• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hubungan Suku Bunga terhadap Utang Luar Negeri

TINJAUAN PUSTAKA

2.2. Suku Bunga

2.2.1. Hubungan Suku Bunga terhadap Utang Luar Negeri

Suku bunga (interest rate) adalah biaya pinjaman atau harga yang dibayarkan untuk dana pinjaman biasanya dinyatakan dalam persentase pertahun (Mishkin, 2010). Ada beberapa suku bunga dalam perekonomian-suku bunga pinjaman hipotek, dan suku bunga dari berbagai jenis obligasi.

Hubungan antara suku bunga dan utang luar negeri dikutip dari beberapa literatur jurnal sebagai berikut :

Tingkat suku bunga memiliki hubungan negatif dengan volume

penyerapan utang luar negeri. Hal ini berarti bahwa ketika tingkat suku bunga pinjaman tinggi, maka Indonesia akan mempertimbangkan ulang keinginan untuk melakukan pinjaman dari negara donor. Sehingga, ketika tingkat suku bunga tinggi, maka volume penyerapan utang luar negeri akan menurun (Hutapea,2007).

Permintaan utang luar negeri juga ditentukan oleh tingkat suku bunga di pasar uang internasional atau lebih tepatnya selisih (SP), yaitu margin di atas LIBOR (London Interbank Offered Rate), (Tambunan, 2008).

Libor adalah London interbank offered rate yaitu suku bunga yang bank-bank utama di London bersedia untuk saling meminjamkan Euro dollar.

LIBOR di gunakan untuk menentukan suku bunga rata-rata pinjaman antara bank di London yang ditetapkan berdasarkan suku bunga yang di tawarkan oleh 16 bank anggota British Bankers Assodation; tingkat bunga LIBOR pada umumnya dijadikan pedoman untuk pemberian pinjaman US Dollar, Euro, Poundsterling, Yen Jepang, dan Franc Swiss dalam jumlah besar kepada negara dan perusahaan yang kelayakan kreditnya kurang baik.

Masalah utang luar negeri yang dialami negara berkembang, termasuk Indonesia adalah beban atau biaya yang harus dibayar utang luar negeri tersebut. Andaikan tidak perlu membayar bunga pinjaman atau bunganya sangat rendah dan waktu pengembalianntya panjang, mungkin utang luar negeri tidak pernah akan dipersoalkan sebagai masalah serius (tambunan 2008).

Didalam lirteratur mengenai utang luar negeri di negara berkembang, indikator yang sering digunakan untuk mengkaji besarnya biaya dari utang luar negeri adalah rasio pembayaran cicilan pokok utang dan bunganya terhadap hasil ekspor, yang umumnya disebut Debt Service ratio (DSR). Indikator ini juga disebut indikator likuiditas perekonomian yang terkait dengan utang luar negeri. Semakin kecil rasio tersebut menandakan semakin tinggi tingkat likuiditas atau semakin kecil beban utang luar negeri. Sebaliknya, jika rasionya mendekati 1 berarti negara bersangkutan sudah praktis bangkrut (tingkar likuiditas sangat rendah), atau terjerumus kedalam krisis utang luar negeri (tambunan, 2008).

2.3. Inflasi

Inflasi secara umum didefinisikan sebagai kenaikan harga secara umum dan terus menerus. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi kecuali bila kenaikan itu meluas (atau mengakibatkan kenaikan harga) pada barang lainnya. Kenaikan harga dari satu atau dua jenis barang saja yang tidak berdampak bagi kenaikan harga barang lain tidak bisa disebut dengan inflasi. Kenaikan harga semacam ini tidak dianggap sebagai penyakit ekonomi yang memerlukan penanganan khusus untuk menanggulanginya.

Kenaikan yang berlangsung secara terus menerus maka perlu adanya tindakan dari pemerintah untuk dapat mengendalikannya, yaitu dengan kebijakan moneter untuk kembali menstabilkan perekonomian (Mankiw, 2006:145).

Laju inflasi merupakan tingkat perubahan harga secara umum untuk berbagai jenis produk dalam rentang waktu tertentu misalnya per bulan, per triwulan atau per tahun. Indikator untuk menghitung laju inflasi adalah indeks harga konsumen (consumer price index). Consumer Price Index (CPI) merupakan indikator yang umum digunakan untuk menggambarkan pergerakan harga. CPI berupa data yang mengukur rata-rata perubahan harga yang dibayarkan oleh konsumen (dalam rata rata) untuk sekelompok barang dan jasa tertentu. IHK dapat digunakan untuk mengukur inflasi bulanan, triwulanan, semesteran, dan tahunan. Perhitungan laju inflasi dengan proksi IHK dapat dirumuskan sebagai berikut:

𝐿𝐼𝑑 = 𝐼𝐻𝐾𝑑 βˆ’ 𝐼𝐻𝐾𝑑 βˆ’ 1 𝐼𝐻𝐾𝑑 βˆ’ 1 Γ— 100% …...….(2.3) Lit = Laju inflasi periode

IHKt = Indeks Harga Konsumen periode t IHKt-1 = Indeks Harga Konsumen periode t-1.

