ANALISIS SISTEM SANITASI DALAM PENGEMBANGAN WILAYAH DI KECAMATAN TEBING TINGGI KOTA
TESIS
Oleh :
DEDI FADILLAH 137003049/PWD
SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2016
ANALISIS SISTEM SANITASI DALAM PENGEMBANGAN WILAYAH DI KECAMATAN TEBING TINGGI KOTA
TESIS
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains dalam Program Studi Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Pedesaaan
pada Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara
Oleh :
DEDI FADILLAH 137003049/PWD
SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2016
Judul Tesis : ANALISIS SISTEM SANITASI DALAM
PENGEMBANGAN WILAYAH DI KECAMATAN
TEBING TINGGI KOTA Nama Mahasiswa : DEDI FADILLAH Nomor Pokok : 137003049
Program Studi : Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Pedesaaan (PWD)
Menyetujui Komisi Pembimbing
( Prof.Dr. lic.rer.reg. Sirojuzilam, SE ) Ketua
( Agus Suriadi, S.Sos, M.Si ) Anggota
Ketua Program Studi, Direktur,
( Prof.Dr. lic.rer.reg. Sirojuzilam, SE ) ( Prof.Dr. Erman Munir, M.Sc )
Tanggal Lulus : 3 Februari 2016
Telah diuji pada
Tanggal : 3 Februari 2016
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua : Prof.Dr.lic.rer.reg.Sirojuzilam,SE Anggota : 1. Agus Suriadi.S.Sos.M.Si
2. Prof. Dr. H.B. Tarmizi, SE, SU 3. Prof.Dr. Marlon Sihombing, MA 4. Dr. Agus Purwoko, S.Hut, M.Si
ABSTRAK
ANALISIS SISTEM SANITASI DALAM PENGEMBANGAN WILAYAH DI KECAMATAN TEBING TINGGI KOTA
Sistem sanitasi dapat dilihat dari tiga aspek, yaitu aspek teknis, aspek kelembagaan dan aspek peran serta masyarakat. Sistem sanitasi yang tidak berjalan sebagaimana direncanakan akan mempengaruhi kesehatan masyarakat, keduanya merupakan indikator dari pengembangan wilayah dilihat dari tipologi tingkat kumuh dan keberlanjutan (sustainability). Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif dan analisis SWOT. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kondisi sanitasi dasar di Kecamatan Tebing Tinggi Kota menunjukkan masih ada masyarakat yang belum melakukan dan memperoleh sanitasi dasar yang baik dalam penanganan air limbah domestik, persampahan, dan drainase perkotaan. Strategi perencanaan sanitasi dasar dalam pengembangan wilayah Kecamatan Tebing Tinggi Kota berdasarkan analisis SWOT:
a. Air limbah domestik : Meningkatkan pengetahuan warga kota terkait pengelolaan air limbah domestik dan PHBS; Menetapkan dan mengoptimalkan fasilitas pengolahan air limbah terpusat dan setempat untuk area beresiko; Menyiapkan stimulus atau insentif rehabilitasi tangki septik rumah tangga serta penyambungan ke fasilitas pengolahan air limbah;
Menyiapkan peraturan daerah atau regulasi terkait pengelolaan air limbah;
Mendukung dan mengoperasionalkan UPTD PAL untuk melayani air limbah domestik di Kecamatan Tebing Tinggi Kota; Meningkatkan komitmen Pemerintah Kota Tebing Tinggi untuk pembiayaan sub-sektor air limbah; dan Membangun IPLT di Kota Tebing Tinggi.
b. Persampahan : Menyediakan fasilitas pengangkut sampah untuk memenuhi jumlah kebutuhan; Menyiapkan stimulus/insentif terkait pengurangan sampah setempat; Menyiapkan peraturan daerah terkait pengelolan sampah;
Melakukan pembangunan dan perbaruan TPA; Meningkatkan pengetahuan dan kesadaran warga kota terkait pengelolaan persampahan; dan Meningkatkan komitmen Pemko Tebing Tinggi untuk pembiayaan sub-sektor persampahan.
c. Drainase Perkotaan : Optimalisasi pembangunan jaringan drainase perkotaan;
Melaksanakan rehab dan pemeliharaan drainase perkotaan secara periodik dan rutin; Menyusun Masterplan Drainase Perkotaan; dan Mengawal pembiayaan drainase perkotaan.
Kata Kunci : sanitasi dasar, air limbah domestik, persampahan, drainase perkotaan
strategi perencanaan sanitasi dasar
ANALYSIS OF SANITATION SYSTEM IN REGIONAL DEVELOPMENT IN TEBING TINGGI KOTA SUBDISTRICT
ABSTRACT
The sanitation system can be viewed from three aspects, namely technical, institutional aspects and aspects of community participation. Sanitation system which not running as planned will affect public health, both of which are the indicators from the region development which are seen from typology level of slums and sustainability (sustainability). The analytical method used in this research is descriptive analysis and SWOT analysis. The results of this research indicate that the condition of basic sanitary in Tebing Tinggi Kota Subdistrict shows that there are still people who have not done and gain a good basic sanitation in handling domestic waste water, solid waste and urban drainage. Basic sanitation planning strategies in the developing Tebing Tinggi Kota Subdistrict based on SWOT analysis :
a. Domestic waste water: Increase the citizens knowledge related to domestic waste water management and PHBS; Define and optimize centralized wastewater treatment facilities and local to the risk area; Preparing stimulus or incentive household septic tank rehabilitation as well as the connecting to a wastewater treatment facility; Setting up local legislation or regulations related to waste water management; UPTD PAL support and operationalize UPTD PAL of Tebing Tinggi Kota Subdistrict; increase the commitment of the Government of Tebing Tinggi to finance sub-sectors of waste water; and Build IPLT in Tebing Tinggi City.
b. Solid Waste: Provides the facility waste hauler to fulfill the required needs; Preparing stimulus / incentive related to local waste reduction; Setting up local regulations related to the management of garbage; Conducting development and renewal of TPA; Increase knowledge and awareness of the citizens related to solid waste management; and Increase the commitment of the Government of Tebing Tinggi City to finance sub-sector solid waste.
c. Urban Drainage: Optimization of urban drainage network construction; do the rehabilitation and maintenance of urban drainage periodicly and routine; Arrange Urban Drainage Masterplan; and aware of the kinancing of urban drainage.
Keywords : basic sanitation, domestic waste water, solid waste, urban drainage planning strategies of basic sanitation
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan taufik dan hidayah sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis dengan judul: “Analisis Sistem Sanitasi dalam Pengembangan Wilayah di Kecamatan Tebing Tinggi Kota”. Tesis ini diajukan untuk memenuhi salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan Program Studi Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara Medan.
Dalam penyusunan tesis ini, penulis telah banyak mendapat bantuan, masukan dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu penulis menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya, kepada yang terhormat Bapak Prof. Dr. lic.rer.reg. Sirojuzilam, SE. selaku Ketua Program Studi Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Pedesaan (PWD) Sekolah Pascasarjana USU Medan sekaligus Ketua Komisi Pembimbing dan Bapak Agus Suriadi, S.Sos, M.Si., selaku Anggota Komisi Pembimbing yang telah memberi saran, dukungan, pengetahuan dan bimbingan kepada penyusun hingga tesis ini selesai.
Pada kesempatan ini penulis juga tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak Prof. Dr. Erman Munir, M.Sc., selaku Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara Medan.
2. Bapak-bapak Dosen Pembanding yang telah memberikan masukan dan saran bagi kesempurnaan tesis ini.
3. Seluruh Dosen-Pengajar, beserta Staf Administrasi yang telah banyak memberikan bantuan sejak awal perkuliahan hingga penyelesaian tesis ini.
4. Secara khusus penulis mengucapkan terima kasih kepada Ayahanda H.
Achmad (Almarhum) dan Ibunda Hj. Sarjani Daulay yang telah mengasuh, membesarkan, mendidik dan mendo’akan dan selalu memberi motivasi kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan tesis ini.
5. Papah Mertua Dr. Ir. H. Mas Atje Purbawinata yang selalu memberikan berdoa dan dorongan semangat kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan tesis ini.
6. Istri dan anak tercinta yang senantiasa berdoa dan memberikan dorongan dan perhatian yang tulus ikhlas sehingga dapat menyelesaikan tesis ini.
7. Boru Tulangku Meilina Daulay yang senantiasa memberikan bantuan dan semangat kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan tesis ini.
8. Serta kepada teman-teman seangkatan yang telah semangat kepada penulis untuk menyelesaikan tesis ini.
Akhirnya atas segala kekurangannya, kepada semua pihak dalam kaitan dengan proses penyusunan tesis ini serta selama dalam proses pendidikan saya menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya dan Penulis berharap semoga tesis ini dapat bermanfaat bagi berbagai pihak yang berkepentingan.
