• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kezaliman Amangkurat Menghancurkan Mataram

Dalam dokumen Lapsus Edisi 4 Maret 2017 (Halaman 39-46)

Amangkurat I lahir sekitar tahun 1619 M. Sejak umur 5 – 15 Tahun (1624-1634) dididik oleh Tumenggung Mataram. Ia diangkat sebagai sultan Mataram pasca mangkatnya Sultan Agung. Masa kekuasaanya berlangsung antara tahun 1646-1677, suatu masa yang dianggap sebagai tanda kemunduran Kerajaan Mataram. Bukan hanya sumber Belanda yang menyebutkan demikian, melainkan Babad Tanah Jawa garapan Meinsma juga mengakui hal tersebut :

Kala semanten sang nata sabarang karsanipun ewah kalijan adatipun, asring misesa tijang, tansah nggelaraken sijasat. Para boepati, mantri toewin para sentana sami lampah alap-alapan ing kalenggahanipun, sakelangkung resah tataning nagari.

40

Tijang samatawis sami miris manahipoen, sarta asring grahana woelan toewin srengenge; djawah salah mangsa, lintang koemoekoes in sabendaloe ketingal. Djawah awoee oetawi lindoe. Akatah delajat ingkang ketingal. Poenika pratandanipoen, jen negari bade risak.

“Ketika itu raja bertindak sekehendaknya sendiri, tidak seperti biasanya. Ia sering melakukan tindak kekerasan, dan selalu bermain siasat. Para Bupati, para mantri dan keluarga istana bertindak semaunya dengan menyalah-gunakan kedudukan mereka. Tertib bernegara rusak. Seluruh penduduk Mataram dirundung ketakutan. Sering terjadi gerhana bulan dan matahari. Hujan menyalahi musim dan bintang berekor terlihat setiap malam. Terjadi pula hujan abu dan gempa bumi. Banyak pertanda jelek menampakkan diri. Ini semua petunjuk bahwa negara akan rusak.”

Kekuasaan absolut Amangkurat I telah terlihat semenjak ia terpilih jadi Sultan Mataram tahun 1646 M. Pertama-tama ia memindahkan ibukota kerajaan dari Karta ke Plered tahun 1647 M. Berbeda dengan keraton di Karta yang terbuat dari kayu, kali ini sang Sultan membangun Keraton yang terbuat dari batu bata dan dikelilingi parit besar. Utusan Belanda, Abraham Verspreet mengunjungi keraton Plered pada tahun 1668, mengkonfirmasi keadaan tersebut. Ia menggambarkan keraton Plered layaknya sebuah pulau di tengah danau. Keraton yang berada di tengah parit buatan itu seakan-akan menggambarkan jiwa Amangkurat yang terasing karena pada dasarnya ia memang mencurigai siapapun.

Konon, setiap malam tiba seluruh kompleks Kraton disterilkan dari laki-laki. Hanya ia sendiri yang tinggal bersama ribuan wanita, abdi dalem, dan istri-istrinya. Konon lagi terdapat tiga puluh prajurit wanita cantik yang disebut prajurit Trinisat Kenya dengan setia selalu menjaganya.

Pada tahun-tahun pertama kekuasaannya, Amangkurat telah menampakkan sifat arogansinya. Sebelum ia menjadi Sultan dan masih menjadi putra mahkota, ia pernah terlibat skandal dengan istri seorang abdi dalem senior bernama Tumenggung Wiraguna. Skandal ini kemudian dilaporkan kepada Sultan Agung, namun tidak berhasil menggoyang posisinya sebagai Putra Mahkota.106

Ketika telah berkuasa, Amangkurat I menumpahkan kebenciannya kepada Tumenggung Wiraguna dengan mengirimnya ke Timur untuk menumpas ekspansi pasukan Bali di Blambangan. Di tempat yang jauh dari keluarga dan para pendukungnya itu, Wiraguna dibunuh orang kepercayaan Raja. Tidak hanya itu, Amangkurat juga memerintahkan pasukannya untuk membasmi semua orang yang pernah terlibat melaporkan tindakan skandal yang dahulu dilakukannya kepada ayahnya Sultan Agung. Perintah tersebut mengakibatkan hilangnya nyawa ribuan wanita dan anak yang tidak bersalah, termasuk keluarga Tumenggung Wiraguna.

