• Tidak ada hasil yang ditemukan

(%) Riwayat pengobatan TB sebelumnya

5.2 Hubungan Faktor Consumer dengan Pemanfaatan Poli TB MDR RSUP Haji Adam Malik Medan Haji Adam Malik Medan

5.2.3 Hubungan Persepsi tentang Pelayanan dengan Pemanfaatan

Hasil penelitian persepsi tentang pelayanan poli TB MDR diketahui bahwa sebanyak 57,4% pada kategori tidak baik. Hal ini memberikan gambaran bahwa pelayanan yang diterima oleh sebagian besar pasien TB MDR belum baik. Petugas medis (dokter, perawat dan konselor) harus mampu menanggapi keluhan-keluhan pasien TB MDR dan memberikan penjelasan atas gejala penyakit yang dirasakannya sewaktu berkonsultasi.

Berdasarkan hasil wawancara dengan pasien yang tidak memanfaatkan menyatakan mengeluhkan petugas kesehatan (dokter, perawat, konselor) karena belum tepat waktu dalam memberikan pelayanan, belum jelas memberikan informasi dan belum sepenuhnya memiliki waktu dalam berkonsultasi. Berdasarkan hasil wawancara dapat diambil suatu makna bahwa sebagian pasien datang berkunjung ke poli TB MDR memiliki persepsi komunikasi antara petugas kesehatan (dokter, perawat, konselor) dengan pasien masih sulit dipahami pasien. Saran dokter untuk

memanfaatkan poli TB MDR menjadi bahan pertimbangan bagi pasien yang belum memanfaatkan, sehingga pasien mencari informasi lanjutan ke sarana pelayanan kesehatan yang lain. Hal inilah salah satu penghambat, sehingga pasien belum optimal memanfaatkan poli TB MDR.

Menurut Peter dan Olson (2005), konsumen atau pasien yang merasa terpenuhi keinginannya dengan suatu pelayanan maka cenderung terus menggunakannya serta memberi tahu orang lain tentang pengalaman mereka yang menyenangkan dengan pelayanan tersebut. Jika tidak sesuai dengan keinginannya maka konsumen cenderung beralih tempat serta mengajukan keberatan kepada produsen atau provider, menceritakan pada orang lain bahkan mengecamnya.

Hasil uji statistik secara multivariat menunjukkan variabel persepsi tentang pelayanan berhubungan positif dan signifikan dengan pemanfaatan poli TB MDR dengan nilai probabilitas p=0,026<p=0,05; dan nilai Exp (B) sebesar 10,298, artinya responden yang memiliki persepsi baik tentang pelayanan mempunyai peluang 10 kali memanfaatkan poli TB MDR dibandingkan dengan responden yang memiliki persepsi tidak baik.

Hasil penelitian ini didukung oleh hasil penelitian Amaliah (2012) yang menyimpulkan bahwa penderita dengan persepsi yang buruk terhadap sikap petugas memiliki risiko terjadinya kegagalan konversi sebesar 1,857 kali lebih besar dibanding penderita dengan persepsi yang baik terhadap sikap petugas. Secara statistik tidak terdapat hubungan yang signifikan antara persepsi terhadap sikap petugas dengan kegagalan konversi .

Menurut Donabedian dalam Wijono (2000), ada tiga pendekatan penilaian mutu, yaitu dari aspek struktur, proses dan outcome. Aspek-aspek dalam struktur dan proses melekat langsung dalam hubungan pasien dengan dengan pemberi jasa pelayanan. Aspek-aspek tersebut meliputi pelayanan kesehatan, kompetensi petugas, peralatan dan fasilitas dan jaminan kesehatan yang mempengaruhi pemanfaatan pelayanan kesehatan.

Manajemen RSUP H. Adam Malik Medan agar berupaya memperbaiki persepsi responden tentang pelayanan khususnya pada saat komunikasi petugas kesehatan (dokter, perawat dan konselor) dengan pasien. Komunikasi antara dokter atau konselor dengan pasien diupayakan untuk ditingkatkan agar tercipta bahwa dokter dan pasien TB MDR sebagai teman/mitra

5.2.4 Hubungan Diagnosa Klinis dengan Pemanfaatan

Hasil penelitian diagnosa klinis sebanyak 63,9% pada kategori tidak baik. Diagnosa klinis merupakan penentuan jenis penyakit berdasarkan tanda dan gejala dengan menggunakan cara dan alat seperti; hasil analisa laboratorium, foto, dan klinik. Selama mendapatkan pelayanan penderita TB MDR seharusnya mendapat informasi yang akurat berdasarkan hasil diagnosa klinis. Diagnosis TB MDR dipastikan berdasarkan uji kepekaan. Semua suspek TB MDR diperiksa dahaknya untuk selanjutnya dilakukan pemeriksaan biakan dan uji kepekaan. Jika hasil uji kepekaan terdapat yang resisten minimal terhadap rifampisin dan INH, maka dapat ditegakkan diagnosis TB MDR. Diagnosis dan pengobatan yang cepat dan tepat

untuk TB MDR didukung oleh pengenalan faktor risiko untuk TB MDR, pengenalan kegagalan obat secara dini dan uji kepekaan obat (Soepandi, 2010).