Amiin.
Medan, Februari 2016 Penulis
Dedi Fadillah
RIWAYAT HIDUP
Dedi Fadillah, lahir di Medan pada tanggal 28 Desember 1974, merupakan anak kedua dari 3 (tiga) bersaudara dari pasangan Ayahanda H.
Achmad (Alm) dan Ibunda Hj. Sarjani Daulay.
Pendidikan formal yang ditempuh, yaitu : Sekolah Dasar di SD Negeri 060869 Medan, tamat pada tahun 1987, kemudian melanjutkan Sekolah Menengah Tingkat Pertama di SMP Negeri 12 Medan, tamat pada tahun 1990, kemudian melanjutkan pendidikan ke Sekolah Menengah Tingkat Atas di SMA Negeri 9 Medan, tamat pada tahun 1993. Pada Tahun 1993 melanjutkan pendidikan di Sekolah Tinggi Teknik Lingkungan “Yayasan Lingkungan Hidup”
Yogyakarta Jurusan Teknik Lingkungan dan selesai pada tahun 2002 dengan gelar Sarjana Teknik (ST). Pada Tahun 2013, penulis melanjutkan pendidikan di Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara Medan Program Studi Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Pedesaan (PWD).
Pada tahun 2005 sampai dengan sekarang, penulis bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Pemerintah Kota Tebing Tinggi, dan saat ini Penulis bertugas di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Tebing Tinggi.
PERNYATAAN
Judul Tesis
“ ANALISIS SISTEM SANITASI DALAM PENGEMBANGAN WILAYAH DI KECAMATAN TEBING TINGGI KOTA ”
Dengan ini penulis menyatakan bahwa Tesis ini disusun sebagai syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada Program Studi Perencanaan Pembagunan Wilayah dan Pedesaan Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara adalah benar merupakan hasil karya penulis sendiri.
Adapun pengutipan-pengutipan yang penulis lakukan pada bagian-bagian tertentu dari hasil karya orang lain dalam penulisan Tesis ini, telah penulis cantumkan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah dan etika penulisan ilmiah.
Apabila dikemudian hari ternyata ditemukan seluruh atau sebagian Tesis ini bukan hasil karya penulis sendiri atau adanya plagiat dalam bagian-bagian tertentu, penulis bersedia menerima sanksi pencabutan gelar akademik yang penulis sandang dan sanksi-sanksi lainnya sesuai dengan peraturan perundang- undangan yang berlaku.
Medan, 3 Februari 2016 Penulis,
DEDI FADILLAH
Materai 6000
DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK... i
KATA PENGANTAR... ii
DAFTAR ISI... iii
DAFTAR TABEL... iv
DAFTAR GAMBAR... v
BAB I. PENDAHULUAN... 1
1.1. Latar Belakang... 1
1.2. Perumusan Masalah... 5
1.3. Tujuan Penelitian... 6
1.4. Manfaat Penelitian... 6
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA... 7
2.1. Penelitian Terdahulu... 7
2.2. Pengembangan Wilayah... 15
2.3. Penataan Ruang Kota... 20
2.4. Ruang Lingkup Sanitasi Lingkungan... 23
2.5. Sanitasi Dasar... 25
2.6. Kerangka Pemikiran... 29
2.7. Hipotesis Penelitian... 31
BAB III. METODE PENELITIAN... 31
3.1. Tempat dan Waktu Penelitian... 31
3.2. Jenis Penelitian... 31
3.3. Teknik Pengumpulan Data... 33
3.4. Jenis dan Sumber Data... 33
3.5. Defenisi Operasional... 33
3.6. Analisa Data... 34
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN... 37
4.1. Hasil Penelitian... 37
4.1.1 . Gambaran Umum Kota Tebing Tinggi... 37
4.1.2 . Kondisi Sistem Sanitasi Kota Tebing Tinggi... 43
4.1.2.1. Air Limbah Domestik... 43
4.1.2.2. Persampahan... 49
4.1.2.3. Drainase Perkotaan... 53
4.1.3 . Sanitasi di Kecamatan Tebing Tinggi Kota... 56
4.1.3.1. Aspek Teknis... 56
4.1.3.1.1. Air Limbah Domestik... 56
4.1.3.1.2. Persampahan... 57
4.1.3.1.3. Drainase Perkotaan... 58
4.1.3.2. Aspek Kelembagaan... 59
4.1.3.2.1. Air Limbah Domestik... 59
4.1.3.2.2. Persampahan... 60
4.1.3.2.3. Drainase Perkotaan... 60
4.1.3.3. Aspek Peran Serta Masyarakat... 61
4.1.3.3.1. Air Limbah Domestik... 61
4.1.3.3.2. Persampahan... 61
4.1.3.3.3. Drainase Perkotaan... 62
4.1.4 . Perencanaan Sistem Sanitasi dalam Pengembangan Wilayah... 62
4.2. Pembahasan... 67
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN... 77
5.1 Kesimpulan... 77
5.2. Saran... 78
DAFTAR PUSTAKA... 79 LAMPIRAN... 82
DAFTAR GAMBAR
Nomor Judul Halaman
2.1. Hubungan Antar Elemen Pembangunan... 19
2.2. Konstruksi Jamban Sehat... 27
2.3. Kerangka Pemikiran... 31
3.1. Peta Administrasi Kecamatan Tebing Tinggi Kota... 32
3.2. Analisis SWOT... 35
4.1. Peta Administrasi Kota Tebing Tinggi... 39
4.2. Diagram Sistem Sanitasi Air Limbah Domestik... 44
4.3. Peta Cakupan Akses Dan Sistem Layanan Air Limbah Domestik Per Kecamatan di Kota Tebing Tinggi... 48
4.4. Diagram Sistem Sanitasi Persampahan Domestik... 50
4.5. Peta Persampahan Per Kecamatan di Kota Tebing Tinggi... 52
DAFTAR TABEL
Nomor Judul Halaman 1.1. Lokasi Perumahan Kumuh dan Permukiman Kumuh di Kota
Tebing Tinggi... 4
4.1. Nama dan Luas Wilayah per Kecamatan... 40
4.2. Jumlah Penduduk Saat Ini dan Proyeksi 5 Tahun Kedepan... 40
4.3. Jumlah Kepala Keluarga Saat Ini dan Proyeksi 5 Tahun Kedepan... 41
4.4. Tingkat Pertumbuhan Penduduk dan Kepadatan Saat Ini dan Proyeksi 5 Tahun Kedepan... 42
4.5. Jumlah KK Miskin per Kecamatan... 42
4.6. Diagram Sistem Sanitasi Pengelolaan Air Limbah Domestik... 43
4.7. Cakupan Layanan Air Limbah Domestik Saat Ini... 45
4.8. Kondisi Prasarana dan Sarana Pengelolaan Air Limbah Domestik.. 47
4.9. Volume Timbunan Sampah per Kecamatan... 50
4.10. Cakupan Akses dan Sistem Layanan Persampahan... 51
4.11. Lokasi Genangan dan Perkiraan Luas Genangan... 54
4.12. Kondisi Sarana dan Prasarana Drainase Perkotaan... 55
4.13. Analisis SWOT Strategi Perencanaan Sanitasi Dasar Air Limbah... 63 4.14. Analisis SWOT Strategi Perencanaan Sanitasi Dasar Persampahan. 64
DAFTAR LAMPIRAN
No. Judul Halaman 1. Dokumentasi Instansi Terkait yang Menangani Sanitasi di Kota Tebing
Tinggi... 82 2. Dokumentasi Penelitian... 83
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Lingkungan permukiman merupakan bagian dari lingkungan binaan dan juga bagian dari lingkungan hidup. Salah satu permasalahan di daerah perkotaan adalah lingkungan permukiman, khususnya di daerah pinggiran kota. Pesatnya arus urbanisasi penduduk ke kota-kota besar menimbulkan kekumuhan- kekumuhan baru di daerah sudut kota. Tingkat kemiskinan adalah merupakan salah satu faktor yang berperan penting dalam mempengaruhi kualitas lingkungan.
Penurunan kualitas kehidupan di kawasan permukiman di tengah-tengah kota, memaksa mereka yang tidak mampu menanggung beban ekonomis pemeliharaan tingkat kualitas yang ada, untuk berpindah ke tempat lain yang umumnya ke pinggiran kota. Pola pemekaran wilayah permukiman tidak memecah masalah penurunan kualitas di tengah kota, kalau ditinjau dari sudut sosiologis (Kadir, 2010).