Demikianlah pembunuhan demi pembunuhan yang dilakukan Amangkurat I tidak dapat membuatnya merasa semakin aman. Konon setiap kali sang Sunan keluar keraton, ia dikawal oleh 2000 orang prajurit bertombak. Ia juga membunuh hampir semua pejabat tinggi (peninggalan ayahnya, Sultan Agung) dan menggantinya dengan abdi-abdi pengikutnya sehingga tampaknya ia tidak mempercayai lagi

106 De Graaf, Disintegrasi Mataram di Bawah Mangkurat I, h.2-3

Walaupun kembali mengalami kekalahan, serangan kedua Sultan Agung berhasil membendung dan mengotori Sungai Ciliwung, yang mengakibatkan timbulnya wabah penyakit kolera melanda Batavia. Gubernur jenderal VOC yaitu J.P. Coen meninggal menjadi korban wabah tersebut.”

41

pembesar-pembesar dari kalangan keluarganya sendiri. Begitu mudahnya sang Sunan membunuh orang, sehingga seorang pejabat Belanda, Michielsen, pernah berkomentar bahwa “Semoga suatu saat sang Sunan akan jenuh mengalirkan darah orang“.

Adik sang Sultan Amangkurat, Pangeran Alit merasa turut terancam karena kedekatannya dengan Tumenggung Wiraguna. Ketika seluruh teman-teman terbaiknya telah dibantai, Pangeran Alit mulai mendekati pemuka-pemuka Islam untuk menghilangkan kecurigaan terhadapnya. Di saat yang bersama ia mengumpulkan teman-temannya untuk mempersiapkan serangan terhadap sang Kakak. Mengetahui hal tersebut, Amangkurat I tidak perlu pikir panjang untuk menghabisi pendukung adiknya. Terpancing atas provokasi tersebut, Pangeran Alit dengan kekuatan sekitar 60 orang pendukungnya, menyerbu alun-alun keraton dalam sebuah “pertarungan penghabisan berdarah” pada tahun 1647.

Kekuatan Pangeran Alit tersebut tidak sebanding dengan pasukan Sunan sehingga dapat dibasmi dengan mudah, hingga menyisakan Pangeran Alit seorang. Menurut catatan Belanda yang dipercaya, sang Sultan akhirnya membiarkan para prajuritnya untuk membunuh pangeran Alit atas alasan “pembelaan diri”, dengan itu bersihlah tangan Amangkurat dari darah adiknya sendiri.

Akibat pemberontakan ini adalah munculnya kecurigaan Amangkurat I terhadap kaum ulama atau para pemimpin Islam. Amangkurat I menilai bahwa adanya ulama atau santri dalam pemerintahannya akan sangat berbahaya, terutama bagi tahtanya.107 Amangkurat memerintahkan empat pembesar istana

untuk mengerahkan anak buahnya menyebar ke empat penjuru mata angin dan berusaha keras supaya “jangan seorangpun dari pemuka-pemuka agama (ulama) dalam seluruh yuridiksi Mataram yang luput dari pembunuhan”. Sehingga kemudian dibuatlah sebuah daftar para pemimpin agama terkemuka dan mereka semua dikumpulkan di halaman istana. Kemudian sekitar 5.000 - 6.000 orang, yang terdiri dari kaum ulama, beserta para keluarganya baik itu pria, wanita dan anak-anak dibantai dengan keji (1647 M).108 Sang Susuhunan selanjutnya merevisi

administrasi peradilan, yang diperkenalkan oleh ayahnya, dan membatasi yurisdiksi pengadilan agama (Surambi).109

Pada tahun 1659, Amangkurat kembali melakukan pembunuhan, kali ini terhadap Mertuanya sendiri, Pangeran Pekik beserta anggota keluarganya yang dituduh merencanakan pembunuhan terhadap sang Raja.

