Mengenai politik luar negerinya, diantara penguasa Mataram bisa ditemui perbedaan yang mencolok dalam menghadapi penetrasi Barat. Ada yang menempuh sikap kompromistis dan ada pula yang antipati sama sekali. Pada masa Panembahan Senopati, usaha tersebut memang belum ditemui. Hal ini disebabkan walaupun saat itu orang-orang Eropa sudah berada di Nusantara, konsentrasi politik sedang dicurahkan untuk konsolidasi dan penguasaan kerajaan-kerajaan di sekitarnya.
89 Yahya Harun, Kerajaan Islam Nusantara, hlm. 30-31 90 Daliman, Islamisasi, hlm. 191-192
91 De Graaf, Puncak Kekuasaan Mataram, op.cit. h.281-282
“
Pada masa Sultan Agung diperintahkan untuk menulis sebuah kitab induk semacam ensiklopedi Jawa yang dinamakan Babat Kerajaan Mataram, sering disebut juga Babad Tanah Djawi yang sampai sekarang masih ada dan banyak menjadi sumber kajian dan penelitian sejarah Jawa.”36
Sedangkan pada masa Raden Mas Jolang, kehadiran Belanda diterima dengan baik di akhir kekuasaannya. Berbeda dengan penguasa Mataram berikutnya, Sultan Agung, beliau termasuk penguasa yang antipati pada kompeni. Berbagai usaha telah dikerahkan untuk mengusir keberadaan dan membendung penetrasinya yang kian kuat di bumi Nusantara.92
Politik ekspansi Sultan Agung didukung oleh kekuatan tentaranya yang terkenal perkasa dan sulit terkalahkan dalam peperangan. Dalam setiap misi sampai penaklukan Surabaya kekuatan tentara Sultan Agung selalu berhasil gemilang mengalahkan musuh-musuhnya. Pada tahun 1615 total kekuatan tentara Mataram tidak kurang dari 300.000 pasukan.
Ada semacam wajib militer di Mataram saat itu. Di samping pasukan pengawal di istana dan pasukan reguler, masih ada pasukan milisi yang terdiri dari para penduduk desa yang dikerahkan atas perintah Raja. Para milisi ini tidak dibayar oleh raja, tetapi sebagai tugas wajib untuk membela negara dengan sukarela. Untuk memobilisasi milisi diperlukan beberapa tahapan. Untuk daerah di sekitar keraton mobilisasi dilakukan dengan pukulan-pukulan gong di semua sudut Karta diikuti desa-desa dan kota-kota di sekitarnya. Dalam setengah hari raja dapat mengumpulkan 200.000 orang bersenjata. Dengan persenjataan yang sederhana dan tanpa perbekalan mereka sering terancam kelaparan. Kelebihan tentara Sultan Agung adalah kedisplinan dan semangat tempur yang tinggi sehingga mampu melakukan tugas-tugas berat. Di seluruh Nusantara mungkin sulit ditemukan kemampuan militer yang demikian.93
Beberapa misi Sultan Agung diantaranya yaitu mempersatukan seluruh Jawa di bawah kekuasaan Mataram dan mengusir kompeni (VOC) dari Batavia. Beberapa wilayah telah terwujud telah ia taklukkan, Mataram melakukan beberapa penyerangan di sekitar Jawa Timur. Pada tahun 1614 M Mataram menyerang Surabaya bagian selatan; Ujung Timur Pulau Jawa, Malang, dan Pasuruan. Ia juga dapat menduduki Wirasaba pada tahun 1615 M. Penaklukan Wirasaba ini dirasa sangat penting, hal itu dikarenakan merupakan pintu masuk ke Surabaya.
