T E S I S
Oleh
NOBRYA HUSNI 167004002/PSL
SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2018
T E S I S
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh Gelar Magister
Sains dalam Program Studi Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan pada Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara
Oleh
NOBRYA HUSNI 167004002/PSL
SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
Telah diuji pada
Tanggal: 27 Desember 2018
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua : Dr. Esther Sorta Mauli Nababan, M.Sc Anggota : 1. Dr. Delvian, SP, MP
2. Dr. Ir. Nelson Manumpak Siahaan, Dipl TP. M.Arch 3. Rulianda Purnomo Wibowo, SP, Mec
Judul Tesis
ANALISIS INDIKATOR LINGKUNGAN UNTUK PENGUKURAN KINERJA LINGKUNGAN KAWASAN INDUSTRI
BERBASIS SAWIT DI KEK SEI MANGKEI
Dengan ini penulis menyatakan bahwa tesis ini disusun sebagai syarat untuk meraih gelar Magister pada Program Studi Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara adalah benar merupakan hasil karya penulis sendiri.
Adapun pengutipan-pengutipan yang penulis lakukan pada bagian-bagian tertentu dari hasil karya orang lain dalam penulisan tesis ini, telah penulis cantumkan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah, dan etika penulisan ilmiah.
Apabila di kemudian hari ternyata ditemukan seluruh atau sebagian tesis ini bukan hasil karya penulis sendiri atau adanya plagiat dalam bagian-bagian tertentu, penulis bersedia menerima sanksi pencabutan gelar akademik yang penulis sandang dan sanksi- sanksi lainnya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.
Medan, Desember 2018 Penulis,
Nobrya Husni
DI KEK SEI MANGKEI
ABSTRAK
Pengukuran kinerja lingkungan merupakan evaluasi yang dilakukan untuk mengatur dan memperbaiki pengelolaan pencemaran dan sistem perlindungan lingkungan ekologis ecara efektif. Evaluasi terhadap kinerja lingkungan dimulai dari perencanaan, pelaksanaan, serta monitoring dan implementasi. Pada tahapan perencanaan, pemilihan terhadap indikator untuk evaluasi kinerja lingkungan penting dilakukan. KEK Sei Mangkei merupakan pengembangan bisnis dalam bentuk kawasan khusus untuk pusat industri yang berbasis kelapa sawit dan karet.
Filosofi KEK Sei Mangkei sebagai “ECO Industrial Park“ dengan pengembangan hilirisasi sumber daya alam hasil perkebunan di Sumatera Utara terutama kelapa sawit dan karet, mengedepankan prinsip keberlanjutan dan ramah lingkungan dalam mengeksplorasi sumber daya alam menjadi produk siap pakai yang berkualitas. Tujuan penelitian yaitu: 1) mendapatkan variabel indikator lingkungan pada KEK Sei Mangkei; dan, 2) menganalisis hubungan antar variabel indikator lingkungan untuk pengukuran kinerja lingkungan pada KEK Sei Mangkei. Pendekatan survey serta analisis data secara deskriptif untuk menentukan variabel indikator lingkungan digunakan untuk menjawab tujuan penelitian. Hubungan sebab akibat antara setiap variabel indikator lingkungan dianalisis secara kuantitatif menggunakan analisis jalur (path analysis). Sampel penelitian adalah: PT. Perkebunan Nusantara (PTPN) 3; PT. Kawasan Industri Nusantara (Kinra); Badan Administrator KEK Sei Mangkei; Pabrik Palm Kernel Oil (PKO); dan, Pabrik Kelapa Sawit (PKS). Metode pengambilan sampel menggunakan cluster random sampling sesuai peran organisasi didalam KEK Sei Mangkei. Sampel berjumlah 58 orang yang ditentukan secara purposive, terdiri dari unsur manajer, penyelia, dan karyawan dari pengelola dan tenant.
Kesimpulan penelitian adalah: 1) variabel indikator lingkungan yang dapat digunakan untuk pengukuran kinerja lingkungan di KEK Sei Mangkei, adalah:
keberlanjutan; dampak pada kualitas hidup; beban lingkungan; kepatuhan terhadap persyaratan lingkungan, hukum dan peraturan; konsumsi sumber daya;
keanekaragaman hayati; bukti bahwa organisasi memenuhi komitmen lingkungan;
serta, risiko lingkungan akibat aktivitas organisasi; 2) variabel pengukuran kinerja lingkungan memiliki hubungan yang kuat dengan variabel indikator lingkungan, yaitu: dampak pada kualitas hidup; beban lingkungan; keanekaragaman hayati;
dan, risiko lingkungan akibat aktivitas organisasi. Variabel dampak pada kualitas hidup mempunyai pengaruh sebesar 43,4% terhadap pengukuran kinerja lingkungan di KEK Sei Mangkei serta memiliki hubungan dengan variabel eksogen, yaitu: beban lingkungan; keanekaragaman hayati; serta, risiko lingkungan akibat aktivitas organisasi.
Kata kunci: kinerja lingkungan, kawasan ekonomi khusus, Sei Mangkei, kelapa
ABSTRACT
Environmental Performance Assessment (EPA) is an evaluation undertaken to manage and improve the management of pollution and ecological environmental protection systems effectively. Evaluation of environmental performance starts from planning, implementation, and monitoring and implementation. At the planning stage, selection of indicators for the evaluation of environmental performance is important. SEZ Sei Mangkei is a business development in the form of special area for industrial center based on oil palm and rubber. Sei Mangkei's SEZ as a "ECO Industrial Park" with the development of downstream natural resource plantation products in North Sumatra, especially oil palm and rubber, prioritizing sustainability and environmentally-friendly principles in exploring natural resources into quality ready-to-use products. The objectives of the research are: 1) to obtain the environmental indicator variables in SEZ Sei Mangkei; and, 2) to analyze the relationship between the environmental indicator variables for environmental performance measurement in Sei Mangkei SEZ. Survey approach and descriptive data analysis to determine the environmental indicator variable is used to answer the research objectives. The causal relationship between each environmental indicator variable is quantitatively analyzed using path analysis. Research sample are: PT. Perkebunan Nusantara (PTPN) 3; PT. Kawasan Industri Nusantara (Kinra); The Board of Administrators of SEZ Sei Mangkei; Palm Kernel Oil Factory (PKO); and, Palm Oil Mill (PKS). Sampling method using cluster random sampling according to the role of organization in Sei Mangkei KEK. The sample consisted of 58 people determined purposively, consisting of elements of managers, supervisors, and employees of managers and tenants. The research conclusions are: 1) environmental indicator variables that can be used for environmental performance measurement in Sei Mangkei SEZ are: sustainability; impact on quality of life;
environmental burden; compliance with environmental, legal and regulatory requirements; resource consumption; biodiversity; evidence that the organization fulfills its environmental commitments; as well as, environmental risks due to organizational activity; 2) the environmental performance measurement variable has a strong relationship with the environmental indicator variables, namely:
impact on quality of life; environmental burden; biodiversity; and, environmental risks due to organizational activity. Variable impact on quality of life has an effect of 43.4% on environmental performance measurement in Sei Mangkei SEZ and has a relationship with exogenous variables, namely: environmental load;
biodiversity; as well as, environmental risks due to organizational activity.
Keywords: environmental performance, special economic zone, Sei Mangkei, oil palm
Penulis mengucapkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan berkah dan ridha-Nya sehingga penulis mampu menyelesaikan penulisan tesis yang berjudul “Analisis Indikator Lingkungan Untuk Pengukuran Kinerja Lingkungan Kawasan Industri Berbasis Sawit di KEK Sei Mangkei”.
Penulisan tesis ini dapat diselesaikan atas bantuan dan dukungan dari berbagai pihak, untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Runtung Sitepu, SH., M.Hum, selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Prof. Dr. Robert Sibarani, MS, selaku Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak Dr. Miswar Budi Mulya, M. Si selaku Ketua Program Studi Magister Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Universitas Sumatera Utara, sekaligus komisi pembanding.
4. Ibu Dr. Esther Sorta Mauli Nababan, M.Sc. selaku ketua komisi pembimbing yang telah mengarahkan dalam penulisan tesis.
5. Bapak Dr. Delvian, SP, MP. selaku anggota komisi pembimbing yang banyak memberi saran dan masukan dalam penulisan tesis.
6. Bapak Dr. Ir. Nelson Manumpak Siahaan, Dipl TP. M.Arch dan Bapak Rulianda Purnomo Wibowo, SP, Mec selaku dosen pembanding yang telah memberikan saran perbaikan untuk kesempurnaan tesis ini.
Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan tesis ini, karenanya saran dan masukan yang membangun diperlukan untuk perbaikan.
