• Tidak ada hasil yang ditemukan

huMAS DAN PEMASARAN OlAhRAGA DI INDONESIA

di Indonesia Oleh: Ria Lumintuarso

C. huMAS DAN PEMASARAN OlAhRAGA DI INDONESIA

Menurut Harsuki, pada dasarnya kegiatan pemasaran olahraga di Indonesia sudah dirintis sejak lama. Beberapa organisasi olahraga telah memulainya melalui berbagai kegiatan seperti: PSSI dengan “Liga Bank Mandiri” dari tahun 1980 sampai dengan 2004 yang kemudian dilanjutkan dengan “Liga Jarum” pada tahun 2005. Sementara PERBASI dengan KOBATAMA nya mulai tahun 1982, yang kemudian dengan kemunculan stasiun TV swasta menjual hak siarnya kepada SCTV. Persatuan Bola Voli Indonesia/PBVSI yang menyelenggarakan kompetisi LIGAPRO, menggunakan agen pemasaran P.T. M. Ling. Untuk menjual event tersebut ke sponsor dan masyarakat. Sementara itu banyak cabang lain yang telah mencoba melakukannya walaupun dengan cara dan hasil yang berbeda sesuai dengan kecabangannya.

Dari data di buku Induk KONI pusat tahun 2001 ada 43 Induk Organisasi Cabang Olahraga, dimana 35 (82%) diantaranya telah memiliki bidang kehumasan/pemasaran dalam struktur organisasinya. Meskipun demikian tidak semua organisasi yang memiliki kehumasan tersebut meletakkan bidang humas ini dalam strata yang sama. Ada yang meletakannya pada

manajemen inti (bidang/pimpinan) tetapi banyak yang meletakannya pada bagian yang tidak penting dalam ruang lingkup bidang lain (komisi, seksi, dan lain-lain).

Dengan adanya perbedaan-perbedaan struktur tersebut dapat diduga bahwa setiap organisasi memiliki pola kerja kehumasan yang berbeda pula. Apa lagi setiap Induk organisasi cabang olahraga memiliki kekhasan dan tingkat prestasi serta segment peserta dan penonton yang berbeda. Misalnya, dapat kita bandingkan antara PGI (Persatuan Golf Seluruh Indonesia) dengan PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia). Keduanya memiliki segmen peserta dan penonton yang sangat berbeda. Ciri dan sifat kompetisi kedua cabang ini juga sangat khusus dan berbeda antara satu dengan yang lain.

Namun demikian perbedaan ini tidak berarti membuat strategi komunikasi mereka atau pola kerja kehumasan mereka harus berbeda, mungkin mereka menggunakan kegiatan yang berbeda dalam berhubungan dengan masyarakat tetapi dengan pola yang sama atau sebaliknya.

Kegiatan humas merupakan suatu kegiatan yang tidak dapat dihindarkan oleh setiap organisasi yang sehat, apa lagi organisasi yang mempunyai skala nasional dan internasional. Organisasi olahraga di Indonesia tidak terkecuali harus melakukan kegiatan humas. Apa lagi dalam perkembangan situasi politik, ekonomi dan sosial yang tidak menguntungkan seperti saat ini.

Tantangan profesionalisme dan pemulihan citra olahraga merupakan suatu yang harus segera mendapatkan jawaban. Kendala – kendala dari luar seperti perhatian pemerintah yang menurun, sponsor yang enggan berkiprah di olahraga, masyarakat yang apatis terhadap kegiatan olahraga serta ekspose media yang minim harus segera dicari solusinya. Sementara hambatan dari dalam (internal) seperti tidak padunya pengurus dan komunikasi organisasi yang lemah menjadi momok tenggelamnya organisasi olahraga di masa datang.

Berdasarkan hasil penelitian yang penulis lakukan pada tahun 2001 pengelolaan humas dan pemasaran di organisasi olahraga di Indonesia menunjukkan beberapa temuan yang cukup menarik yang akan dipaparkan berikut ini.

Beberapa kesimpulan dapat ditarik dari hasil penelitian yang telah penulis lakukan sebagai berikut:

1. Organisasi olahraga di Indonesia secara umum telah menyadari perlunya keberadaan humas di dalam struktur organisasinya. Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa hampir seluruh organisasi olahraga (91%) telah memiliki humas dalam organisasi nya. Namun keberadaan humas ini tidak diimbangi dengan penyusunan dan pelaksanaan program kerja yang terencana dengan baik. Sebagian besar organisasi masih belum dapat melaksanakan program dengan baik (60%), bahkan 9% tidak memiliki program humas. Hanya 31% organisasi yang dapat merencanakan dan melaksanakan program kerja dengan baik. Ketimpangan ini terjadi karena berbagai faktor seperti, posisi dalam struktur organisasi tidak kuat dan humas sering kali dijabat oleh orang yang tidak ahli.