Cepatnya laju urbanisasi yang tidak diimbangi dengan ketersediaan ruang, prasarana dan sarana utilitas yang cukup menyebabkan suatu kawasan permukiman over capacity (melebihi kapasitas) dan menjadi kumuh. Pada umumnya kondisi permukiman kumuh menghadapi permasalahan antara lain : (1) luas bangunan yang sangat sempit dengan kondisi yang tidak memenuhi standar kesehatan dan kehidupan sosial, (2) kondisi bangunan rumah yang saling berhimpitan sehingga rentan terhadap bahaya kebakaran, (3) kurangnya air bersih, (4) jaringan listrik yang rumit dan tidak mencukupi, (5) darinase yang sangat
buruk, (6) jalan lingkungan yang buruk, (7) ketersediaan sarana MCK yang sangat terbatas. Kondisi dan permasalahan tersebut telah berdampak pada timbulnya berbagai jenis penyakit, menurunnya produktivitas warga penghuni, timbulnya kerawanan dan penyakit sosial (Pedum, NUSSP, 2006).
Kualitas lingkungan permukiman sangat ditentukan oleh sanitasi, dimana sanitasi merupakan salah satu tantangan yang paling utama bagi negara berkembang. Sanitasi lingkungan adalah status kesehatan suatu lingkungan yang mencakup perumahan, pembuangan kotoran, penyediaan air bersih dan sebagainya. Sanitasi lingkungan juga dapat diartikan sebagai kegiatan yang ditujukan untuk meningkatkan dan mempertahankan standar kondisi lingkungan yang mendasar yang mempengaruhi kesejahteraan manusia. Kondisi tersebut mencakup (1) penyediaan air bersih yang cukup dan aman, (2) pembuangan limbah yang efisien dan ramah lingkungan, (3) perlindungan makananan dari kontaminasi, (4) udara yang bersih dan aman, (5) rumah bersih dan aman (Notoadmojo, 2003).
Pemerintah memiliki komitmen untuk pencapaian Millenium Development Goals (MDGs) yang dicanangkan pada bulan September tahun 2000 oleh Perserikatan Bangsa Bangsa hingga tahun 2015. Tujuan Pembangunan Milenium yaitu : menanggulangi kemiskinan dan kelaparan; memenuhi pendidikan dasar; mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan;
menurunkan angka kematian bayi; menurunkan angka kematian ibu melahirkan;
memerangi HIV/AIDS, malaria dan penyakit menular; menjamin kelestarian lingkungan hidup serta mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan.
Meningkatkan akses terhadap air minum dan sanitasi dasar secara berkesinambungan kepada separuh dari proporsi penduduk yang belum mendapatkan akses harus dipenuhi sesuai dengan target MDGs pada tahun 2015.
Konvensi Sanitasi Perkotaan Tahun 2009, menyimpulkan bahwa kondisi sanitasi di Indonesia masih cukup memprihatinkan dimana akses terhadap sanitasi dasar mencapai 90,5% perkotaan dan 67% pedesaaan. Namun akses terhadap sanitasi setempat dan aman (menggunakan septik tank) baru mencapai 71,06% di perkotaan dan hanya 32,47% di perdesaan (Zulkifli, 2011).
Fenomena pembangunan perkotaan yang berkembang dengan pesat, berdampak pada kecenderungan meningkatnya pertumbuhan penduduk.
Perkembangan ini tidak sejalan dengan pembangunan sarana sanitasi khususnya air limbah permukiman, yang mengakibatkan penurunan kualitas lingkungan.
Kondisi sarana prasarana sanitasi ini merupakan suatu tantangan bagi pemerintah dan masyarakat untuk mencapai sasaran dari Millenium Development Goals (MDGs), yaitu meningkatkan akses air minum dan sanitasi dasar kepada separuh dari proporsi penduduk yang belum mendapatkan akses. Hal ini juga tertuang dalam Rencana Pembangunn Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2015- 2019, yaitu target layanan akses sanitasi 100% pada tahun 2019 dengan perincian 85% merupakan pengelolaan sanitasi setempat (on-site) dan 15% merupakan pengelolaan sanitasi terpusat (off-site).
Kota Tebing Tinggi merupakan salah satu dari 33 kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Utara, dengan luas wilayah 38,438 km² dan jumlah penduduk pada tahun 2014 sebanyak 147.761 jiwa. Berdasarkan data kawasan kumuh di Kota Tebing Tinggi, diketahui bahwa terdapat 5 (lima) lingkungan pada 5 (lima)
kelurahan di Kota Tebing Tinggi merupakan kawasan kumuh (Surat Keputusan Walikota No. 050/2128 Tahun 2014 tentang penetapan lokasi perumahan kumuh dan permukiman kumuh di Kota Tebing Tinggi). Khusus untuk Kecamatan Tebing Tinggi Kota, kawasan kumuhnya terdapat di Lingkungan 1 Kelurahan Bandar Utama dengan luas kumuhnya adalah 1,98 Ha. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 1.1 berikut ini.
Tabel. 1.1: Lokasi Perumahan Kumuh dan Permukiman Kumuh di Kota Tebing Tinggi
No Nama
Lokasi/Lingkungan Kelurahan Kecamatan Luas
(ha) Jumlah KK
1 Lingkungan VI Tualang Padang
Hulu 1,22 316
2 Lingkungan I Bandar
Utama
Tebing Tinggi Kota
1,98 327
3 Lingkungan II Pinang
Mancung Bajenis 2,19 456
4 Lingkungan VI Durian Bajenis 3,16 419
5 Lingkungan III Bulian Bajenis 1,50 257
Sumber: SK Walikota Tebing Tinggi No. 050/2128 Tahun 2014 tentang Penetapan Lokasi Perumahan Kumuh dan Permukiman Kumuh di Kota Tebing Tinggi,
Kawasan kumuh di Kecamatan Tebing Tinggi Kota ini dihadapkan pada permasalahan sanitasi, khususnya sanitasi dasar, yaitu penyediaan air bersih, pembuangan kotoran manusia, pengelolaan sampah dan pengelolaan air limbah.
Menurut Profil Sanitasi Kota Tebing Tinggi Tahun 2014, di Kecamatan Tebing Tinggi Kota masih terdapat masyarakat yang Buang Air Besar Sembarangan (BABS) sebanyak 76 KK dan jamban cubluk yang dikategorikan tidak aman bila dibangun di area dengan kepadatan > 50 orang/Ha dan jarak terhadap sumber air bersih yg bukan perpipaan < 10 m sebanyak 471 KK. Sedangkan kondisi timbulan sampah di Kecamatan Tebing Tinggi Kota berkisar 68,13 m³ per hari, cakupan akses pelayanan persampahan baru sekitar 78,86% atau 53,73 m³ per hari, dan
sisanya dibuang sembarangan atau tidak terkelola. Sebagian besar penduduk, khususnya di kawasan kumuh membuang kotoran ke sungai, demikian juga dengan membuang sampah dan limbah rumah tangga. Hingga tahun 2014, hanya 57,62% rumah tangga yang telah memperoleh layanan air bersih dari PDAM (Review dan Revisi Rispam Kota Tebing Tinggi, Bappeda, 2014). Dari data-data tersebut diatas merupakan fenomena kondisi sanitasi dasar yang buruk sehingga perlu upaya pemerintah dan masyarakat untuk segera menanganiya. Pemerintah Kota Tebing Tinggi telah melakukan berbagai program perbaikan sanitasi di Kecamatan Tebing Tinggi Kota, tetapi masih belum efektif sebagaimana diharapkan.
Sistem sanitasi dapat dilihat dari tiga aspek, yaitu aspek teknis, aspek kelembagaan dan aspek peran serta masyarakat. Sistem sanitasi yang tidak berjalan sebagaimana direncanakan akan mempengaruhi kesehatan masyarakat, keduanya merupakan indikator dari pengembangan wilayah dilihat dari tipologi tingkat kumuh dan keberlanjutan (sustainability).
Berdasarkan uraian tersebut di atas, perlu dilakukan analisis sistem sanitasi dalam pengembangan wilayah di Kecamatan Tebing Tinggi Kota.
1.2. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang, maka rumusan permasalahan penelitian analisis sistem sanitasi dalam pengembangan wilayah di Kecamatan Tebing Tinggi Kota adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana kondisi sistem sanitasi dasar di Kecamatan Tebing Tinggi Kota ? 2. Bagaimana perencanaan sistem sanitasi dasar dalam pengembangan wilayah
di Kecamatan Tebing Tinggi Kota ?
1.3. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian analisis sistem sanitasi dalam pengembangan wilayah di Kecamatan Tebing Tinggi Kota ini adalah :
1. Untuk menganalisis kondisi sistem sanitasi dasar di Kecamatan Tebing Tinggi Kota.
2. Untuk menganalisis perencanaan sistem sanitasi dasar dalam pengembangan wilayah di Kecamatan Tebing Tinggi Kota.
1.4. Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian analisis sistem sanitasi dalam pengembangan wilayah di Kecamatan Tebing Tinggi Kota ini adalah :
1. Sebagai bahan informasi dan pertimbangan bagi Pemerintah Kota Tebing Tinggi khususnya Kecamatan Tebing Tinggi Kota dalam upaya meningkatkan kualitas lingkungan permukiman.