Kemudian pada tahun 1616 M, pasukan dikirim melalui pantai Utara dan dapat menaklukkan Lasem dan terus ke Timur sampai Pasuruan. Bahkan pada tahun
92 Yahya Harun, Kerajaan Islam Nusantara, hlm. 28-29 93 De Graaf, Puncak Kekuasaan Mataram, h.128-130
“
Dalam setiap misi sampai penaklukan Surabaya kekuatan tentara Sultan Agung selalu berhasil gemilang mengalahkan musuh-musuhnya. Pada tahun 1615 total kekuatan tentara Mataram tidak kurang dari 300.000 pasukan.”37
1620 M pasukan Mataram dengan melalui laut menyerang Surabaya dan setelah itu Madura ditaklukkan dan disatukan dalam satu pemerintahan di bawah keturunan kepangeranan Madura dengan ibukota Sampang.94 Surabaya, yang merupakan
saingan berat Mataram, setelah diserbu beberapa kali akhirnya takluk (1625) berikut Giri (1636) dan Blambangan di tahun 1639.95
Yang menarik, pada tahun 1625 Surabaya ditaklukkan bukan karena diserang melainkan karena rakyatnya mati kelaparan akibat strategi blokade yang dilakukan Mataram.96 Saat itu Sultan Agung adalah raja yang paling kuat di Nusantara dan
paling luas wilayah kekuasaannya. Di Jawa, hanya Banten dan Batavia yang tidak berhasil ditaklukkannya. Sementara itu, sebagian wilayah di Sumatera, Kalimantan, dan Bali menyatakan tunduk kepada Mataram.97
Dengan jatuhnya Surabaya maka seluruh Jawa Tengah dan Jawa Timur (kecuali Blambangan) bersatu di bawah naungan Mataram. Persatuan ini diperkuat lagi oleh Sultan Agung dengan mengikat para adipatinya dengan tali perkawinan dengan putri-putri Mataram. Ia sendiri menikah dengan putri Cirebon, sehingga daerah ini juga mengakui kekuasaan Mataram.98
Setelah Surabaya dapat ditaklukan, Sultan Agung memusatkan penyerangan ke Batavia. Batavia pada masa itu masih ada konflik dengan Banten. Walaupun hubungan Banten dan Batavia tegang sejak dulu, Banten tidak ingin Batavia jatuh ke tangan Mataram. Pada Hari Natal 1627, Banten mengadakan usaha yang tidak matang untuk menguasai Batavia dengan tiba-tiba, tetapi gagal.99
Usaha ekspansi ke wilayah Barat (Jakarta - yang saat itu dikuasai VOC), dilakukan Sultan Agung pada tahun 1628 dan 1629, akan tetapi gagal dan bahkan banyak menelan korban di pihak Mataram. Hal ini disebabkan disamping sistem persenjataan yang kalah canggih juga karena adanya seorang prajurit Mataram yang membelot dan memihak kepada Belanda serta menunjukkan gudang perbekalan Mataram yang berada di Tegal. Akhirnya logistik itupun dibakar oleh Kompeni dan banvak prajurit
94 H.J. De Graaf, Puncak Kejayaan Kekuasaan Mataram. h.137 95 Kartodirdjo. Sejarah Nasional. III. h. 295.
96 Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern, Jakarta : Serambi, 2005, h.86
97 Gunawan Sumodiningrat, Riant Nugroho. D, Membangun Indonesia Emas: model pembangunan Indonesia Baru menuju Negara-Bangsa yang Unggul dalam Persaingan Global (Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2005), 32 98 R. Soekmono, Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia III (Yogyakarta: Kanisius, 1987), 61
99 H.J. De Graaf, Puncak Kejayaan Kekuasaan Mataram: Politik Ekspansi sultan Agung (Jakarta: Pustakan Utama Grafiti, 1990), 137
“
Saat itu Sultan Agung adalah raja yang paling kuat di Nusantara dan paling luas wilayah kekuasaannya. Di Jawa, hanya Banten dan Batavia yang tidak berhasil ditaklukkannya. Sementara itu, sebagian wilayah di Sumatera, Kalimantan, dan Bali menyatakan tunduk kepada Mataram.”38
Mataram yang mati kelaparan. Disinyalir pula bahwa pada saat serangan itu terjadi prajurit Mataram sedang dilanda wabah malaria.100
Serangan Sultan Agung terhadap VOC di Batavia dilakukan pada tahun 1628 dan 1629. Perlawanan tersebut disebabkan oleh beberapa hal, yaitu pertama, Sultan Agung menyadari bahwa kehadiran Kompeni Belanda di Batavia dapat membahayakan kesatuan Negara terutama Pulau Jawa.101 Pihak Belanda telah melakukan apa yang
telah diperingatkan oleh Sultan Agung agar tidak merebut suatu bagian Pulau Jawa yang ingin diperintahnya sendiri sebagai penguasa tunggal.
