• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR GAMBAR

3.1. Hubungan Struktur Biaya dengan Tingkat Persaingan di Pasar

Menurut sudarsono (1995), biaya merupakan semua beban yang harus ditanggung untuk menyediakan barang agar siap dipakai konsumen. Berdasarkan teori biaya tradisional biaya dianalisa dalam kerangka waktu yang berbeda yaitu dalam jangka pendek dan jangka panjang. Dalam jangka pendek terdapat biaya tetap dan biaya variabel, sedangkan dalam jangka panjang semua biaya adalah variabel seperti halnya semua faktor juga variabel dalam kerangka waktu ini.

Biaya tetap didefinisikan sebagai biaya yang jumlahnya tidak tergantung atas besar kecilnya kuantitas produksi yang dilaksanakan. Misalnya antara lain, gaji tenaga kerja administrasi dan pemasaran, penyusutan mesin-mesin, gudang dan lain-lain. Biaya variabel didefinisikan sebagai biaya yang jumlahnya berubah- ubah sesuai dengan perubahan kuantitas produksi yang dihasilkan. Yang termasuk dalam biaya ini antara lain adalah biaya bahan baku, tenaga kerja langsung, dan lain-lain. Biaya ini mempunyai hubungan langsung dengan kuantitas produksi. Perilaku kedua jenis biaya ini dapat dirumuskan dalam bentuk kurva seperti pada Gambar 1 di bawah ini

Keterangan :

BTT : Biaya Tetap total BVT : Biaya Variabel total Q : Output yang dihasilkan

Gambar 1. Kurva Biaya Tetap Total dan Biaya Variabel Total

Kadang-kadang tanpa disadari dalam percakapan sehari-hari dikatakan bahwa biaya total yang besar diasosiasikan dengan mahal dan yang rendah dengan murah. Hal ini tidak sepenuhnya benar, ada alat lain yang lebih bermanfaat untuk maksud tersebut yaitu biaya rata-rata. Biaya tetap rata-rata adalah sama dengan biaya total per satuan produk yang dapat diperoleh dengan cara membagi biaya tetap dengan kuantitas produksi.

Biaya Tetap Rata-rata (BTR) = BTT Q

Karena kuantitas Q dapat dibuat makin besar maka BTR dilukiskan sebagai kurva yang berbentuk diperbola dan asimtotis terhadap sumber kuantitas (Sudarsono, 1995)

Biaya variabel rata-rata menggambarkan besarnya biaya variabel per satuan produk dan dapat diperoleh dengan membagi biaya variabel total dengan kuantitas produksinya.

Biaya Variabel Rata-rata (BVR) = BVT Q

Perilaku biaya variabel rata-rata (BVR) dan biaya rata-rata (BR) hampir sama, yaitu menurun dengan cepat pada kuantitas produksi rendah, kemudian

BTT Q 0 0 Q RP BTT RP BVT BVT

laju penurunannya semakin lambat sampai pada kuantitas produksi tertentu. Bila kuantitas produksi diperluas lagi kurvanya akan naik, dan laju kenaikannya semakin cepat. Penurunan biaya rata-rata ini disebabkan karena kenaikkan produktivitas yang terjadi pada kuantitas produksi yang masih rendah.

Saat hukum kenaikkan tambahan produk (law of increasing returns) berlaku produktivitas naik sedangkan biaya persatuan menurun. Pada saat berlakunya hukum penurunan tambahan produk (law of decreasing returns) yang disebabkan karena penurunan produktivitas faktor produksi, kurva biaya rata-rata naik. Jadi terdapat hubungan berkebalikan antara perilaku produksi yang dicerminkan oleh kurva produksi dengan perilaku biaya yang dicerminkan oleh kurva biaya variabel rata-rata dan biaya rata-rata.

Hal lain yang diperhatikan adalah laju perubahan kurva BVR atau BR. Arah pergerakannya adalah menurun kemudian menaik. Kecepatan lajunya dapat diukur melalui lereng dari kurva total. Lereng kurva mencerminkan berapa tambahan biaya yang harus ditanggung apabila kuantitas produk diperluas. Angka perbandingan antara tambahan biaya total dibagi dengan tambahan produk disebut biaya marginal. Karena biaya tetap total tidak berubah, maka biaya marginal ini dihitung dari biaya variabel total saja (Sudarsono, 1995).

BM =

Q

B

Q

BVT

=

=

=

=

dQ

B

d

dQ

BVT

d(

)

(

)

f1(Q)

Teori biaya juga membahas bagaimana hubungan antara BR, BVR, BTR, dan BM. Hubungan ini dapat dilihat pada Gambar 2. Ada tiga hal yang perlu diperhatikan dari Gambar 2 tersebut yaitu letak atau tempat kedudukan kurva, laju perubahannya, dan titik potongnya. Oleh karena satu kurva berhubungan secara fungsional dengan kurva yang lain.

Keterangan :

BTR : Biaya Tetap Rata-rata BVR : Biaya Variabel Rata-rata BR : Biaya Rata-rata

BM : Biaya Marginal

Q : Output yang dihasilkan

q1 : Output yang dihasilkan pada saat P = BM P : Harga Pasar yang Berlaku

Gambar 2. Hubungan Antara Kurva Biaya Rata-rata dengan Biaya Marginal

Berdasarkan Gambar 2 di atas, terlihat bahwa pada harga produk adalah P dan jumlah produk adalah q1 perusahaan mengalami keuntungan. Ini karena harga barang (P) lebih tinggi dari seluruh biaya yang dikeluarkan baik biaya variabel rata-rata (BVR) maupun biaya tetap rata-rata (BTR). Pada kondisi ini perusahaan dapat bersaing di pasaran. Kondisi pada Gambar 2 di atas merupakan gambaran struktur biaya untuk satu perusahaan dengan penetapan harga P di pasar.