2. Sebagai bahan informasi bagi Pemerintah Kota Tebing Tinggi dalam evaluasi dan perencanaan sistem sanitasi permukiman.
3. Sebagai bahan referensi dalam ilmu pengetahuan tentang sistem sanitasi permukiman dan hubungannya dengan pengembangan wilayah.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Penelitian Terdahulu
Gunawan (2006), melakukan penelitian bagaimana pengetahuan masyarakat di Kabupaten Tebo tentang pengelolaan Program Sanitasi Berbasis Masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji pengetahuan masyarakat di Kabupaten Tebo tentang pengelolaan sanitasi berbasis masyarakat untuk selanjutnya pengetahuan tersebut secara komprehensif diletakkan dalam konsep kerangka manajemen prasarana perkotaan, pembangunan berbasis masyarakat, dan konsep sanitasi berbasis masyarakat. Sasaran studi adalah mengidentifikasi pengetahuan masyarakat tentang sanitasi berbasis masyarakat yang diturunkan menjadi 64 variabel studi. Data penelitian berasal dari kuisioner yang disebarkan kepada masyarakat pengguna fasilitas sanitasi sejumlah 100 kuisioner. Metode pendekatan penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif-deskriptif. Analisis data dilakukan menggunakan program SPSS Release 12 for Windows, melalui penggunaan alat analisis Crosstabs dan Frequency. Kesimpulan pada penelitian ini adalah pengetahuan masyarakat tentang program Sanitasi Berbasis masyarakat sangat beragam yang dilihat dari keragaman (Heterogenitas) jawaban responden terhadap variabel studi yang telah dituangkan dalam pertanyaan kuisioner. Proses terjadinya fenomena tersebut diatas merupakan mata rantai sebab akibat sebagaimana yang diuraikan dalam berbagai kajian studi yang menjelaskan proses interkasi manisia dan lingkungannya, secara umum memiliki urutan stimulus- persepsi-reaksi. Menurut kerangka manjemen pengelolaan prasarana perkotaan,
dimana titik beratnya adalah pembagian peran yang seimbang antara pelaku pembangunan (pemerintah, masyarakat, swasta) maka untuk kasus di wilayah penelitian peran tersebut masih belum seimbang. Konsep pembangunan berbasis masyarakat yang menitikberatkan posisi masyarakat sebagai mitra belum juga terwujud. Sedangkan konsep sanitasi berbasis msyarakat itu sendiri yang menitikberatkan kemandirian masyarakat dalam penyediaan sanitasi berbasis masyarakat juga belum terwujud.
Kurniawan (2007), melakukan penelitian dengan judul : Penyusunan Strategi Penggelolaan Sanitasi Permukiman Kumuh (Studi Kasus Kawasan Kumuh Sentiong dan Malabero, Bengkulu). Penelitian ini difokuskan pada operasional pengelolaan sanitasi di kawasan permukiman kumuh Malabero dan Sentiong Kota Bengkulu terutama sektor yang mendapatkan prioritas penanganan air limbah dan persampahan. Penelitian ini bertujuaan untuk meneliti masalah sanitasi guna mengidentifikasi prioritas pemenuhan kebutuhan prasarana sanitasi di kawasan penellitian, untuk menentukan sistem operasional pengelolaan sanitasi berbasis masyarakat (Sanimas), serta untuk merumuskan rencana strategi pemenuhan prasarana sanitasi dan pentahapannya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, survey dan studi kepustakaan. Data sekunder dikumpulkan melalui studi kepustakaan dan pengumpulan dokumen, sementara data primer diperoleh melalui pengamatan lapangan (survey) dan penyebaran kuisioner. Sedangkan aspek yang ditinjau adalah aspek teknis, institusi (kelembagaan), finansial dan sosial. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 59% penduduk di permukiman kumuh Kota Bengkulu masih membuang limbah ke drainase, pantai dan sungai. Pengelolaan sanitasi di kawasan kumuh
dengan pemilihan sistem sanitasi yang tepat dengan melibatkan peran serta masyarakat akan dapat diterima oleh masyarakat dan lebih efektif.
Nurhidayat dan Hermana (2009), melakukan penelitian terhadap Strategi Pengelolaan Air Limbah Domestik dengan Sistem Sanitasi Skala Lingkungan Berbasis Masyarakat di Kota Batu Jawa Timur. Penelitian dilakukan dengan mengkaji aspek teknis dan aspek pembiayaan, aspek kelembagaan dan aspek peran serta masyarakat. Dari analisis aspek teknis dihasilkan strategi pengelolaan air limbah domestik dengan membangun prasarana pengelolaan air limbah domestik dengan membangun prasarana air limbah domestik hingga 225 unit MCK. Perhitungan aspek biaya dengan parameter NPV, IRR dan B/C ratio didapatkan nilai NPV bernilai positif sebesar Rp. 2.892.939,-. Nilai IRR sebesar 13,98% dan nilai B/C ratio sebesar 2,25 dapat disimpulkan pengelolaan air limbah domestik dengan sistem sanitasi skala lingkungan berbasis masyarakat di Kota Batu adalah layak dilaksanakan. Berdasarkan analisis SWOT untuk analisis aspek kelembagaaan dan analisis aspek peran serta masyarakat dihasilkan suatu konsep strategi peningkatan kapasitas manajemen kelembagaan, pembuatan kebijakan dan prioritas program pembangunan untuk menghasilkan partisipasi dalam pengelolaan prasarana air limbah domestik.
Surotinojo (2009), melakukan penelitian terhadap Partisipasi Masyarakat Dalam Program Sanitasi Oleh Masyarakat (SANIMAS) di Desa Bajo Kecamatan Tilamuta Kabupaten Boelemo, Gorontalo. Penelitian menggunakan analisis deskriptif-kuantitatif yang didukung dengan analisis kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa partisipasi masyarakat Desa Bajo diberikan pada seluruh tahapan Program Sanimas, sumbangan pikiran/ide dan material diberikan
pada tahap perencanaan dan pelaksanaan serta partisipasi dalam bentuk uang diberikan dalam tahap pelaksanaan dan pemanfaatan. Tingkat partisipasi masyarakat Desa Bajo tergolong cukup tinggi. Dalam tahapan program insiatif dan pembuatan rancangan, partisipasi masyarakat berada pada tingkatan tidak langsung, dalam tahapan penyusunan dan rencana pada tingkatan pengendalian terbagi dalam tahap pelaksanaan dan pemanfaatan berada pada tingkat pengendalian penuh. Tingkatan partisipasi masyarakat ini dipangaruhi oleh interaksi antara masyarakat dengan pemerintah. Faktor-faktor internal yang mempengaruhi bentuk dan tingkat partisipasi masyarakat dalam Program Sanimas di Desa Bajo, yaitu faktor jenis pekerjaan, tingkat pendapatan, tingkat pendidikan dan faktor pengetahuan masyarakat. Sedangkan faktor-faktor eksternal yaitu pihak yang berkepentingan terhadap Program Sanimas yang mempengaruhi bentuk dan tingkat partisipasi masyarakat adalah pihak pemerintah daerah, tokoh masyarakat dan fasilitator.
Siregar (2010), melakukan penelitian terhadap Kepedulian Masyarakat Dalam Perbaikan Sanitasi Lingkungan Permukiman Kumuh di Kelurahan Matahalasan Kota Tanjung Balai. Dalam penelitian ini digunakan metode kualitatif diawali dengan pendekatan positivistik, yaitu dengan cara berfikir dari depan dengan melihat dan mengkaji variabel-variabel penelitian berdasarkan kajian literatur secara komprehensif, kemudian variabel-variabel tersebut dianalisis pada fenomena yang terjadi di lapangan. Tahap awal yang dilakukan peneliti adalah mendeskripsikan bagaimana karakteristik masyarakat dan pengelolaan sanitasinya, kemudian mengkaji praktek perubahan perilakunya dalam perbaikan sanitasi lingkungan yang terjadi saat ini, selanjutnya mengkaji
faktor-faktor yang mempengaruhi kepedulian masyarakat dalam pengelolaan sanitasi tersebut. Hasil temuan penelitian kepedulian masyarakat dalam perbaikan sanitasi lingkungan di Kelurahan Matahalasan ditandai dengan perilaku masyarakat yang selalu bertanggungjawab dan memperhatikan kepentingan orang lain. Bentuk kepedulian masyarakat terlihat dari peran dan tindakannya terlibat dalam 8 (delapan) proses perbaikan sanitasi lingkungan dimulai dari proses inisiasi awal sampai pada pengawasan dalam Pembangunan MCK++. Kepedulian masyarakat dimotivasi oleh peran pelopor yang memberikan pemahaman bagi masyarakat lainnya, sehingga muncul kesadaran, tanggung jawab, dan kemandirian masyarakat terhadap pengelolaan sanitasi lingkungan.
