BAB III KERANGKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN
3.2 Hipotesis Penelitian
3.2.1 Hubungan Variabel Independen dengan
Kepemilikan saham perusahaan dapat dimiliki oleh institusi eksternal seperti perusahaan asuransi, bank, perusahaan pengelola dana pensiun dan perusahaan keuangan lainnya. Adanya saham yang dimiliki institusi perusahaan keuangan meningkatkan kontrol dan keleluasaan untuk memonitor (Pound, 1988) aktivitas bisnis perusahaan, sehingga dapat mengurangi celah bagi manajer untuk melakukan hal yang berlawanan dengan kepentingan pemangku kepentingan.
Kepemilikan institusi juga dapat memberikan hak voting bagi pemegang saham yang menyertakan proporsi saham tertentu kepada perusahaan dan berhak mengajukan saran dan masukan atas kebijakan atau keputusan yang akan diambil oleh manajemen. Dengan adanya pemantauan dari pihak eksternal, manajer akan berusaha untuk meningkatkan kinerja perusahaan dan dengan demikian meningkatkan nilai perusahaan tersebut.
Berdasarkan literatur terdahulu, ditemukan bahwa kepemilikan institusi berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan (Putu et al., 2014). Hal ini menunjukkan adanya kesadaran yang tinggi dari perusahaan yang mengimplementasikan Good Corporate Governance (GCG), di mana penerapan GCG diwujudkan dengan meningkatkan kepemilikan oleh institusi eksternal.
Sedangkan literatur yang diteliti oleh Silitonga (2012), Rosari (2015), dan Zurriah (2016) menyatakan kepemilikan institusi tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Hal ini diakibatkan oleh rendahnya tingkat monitoring (pengawasan) sehingga GCG berjalan tidak efektif dan menimbulkan biaya agensi (agency cost).
: Kepemilikan Institusi berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan.
3.2.1.2.Pengaruh Komisaris Independen Terhadap Nilai Perusahaan
Keberadaan komisaris independen diperlukan dalam perusahaan untuk menengahi konflik agensi yang timbul antara principal dan agent. Komisaris independen dipilih untuk bertugas sebagai supervisor perusahaan dan mengawasi secara langsung aktivitas manajemennya (Zulfikar et al., 2017). Oleh karena itu, komisaris independen diharapkan mampu bersikap objektif dan tidak memiliki kepentingan sendiri (self-interest). Apabila komisaris independen melaksanakan tugasnya secara efektif, nilai suatu perusahaan dapat meningkat.
Akan tetapi, hasil literatur terdahulu menyatakan bahwa kehadiran komisaris independen tidak mempengaruhi kinerja perusahaan (Rosari, 2015;
Zurriah, 2016). Hal ini disebabkan oleh lemahnya objektivitas pengawasan terhadap manajemen atau dewan direksi sehingga berdampak pada penurunan
nilai perusahaan. Sedangkan literatur oleh Hariani (2012) menemukan bahwa komisaris independen berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap nilai perusahaan. Hal ini disebabkan oleh banyaknya sampel perusahaan yang tidak memiliki komisaris independen dalam perusahaannya.
: Komisaris independen berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan.
3.2.1.3.Pengaruh Komite Audit Terhadap Nilai Perusahaan
Komite audit adalah pihak yang diberi tanggung jawab untuk menilai hasil kerja auditor internal dan eksternal apakah pelaporan keuangan telah memenuhi standar atau belum. Komite audit menangani masalah sistem kontrol manajemen dan bagaimana cara meningkatkan prosedur pengawasan dalam perusahaan. Blue Ribbon Committee (1999) menyatakan bahwa komite audit harus terdiri sedikitnya 3 (tiga) anggota agar pelaksanaan GCG dapat tercapai. Komite audit berusaha mempertahankan kualitas laporan keuangan sehingga kecurangan (frauds) dapat diminimalisir dan nilai perusahaan meningkat.
Berdasarkan literatur terdahulu oleh Silitonga (2012) menganalisis bagaimana pengaruh komite audit terhadap nilai perusahaan yang tergabung dalam Indeks LQ-45 selama periode 6 (enam) tahun dengan sampel sebesar 10 perusahaan. Silitonga (2012) menjelaskan bahwa komite audit tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan. Hasil ini menunjukkan bahwa keberadaan komite audit bukan merupakan jaminan kinerja perusahaan dapat menjadi lebih baik, dengan demikian mencerminkan nilai perusahaan tidak meningkat.