Kedua, Sultan Agung sempat mengajukan beberapa tawaran kepada VOC, tetapi ditolak. Pada tahun 1621, personel VOC yang ditawan dipulangkan ke Batavia beserta pengiriman beras. VOC mengirimkan perutusan-perutusannya kepada Sultan Agung pada tahun 1622, 1623, dan tahun 1624, tetapi permintaan Sultan Agung akan bantuan angkatan laut VOC dalam rangka menaklukkan Surabaya, Banten, dan Banjarmasin ditolak oleh pihak VOC. Maka tidak ada satu alasan pun bagi Sultan Agung untuk membiarkan kehadiran VOC di Pulau Jawa.102 Ketiga, bagi Sultan Agung, Batavia
merupakan kota yang dapat merugikan kerajaannya. Hubungan antara Mataram dan Malaka dipersulit oleh Batavia.103
Keempat, Imperialisme Belanda dengan VOC nya mempunyai dua rencana kejahatan. Pertama, dalam proses mempercepat perebutan kekuasaan ekonomi Islam. Kedua, berlomba-lomba untuk memperoleh hegemoni antar Imperialis Barat di Nusantara dan Kerajaan Katolik Portugis juga Spanyol serta Kerajaan Protestan Anglikan Inggris. Di bawah kondisi tantangan Imperialis Protestan Belanda ini, Sultan Agung melancarkan serangan ke Batavia pada tahun 1628-1629.104
Bulan April 1628 Kyai Rangga, bupati Tegal dikirim sebagai duta ke Batavia untuk menyampaikan tawaran damai dengan beberapa syarat dari Mataram. Tawaran tersebut ditolak VOC sehingga Sultan Agung memutuskan untuk menyatakan perang dengan VOC.
Maka, pada 27 Agustus 1628 pasukan Mataram dipimpin Tumenggung Bahureksa, bupati Kendal tiba di Batavia. Pasukan kedua tiba bulan Oktober dipimpin Pangeran Mandurareja (cucu Ki Juru Martani). Total semuanya adalah 10.000 prajurit. Perang besar terjadi di benteng Holandia. Pasukan Mataram mengalami kehancuran karena kurang perbekalan. Menanggapi kekalahan ini Sultan Agung bertindak tegas, pada bulan Desember 1628 ia mengirim algojo untuk menghukum mati Tumenggung Bahureksa dan Pangeran Mandurareja. Pihak VOC menemukan 744 mayat orang Jawa berserakan dan sebagian tanpa kepala.
Sultan Agung kembali menyerang Batavia untuk kedua kalinya pada tahun berikutnya. Pasukan pertama dipimpin Adipati Ukur berangkat pada bulan Mei 1629, sedangkan pasukan kedua dipimpin Adipati Juminah berangkat bulan Juni. Total semua 14.000 orang prajurit. Kegagalan serangan pertama diantisipasi dengan
100 Kartodirdjo. Sejarah Xasional. III. hal. 296
101 J.B.Sudarmanto, Jejak-Jejak Pahlawan: Perekat Kesatuan Bangsa Indonesia (Jakarta: Grasindo, 2007), 260 102 Ade Soekirno, Cerita Rakyat Jawa Tengah: Pangeran Samber Nyawa (Jakarta: Grasindo, 1993), 89 103 Poesponogoro, et al, Sejarah Nasional Indonesia III, 364.
39
cara mendirikan lumbung-lumbung beras di Karawang dan Cirebon. Namun pihak VOC berhasil memusnahkan semuanya.
Walaupun kembali mengalami kekalahan, serangan kedua Sultan Agung berhasil membendung dan mengotori Sungai Ciliwung, yang mengakibatkan timbulnya wabah penyakit kolera melanda Batavia. Gubernur jenderal VOC yaitu J.P. Coen meninggal menjadi korban wabah tersebut.
Pada masa Sultan Agung, seluruh Pulau Jawa sempat tunduk dalam kekuasaan Kesultanan Mataram, kecuali Batavia yang masih diduduki militer VOC Belanda. Sedangkan Banten telah berasimilasi melalui peleburan kebudayaan. Wilayah luar Jawa yang juga tunduk di bawah Mataram adalah Palembang dan Jambi di Pulau Sumatra serta Sukadana dan Martapura (Banjarmasin) di pulau Kalimantan. Sultan Agung juga menjalin hubungan diplomatik dengan Makassar, negeri terkuat di Sulawesi saat itu. 105