• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.8. Hipotesis Penelitian

2.8.3. Hubungan Risiko Bisnis Auditor dengan Pemilihan Klien 32

Risiko bisnis auditor adalah risiko auditor atau KAP menderita kerugian karena melakukan perikatan, meskipun pelaporan audit untuk klien dinyatakan unqualified opinion (wajar tanpa pengecualian). Manajemen resiko KAP merupakan hal yang sangat penting bagi profesi akuntan publik. Telah terbukti secara empiris bahwa risiko klien, risiko audit, dan risiko bisnis KAP mempunyai dampak signifikan terhadap proses pemilihan klien di KAP.

Peluang perusahaan yang mempunyai management integrity yang baik untuk diterima sebagai klien pada KAP adalah cukup signifikan dibandingkan dengan perusahaan yang mempunyai integritas manajemen yang buruk. Peluang perusahaan yang mempunyai risiko bisnis dan risiko audit yang rendah, untuk diterima sebagai klien KAP adalah cukup besar (signifikan) dibandingkan dengan

perusahaan yang memiliki risiko bisnis dan risiko auditor yang tinggi. Peluang perusahaan yang memiliki dampak risiko bisnis auditor yang rendah untuk diteriama sebagai klien KAP adalah cukup signifikan dibandingkan dengan perusahaan yang memiliki dampak terhadap risiko bisnis auditor yang tinggi (Wondabio, 2006).

Berdasarkan uraian diatas, maka hipotesis yang terbentuk yaitu sebagai berikut:

H3 : Risiko bisnis KAP berpengaruh terhadap pemilihan klien.

2.8.4. Hubungan Kompetensi Auditor Dengan Pemilihan Klien

Kompetensi auditor adalah pengetahuan dan pengalaman auditor yang cukup dan eksplisit dapat melakukan audit secara objektif, cermat dan seksama.

Dengan banyaknya pengetahuan dan pengamatan yang dilakukan auditor saat mengaudit, semakin besar tingkat profesionalitas yang dimilikinya. Dengan kemampuan tersebut maka auditor dapat menilai klien yang akan melakukan perikatan atau melanjutkan perikatan pantas untuk tidaknya untuk diterima sebagai kliennya.

Berdasarkan uraian diatas, maka hipotesis yang terbentuk yaitu sebagai berikut:

H4 : Kompetensi auditor berpengaruh terhadap Pemilihan klien.

2.8.5. Hubungan Risiko Bisnis Klien, Risiko Audit, Risiko KAP, dan Kompetensi Auditor Dengan Pemilihan Klien

Unsur penting dalam mengaudit ialah menilai adanya risiko salah saji yang material dalam laporan keuangan. Auditor harus peduli dengan risiko yang

dihadapi perusahaan dalam kesulitan keuangan, atau masalah kelangsungan hidup perusahaan (going concern problem). Apakah ada alasan bagi penggugat untuk menyatakan bahwa ia adalah pemakai laporan keuangan (yang diaudit) dan yang dianggapnya menyesatkan, kemudian menuntut Kantor Akuntan Publik (KAP).

Dalam tahap clien acceptance, ini khususnya seperti ini perlu diteliti lebih lanjut siapa yang berpotensi menjadi pemakai laporan keuangan yang diaudit, apa kepentingannya dengan perusahaan ini, keadaan legal-nya (apakah ada ancaman, dari siapa saja, mengenai hal apa, seberapa besar). (Tuanakotta, 2011)

Kekeliruan dari salah saji (error dan misstatements) dalam laporan keuangan dapat terjadi karena bermacam-macam hal, antara lain: proses transaksi tidak akurat, traksaksi hilang atau terabaikan dari sistem akuntansi yang tidak tepat, estimasi akuntansi (misalanya: penyisihan piutang ragu-ragu, nilai wajar surat berharga, persedian barang usang, dan lain-lain) berdasarkan analisis yang lemah atau dimanipulasikan. (Tuanakotta, 2011)

Keputusan penerimaan klien memberi kesempatan khusus kepada Kantor Akuntan Publik (KAP) untuk mengevaluasi dan mengurangi risiko. Auditor harus memperhitungkan informasi dari berbagai sumber ketika mengevaluasi klien potensial. Standar khusus pengendalian (Quality control Standard) dari AICPA mewajibkan Kantor Akuntan Publik (KAP) untuk meminimalkan kemungkinan berhubungan dengan klien integritas manajemennya rendah.

