• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hukum Islam di Mataram

Dalam dokumen Lapsus Edisi 4 Maret 2017 (Halaman 31-34)

Pada tahun 1633 Sultan Agung telah berhasil menyusun dan mengumumkan berlakunya sistem penanggalan tahun baru bagi seluruh kerajaan Mataram, yaitu model perhitungan kalender Jawa (saka) yang disesuaikan dengan penanggalan Hijriyah.70 Sebagaimana diketahui, sebelum masuk pengaruh Islam, kalender yang

dikenal di Jawa didasarkan pada sistem Matahari yang lebih terkenal dengan kalender Saka. Sementara Islam memakai kalender dengan sistem bulan (Qamariyah) yang juga disebut sebagai kalender Hijriyah. Sultan Agung mencoba menyelaraskan kedua sistem itu dengan menyatukannya serta menjadikannya sebagai kalender resmi Mataram. Ciri kalender tersebut adalah penggunaan sistem bulan (Hijriyah) dengan menggunakan tahun Saka. Dalam sistem baru ini terdapat perubahan nama bulan, misalnya bulan Safar dalam tahun Hijriyah menjadi Sapar dalam tahun Jawa, Rajab

menjadi Rejeb, Dzulka’idah menjadi Dulkangidah, Muharram menjadi Sura, dan Ramadhan menjadi Pasa. Ciri lain terlihat pada hari yang dikenal sebagai hari pasaran yaitu Pon, Wage, Kliwon, Legi, Pahing, Wuku, dan Wuwu. Sistem ini diresmikan pada tanggal 8 Agustus 1633 / 1 Muharam 1043 atau 1 Sura 1555 tahun Jawa.

Sultan Agung juga mendorong proses Islamisasi kebudayaan Jawa. Ia mengadakan pembaharuan tata hukum yang disesuaikan dengan hukum Islam, dan memberi kesempatan bagi peranan para ulama dalam lapangan hukum Negara.71

Perubahan itu pertama-tama diwujudkan khusus dalam pengadilan Pradata yang dipimpin oleh Raja sendiri. Pengadilan Pradata diubah namanya menjadi pengadilan Surambi, karena pengadilan ini tidak lagi mengambil tempat persidangan

67 Ibid. h.117 68 Ibid. h.125

69 Bakdi Soemanto, Cerita Rakyat dari Yogyakarta 3 (Yogyakarta: Grasindo, 2003), h. 2

70 Purwadi, Sejarah Raja-raja Jawa, Sejarah Kehidupan Kraton Dan Perkembangannya Di Jawa, Yogyakarta : Media Abadi, 2007 h.312

71 Salman Inskandar, 99 Tokoh Muslim Indonesia (Bandung: MIZAN, 2009), 76 juga; Purwadi, Sejarah Raja-raja Jawa, 312

Sultan Agung juga mendorong proses Islamisasi kebudayaan Jawa. Ia mengadakan pembaharuan tata hukum yang disesuaikan dengan hukum Islam, dan memberi kesempatan bagi peranan para ulama dalam lapangan hukum Negara.”

32

di Sitiinggil, melainkan di serambi Masjid Agung. Perkara-perkara kejahatan yang menjadi urusan pengadilan ini dinamakan kisas.72

Melaksanakan keadilan menjadi perhatian utama bagi seorang raja. Menurut istilah yang lebih tua, mbeneri, untuk melakukan keadilan yang kini makin kurang sering digunakan dan telah diganti dengan kata ngadili. Kata ngadili berasal dari Bahasa Arab ‘adl’ (adil, secara harfiah, berarti menjadikan lurus, membetulkan). Kata yang lebih tua tadi sepenuhnya sesuai dengan gagasan untuk meluruskan keseimbangan, ketenangan, dalam pengertian keselarasan diartikan dalam konteks Jawa dalam hubungan mikrokosmos dan makrokosmos.73

Negara kosmis erat hubungannya dengan konsep raja yang bersifat dewa, yaitu anggapan bahwa raja adalah titisan dewa atau keturunan dewa. Konsep dewa-raja atau ratu-binathara ini pada periode kerajaan Islam tidak menempatkan raja pada kedudukan yang sama dengan Tuhan, melainkan sebagai kalifatullah, wakil Allah di dunia. Namun penurunan derajat ini tidak mengubah atau mengurangi kekuasaan raja terhadap rakyat.