Menurut Judarwanto (2013) menegakkan diagnosis suatu penyakit oleh seorang dokter seringkali tidak semudah yang dibayangkan. Beberapa kelainan atau penyakit yang berbeda sering menampakkan tanda dan gejala klinis yang sama, sehingga dalam beberapa kasus acapkali terjadi “Wrong Diagnosis” atau kesalahan diagnosis atau overdiagnosis suatu penyakit padahal seseorang tidak menderitanya.

Dokter dengan kurangnya pengetahuan dalam pemberian dosis, lama pengobatan, efek samping dan paduan standar, pemakaian merek obat yang berganti dan kurangnya memberikan motivasi kepada pasien menambah besar masalah resistensi TB MDR. Dalam sebuah dari studi-studi di mana resep obat dari 449 dokter dianalisa, 75% dari para dokter ditemukan memiliki beberapa kesalahan resep obat Tambahan lagi adalah kurangnya penyuluhan dan fasilitas training bagi mereka. Kurangnya partisipasi pasien karena kurangnya informasi, kurangnya keuangan pasien, efek samping obat, mitos sosial tentang obat sering menyebabkan pengobatan tidak adekuat (Aditama, 2002).

Berdasarkan hasil wawancara dapat diambil suatu makna bahwa pasien yang tidak memanfaatkan poli TB MDR, yaitu sebesar 50,9%, sebagian besar memiliki

alasan bahwa; (a) belum sepenuhnya dapat menerima hasil diagnosa klinis, (b) penjelasan petugas kesehatan atas diagnosa klinis belum meyakinkan dan (c) hasil

diagnosa klinis petugas kesehatan belum sepenuhnya tepat untuk mengatasi keluhan, sehingga tidak memanfaatkan poli TB MDR. Sedangkan pasien yang memanfaatkan,

yaitu sebesar 49,1% memiliki alasan bahwa hasil diagnosa klinis petugas kesehatan sudah meyakinkan, sehingga memanfaatkan poli TB MDR.

Interaksi antara dokter dan pasien dalam aplikasi komunikasi diartikan tercapainya pengertian dan kesepakatan yang dibangun dokter bersama pasien pada setiap langkah penyelesaian masalah pasien. Hal ini sejalan dengan pendapat Konsil Kedokteran Indonesia (2006), keputusan pergi berobat ke dokter memerlukan proses dalam diri pasien. Ia perlu merumuskan alasan yang jelas bagi dirinya, mengapa merasa perlu pergi ke dokter. Selanjutnya, pertemuan pasien dengan dokter akan memengaruhi keputusannya, apakah ia akan meneruskan niatnya berobat ke dokter atau memilih cara lain. Aspek yang cukup dominan memengaruhi keputusan pasien dalam berobat ke dokter adalah komunikasi. Sikap dokter dan konselor dalam berkomunikasi dengan pasien dapat memberikan kesimpulan bagi pasien dalam pengambilan keputusan.

Hasil uji statistik secara multivariat menunjukkan variabel diagnosa klinis berhubungan positif dan signifikan dengan pemanfaatan poli TB MDR dengan nilai probabilitas p=0,023<p=0,05; dan nilai Exp (B) sebesar 8,773, artinya responden dengan diagnosa klinis yang baik mempunyai peluang 9 kali memanfaatkan poli TB MDR dibandingkan dengan diagnosa klinis tidak baik.

Hasil penelitian ini didukung hasil penelitian Gitawatie dkk, (2004) menyimpulkan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi angka resistensi TB MDR terkait kinerja program penanggulangan TBC paru di daerah setempat.

Ketepatan diagnosis mikroskopik untuk menetapkan kasus dengan BTA (+), dan tingkat kepatuhan penderita untuk minum obat.

Hasil penelitian ini sejalan dengan teori Donabedian (2005), menyatakan bahwa pemanfaatan pelayanan kesehatan merupakan interaksi antara konsumen dengan provider (penyedia pelayanan). Tingkat kesakitan atau kebutuhan yang dirasakan oleh konsumen berhubungan langsung dengan penggunaan atau permintaan terhadap pelayanan kesehatan. Salah satu kebutuhan adalah kebutuhan atas hasil diagnosa klinis (evaluated need).

Manajemen rumah sakit agar berupaya memperbaiki persepsi responden terhadap keyakinan atas hasil diagnosa klinis petugas medis (dokter, perawat, konselor) dan khususnya ketika mengkomunikasikan penjelasan hasil diagnosa klinis untuk meyakinkan pasien menjalani terapi TB MDR.

Dokumen terkait