BAB I PENDAHULUAN
1.6 Originalitas Penelitian
Penelitian ini merupakan pengembangan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Silitonga (2012) yang meneliti Good Corporate Governance terhadap nilai perusahaan dengan menggunakan variabel profitabilitas sebagai variabel moderating. Perbedaan terdahulu dengan penelitian ini terletak pada variabel independen, penambahan faktor sebagai variabel moderating dan populasi penelitian.
Tabel 1.1 Ikhtisar Originalitas Penelitian
Penelitian Silitonga Penelitian Ini Pengaruh Mekanisme Good
Governance terhadap Nilai Perusahaan dengan Manajemen Laba sebagai Variabel Moderating.
Analisis Faktor yang Mempengaruhi Nilai Perusahaan dengan Manajemen Laba sebagai Variabel Moderating:
Studi pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di ISSI Tahun 2014-2018.
Variabel Independen:
Corporate Governance Variabel Independen:
Corporate Governance
Populasi Penelitian: Indeks LQ-45 Populasi Penelitian: Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI)
Sumber: Ikhtisar Originalitas Penelitian diolah Peneliti (2019).
Beberapa penambahan variabel dalam penelitian ini adalah faktor kinerja keuangan seperti profitabilitas, leverage dan ukuran perusahaan di mana penelitian terdahulu hanya menganalisis Good Corporate Governance dalam kaitannya terhadap nilai perusahaan. Peneliti menjadikan manajemen laba sebagai variabel moderating karena faktor ini dipercaya dapat memperkuat atau
memperlemah hubungan antara faktor-faktor yang diteliti terhadap nilai perusahaan. Ikhtisar dari originalitas penelitian tercantum dalam tabel 1.1 tersebut di atas.
BAB II
LANDASAN TEORI DAN TELAAH PENELITIAN TERDAHULU
2.1. Landasan Teori
2.1.1. Teori Keagenan (Agency Theory)
Teori agensi bukanlah merupakan konsep yang baru. Banyak disiplin ilmu yang mengangkat teori agensi dalam literatur yang digunakan oleh para sarjana, khususnya di bidang akuntansi (Reichelstein, 1992). Teori agensi berasal dari pandangan ekonomi yang membahas tentang pembagian resiko (Eisenhardt, 1989), yang melibatkan dua pihak, yaitu principal dan agent. Pemegang saham selaku principal dalam teori agensi, memberikan tanggung jawab untuk mengelola utilitas kepada manajer atau agent, agar dapat mendapatkan hasil sesuai dengan yang diharapkan oleh principal.
Teori agensi menjelaskan hubungan keagenan yang timbul karena adanya kontrak perjanjian antara the principal dengan the agent (Jensen dan Meckling, 1976), di mana adanya perbedaan kepentingan diantara kedua belah pihak dapat terjadi dalam melaksanakan hubungan keagenan tersebut. Principal menginginkan imbal hasil atas perjanjian kontrak yang dilakukan dengan perusahaan, dan agent selaku pihak yang menguasai informasi lebih banyak daripada principal, dapat bertindak bertentangan dengan perjanjian kontrak dan merugikan principal (Burnham, 1941). Dengan adanya perbedaan kepentingan tersebut timbul pergeseran pembagian resiko (Bendickson, 2016), di mana principal akan menanggung lebih banyak resiko apabila agent bertindak atas dasar kepentingan pribadi atau intrinsic egoist (Kultys, 2016) sehingga terjadilah konflik agensi.
Konflik agensi timbul karena setiap individu mengutamakan keuntungan mereka sendiri, sehingga masing-masing individu akan berusaha untuk memaksimalkan kepentingan mereka dan menimbulkan asimetri informasi.
Asimetri informasi adalah perbedaan informasi yang dimiliki antara principal dan agent (Safriliana et al., 2019) yang mengakibatkan adanya ketidakseimbangan informasi (Nasution dan Doddy, 2007). Manajemen mengelola dan mengontrol perusahaan lebih besar dibanding pemegang saham, sehingga agent memperoleh informasi internal secara lebih luas daripada pihak pemangku kepentingan yang lain. Agent dapat memanfaatkan asimetri informasi yang dimilikinya untuk menyembunyikan beberapa informasi terkait penyajian kinerja keuangan dan memaksimalkan kepentingannya dalam bentuk earnings management (Siahaan, 2017).