Semoga tesis ini bermanfaat bagi pembaca serta pihak terkait yang membutuhkan.
Medan, Desember 2018 Penulis,
Nobrya Husni
Nama : Nobrya Husni, ST Jenis Kelamin : Perempuan
Tempat dan Tanggal Lahir : Medan, 9 Desember 1980 Kewarganegaraan : Indonesia
Agama : Islam
Alamat Rumah : Jl. Beringin/Pasar 5 Tembung Gang Salak 22 No. 17 Medan
Telepon : 08116142921
Pendidikan terakhir : S1 – Teknik Geologi Pos-el (E-mail) : [email protected]
Pendidikan Formal
1. SDN 4 Meulaboh – Aceh Barat, lulus tahun 1992 2. SMPN 1 Tapaktuan – Aceh Selatan, lulus tahun 1995 3. SMAN 1 Meulaboh – Aceh Barat, lulus tahun 1998 4. Institut Teknologi Medan, lulus tahun 2004
Pengalaman Kerja
1. Peneliti Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Sumatera Utara, mulai tahun 2011 – sekarang
2. Sales Executive MCC, mulai tahun 2009-2011
3. Customer Service PT. Maersk Indonesia, mulai tahun 2006-2009 4. Customer Relation Officer PT. Tunas Finance, mulai tahun 2005-2006
5. Management Development Program PT. Bank Sumut, mulai tahun 2004-2005
ABSTRAK.………... i
ABSTRACT…………..………... ii
KATA PENGANTAR………... RIWAYAT HIDUP………..………. iii iv DAFTAR ISI………... v
DAFTAR TABEL………... vii
DAFTAR GAMBAR……… viii
DAFTAR LAMPIRAN……….… ix
BAB I PENDAHULUAN………... 1
1.1.Latar Belakang………..… 1
1.2.Ruang Lingkup………..…... 4
1.3.Perumusan Masalah………..…… 4
1.4.Tujuan Penelitian………..… 4
1.5.Manfaat Penelitian………..….. 5
1.6.Kerangka Pikir….………... 5
1.7.Hipotesis………...… 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA...………... 7
2.1. Penelitian Terdahulu……… 7
2.2. Kawasan Industri………. 9
2.3. Kinerja Lingkungan………. 9
2.4. Indikator Kinerja Lingkungan………... 11
2.5. Standar Global Reporting Initiative (GRI)……….. 18
2.6. Eko-efisiensi Kawasan Industri………... 19
BAB III GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN……….... 20
3.1. Letak Geografis dan Peruntukan Lahan……….……..… 21
3.2. Dasar Hukum………..…. 25
3.3. Infrastuktur KEK Sei Mangkei……….... 26
3.4. Manajemen KEK Sei Mangkei……….... 33
3.5. Tenant di KEK Sei Mangkei………..…. 36
BAB IV METODE PENELITIAN………..…... 39
4.1. Tempat dan Waktu Penelitian………..… 39
4.2. Jenis Penelitian……….... 39
4.3. Populasi dan Sampel……….... 39
4.4. Teknik Pengumpulan Data……….. 40
4.5. Jenis dan Sumber Data………. 41
4.6. Identifikasi Variabel Penelitian……… 41
4.7. Teknik Analisis Data……… 42
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN………... 46
5.1. Identifikasi Pelaku pada KEK Sei Mangkei……… 46
Kinerja Lingkungan………. 65
5.4. Kinerja Lingkungan di KEK Sei Mangkei………... 69
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN………... 75
6.1. Kesimpulan……….. 75
6.2. Saran……… 76
DAFTAR PUSTAKA……….. 77 LAMPIRAN
No. Judul Halaman 2.1. Metode yang sering digunakan dalam penentuan indikator kinerja
lingkungan………..……… 13
3.1. Peruntukan lahan di KEK Sei Mangkei……...………... 22
4.1. Besaran sampel penelitian……..……… 40
4.2. Teknik pengumpulan data berdasarkan tujuan penelitian……..……… 40
5.1. Identifikasi variabel indikator lingkungan.……… 52
5.2. Pembobotan kuesioner……… 55
5.3. Matriks korelasi antar variabel……..………. 64
No. Judul Halaman
1.1. Kerangka Pikir………..………... 6
2.1 Proses Evaluasi Kinerja Lingkungan………...……… 10
3.1. Lokasi KEK Sei Mangkei………...………. 20
3.2. Master plan KEK Sei Mangkei………...………. 21
3.3. Gedung perkantoran……… 27
3.4. Gedung pusat inovasi kelapa sawit………... 27
3.5. Saluran drainase induk………..……….. 28
3.6. Jalan beton di KEK Sei Mangkei……… 28
3.7. Jalan utama di KEK Sei Mangkei………... 29
3.8. Dry port………... 29
3.9. Tanki timbun CPO………... 30
3.10. Jalur kereta api………. 30
3.11. Jaringan pipa gas dan metering station……… 31
3.12 Instalasi pengolahan air bersih……..……….. 32
3.13. Kantor pengolahan air limbah……..………... 33
4.1. Diagram jalur variabel eksogen dan endogen………. 45
5.1. Diagram jalur antara X1, X2, dan Y………. 66
5.2. Diagram jalur antara X1, X2, X3, X4 dan Y………... 67
5.3. Diagram jalur persamaan (8) dan (9)………... 68
No. Judul Halaman
1. Kuesioner penelitian……… 81
2. Hasil pembobotan kuesioner………...….………... 83
3. Analisis korelasi………..……… 85
4. Analisis regresi persamaan (2)…...………. 86
5. Analisis regresi persamaan (4)…...………. 87
6. Analisis regresi persamaan (5)…...………. 88
7. Analisis regresi persamaan (6)…...………. 89
8. Analisis regresi persamaan (7)…...………. 90
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Provinsi Sumatera Utara memiliki luas areal perkebunan kelapa sawit terluas kedua setelah Riau dengan luas areal perkebunan yang mengalami peningkatan setiap tahunnya. Selama kurun waktu 2013-2015 luas perkebunan rakyat mengalami peningkatan sebesar 29,37 %, perkebunan negara sebesar 23 %, sedangkan perkebunan swasta mengalami kenaikan sebesar 47 %. Pada tahun 2013 luas areal perkebunan sawit tercatat 1.340.348 Ha dan terus meningkat pada tahun 2015 dengan luas mencapai 1.444.687 Ha (Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, 2014).
Menindaklanjuti potensi perkebunan kelapa sawit di Sumatera Utara, pada tahun 2011 melalui program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) Provinsi Sumatera Utara ditetapkan sebagai salah satu Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Sumatera Utara termasuk dalam koridor ekonomi Sumatera, yang pengembangannya diarahkan sebagai sentra produksi dan pengolahan hasil bumi dan lumbung energi nasional, dengan kegiatan ekonomi utama yaitu kelapa sawit (Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, 2011).
Keberadaan KEK Sei Mangkei ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 29 Tahun 2012 yang operasionalnya diresmikan pada tanggal 27 Januari 2015 oleh Presiden Joko Widodo. Bisnis utama di KEK Sei Mangkei adalah industri kelapa sawit dan karet, dengan bisnis pendukung seperti logistik, energi, elektronika, industri penunjang produksi, aneka industri, dan pariwisata. Produk
yang dihasilkan yaitu: fatty acid, fatty alcohol, surfactant, biodiesel, dan biogas (Dewan Nasional KEK, 2015).
KEK Sei Mangkei berada di Kabupaten Simalungun Provinsi Sumatera Utara dan telah memiliki beberapa industri didalam kawasan yang berstatus dalam tahap pengujian operasi. Infrastruktur yang telah tersedia di KEK Sei Mangkei, antara lain: Pabrik Pengolahan Kelapa Sawit (PKS) berkapasitas 75 ton/jam; Pabrik Tenaga Listrik Biomassa Sawit (PLTBS) dengan kapasitas 2x3,5 MW; dan, pabrik Palm Kernel Oil (PKO) dengan kapasitas 400 ton/hari. Fasilitas dasar klaster yang telah tersedia di KEK Sei Mangkei antara lain: gedung perkantoran; water treatment intake and plant; unit water treatment; saluran induk; jaringan listrik;
fasilitas Teknologi Informasi (TI); perumahan karyawan; tempat ibadah; serta jalan akses masuk klaster. Sedangkan infrastruktur pendukung yang telah dan akan disediakan antara lain: jalan raya; jalan kereta api; jalan tol Kualanamu – Tebing Tinggi; fly over Kuala Tanjung; peningkatan kapasitas jalan disekitar kawasan;
serta pelabuhan pendukung yaitu Belawan dan Kuala Tanjung. Namun, fasilitas- fasilitas tersebut belum dapat sepenuhnya mendukung operasional di KEK Sei Mangkei (Said and Aryanthi, 2013).
