalam pemantauan pencemaran laut, khususnya pencemaran bahan organik mudah urai (Samawi, 2007),
pencemaran dalam suatu perairan. Tingkat pencemaran suatu perairan dapat dilihat berdasarkan nilai BOD5 dan terbagi dalam 4 (empat) kategori (Lee et al.1978) : (1). Nilai BOD5 < 2.9 mg/l termasuk kategori tidak tercemar; (2) nilai BOD5 antara 3,0 – 5.0 mg/l termasuk kategori tercemar ringan; (3) nilai BOD5
antara 5.1 – 14.9 mg/l termasuk kategori tercemar sedang; dan (5) nilai BOD5 > 15 mg/l termasuk kategori tercemar berat
Gambar 15 Sebaran kadar BOD5
5.4.6 COD (Chemical Oxygen Demand)
pada berbagai stasiun pengamatan
Nilai BOD perairan dipengaruhi oleh suhu, densitas plankton, keberadaan mikroba, serta jenis dan kandungan bahan organik (Effendi, 2003). Berdasarkan pengukuran nilai BOD didapatkan nilai yang bervariasi antara stasiun dan berada pada kisaran antara 2,4 – 9,0 mg/l dengan rata-rata 5,55 mg/l. Menurut Jeffries dan Mills, 1996 dalam Effendi 2003, Pada perairan alami yang berperan sebagai sumber bahan organik adalah pembusukan tanaman dan memiliki nilai BOD antara 0,5 – 7,0 mg/liter. Perairan yang memiliki nilai BOD lebih dari 10 mg/liter dianggap telah mengalami pencemaran. Mengacu pada nilai baku mutu yang dipersyaratkan untuk kegiatan budidaya, BOD pada perairan pantai Kota Makassar masih belum mengalami pencemaran karena masih berada di bawah 20 mg/l. Jadi dapat simpulkan bahwa kondisi perairan Kota Makassar dapat mendukung kegiatan budidaya KJA dan rumput laut.
COD adalah jumlah oksigen yang diperlukan agar bahan buangan yang ada dalam air dapat teroksidasi melalui reaksi kimia baik yang dapat didegradasi
secara biologis maupun yang sukar didegradasi. Bahan buangan organik tersebut akan dioksidasi oleh kalium bichromat yang digunakan sebagai sumber oksigen (oxidizing agent) menjadi gas CO2 dan gas H2O serta sejumlah ion chrom.
Gambar 16 Sebaran kadar COD pada berbagai stasiun pengamatan
Jika pada perairan terdapat bahan organik yang resisten terhadap degradasi biologis, misalnya tannin, fenol, polisacharida dan sebagainya, maka lebih cocok dilakukan pengukuran COD daripada BOD. Kenyataannya hampir semua zat organik dapat dioksidasi oleh oksidator kuat seperti kalium permanganat dalam suasana asam,diperkirakan 95% - 100% bahan organik dapat dioksidasi. Seperti pada BOD, perairan dengan nilai COD tinggi tidak diinginkan bagi kepentingan perikanan dan pertanian.
Parameter COD menunjukkan banyaknya oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi seluruh bahan organik, baik yang mudah urai maupun yang sulit terurai. Bahan organik mudah urai umumnya berasal dari limbah domestik atau pemukiman, sedangkan yang sukar terurai umumnya berasal dari dari limbah industri, pertambangan dan pertanian Berdasarkan hasil pengukuran pada stasiun pengamatan,didapatkan nilai COD antara 22 – 164 mg/l, dengan rata-rata 60,48 mg/l. Dalam baku mutu air laut menurut Kep. MenLH No.2 Th 1988 nilai COD < 30 mg/l. Selain itu menurut acuan dari (UNESCO/WHO/UNEP, 1992) nilai COD pada perairan yang tidak tercemar biasanya kurang dari 20 mg/liter, sedangkan pada perairan tercemar dapat lebih 200 mg/liter. Jadi sebaran nilai COD di sekitar perairan pantai Kota Makassar menggambarkan perairan tersebut telah tercemar,
selain itu tidak dimungkinkan untuk melakukan aktivitas budidaya kerena nilainya telah melewati baku mutu yang dipersyaratkan
5.4.7 Nitrat (NO3
Nitrat merupakan bentuk utama nitrogen di perairan alami dan juga sebagai sumber pertumbuhan tanaman air dan algae. Nitrat (NO
)
3-N) mudah larut dalam air dan bersifat stabil (Effendi 2003). Senyawa amoniak yang terdapat pada air laut merupakan hasil reduksi senyawa nitrat oleh mikroorganisme. Meningkatnya konsentrasi amoniak dalam air laut erat kaitannya dengan masukknya bahan organik yang mudah urai (Samawi, 2007). Nitrogen sebagai nitrat dibutuhkan phytoplankton untuk pertumbuhan dan perkembangbiakannya (Nybakken, 1988). Nitrogen dalam bentuk anorganik yang berguna bagi tumbuh-tumbuhan adalah nitrat.