Adanya earnings management yang dilakukan oleh suatu perusahaan dapat mempengaruhi tingkat nilai perusahaan tersebut. Motivasi agent dalam mengatur laba seperti penghindaran pajak (tax avoidance), meningkatkan harga saham ataupun untuk keperluan peminjaman dana bank dapat mempengaruhi agent dalam mengambil keputusan berdasarkan kesempatan dan kepentingan dirinya sendiri sehingga nilai perusahaan berubah tergantung dari motivasi manajemen dalam mengatur laba. Principal yang memercayakan dananya kepada perusahaan ingin imbal hasil dan kinerja yang bagus dari manajemen atau agent.
Principal akan menanggung resiko yang lebih besar apabila agent tidak bekerja untuk mensejahterakan para investor dan tentunya principal tidak menginginkan hal tersebut. Teori agensi membahas masalah perbedaan kepentingan antara
principal dan agent. Dengan demikian, teori agensi mendasari hubungan antara principal dan agent dan nilai perusahaan.
2.1.2. Teori Signal (Signaling Theory)
Signaling theory menggambarkan proses di mana individu mengambil keputusan dalam situasi asimetri informasi (Certo, 2003) di mana teori signal pertama kali dikonseptualisasikan oleh Spence (1973). Pemegang saham yang menginvestasikan dananya ke suatu perusahaan tidak dapat memastikan nilai suatu perusahaan di masa datang (future value). Oleh karena itu, pemegang saham bergantung kepada ‘signal’ untuk mengurangi ketidakpastian mengenai masa depan kinerja perusahaan. Suatu signal dapat berupa informasi (Zurriah, 2016) mengenai apa yang telah manajemen lakukan dalam rangka merealisasikan harapan pemegang saham. Signal juga dapat berupa promosi atau informasi lain yang menyatakan bahwa suatu perusahaan lebih baik dari perusahaan lain (Zurriah, 2016).
Connelly et al. (2011) menunjukkan bahwa terdapat 2 (dua) situasi yang melibatkan asimetri informasi di mana signaling theory diberlakukan, yaitu: (1) kasus di mana asimetri informasi terjadi antara dua pihak, satu pihak mampu membatasi kemampuan pihak lain dalam menilai suatu nilai atau kualitas terhadap nilai atau kualitas yang lain; dan (2) kasus di mana asimetri informasi membatasi pemahaman satu pihak terhadap perilaku yang diharapkan atau maksud dari perilaku yang lain.
Signaling theory telah diterapkan dalam berbagai literatur ekonomi.
Dilihat dari perspektif makro, banyak peneliti telah menyatakan bahwa karakteristik organisasi dapat berfungsi sebagai signal kepada pihak luar atas reputasi perusahaan, kualitas dan/atau prestige (Bergh et al., 2010). Dalam setiap situasi, perusahaan dinyatakan sebagai pemberi signal, dan satu atau lebih organisasi luar dipandang sebagai penerima signal (Ehrhardt et al., 2014).
Penerima signal dapat berupa pihak diluar organisasi, pemegang saham perusahaan, calon investor, atau anggota masyarakat pada umumnya (Basdeo et al., 2006).
Perusahaan memberikan signal kepada investor melalui laporan keuangan yang diterbitkan. Kinerja perusahaan tercermin dari laporan keuangannya. Laba yang meningkat menunjukkan bahwa nilai perusahaan meningkat. Hal ini merupakan signal positif atau pertanda baik bagi investor bahwa perusahaan telah menjalankan tanggung jawabnya untuk mensejahterakan investor. Namun, apabila laba menurun atau bahkan rugi diikuti dengan penurunan nilai perusahaan, memberikan signal negatif atau pertanda tidak baik bagi investor. Hal tersebut menunjukkan bahwa manajemen tidak memberikan imbal hasil atau mengelola dana investor secara efektif dan efisien. Dengan demikian, teori signaling merupakan teori yang berkaitan erat dengan pemangku kepentingan dan nilai perusahaan.
2.1.3. Teori Struktur Modal (Capital Structure Theory)
Struktur modal merupakan keputusan manajemen dalam mengelola aktivitas pendanaan dengan menyesuaikan persentase antara modal (equity) dan utangnya (debt/leverage). Terdapat dua teori yang membahas mengenai faktor yang mempengaruhi tingkat leverage, yaitu trade-off theory (Modigliani dan Miller, 1963) dan pecking order theory (Donaldson, 1961).