Prosedur yang dapat dilakukan untuk mengevaluasi klien adalah:

1. Memperoleh atau meninjau informasi keuangan yang ada.

2. Menanyakan kepada pihak ketiga.

3. Mengkomunikasikannya dengan auditor sebelumnya, sebagaimana yang diharuskan oleh standar auditing, mengenai apakah terdapat ketidaksamaan dengan prinsip-prinsip akuntansi, prosedur audit, atau malah penting lainnya.

4. Memperhitungkan apakah klien baru memiliki beberapa keadaan yang menunjukkan risiko bisnis atau risiko audit yang tidak biasanya.

5. Mengidentifikasi alasan klien untuk diaudit.

6. Memahami syarat-syarat penugasan yang ditetapkkan oleh klien.

7. Menentukan KAP dapat bertindak independen dengan klien baru.

8. Menenentukan apakan Kantor Akuntan Publik (KAP) memilliki keahlian dan pengetahuan teknis khusus tentang industri klien agar dapat melaksanakan penugasan degan baik.

9. Menentukan apakah penerimaan klien baru tersebut tidak melanggar kode etik perilaku profesional.

Meskipun untuk memperoleh dan mempertahankan klien bukanlah hal yang mudah, Kantor Akuntan Publik (KAP) harus ekstra hati-hati dalam memutuskan klien mana yang diterima. Sebisa mungkin Kantor Akuntan Publik (KAP) menolak penugasan dari klien yang memiliki reputasi manajemen yang buruk (tidak memiliki intergritas). Bahkan, saat ini beberapa KAP menolak klien yang berkecimpung dalam industri tertentu yang berisiko tinggi, seperti perusahaan simpan pinjam dalam perusahaan asuransi jiwa (asuransi kesehatan dan kecelakaan).

Berdasarkan uraian diatas, maka hipotesis yang terbentuk yaitu sebagai berikut:

H5 : Risiko bisnis klien, risiko audit, risiko bisnis KAP, dan kompetensi berpengaruh terhadap Pemilihan klien.

BAB III

METODE PENELITIAN 3.1. Jenis Penelitian

Penelitian ini tentang Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Auditor Eksternal Dalam Penerimaan Klien ini menggunakan metode penelitian asosiatif kausal yaitu penelitian yang bertujuan untuk menganalisis hubungan antara suatu variabel dengan variabel lainnya sehingga terdapat hubungan sebab akibat. (Umar, 2003)

3.2. Tempat dan waktu penelitian

Penelitian ini dilakukan terhadap seluruh Kantor Akuntan Publik (KAP) di kota Medan. Waktu penelitian ini dimulai sejak bulan April 2016 sampai dengan penelitian ini selesai.

3.3. Definisi Operasional 3.3.1. Variabel Independen a. Risiko Bisnis Klien

Risiko bisnis klien adalah risiko dimana klien akan gagal mencapai tujuannya, yang berhubungan dengan keandalan pelaporan keuangan, efisiensi dan efektivitas operasi serta kepatuhan terhadap hukum dan pemerintah (Arens et al, 2006).

