• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hubungan Antar Variabel Indikator Lingkungan Terhadap Kinerja Lingkungan

HASIL DAN PEMBAHASAN

B. Pabrik Kernel Oil (PKO)

II. Variabel indikator lingkungan (X n )

5.3. Hubungan Antar Variabel Indikator Lingkungan Terhadap Kinerja Lingkungan

Analisis hubungan antar variabel indikator lingkungan terhadap kinerja lingkungan dilakukan dengan meggunakan analisis jalur (path analysis). Variabel penelitian yaitu sebagai berikut:

a. Variabel endogen (Y) = Kinerja lingkungan

b. Variabel Eksogen (Xn) = Keberlanjutan (X1); Dampak pada kualitas hidup (X2); Beban lingkungan (X3); Kepatuhan terhadap persyaratan lingkungan, hukum dan peraturan (X4); Konsumsi sumber daya (X5); Keanekaragaman hayati (X6); Bukti bahwa organisasi memenuhi komitmen lingkungan (X7);

dan, Risiko lingkungan akibat aktivitas organisasi (X8).

Berdasarkan hasil analisis korelasi Pearson pada Tabel 5.3. disimpulkan bahwa seluruh variabel memiliki hubungan yang positif dan signifikan. Variabel kinerja lingkungan memiliki hubungan positif dan signifikan terhadap variabel

indikator lingkungan, yaitu masing-masing: dampak pada kualitas hidup (X2);

beban lingkungan (X3); keanekaragaman hayati (X6); dan, risiko lingkungan akibat aktivitas organisasi (X8). Sedangkan variabel keberlanjutan (X1) dan konsumsi sumber daya (X5) tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kinerja lingkungan.

Beberapa variabel indikator lingkungan memiliki hubungan yang kuat hingga sangat kuat, yaitu sebagai berikut:

a. Variabel keberlanjutan memiliki korelasi sangat kuat dengan dengan variabel konsumsi sumber daya.

b. Variabel dampak pada kualitas hidup memiliki korelasi kuat dengan lebih dari satu variabel yaitu: beban lingkungan; keanekaragaman hayati; serta, risiko lingkungan akibat aktivitas organisasi.

c. Variabel beban lingkungan memiliki korelasi kuat dengan variabel keanekaragaman hayati

d. Variabel kepatuhan terhadap persyaratan lingkungan, hukum serta peraturan memiliki korelasi kuat dengan variabel bukti bahwa organisasi memenuhi komitmen lingkungan.

e. Variabel konsumsi sumber daya memiliki korelasi kuat dengan variabel bukti bahwa organisasi memenuhi komitmen lingkungan.

f. Variabel keanekaragaman hayati memiliki korelasi kuat dengan variabel risiko lingkungan akibat aktivitas organisasi.

Tabel 5. 3. Matriks korelasi antar variabel

Keterangan X1 X2 X3 X4 X5 X6 X7 X8 Y

Keberlanjutan X1 1.000 Dampak pada

*Korelasi dengan signifikansi pada nilai ≤ 0,05

**Korelasi dengan signifikansi pada nilai ≤ 0,01 Korelasi sangat kuat

Analisis regresi terhadap seluruh variabel (Lampiran 4) menghasilkan nilai koefisien jalur (standardized coefficient), sehingga diperoleh persamaan sebagai berikut:

Y = -0.339X1 + 0.379X2+ 0.109X3 - 0.083X4 + 0.227X5 + 0.242X6 + 0.125X7 + 0.197X8 + 0.656 (2)

Koefisien jalur untuk variabel lain diluar model dihitung dengan menggunakan nilai R2 (koefisien determinasi) yaitu:

P= √1 − 0.570 = 0.656

Perhitungan diatas menunjukkan bahwa sumbangan atau kontribusi variabel indikator lingkungan terhadap kinerja lingkungan adalah sebesar 57%, sedangkan sisanya sebesar 43% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak diteliti.