2. Dari dua aspek pokok kegiatan humas dan pemasaran terdapat perbedaan kinerja yang jelas. Organisasi olahraga di Indonesia memiliki aktifitas humas internal seperti komunikasi dengan pemerintah (induk), komunikasi internal, dan pembinaan anggota yang relatif cukup baik. Hal ini dibuktikan dengan persentase pelaksanaan kegiatan yang tinggi. Namun dari aspek kegiatan eksternal seperti publisitas, penyelenggaraan events, penelitian, dan sponsorship masih belum menggembirakan. Secara umum aktifitas mereka baru pada tingkat insidental yang tidak terencana secara matang. Dengan kondisi ini sangat sulit dicapai misi organisasi untuk mendapatkan tempat yang baik di masyarakat. Dari seluruh kegiatan humas, sponsorship merupakan faktor yang paling rawan dan lemah dalam organisasi olahraga. Secara kumulatif sangat sedikit induk organisasi yang dapat menarik sponsor ke dalam kegiatan organisasi. Hal ini sangat kontradiktif dibanding dengan perkembangan olahraga internasional dimana setiap induk organisasi memiliki sponsorship yang mendatangkan banyak keuntungan bagi kegiatan olahraga.

3. Lemahnya kegiatan eksternal dan ketidakmampuan humas dan pemasaran sebagian besar organisasi olahraga untuk merangkul sponsor memberikan posisi yang sulit bagi organisasi olahraga dalam meningkatkan kinerjanya secara keseluruhan. Ini berarti bahwa citra olahraga masih akan mengalami krisis kepercayaan dari masyarakat

dalam waktu yang cukup panjang. Dari kondisi aktifitas humas yang seperti sekarang ini, masih sulit bagi humas untuk menempatkan diri sebagai posisi kunci peningkatan citra olahraga Indonesia. Kecuali bila organisasi olahraga mampu mengaktifkan kegiatan humasnya secara menyeluruh dan terencana.

4. Melalui analisis cluster, ditemukan tiga kelompok organisasi dengan pola kerja kehumasan yang masing-masing memiliki ciri-ciri tertentu. Kelompok pertama disebut sebagai “Kelompok Amatir” yang merupakan kelompok paling lemah dalam aktifitas humas dan pengaruhnya sangat kecil terhadap kinerja organisasi. Pola kerja pada kelompok ini masih sangat jauh dari prinsip kerja professional dan bekerja hanya bila perlu dan ada kesempatan. Pada organisasi olahraga di Indonesia kelompok ini ada 10 organisasi.

Kelompok kedua disebut sebagai “Kelompok Birokrat” yang mempunyai struktur cukup baik tetapi belum mampu memberikan keputusan yang dapat mewarnai dan membawa arah jalannya organisasi, kegiatan yang dilakukan masih kurang terencana dan masih bersifat insidental, mereka belum dapat menjadi tulang punggung organisasi. Kelompok ini memerlukan personal yang tepat dan perencanaan program yang lebih baik agar dapat meningkatkan kinerjanya. Anggota kelompok ini ada 10 organisasi.

Sedangkan kelompok ketiga yang disebut “Kelompok Professional” merupakan kelompok yang sangat potensial untuk menjadikan humas sebagai kunci pengembangan organisasi menuju organisasi yang mandiri. Humas pada kelompok ini memiliki personal yang berkualitas dan aktif dalam mencari peluang terhadap hubungan dengan pihak luar. Humas pada kelompok inilah yang menjadi humas ideal untuk organisasi olahraga Indonesia saat ini. Kelompok professional ini terdiri dari 12 organisasi.

Cluster 1 (Amatir) Cluster 2 (Birokrat) Cluster 3 (Profesional) IKASI PABSI PERBAKIN GABSI PERKEMI PRSI PERSANI PSI PTMSI PERTINA PASI ISSI PODSI PGSI PJSI PERPANI POSSI PERSEROSI PERSETASI PBWI POBSI PBVSI PERBASI PORDASI PERBASASI PERCASI PGI FORKI PSSI PSASI PBTI PELTI

Cluster organisasi olahraga berdasarkan faktor eksternal (Sumber Ria L:2001)

Tabel di atas menunjukkan kelompok organisasi cabang olahraga berkaitan dengan kegiatan humas dan pemasaran berdasarkan hasil penelitian dari penulis pada tahun 2001.