b. Risiko Audit

Risiko audit adalah risiko yang timbul karena auditor tanpa disadari tidak memodifikasikan pendapatnya sebagaimana mestinya, atas suatu laporan keuangan yang mengandung salah saji material

c. Risiko Bisnis Klien

Risiko bisnis auditor adalah risiko dimana auditor atau KAP akan menderita kerugian karena melakukan perikatan, meskipun laporan audit yang dibuat untuk klien dinyatakan unqualified opinion, misalnya adanya tuntutan di pengadilan oleh pihak yang merasadirugikan karena penggunaan jasa dari kantor akuntan publik, sanksi hukuman yangditetapkan oleh organisasi profesi seperti IAI, hukuman masyarakat berupa tuduhan yangsifatnya menjelekkan atau menilai rendah reputasi suatu KAP dan berusaha untuk tidakmenggunakan jasanya dan kemungkinan tidak dibayar oleh klien

d. Kompetensi Auditor

Menurut Novrizah (2010) Kompetensi merupakan suatu karakteristik dan keterampilan individu yang mencerminkan kemampuan potensialnya dalam melakukan suatu pekerjaan superior.Variabel kompetensi auditor diukur dengan variabel subproksi yaitu pengalaman dan pengetahuan auditor.

3.3.2. Variabel Dependen a. Pemilihan Klien

Keputusan KAP dalam menerima klien setelah melakukan pertimbangan informasi dari berbagai sumber. Standar kualitas pengendalian (Quality Control Standard) dari AICPA mewajibkan KAP untuk mengembangkan kewajiban dan prosedur penerimaan klien dalam meminimalkan kemungkinan berhubungan dengan klien yang integritas manajemennya rendah.

3.4. Skala Pengukuran Variabel

Skala pengukuran variabel dalam penelitian ini menggunakan skala likert.

Skala likert adalah skala yang digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau kelompok orang tentang fenomena atau gejala sosial yang terjadi. Variabel penelitian dijabarkan menjadi sub-variabel yang kemudian menjadi indikator sehingga dijadikan tolak ukur untuk menyusun item-item pertanyaan atau pernyataan yang berhubungan dengan variabel penelitian.

(Iskandar, 2009:83)

1. sangat setuju (ss) = 5

2. setuju (s) = 4

3. kurang setuju (ks) = 3 4. tidak setuju (ts) = 2 5. sangat tidak setuju (sts) = 1 3.5. Populasi dan Sample

3.5.1. Populasi

Populasi adalah sekelompok entitas yang lengkap yang dapat berupa orang, kejadian, atau benda yang mempunyai karakteristik yang tertentu, yang berada dalam suatu wilayah dan memenuhi syarat – syarat tertentu yang berkaitan dengan masalah penelitian (Erlina, 2011). Populasi penelitian ini untuk variabel peer review, audit tenure, pengalaman dan pengetahuan auditor serta kualitas audit adalah seluruh auditor independen

yang bekerja pada 19 Kantor Akuntan Publik (KAP) yang berada di Medan (Direktori IAPI, 2015).

3.5.2. Sampel

Sampel adalah bagian dari populasi yang diteliti dan digunakan untuk memperkirakan karakteristik populasi. Sampel yang dipilih dari populasi dianggap mewakili keberadaan populasi. Adapun teknik pengambilan sampel penelitian ini menggunakan Convenience sampling. Penelitian ini menggunakan convenience sampling yang menetapkan sampel dengan mudah sehingga sampel pada penelitian ini sebanyak 35 auditor yang bekerja pada 18 Kantor Akuntan Publik (KAP) di Medan. Metode ini digunakan karena peneliti tidak memiliki data pasti mengenahi jumlah auditor yang ada di Kantor Akuntan Publik di Medan.

3.6. Jenis Dan Sumber Data

Jenis data yang dikumpulkan yaitu data primer merupakan sumber penelitian yang diperoleh secara langsung dari responden atau data yang terjadi di lapangan penelitian yang diperoleh melalui kuesioner.

3.7. Metode Pengumpulan Data

Data dikumpulkan melalui metode kuesioner, yaitu menyebarkan daftar pertanyaan (kuesioner) yang akan diisi atau dijawab oleh responden auditor pada KAP di Medan. Kuesioner akan disebarkan ke seluruh auditor yang bekerja di KAP yang aktif di kota Medan sebanyak 95 eksemplar untuk 19 KAP dimana masing – masing KAP sebanyak 5 eksemplar. Pengukuran variabel-variabel

menggunakan instrumen berbentuk pertanyaan tertutup dengan jumlah pertanyaan sebanyak 31 pertanyaan.