Adapun teori inflasi adalah sebagai berikut:

1) Teori Kuantitas

Teori kuantitas merupakan teori yang paling tua mengenai inflasi, namun teori ini masih sangat berguna untuk menerangkan proses inflasi di jaman yang modern ini, terutama di negara – negara yang sedang berkembang. Teori kuantitas ini menyoroti peranan dalam inflasi dari (Boediono, 2009):

a. Jumlah uang yang beredar

Kejadian seperti ini misalnya, kegagalan panen, hanya akan menaikkan harga-harga untuk sementara waktu saja. Bila jumlah uang tidak ditambah, inflasi akan berhenti dengan sendirinya, apapun sebab awal dari kenaikan harga-harga tersebut.

b. Psikologi (expectations) masyarakat mengenai harga-harga

Laju inflasi ditentukan oleh laju pertambahan jumlah uang yang beredar dan oleh psikologi (harapan) masyarakat mengenai harga- harga di masa mendatang.

Ada 3 kemungkinan keadaan:

1. Bila masyarakat tidak atau belum mengharapkan harga-harga untuk naik pada bulan-bulan mendatang.

2. Dimana masyarakat (atas dasar pengalaman di bulan-bulan sebelumnya) mulai sadar bahwa ada inflasi.

3. Ketiga terjadi pada tahap inflasi yang lebih parah yaitu tahap hiperinflasi, pada tahap ini orang-orang sudah kehilangan kepercayaan terhadap nilai mata uang. Hiperinflasi ini pernah terjadi di Indonesia pacca orde lama dan orde baru.

2) Teori Keynes

Teori Keynes mengenai inflasi didasarkan atas teori makronya, dan menyoroti aspek lain dari inflasi (Boediono, 2009). Menurut teori ini, inflasi

terjadi karena suatu masyarakat ingin hidup diluar batas kemampuan ekonominya. Proses inflasi, menurut pandangan ini, tidak lain adalah proses perebutan bagian rejeki diantara kelompok-kelompok sosial yang menginginkan bagian yang lebih besar daripada yang bisa disediakan oleh masyarakat tersebut. Proses perebutan ini akhirnya diterjemahkan menjadi keadaan dimana permintaan masyarakat akan barang-barang selalu melebihi jumlah barang-barang yang tersedia imbulnya apa yang disebut inflationary gap. Inflationary gap timbul karena adanya golongan-golongan masyarakat tersebut berhasil menerjemahkan aspirasi mereka menjadi permintaan yang efektif akan barang-barang.

3) Teori Strukturalis

Teori mengenai inflasi yang didasarkan atas pengalaman di negara- negara Amerika latin. Teori ini memberikan tekanan pada ketegaran (rigdities) dari struktur perekonomian negara-negara sedang berkembang. Menurut Boediono (2009), karena inflasi dikaitkan dengan faktor-faktor struktural dari perekonomian (yang menurut definisi, faktor-faktor ini hanya bisa berubah secara gradual dan dalam jangka panjang) maka teori ini bisa disebut teori inflasi jangka panjang.

Faktor-faktor penyebab Inflasi menurut (Sadono Sukirno, 2004:333) yaitu:

1. Inflasi Tarikan Permintaan.

Inflasi ini terjadi pada masa perekonomian berkembang dengan pesat.

Kesempatan kerja yang tinggi menciptakan tingkat pendapatan yang tinggi

dan selanjutnya menimbulkan pengeluaran yang yang melebihi kemampuan ekonomi mengeluarkan barang dan jasa sehingga menimbulkan Inflasi.

2. Inflasi Desakan Biaya.

Inflasi desakan biaya terjadi dalam masa perekonomian berkembang dengan pesat ketika tingkat pengangguran adalah sangat rendah.

3. Inflasi Diimpor.

Inflasi yang diimpor atau Imported Inflation merupakan kenaikan harga yang sangat dipengaruhi oleh tingkat harga-harga yang terjadi pada barang-barang yang diimpor, sehingga kenaikan harga barang-barang tersebut akan sangat berdampak terhadap kenaikan harga barang-barang di dalam negeri.

Dokumen terkait