Sultan Amangkurat I juga membuat kebijakan-kebijakan yang kontrofersial yaitu; pertama, tidak lagi menghargai para ulama bahkan berusaha untuk menyingkirkannya. Pada masanya ribuan ulama Syahid dibunuh Sultan Amangkurat I. Kedua, menghapus lembaga-lembaga agama yang ada di Kesultanan, seperti menghapus Mahkamah Syariah yang telah dibentuk oleh Ayahnya. Ketiga, membatasi perkembangan Islam dan melarang kehidupan Agama mencampuri

107 Taufik Abdullah, Islam dan Masyarakat: Pantulan Sejarah Indonesia, Jakarta: LP3ES, 1996, hlm. 142. 108 De Graaf, Disintegrasi Mataram.., op.cit. h. 38

109 Rochmat Gatot Santoso, Kebijakan Politik Dan Sosial-Ekonomi Di Kerajaan Mataram Islam Pada Masa Pemerintahan Amangkurat I (1646-1677), Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah Jurusan Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarya 2016. h.9

Amangkurat I menilai bahwa adanya ulama atau santri dalam pemerintahannya akan sangat berbahaya, terutama bagi tahtanya.”

42

masalah kesultanan. Keempat, membangun kerjasama dengan penjajah Belanda yang menjadi musuh bebuyutan Ayahnya.

Demikianlah gambaran tindakan Amangkurat I yang mempengaruhi masa kehancuran Mataram, bahkan dalam laporan umum VOC di Batavia tanggal 16 Desember 1659, dikemukakan keyakinan bahwa apabila peperangan terjadi, Sang Sultan “tidak akan mudah meninggalkan istana Mataram karena di luar istana itu ia tidak merasa aman; dan ia pun tidak akan mempercayakan sebagian kekuatan tentaranya kepada pembesar manapun, karena kezaliman pemerintahan yang dilakukannya menjadikan ia ditakuti dan dibenci setiap orang”.

Prediksi kompeni tersebut benar terjadi. Para penguasa lokal mulai menunjukan ketidaksukaanya terhadap penguasa Mataram. Satu per satu pangeran penguasa kadipaten dan anggota keluarga Sunan sendiri mulai menentang kekuasaanya. Cara Amangkurat I dalam memerintah yang zalim telah mendatangkan kemarahan masyarakat.

Dalam kondisi seperti ini, Raden Kajoran, seorang ulama keturunan Sunan Bayat, melakukan perlawanan. Ia menyusun kekuatan dari para santri dan rakyat pedesaan. Raden Kajoran mendapat dukungan dari Raden Anom, anak Sultan Amangkurat I dan Trunojoyo bangsawan dari Madura, yang kemudian menjadi menantu Raden Kajoran. Kekuatan semakin kuat ketika Karaeng Galesong bangsawan dari Gowa Makassar bergabung. Namun perkembangan selanjutnya, Adipati Anom melakukan pengkhianatan, yakni dengan keluar dari aliansi.

Trunojoyo merupakan putra dari Demang Malaya, yang pernah tinggal di Mataram bersama ayahnya. Sewaktu masih berada di Mataram, Trunojoyo telah banyak melihat kekejaman serta penyimpangan yang terjadi di istana, sehingga Trunojoyo kemudian memutuskan untuk tinggal di Sampang bersama dengan keluarga pamannya, Cakraningrat II. Selama berada di istana, ayahnya dibunuh (1656 M) dan dirinya terancam. Hal inilah yang akhirnya menjadi salah satu alasan mengapa Trunojoyo sangat membenci Amangkurat I.110

