• Tidak ada hasil yang ditemukan

Humanisme akan lebih mudah dipahami jika ditinjau dari dua sisi, yakni sisi historis dan sisi aliran-aliran dalam filsafat (Abidin, 2000:25). Dari sisi yang pertama, humanisme berarti suatu gerakan intelektual dan kesusastraan yang pertama kali muncul di Italia pada paruh kedua abad ke-14 masehi. Gerakan ini dikatakan sebagai motor penggerak kebudayaan modern, khususnya kebudayaan Eropa. Tokoh-tokoh yang dianggap sebagai pelopor gerakan ini adalah Dante, Petrarca, Boccaceu, dan Michelangelo. Humanisme juga diartikan sebagai paham dalam filsafat yang menjunjung tinggi nilai dan martabat manusia sedemikian rupa sehingga manusia menempati posisi yang sangat sentral dan penting, baik dalam perenungan teoretis-filsafati, maupun dalam praktis kehidupan sehari-hari (Abidin, 2000:26).

Humanisme sebagai suatu gerakan intelektual dan kesusastraan pada prinsipnya merupakan aspek dasar dari gerakan Renaisans abad ke-14 sampai ke-

16 M. Gerakan yang berawal di Italia ini, dan kemudian menyebar ke segenap penjuru Eropa, dimaksudkan untuk membangunkan umat manusia dari tidur panjang abad pertengahan, yang dikuasai oleh dogma-dogma agamis-gerejani. Abad pertengahan adalah abad di mana otonomi, kreativitas, dan kemerdekaan berpikir manusia dibelenggu oleh kekuasaan gereja. Abad ini sering juga disebut

Abad Kegelapan karena cahaya akal budi manusia tertutup kabut dogma-dogma

gereja. Kuasa manusia dipatahkan oleh pandangan gereja yang menyatakan bahwa hidup manusia telah digariskan oleh kekuatan-kekuatan itu. Pikiran-pikiran manusia yang menyimpang dari dogma-dogma tersebut adalah pikiran-pikiran sesat dan karenanya harus dicegah dan dikendalikan (Abidin, 2000:26).

Dalam zaman seperti itulah, gerakan humanisme muncul. Gerakan kaum humanis ini bertujuan untuk melepaskan diri dari belenggu kekuasaan gereja dan membebaskan akal budi dari kungkungannya yang mengikat. Melalui pendidikan liberal, mereka mengajarkan bahwa manusia pada prinsipnya adalah makhluk bebas dan berkuasa penuh atas eksistensinya sendiri dan masa depannya. Maka, dalam batas-batas tertentu, kekuatan-kekuatan dari luar yang membelenggu kebebasan manusia harus segera dipatahkan (Abidin, 2000:26).

Istilah humanisme berasal dari kata Latin humanitas yang berarti pendidikan manusia dan dalam bahasa Yunani disebut paidea yang berarti pendidikan yang didukung oleh manusia-manusia yang hendak menempatkan seni liberal sebagai materi atau sarana utamanya. Alasan utama seni liberal dijadikan sebagai sarana terpenting di dalam pendidikan pada waktu itu (di samping retorika, sejarah, etika, dan politik) adalah kenyataan bahwa hanya dengan seni liberal, manusia akan

47

tergugah untuk menjadi manusia, menjadi makhluk bebas yang tidak terkungkung oleh kekuatan-kekuatan dari luar dirinya. Mereka percaya bahwa hanya dengan seni liberal manusia dapat dibangunkan dari tidurnya yang sangat panjang pada Abad Pertengahan. Model pendidikan ini adalah model pendidikan yang didorong oleh semangat zaman antik (Yunani Kuno), yang ditandai oleh adanya kehidupan demokratis, yang pada abad pertengahan dianggap sebagai semangat kaum kafir. Pada zaman antik, klaim atas otonomi manusia dijunjung tinggi, dan dalam batas- batas tertentu, manusia mempunyai kewenangan sendiri dalam keterlibatannya dengan alam dan dalam penentuan arah sejarah manusia (Abidin, 2000:27).

Kendati kebebasan merupakan tema terpenting dari humanisme, tetapi kebebasan yang diperjuangkannya bukan kebebasan yang absolut, atau kebebasan sebagai antitesis dari determinisme abad pertengahan. Kebebasan yang mereka perjuangkan adalah kebebasan yang berkarakter manusiawi: kebebasan manusia dalam batas-batas alam, sejarah, dan masyarakat. Maka, dalam konsep kebebasan tersebut, aliran seperti naturalisme pun mendapatkan tempat yang layak di dalam semangat mereka. Keluhuran jiwa manusia sebagai sumber yang memancarkan kebebasan, tidak dapat dipisahkan dari mortalitas tubuh sebagai bagian dari ruang (alam) dan waktu (sejarah) yang fana (Abidin, 2000:27).