Gaffar (2010) melakukan penelitian dengan judul : Respon Masyarakat Terhadap Penyediaan Fasilitas Sanitasi (MCK) di Kawassan Permukiman Nelayan Kelurahan Takatidung Kabupaten Polewali Mandar. Kelurahan Takatidung menjadi salah satu objek dari pembangunan melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM-P2KP) 2008. Diantara pembangunan infrastruktur yang dibuat salah satunya adalah fasilitas sanitasi (MCK) yang berada di lingkungan Mangeramba sejumlah 2 unit untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dikarenakan keterbatasan fasilitas tersebut dengan harapan agar masyarakat yang ada memanfaatkan fasilitas MCK yang terbangun. Meskipun pembangunan sudah berjalan, namun kenyataan yang terjadi adalah masih ada sebagian masyarakat yang belum memanfaatkan fasilitas MCK yang telah terbangun dan memilih pesisir pantai dan ruang terbuka hijau untuk buang air besar. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji respon masyarakat terhadap penyediaan fasilitas sanitasi di Kelurahan Takatidung Kecamatan Polewali
Kabupaten Polewali Mandar. Dengan jumlah sampel 43 KK yaitu warga penerima manfaat pembangunan MCK. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif, analisa data dengan menggunakan pendekatan kuantitatif melalui metode pengambilan dan pengolahan data kuantitatif. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi respon/sikap masyarakat yang berada di lingkungan Mangeramba yaitu pengetahuan, kepuasan, partisipasi masyarakat (pemeliharaan, pengelolaan, kontribusi) sehingga sebagian masyarakat masih menggunakan ruang terbuka hijau sebagai sarana untuk buang air besar. Namun secara umum pembangunan MCK yang berada di lingkungan Mangeramba Kelurahan Takatidung telah berhasil dalam mempengaruhi sikap dan perilaku masyarakat yang ada di Kelurahan Takatidung.
Zulkifli (2011), melakukan penelitian tentang Analisis Resiko Kesehatan Lingkungan Kota Palembang Sebagai Dasar Pertimbangan Perbaikan Sistem Sanitasi Perkotaan. Penelitian dilakukan dengan cara survey kepada responden di Kota Palembang pada tahun 2010 melalui pendekatan kuantitatif dan kualitatif.
Responden berjumlah 2.160 orang yang secara acak tersebar di 16 kecamatan dan 54 kelurahan dalam wilayah administrasf Kota Palembang. Variabel penelitian adalah akses terhadap air bersih, sistem pembuangan sampah, kualitas jamban, dan resiko terhadap kesehatan masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan indikator sanitasi “akses terhadap air bersih” tercatat 60,3% dan
“pengaliran yang tidak kontinyu selama 24 jam” hanya tercatat 12,9%; terhadap kebersihan tangan secara higienis tercatat 78,3%. Indikator “sistem pembuangan sampah” mencatat pelayanan pemerintah yang belum cukup maksimal (59,9%) dimana hanya sedikit masyarakat yang melakukan proses pengomposan sampah
rumah tangga di rumah (0,9%). Kualitas jamban sebagian besar masih tergolong
“tidak aman” karena septik tank yang dimiliki belum memenuhi standar jamban yang sehat. Resiko terhadap kesehatan masyarakat masih tergolong “tinggi”
sehingga pemerintah bersama masyarakat diharapkan memperbaiki sistem sanitasi kota.
Wahyuni et al. (2012) melakukan penelitian dengan judul : Implementasi Kebijakan Pembangunan dan Penataan Sanitasi Perkotaan Melalui Program Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat di Kabupaten Tulungagung. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif yang dikombinasikan dengan pendekatan kuantitatif. Program Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) di Kabupaten Tulungagung secara umum belum optimal pelaksanaannya karena ditemukan kelemahan dari sisi penentuan lokasi. Pelaksanaan Rapid Participatory Assasment (RPA), operasional dan pemeliharaan yang kurang.
Apabila dilihat dari tingkat keberhasilan dari masing-masing lokasi maka pelaksanaan program SLBM yang masuk kategori berhasil di wilayah Kelurahan Kampungdalem, Karangwaru, Sembung, Beji kategori cukup. Rekomendasi yang disampaikan untuk peningkatan akses sanitasi masyarakat melalui pembangunan dan penataan sanitasi berbasis masyarakat perlunya menyusun Peraturan Daerah Pengelolaan Limbah, Strategi Sanitasi Kabupaten, mengoptimalkan koordinasi dan kerjsama antar lembaga, penguatan kelompok kerja sanitasi kabupaten, adanya Perturan Desa/Peraturan Kelurahan tentang Pengelolaan dan Penguatan Fasilitator Sanitasi.
Sidjabat (2012), melakukan penelitian tentang Partisipasi Masyarakat Dalam Implementasi Strategi Nasional Sanitasi Total Berbasis Masyarakat di
Kabupaten Grobogan. Di Kabupaten Grobogan khususnya di desa-desa yang diteliti menunjukkan beragam kegiatan partisipasi masyarakat namun belum diketahui gambaran partisipasi masyarakat dalam implementasi strategi tersebut sehingga dalam penelitian ini ingin mengetahui gambaran aktual partisipasi masyarakat dalam implementasi strategi tersebut dan apa faktor pendorong dan penghambat partisipasi masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Hasil eksplorasi dari penelitian menunjukkan bahwa dalm implementasi strategi ini tidak muncul inisiatif dari masyarakat desa mengatasi masalah perilaku buang air besar sembarangan (BABS) berupa usulan dalam musyawarah, memutuskan adanya kegiatan untuk mengatasi masalah buang air besar di sembarang tempat secara partisipatif, termasuk memanfaatkan sumber daya yang dikumpulkan secara kolektif dan melaksanakan kegiatan untuk mengatasi masalah ini seperti pada kegiatan-kegiatan yang telah dikerjakan masyarakat secara partisipatif di desa mereka.
Hanan dan Maryati (2013) melakukan penelitian dengan judul : Minat Masyarakat Terhadap Implementasi Sistem Sanitasi Yang Berkelanjutan di Kelurahan Katulampa Kota Bogor. Kelurahan Katulampa merupakan salah satu kelurahan di Kota Bogor yang dikategorikan sebagai zona resiko sanitasi berdasarkan cakupan jumlah jamban per keluarga dan tingkat buang air besar sembarangan (BABS). Menimbang tingginya biaya investasi sistem sanitasi konvensional, maka diperlukan alternatif sistem sanitasi yang lebih murah dan mendukung keberlanjutan yang dikenal sebagai Sistem Sanitasi Berbasis Ekologis (Ecosan). Penelitian ini bertujuan menganalisis kemungkinan implementasi Sistem Ecosan di kelurahan tersebut berdasarkan indikator-indikator yang berasal
dari tiga faktor sosial yaitu persepsi terhadap sistem, akseptansi, dan kesadaran membayar. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dalam pengumpulan data dilapangan, selanjutnya menggunakan pendekatan deskriptif dalam menganalisis hasil dari proses tabulasi silang (Crosstabs) dan uji Somers. Hasil analisis menunjukkan bahwa indikator-indikator sosial dari faktor akseptansi memiliki panegaruh dominan terhadap minat responden terhadap Implementasi Sistem Ecosan di kelurahan Katulampa, sementara indikator-indikator sosial dari faktor persepsi terhadap sistem dan faktor kesediaan membayar memiliki pengaruh yang tidak terlalu signifikan.
2.2. Pengembangan Wilayah
Menurut Rustiadi, et al. (2011) wilayah dapat didefenisikan sebagai unit geografis dengan batas-batas spesifik tertentu dimana komponen-komponen wilayah tersebut satu sama lain saling berinteraksi secara fungsional. Sehingga batas wilayah tidaklah selalu bersifat fisik dan pasti tetapi sering kali bersifat dinamis. Komponen-komponen wilayah mencakup komponen biofisik alam, sumberdaya buatan (infrastruktur), manusia serta bentuk-bentuk kelembagaan.
Dengan demikian istilah wilayah menekankan interaksi antar manusia dengan sumber daya lainnya yang ada di dalam suatu batasan unit geografis tertentu.
Sedangkan berdasarkan ketentuan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis serta segenap unsur yang terkait kepadanya yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif dan atau aspek fungsional.