Pemberontakan semakin meluas, ketika pasukan Trunojoyo dan Makasar memperoleh kemenangan di berbagai daerah pesisir utara Jawa, seperti: Surabaya, Gresik, Sidayu, Tuban, Rembang, dan Lasem. Barisan Trunojoyo, atas nama Islam, menyeru pada orang-orang Jawa agar mendukung mereka mengalahkan Amangkurat I yang bekerjasama dengan orang kafir, Belanda. Seruan ini mendapatkan tanggapan yang positif, salah satunya dari Panembahan Giri (keturunan sunan Giri), yang sangat merestui gerakan ini. Ia mengatakan bahwa Mataram tidak akan pernah sejahtera selama VOC masih berada di Jawa. Hal ini sekaligus menunjukkan adanya semangat anti-VOC. Ditambah lagi kejahatan Amangkurat tehadap para ulama yang sulit dilupakan.

Kegemilangan barisan Madura dan Makasar untuk menguasai wilayah pesisir di Jawa mencapai puncaknya pada bulan Desember 1676 M dan Januari 1677 M. Barisan ini berhasil menduduki Demak, Semarang, Kendal, Kaliwungu, Pekalongan, Tegal,

110 Capt. R. P. Suyono, Peperangan Kerajaan di Nusantara: Penelusuran Kepustakaan Sejarah, Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia, 2003, hlm.66 dan M. C. Ricklefs, op. cit., hlm. 86 dan 161

Kegemilangan barisan Madura dan Makasar untuk menguasai wilayah pesisir di Jawa mencapai puncaknya pada bulan Desember 1676 M dan Januari 1677 M. Barisan ini berhasil menduduki Demak, Semarang, Kendal, Kaliwungu, Pekalongan, Tegal, dan akhirnya Cirebon dan Indramayu. Daerah-daerah pesisir kemudian berhasil direbut kembali dari pasukan Trunojoyo dengan bantuan VOC.”

43

dan akhirnya Cirebon dan Indramayu. Daerah-daerah pesisir kemudian berhasil direbut kembali dari pasukan Trunojoyo dengan bantuan VOC.111

Untuk menghadapi kekuatan Trunojoyo, Amangkurat mulai mendekati VOC untuk membantunya. VOC lebih suka berhubungan dengan Amangkurat daripada dengan Trunojoyo yang dianggap berbahaya. Pada bulan Desember 1676 VOC mengutus Speelman ke Jepara dengan 1200 orang tentara untuk membantu Amangkurat. Sebagai gantinya, Kompeni menuntut Amangkurat mengganti kerugian perang dan memberikan sebagian daerah kekuasaanya.

Singkatnya pada tanggal 28 Juni 1677 pasukan Trunajaya berhasil mengalahkan kekuatan Mataram-VOC dan memasuki keraton Mataram di Plered. Namun sebelumnya, pada malam hari Amangkurat I beserta beberapa anggota keluarga dan putranya telah melarikan diri dari Keraton, bermaksud menuju Cirebon untuk berlindung ke Belanda. sementara istana diserahkan kepada putranya, Pangeran Puger (kelak menjadi Pakubuwana I). Amangkurat kemudian wafat dalam upaya pelarian tersebut, pada tanggal 13 Juli 1677 di desa Wanayasa, Banyumas. Sebelumnya ia berwasiat agar anaknya, Mas Rahmat kembali bekerja sama dengan VOC untuk merebut kembali tahta dari tangan Trunajaya.112

Mas Rahmat inilah yang nantinya bergelar Amangkurat II dan mendirikan Kasunanan Kartasura sebagai kelanjutan Kasultanan Mataram. Amangkurat I juga berwasiat untuk dimakamkan dekat gurunya di Tegal. Karena tanah daerah tersebut berbau harum, maka desa tempat Amangkurat I dimakamkan kemudian disebut Tegalwangi atau Tegalarum. Amangkurat II memerintah dari tahun 1677 sampai tahun 1703 M.