Dari hasil penelitian di atas dapat disampaikan bahwa kebutuhan akan humas pada organisasi olahraga telah disadari oleh para pembina olahraga di Indonesia. Hampir semua organisasi olahraga di Indonesia telah memiliki lembaga humas walaupun keberadaannya masih memiliki keanekaragaman baik dari segi bentuk, fungsi maupun kinerjanya. Sampai saat ini sebagian besar humas organisasi olahraga di Indonesia masih belum mampu bekerja optimal, mereka baru mampu berprestasi baik pada kegiatan internal. Hanya sebagian dari organisasi olahraga yang humasnya dapat berjalan dengan baik dan berpotensi menjadi humas yang ideal.

D. PENuTuP

Kegiatan Hubungan Masyarakat dan Pemasaran Olahraga di Indonesia pada dasarnya telah dirintis sejak lama walaupun dalam bentuk yang relatif masih sederhana. Masing-masing cabang olahraga memiliki kekhasan dalam aktivitas humas dan pemasarannya, namun pada umumnya aktivitas humas di Indonesia masih cenderung kepada internal organisasinya dan belum secara optimal melakukan kegiatan eksternal yang diprogram dengan baik.

Beberapa cabang olahraga telah melakukan kegiatan humas dan marketing yang cukup profesional dengan melakukan hubungan aktif

dengan berbagai pihak seperti sponsorship perusahaan, penyiaran ke media massa dan berbagai kegiatan lain seperti melakukan transfer pemain dan kontrak pemain dan pelatih serta kontrak dengan perusahaan tertentu untuk mendukung kegoiatan organisasi.

Beberapa kendala organisasi olahraga dalam upaya mengiatkan aktivitas humas dan pemasaran olahraga ini adalah popularitas beberapa cabang olahraga, minat masyarakat yang rendah untuk menyaksikan event dalam cabang tertentu dan prestasi yang belum dapat dibanggakan. Faktor prioritas masyarakat Indonesia yang masih menomor sekiankan olahraga merupakan alasan lain mengapa aktivitas humas dan marketing olahraga di Indonesia mengalami hambatan yang besar.

Lepas dari permasalahan tersebut di atas, potensi masyarakat dengan populasi yang besar merupakan aset yang harus diperhatikan untuk mengembangkan kegiatan humas dan pemasaran olahraga di Indonesia ke depan. Jalinan kerja sama dengan seluruh ’stakeholder’ olahraga dan dengan terbentuknya kembali Kementerian Pemuda dan Olahraga semoga dunia olahraga di Indonesia mengalami kemajuan yang signifikan dari berbagai aspek termasuk humas dan pemasaran olahraga.

DAFTAR PuSTAKA

Barkin, O. & Aronoff, C. 1992. Public Relation: The Profession and the practice. Madison, WI: Brown & Benchmark.

Beard, Mike. 2001. Running a Public Relation Department. London. The Institute of Public Relation. Kogan Page Ltd.

Belch, George E, Belch Michael A. Michael.1999. Advertising and Promotion. An Integrated Marketing Communications Perspective. Boston. Irwin Mc Graw Hill.

Bidang Organisasi KONI Pusat. 2000. Kalender Kegiatan Induk Organisasi Cabang Olahraga dan Badan Keolahragaan Fungsional Tahun 2000. Jakarta. KONI Pusat.

Brody, E.W. 1988. Public Relations Programming and Production. New York: Preager.

Integrated Communication. New York. Mc Graw-Hill.

Cutlip, Scott M. Center, Allen H. Broom, 2000. Glen M. Effective Public Relations. New Jersey, Upper Saddle River. Prentice-Hall, Inc.

Dozier, D.M. 1992. The Organizational Role of Communication and Public Relations Practifioners. Disunting J.E. Grunig dalam Excellence in Public Relations and Communication Management. Hilldate, N.J: Lawrence Earlbaum.

Effendy, Onong Uhjana. 1993. Human Relation dan Public Relation. Bandung. CV Mandar maju.

Graham Stedman, Goldblatt, Joe Jeff. Deply, Lisa.1995. The Ultimate Guide to Sport Event management and Marketing. Chicago. Irwin profesional Publishing.