Mengacu pada bisnis utama KEK Sei Mangkei, hingga tahun 2018 hanya aktivitas produksi berbasis kelapa sawit yang telah berjalan, sedangkan aktivitas produksi berbasis karet dan bisnis pendukung belum terlaksana. Meskipun hanya sebagian aktivitas produksi yang telah berjalan, aktivitas produksi berbasis kelapa sawit diketahui menghasilkan limbah serta menimbulkan isu lingkungan seperti:
konsumsi energi, pembuangan limbah padat dan limbah cair (POME), emisi gas rumah kaca, serta pencemaran air (Hashim, Bakar, & Lim, 2014).
Kegiatan operasional pada kawasan industri memberikan keuntungan dari aspek ekonomi, namun disisi lain menghasilkan limbah, sehingga dapat dikatakan bahwa lingkungan dan kegiatan operasional memiliki hubungan. Kesalahan pada aspek operasional akan mengakibatkan dampak lingkungan yang merugikan atau malah mengurangi dampak serta peluang untuk melakukan perbaikan (Shokravi, Smith, dan Burvill, 2014). Agar keberlanjutan operasional dapat terjaga perlu perhatian khusus untuk mencegah kerusakan lingkungan akibat kegiatan industri, seperti: limbah padat dan limbah cair, emisi gas rumah kaca, pencemaran air, maupun penanganan limbah yang tidak tepat (Jianchun et al., 2011; Hashim, Bakar dan Lim, 2014). Karenanya pertimbangan lingkungan penting sebagai upaya mengurangi kerusakan lingkungan untuk meminimalisasi resiko dan tetap memperoleh keuntungan.
Pengukuran kinerja lingkungan telah diadopsi oleh banyak negara di seluruh dunia sebagai evaluasi yang efektif untuk mengatur dan memperbaiki manajemen pencemaran dan perlindungan lingkungan. Pengukuran terhadap kinerja lingkungan dapat menyediakan informasi secara kuantitatif untuk menganalisis kebijakan lingkungan dan pengambilan keputusan (Liu et al., 2011; Meng et al., 2013). Beragamnya aktivitas didalam KEK Sei Mangkei membutuhkan analisis dari berbagai aspek untuk memaksimalkan aktivitas operasional serta meminimalkan dampak lingkungan. Maka pengukuran kinerja lingkungan untuk keberlanjutan lingkungan dan operasional industri penting dilakukan di KEK Sei Mangkei sebagai langkah antisipatif untuk menghindari/meminimalisasi timbulnya permasalahan lingkungan. Sehingga visi MP3EI untuk menjadikan Indonesia
negara maju dan sejahtera pada tahun 2025 dapat terwujud serta meningkatkan daya saing Provinsi Sumatera Utara.
1.2. Ruang Lingkup
Berdasarkan kondisi di lokasi penelitian serta pertimbangan waktu, maka ruang lingkup penelitian adalah sebagai berikut:
1. Identifikasi variabel merupakan hasil observasi di dalam KEK Sei Mangkei.
2. Identifikasi variabel merupakan informasi deskriptif dari kondisi lingkungan yang terjadi akibat aktivitas organisasi, produk dan layanan.
3. Penilaian variabel mengacu kepada persepsi responden terhadap pengelolaan lingkungan di KEK Sei Mangkei.
1.3. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, maka rumusan masalah penelitian adalah sebagai berikut:
1. Variabel indikator lingkungan apa sajakah yang dapat digunakan untuk mengukur kinerja lingkungan pada KEK Sei Mangkei?
2. Bagaimanakah hubungan antar variabel indikator lingkungan untuk pengukuran kinerja lingkungan di KEK Sei Mangkei?
1.4. Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah, maka tujuan penelitian yaitu:
1. Mendapatkan variabel indikator lingkungan untuk digunakan pada pengukuran kinerja lingkungan di KEK Sei Mangkei.
2. Mengetahui hubungan antar variabel indikator lingkungan untuk pengukuran kinerja lingkungan pada KEK Sei Mangkei.
1.5. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat kepada:
1. Pelaku usaha dan stakeholder pada kawasan industri untuk memahami pentingnya pengukuran kinerja lingkungan untuk keberlangsungan aktivitas di KEK Sei Mangkei.
2. Pengelola KEK Sei Mangkei untuk mulai melakukan pengukuran kinerja lingkungan serta memperoleh sertifikat ISO 14031.
3. Pemerintah Pusat dan Daerah dapat menggunakan pengukuran kinerja lingkungan untuk menarik minat investor.
1.6. Kerangka Pikir
Pengukuran kinerja lingkungan kawasan industri merupakan tahap awal dari proses evaluasi kinerja lingkungan. Pemilihan variabel dari masing-masing indikator sosial, ekonomi dan lingkungan dilakukan pada tahap perencanaan serta dapat mengalami perubahan atau penambahan sesuai dengan kondisi organisasi.
KEK Sei Mangkei sebagai kawasan industri selain memberikan keuntungan dari sisi ekonomi, juga berdampak pada kualitas lingkungan. Kerusakan lingkungan akan berakibat pada menurunnya pendapatan perusahaan diakibatkan biaya yang harus dikeluarkan untuk perbaikan lingkungan ataupun biaya hukum dalam menghadapi gugatan dari masyarakat yang terdampak. Pengukuran kinerja lingkungan merupakan salah satu instrumen yang dapat digunakan untuk mengatasi
permasalahan lingkungan sekaligus mengurangi kerugian perusahaan. Sehingga eko-efisiensi yang merupakan tujuan dibentuknya kawasan industri dapat tercapai.
Gambar 1. 1. Kerangka pikir penelitian
1.7. Hipotesis
Berdasarkan kerangka pikir penelitian, maka hipotesis penelitian yaitu:
terdapat hubungan antar variabel indikator lingkungan terhadap kinerja lingkungan pada KEK Sei Mangkei.
KEK SEI MANGKEI
Keuntungan Ekonomi Kerugian Ekonomi
Denda, Biaya hukum, Biaya asuransi, Biaya monev
Dampak lingkungan Limbah padat, cair dan B3;
Emisi GRK; Pencemaran air Mitigasi
Pengukuran kinerja lingkungan
- Indikator Sosial - Indikator Ekonomi - Indikator Lingkungan
Analisis indikator lingkungan untuk pengukuran kinerja lingkungan kawasan industri berbasis sawit di KEK Sei Mangkei
Eko-efisiensi
Risiko lingkungan; dampak pada kualitas hidup; kehati;
beban lingkungan; keberlanjutan; komitmen organisasi;
kepatuhan ; konsumsi sumber daya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Penelitian Terdahulu
Kegiatan pada kawasan industri menghasilkan keuntungan dari aspek ekonomi, untuk keberlanjutan aktivitas di kawasan maka aspek lingkungan perlu mendapatkan perhatian secara khusus sehingga daya dukung dan daya tampung lingkungan tetap terjaga. Kerusakan lingkungan pada kawasan industri di China sejak tahun 2002-2006 mencapai 1.400 kasus setiap tahunnya dan berdampak pada kerugian secara ekonomi. Penyebab kerusakan lingkungan yang sering terjadi yaitu pembuangan limbah secara illegal, seperti pembuangan limbah yang mengandung arsenik dan bahan berbahaya (Jianchun et al., 2011). Industri kelapa sawit juga berkontribusi pada isu lingkungan seperti: konsumsi energi, pembuangan limbah padat dan limbah cair (POME), emisi gas rumah kaca, serta pencemaran air karena penanganan limbah yang tidak tepat (Hashim et al., 2014).
Pertimbangan lingkungan sangat penting sebagai upaya untuk mencegah permasalahan lingkungan yang mungkin timbul pada proses produksi sekaligus untuk mendapatkan keuntungan pasar, penghematan biaya dan juga memperkecil resiko. Kinerja lingkungan bukan hanya sekedar tanggung jawab perusahaan, namun juga menjadi faktor yang penting dalam kompetisi bisnis. Perlindungan terhadap lingkungan berfungsi scebagai kontrol, mengurangi pembersihan dan biaya mitigasi tumpahan, mengurangi biaya hukum, biaya kontrol dan denda, serta mengurangi biaya asuransi (Madanhire dan Mbohwa, 2016). Operasional pada industri secara otomatis menghasilkan limbah sehingga dapat disimpulkan bahwa
lingkungan dan proses kinerja operasional memiliki hubungan. Dimana kesalahan pada aspek operasional akan mengakibatkan dampak lingkungan yang merugikan atau malah mengurangi dampak serta peluang untuk melakukan perbaikan (Shokravi et al., 2014).