Sebelum Amangkurat I wafat, ia sudah menetapkan Adipati Anom sebagai Sultan Mataram yang baru. Setelah dilantik, Adipati Anom diberi gelar Sultan Amangkurat II ia segera melanjutkan kerjasamanya dengan Belanda untuk merebut kembali tahta Mataram. Dalam perjanjian di Jepara Belanda menginginkan wilayah timur Karawang dan upah dalam bentuk uang sebagai pengganti biaya perang. Setelah perjanjian

111 Sartono Kartodirdjo, op. cit., hlm. 191 112 M. C. Ricklefs, op. cit., hlm. 166

44

Jepara ditandatangani, Amangkurat II dan Belanda melakukan penyerangan ke Mataram dan berhasil memukul mundur aliansi Raden Kajoran. Dengan demikian, Sultan amangkurat II berhasil merebut kembali tahta Mataram.

Walaupun Sultan Amangkurat II meduduki Mataram dan berusaha mengembalikan fungsi ulama, tetapi persoalan Mataram semakin runyam dengan campur tangan Penjajah Belanda.113 Sejak 1743 Mataram hanya memiliki wilayah-

wilayah Begelen, Kedu, Yogjakarta, dan Surakarta. Tragisnya, Mataram harus terpecah menjadi dua oleh perjanjian Giyanti pada tahun 1755. Mataram terpecah menjadi Kasunanan Surakarta dengan rajanya Susuhan (Pakubuwono) dan Kesultanan Yogyakarta dengan rajanya Pangeran Mangkubumi (Hamengkubuwono I).

Pada tahun 1757, Surakarta pecah lagi menjadi wilayah yang dikuasai Pakubuwono dan wilayah yang dikuasai Mangkunegara I. Hal ini juga terjadi di Yogyakarta yang terpecah menjadi 2 yaitu wilayah Kesultanan yang dikuasia Sultan Hamengku Buwono III dan Kadipaten Pakualaman yang dipimpin Bendara Pangeran Natakusuma atau lebih dikenal dengan Pakualam I.114

113 Darmawijaya, Kesultanan Islam Nusantara, hlm. 77-80

45

„

Kesimpulan

Eksistensi negara yang berdasarkan Islam bukan sebuah ilusi tapi sebuah fakta sejarah. Negara Islam yang besar, Kesultanan Demak dan Mataram serta negara- negara yang lebih kecil sesudahnya memenuhi syarat disebut sebagai sebuah Negara atau negara Islam.

Demak dan Mataram serta negara yang lebih kecil lainnya telah menjadikan Islam sebagai konstitusi negara dan membentuk lembaga peradilan yang memutuskan hukumnya berdasar syariat Islam. Hukum Islam diberlakukan bagi seluruh pejabat maupun rakyat di negara-negara tersebut. Dilengkapi dengan jihad fi sabilillah

(perang sabil) melawan penjajah kafir sebagai kebijakan politik luar negerinya. Berdasarkan fakta sejarah di atas terlihat bahwa; negara-negara Islam tersebut mengalami kejayaan dan masa keemasan ketika konsisten dengan syariat Islam. Sebaliknya mulai dan mulai mundur, merosot dan menuju kehancuran ketika berpaling dan mulai meninggalkan ajaran Islam.

Berdasarkan fakta sejarah, negara Islam telah ada dan berdaulat di Tanah Jawa pada tahun 1500-1700 M. Jadi jika ada wacana untuk mengembalikan negara Islam di tanah Jawa bukan sebuah ilusi atau utopia, tapi merupakan upaya mengikuti jejak nenek moyang dan bagian dari upaya menghidupkan kearifan lokal (local wisdom).

46

Achmad Ridwan (Skripsi);”Perkembangan Pengadilan Pradata Masa

Dalam dokumen Lapsus Edisi 4 Maret 2017 (Halaman 39-46)

Dokumen terkait