Berdasarkan tipologi wilayah klasik menurut Hagget, Cliff dan Frey, 1977 dalam Rustiadi et al. (2011) konsep wilayah diklasifikasikan dalam tiga
kategori, yaitu: (1) wilayah homogen (uniform/homogenus region); wilayah nodal (nodal region); dan (3) wilayah perencanan (planning region atau programming region). Sesuai dengan klasifikasi tersebut, menurut Glason, 1974 dalam Tarigan (2010) fase kemajuan perekonomian region/wilayah dapat diklasifikasikan menjadi :
1) Fase pertama yaitu wilayah formal yang berkenaan dengan keseragaman/homogenitas. Wilayah formal adalah suatu wilayah geografik yang seragam menurut kriteria tertentu, seperti keadaan fisik geografi, ekonomi, sosial dan politik.
2) Fase kedua yaitu wilayah fungsional yang berkenaan dengan koherensi dan interdependensi fungsional, saling hubungan antar bagian-bagian dalam wilayah tersebut. Kadang juga disebut wilayah nodal atau polarized region dan terdiri dari satuan-satuan yang heterogen, seperti desa-kota yang secara fungsional berkaitan.
3) Fase ketiga yaitu wilayah perencanaan yang memperlihatkan koherensi atau kesatuan keputusan-keputusan ekonomi.
Wilayah adalah satu kesatuan unit geografis yang antar bagiannya mempunyai keterkaitan secara fungsional. Sehubungan dengan hal tersebut, maka yang dimaksud dengan pewilayahan (penyusunan wilayah) adalah pendelineasian unit geografis berdasarkan kedekatan, kemiripan, atau intensitas hubungan fungsional (tolong menolong, bantu membantu, lindung melindungi) antara bagian yang satu dengan bagian yang lainnya. Wilayah Pengembangan adalah pewilayahan untuk tujuan pengembangan/pembangunan/development. Tujuan- tujuan pembangunan terkait dengan lima kata kunci, yaitu: (1) pertumbuhan; (2)
penguatan keterkaitan; (3) keberimbangan; (4) kemandirian; dan (5) keberlanjutan. Sedangkan konsep wilayah perencanaan adalah wilayah yang dibatasi berdasarkan kenyataan sifat-sifat tertentu pada wilayah tersebut yang bisa bersifat alamiah maupun non-alamiah yang sedemikian rupa sehingga perlu direncanakan dalam satu kesatuan wilayah perencanaan (Saefulhakim, dkk.2005).
Pembangunan merupakan upaya yang sistematik dan berkesinambungan untuk menciptakan keadaan yang dapat menyediakan berbagai alternatif yang sah bagi pencapaian aspirasi setiap warga yang paling humanistik. Hal ini dipertegas oleh Anwar (2005), yang menyatakan bahwa pembangunan wilayah dilakukan untuk mencapai tujuan pembangunan wilayah yang mencakup aspek-aspek pertumbuhan, pemerataan dan keberlanjutan yang berdimensi lokasi dalam ruang dan berkaitan dengan aspek sosial ekonomi wilayah. Pengertian pembangunan dalam sejarah dan strateginya telah mengalami perubahan, mulai dari strategi pembangunan yang menekankan kepada pertumbuhan ekonomi, kemudian pertumbuhan dan kesempatan kerja, pertumbuhan dan pemerataan, penekanan kepada kebutuhan dasar (basic need approach), pertumbuhan dan lingkungan hidup, dan pembangunan yang berkelanjutan (suistainable development).
Pembangunan wilayah dengan memperhatikan potensi pertumbuhan akan membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan melalui penyebaran penduduk yang lebih rasional, meningkatkan kesempatan kerja dan produktivitas (Mercado, 2002). Menurut Alkadri (2001) pengembangan adalah kemampuan yang ditentukan oleh apa yang dapat dilakukan dengan apa yang dimiliki untuk meningkatkan kualitas hidup. Sedangkan menurut Budiharsono (2007) kata pengembangan identik dengan keinginan menuju perbaikan kondisi
disertai kemampuan untuk mewujudkannya. Pendapat lain bahwa Pengembangan adalah suatu proses untuk mengubah potensi yang terbatas sehingga mempengaruhi timbulnya potensi baru, dalam hal ini termasuk mencari peluang yang ada dalam kelompok yang berbeda yang tidak semuanya mempunyai potensi yang sama.
Prod’homme dalam Alkadri (2001) mendefenisikan pengembangan wilayah sebagai program menyeluruh dan terpadu dari semua kegiatan dengan memperhitungkan sumber daya yang ada dan kontribusinya pada pembangunan suatu wilayah. Pendapat lain menyebutkan pengembangan wilayah adalah upaya untuk memacu perkembangan sosial ekonomi, mengurangi kesenjangan antar wilayah dan menjaga kelestarian lingkungan hidup pada suatu wilayah.
Riyadi dalam Ambardi dan Socia (2002) menjelaskan bahwa pemgembangan wilayah sangat diperlukan karena kondisi sosial ekonomi, budaya dan geografis yang berbeda antara suatu wilayah dengan wilayah lainnya. Pada dasarnya pengembangan wilayah harus disesuaikan dengan kondisi, potensi dan permasalahan wilayah yang bersangkutan.
Pengembangan wilayah dapat digambarkan sebagai hubungan yang harmonis antara sumber daya alam, manusia, dan teknologi dengan memperhitungkan daya tampung lingkungan dalam memberdayakan masyarakat, seperti terlihat pada Gambar 2.1 (Zen dalam Alkadri, 2001).
Gambar 2.1. Hubungan Antar Elemen Pembangunan
Pada umumnya pengembangan wilayah mengacu pada perubahan produktivitas wilayah, yang diukur dengan peningkatan populasi penduduk, kesempatan kerja, tingkat pendapatan, dan nilai tambah industri pengolahan.
Selain defenisi ekonomi, pengembangan wilayah pengacu pada pengembangan sosial, berupa aktivitas kesehatan, pendidikan, kualitas lingkungan, kesejahteraan dan lainnya. Pengembangan wilayah lebih menekankan pada adanya perbaikan wilayah secara bertahap dari kondisi yang kurang berkembang menjadi berkembang, dalam hal ini pengembangan wilayah tidak berkaitan dengan eksploitasi wilayah.
Tujuan pengembangan wilayah mengandung 2 (dua) sisi yang saling berkaitan yaitu sisi sosial dan ekonomi. Dengan kata lain pengembangan wilayah adalah merupakan upaya memberikan kesejahteraan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat, misalnya menciptakan pusat-pusat produksi, memberikan kemudahan prasarana dan pelayanan logistik dan sebagainya (Djakapermana, 2009).
2.3. Penataan Ruang Kota
Dalam Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, mendefenisikan penataan ruang adalah suatu sistem proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang. Sedangkan pelaksanaan penataan ruang adalah upaya pencapaian tujuan penataan ruang melalui pelaksanaan perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang. Tujuan penyelenggaraan penataan ruang adalah untuk mewujudkan ruang wilayah nasional yang aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan berlandaskan Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional dengan:
1. Terwujudnya keharmonisan antara lingkungan alam dan lingkungan buatan;
2. Terwujudnya keterpaduan dalam penggunaan sumber daya alam dan sumber daya buatan dengan memperhatikan sumber daya manusia; dan
3. Terwujudnya perlindungan fungsi ruang dan pencegahan dampak negatif terhadap lingkungan akibat pemanfaatan ruang.
Pertumbuhan penduduk dan perkembangan teknologi mengakibatkan terjadinya peningkatan kebutuhan ruang, perubahan dan kegiatan peningkatan kebutuhan pelayanan. Hal tersebut berakibat pada perubahan ruang dan lingkungan. Agar proses perubahan ruang yang terjadi tidak menyebabkan konflik antar ruang, maka perlu perencanaan tata ruang yang memadai (Dritasto, 2005).
Sebuah kota dalam perkembangannya baik direncanakan maupun tanpa direncanakan atau berkembang secara alamiah, akan membentuk suatu pola struktur kota. Struktur kota terbentuk dalam fungsinya untuk mewadahi kegiatan dan pergerakan atau aktivitas penduduk kota (Fandoe, 2010).
Penataan kota juga berusaha mengelola pembangunan fisik kota. Upaya pengelolaan ini merupakan hal yang sulit, karena banyaknya orang yang terlibat, program yang tidak pasti, pengawasan yang bersifat parsialdan perkembangan kawasan yang tidak terbatas. Lingkup perancangannya meliputi lingkungn terbangun dan lingkungan alam tempat pembangunan tersebut berlangsung (Shirvani, 1985 dalam Fandoe, 2010).
Selanjutnya Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang memuat bahwa keberadaan ruang yang terbatas dan pemahaman masyarakat yang berkembang terhadap pentingnya penataan ruang sehingga diperlukan penyelenggaraan penataan ruang yang transparan, efektif, dan partisipatif agar terwujud ruang yang aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan.