Seperti yang tejadi di China, sektor industri berkontribusi sebesar 50% pada pencemaran. Pengukuran kinerja lingkungan telah disarankan secara luas karena dapat menyediakan informasi secara kuantitatif untuk analisis kebijakan lingkungan dan pengambilan keputusan (Meng et al., 2013). Pendekatan yang dapat dilakukan untuk keberlanjutan industri adalah simbiosis industri yang harus dipahami sebagai hubungan antara ekonomi dan kinerja lingkungan (Jacobsen, 2006). Evaluasi terhadap kawasan industri dapat ditinjau dari segi lingkungan, ekonomi, sosial, dan manajemen (Hui, 2011; Wenbo, 2011). Karakter dari perusahaan industri yang berada di negara berkembang umumnya memiliki bisnis kinerja yang buruk (Kasie dan Belay, 2013), maka pengukuran kinerja lingkungan disarankan untuk dilakukan di Indonesia sebagai salah satu negara berkembang.
Pengukuran kinerja lingkungan merupakan salah satu evaluasi yang dapat dilakukan untuk secara efektif mengatur dan memperbaiki manajemen pencemaran perusahaan dan sistem perlindungan lingkungan ekologis yang telah diadopsi oleh banyak negara di seluruh dunia. Sistem ini digunakan sebagai alat untuk menilai lingkungan secara ekonomi dan beberapa negara telah mendapat keuntungan dari penerapannya. Metode dan prosedur standar pengukuran evaluasi kinerja lingkungan biasanya diterbitkan oleh International Organization for Standardization (ISO) maupun World Business Council for Sustainable Development (WBCSD) (Liu et al., 2011).
2.2. Kawasan Industri
Kawasan industri sebagai salah satu unsur pembangunan ekonomi yang penting bagi negara sebagai upaya untuk memanfaatkan sumber daya secara efisien dan mengurangi biaya infrastruktur (Fang dan Chen, 2015). Sehingga keberadaan kawasan industri menjadi faktor penting dalam mendorong pembangunan ekonomi (Kang dan Xu, 2012). Salah satu pendekatan yang digunakan untuk peningkatan ekonomi regional adalah sistem klaster pada kawasan industri. Sistem klaster akan memberikan kemudahan dalam pengambilan keputusan terhadap potensi konflik seperti: keterbatasan sumber daya manusia, material, keuangan, atau dalam pelaksanaannya (La-yin dan Fu-zhou, 2011).
2.3. Kinerja Lingkungan
Kinerja lingkungan adalah hasil pengukuran dari sistem pengelolaan lingkungan yang berhubungan dengan kontrol organisasi terhadap aspek lingkungan berdasarkan kebijakan lingkungan, target dan sasaran. Evaluasi terhadap kinerja lingkungan dimulai dari perencanaan, pelaksanaan, serta monitoring dan implementasi. Pada tahapan perencanaan, pemilihan terhadap indikator untuk evaluasi kinerja lingkungan penting untuk dilakukan. Pengumpulan dan analisis data akan sangat berguna dalam menghasilkan laporan evaluasi kinerja lingkungan yang harus dikomunikasikan kepada seluruh stakeholder untuk ditinjau ulang guna meningkatkan kinerja lingkungan (Viegas, 2005). Pemodelan terhadap proses evaluasi kinerja lingkungan dapat dilihat pada Gambar 2. 1.
Gambar 2. 1. Proses Evaluasi Kinerja Lingkungan Sumber: Viegas (2005)
Indikator kinerja lingkungan biasanya mempertimbangkan upaya lingkungan yang dilakukan organisasi sebagai bahan evaluasi internal dan pengambilan keputusan yang digunakan bersamaaan dengan informasi kualitatif ketika organisasi menerbitkan laporan kegiatan, sebagai informasi lingkungan yang mendasar untuk pertimbangan lingkungan pada organisasi (Ministry of the Environment Japan Government, 2003).
PLAN : Planning environmental performance evaluation
DO : Using data and information
DATA
INFORMATION
RESULTS
Selecting indicators for environmental performance evaluation
Collecting data
Analysing and coverting data
Assesing information
Reporting and communicating
CHECK AND ACT : Reviewing and improving environmental performance evaluation
2.4. Indikator Kinerja Lingkungan
Metrik individual dapat diacu sebagai indikator lingkungan, beberapa indikator akan sama untuk beberapa perusahaan, seperti: regulasi gas buang ke udara, pembuangan ke badan air, atau penanganan limbah beracun. Indikator lainnya akan sangat unik untuk industri tertentu, seperti: penggunaan energi per giga-byte pada industri komputer; atau, jumlah ceceran minyak lepas pantai pada transportasi minyak mentah. Indikator lingkungan dapat diklasifikasikan menjadi 2 (dua) tipe pengukuran, yaitu: a) Pengukuran di akhir proses, dikenal sebagai indikator tertinggal; dan, b) Pengukuran dalam proses, disebut juga indikator utama. Hampir semua metrik program lingkungan menggunakan kedua tipe pengukuran (Global Environmental Management Initiative, 1998).
a. Indikator tertinggal (lagging indicator), merupakan tipe metrik yang paling sering dilaporkan. Indikator ini mengukur hasil dari praktek lingkungan atau operasional. Tipe data terdiri dari: ton limbah yang dihasilkan; jumlah denda dan pelanggaran, jumlah kecelakan atau hari kerja yang hilang; atau, jumlah kemasan yang diproduksi. Keuntungan menggunakan indikator tertinggal adalah kemudahannya untuk diidentifikasi dan dipahami, serta data tersebut sering dikumpulkan untuk kepentingan bisnis lainnya. Kekurangannya adalah adanya ketertinggalan fakta dikarenakan tidak mencerminkan situasi terkini sehingga tindakan korektif hanya bisa dilakukan setelah timbulnya biaya atau denda maupun penurunan kredibilitas di pemerintah atau masyarakat. Selain itu, indikator tertinggal tidak mengidentifikasi penyebab timbulnya biaya serta kekurangan yang terjadi, serta bagaimana pencegahannya. Sehingga tindakan
pencegahan kemungkinan akan dilakukan pada tahun berikutnya saat faktor- faktor yang berpengaruh kemungkinan sudah berubah.
b. Indikator utama (leading indicator), merupakan pengukuran pada tahap implementasi atau pengukuran yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja lingkungan. Sebagai contoh: indikator utama yang digunakan adalah jumlah lingkungan internal atau audit kepatuhan kesehatan dan keselamatan yang dilakukan selama setahun, bukan jumlah denda dan pelanggaran. Keuntungan utama dari metrik ini adalah bahwa pembenahan dapat dilakukan sebelum kekurangan terjadi dan menurunkan kinerja. Sayangnya, indikator utama sulit untuk dikuantifikasi dan dievaluasi, serta hasilnya tidak ditujukan untuk beberapa stakeholder sehingga sulit untuk mengumpulkan dukungan.
Beberapa metode dan kerangka kerja telah ditentukan untuk memilih indikator kinerja lingkungan. Metode yang digunakan tergantung pada tujuan pengembangan, jenis produk, dan lingkungan sekitar. Termasuk didalamnya peraturan yang berlaku, masalah di kawasan, strategi bisnis, aspek lingkungan dari produk, pertimbangan letak geografis dan bersifat sementara, serta hal lainnya.
Terdapat beberapa metode untuk menentukan indikator kinerja lingkungan, Tabel 2. 1. akan memberikan gambaran tentang beberapa metode terkait dengan kerangka kerja yang dibentuk, karakteristik serta keuntungan dan kerugiannya (Heslouin et al., 2017).
Kegunaan indikator kinerja lingkungan dalam pengambilan kebijakan adalah:
1. Untuk memberikan informasi terhadap masalah lingkungan, dalam rangka untuk memungkinkan pembuat kebijakan untuk menilai keseriusan;
2. Untuk mendukung pengembangan kebijakan dan menetapkan prioritas, dengan mengidentifikasi faktor kunci yang menyebabkan kerusakan pada lingkungan;
dan,
3. Untuk memonitor dampak dari respon kebijakan.
Tabel 2. 1. Metode yang sering digunakan dalam penentuan indikator kinerja lingkungan
Metode Pemilihan Keterangan
Pendekatan (Berbasis Produk / Pertimbangan Pengguna) Model Pressure state
response
Menggunakan rangkaian sebab akibat dari dampak lingkungan untuk menentukan indikator kinerja
Pertimbangan pengguna
Menggunakan rangkaian sebab akibat dan usulan untuk memilih dari hasil identifikasi.
Model ini mempertimbangkan hubungan antar masing-masing indikator.