Berdasarkan trade-off theory (Modigliani dan Miller, 1963), adanya sumber pendanaan berasal dari utang (leverage) menghasilkan biaya (cost) dan manfaat (benefits). Perusahaan dapat meningkatkan nilai perusahaan apabila perusahaan menggunakan 100% debt leverage dengan mengurangi pembayaran pajak (tax shield) dan keseluruhan pendanaan berasal dari modal (equity). Akan tetapi, hal tersebut baru akan tercapai apabila perusahaan dapat mengimbangi pengurangan pembayaran pajak (tax shield) dengan resiko kebangkrutan (financial distress) (Shyam-Sunder dan Myers, 1999). Semakin banyak debt leverage, maka semakin sulit bagi perusahaan untuk melunasi utang jangka panjangnya di kemudian hari. Sebagaimana ditegaskan oleh peneliti terdahulu, menyatakan bahwa financial leverage yang tinggi akan menurunkan nilai perusahaan seiring dengan meningkatnya resiko gagal bayar perusahaan (Obradovich dan Amarjit, 2013). Financial leverage dapat diukur dengan debt ratio. Cuong dan Canh (2012) menemukan bahwa debt ratio yang optimal (total debt to total assets ratio) seharusnya tidak melebihi 59,27% dan apabila rasio dinilai lebih dari batas tersebut akan mempengaruhi nilai perusahaan secara negatif.
Adapun alternatif dari trade-off theory, adalah pecking order theory.
Menurut pecking order theory (Donaldson, 1961), beberapa faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya debt ratio adalah adanya ketidakseimbangan antara arus kas internal, jumlah dividen, dengan kesempatan investasi (real investment opportunities). Menurut model teori pecking order yang disempurnakan oleh Myers dan Majluf (1984), menyatakan bahwa tidak terdapat debt ratio optimal sehingga kebijakan pendanaan akan diputuskan berdasarkan hirarki, yang berarti perusahaan lebih memilih pendanaan yang bersumber dari internal daripada eksternal. Adapun susunan hirarki menurut Myers dan Majluf (1984) yaitu: (1) laba ditahan; (2) sumber pendanaan eksternal berupa utang (debt); dan (3) sumber pendanaan eksternal berupa modal (equity).
2.1.4. Nilai Perusahaan
Salah satu tujuan perusahaan adalah memaksimalkan nilai perusahaan.
Menurut teori perusahaan (the theory of the firm) tujuan utama perusahaan adalah untuk memaksimalkan kekayaan atau nilai perusahaan (Sartono, 2009) melalui kenaikan harga saham (Fama, 1978). Dengan memaksimalkan nilai perusahaan, manajemen telah bertanggung jawab terhadap pemegang saham dan berhasil mensejahterakan pihak pemangku kepentingan. Laporan keuangan merupakan cerminan keberhasilan kinerja perusahaan dalam upaya memaksimalkan nilai perusahaan. Pencapaian nilai suatu perusahaan dapat dilihat dari tinggi rendahnya harga saham, peningkatan laba bersih tahunan, dan nilai buku.
Para ahli mendefinisikan nilai perusahaan secara berbeda-beda. Menurut Weston dan Copeland (2001), nilai perusahaan adalah jumlah hutang dan ekuitas berdasarkan nilai pasar. Menurut Harmono (2009), nilai perusahaan adalah kinerja perusahaan yang tercermin dari harga saham yang dibentuk oleh permintaan dan penawaran pasar modal yang merefleksikan penilaian atau persepsi masyarakat mengenai kinerja perusahaan tersebut. Adapun menurut Brigham dan Ehrhardt (2005) bahwa nilai perusahaan merupakan nilai sekarang (present value) dari free cash flow di masa mendatang pada tingkat diskonto sesuai dengan rata-rata tertimbang biaya modalnya. Free cash flow merupakan cash flow yang tersedia bagi investor (kreditor dan pemilik) setelah memperhitungkan seluruh pengeluaran operasional dan investasi serta asset lancar bersih.
Manajer selaku agent perusahaan, dituntut untuk mengelola dan meningkatkan kekayaan principal. Manajer dalam mengambil keputusan pendanaan, keputusan investasi, dan kebijakan dividen dapat mempengaruhi pihak lain dan nilai perusahaan (Fama dan French, 2007). Oleh karena itu, manajer harus memutuskan strategi dan langkah-langkah yang efektif (Mahirun dan Andi, 2018) agar nilai perusahaan menjadi optimal.