Dari adanya kurva permintaan dan penawaran di pasar maka akan terbentuk harga pasar dari barang tersebut. Harga pasar ini terbentuk dari perpotongan kurva permintaan dan kurva penawaran. Dengan adanya harga pasar ini maka dapat diketahui apakah suatu produsen dapat berkompetisi atau tidak di pasar industri. Hal ini dapat dilihat dari hubungan kurva permintaan dan kurva penawaran dengan kurva biaya. Hubungan dari kedua kurva tersebut dapat dilihat pada Gambar 3.

Perusahaan yang bersifat penerima harga (price taker) maka penetapan harga jual ditentukan dari mekanisme pasar. Penetapan harga ini ditentukan dari

Q 0 RP BVR BTR P q1 BM BR

adanya permintaan dan penawaran terhadap paprika hidroponik di pasar. Harga jual yang berlaku terbentuk dari perpotongan kurva permintaan dan kurva penawaran seperti yang terdapat pada Gambar 3.

Perusahaan yang berada pada pasar persaingan sempurna akan memperoleh keuntungan maksimal pada saat harga sama dengan biaya marginal. Harga awal yang terbentuk di pasar adalah Pp. Gambar 3 menunjukkan bahwa di perusahaan A seluruh biaya yang dikeluarkan lebih kecil baik itu biaya variabel rata-rata (BVR) maupun biaya total rata-rata (BR) dibandingkan dengan harga pasar (Pp) yang berlaku. Pada kondisi tersebut perusahaan A dapat bersaing di pasaran. Kasus yang berbeda terlihat pada perusahaan B, dimana biaya variabel rata-rata (BVR) yang dikeluarkan oleh perusahaan masih berada di bawah harga pasar (Pp). Tetapi biaya total rata-rata (BR) yang dikeluarkan perusahaan B berada di atas harga Pp. Ini berarti sebahagian dari biaya tetap rata-rata (BTR) tidak dapat dibayar oleh perusahaan B dan sebenarnya perusahaan mengalami kerugian. Namun perusahaan B akan lebih untung dibandingkan apabila perusahaan menghentikan seluruh produksinya. Sedangkan pada perusahaan C biaya total rata-rata (BR) dan biaya variabel rata-rata (BVR) yang dikeluarkan lebih besar dibandingkan dengan harga pasar (Pp). Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan C mengalami kerugian karena sudah tidak dapat lagi menutupi biaya-biaya yang dikeluarkan perusahaan.

Pada kondisi tertentu perubahan harga jual di pasar dapat terjadi. Hal ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor yang antara lain karena meningkatnya permintaan terhadap paprika hidroponik di pasar. Dengan adanya peningkatan permintaan ini menyebabkan terjadinya pergeseran pada kurva permintaan. Dengan bergesernya kurva permintaan tersebut maka akan terbentuk harga baru

di pasaran (P1) yaitu dari perpotongan antara kurva permintaan yang baru (D1) dengan kurva penawaran (S).

Dampak dari perubahan harga jual paprika tersebut dapat mempengaruhi kelangsungan hidup dari perusahaan-perusahaan penghasil paprika yang terdapat dalam pasar. Hal ini dapat dilihat pada perusahaan B dan C pada Gambar 3. Kurva pada perusahaan B menunjukkan, dengan adanya harga yang baru (P1) perusahaan sudah dapat menutupi biaya variabel dan biaya totalnya. Ini dapat dilihat dari kurva biaya total rata-rata (BR) dan variabel rata-rata (BVR) yang berada di bawah garis harga baru (P1). Pada kondisi tersebut perusahaan B sudah memperoleh keuntungan dan dapat bersaing kembali di pasar. Kurva pada perusahaan C menunjukkan bahwa dengan harga baru (P1) perusahaan sudah dapat menutupi biaya variabel rata-ratanya. Ini menunjukkan bahwa untuk jangka pendek perusahaan C masih bisa menjalankan usahanya. Tetapi perusahaan C harus berhati-hati dan lebih mengefisiensikan biaya-biaya yang dikeluarkan agar tetap bertahan di pasaran. Kasus yang berbeda terjadi pada perusahaan A. Dimana, perusahaan A masih memperoleh keuntungan dan tetap bertahan dipasaran karena seluruh biaya-biaya yang dikeluarkan perusahaan masih berada di bawah garis harga pasar yang baru (P1). Ini menunjukkan bahwa perusahaan A memiliki sistem pembiayan yang lebih baik dibandingkan dengan kedua perusahaan lainnya.

Adanya perubahan harga ini dapat melihat apakah suatu perusahaan dapat tetap bertahan atau tidak di industri paprika hidroponik. Apabila suatu perusahaan tidak mampu lagi menutupi total biaya rata-rata maka sebaiknya perusahaan keluar dari industri atau dengan kata lain menutup usahanya karena jika tetap bertahan maka perusahaan akan mengalami kerugian. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan tersebut tidak dapat bersaing dengan perusahaan-perusahaan lainnya yang masih bisa bertahan karena terjadinya

perubahan harga tersebut. Dampak dari perubahan harga di atas dapat dilihat pada Gambar 3.

Pasar Perusahaan A Perusahaan B Perusahaan C Keterangan :

PP : Harga pasar

P1 : Harga pasar yang baru QP : Output pasar

Q1 : Output pasar yang baru D : Kurva permintaan

D1 : Kurva permintaan yang baru S : Kurva penawaran

BVR : Biaya variabel rata-rata BTR : Biaya tetap rata-rata BR : Biaya rata-rata

Gambar 3. Hubungan Harga Jual Pasar terhadap Kurva Biaya