Terdapat enam masalah pokok yang umum dihadapi oleh kota-kota besar dunia yang begitu memusingkan para penata dan pengelola kota pada umumnya dan yang langsung dialami oleh penduduk kota, yaitu masalah-masalah yang mencakup (Herlianto, 1997 dalam Fandoe, 2010) :
1. Pertumbuhan penduduk perkotaan yang tidak terkendali;
2. Perumahan rakyat dan sarana fisik dan sosial yang makin tidak terkendali;
3. Lingkungan hidup dan kesehatan yang makin merosot;
4. Ekonomi kota dan kesempatan kerja yang makin tidak seimbang;
5. Lalu lintas dan transportasi yang semakin langka;
6. Organisasi dan manajemen perkotaan yang makin tidak mampu.
Permasalahan-permasalahan di atas makin sulit diatasi karena pertumbuhan dan perkembangan prasarana dan sarana selalu lebih lambat daripada tuntutan kebutuhan penduduk kota. Perkembangan kebutuhan yang terus
menerus meningkat dan berjalan cepat, hal mana sering mengakibatkan kemacetan di segala bidang disertai dengan timbulnya berbagai masalah perkotaan yang masih sulit ditanggulangi dan diantisipasi sehingga akan berdampak bagi kehidupan penduduk perkotaan itu sendiri. Akibat kepadatan penduduk dapat dipastikan perumahan dan permukimanpun akan tumbuh padat sehingga menimbulkan masalah kemerosotan lingkungan, perumahan menjadi kumuh dan makin tidak layak huni. Prasarana pelayanan kota, seperti air, listrik dan sanitasi (pembuangan limbah) termasuk pengangkutan sampah akan makin terbebani dan tidak terkendali. Terjadi konflik pemanfaatan lahan, contoh: jalan menjadi tempat bermain anak, jalur hijau menjadi tempat usaha,dan lain-lain. Makin padatnya penduduk perkotaan makin menyulitkan penyediaan prasarana dan sarana fisik, sosial dan kondisi lingkungan hidup perkotaan semakin merosot. Daya dukung lingkungan bukan saja makin tidak memadai tetapi rusak akibat adanya polusi baik disebabkan sampah atau buangan limbah (Herlianto, 1997 dalam Fandoe, 2010).
Salah satu permasalahan penataan ruang perkotaan dalam hubungannya dengan pengembangan wilayah adalah kawasan kumuh, yaitu suatu lingkungan permukiman yang telah mengalami penurunan kualitas. Dengan kata lain memburuk baik secara fisik, sosial ekonomi maupun sosial budaya dan tidak memungkinkan dicapainya kehidupan yang layak bahkan cenderung membahayakan bagi penghuninya.
Menurut Ditjen Bangda Depdagri, ciri-ciri permukiman atau daerah perkampungan kumuh dan miskin dipandang dari segi sosial ekonomi adalah:
1. Sebagian besar penduduknya berpenghasilan dan berpendidikan rendah, serta memiliki sistem sosial yang rentan;
2. Sebagian besar penduduknya berusaha atau bekerja di sektor informal, lingkungan permukiman, rumah, fasilitas dan prasarananya di bawah standar minimal sebagai tempat bermukim, misalnya memiliki :
a. Kepadatan penduduk yang tinggi > 200 jiwa/km²;
b. Kepadatan bangunan > 110 bangunan/Ha;
c. Kondisi prasarana buruk (jalan, air bersih, sanitasi, drainase, dan persampahan);
d. Kondisi fasilitas lingkungan terbatas dan buruk, terbangun < 20% dari luas persampahan;
e. Kondisi bangunan rumah tidak permanen dan tidak memenuhi syarat minimal untuk tempat tinggal;
f. Permukiman rawan terhadap banjir, kebakaran, penyakit dan keamanan;
g. Kawasan permukiman dapat atau berpotensi menimbulkan ancaman (fisik dan non-fisik) bagi manusia dan lingkungannya.
2.4. Ruang Lingkup Sanitasi Lingkungan
Sanitasi adalah suatu usaha untuk menciptakan keadaan yang dapat menghindarkan timbulnya gangguan dan penyakit. Salah satu cara sanitasi adalah dengan mengusahakan kebersihan dari segala unsur yang dapat memungkinkan timbulnya gangguan dan penyakit. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization-WHO) sanitasi adalah suatu usaha pengendalian terhadap seluruh faktor-faktor fisik, kimia, dan biologi dalam lingkungan hidup manusia,
yang menimbulkan suatu kerusakan atau terganggunya perkembangan dan kesehatan baik fisik, mental maupun sosial serta kelangsungan hidup manusia.
Sedangkan menurut Chandra (2007), sanitasi adalah bagian dari ilmu kesehatan lingkungan yang meliputi cara dan usaha individu atau masyarakat untuk mengontrol dan mengendalikan lingkungan hidup eksternal yang berbahaya bagi kesehatan serta yang dapat mengancam kelangsungan hidup manusia.
Menurut Hernowo (2007) ruang lingkup dari kesehatan lingkungan meliputi: 1) Penyediaan air minum; 2) Pengolahan air buangan dan pengendalian pencemaran air; 3) Pengelolaan sampah padat; 4) Pengendalian vektor penyakit; 5) Pencegahan/pengendalian pencemaran tanah; 6) Hygiene makanan; 7) Pengendalian pencemaran udara; 8) Pengendalian radiasi; 9) Kesehatan kerja, terutama pengendalian dari bahaya-bahaya fisik, kimia dan biologis; 10) Pengendalian kebisingan; 11) Perumahan dan permukiman, terutama aspek kesehatan masyarakat dari perumahan penduduk, bangunan-bangunan umum dan institusi; 12) Perencanaan daerah dan institusi; 13) Aspek kesehatan lingkungan dan transportasi udara, laut, dan darat; 14) Pencegahan kecelakaan; 15) Rekreasi umum dan pariwisata; 16) Tindakan-tindakan sanitasi yang berhubungan dengan keadaan epidemi, bencana alam, perpindahan penduduk dan keadaan darurat; dan 17) Tindakan pencegahan yang diperlukan untuk menjamin agar lingkungan pada umumnya bebas dari resiko gangguan kesehatan.
2.5. Sanitasi Dasar
Sanitasi dasar adalah sanitasi minimum yang diperlukan untuk menyediakan lingkungan sehat yang memenuhi syarat kesehatan yang menitikberatkan pada pengawasan berbagai faktor lingkungan yang
mempengaruhi derajat kesehatan manusia (Chandra, 2007). Sanitasi dasar meliputi penyediaan air bersih, pembuangan kotoran manusia, pengelolaan sampah, dan pengelolaan air limbah.
1) Pembuangan Kotoran Manusia
Tinja adalah bahan buangan yang dikeluarkan oleh tubuh manusia sebagai dari sisa proses pencernaan (tractus digestifus). Dalam ilmu kesehatan lingkungan dari berbagai jenis kotoran manusia, yang lebih dipentingkan adalah tinja (feses) dan air seni (urine) karena kedua bahan buangan ini memiliki karakteristik tersendiri dan dapat menjadi sumber penyebab timbulnya berbagai macam penyakit saluran pencernaan (Soeparman dan Suparmin, 2002). Kurangnya perhatian terhadap pengelolaan tinja disertai dengan cepatnya pertambahan penduduk, akan mempercepat penyebaran penyakit-penyakit yang ditularkan lewat tinja. Penyakit-penyakit yang dapat disebarkan oleh tinja manusia antara lain tipus, disentri, kolera, bermacam- macam cacing (cacing gelang, cacing kremi, cacing tambang, cacing pita) schistosomiasis, dan sebagainya (Kusnoptranto, 2000). Untuk mencegah atau mengurangi kontaminasi tinja terhadap lingkungan, maka pembuangan kotoran manusia harus dikelola dengan baik, maksudnya pembuangan kotoran harus di suatu tempat tertentu atau jamban yang sehat. Beberapa penyakit yang dapat disebarkan oleh tinja manusia antara lain typus, disentri, kolera, bermacam-macam cacing, dan sebagainya (Notoadmojo, 2003).
Menurut Departemen Kesehatan RI (2004) ada beberapa ketentuan jamban yang memenuhi syarat kesehatan, yaitu: a) Kotoran tidak mencemari
permukaan tanah, air tanah, dan air permukaan; b) Jarak jamban dengan sumber air bersih tidak kurang dari 10 meter; c) Konstruksi kuat; d) Pencahayaan minimal 100 lux (Kepmenkes Nomor 159 Tahun 2008); e) Tidak menjadi sarang serangga (nyamuk, lalat, kecoa); f) Dibersihkan minimal 2 kali dalam sebulan; g) Ventilasi sebanyak 20% dari luas lantai; h) Dilengkapi dinding dan atap pelindung, dinding kedap air dan berwarna terang; i) Murah; dan j) Memiliki saluran dan pembuangan air yang baik yaitu lubang selain tertutup juga harus disemen agar tidak mencemari lingkungan disekitarnya.