3.8. Uji Validitas Dan Uji Reliabilitas 3.8.1. Uji Validitas

Validitas berarti dapat diterima dan tidak diragukan (sah). Istilah ini mengandung pengertian bahwa yang dinyatakan valid berarti telah sesuai dengan kebenaran yang diharapkan, sehingga dapat diterima dalam kinerja tertentu. Analisa pengujian validitas pada penelitian ini dilakukan dengan mempersiapkan tabulasi jawaban-jawaban responden yang berasal dari kuesioner.

Pengujian validitas dilakukan dengan mengkorelasikan setiap item-item pertanyaan dengan total nilai setiap variabel. Korelasi setiap item pertanyaan dengan nilai total setiap variabel dilakukan dengan teknik korelasi yaitu pearson’s product moment untuk mengetahui apakah variabel yang diuji valid atau tidak, hasil korelasi dibandingkan dengan angka kritis tabel korelasi untuk degree of freedom (df) = n – 2, dan taraf signifikansi 5%. Dasar pengambilan keputusan diambil, jika nilai hasil uji validitas lebih besar dari angka kritis tabel korelasi, maka item pertanyaan tersebut dikatakan valid.

Untuk menentukan tingkat validitas, peneliti menggunakan bantuan program Statistical Product and Service Solutions (SPSS) Versi 16,0.

3.8.2. Uji Reliabilitas

Suatu kuesioner dikatakan reliabel (andal) jika, jawaban seseorang terhadap pertanyaan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu.

Pengukuran reliabilitas dalam penelitian ini menggunakan metode one shot atau diukur sekali saja. Pengukuran yang dimaksud adalah pengukuran yang hanya sekali dan kemudian hasilnya dibandingkan dengan hasil pertanyaan lain. Untuk pengukuran reliabilitas, SPSS memberikan fasilitas untuk mengukur reliabilitas dengan uji statistik Cronbach Alpha. Suatu variabel dikatakan reliabel jika memberikan nilai Cronbach Alpha> 0,60.

3.9. Teknik Analisis

3.9.1. Statistik Deskriptif

Statistik deskriptif merupakan proses transformasi data penelitian dalam bentuk tabulasi, sehingga mudah dipahami dan diinterpretasikan.

Statistik deskriptif umumnya digunakan untuk memberi informasi mengenai varaibel penelitian yang utama. Ukuran yang digunakan berupa : frekuensi, tendensi sentral (rata – rata, median, modus), dispersi (deviasi standar, variance) dan pengukur – pengukur bentuk (measures of shape) (Erlina, 2011).

Statistik deskriptif ini digunakan untuk memberikan gambaran mengenai demografi responden penelitian. Data demografi tersebut antara lain : jabatan, lama pengalaman kerja, keahlian khusus, lama menekuni keahlian khusus tersebut, latar belakang pendidikan, serta gelar profesional lain yang menunjang bidang keahlian. Alat analisis data ini disajikan dengan mengundang tabel distribusi frekuensi yang memaparkan kisaran teoritis, kisaran aktual, rata-rata dari standar deviasi.

3.9.2. Uji Asumsi Klasik

Sebelum model regresi digunakan dalam pengujian hipotesis dalam penelitian ini, model tersebut harus diuji terlebih dahulu apakah memenuhi asumsi klasik atau tidak. Pengujian asumsi klasik digunakan untuk mengetahui apakah hasil estimasi regresi yang dilakukan terbebas dari gejala multikolonieritas, gejala heteroskedastisitas, dan gejala autokorelasi.