Para humanis pada waktu itu juga tidak menyangkal adanya kekuatan- kekuatan yang bersifat metafisik atau ilahiah. Kendati mereka menentang kekuasaan gereja, tidak berarti bahwa mereka anti agama. Semangat mereka untuk menjunjung tinggi nilai, martabat, dan kebebasan manusia disertai dengan kesadaran bahwa mereka tidak mungkin bisa menolak keluhuran dan kekuasaan

Tuhan. Kuasa Tuhan tidak bisa disangkal atau dinafikan. Namun, mereka percaya bahwa di balik kuasa itu masih banyak peluang bagi manusia untuk menentukan jalan hidupnya, mengembangkan potensi dan memilih masa depannya sendiri, tanpa terbelenggu oleh kodrat atau ketakutan terhadap murka Tuhan. Intinya, kebebasan manusia itu ada dan perlu dipertahankan serta diekspresikan (Abidin, 2000:27).

Dalam sejarah pemikiran humanisme Eropa, paham humanisme dapat dikelompokkan secara garis besarnya menjadi tiga, yaitu paham humanisme

Renaissance, humanisme aufklarung atau pencerahan, dan humanisme romantik.

Pertama, humanisme Renaissance pada abad ke-14 dan 15 Masehi di Eropa

melahirkan kembali kebudayaan Barat klasik (Yunani-Romawi) yang telah lama tenggelam. Ada dua cara utama untuk menggambarkan betapa pentingnya peranan dan karya literatur para humanis dalam zaman Renaissance. Pertama, para humanis adalah orang-orang profesional; mereka biasanya adalah guru bidang humaniora di sekolah-sekolah menengah dan universitas, atau sekretaris pangeran atau pemimpin kota. Kedua, mereka menghasilkan banyak sekali tulisan berupa orasi, surat, puisi, dan karya-karya mengenai sejarah. Jelas bahwa bahasa merupakan gerakan kunci humanisme. Para humanis adalah para ahli bahasa kuno. Para humanis juga merupakan pakar dalam hal memperbaiki teks-teks kuno. Keahlian mereka dalam berbahasa membuat lapangan pekerjaan sangat terbuka bagi mereka untuk menjadi filolog, editor, dan pengoreksi teks-teks kuno (Tjaya, 2004:26).

49

Ciri pertama humanisme Renaissance dapat ditemukan dalam minat yang besar dan proyek untuk melanjutkan mengembangkan tradisi retorika dalam dunia Barat. Tradisi ini, yang umurnya sudah setua para Sofis Yunani, menekankan pentingnya peran para ahli pidato (orators atau rhetoricians) dalam zaman klasik, yakni mereka yang menyediakan bentuk paling umum dari pendidikan tinggi. Dalam zaman klasik, orang cukup bisa membaca dan berbicara untuk dapat dipandang sebagai orang yang berpendidikan (Tjaya, 2004:27).

Ciri khas kedua humanisme Renaissance berkaitan erat dengan tujuan umum pendidikan humanistis sebagai persiapan atas tugas pelayanan publik. Yang ditanamkan di sini adalah keutamaan sivik. Ciri ini dapat juga disebut sebagai humanisme sivik. Dalam bukunya yang diterbitkan pada tahun 1955 berjudul The

Crisis of the Early Italian Renaissance, Baron berpendapat bahwa humanisme sivik

muncul di Florence karena adanya konflik bangsa tersebut dengan Milan, yang kemudian berpuncak pada perang antara keduanya tahun 1400 dan 1402 yang akhirnya membuat Florence berhasil menghindari penaklukan oleh orang-orang Milan. Ditandai oleh solidaritas politik, kejadian ini akhirnya membawa kepada kemerdekaan Florence, yang oleh Coluccio Salutati, seorang tokoh humanis di kota tersebut, ditafsirkan sebagai kemenangan kebebasan politik melawan seorang tiran yang rakus. Humanisme tipe ini pada hakikatnya sangat bernuansa politik dan terkait erat dengan pertarungan politik antara republikanisme melawan despotisme (Tjaya, 2004:29).

Sebelum Renaissance lahir dan mencapai masa keemasannya, praktik mempelajari karya klasik sebenarnya sudah dikerjakan di mana-mana di Eropa.

Karena itu, Renaissance tidak dapat dilepaskan dari studi terhadap karya-karya klasik. Pada abad ke-14, Renaissance masih samar-samar disebut sebagai a new

golden age of letters and of art, sedangkan ketika mencapai puncak

kegemilangannya pada abad ke-16, Renaissance disebut sebagai a restoration of

fine writing (Sindhunata, 2001:7 via Ronidin, 2012:39). Minat studi terhadap karya-

karya klasik itulah yang kemudian berkembang menjadi sebuah gerakan yang lebih luas yang diberi nama Renaissance atau zaman kelahiran kembali cita-cita zaman Romawi dan Yunani. Humanisme menjadi unsur utama gerakan tersebut.

