• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pada masa kepemimpinannya, sikap dan kebijakan Mubarak menunjukan adanya suatu sistem hubungan sipil-militer yang terbentuk berdasarkan pada

159Dina Shehata, 2011, The Fall of The Pharaoh. How Hosni Mubaraks Reign Came to an End , The New Arab Revolt, Foreign Affairs, Vol. 9, No. 3, hal. 33

160 Ibid.

161 Bruce K.Rutherford, 2008, Egypt after Mubarak: Liberalism, Islam, and Democracy In The Arab World. Princeton University Press. Hal.6

74

konsep hubungan sipil-militer oleh Morris Janowit, pola yang terbentuk pada pemerintahan Hosni Mubarak yaitu military oligarchy merupakan tipe dimana militer mempunyai kekuatan politik utama dalam mengendalikan Negara atau politik nasional.162 Adapun bentuk militernya pretorian gurdians, Hal tersebut dikarenakan adanya ketidakstabilan dalam politik yang membuat militer turun tangan mengambil kekuasaan secara penuh. Sehingga peran sipil dalam politik menjadi dibatasi dan ditekan atau dalam kata lain terjadi penghapusan hak-hak politik sipil. Karena Mubarak senantiasa mengisi kursi di pemerintah dengan orang-orangnya saja.

Dilihat dari tahun 1952 hingga 2011, kebijakan pemerintah Mesir didominasi oleh militer. Dengan lebih dari 50 tahun kekuasaan dan peran militer.

Peran dan kekuatan militer selama lebih dari 50 tahun menjadikan Mesir berada di bawah naungan rezim otoriter yang diktaktor. Pada tahun 1952, kepemimpinan Raja Farouk diambil alih oleh “Gerakan Perwira Bebas” yang dipimpin oleh Gamal Abdel Nasser. Di bawah komandonya, sistem pemerintahan Mesir berkembang dari Kerajaan ke bentuk Republik. Nasser juga seorang diktator melawan gerakan Muslim yang makmur di Mesir, salah satunya adalah Ikhwanul Muslimin (IM) yang didirikan pada tahun 1928 oleh Hassan al-Banna.163

Setelah kematian Nasser pada tahun 1970, kepemimpinan Mesir digantikan oleh Wakil Presiden Mohammed Anwar Sadat. Pemerintahan Sadat juga militeristik. Namun, berbeda dengan Nasser yang cenderung “kiri”, kepemimpinan Sadat cenderung membangun sistem pemerintahan sekuler yang

162 Janowitz, Op.Cit.hal 81

163 M.Basyar, 2015, Pertarungan dalam Berdemokrasi: Politik di Mesir, Turki dan Israel. Jakarta:

UI-Press.

75

“kanan”. Di bawah pemerintahan Nasser, Mesir dibangun di atas idealisme nasionalis sosialis " Nasseris", tetapi di bawah pemerintahan Sadat hanya ada sedikit ruang untuk politik dan ekonomi. Kebijakan terbuka Sadat ini untuk mendapatkan dukungan bagi gerakan Muslim Ikhwanul Muslimin. Pada tahun 1972, Sadat membebaskan sekelompok tahanan politik dari Lingkar IM. Namun dalam kasus lain, Sadat tetap menindas gerakan Islam terhadap pemerintahannya.164

Sikap otoriter Sadat yang dianggap sebagai pelanggaran hak asasi manusia itu menuai kecaman dari dunia internasional. Kepemimpinan Sadat berakhir setelah ia disaksikan oleh rakyatnya sendiri. Pada tanggal 1 Oktober 1981, dua minggu setelah kematian Sadat, Wakil Presiden Hosni Mubarak secara resmi menjadi Presiden Mesir. Sebagai mantan Panglima Angkatan Udara Mesir, Hosni Mubarak telah berkuasa selama 30 tahun di Mesir, dan sikap otoriter yang melekat dalam kebijakan ini tidak dapat disangkal. Pada akhirnya, gelombang revolusi di Timur Tengah tahun 2011 berhasil menumbangkan kediktatoran Mubarak. Pemimpin diktator seperti Presiden Zine El Abidine Ben Ali (Ben Ali) di Tunisia, Hosni Mubarak di Mesir, dan Muammar Gaddafi di Libya.165

Pengetatan pembatasan kebebasan politik oleh pemerintah dan polisi melalui penangkapan dan penahanan warga sipil berdampak besar pada pengurangan jumlah kelompok oposisi yang berpartisipasi dalam politik Mesir.

Dalam pemilihan dewan Syura 2007, Ikhwanul Muslimin bahkan tidak bisa memenangkan kursi dan mencoba memboikot semua kampanye negara. Hal

164 Ibid.

165 Ibid.

76

tersebut terjadi setelah banyak calon oposisi mereka yang sah dilarang mendaftar untuk pemilihan lokal/kota.166 Pemilihan parlemen Mesir 2010 adalah kebijakan otoriter Mubarak di negara Mesir dimana partai NPD memenangkan pemilihan lagi, dengan hasil absolut dari 96% suara.167 Meskipun tindakan militer yang represif, tidak lantas menyurutkan keinginan demonstran untuk revolusi. Mubarak tetap tidak mundur dan berjanji untuk merombak kabinet bahkan mengangkat seorang wakil presiden, Omar Sulaiman namun pemberontakan tak kunjung usai.