Kekurangan metode ini adalah tidak mempertimbangkan kawasan dan peraturan yang berlaku sehingga sulit untuk mengevaluasi rangkaian sebab akibat, sehingga sulit untuk dikembangkan.
Sasaran perbaikan lingkungan
Keuntungan:
- Implementasi indikator kinerja lingkungan pada proses pengembangan produk dengan mengumpulkan data dan megukur indikator kinerja lingkungan, melihat hasil kinerja dan menentukan langkah untuk meningkatkan kinerja
- Memilih indikator kinerja lingkungan untuk mencapai sasaran perbaikan lingkungan
- Database indikator kinerja lingkungan diklasifikasikan berdasarkan tahapan daur hidup, aspek lingkungan, dan tipe pengukuran
- Memilih indikator yang spesifik untuk perusahaan, tidak termasuk dalam database.
Kerugian:
Menentukan prioritas lingkungan dan sasaran termasuk pengetahuan sebelumnya tentang produk dan yang terkait dan pengembangan sasaran prioritas.
Pendekatan Berbasis Produk
Survey Ahli Keuntungan:
Pembobotan indikator oleh Ahli dibidang lingkungan, produk kawasan dan pihak lain untuk memilih indikator yang paling penting.
Kekurangan:
Berpotensi dipengaruhi oleh prioritas pribadi dari Ahli.
Pertimbangan Pengguna
Survey Perusahaan Hampir mendekati survey Ahli, namun didahului oleh analisis perusahaan dan terdapat tujuan lingkungan serta identifikasi pelaku secara strategis.
Pertimbangan Pengguna
Sistem pengelolaan lingkungan berbasis produk
Memilih indikator kinerja lingkungan berdasarkan 3 tingkatan: kawasan (indikator umum), perusahaaan (berdasarkan kebijakan lingkungan perusahaan), dan proyek/produk (terkait dengan implementasi eko-desain)
Pendekatan Berbasis Produk
Pendekatan balanced scorecard (kecocokan angka)
Keuntungan:
- Menghubungkan kinerja lingkungan dengan sasaran strategis perusahaan.
- Menggunakan metode yang biasa digunakan oleh perusahaan lain
Kerugian:
Tidak berhubungan dengan pengembangan produk.
Pendekatan Berbasis Produk
Pertimbangan stakeholder
Mengidentifikasi dampak lingkungan untuk menentukan indikator.
Keuntungan:
- Mengintegrasikan stakeholder pada pemilihan indikator kinerja lingkungan serta indikator harus dapat digunakan oleh stakeholder internal dan eksternal
Pertimbangan Pengguna
Sumber: Heslouin et al. (2017)
Indikator kinerja lingkungan merupakan alat yang berguna untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap permasalahan lingkungan. Strategi yang umum untuk menguatkan dukungan publik adalah penyediaan informasi pada kekuatan pendorong serta respon dampak dan kebijakan untuk mengukur kebijakan (Smeets dan Weterings, 1999).
ISO telah mengembangkan standar yang dapat digunakan sebagai pendekatan pro-aktif dalam mengelola lingkungan, yaitu ISO 14000 yang merupakan kumpulan standar untuk pengelolaan lingkungan untuk sector public dan swasta. ISO 14000 menggambarkan kesepakatan akan lingkungan yang baik dan dapat diimplementasikan oleh seluruh organisasi sesuai dengan kebutuhannya masing- masing. ISO 14000 terdiri dari beberapa bagian, yaitu:
1. ISO 14001, digunakan sebagai kerangka dalam sistem manajemen lingkungan.
Telah diadopsi oleh 160 negara serta medorong pemerintah untuk turut serta dalam pengelolaan lingkungan.
2. ISO 14004 merupakan tambahan petunjuk dan penjelasan dari ISO 14001 3. ISO 14031, memberikan petunjuk bagi organisasi dalam rangka mengevaluasi
kinerja lingkungan
4. ISO 14020 merupakan kumpulan standar dengan pendekatan yang berbeda untuk pelabelan lingkungan dan keterangan, termasuk eko-label.
5. ISO 14040 memberikan pedoman standar untuk melakukan Life Cycle Assesment (LCA) sebagai alat untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi aspek
lingkungan dari produk dan layanan dari awal hingga akhir. Sehingga organisasi mendapatkan informasi tentang bagaimana mengurangi dampak lingkungan dari produk dan layanannya.
6. ISO 14064 merupakan standar yang digunakan untuk menghitung dan memverifikasi gas rumah kaca yang dilengkapi dengan persyaratan yang jelas dan dapat diverifikasi untuk mendukung organisasi dan proyek dalam mengurangi emisi gas rumah kaca.
7. ISO 14065 merupakan pelengkap dari 14064 dengan peruntukan yang lebih spesifik untuk mengakreditasi dan mengenalkan organisasi yang melakukan validasi dan verifikasi gas rumah kaca menggunakan ISO 14064 ataupun standar/spesifikasi lain yang lebih relevan.
8. ISO 14063 merupakan pedoman dan contoh komunikasi lingkungan yang dapat membantu organisasi untuk membuat hubungan yang penting dengan pemangku kepentingan eksternal.
9. ISO Guide 64 memberikan pedoman untuk Menangani aspek lingkungan dalam standar produk.
Penentuan indikator kinerja lingkungan pada konsep siklus PDCA (Plan-Do- Check-Act), berhubungan dengan manajemen pengelolaan lingkungan yang berhubungan dengan ISO 14001 (ISO Central Secretariat, 2009). Penentuan terhadap indikator yang digunakan dalam pengukuran kinerja lingkungan dapat dilakukan melalui tahapan sebagai berikut (International Organization for Standardization, 2013):
a. Mengidentifikasi kegiatan, produk dan layanan organisasi, aspek lingkungan spesifik dan signifikansi relatif yang terkait dengannya, dan potensi dampak yang terkait dengan aspek lingkungan yang signifikan;
b. Menggunakan informasi tentang kondisi lingkungan untuk mengidentifikasi aktivitas, produk dan layanan organisasi yang mungkin berdampak pada kondisi tertentu;
c. Menganalisis data organisasi yang ada mengenai masukan material, energi, pembuangan, limbah dan emisi dan mengevaluasi data ini dalam hal risiko;
d. Mengidentifikasi pandangan pihak yang berkepentingan dan menggunakan informasi ini untuk membantu membangun aspek lingkungan organisasi yang signifikan;
e. Mengidentifikasi kegiatan organisasi yang tunduk pada peraturan lingkungan atau persyaratan lainnya, yang datanya mungkin telah dikumpulkan oleh organisasi;
f. Pertimbangan disain, pengembangan, pembuatan, distribusi, servis, penggunaan, penggunaan kembali, daur ulang dan pembuangan produk-produk organisasi, dan dampak lingkungannya yang terkait; dan,
g. Mengidentifikasi kegiatan organisasi yang memiliki biaya dan manfaat lingkungan yang paling signifikan, termasuk kegiatan atau proses outsourcing.
ISO juga memberikan panduan dalam menentukan indikator lingkungan yang memberikan informasi tentang kondisi lingkungan secara local, regional, nasional atau global, sepanjang tahun atau pada peristiwa tertentu. Indikator lingkungan bukan hasil pengukuran langsung terhadap dampak lingkungan, namun memberikan informasi yang berguna pada lingkungan akibat perubahan aktivitas organisasi, produk dan layanan. Indikator lingkungan dapat disusun untuk kategori lingkungan (misal: udara, air, tanah, flora, fauna, manusia dan estetika, serta warisan budaya termasuk indikator khusus untuk keanekaragaman hayati atau jasa lingkungan). Indikator lingkungan melengkapi organisasi dengan keadaan lingkungan guna mendukung hal-hal berikut ini:
1. Membuat dasar untuk mengukur perubahan;
2. Identifikasi dan pengelolaan dari aspek lingkungan yang signifikan;
3. Memperkirakan kelayakan dari sasaran kinerja lingkungan;
4. Memilih indikator kinerja lingkungan;
5. Menentukan perubahan lingkungan selama ini dan hubungannya dengan program lingkungan yang sedang berjalan;
6. Melakukan penelusuran terhadap hubungan antara kondisi lingkungan serta kegiatan, produk dan layanan organisasi; serta,
7. Menentukan langkah-langkah yang perlu dilakukan.
Pembuatan dan penerapan indikator lingkungan seringkali berfungsi secara lokal, regional, pemerintahan tingkat nasional atau internasional, lembaga swadaya masyarakat, serta institusi riset dan ilmiah, daripada fungsi dari organisasi perusahaan secara individual. Namun, organisasi dapat mengidentifikasi hubungan antara aktivitas dan kondisi dari beberapa komponen lingkungan yang dapat dipilih untuk menyusun indikator untuk membantu dalam mengevaluasi kinerja lingkungan yang tepat menurut kemampuan, kepentingan dan kebutuhan organisasi. Organisasi yang telah mengidentifikasi kondisi spesifik lingkungan yang merupakan akibat langsung dari aktivitas, produk dan layanannya, dapat memilih indikator kinerja lingkungan (pada skala manajemen atau operasional) yang menghubungkan upaya manajemen dan kinerja operasional dalam rangka perubahan kondisi lingkungan.