Untuk sarana sanitasi individual dan komunal minimal dalam bentuk MCK dan tangki septik yang disesuaikan dengan masyarakat. Konstruksi jamban yang sehat dapat dilihat seperti Gambar 2.2.
Sumber : www.environmentalsanitation.wordpress.com Gambar 2.2. Konstruksi Jamban Sehat
Target nasional dalam pelaksanaan MDGs dalam hal jamban sehat adalah, bahwa pada tahun 2015, minimal sebanyak 75% penduduk menggunakan jamban sehat.
2) Pengelolaan Sampah
Sampah adalah sesuatu bahan atau benda padat yang sudah tidak dipakai lagi oleh manusia, atau benda padat yang sudah tidak digunakan lagi dalam suatu kegiatan manusia dan dibuang. Para ahli kesehatan masyarakat Amerika membuat batasan, sampah adalah sesuatu yang tidak digunakan, tidak dipakai, tidak disenangi, atau sesuatu yang dibuang yang berasal dari kegiatan manusia, dan tidak terjadi dengan sendirinya (Notoadmojo, 2003).
Cara-cara pengelolaan sampah antara lain sebagai berikut (Notoadmojo, 2003) :
a. Pengumpulan dan Pengangkutan Sampah
Pengumpulan sampah dimulai dari tempat sumber dimana sampah tersebut dihasilkan. Dari lokasi sumbernya sampah tersebut diangkut dengan alat angkut sampah. Sebelum sampai ke tempat pembuangan kadang-kadang perlu adanya suatu tempat penampungan sementara.
Dari sini sampah dipindahkan dari alat angkut yang lebih besar dan lebih efisien, misalnya dari gerobak ke truk atau gerobak ke truk pemadat.
Adapun syarat-syarat sampah yang dianjurkan : a) Terbuat dari bahan kedap air, kuat dan tidak mudah bocor; b) Mempunyai tutup yang mudah dibuka, dikosongkan isinya, mudah dibersihkan; c) Ukurannya diatur agar dapat diangkut oleh satu orang.
Sedangkan syarat kesehatan tempat pengumpulan sampah sementara menurut Mubarak dan Chayatin (2009), yaitu : a) Terdapat dua pintu, untuk masuk dan untuk keluar; b) Lamanya sampah di bak maksimal tiga hari; c) Tidak terletak pada daerah yang rawan banjir; d) Volume tempat penampungan sampah sementara mampu menampung sampah untuk tiga hari; e) Ada lubang ventilasi tertutup kasa untuk mencegah masuknya lalat; f) Harus ada kran air untuk membersihkan; g) Tidak menjadi perindukan vektor; dan h) Mudah dijangkau oleh masyarakat dan kendaraan pengangkut.
b. Pemusnahan dan Pengelolaan Sampah
- Ditaman (Landfill), yaitu pemusnahan sampah dengan membuat lubang di tanah kemudian sampah dimasukkan dan ditimbun dengan tanah;
- Dibakar (Inceneration), yaitu memusnahkan sampah dengan jalan membakar di dalam tungku pembakaran (Incenerator);
- Dijadikan pupuk (Composting), yaitu pengolahan sampah menjadi pupuk (kompos), khususnya untuk sampah organik daun-daunan, sisa makanan, dan sampah lain yang dapat membusuk (Mubarak dan Chayatin, 2009).
Target nasional dalam pelaksanaan MDGs dalam hal target pelayanan persampahan adalah bahwa pada tahun 2015, cakupan pelayanan minimal 70% dan pengurangan volume sampah melalui program 3R sebesar 20%.
2.6. Kerangka Pemikiran
Sistem sanitasi merupakan salah satu faktor penting dan merupakan dasar dari pembangunan. Penanganan sanitasi lingkungan oleh Pemerintah saat ini masih menghadapi berbagai kendala. Jumlah fasilitas yang ada tidak sebanding dengan pertumbuhan penduduk. Selain itu, masyarakat di banyak wilayah masih mempraktekkan perilaku hidup yang tidak sehat, seperti buang air besar di sungai, mencuci di sungai yang airnya kotor, membuang sampah sembarangan, dan lain- lain.
Sistem sanitasi yang dibangun Pemerintah Kota Tebing Tinggi di Kecamatan Tebing Tinggi Kota dapat dilihat dari aspek teknis, aspek kelembagaan, dan aspek peran serta masyarakat. Aspek teknis dilihat dari kondisi eksisting prasarana sanitasi di permukiman. Aspek kelembagaan dilihat dari organisasi kelembagaan yang ada, dinas/instansi pemerintah yang menangani pengelolaan prasarana lingkungan permukiman (sanitasi lingkungan) di masyarakat. Aspek peran serta masyarakat dilihat dari partisipasi masyarakat dalam pengelolaan prasarana lingkungan permukiman (sanitasi lingkungan) di lingkungannya.
Ketiga aspek tersebut merupakan satu rangkaian yang saling mendukung dan bekerjasama dalam mewujudkan sistem sanitasi yang baik. Wujud dari sistem sanitasi yang baik tersebut dapat dilihat dari kondisi lingkungan yang semakin baik dan semakin sehat di Kecamatan Tebing Tinggi Kota, yang selanjutnya akan berpengaruh terhadap pengembangan wilayah dilihat dari aspek tipologi kumuh, kepadatan penduduk, pendapatan penduduk, dan kualitas lingkungan. Perubahan kualitas lingkungan secara fisik dapat dilihat dari ketersediaan fasilitas sanitasi
dasar di Kecamatan Tebing Tinggi Kota sebagaimana target MDGs. Hubungan ini diperlihatkan dalam skema pada Gambar 2.3.
Gambar 2.3. Kerangka Pemikiran
2.7. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Sistem sanitasi dasar masih belum terlaksana dengan baik
2. Perencanaan sistem sanitasi dasar dalam pengembangan wilayah di Kecamatan Tebing Tinggi Kota perlu ditingkatkan.
Pembangunan Sistem Sanitasi Dasar
Kondisi Sanitasi Lingkungan
Persampahan
Perencanaan Sistem Sanitasi Dasar
Pengembangan Wilayah Air Limbah
Domestik
Drainase Perkotaan Aspek Teknis Aspek
Kelembagaan Aspek Peran Serta Masyarakat
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
4.1. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di Kecamatan Tebing Tinggi Kota, Kota Tebing Tinggi Sumatera Utara. Waktu pelaksanaan penelitian adalah bulan Agustus sampai dengan Januari 2016.
4.2. Jenis Penelitian
Penelitian ini dilakukan dilakukan dengan pendekatan survey. Menurut Arikunto (2006), pendekatan survey adalah kegiatan mengumpulkan data sebanyak-banyaknya mengenai fakta-fakta yang merupakan pendukung terhadap penelitian, dengan maksud untuk mengetahui status dan gejala. Selanjutnya Umar (2008) menyatakan bahwa survey adalah penelitian yang dilakukan untuk memperoleh fakta-fakta dan gejala-gejala yang ada serta mencari keterangan- keterangan scara faktual, baik tentang institusi sosial, ekonomi, atau politik dari suatu kelompok ataupun suatu daerah.
Jenis penelitian adalah deskriptif-kualitatif. Penelitian deskriptif kualitatif bertujuan untuk menggambarkan, menjelaskan, atau meringkas berbagai kondisi, situasi, fenomena menurut kejadian sebagaimana adanya (Sugiyono, 2005).
Gambar 3.1: Peta Administrasi Kecamatan Tebing Tinggi Kota
PEMERINTA H K OT A TEBING TINGGI
PETA
KECAMATAN TEBING TINGGI KOTA KO TA TEBING TINGGI
LEGENDA SKALA
500 0 500 100 0M
1:150 00
N
E W
Sungai S Jalan Kereta Api Jalan Art eri Primer Jalan Art eri Sekunder Jalan Kolekt or Prim er Jalan Kolekt or Sek under Jalan Lok al Primer Jalan Lok al Sekunder
Kel. Bagelen Kel. Karya Jaya
Kel. Satria
Kel. Durian
Kel. Tualang
Kel. Persiakan
Kel. Rambung
Kel. Sri Padang
Kel. Bandar Sakti
Kel. Bandarsono
Kel. Deblod Sundoro Kel. Pasar Gambir
Kel. Mandailing
Kel. Tebing Tinggi Lama Kel. Badak Bejuang
Kel. Pasar Baru
513000
513000
514000
514000
515000
515000
516000
516000
517000
517000
518000
518000
361000 361000
362000 362000
363000 363000
364000 364000
365000 365000
366000 366000
367000 367000
368000 368000