Grunig, J.E. & Hunt. T. 1994. Managing Public Relations. For Worth: Holt, Richard & Winston.

Harris, Thomas L. 1991. Marketing Guide to Public Relation. New York, Chister, Brisbane, Toronto, Singapore. John Willey & Sons, Inc.

Harsuki, Prof. Dr. H. M.A, 2003. Perkembangan Olahraga Terkini. Jakarta. PT. Rajawaligrafindo Persada.

IAAF. 1998. Member federation Management and Administration Manual. Monaco. Multiprint.

KONI Pusat. 2002. Rancangan Penyempurnaan Anggaran Dasar KONI. Jakarta. Pokja AD & ART KONI Pusat.

Kotler Philip. 2000. Marketing Management The Millenium edition. New Jersey. Prentice Hall, Inc

---. 1994. Marketing Management, Analysis, planning, Implementation, and Control. New Jersey. Prentice Hall, Inc

Lumintuarso, Ria. 2001. Hasil Penelitian: Kegiatan Humas dalam Organisasi Olahraga di Indonesia. Jakarta. Universitas Indonesia.

Moore Frazier. Penyunting. Onong U Effendy. 1987. Hubungan Masyarakat, prinsip, kasus dan masalah. Bandung. Pt Remaja Rosdakarya.

NewYork University. 1992. Summer Institute in Sport and Special Event Markrting. New York. Don Smith and Steven Tischler.

Ruslan, Rosady. 1995. Praktek dan Solusi Public Relations dalam Suatu Krisis dan Pemulihan Citra, Seri Management Public Relations 1. jakarta. Ghalia Indonesia.

Ruslan, Rosady. 1998. Manajemen Humas dan Manajemen Komunikasi. Jakarta. CV. Remaja Karya.

Seitel, Fraser P. 2001. The Practice of Public Relation. New Jersey. Prentice – Hall, Inc, Upper Saddle River.

Shimp, Terence A. 1997. Advertising, promotion, and Supplemental. Aspect of Integrated marketing Communications. United States of America. The Dryden Press.

Smith, PR. 1996. Marketing Communications, An Integrated Approach. London. Kogan Page Limited.

1. Artikel belum pernah dimuat dalam media cetak lain, diketik spasi rangkap pada kertas kuarto sepanjang 10-20 halaman, dalam bentuk disket program Microsoft Word beserta hasil cetaknya (print out) sebanyak 1 eksemplar. Diserahkan paling lambat 3 bulan sebelum bulan penerbitan.

2. Artikel merupakan hasil penelitian atau non penelitian (gagasan konseptual, kajian teori, aplikasi teori bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Olahraga).

3. Artikel ditulis dalam bentuk essai, disertai judul subbab (heading). Peringkat judul subbab dinyatakan dengan jenis huruf yang berbeda:

PERINGKAT 1 (huruf besar semua rata dengan tepi kiri)

Peringkat 2 (huruf besar-kecil dan dicetak tebal)

Peringkat 3 (huruf besar-kecil dan

dicetak tebal miring)

4. Artikel hasil penelitian memuat: • Judul

• Nama Penulis

• Abstrak (memuat tujuan, metode, dan hasil penelitian: 50–75 kata) • Kata-kata Kunci

Pendahuluan (tanpa subjudul, memuat latar belakang masalah,

perumusan masalah, dan rang- kuman kajian teoritik)

• Metode • Hasil

• Pembahasan

• Kesimpilan dan Saran • Daftar Pustaka

5. Artikel Non Penelitian memuat: • Judul

• Nama Penulis • Abstrak (50–75 kata) • Kata-kata Kunci

Pendahuluan (tanpa sub judul, memuat pengantar topik utama diakhiri dengan rumusan tentang hal-hal pokok yang akan dibahas) • Subjudul (sesuai dengan kebutuhan) • Subjudul (sesuai dengan kebutuhan) • Subjudul (sesuai dengan kebutuhan) • Penutup (atau Keseimpulan dan

Saran)

• Daftar Pustaka

6. Daftar Pustaka hanya mencantum- kan sumber yang dirujuk dalam uraian saja, diurutkan alfabetis. Disajikan seperti contoh berikut: Annarino, A.A., Cowell, C.C., and

Hazelton, H.W. 1980. Curriculum Theory and Design in Physical. London: Cv. Mosby Company.

(021) 5737494 (hunting), ext. 64 Email : [email protected]

Dokumen terkait