2.5. Standar Global Reporting Initiative (GRI)
Standar GRI mewakili praktik terbaik secara global dalam hal pelaporan dampak ekonomi, lingkungan dan sosial kepada publik. Pelaporan keberlanjutan yang berdasarkan pada Standar GRI memberikan informasi tentang kontribusi positif atau negatif organisasi bagi pembangunan berkelanjutan. Standar GRI modular yang saling terkait dirancang terutama untuk digunakan sebagai satu set dokumen guna menyiapkan laporan keberlanjutan yang berfokus pada topik material. Ketiga Standar universal tersebut digunakan oleh setiap organisasi yang menyusun laporan keberlanjutan. Setiap organisasi memilih standar spesifik untuk melaporkan topik material ekonomi, lingkungan atau sosial. Pembuatan laporan sesuai dengan standar GRI memberikan gambaran inklusif tentang topik material organisasi, dampak terkaitnya, dan bagaimana dampak-dampak tersebut dikelola.
Organisasi juga dapat menggunakan semua atau sebagian dari Standar GRI untuk melaporkan informasi secara spesifik (Global Reporting Initiative, 2011). Aspek pengelolaan lingkungan yang disarankan dalam pelaporan GRI meliputi: material;
energy; air; keanekaragaman hayati; emisi dan limbah; produk dan layanan;
kepatuhan; transportasi; serta, keseluruhan aspek menyangkut pengeluaran untuk perlindungan lingkungan.
2.6. Eko-efisiensi Kawasan Industri
Selama kurun waktu 40 tahun sejarah kebijakan lingkungan, 2 (dua) paradigma yang berkembang masing-masing dipelopori oleh ekonomis serta penggiat lingkungan. Pemahaman tentang eko-efisiensi masih menjadi perdebatan hingga saat ini. Meskipun penuh dengan masalah konseptual dan praktis, paham ekonomis dipandang stabil dimana aspek kesejahteraan harus diperhitungkan sama halnya seperti aspek lain yang mempengaruhi kesejahteraan. Tinggi atau rendahnya dampak lingkungan tidak menjadi masalah, namun yang menjadi fokus utama adalah bagaimana menghasilkan keputusan yang berdampak pada peningkatan kesejahteraan. Dibandingkan dengan konsep kesejahteraan ekonomi yang dianut para ekonomis, prinsip eko-efisiensi lebih sederhana. Prinsip eko-efisiensi adalah mengabaikan optimalitas dimana perbaikan lingkungan dengan biaya rendah lebih disukai (Huppes dan Ishikawa, 2005).
BAB III
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
KEK Sei Mangkei merupakan pengembangan bisnis dengan pendekatan dalam bentuk kawasan khusus untuk pusat industri yang berbasis kelapa sawit dan karet. Keunikan KEK Sei Mangkei adalah berada disentra bahan baku berbasis agro, yang tidak dimiliki oleh kawasan industri lainnya di Indonesia. Filosofi KEK Sei Mangkei sebagai “ECO Industrial Park“ dengan pengembangan hilirisasi sumber daya alam hasil perkebunan di Sumatera Utara terutama kelapa sawit dan karet, mengedepankan prinsip keberlanjutan dan ramah lingkungan dalam mengeksplorasi sumber daya alam menjadi produk siap pakai yang berkualitas.
Gambar 3.1. Lokasi KEK Sei Mangkei Sumber: PT. Kinra (2018)
3.1. Letak Geografis dan Peruntukan Lahan
KEK Sei Mangkei terletak di Kecamatan Bosar Maligas, Kabupaten Simalungun dengan luas areal 1.933,80 Ha, dengan batas-batas wilayah yaitu sebagai berikut:
• Sebelah Utara : Desa Keramat Kuba, Kecamatan Bandar Perdagangan
• Sebelah Selatan : PTPN IV Kebun Mayang,
• Sebelah Timur : PTPN IV Kebun Gunung Bayu
• Sebelah Barat : Sungai Bah Bolon
Gambar 3.2. Master plan KEK Sei Mangkei Sumber: PT. Kinra (2018)
Keterjangkauan KEK Sei Mangkei dengan Bandara Kuala Namu sejauh + 106 km dapat ditempuh dalam waktu + 3 jam. Jalur kereta api tersedia sepanjang 2,95 km ke spoer simpang stasiun Perlanaan – PKS Gunung Bayu, pembangunan jalan tol Medan – Kuala Namu – Tebing Tinggi sepanjang 61,70 km memberikan tambahan alternatif menuju KEK Sei Mangkei. Master Plan KEK Sei Mangkei serta zonasinya masing-masing ditampilkan pada Tabel 3.1 dan Gambar 3.2.
Tabel 3.1. Peruntukan lahan di KEK Sei Mangkei
No. Area Peruntukan (Zona) Luas (Ha) Persentase Luas (%) Kavling
Industri
Fasilitas Jalan Tanaman Hijau
1. Industri sawit 245,49 12,69
2. Aneka industry 579,50 29,97
3. Sarana prasarana produksi 85,06 4,40
4. Industri karet 84,10 4,35
5. Industri elektronika 155,40 8,04
6. Kawasan komersil 31,91 1,65
7. Kawasan perkantoran 42,57 2,20
8. Logistik dan pergudangan 67,67 3,50 9. Fasilitas umum (RS, BLK,
Sekolah, Mesjid)
24,50 1,27
10. Perumahan (karyawan , ekspatriat)
11,80 5,78
11. Pariwisata 117,50 0,61
12. Industri listrik 38,32 1,98
13. Standard factory building 19,40 1,00
14. IKM 16,30 0,84
15. WWTP 13,24 0,68
16. WTP 10,90 0,56
17. Jalan row / utilitas 185,10 9,58
18. Taman hijau 205,04 10,60
Total Luas (Ha) 1933,80
Persentase Luas (%) 100,00 69,78 10,04 9,58 10,60
Sumber: PT. Kinra (2018)
KEK Sei Mangkei dibagi kedalam 3 (tiga) zona yaitu:
1. Zona Industri, dibagi menjadi beberapa zona, yaitu : a. Zona Industri Sawit
➢ Produk turunan CPO antara lain: minyak goreng, margarine, shortening, vanaspati (vegetable ghee), es krim, bakery fats, mie instan, sabun dan
soap mixes, sugar confectionary, biscuits cream fats, filled milk, lubrication, textiles and bio-diesel oil (fatty acid methyl esters/FAME).
➢ Produk turunan Palm Kernel Oil (PKO) antara lain: shortening, cocoa butter substitute, specialty fats, es krim, coffee whitener/cream, sugar confectionary, biscuits cream fats, filled mild, imitation cream, sabun, detergen, shampoo, surfactant, soap noodle, glycerine, fatty acid dan kosmetik.
➢ Produk turunan Oleokimia berbasis CPO, antara lain: methyl ester, plastik, textile processing, metal processing, pelumas, bahan emulsi, deterjen, gliserin, kosmetik, produk kimia dan bahan pelapis makanan.
➢ Produk turunan dari sisa pengolahan industri CPO dapat digunakan sebagai bahan bakar boiler dan bahan semi furniture. Potensi limbah kelapa sawit seperti tandan kosong kelapa sawit (tankos) merupakan sumber pupuk kalium dan berpotensi untuk diproses menjadi pupuk organik. Fungsi lain dari tankos adalah sebagai bahan serat untuk pengisi jok mobil dan matras.
➢ Pelepah pohon kelapa sawit dapat menghasilkan Vitamin E melalui ekstraksi. Sedangkan batang pohon kelapa sawit dapat dijadikan fiber board untuk bahan baku mebel, kursi, meja, lemari, dsb.
b. Zona Industri Karet
Produk jadi karet di dalam negeri umumnya diklasifikasikan dalam beberapa kategori jenis produk yang dihasilkan, antara lain:
➢ Ban (sepeda, sepeda motor, kendaraan penumpang, truk, bus, pesawat, kendaraan berat) dan produk terkait (ban dalam, pentil, dll).
➢ Produk teknik untuk industri dan otomotif seperti conveyor belt, komponen otomotif, komponen elektronik, rol karet dan bearing.