3.9.2.1. Uji Normalitas

Tujuan uji normalitas adalah untuk mengetahui apakah dalam model regresi antara variabel dependen dengan variabel independen memiliki distribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah memiliki distribusi data normal atau mendekati normal. Proses uji normalitas data dilakukan dengan menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov. Distribusi data dapat dilihat dengan membandingkan Zhitung

dengan Ztabel dengan kriteria sebagai berikut:

1. Jika Zhitung (Kolmogorov-Smirnov) < Ztabel (1,96), atau angka signifikan > taraf signifikansi (α) 0,05 maka distribusi data dikatakan normal,

2. Jika Zhitung (Kolmogorov-Smirnov) > Ztabel (1,96), atau angka signifikan < taraf signifikansi (α) 0,05 maka distribusi data dikatakan tidak normal.

3.9.2.2. Uji Multikolinearitas

Menurut Umar (2003:132) “multikolinearitas adalah ada tidaknya korelasi yang sempurna atau korelasi yang tidak sempurna tetapi relatif

tinggi pada variabel-variabel bebasnya”. Untuk menguji ada tidaknya multikolinieritas, dapat dilakukan dengan cara:

1. Nilai R2 pada estimasi model regresi,

2. Menganalisis matrik korelasi variabel- variabel independen, 3. Menggunakan variance inflation factor dan nilai tolerance.

Pengujian multikolinieritas data dalam penelitian ini menggunakan variance inflation factor dan nilai tolerance. Multikolinieritas terjadi jika VIF lebih dari 10 dan nilai tolerance lebih kecil dari 0,10. Model regresi linier berganda harus terbebas dari gejala multikolinieritas agar dapat digunakan dalam penelitian.

3.9.2.3. Uji Heteroskedastisitas

Uji Heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain. Jika variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka disebut Homokedastisitas dan jika berbeda disebut Heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah Homokedastisitas tidak terjadi Heteroskedastisitas.

Heteroskedastisitas dalam penelitian ini deteksi dengan menggunakan analisis grafik dan varian tak bersyarat. Analisis grafik, yaitu dengan melihat ada tidaknya pola tertentu pada grafik scatterplot, dimana sumbu Y adalah Y yang telah diprediksi dan sumbu X adalah residual (Y prediksi-Y sesungguhnya). Dasar pengambilan keputusan untuk Heteroskedastisitas dengan analisis grafik, jika tidak terjadi

Heteroskedastisitas. Jika ada pola tertentu, seperti titik-titik yang membentuk pola tertentu yang terbentuk (bergelombang, melebar kemudian menyempit), maka mengindikasikan telah terjadi Heteroskedastisitas.

3.9.3. Model Regresi Berganda

Penelitian ini menggunakan analisis regresi linier berganda. Analisis ini digunakan untuk mengukur kekuatan dua variabel atau lebih dan juga menunjukkan arah hubungan antara variabel dependen dengan variabel independen. Persamaan regresi linier berganda yaitu:

Y = α + β1 X1 + β2 X2 + β3 X3 + β4 X4 + e Keterangan:

α = konstanta

β1, β2, β3, β4 = koefisien regresi variabel independen X1 = Risiko bisnis klien

X2 = Risiko audit X3 = Risiko bisnis KAP X4 = Kompetensi Auditor

Y = Pemilihan klien

3.10. Uji Hipotesis

Uji Hipotesis pada penelitian ini dilakukan untuk menguji pengaruh hubungan dari satu variabel bebas terhadap variabel terikat. Uji hipotesis dalam penelitian ini akan diuji dengan menggunakan analisis regresi linear berganda yaitu analisis yang digunakan untuk mengetahui sejauh mana pengaruh peer review, audit tenure, ukuran KAP dan kompetensi auditor terhadap kualitas audit.

Untuk menguji hipotesis pengaruh peer review, audit tenure, ukuran KAP dan Kompetensi auditor secara parsial maupun simultan terhadap kualitas audit,

digunakan pengujian hipotesis secara simultan dengan uji F dan secara parsial dengan uji t.