Terbentuknya senyawa-senyawa nitrat disebabkan oleh proses perombakan material yang mengandung nitrogen dalam batuan mikroorganisme (Raymont,1993) Senyawa ammonia (NH3-N) merupakan senyawa beracun bagi kehidupan biota laut. Bersama dengan nitrit dapat menjadi indikator adanya pencemaran terutama yang disebabkan oleh bahan organik. Salah satu yang menyebabkan adanya kedua senyawa ini di dalam air laut adalah terhambatnya proses dekomposisi bahan organik. Keberadannya sering berfluktuasi tergantung kadar oksigen terlarut selain itu juga pH dan suhu mempengaruhi. Nitrat terbentuk dari proses nitrifikasi, proses oksidasi dari NO2 ke NO3
Pengukuran kadar nitrat pada lokasi penilitian didapatkan nilai yang bervariasi antara 0,002 – 0,950 mg/l, dengan rata-rata 0,390 mg/l. Bila mengacu pada standar baku mutu kualitas air menurut Kepmen LH No 51 Tahun 2004 di dilakukan oleh bakteri. Dalam sistem tropic, proses denitrifikasi terjadi secara intensif pada area:(a) tempat terjadinya akumulasi detritus; (b) di dalam badan air tempat terjadinya loading nutrient dari proses pencemaran; (c) dalam badan air yang dengan residencetime yang lama; dan (d) dalam ekosistem lahan basah yang dikeringkan secara periodic, yang mana masukan oksigen secara peridik menstimulasi mineralisasi-nitrifikasi-denitrifikasi bersama sedimen yang kaya bahan organik (Furnas, 1992)
bahwa nilai nitrat yang diperbolehkan 0,008 mg/l, maka perairan pantai Kota Makassar telah mengalami pencemaran. Nilai nitrat di lokasi yang lebih tinggi dari baku mutu yang ada dapat disebabkan oleh oksidasi ammonia yang tidak sempurna. Kandungan nitrat (NO3-N) yang terdapat dalam suatu perairan, dapat dikelompokkan berdasarkan tingkat kesuburannya, yaitu perairan oligotrofik mempunyai kandungan nitrat (NO3-N) antara 0 – 1 mg/l, perairan mesotrofik mempunyai kandungan nitrat (NO3-N) antara 1 – 5 mg/l, dan perairan eutrofik mempunyai kandungan nitrat (NO3-N) antara 5 – 50 mg/l (Volenweider dan Wetzel 1975 diacu dalam Effendi 2003).
Gambar 17 Sebaran kadar NO3
Nitrat merupakan salah satu senyawa hasil senyawa hasil sampingan dari proses perombakan bahan organik yang bersifat racun bagi udang. Tingkat keracunannya semakin meningkat jika nilai pH nya ≥ 9 (Asbar, 2007) . Apabila
pada berbagai stasiun pengamatan
Menurut Kristianto (2002), tumbuhan dan hewan yang telah mati akan diuraikan proteinnya oleh organisme pembusuk menjadi amoniak dan senyawa amonium. Nitrogen dalam kotoran dan air seni akan berakhir menjadi amonia juga. Jika amonia diubah menjadi nitrat maka akan terdapat nitrit dalam air. Hal ini terjadi jika air tidak mengalir, khususnya di bagian dasar. Nitrit amat beracun di dalam air, tetapi tidak bertahan lama.Kandungan nitrogen di dalam air sebaiknya di bawah 0,3 ppm. Kandungan nitrogen diatas jumlah tersebut mengakibatkan ganggang tumbuh dengan subur. Jika kandungan nitrat di dalam air mencapai 45 ppm maka berbahaya untuk diminum
suatu perairan menunjukkan kadar nitrat lebih dari 5 mg/l ( > 5 mg/l), maka perairan tersebut mengalami pencemaran limbah antropogenik yang berasal dari aktivitas manusia dan sisa kotoran hewan. Kadar nitrat (NO3
5.4.8 Fosfat (PO4)
-N) yang lebih dari 2 mg/l dapat mengakibatkan terjadinya eutrofikasi (pengayaan) perairan, yang selanjutnya dapat menstimulir pertumbuhan algae dan tumbuhan air secara pesat (blooming). Pada perairan yang menerima limpasan air dari daerah pertanian yang banyak mengandung pupuk, maka kadar nitrat dapat mencapai 1.000 mg/l (Davis dan Cornwell, 1991 diacu dalam Effendi 2003).