: Komite audit berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan.
3.2.1.4.Pengaruh Profitabilitas Terhadap Nilai Perusahaan
Profitabilitas menunjukkan seberapa besar kemampuan perusahaan dalam mengelola pengembalian asset menjadi laba. Laporan keuangan yang menampilkan peningkatan laba perusahaan menunjukkan bahwa manajemen berhasil meningkatkan kinerja operasional dan nilai perusahaan. Modigliani dan Miller (Brigham, 1999) menyatakan bahwa nilai perusahaan ditentukan berdasarkan tingkat profitabilitasnya. Oleh karena itu, semakin tinggi rasio profitabilitas, semakin tinggi pula nilai suatu perusahaan.
Berdasarkan literatur terdahulu menemukan bahwa profitabilitas berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan (Hariani, 2012; Putu et al., 2014;
Riny, 2016). Hasil ini mendukung teori Modigliani dan Miller (Brigham, 1999) yang menerangkan bahwa nilai perusahaan berhubungan erat dengan tingkat profitabilitasnya.
: Profitabilitas berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan.
3.2.1.5.Pengaruh Financial Leverage Terhadap Nilai Perusahaan
Memperoleh suntikan dana tambahan dari pihak eskternal seperti bank memberikan biaya (cost) dan manfaat (benefits) sekaligus. Disatu sisi, penambahan dana dapat memperlancar aktivitas operasional dan menjaga keberlangsungan hidup perusahaan (going concern). Disisi lain, meningkatnya financial leverage mengakibatkan tingginya resiko pembayaran utang yang berakhir dengan kebangkrutan (financial distress). Menurut Cuong dan Canh (2012) rasio leverage yang melebihi 59,27% akan mempengaruhi nilai perusahaan
secara negatif. Di mana menyebabkan financial leverage tidak berkontribusi dalam meningkatkan nilai perusahaan.
Berdasarkan literatur terdahulu, financial leverage tidak berpengaruh (Zurriah, 2016) dan berpengaruh negatif tidak signifikan (Hariani, 2012) terhadap nilai perusahaan. Hasil ini menunjukkan bahwa sampel perusahaan yang diteliti memiliki nilai hutang (debt) yang kecil sehingga investor tidak menggunakan financial leverage sebagai dasar pengambilan keputusan investasi. Sedangkan Obradovich dan Amarjit (2013) menemukan bahwa financial leverage berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Hal ini membuktikan bahwa perusahaan yang memperoleh dana tambahan berupa utang (debt) telah mengelola kas dan asset secara bijak dan mentransformasinya menjadi laba.
: Financial Leverage berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan.
3.2.1.6.Pengaruh Ukuran Perusahaan Terhadap Nilai Perusahaan
Ukuran perusahaan tercermin dari tinggi atau rendahnya harga saham di pasar dan juga seberapa besar asset yang dimiliki oleh suatu perusahaan. Menurut Issar (2017), proporsi harga saham dikali dengan jumlah saham yang beredar menunjukkan ukuran perusahaan, apakah perusahaan tersebut tergolong kecil, sedang atau besar. Semakin tinggi harga saham yang dijual di pasar modal, mencerminkan tingginya nilai perusahaan dan laba bersih, sehingga menunjukkan bahwa kinerja perusahaan meningkat. Dengan demikian, semakin besar ukuran perusahaan semakin tinggi pula nilai suatu perusahaan.
Berdasarkan penelitian terdahulu, ukuran perusahaan berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan (Orlitzky, 2001; Putu et al., 2014; Rosari, 2015;
Zurriah, 2016) terhadap nilai perusahaan. Karena perusahaan besar cenderung memiliki kondisi yang tidak stabil, menyebabkan naik turunnya harga saham di pasar modal. Sehingga investor menaruh perhatian terhadap perusahaan tersebut.
Dan ukuran perusahaan berpengaruh positif tidak signifikan (Hariani, 2012) terhadap nilai perusahaan. Hasil ini menunjukkan bahwa perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic Index (JII) adalah perusahaan dengan kapitalisasi besar, sehingga investor yang berinvestasi pada perusahaan tersebut tidak menjadikan ukuran perusahaan sebagai dasar pengambilan keputusan.
: Ukuran perusahaan berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan.
3.2.2. Hubungan Variabel Moderating dalam Memoderasi Hubungan