Rasio keuangan berfungsi untuk menganalisis sejauh mana kinerja perusahaan telah tercapai. Rasio Tobin’s Q (Tobin dan Brainard, 1968; Tobin dan Brainard, 1977; Tobin, 1969; dan Tobin, 1978) banyak digunakan dalam literatur keuangan sebagai proksi untuk mengukur nilai perusahaan. Rasio Tobin’s Q juga digunakan untuk menjelaskan berbagai fenomena dan keputusan keuangan (Fu et al., 2016).
2.1.5. Good Corporate Governance
Konflik agensi dan tindakan memanajemen laba dapat merugikan pihak pemangku kepentingan khususnya pemegang saham. Konflik agensi dan manajemen laba dapat diatasi dengan menerapkan mekanisme good corporate governance. Good corporate governance dianggap sebagai perangkat yang membatasi kepentingan manajer untuk mengejar kepentingan pemegang saham (Kultys, 2016).
Berdasarkan pernyataan Forum Corporate Governance Indonesia (2001), corporate governance adalah seperangkat aturan yang mengatur hubungan antara pemegang saham, manajer, kreditor, pemerintah, karyawan, dan pemangku kepentingan internal dan ekternal lainnya terkait dengan hak dan kewajiban mereka. Sementara menurut Kathryn et al. (2016), corporate governance adalah gambaran portofolio terhadap proses yang memandu dan mengendalikan organisasi sehingga perusahaan dapat memenuhi tanggung jawabnya sebagai warga negara. Proses-proses tersebut bersifat cross-functional, yang bersinggungan dengan semua segi operasi bisnis, termasuk akuntansi, ekonomi, keuangan, manajemen dan strategi (Bisoux, 2004).
Corporate governance dapat memberikan banyak manfaat. Salah satu hal yang dapat dikontribusikan dalam penerapan mekanisme corporate governance adalah mencegah agent untuk bertindak atas dasar kepentingan pribadi dengan mengubah kinerja laporan keuangan yang dapat merugikan principal. Namun, corporate governance yang buruk dan kontrol keuangan yang lemah menjadikan manajer dan pemilik pengendali dapat mengatur penghasilan yang dilaporkan
untuk menutupi kinerja perusahaan yang sebenarnya Jensen dan Meckling (1976).
Hal ini dapat mempengaruhi ketidakstabilan nilai perusahaan karena manajer memegang kendali atas pengambilan keputusan khususnya keuangan. Tentunya manajemen laba harus dicegah dengan menerapkan corporate governance dalam perusahaan sebagai alat untuk mengendalikan penggunaan earnings yang sebenarnya (Jouber dan Hamadi, 2012).
Teori stakeholder menjelaskan bahwa setiap kelompok atau individu dapat mempengaruhi atau dipengaruhi oleh suatu kelompok atau individu yang lain (Freeman dan McVea, 2001) untuk mencapai tujuan tertentu. Setiap stakeholder memiliki kepentingan dan menanggung resiko yang berbeda. Manajemen selaku pihak yang memiliki informasi lebih banyak daripada investor dapat menggunakan informasi tersebut untuk kepentingannya sendiri, termasuk mengelola tingkat laba sesuai dengan yang ditargetkan perusahaan melalui praktek manajemen laba. Sehingga penerapan mekanisme good corporate governance dapat menengahi masalah antara manajemen dengan investor yang memiliki kepentingan yang berbeda dan membantu meningkatkan kinerja dan nilai perusahaan serta mengurangi praktek manajemen laba.
Penelitian Hidayat dan Retno (2014) membuktikan bahwa penerapan good corporate governance dapat mengurangi resiko asimetri informasi. Dengan demikian diharapkan good corporate governance dapat mengurangi biaya agensi dan mencegah konflik antara agent dan principal. Penerapan good corporate governance apabila diaplikasikan secara efektif dapat meningkatkan nilai perusahaan dan memberikan signal yang positif melalui kinerja operasional
perusahaan. Kolsi dan Rihab (2015) juga menyarankan pentingnya untuk mengelola good governance secara internal dan eksternal.