Lahirnya Renaissance di Eropa dianggap sebagai zaman di mana budaya manusia modern lahir. Pada tahap ini, kebudayaan Romawi dan Yunani kuno dijadikan dasar segala aktivitas manusia. Sarana utama pendidikan ialah kebudayaan Yunani dan Romawi kuno. Aspek kebudayaan Yunani yang diambil ialah cita-cita tentang kebenaran, kebaikan, dan keindahan yang kemudian menjelma menjadi ilmu pengetahuan, moral, dan seni. Adapun kebudayaan Romawi diambil dari cita-cita tentang kesadaran bernegara, kebajikan seorang warga negara, dan perlunya hukum. Cita-cita Renaissance juga mempengaruhi kehidupan teologis dari yang semula terbelenggu dalam ikatan sosial dan struktur kemasyarakatan bentukan gereja, manusia mulai menemukan dirinya sebagai pribadi yang merdeka; ada usaha melepaskan diri dari pengaruh gereja tersebut. Hal inilah yang kemudian memicu lahirnya paham individualisme dan sekularisme (Hadi, 2009a:4 via Ronidin, 2012:39—40).

Pada tahap perkembangan selanjutnya, para pendukung Renaissance yang sangat mengagumi kehidupan orang-orang zaman Yunani dan Romawi, dapat

51

dikatakan sebagai manusia bebas dan merdeka dalam menggunakan akalnya. Akal mempunyai otonomi penuh pada zaman itu. Dengan demikian, Renaissance merupakan zaman pada saat manusia diangkat harkatnya. Manusia diberi kebebasan dalam menggunakan akalnya, memahami seluruh peradabannya, dan ditempatkan pada pusat nilai tertinggi. Singkatnya, manusia adalah subjek penuh. Semua atribut yang melekat pada diri manusia dikembalikan pada kedudukannya semula. Manusia diberi kebebasan penuh untuk berkarya dan berbudaya dalam peradabannya. Karena itu, Renaissance dapat dikatakan sebagai gerakan kaum humanis yang menempatkan manusia sebagai pusat dalam segala peristiwa dunia (Manuaba, 1996:49—50 via Ronidin, 2012:40).

Kedua, Aufklarung atau pencerahan merupakan sebuah gerakan besar di

Eropa pada abad ke-18 Masehi yang memberikan kedudukan dan kepercayaan luar biasa kepada akal budi manusia. Aufklarung memiliki pertalian yang kuat dengan

Renaissance karena merupakan buah yang diakibatkan oleh humanisme

Renaissance. Maksudnya, ketika humanisme Renaissance menghargai manusia

begitu luhur, maka akal budi manusia pada zaman aufklarung pun diunggulkan demikian tinggi, bahkan diotonomikan. Dengan otonomi itu, manusia berkembang menjadi dewasa, kuat, dan sehat, serta mampu mengembangkan segala macam kemampuan egonya. Aufklarung merupakan zaman pencerahan akal budi manusia sehingga dengan hal itu memungkinkan manusia mempunyai pengetahuan, kekuatan, dan kontrol terhadap hidup dan cita-cita mereka lebih baik dari zaman- zaman sebelumnya (Kant dalam Sindhunata, 2001:10—11 via Ronidin, 2012:41).

Implikasi konkret gerakan aufklarung tampak sejalan dengan penemuan- penemuan besar di bidang ilmu pengetahuan alam di Italia, Jerman, Polandia, dan Inggris (Galileo, Kepler, Copernicus, dan Newton); munculnya falsafah rasionalisme di Perancis dan Belanda, yang menempatkan kedudukan akal sebegitu tingginya dalam mencapai kebenaran (Descartes dan Spinoza), disusul dengan berkembangnya paham-paham seperti empirisisme di Inggris (Hobbes, Locke), dan mencapai kematangannya di Jerman dalam bentuk rasionalisme Kant dan idealisme Hegel yang terkenal dengan teori dialektiknya (Hadi, 2009a:5). Perjumpaan akal budi dengan pengalaman manusia (empirisme) kemudian menghasilkan ilmu pengetahuan yang maju. Menurut pandangan Aufklarung, dengan penyebarluasan ilmu pengetahuan, maka marka dan martabat manusia akan semakin meningkat. Bagi mereka, science merupakan sumber kebahagiaan pula. Lahirlah apa yang disebut scientisme, paham yang memandang science sebagai segala-galanya dalam mencapai kebenaran, kebaikan, dan keindahan (Hadi, 2009a:6 via Ronidin, 2012:41—42).