Berdasarkan nilai signifikansi dari koefisien jalur (Lampiran 4), variabel indikator lingkungan yang berpengaruh pada kinerja lingkungan adalah variabel:

keberlanjutan (X1); dan, dampak pada kualitas hidup (X2). Sedangkan koefisien jalur dari: X3 ke Y; X4 ke Y; X5 ke Y; X6 ke Y; X7 ke Y; serta X8 ke Y, tidak bermakna dengan nilai sig lebih besar dari 0,05. Nilai koefisien jalur menunjukkan bahwa koefisien jalur dari X1 ke Y dan X2 ke Y secara statistic bermakna dengan nilai sig dibawah 0,05. Sehingga variabel yang mempunyai pengaruh positif pada kinerja lingkungan adalah variabel keberlanjutan (X1) dan dampak pada kualitas hidup (X2).

Analisis regresi kembali dilakukan untuk variabel indikator lingkungan yang bermakna secara statistik (Lampiran 5), sehingga diagram jalur menjadi seperti pada Gambar 5. 1. dengan persamaan struktural (4). Diagram jalur hanya memiliki 2 variabel eksogen yaitu X1 dan X2 serta satu variabel endogen yaitu Y.

Hasil pengujian menunjukkan koefisien jalur X1 sebesar -0.043 dan koefisien jalur X2 sebesar 0.666, namun hanya variabel X2 yang signifikan dengan nilai sig lebih kecil dari 0.05. Nilai koefisien jalur variabel diluar model dihitung dengan menggunakan nilai R2 (koefisien determinasi) seperti dibawah ini.

P= √1 − 0.436 = 0.751

Kontribusi variabel keberlanjutan dan dampak pada kualitas hidup terhadap pengukuran kinerja lingkungan adalah sebesar 43,6 %, sedangkan sisanya sebesar 56,4 % dijelaskan oleh variabel lain yang tidak diteliti.

Gambar 5. 1. Diagram jalur antara X1, X2, dan Y

Y= -0.043X1 + 0.666X2 + 0.751 (4) Karena variabel X1 memiliki nilai sig lebih besar dari 0.05 dan tidak bermakna secara statistik, maka proses pengujian diulangi kembali dengan mengeluarkan X1 dari model. Hasil analisis regresi X2 terhadap Y (Lampiran 6) menunjukkan bahwa variabel X2 memiliki nilai sig lebih kecil dari 0.05 dan bermakna secara statistik, sehingga persamaan strutural menjadi seperti persamaan (5) dengan koefisien jalur variabel diluar model adalah:

P= √1 − 0.434 = 0.752

Y= 0.659X2 + 0.752 (5)

Pengaruh X2 yang secara langsung menentukan perubahan pada Y adalah nilai R square sebesar 43,4%, sedangkan pengaruh dari variabel lain yang tidak dimasukkan dalam penelitian adalah sebesar 56,5%. Berdasarkan hasil pengujian terhadap kedelapan variabel, hanya variabel dampak pada kualitas hidup yang bermakna secara statistik dengan pengaruh sebesar 43,4% terhadap variabel kinerja lingkungan.

Berdasarkan analisis korelasi, variabel variabel dampak pada kualitas hidup memiliki korelasi dengan variable-variabel: beban lingkungan; keanekaragaman

Y ɛ

0.666X2

-0.043X1

r 0.158 X1

X2

0.751

hayati; serta, risiko lingkungan akibat aktivitas organisasi. Berdasarkan korelasi tersebut kembali dilakukan analisis jalur untuk ketiga variable tersebut dengan variable dampak pada kualitas hidup sebagai variable intervening. Persamaan structural disusun sebagai berikut:

X4 = PX4X1 + PX4X2 + PX4X3 + Ꞓ1 (6) Y = PYX1X1 +PYX3X3 + PYX4X4 + Ꞓ2 (7) Dimana:

Y = Kinerja lingkungan X1 = Beban lingkungan X2 = Keanekaragaman hayati X3 = Risiko lingkungan