3.10.1. Uji T (Uji Secara Parsial)

Uji T dilakukan untuk menguji pengaruh variabel independen (risiko bisnis klien, risiko audit, risiko bisnis KAP, kompetensi auditor) secara parsial terhadap variabel dependen (penerimaan klien). Adapun hipotesis statistik pengujian sebagai berikut:

Ho : β1 = 0 (tidak ada pengaruh risiko bisnis klien, risiko audit, risiko bisnis KAP, kompetensi auditor terhadap penerimaan klien).

H1 ≠ β1 = 0 (ada pengaruh risiko bisnis klien, risiko audit, risiko bisnis KAP, kompetensi auditor terhadap penerimaan klien).

3.10.2. Uji F (Uji Secara Simultan)

Uji F dilakukan untuk melihat secara simultan (bersama-sama) apakah ada pengaruh dari variabel bebas.

Model hipotesis yang dilakukan dalam uji F ini adalah:

Ho : β1 β2 β3 β4 = 0 (artinya risiko bisnis klien, risiko audit, risiko bisnis KAP, kompetensi auditor secara bersama-sama tidak terpengaruh terhadap pemilihan klien).

H1 : β1 β2 β3 β4 ≠ 0 (artinya risiko bisnis klien, risiko audit, risiko bisnis KAP, kompetensi auditor secara bersama-sama berpengaruh terhadap pemilihan klien).

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Data Penelitian

Dalam penelitian ini, data yang diperoleh adalah dari penyebaran kuesioner kepada responden. Responden dalam penelitian ini adalah auditor yang bekerja pada KAP di Medan. Adapun kuesioner yang sudah disebar sebanyak 100 eksemplar kepada 20 KAP di Medan dengan masing-masing KAP dineri 5 eksemplar. Adapun 42 eksemplar tidak dikembalikan dan 23 eksemplar rusak.

Sementara itu, sebanyak 35 kuesioner telah dikembalikan. Data yang dianalisis adalah data kuesioner dari 35 eksemplar yang telah diisi dan dikembalikan kepada peneliti.

Untuk memperoleh gambaran tentang karakteristik responden yang diteliti, dilakukan pengolahan data melalui perhitungan statistik deskriptif yang meliputi perhitungan mengenai jabatan auditor, pengalaman kerja, penghasilan, latar belakang pendidikan, dan keputusan menerima klien.

4.2. Hasil Penelitian

4.2.1. Analisis Deskriptif

Analisis deskriptif adalah analisis yang dilakukan berdasarkan jawaban-jawaban responden, yang dimana responden memberikan pernyataan pernyataan dan penilaian atas pertnyataan-pernyataan yang

diajukan oleh penulis. Kemudian yang diperoleh dari jawaban responden atas pernyataan yang diajukan, selanjutnya dihitung persentasenya.

Analisis deskriptif umunya digunkan untuk memberikan informasi mengenai variabel penelitian yang utama. Analisis deskriptif ini digunakan untuk memberikan gambaran mengenai demografi responden penelitian.

Data demografi tersebut antara lain: jabatan, lama pengalaman, penghasilan, jenjang pendidikan dan keputusan menerima klien.

1. Analisis Deskriptif Responden

Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar auditor yang bekerja di KAP medan adalah jabatan lainnya atau junior auditor, pengalaman kerja 2-5 tahun, penghasilan Rp 2.000.000-Rp 5.000.000, pendidikan S1, . Hal ini dapat dilihat pada tabel yaitu :

Tabel 4.1Karakteristik Responden Berdasarkan Jabatan

No Jabatan Jumlah %

1 Partner 3 8.6

2 Senior 13 37.1

3 Manajer 2 5.7

4 Lainnya 17 48.6

Jumlah 35 100

Berdasarkan tabel 4.1 dapat diketahui bahwa responden dengan jabatan lainnya terbanyak, dimana responden dengan jabatan lainnya sebanyak 17 orang (48.6%), jabatan senior auditor sebanyak 13 orang

(37.1%), jabatan partner sebanyak 3 orang (8.6%) dan jabatan manajer sebanyak 2 orang (5.7%).