Good corporate governance terdiri dari pengelolaan mekanisme internal dan eksternal. Penelitian ini fokus kepada mekanisme internal yang berdasarkan literatur terdahulu mencakup beberapa faktor, seperti kepemilikan institusi (Sriwedari, 2009; Sibarani, 2010; Putu et al., 2014; Rosari, 2015; Zurriah, 2016;
Siahaan, 2017), komisaris independen (Sibarani, 2010; Hariani, 2012; Rosari, 2015; Azis, 2016), dan komite audit (Silitonga, 2012; Azzahra, 2017; Maulana, 2017).
2.1.5.1.Kepemilikan Institusi
Kepemilikan institusi adalah penyertaan saham yang dimiliki oleh pemangku kepentingan eksternal selain daripada kepemilikan manajerial.
Sebagaimana didefinisikan oleh Yang et al. (2009) bahwa kepemilikan insitusional adalah saham perusahaan yang dimiliki oleh suatu institusi, seperti perusahaan asuransi, institusi keuangan (bank, perusahaan keuangan, kredit), dana pensiun, investment banking dan perusahaan lainnya yang terkait dengan kategori tersebut.
Adanya kepemilikan saham oleh banyak pemangku kepentingan, memberikan kontrol atas perusahaan terutama bagi pemegang saham yang memiliki penyertaan saham sebanyak proporsi tertentu. Hal ini merupakan dampak dari diberlakukannya good corporate governance melalui “political approach” (Pound, 1992). Pendekatan politik (political approach) disebabkan
karena adanya peningkatan sejumlah penyertaan yang dramatis oleh pemegang saham institusi sehingga hal tersebut: (1) memotivasi para pemegang saham untuk memonitoring manajemen; dan (2) menyediakan peluang atau hak voting dalam rapat umum (Pound, 1992). Dengan adanya pemantauan eksternal dari pemegang saham institusi, manajemen akan memiliki lebih sedikit celah untuk memanipulasi pelaporan keuangan melalui manajemen laba dan dapat memperbaiki kinerja perusahaan sehingga nilai perusahaan semakin baik. Dengan demikian, semakin tinggi tingkat kepemilikan institusional maka tingkat pengendalian pihak eksternal terhadap perusahaan akan semakin kuat (Silitonga, 2012) dan nilai perusahaan juga akan meningkat.
Pengaruh kepemilikan institusi terhadap nilai perusahaan dapat berupa pengaruh positif atau negatif. Terdapat 4 (empat) hipotesis yang menjelaskan pengaruh kepemilikan pemegang saham institusi terhadap nilai perusahaan (Pound, 1988), yaitu: (1) efficient monitoring hypothesis; (2) conflict of interest hypothesis; (3) the strategic alignment hypothesis; dan (4) efficiency abatement hypothesis.
The efficient monitoring hypothesis atau biasa disingkat monitoring hypothesis (Pound, 1988), menjelaskan bahwa terdapat hubungan positif antara kepemilikan institusi terhadap nilai perusahaan. Hal ini disebabkan karena adanya pemonitoringan manajemen oleh pemegang saham institusi sehingga perusahaan harus mendiskusikan keputusan yang ingin diambil terlebih dahulu kepada pemilik institusi. Pemegang saham institusi dapat memberikan masukan berupa persetujuan atau penolakan terhadap keputusan manajemen melalui hak voting
mereka. Hipotesis ini telah dibuktikan oleh peneliti terdahulu, bahwa kepemilikan institusi berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan (Putu et al., 2014).
Conflict of interest hypothesis menyatakan bahwa (Pound, 1988) pemegang saham institusi yang memiliki kepentingan bisnis terhadap perusahaan tempat mereka berinvestasi, terpaksa untuk menyelaraskan diri dengan keputusan manajemen perusahaan untuk menghindari hal-hal yang dapat membahayakan ikatan bisnis mereka. Dalam hal ini, pemegang saham institusi akan bertindak pasif dalam memonitoring manajemen. Oleh karena itu, kepemilikan institusi dapat berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan.
Begitu juga dengan the strategic alignment hypothesis, menjelaskan bahwa pemegang saham institusi dan manajer perusahaan bekerja sama untuk mengelola sumber daya perusahaan untuk saling menguntungkan satu sama lain dan tidak mementingkan kepentingan pemegang saham yang lain (Pound, 1988).
Akibatnya pemegang saham institusi tidak memonitor manajemen dan tidak mengutamakan kinerja perusahaan. Dengan demikian, kepemilikan institusi berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan.