➢ Produk jadi lateks (latex goods) seperti sarung tangan, kondom, benang karet, balon, spigmanometer, kateter dan busa.
➢ Produk karet keperluan umum (general rubber goods) seperti karpet, alas kaki, produk sport, dan peralatan rumah tangga.
c. Zona Aneka Industri
Industri yang tergolong di zona ini yaitu industri yang tujuannya menghasilkan bermacam-macam produk untuk kebutuhan hidup sehari-hari.
Adapun yang termasuk industri ini sebagai berikut:
➢ Industri tekstil, seperti benang, kain, dan pakaian jadi.
➢ Industri alat listrik dan logam, seperti kipas angin, lemari es, mesin jahit, televisi, dan radio.
➢ Industri kimia, seperti sabun, pasta gigi, shampo, tinta, plastik, dan obat- obatan.
➢ Industri pangan, seperti minyak goreng, terigu, gula, teh, kopi, garam, dan makanan kemasan.
➢ Industri bahan bangunan dan umum, seperti kayu gergajian, kayu lapis, dan marmer.
2. Zona Logistik
Sarana dan prasarana yang telah ada dan sedang dipersiapkan untuk zona ini antara lain: Dry port; tanki timbun; pergudangan; pengemasan; instalasi pengolahan air bersih; dan, instalasi pengolahan air limbah.
3. Zona Pariwisata
Industri pariwisata yang diharapkan berkembang dengan keberadaan KEK Sei Mangkei, yaitu: hotel; lapangan golf; dan, sarana MICE (meeting, incentives, convention, exhibition).
3.2. Dasar Hukum
Peraturan terkait KEK Sei Mangkei, antara lain sebagai berikut:
1. Undang Undang RI Nomor 39 Tahun 2009 tentang Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).
2. Keputusan Presiden (Kepres) Nomor 8 Tahun 2010 tentang Dewan Nasional KEK.
3. Peraturan Pemerintah (PP) RI Nomor 33 tahun 2010 tentang Dewan Nasional dan Dewan Kawasan.
4. Peraturan Pemerintah (PP) RI Nomor 2 Tahun 2011 tentang Penyelenggaraan KEK.
5. Peraturan Pemerintah (PP) RI Nomor 29 Tahun 2012 tentang Penetapan KEK Sei Mangkei.
6. Peraturan Pemerintah (PP) RI Nomor 100 Tahun 2012 tentang Perubahan atas PP Nomor 2 tahun 2011 tentang Penyelenggaraan KEK.
7. Peraturan Daerah Kabupaten Simalungun Nomor 10 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Simalungun tahun 2011- 2031.
8. Keputusan Bupati Simalungun Nomor 188.45/193/Bppd Tahun 2012 tentang Penetapan PTPN III Sebagai Badan Pembangunan dan Pengelola KEK Sei Mangkei.
9. Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 3 Tahun 2016 dan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2016 tentang Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional.
10. Peraturan Pemerintah (PP) RI Nomor 96 Tahun 2015 tentang Fasilitas dan Kemudahan di KEK.
11. Peraturan Menteri Keuangan (Permenkeu) Nomor 104/PMK.010/2016 tentang Perlakuan Perpajakan, Kepabeanan, dan Cukai Pada KEK.
3.3. Infrastruktur KEK Sei Mangkei
Infrastruktur yang telah tersedia untuk menunjang kegiatan di KEK Sei Mangkei, yaitu sebagai berikut:
1. Gedung Perkantoran
Dibangun pada tahun 2010 yang digunakan untuk Kantor Pengelola Kawasan dan Badan Administrator sebagai Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP)
Gambar 3.3. Gedung perkantoran
2. Gedung Pusat Inovasi Kelapa Sawit
Dibangun pada tahun 2012 yang digunakan sebagai pusat riset dan pengembangan Kelapa Sawit untuk mendukung keberadaan Industri dalam Kawasan.
Gambar 3.4. Gedung pusat inovasi kelapa sawit
3. Saluran Drainase Induk
Dibangun tahun 2010 digunakan sebagai saluran primer Kawasan yang berfungsi mencegah terjadinya banjir.
Gambar 3.5. Saluran drainase induk
4. Infrastruktur Jalan Beton ROW-43 dan ROW-28
Dibangun pada tahun 2011 yang telah dilengkapi dengan saluran drainase, penerangan jalan umum beserta penghijauan.
Gambar 3.6. Jalan beton di KEK Sei Mangkei
5. Jalan Poros ROW-62
Jalan utama yang dibangun tahun 2015 yang telah dilengkapi dengan saluran drainase dan penerangan jalan umum.
Gambar 3.7. Jalan utama di KEK Sei Mangkei
6. Jaringan Teknologi Informasi
Bekerjasama dengan PT. Telkom untuk menyediakan jaringan fiber optic untuk layanan data dan suara yang selesai dibangun pada tahun 2012 dan sudah digunakan untuk operasional.
7. Dry Port Tahap I
Memiliki kapasitas container yard sebesar 2160 Teus digunakan sebagai Pusat Logistik dalam kawasan.
Gambar 3.8. Dry port
8. Tanki Timbun CPO
Tanki timbun CPKO masing-masing memiliki kapasitas 5 x 5000 ton dan 2 x 3000 ton.
Gambar 3.9. Tanki timbun CPO
9. Rel Kereta Api
Rel sepanjang 2,95 km ke spoor simpang stasiun Perlanaan – PKS Gunung Bayu yang beroperasi sejak 5 Desember 2016.
Gambar 3.10. Jalur kereta api
10. Jaringan Pipa dan Metering Station Natural Gas dengan kapasitas 75 MMSCFD.
Gambar 3.11. Jaringan pipa gas dan metering station 11. Kantor and Unit Instalasi Pemadam Kebakaran
Tersedia 1 (Satu) Unit pemadam kebakaran dan pipa hidrant di setiap tenant industri.
12. Unit Pengangkut Sampah
Tersedia 2 (dua) unit truk pengangkutan sampah yang digunakan untuk pelayanan tenant industri.
13. Gerbang Kawasan dan Landscape
Pembangunan Gerbang Utara dan Gerbang Barat direncanakan selesai pada tahun 2018.
14. Instalasi Pengolahan Air Bersih
Memiliki kapasitas 250 m3/jam air Bersih yang diolah bersumber dari sungai Bah Tongguran yang merupakan anak sungai dari sungai Bah Bolon.
Gambar 3.12. Intalasi pengolahan air bersih 15. Pengolahan Air Bersih Tahap II
Pembangunan Pengolahan Air Bersih Tahap II dengan kapasitas 900 m3/jam dan direncanakan selesai pada tahun 2018.
16. Saluran Induk Tahap II
Pembangunan Saluran Induk Tahap II dengan direncanakan selesai pada tahun 2018.
17. Instalasi Pengolahan Air Limbah
Memiliki kapasitas 250 m3/jam, kualitas limbah yang diterima di pengolahan limbah terpadu ini memiliki parameter sebagai berikut: BOD = 400 – 600 mg/l;
COD = 600 – 800 mg/l; TSS = 400 – 600 mg/l; dan, pH = 4 – 10.
Gambar 3.13. Kantor pengolahan air limbah 18. Kelistrikan
Sistem kelistrikan terbagi atas tiga bagian utama, yaitu pusat pembangkit, saluran transmisi, dan distribusi :
a. Pembangkit
➢ Listrik bersumber dari PT PLN dengan kapasitas 150 kV 60 MVA
➢ Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa Sawit (PLTBS) kapasitas 2 x 3,5 MW yang ramah lingkungan dibangun oleh PT Perkebunan Nusantara III dengan bahan bakar janjangan kosong dan cangkang dari kelapa sawit
b. Instalasi jaringan transmisi, dipusatkan pada gardu utama dan disalurkan menuju gardu hubung secara terintegrasi.
c. Instalasi jaringan distribusi, jaringan distribusi listrik menuju tenant Industri menggunakan jaringan kabel tanam tegangan menengah 20 KV.
3.4. Manajemen KEK Sei Mangkei
PT Perkebunan Nusantara III (Persero) selanjutnya disebut Perseroan, merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang usaha
Agro Bisnis dan Agro Industri Kelapa Sawit dan Karet. Perseroan didirikan pada tanggal 11 Maret 1996 dengan dasar hukum pendirian merujuk pada Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 8 tahun 1996 tanggal 14 Februari 1996.
Perseroan merupakan hasil penggabungan usaha PT.Perkebunan III, IV dan V.