Keberadaan fosfor di laut dalam bentuk yang beragam dan terutama sebagai ortofosfat anorganik (PO4) yang secara sederhana disebut fosfat. Fosfor sebagai fosfat dibutuhkan oleh phytoplankton untuk pertumbuhan dan perkembangbiakannya (Nybakken, 1988). Fosfor yang telah diserap oleh sel merupakan bagian dari komponen struktural sel dan berperan pula dalam proses pengalihan energi dalam sel. Senyawa fosfat adalah suatu zat hara yang dapat menunjukkan kesuburan perairan dan dibutuhkan dalam pertumbuhan dan perkembangan hidup biota perairan. Fosfat dalam air atau air limbah ditemukan dalam bentuk senyawa ortofosfat, polifosfat dan fosfat organik. Fosfor tidak ditemukan dalam keadaan bebas di alam dan hamper selalu terjadi dalam kesatuan yang telah dioksidasi sepenehnya sebagai fosfat (Rilley and Skirow, 1975)
Pengukuran kadar fosfat pada lokasi penelitian didapatkan nilai yang bervariasi antara 0,21 – 0,663 mg/l, dengan rata-rata 0,33 mg/l. Berdasarkan kadar fosfat, perairan diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu : perairan oligrotofik yang mempunyai kadar fosfat 0.003 – 0.01 mg/l, perairan mesotrofik mempunyai kadar fosfat 0.011 – 0.031 mg/l dan perairan eutrofik mempunyai kadar fosfat 0.031 – 0.1 mg/l (Wetzel 1975 in Effendi 2003). Nilai fosfat yang diperkenankan dalam standar baku mutu hanya 0,015 mg/l. Jadi perairan disekitar pantai kota Makassar telah melewati batas baku mutu. Dari kadar fosfat yang ditemukan diperairan yang kondisi rata-rata berada diatas baku mutu perairan, maka potensi untuk terjadinya blooming plankton dapat terjadi. Hal ini dimungkinkan karena kadar fosfat sangat dibutuhkan oleh phytoplankton untuk pertumbuhan dan perkembangbiakannya.
Dalam air limbah, senyawa fosfat dapat berasal dari limbah penduduk, industri dan pertanian yang masuk ke laut melalui sungai. Fosfat (PO4
Daya dukung lingkungan sangat erat kaitannya dengan kapasitas asimilasi dari lingkungan yang menggambarkan jumlah limbah yang dapat dibuang ke dalam lingkungan tanpa menyebabkan polusi (UNEP, 1993). Jadi terdapat hubungan antara pencemaran dan fluktuasi daya dukung. Menurut PPLKPL-KLH/FPIK IPB (2002) konsep daya dukung didasarkan pada pemikiran bahwa lingkungan memiliki kapasitas maksimum untuk mendukung suatu pertumbuhan organisme. Mengacu pada konsep ini, maka daya dukung merupakan tingkat pemanfaatan sumberdaya alam atau ekosistem secara berkesinambungan tanpa menimbulkan kerusakan sumberdaya dan lingkungan. Dengan demikian jumlah maksimum pemanfaatan suatu sumberdaya atau ekosistem yang dapat diabsorpsi oleh suatu kawasan atau zona tanpa ) merupakan faktor pembatas produktivitas plankton dan pertumbuhan tanaman air. Dampak dari fosfat pada perairan salah satunya adalah dapat mengakibatkan blooming alga (Muller and Helsel, 1999). Secara umum pengaruh posfat tidak tidak mengakibatkan racun bagi hewan maupun manusia, tapi dapat mengganggu pencernaan bila berada dalam konsentrasi yang sangat tinggi