Efficiency abatement hypothesis berpendapat bahwa pemegang saham institusi mungkin memiliki pandangan yang kurang jelas mengenai investasi mereka dalam suatu perusahaan (Pound, 1988). Pemegang saham institusi yang pasif lebih memilih untuk menjual saham mereka ketika kinerja perusahaan memburuk daripada memantau dan mempengaruhi keputusan manajemen (Duggal dan Millar, 1999). Jadi, sebagai pemegang saham institusi yang pasif, kepemilikan institusi dapat tidak mempengaruhi nilai perusahaan sama sekali.
Dengan demikian, kepemilikan institusi dapat meningkatkan nilai perusahaan karena adanya pengawasan dari pemegang saham terhadap manajemen. Hal ini sejalan dengan hipotesis efficient monitoring (Pound, 1988).
Kepemilikan institusi juga dapat menurunkan nilai perusahaan apabila pemegang saham bekerja sama dengan manajer untuk mengelola asset perusahaan sehingga membawa keuntungan bagi kedua belah pihak. Hal ini sesuai dengan hipotesis strategic alignment (Pound, 1988).
2.1.5.2.Komisaris Independen
Komisaris independen adalah anggota dewan komisaris yang tidak memiliki kepemilikan saham dalam perusahaan dan/ atau berhubungan dengan salah satu anggota dewan komisaris yang dapat mempengaruhi sikapnya dalam bertindak secara independen (Zulfikar et al., 2017). Komisaris independen merupakan bagian penting dari mekanisme corporate governance yang berfungsi untuk mengawasi dan mengendalikan konflik kepentingan antara pemegang saham mayoritas (controlling shareholders) dan pemegang saham minoritas (minority shareholders) yang dapat mengakibatkan ketidakefisienan dalam pengelolaan perusahaan. Dengan adanya komisaris independen, biaya agensi yang mungkin timbul akibat perbedaan kepentingan antar shareholders tersebut dapat diminimalisasi (El-Chaarani, 2014).
Seorang anggota dewan komisaris tidak dapat dikatakan independen apabila anggota tersebut telah bekerja dalam perusahaan yang sama lebih dari 5 (lima) tahun (Kim et al., 2010). Terdapat setidaknya 3 (tiga) karakteristik
mengenai komisaris independen, antara lain: (1) adanya direktur dari komisaris independen; (2) pemisahan antara ketua direksi dengan CEO; dan (3) eksistensi dari nasional komite independen (Chtouru et al., 2001).
Kehadiran komisaris independen dalam struktur organisasi perusahaan seharusnya dapat mencegah terjadinya manajemen laba (earnings management) dalam proses pelaporan keuangan. Pada saat kinerja perusahaan menurun, direktur komisaris independen dapat memberhentikan CEO yang tidak efektif menjalankan aktivitas manajemen (Hidayat dan Retno, 2014). Chief Executive Officer (CEO) atau di Indonesia lebih dikenal sebagai direktur utama atau presiden direktur, adalah posisi tertinggi dalam jajaran eksekutif yang bertanggung jawab terhadap seluruh kegiatan operasional perusahaan (Sudana dan Ni Putu, 2017). Manajemen laba cenderung terjadi pada tahun saat pergantian CEO dan pada tahun-tahun sesudahnya (Bengston et al., 2006). CEO yang baru menjabat juga dapat mengatur laba untuk memperbesar kemungkinan perolehan laba yang lebih tinggi pada periode berikutnya (Scott, 2000).
Fama dan Jensen (1983) menekankan pentingnya kehadiran komisaris independen karena dapat mengendalikan keputusan dewan direksi dari tindakan oportunistik sehingga mampu melindungi kepentingan pemegang saham. Selain itu, komisaris independen bertugas untuk memantau perusahaan secara efektif agar terhindar dari kemungkinan terjadinya tindakan kolusi dengan pihak manajer yang mempengaruhi kesejahteraan pemegang saham (Dhaliwal, 2007) sehingga nilai perusahaan dapat meningkat.