Tabel 4.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Pengalaman Kerja

No Pengalaman Jumlah %

1 0-2 tahun 13 37.1

2 2-5 tahun 15 42.9

3 5-10 tahun 2 5.7

4 >10 5 14.3

Jumlah 35 100

Berdasarkan tabel 4.2 dapat diketahui bahwa pengalaman kerja responden yang terbanyak adalah pengalaman responden 0-2 tahun sebanyak 13 orang (37.1%), pengalaman responden 2-5 tahun sebanyak 15 orang (42.9%), selanjutnya pengalaman responden 5-10 sebanyak 2 orang (5.7%), dan diikuti pengalaman responden > 10 sebanyak 5 orang (14.3%).

Tabel 4.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Penghasilan

No Pendidikan Jumlah %

1 Rp 2.000.000-Rp 5.000.000 20 57.1

2 Rp 5.000.000-Rp 10.000.000 11 31.4

3 Rp 10.000.000-Rp 30.000.000 2 5.7

4 >Rp 30.000.000 2 5.7

Jumlah 35 100

Berdasarkan tabel 4.3 menunjukkan data bahwa penghasilan responden yang terbanyak adalah dari penghasilan Rp 2.000.000-Rp 5.000.0000 yaitu sebanyak 20 orang (57.1%). Kemudian responden

(31.4%). Selanjutnya responden dengan penghasilan Rp 10.000.000-Rp30.000.000 sebanyak 2 orang (5.7%), dan >Rp 30.000.000 sebanyak 2 orang (5,7%).

Tabel 4.4 Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan

No Pendidikan Jumlah %

1 D3 1 2.9

2 S1 29 82.9

3 S2 5 14.3

Jumlah 35 100

Berdasarkan tabel 4.4 menunjukkan data bahwa jumlah responden yang terbanyak adalah dari kelompok S1 yaitu sebanyak 29 orang (82.9%), dari jumlah responden. Kemudian responden dengan latar belakang pendidikan S2 sebanyak 5 orang (14.3%). Selanjutnya responden dengan latar belakang pendidikan D3 sebanyak 1 orang (2.9%).

Tabel 4.5 Karakteristik Responden Berdasarkan Keputusan Menerima Klien

No Pendidikan Jumlah %

1 Ya 18 51,4

2 Tidak 17 48,6

Jumlah 35 100

Berdasarkan tabel 4.5 menunjukkan data bahwa jumlah responden yang terbanyak adalah dari kelompok responden yang pernah membuat keputusan menerima klien yaitu sebanyak 18 orang (51,4%), dari jumlah responden. Kemudian responden yang tidak pernah membuat keputusan

2. Hasil Analisis Statistik Deskriptif

Statistik deskriptif adalah proses tranformasi data penelitian dalam bentuk tabulasi, sehingga mudah dipahami dan diinterprestasikan. Statistik deskriptif umumnya digunakan untuk memberikan informasi mengenai variabel penelitian yang utama. Ukuran yang digunakan : frekuensi, tedensi sentral (rata-rata, median, modus), disperasi (deviasi standar, variance) dan pengukur-pengukur bentuk (measures of shape) (Erlina, 2011). Berikut disajikan hasil analisis statistik deskriptif.

Tabel 4.6 Statistik Deskriptif

Descriptive Statistics

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation

Risiko_bisnis_klien 35 28 34 31,74 1,482

Risiko_audit 35 26 34 30,71 2,270

Risiko_bisnis_Auditor 35 24 29 26,77 1,555

Kompetensi_auditor 35 22 30 26,71 2,163

Pemilihan_klien 35 18 25 22,34 2,014

Valid N (listwise) 35

Berdasarkan tabel 4.6 dapat dideskripsikan bahwa jumlah responden (N) ada 35. Dari 35 responden ini variabel, risiko bisnis klien memiliki nilai minimum 28, nilai maksimum 34, nilai rata-rata 31,74 dengan standar deviasi 1,482. Risiko audit memiliki nilai minimum 26, nilai maksimum 34, nilai rata-rata 30,71 dengan standar deviasi 2,270.