X4 = Dampak pada kualitas hidup

Gambar 5. 2. Diagram jalur antara X1, X2, X3, X4 dan Y

Analisis regresi untuk persamaan (6) menunjukkan bahwa variabel-variabel:

beban lingkungan, keanekaragaman hayati, dan risiko lingkungan memiliki kontribusi sebesar 53% untuk menjelaskan perubahan yang terjadi pada variabel dampak pada kualitas hidup (Lampiran 7). Sedangkan sisanya sebesar 47%

dijelaskan oleh variabel lain di luar model. Variabel yang memiliki pengaruh signifikan adalah variabel keanekaragaman hayati dengan signifikansi < 0.05,

PYX1X1

X1

X4 Y X2 PX4X2

X3

PYX3X3

PYX4X4

sedangkan variabel beban lingkungan dan risiko lingkungan memiliki signifikansi masing-masing 0.797 dan 0.675 sehingga dieliminasi dari model. Persamaan structural menjadi:

P= √1 − 0.530 = 0.685

X4 = 0.571X2 + 0.685 (8)

Hasil analisis regresi persamaan (7) menggambarkan bahwa variabel-variabel: beban lingkungan, risiko lingkungan dan dampak pada kualitas hidup, memiliki kontribusi sebesar 51.1% untuk menjelaskan perubahan yang terjadi pada variabel kinerja lingkungan (Lampiran 8). Sedangkan sisanya sebesar 48,9 % dijelaskan oleh variabel lain di luar model. Variabel yang memiliki pengaruh signifikan adalah beban lingkungan dan dampak pada kualitas hidup dengan signifikasi masing-masing 0.048 dan 0.01, sehingga variabel risiko lingkungan dieliminasi dari model. Persamaan structural menjadi:

P= √1 − 0.511 = 0.699

Y = 0.228X1 +0.445X4 + 0.699 (9)

Gambar 5. 3. Diagram jalur persamaan (8) dan (9)

0.228

Pengaruh tidak langsung variabel keanekaragaman hayati terhadap variabel kinerja lingkungan yang melalui variabel dampak pada kualitas hidup adalah: 0.571 x 0.445 = 0.254. Sedangkan variabel beban lingkungan memiliki pengaruh tidak langsung yaitu: 0.033 x 0.445 = 0.146.

5. 4. Kinerja Lingkungan di KEK Sei Mangkei

Variabel dampak pada kualitas hidup mencakup pencegahan terhadap polusi udara, pemanasan global, kebisingan dan bau, yang pengelolaannya tercantum pada dokumen Amdal KEK Sei Mangkei. Skoring kuesioner bernilai 604 dari total skor 696 menunjukkan sikap dan persepsi responden terhadap pengelolaan terhadap polusi udara, pemanasan global, pencegahan kebisingan dan bau di KEK Sei Mangkei dianggap telah berjalan dengan baik.

Variabel dampak pada kualitas hidup memiliki hubungan yang kuat dengan variabel-variabel: beban lingkungan; keanekaragaman hayati; serta, risiko lingkungan akibat aktivitas organisasi. Maka, variabel indikator lingkungan yang disarankan pada pengukuran kinerja lingkungan di KEK Sei Mangkei adalah:

dampak pada kualitas hidup; beban lingkungan; keanekaragaman hayati; dan, risiko lingkungan. Tipe pengukuran yang disarankan pada pengukuran kinerja lingkungan di KEK Sei Mangkei adalah pengukuran di akhir proses yang akan menghasilkan indikator tertinggal (lagging indicator). Penggunaan tipe pengukuran ini relative mudah untuk diidentifikasi dan dipahami, serta data yang telah dikumpulkan dapat digunakan untuk kepentingan bisnis lainnya (Global Environmental Management Initiative, 1998).

Menurut Hashim et al. (2014) industri kelapa sawit berkontribusi pada isu

lingkungan seperti: konsumsi energi, pembuangan limbah padat dan limbah cair (POME), emisi gas rumah kaca, serta pencemaran air karena penanganan limbah yang tidak tepat. KEK Sei Mangkei sebagai kawasan industri berbasis sawit dan karet tidak dapat menghindar dari isu tersebut. Pengelolaan lingkungan berbasis Amdal telah dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku sebagai tindakan preventif seperti yang diamanatkan dalam UU Nomor 32 tahun 2009 pada lampiran penjelasan bahwa industri menghasilkan produk serta menimbulkan dampak yang dapat mengancam lingkungan hidup, kesehatan, dan kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lain.