Hingga akhirnya militer menarik dukungannya dan berada dipihak demonstran dan pada tanggal 11 Februari 2011 Hosni Mubarak mundur.168

Arab Spring atau gelombang demokratisasi di Timur Tengah, juga dikenal sebagai Arab Spring, dimulai dengan protes oleh seorang pemuda bernama Mohamed Bouazizi (Buazizi) di Tunisia. Penjual sayur Buazizi, yang tidak puas dengan pemerintahan Presiden Ben Ali, membakar diri dan memprotes.169 Tidak ada yang menyangka aksi bakar diri Buazizi menjadi penyebab protes besar-besaran di Tunisia yang berujung pada pengambilalihan para pemimpin oleh Presiden Ben Ali.170 Pecahnya protes di Tunisia yang dikenal dengan sebutan Jasmine Revolution dengan cepat menyebar ke negara-negara di Timur Tengah, mulai dari Mesir, Libya, Yaman hingga Suriah.171 Berbagai organisasi masyarakat

166BBC, Egypt Election, diakses dari

http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2012/06/120616_egyptelection.shtml (07/07/202.17.00 WIB)

167 Ibid.

168 Manan. Op.Cit.

169 M. Muttaqien, 2015, Arab Spring: Dimensi Domestik, Regional dan Global. Jurnal Global &

Strategis Vol.9 No.2 hal.262. Diakes dari https://e-journal.unair.ac.id/JGS/article/view/6912/4127 (23/06/2021.12.00 WIB)

170 Ibid., hal. 276.

171 M. A Rahman, 2011, Revolusi Arab Bisa Memudarkan Hegemoni AS di Belahan Dunia Arab.

Harian KOMPAS. Diakses dari

77

dan kelompok radikal turun ke jalan untuk mengorganisir protes menuntut sistem pemerintahan yang lebih demokratis. Memang, sebagian besar negara Timur Tengah menganut sistem monarki diktator atau semi-demokratis.172

Presiden Hosni Mubarak, yang telah berkuasa selama 32 tahun di Mesir, juga terkena gelombang demokrasi. Pemerintahan Mubarak yang korup dan otoriter telah memicu serangkaian protes di beberapa kota Mesir. Revolusi Mesir yang pecah pada 25 Januari 2011 diawali dengan gerakan menentang pemerintahan Mubarak yang dipimpin oleh para aktivis Mesir melalui jejaring sosial Facebook. Aktivis Mesir Asmar Mafoods menyerukan protes di Taharir Square pada 25 Januari 2011. Seruan protes diumumkan pada 18 Januari 2011, memacu ribuan warga Mesir. Mesir turun ke jalan dan mengorganisir protes besar-besaran di Taharir Square. Kairo meminta diktator pemerintahan Hosni Mubarak untuk mengundurkan diri.173

Adanya revolusi yang terjadi pada tahun 2011 tersebut menurut Huntington adanya suatu proses transisi demokratisasi sebagai tahap Replacement, yaitu dimana kelompok oposisi memimpin perjuangan menuju demokrasi dengan cara menggulingkan kekuasaan yang sebelumnya memerintah.

Replacement terdiri dari tiga fase, yaitu: perjuangan untuk menumbangkan rezim, tumbangnya rezim, dan perjuangan setelah tumbangnnya rezim. Adapun dalam hal Mesir pasca penggulingan Mubarak telah mlewati ketiga tahap tersebut yaitu perjuangan panjang yang memakan banyak korban pada revolusi 2011, Mubarak

https://properti.kompas.com/read/2011/10/25/05163112/revolusi.arab.bisa.memudarkan.hegemoni.

as.di.belahan.dunia.arab?page=all (23/06/2021.12.00 WIB)

172 N Nashrullah, 2015, Democratic Propaganda Mid-Spring.

173 Ibid.

78

berhasil ditumbangkan dan kemudian kepemimpinan diisi sementara oleh SCAF.

Pemilihan umum merupakan cara kerja demokrasi, seperti yang dikemukakan oleh Huntington. Pemilihan umum juga merupakan suatu cara untuk memperoleh dan mengahiri rezim-rezim otoriter. Pemilihan umum adalah alat serta tujuan demokratisasi, pemilihan umum bukan hanya merupakan kehidupan demokrasi tapi juga kematian rezim otoriter.174

Protes besar-besaran selama 18 hari di Mesir akhirnya berhasil menggulingkan kediktatoran Mubarak. Pada 11 Februari 2011, Mubarak resmi mengundurkan diri setelah menyerahkan kekuasaan kepada Wakil Presiden Omar Sulaiman sebagai presiden de facto sejak 10 Februari 2011. Dengan berakhirnya pemerintahan Mubarak, Mesir mengalami kekosongan kepemimpinan.

Pemerintah Mesir kemudian diambil alih oleh Dewan Tertinggi SCAF. Pola dan praktik otoriter Mubarak dalam sistem politik Mesir menguat pada 1990-an. Dua faktor utama yang menyebabkan Mubarak untuk memerintah secara luas.

Terutama adanya perlindungan kepada Hosni Mubarak sebagai pemimpin Partai NDP yang berkuasa dan menikmati posisi presiden partai yang berkuasa dengan 90% anggotanya di parlemen.

174 Huntington, Op. Cit., hal 146

Dokumen terkait