Dalam hal ini rakyat tetap dituntut untuk tunduk kepada rajanya. Konsep ratu- binthara memiliki tiga macam wahyu, yaitu wahyu nubuwah, wahyu hukumah, dan

wahyu wilayah. Wahyu nubuwah adalah wahyu yang mendudukkan raja sebagai wakil Tuhan; wahyu hukumah menempatkan raja sebagai sumber hukum dengan wenang murba wasesa, artinya berkuasa dan bertindak dengan kekuasaannya;

wahyu wilayah, yang melengkapi dua wahyu yang telah disebutkan di atas, memberi

pandam pangauban, artinya memberi penerangan dan perlindungan kepada rakyatnya.74

Selain itu menarik diungkapkan apa yang dikemukakan oleh Zaini Ahmad Noeh, bahwa di antara bentuk dan sistem pemerintahan kerajaan Islam di Indonesia yang nampaknya meninggalkan ciri-ciri pada sistem pemerintahan Republik Indonesia dewasa ini, adalah kerajaan Mataram di Jawa, terutama ciri dalam menempatkan bidang agama sebagai bagian dari pemerintahan umum. Jabatan keagamaan di tingkat desa disebut Kaum, Amil, Modin, Kayim, Lebai, dan sebagainya selalu ada di samping Kepala Desa. Pada tingkat kecamatan atau kewedanaan selalu ada seorang Penghulu Naib, yang kini dikenal sebagai Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan, Pejabat Pencatat Nikah, Talak, dan Rujuk (NTR). Pada tingkat kabupaten, seorang bupati didampingi oleh seorang Patih untuk bidang-bidang pemerintahan umum dan seorang Penghulu Kabupaten di bidang agama.

Sistem pemerintahan adat istiadat dan kebiasaan pemerintahan di Jawa mirip dengan bentuk susunan pemerintahan Mataram di mana ada tiga serangkai jabatan, yaitu Raja/Bupati, Patih, dan Penghulu (termasuk tata kotanya dengan pola; Keraton, Alun-Alun, dan Masjid) sebagai manifestasi gelar Raja Mataram yang berbunyi:

Hingkang Sinuhun (yang dipertuan), Senopati Hing Ngalogo (Panglima Perang),

Sayidin Panagatama Kalipatullah (Pengatur Urusan Agama sebagai Pengganti

72 Dr.Th.W. Juynball, Handleiding tot de kennis van de Mohammedaansche wet,dalam Mr. R. Tresna, Peradilan di Indonesia dari Abad ke Abad, (Jakarta:Pradnya Paramita, 1978), hlm.17

73 Soemarsaid Moertono, Negara dan Usaha Bina-Negara Di Jawa Masa Lampau:Studi tentang masa Mataraam II, abad XVI sampai XIX. (Jakarta:Yayasan Obor Indonesia, 1985). hlm.102

74 B.J.O.ScHrieke,Indonesian Sociological Studies, Part.2, (The Hague-Bandung:W van Hoeve Ltd,1957), hlm.105

Bentuk dan sistem pemerintahan kerajaan Islam di Indonesia yang nampaknya meninggalkan ciri- ciri pada sistem pemerintahan Republik Indonesia dewasa ini, adalah kerajaan Mataram di Jawa.”

Zaini Ahmad Noeh

33

Rasulullah). Fungsi memelihara agama ditugaskan kepada penghulu dengan para pegawainya disebut “Kaum”, yang jumlahnya untuk setiap ibukota (pusat dan kabupaten) selalu tidak kurang dari 40 orang, jumlah itu adalah untuk memenuhi syarat sahnya shalat Jum’at sesuai ajaran Madzhab Syafi’i dan mereka memperoleh tanah jabatan (lungguh) di belakang masjid besar yang disebut kampung Kauman. Adapun sasaran tugas mereka adalah pelayanan bidang peribadatan dan urusan- urusan keagamaan. Sedangkan tugas mengatur dunia dibebankan kepada Pepatih Dalem (Patih) sebagai pelaksana pemerintahan umum dan sekaligus pemerintahan militer.75

Perkara-perkara kejahatan yang menjadi urusan pengadilan Surambi dinamakan

kisas. Keputusan-keputusan yang diambil oleh Pengadilan Surambi mempunyai arti suatu nasehat (advis) kepada raja di dalam mengambil keputusannya.” 76