Ketiga PTP yang digabungkan tersebut merupakan hasil restrukturisasi dari Perseroan Perkebunan Negara (PPN), PPN adalah hasil pengambilalihan (nasionalisasi) perusahaan-perusahaan perkebunan milik Belanda oleh Pemerintah RI pada tahun 1958.
Peraturan Pemerintah No. 72 tahun 2014 tanggal 17 September 2014, tentang Penambahan Penyertaan Modal Negara Republik Indonesia Ke Dalam Modal Saham PT Perkebunan Nusantara III (Persero) (selanjutnya disebut PP 72/2014) mengubah komposisi saham Pemerintah Indonesia pada Perseroan dengan mengalihkan saham milik Negara Republik Indonesia pada PT Perkebunan Nusantara I, II, dan IV sampai dengan XIV. Sehingga Perseroan memiliki 90%
saham PT Perkebunan Nusantara I, II, dan IV sampai dengan XIV.
PTPN III perseroan memiliki 12 (duabelas) pabrik kelapa sawit dengan kapasitas olah sebesar 585 ton tandan buah segar per jam dan 7 (tujuh) pabrik karet dengan kapasitas olah sebesar 167,8 ton karet kering per hari. Produk utamanya antara lain Minyak Kelapa Sawit (CPO), inti kelapa sawit (kernel) dan karet (lateks pekat, crumb rubber dan sheet). Kegiatan Perseroan antara lain mencakup budi daya dan pengolahan tanaman kelapa sawit dan karet. Luas areal perkebunan kelapa sawit pada tahun 2016 yaitu 575.744,52 Ha, sedangkan luas perkebunan karet yaitu 164.182,24 Ha. Perkebunan kelapa sawit dan karet tersebar masing-masing di Kabupaten: Labuhanbatu Selatan; Labuhan Batu; Labuhanbatu Utara; Asahan;
Simalungun; Serdang Bedagai; Deli Serdang; Serdang Bedagai; Tapanuli Selatan;
dan, Aceh Timur.
Sebagai BUMN yang berpengalaman dan beroperasi di wilayah Sumatera Bagian Utara, Perseroan dipercaya untuk mengelola Kawasan Ekonomi Khusus Sei Mangkei (KEK Sei Mangkei) di Simalungun, Sumatera Utara. KEK Sei Mangkei ditetapkan oleh Pemerintah Indonesia melalui Peraturan Pemerintah No. 29 tahun 2012 yang merujuk pada Undang-Undang No. 39 tahun 2009 tentang Kawasan Ekonomi Khusus. KEK Sei Mangkei memiliki luas 1.933,8 ha dan diperkirakan dapat menyerap tenaga kerja 83.304 orang hingga tahun 2031.
Sejak 31 Agustus 2017, pengelolaan KEK Sei Mangkei dilakukan oleh PT.
Kawasan Industri Nusantara (Kinra) yang merupakan anak perusahaan dari PTPN 3 yang bergerak dalam bidang jasa pengelolaan dan pemasaran Kawasan Industri sehingga dapat beroperasi lebih lincah dan berorientasi bisnis dengan tetap memenuhi aspek hukum dan legalitas. PT Kinra mempunyai peranan penting dalam memperkuat posisi PTPN 3 selaku Badan Usaha Pembangun dan Pengelola Kawasan Ekonomi Khusus Sei Mangkei sesuai dengan Keputusan Bupati Simalungun No.188.45/193/BPPD tahun 2015. PT. Kinra memiliki visi “Menjadi kota industri modern yang berdaya saing tinggi dan berwawasan lingkungan melalui pengembangan sumber daya alam lokal secara optimal“. Perwujudan terhadap visi tersebut dituangkan kedalam misi sebagai berikut:
a. Menyediakan kota industri modern berbasis pengolahan kelapa sawit, karet, dan sumber daya alam lokal lainnya dengan orientasi pada penguatan nilai tambah;
b. Menyediakan infrastruktur terbaik yang terintegrasi dan berwawasan lingkungan;
c. Aktif mempromosikan kawasan kepada calon investor nasional dan multinasional;
d. Bekerjasama dengan Pemerintah terkait dan mitra strategis dalam mendukung pengembangan kawasan yang berdaya saing tinggi;
e. Menyediakan pelayanan prima kepada seluruh tenant di kawasan.
Beragam sertifikat/penghargaan yang telah dimiliki PTPN III dalam rangka menunjang operasional organisasi, antara lain:
1. Piagam Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dari Kementerian Ketenagakerjaan RI (berlaku 2016-2019)
2. ISO 9001-2008 tentang sistem manajemen mutu perkebunan dan pengolahan kelapa sawit dan karet serta pelayanan rumah sakit (berlaku hingga tahun 2018) 3. ISO 14001-2004 tentang sistem manajemen lingkungan perkebunan dan pengolahan kelapa sawit dan karet serta pelayanan rumah sakit (berlaku hingga tahun 2017).
4. Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), masing-masing di PKS: Aek Nabara Selatan; Aek Torop; Sei Mangkei; Aek Raso; Rambutan; Sei Daun; Sei Meranti; Sei Silau; Sisumut; dan, Torgamba.
3. 5. Tenant di KEK Sei Mangkei
Sejak diresmikan pada tanggal 27 Januari 2015, tenant yang telah ada dan direncanakan untuk beroperasi di KEK Sei Mangkei antara lain sebagai berikut:
1. Pabrik Kelapa Sawit (PKS) PTPN III (Persero)
PKS Sei Mangkei PTPN III mulai beroperasi sejak tahun 1997 dengan kapasitas awal 30 ton TBS/jam, kemudian meningkat menjadi 75 ton TBS/jam hingga saat ini. Produk yang dihasilkan yaitu CPO (crude palm oil) dan inti sawit (palm kernel).
2. Pabrik Palm Kernel Oil (PKO) PTPN III (Persero)
Pabrik PKO Sei Mangkei PTPN III mulai dibangun pada tahun 2010 dan telah beroperasi pada tahun 2011 dengan kapasitas 400 ton/hari. Produk yang dihasilkan CPKO (crude palm kernel oil) dan PKM (palm kernel meal).
3. PT. Unilever Oleochemical Indonesia (PT.UOI)
Merupakan industry oleokimia dan mulai beroperasi sejak 26 November 2015 dan setiap tahunnya menghasilkan produk antara lain: fatty acid, surfactant, dan soap noodles.
4. PT. Perusahaan Listrik Negara (PLN)
Memiliki gardu induk 150 KV dengan kapasitas 60 MVA yang telah beroperasi sejak Februari 2016, selanjutnya akan ditingkatkan kapasitasnya menjadi 120 MVA (500 KV).
5. PT. Pertamina Gas (Pertagas)
Pendistribusian gas di KEK Sei Mangkei disuplai melalui jaringan pipa gas dan metering station gas alam dengan kapasitas 75 MMSCFD, dengan pembagian:
40 MMSCFD untuk industry: dan, 35 MMSCFD dikonversi menjadi energi listrik setara 250 MW dengan menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG).
6. PT. Industri Nabati Lestari (INL)
Merupakan pabrik minyak goreng yang dikelola anak perusahaan PTPN III dan PTPN IV dengan kapasitas 600.000 ton CPO/tahun serta sedang dalam tahap pembangunan. Produk yang akan dihasilkan antara lain: minyak goreng;
purined fatty acid distillate; dan, stearin.
BAB IV
METODE PENELITIAN
4.1. Tempat dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian berada di KEK Sei Mangkei, Kecamatan Bosar Maligas, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara. Penelitian dilaksanakan sejak bulan Januari hingga Mei 2018.
4.2. Jenis Penelitian
Penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan survey serta analisis data secara deskriptif untuk menentukan variabel indikator lingkungan. Metode kuantitatif digunakan untuk menganalisis hubungan antar setiap variabel indikator lingkungan menggunakan analisis jalur (path analysis).
4.3. Populasi dan Sampel
Populasi penelitian adalah seluruh objek yang memiliki kegiatan di KEK Sei Mangkei. Berdasarkan kegiatan yang ada di KEK Sei Mangkei, maka sampel penelitian adalah: PT. Perkebunan Nusantara (PTPN) 3; PT. Kawasan Industri Nusantara (Kinra); Badan Administrator KEK Sei Mangkei; Pabrik Palm Kernel Oil (PKO); dan, Pabrik Kelapa Sawit (PKS). Pengambilan sampel dilakukan secara cluster random sampling sesuai peran organisasi didalam KEK Sei Mangkei.
Karakteristik sampel pada penelitian yaitu sebagai berikut:
a. Bekerja di KEK Sei Mangkei (pada pengelola atau tenant);
b. Memiliki pengetahuan tentang KEK Sei Mangkei; dan,
c. Mampu memahami dan menjawab pertanyaan pada kuesioner.