KEK Sei Mangkei dengan luas lahan mencapai 1933.80 Ha disediakan untuk kawasan dengan zona industry sawit dan karet, logistic serta pariwisata. Namun, hingga Mei 2018 hanya 3 (tiga) tenant yang melakukan aktivitas operasional, karenanya PT. Kinra yang berperan dalam bidang jasa pengelolaan dan pemasaran KEK Sei Mangkei mempunyai tanggung jawab besar untuk mengoptimalkan kawasan secara ekonomi. Kondisi KEK yang belum optimal dari sisi pemanfaatan lahan dapat menjadi keuntungan bagi pengelola untuk melakukan pengelolaan lingkungan secara maksimal sehingga pada saat pengelola dan tenant mendapatkan keuntungan secara ekonomi, kerusakan lingkungan dapat dihindari. Hubungan antara aspek ekonomi dan kinerja lingkungan harus dipahami oleh pengelola dan tenant, seperti yang diungkapkan oleh Viegas (2005) bahwa pemahaman yang sama antara pengelola dan tenant berguna untuk melakukan kontrol terhadap aspek lingkungan yang disesuaikan dengan kebijakan, target dan sasaran organisasi sehingga pengukuran kinerja lingkungan dapat dilakukan. Pemahaman tentang pengukuran kinerja lingkungan dapat dilakukan melalui sosialisasi atau pelatihan,

seperti yang dikutip dari hasil penelitian Daily et al. (2004) bahwa bahwa pelatihan dan pemberdayaan tentang lingkungan penting bagi manager dan karyawan serta berkaitan erat dengan kemampuan untuk bekerjasama terutama pada karyawan.

Merujuk pada filosofi KEK Sei Mangkei sebagai “ECO Industrial Park“

yang mengedepankan prinsip keberlanjutan dan ramah lingkungan, maka simbiosis industry antar tenant mutlak dilakukan. Seperti pendapat Jacobsen (2006) yang menyatakan bahwa konsep simbiosis industri harus dipahami sebagai hubungan antara ekonomi dan kinerja lingkungan. Felicio and Amaral (2013) menambahkan bahwa pemanfaatan produk sampingan dan pengolahan limbah merupakan ciri dari kawasan eko-industri (Eco-Industrial Park) yang keberhasilannya ditentukan oleh kemampuan organisasi yang mengelola dan berperan dalam memperkenalkan konsep simbiosis dan mendorong tenant untuk melakukannya. KEK Sei Mangkei telah memiliki sebagian dari ciri kawasan eko-industri dimana pertukaran produk sampingan dan pengelolaan limbah telah dilakukan.

Penelitian ini hanya mampu mendapatkan data dari tenant yang memiliki afiliasi dengan PTPN III (PKO dan PKS), sedangkan PT. Unilever Oleochemical Indonesia belum dapat berpartisipasi sebagai responden dalam penelitian ini.

Kondisi ini dapat dipahami dalam konteks penelitian dilakukan oleh pihak diluar KEK Sei Mangkei, namun akan menyulitkan pada saat dilakukannya pengukuran kinerja lingkungan. Kinerja lingkungan berhubungan dengan kendali organisasi terhadap aspek lingkungan berdasarkan kebijakan lingkungan, target dan sasaran.

Penelitian ini menunjukkan dari keseluruhan 16 (enam belas) variabel, hanya variabel dampak pada kualitas hidup yang bernilai signifikan secara statistic,

kondisi ini menunjukkan bahwa pemahaman pengelola dan tenant terhadap variabel-variabel pengukuran kinerja lingkungan masih sangat minim.

Oleh sebab itu, pemahaman pengelola dan tenant terhadap pentingnya pengelolaan lingkungan menjadi modal untuk dilakukannya pengukuran kinerja lingkungan sebagai instrumen pengelolaan lingkungan di KEK Sei Mangkei.