Salah satu produk hukum penting di Keraton Kasunanan Surakarta adalah

Angger Nawala Pradata yang memuat aturan-aturan hukum berbagai jenis tindakan hukum sekitar tata kehidupan masyarakat di bawah pemerintahan Kasunanan Surakarta. Namun aturan hukum dalam Angger Nawala Pradata ini konon sudah mulai dirumuskan sejak zaman Kerajaan Mataram Islam yang merupakan cikal- bakal dari berdirinya Kasunanan Surakarta. Dari masa ke masa, Angger Nawala Pradata mengalami amandemen atau pembaharuan karena desakan dan pengaruh Kolonial Belanda.77

Amandemen Angger Nawala Pradata tidak terlepas dari pengaruh kolonial Belanda. Larson mengatakan, bahwa situasi politik Kasunanan sangat dipengaruhi oleh sikap dari pihak Kasunanan sendiri terhadap pemerintah Belanda, Mangkunegaran, penduduk dan wilayah di luar kerajaan.78 Pengaruh hukum Barat

terhadap undang-undang yang berlaku di kerajaan ini konon berlangsung sejak tahun 1709 ketika Pakubuwono I (1705-1719) masih bertahta di Kasunanan Kartasura Hadiningrat. Ketika itu, Pakubuwono I membahas sebuah perjanjian dengan Belanda, salah satunya mencakup tata cara pelaksanaan pengadilan.79 Dalam perjanjian 1709

tersebut Sunan harus menyerahkan pelaksanaan pengadilan dan tanah di sebelah timur Gunung Merapi dan Gunung Merbabu kepada pemerintah Belanda.80

Di kerajaan Mataram, pelaksanaan hukum Islam di bawah Sultan Agung dibagi menjadi Peradilan Surambi81 yang menangani perkara-perkara kejahatan pidana

(Kisas). Pimpinan peradilan secara de jure berada ditangan Sultan dan secara de facto dipimpin oleh penghulu dengan dibantu oleh beberapa ulama sebagai anggota.82

75 Noeh, Zaini Ahmad, Kepustakaan Jawa sebagai Sumber Sejarah Perkembangan Hukum Islam, dalam “Prospek Hukum Islam dalam Kerangka Pembangunan Hukum Nasional di Indonesia”, Sebuah Kenangan 65 Tahun Prof. Dr. H. Busthanul Arifin, SH., Jakarta: PP-IKAHI, 1994. h.105

76 Tresna R. “Peradilan di Indonesia dari Abad ke Abad”. Pradnya Paramita. Jakarta 1978.Cetakan Ke-3. h. 17-18. 77 Angger Nawala Pradata Kasunanan; http://kerajaannusantara.com/id/surakarta-hadiningrat/hukum/

78 G. D Larson, Masa Menjelang Revolusi, Keraton dan Kehidupan Politik di Surakarta, (Yogyakarta: UGM Press, 1989), hal., 5.

79 Angger Nawala Pradata Kasunanan; http://kerajaannusantara.com/id/surakarta-hadiningrat/hukum/

80 Achmad Ridwan (Skripsi);"Perkembangan Pengadilan Pradata Masa Reorganisasi Bidang Hukum di kasunanan Surakarta tahun 1893-1903"; Universitas Sebelas Maret Surakarta — 2010

81 Dinamakan Peradilan Surambi karena pelaksanaanya dilakukan di Serambi Masjid Agung. Realitas ini juga terjadi di beberapa daerah lainnya di Indonesia.

82 Nur Ahmad Fadhil Lubis, A History of Islamic Law in Indonesia, (Jakarta: Pustaka, 2006), hlm. 72. Lihat juga R. Tresna, 1978, Peradilan Agama dari Abad ke Abad, (Jakarta: Pradnya Paramitha, 1978), hlm. 17-18.

34

Keputusan Pengadilan Surambi berfungsi sebagai nasihat bagi Sultan dalam mengambil keputusan. Sultan tidak pernah mengambil putusan yang bertentangan dengan nasihat pengadilan Surambi.83

Dalam dokumen Lapsus Edisi 4 Maret 2017 (Halaman 31-34)

Dokumen terkait