Humanisme aufklarung dapat dikatakan ciri kedua dari paham humanisme—setelah Renaissance—yang berusaha mencerahkan umat manusia dengan ilmu pengetahuan serta membebaskannya dari berbagai ikatan, baik yang bersumber dari tradisi maupun keterikatan dogmatis pada institusi agama. Humanisme aufklarung menjadikan manusia sebagai pusat perputaran dunia, perkembangan sejarah dan ilmu pengetahuan, memberikan perhatian pada pengertian umum manusia yang berhubungan dengan harkat dan martabatnya, serta hak-hak dan kebebasannya—sehingga pada zaman aufklarung ini sekularisasi

53

pemikiran dan cara hidup menjadi menonjol (Hadi, 2009a:6). Kaum humanis, penganut paham humanisme ini, tampaknya lebih suka menanggalkan kata religion, kemudian menggantinya dengan the humanistis way of life. Kaum humanis ini setia kepada nilai-nilai hidup dan berusaha untuk mencapai kehidupan yang lebih baik (Manuaba, 1996:51 via Ronidin, 2012:42).

Ketiga, humanisme romantis merupakan gerakan yang berusaha untuk

kembali memanusiakan manusia seperti pada zaman-zaman sebelum munculnya pesimisme masyarakat Eropa. Seperti sudah dikatakan di atas, abad ke-18 merupakan abad optimisme di Eropa karena dengan ilmu pengetahuan manusia dapat meningkatkan kualitas hidupnya. Akan tetapi, memasuki abad ke-19, pesimisme mengguncang Eropa, terutama sejak meletusnya revolusi Prancis. Napoleon yang berkuasa di Prancis gila perang dan menciderai prinsip-prinsip humanisme melalui ekspansinya ke daerah lain. Negara-negara Eropa seperti Jerman, Belanda, Austria, Polandia, Rusia, Italia, dan sebagainya menjadi sasaran penyerbuan tentara Napoleon. Negara-negara itu hancur karena keganasan tentara Napoleon. Napoleon juga mengancam Inggris—negara paling kuat di Eropa ketika itu—dan menyeberang ke Afrika menaklukkan Mesir. Pada saat bersamaan, negara-negara Asia juga jatuh ke tangan kolonial Eropa. India dan Malaysia dijarah Inggris, Filipina dikuasai Spanyol, Indonesia diduduki Belanda, dan negara-negara Indocina dikuasai Prancis (Hadi, 2009a:8 via Ronidin, 2012:42—43).

Pesimisme masyarakat Eropa mulai mereda ketika pasukan Napoleon dikalahkan Inggris di Waterlo pada tahun 1816. Era pesimisme sebagai akibat revolusi Perancis dan kekejaman tentara Napoleon yang mengakibatkan nilai-nilai

humanisme menjadi hancur seperti diekspresikan dalam karya-karya penyair Eropa terkenal seperti Heinrich Heine di Jerman, Leopardi di Italia, Pushkin di Rusia, dan lain-lain. Schoupenhauer dan muridnya Nietzsche merupakan tokoh paling depan menyuarakan optimisme. Menurut Nietzsche, semangat humanisme aufklarung telah terkubur dan karena itu perlu ditumbuhkan lagi. Untuk menjadi manusia, manusia harus menjadi manusia yang unggul, kuat, dan perkasa menahan derita. Ide-ide dilanjutkan oleh kaum eksistensialis yang mendewa-dewakan kebebasan manusia. Paul (1978:73) menyebut paham ini sebagai pandangan humanisme liberal. Manusia dipandang sebagai unikum (makhluk serba unik) yang memiliki pengalaman-pengalaman unik. Ia selalu dalam proses menjadi sesuatu yang tidak bisa ditetapkan oleh ilmu pengetahuan, falsafah, dan agama (Ronidin, 2012:43).

Selanjutnya, dengan meredanya pesimisme masyarakat Eropa, maka mulai muncul gerakan baru dengan ideologi romantisisme yang berusaha untuk kembali memanusiakan manusia seperti pada zaman-zaman sebelumnya. Gerakan romantisisme merupakan oposisi dari rasionalisme. Hal-hal yang lebih ditekankan dalam gerakan ini adalah perasaan, emosi, dan kegiatan-kegiatan nonrasio dalam pikiran manusia. Unsur-unsur religiusitas dan tradisi abad pertengahan kembali dipertimbangkan. Akan tetapi, humanisme romantik berbeda dengan ideologi zaman pertengahan. Humanisme romantik berusaha memperjuangkan masalah kemerdekaan dan kebebasan manusia dari penjajahan (Lucas, 1934:194—195 via Ronidin, 2012:43—44).

Dari realitas historis yang ada, dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat kesamaan di setiap periode humanisme, yakni berusaha mengangkat, meninggikan,

55

menempatkan harkat dan martabat manusia sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaannya.

Dalam dokumen Pandangan Dunia dalam Novel Puya ke Puya (Halaman 58-68)

Dokumen terkait