Risiko bisnis auditor memiliki nilai minimmum 24, nilai maksimum 29,

dengan nilai minimum 22, nilai maksimum 30, nilai rata-rata 26,71 dengan standar deviasi 2,163. Dan pemilihan klien dengan nilai minimum 18, nilai maksimum 25, nilai rata-rata 22,34 dengan standar deviasi 2,014.

4.2.2. Hasil Analisi Uji Kualitas Data a. Hasil Uji Validitas

Uji validitas bertujuan untuk mengukur sejauh mana suatu alat pengukur atau instrumen pertanyaan dapat mengukur apa yang ingin diukur. Adapun uji validitas yang dilakukan dalam penelitian ini adalah uji validitas untuk setiap butir pernyataan menggunakan kolerasi pearson dengan tingkat signifikan 5% atau 0,05 yang membandingkan rhitung dengan rtabel dengan kriteria valid jika rhitung > rtabel. Tabel dibawa ini menunjukan hasil uji validitas variabel risiko bisnis klien dengan sampel sebanyak 35 responden.

Tabel 4.7Hasil Uji Validitas Risiko Bisnis Klien

Butir Pernyataan rhitung rtabel Keterangan

Pernyataan 1 0,634 0,333 Valid

Pernyataan 2 0,666 0,333 Valid

Pernyataan 3 0,439 0,333 Valid

Pernyataan 4 0,487 0,333 Valid

Pernyataan 5 0,656 0,333 Valid

Pernyataan 6 0,494 0,333 Valid

Pernyataan 7 0,403 0,333 Valid

Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa semua butir pernyataan memiliki nilai rhitung lebih besar dari nilai rtabel sehingga ketujuh butir pernyataan dinyatakan valid.

Tabel dibawah ini menunjukkan hasil uji validitas variabel risiko audit dengan sample 35 responden.

Tabel 4.8Hasil Uji Validitas Risiko Audit

Butir Pernyataan rhitung rtabel Keterangan

Pernyataan 1 0,591 0,333 Valid

Pernyataan 2 0,437 0,333 Valid

Pernyataan 3 0,390 0,333 Valid

Pernyataan 4 0,601 0,333 Valid

Pernyataan 5 0,563 0,333 Valid

Pernyataan 6 0,539 0,333 Valid

Pernyataan 7 0,734 0,333 Valid

Dari tabel 4.8 menunjukkan bahwa tujuh butir pertanyaan risiko audit memiliki nilai rhitung lebih besar dari nilai rtabel. Sehingga tujuh butir pertanyaan ini dinyatakan valid.

Tabel dibawah ini menunjukkan hasil uji validitas variabel risiko audit dengan sample 35 responden.

Tabel 4.9Hasil Uji Validitas Risiko Bisnis Auditor

Butir Pernyataan rhitung rtabel Keterangan

Pernyataan 1 0,642 0,333 Valid

Pernyataan 2 0,763 0,333 Valid

Pernyataan 3 0,554 0,333 Valid

Pernyataan 4 0,525 0,333 Valid

Pernyataan 5 0,634 0,333 Valid

Pernyataan 6 0,617 0,333 Valid

Dari tabel 4.9 menunjukkan bahwa enam butir pernyataan variabel risiko bisnis auditor dinyatakan valid. Hal ini disebabkan karena nilai rhitung

lebih besar dari rtabel.

Tabel dibawah ini menunjukkan hasil uji validitas variabel kompetensi auditor dengan sample 35 responden.

Tabel 4.10Hasil Uji Validitas Kompetensi Auditor

Butir Pernyataan rhitung rtabel Keterangan

Butir Pernyataan rhitung rtabel Keterangan