Keterbukaan tenant dalam memberikan informasi yang diperlukan untuk pengukuran kinerja lingkungan menjadi faktor penting bagi pengelola untuk menganalisis kebijakan dan mengambil keputusan yang diperlukan untuk keberlanjutan kawasan. Sebagaimana hasil penelitian Liu et al., (2011) dan Meng et al. (2013) yang menyatakan bahwa pengukuran kinerja lingkungan berguna

sebagai evaluasi yang efektif untuk mengatur dan memperbaiki manajemen pencemaran dan perlindungan lingkungan, serta menyediakan informasi secara kuantitatif untuk menganalisis kebijakan lingkungan dan pengambilan keputusan.

Nababan et al, (2017) menyebutkan perbedaan antara KEK Sei Mangkei dengan kawasan industri di Thailand dan Malaysia adalah letaknya yang berada pada kawasan pemukiman, sehingga pengelolaan lingkungan di KEK Sei Mangkei akan berbeda dengan pengelolaan kawasan industri lainnya. Temuan lapangan menggambarkan lokasi kolam pengolahan air limbah berjarak kurang lebih 300 meter dari permukiman penduduk, serta metering gas station yang berjarak kurang dari 500 meter dari perumahan karyawan. Karenanya dibutuhkan pemahaman dari penduduk sekitar tentang dampak dari aktivitas kawasan sehingga dapat menjaga dan berperan dalam pengelolaan lingkungan di KEK Sei Mangkei. Smeets dan Weterings (1999) juga menekankan bahwa indikator kinerja lingkungan merupakan alat yang berguna untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap

permasalahan lingkungan. Dukungan public dapat ditingkatkan dengan menyediakan informasi serta merespon setiap dampak lingkungan yang dirasakan masyarakat akibat aktivitas di kawasan industry.

Analisis jalur menggambarkan pengaruh variabel dampak pada kualitas hidup terhadap kinerja lingkungan di KEK Sei Mangkei sebesar 43,4% sedangkan variabel lain tidak signifikan. Variabel lain yang tidak dapat diabaikan yaitu variabel-variabel: a) beban lingkungan; b) keanekaragaman hayati; dan, c) risiko lingkungan akibat aktivitas organisasi, karena variabel-variabel tersebut memiliki hubungan yang kuat dengan variabel dampak pada kualitas hidup. Pengaruh variabel lain sebesar 56,5% menggambarkan besaran pengaruh dari variabel yang tidak dimasukkan dalam penelitian ini, sehingga dapat disimpulkan bahwa masih ada variabel lain yang belum tercantum dalam dokumen Amdal sehingga luput dari pengelolaan.

Pengaruh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam penelitian menggambarkan bahwa Amdal KEK Sei Mangkei belum mampu untuk mengatasi dampak lingkungan yang timbul. Hasil penelitian ini berseberangan dengan hasil penelitian Parajuli and Lee (2017) yang menyatakan bahwa Amdal merupakan alat terbaik untuk mengintegrasikan dampak lingkungan dan memfasilitasi sesuai dengan kategori industri serta sesuai dengan aktivitas organisasi yang berdampak pada lingkungan. Amdal kawasan hanya mampu memberikan pemahaman kepada pengelola dan kawasan tentang konsep keberlanjutan yang menjadi visi misi kawasan. Karenanya penting dilakukan pengukuran kinerja lingkungan dengan mengacu pada ISO 14031 guna meningkatkan daya saing kawasan yang hingga saat

ini pengembangannya baru mencapai 35% dari keseluruhan luas lahan yang direncanakan (Husni, Nababan, & Delvian, 2018).

Kinerja lingkungan yang merupakan sistem pengelolaan lingkungan yang berhubungan dengan kontrol organisasi terhadap aspek lingkungan berdasarkan kebijakan lingkungan, target dan sasaran, lebih tepat untuk diterapkan di KEK Sei Mangkei yang memiliki aktivitas beragam serta dalam tahap pengembangan.

Kebijakan, target dan sasaran kawasan senantiasa bersifat dinamis mengikuti perkembangan kawasan baik dari segi infrastuktur, regulasi serta situasi ekonomi nasional maupun internasional.

BAB VI

Dokumen terkait