2.1.5.3.Komite Audit
Adanya komite audit dalam mekanisme corporate governance mengatasi konflik agensi antara manajemen dengan pemegang saham. Komite audit bertugas untuk menjaga dan meningkatkan kualitas laporan keuangan sehingga laporan yang dihasilkan handal (reliable) dan terpercaya (trustworthy). Keikutsertaan komite audit dalam mengawasi aktivitas bisnis perusahaan telah diwajibkan sejak tahun 2001 di Indonesia dan telah dilaksanakan oleh seluruh perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
Adapun peran dan tugas terkait dengan komite audit (Fauzi et al., 2017) antara lain: (1) menilai pelaksanaan kegiatan dan hasil audit yang dilakukan oleh auditor internal dan eksternal dalam mencegah pengimplementasian dan pelaporan yang tidak memenuhi standar; (2) merekomendasikan hal-hal terkait peningkatan sistem kontrol manajemen perusahaan dan implementasinya; (3) memastikan adanya prosedur peninjauan yang memuaskan terhadap informasi yang dikeluarkan oleh badan usaha milik negara (BUMN); dan (4) melaksanakan tugas lainnya yang diberikan oleh komisaris atau dewan pengawas. Anggota komite juga harus mengidentifikasi, mengevaluasi, mencalonkan dan memfasilitasi seorang direktur baru kepada pemegang saham (Fauzi et al., 2017).
Keberadaan komite audit dapat mengurangi konflik kepentingan dan biaya agensi sehingga nilai perusahaan dapat meningkat (Reddy, Locke & Scrimgeour, 2010). Cadbury Committee (1992) menyatakan bahwa ukuran komite audit harus relevan dan dipertimbangkan dengan seksama guna mencapai efektivitas pemantauan (Lin, Li & Yang, 2006). Selain itu, Blue Ribbon Committee (1999)
menegaskan kembali bahwa komite audit harus mencapai setidaknya 3 (tiga) orang yang disesuaikan dalam rangka melaksanakan mekanisme corporate governance.
Ukuran komite audit yang lebih besar memberikan beberapa keuntungan, seperti status dan otoritas perusahaan (Kalbers dan Fogarty, 1993), dasar pengetahuan yang lebih luas (Karamanou & Vafeas, 2005), informasi keuangan yang sehat (Anderson & Reeb, 2004), dan fungsi internal audit yang lebih andal (Turley & Zaman, 2004).
Dengan demikian, komite audit yang mencapai standar minimum Blue Ribbon Committee (1999) sebanyak 3 (tiga) orang menjadikan penerapan mekanisme good corporate governance efektif sehingga dapat meningkatkan nilai perusahaan.
2.1.6. Profitabilitas
Profitabilitas merupakan salah satu pengukuran kinerja operasional perusahaan yang tercermin dari labanya. Banyak dari pemangku kepentingan yang menilai kinerja suatu perusahaan berdasarkan laporan keuangan. Pandangan tersebut masih berorientasi pada laba (profit oriented) (Putu et al., 2014). Tak jarang pemangku kepentingan menganggap bahwa sukses tidaknya perusahaan dalam menjalankan aktivitas bisnisnya dilihat dari segi profitabilitas. Semakin tinggi laba yang didapat perusahaan, maka nilai perusahaan akan semakin tinggi dan harga saham juga meningkat, menunjukkan bahwa perusahaan berkinerja baik.
Megawati (2010) mendefinisikan profitabilitas sebagai kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba (profit). Modigliani dan Miller (Brigham, 1999) menyatakan bahwa nilai perusahaan ditentukan berdasarkan tingkat profitabilitasnya. Profitabilitas yang tinggi menunjukkan bahwa perusahaan memiliki prospek yang bagus (Sujoko, 2007). Para pemangku kepentingan akan menilai kinerja perusahaan dan lebih tertarik berinvestasi dalam perusahaan yang mampu menghasilkan laba, sehingga harapan untuk memperoleh pembayaran deviden yang lebih tinggi akan tercapai.
Rasio profitabilitas menurut Brigman dan Houston (2001) terdiri dari Net Profit Margin, Gross Profit Margin, Earning Per Share, Return on Assets, Return on Equity, dan Return on Investment. Return on Assets (ROA) merupakan salah satu ukuran rasio profitabilitas yang digunakan untuk mengetahui seberapa besar
Rasio profitabilitas menurut Brigman dan Houston (2001) terdiri dari Net Profit Margin, Gross Profit Margin, Earning Per Share, Return on Assets, Return on Equity, dan Return on Investment. Return on Assets (ROA) merupakan salah satu ukuran rasio profitabilitas yang digunakan untuk mengetahui seberapa besar