Manajemen Olahraga di Indonesia
B. PEMBAhASAN 1 Dimens
2. Peran Manajemen Olahraga
Kunci sukses sebuah usaha di zaman modern tidak bisa terlepas dari manajemen. Manajemen olahraga di Indonesia masih belum sepenuhnya berjalan dan merupakan titik lemah dalam pembangunan keolahragaan secara nasional. Manajemen bukanlah sekadar soal pengelolaan, tetapi lebih jauh lagi ke pangkalnya yaitu melihat ke filosofi olahraga itu sendiri, yaitu pandangan bangsa Indonesia terhadap olahraga.
Prestasi olahraga di pentas internasional akan membuka mata para wakil rakyat di DPR dan MPR sehingga mereka semakin tergugah dan semakin menyadari pentingnya olahraga dalam kehidupan bermasyarakat
dan diplomasi internasional. Karenanya, GBHN yang merupakan salah satu produk terpenting MPR, mencantumkan olahraga sebagai salah satu sektor yang dianggap sangat strategis dalam Kebijaksanaan Pembangunan Nasional. Olahraga berperan dalam meningkatkan kualitas manusia dan kehidupan bermasyarakat.
Dalam teori funtionalist, masyarakat dianggap sebuah jaringan terorganisir yang masing-masing mempunyai fungsi. Institusi sosial dalam masyarakat mempunyai fungsi dan peran masing-masing yang saling mendukung. Masyarakat dianggap sebagai sebuah sistem yang stabil yang cenderung mengarah pada keseimbangan dan menjaga keharmonisan sistem. Oleh karenanya sangatlah tepat menempatkan olahraga sebagai salah satu sektor strategis dalam Kebijakan Pembangunan Nasional.
Dalam Pelita VI di era Orde Baru, pembinaan olahraga sebagai salah satu upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia, diarahkan pada peningkatan kondisi kesehatan fisik, mental dan rohani manusia Indonesia, dalam upaya pembentukan watak dan kepribadian, disiplin dan sportivitas, serta pencapaian prestasi yang setinggi-tingginya agar dapat meningkatkan citra bangsa dan kebanggaan nasional. Hal ini sekaligus merupakan pengakuan, bahwa olahraga dapat dijadikan alat untuk menciptakan manusia-manusia yang unggul.6
Teori functionalist, juga mengemukakan bahwa dalam teori ini menginspirasi diskusi dan penelitian tentang bagaimana olahraga sebagai lembaga sosial cocok ke dalam kehidupan sosial dan kemudian memberikan kontribusi untuk stabilitas dan kemajuan sosial di organisasi, kelompok dan masyarakat7. Dengan demikian olahragapun dapat memberikan kontribusi
sosial dalam kehidupan masyarakat, baik melalui organisasinya maupun kegiatan kelompok serta dampak langsung dari olahraga itu sendiri.
Selanjutnya teori fungsionalis juga diterapkan dalam kehidupan sehari- hari, yang berfokus pada bagaimana masing-masing bidang kehidupan sosial yang lebih besar secara efisien, yang akan tercapai apabila
1) belajar dan menerima nilai-nilai budaya yang penting
6 Fritz E. Simandjuntak,”Olahraga dalam GBHN 1993-1998”, Kompas, Sabtu, 12 Juni 1993, p.4 7 Jay Coacley, Sport in Society. Issues & Controversies. Eight Edition. International Edition 2003.
2) mempromosikan hubungan sosial antar manusia
3) memotivasi orang untuk mencapai tujuan budaya (budaya terbuka) 4) melindungi sistem dari pengaruh luar8
Belajar dan menerima nilai-nilai budaya yang penting dalam olahraga adalah suatu rambu-rambu yang sederhana, namun sulit untuk dilaksanakan. Nilai budaya seperti mudah menerima kekalahan dan mudah menerima keunggulan orang lain dengan lapang dada, baik dalam kegiatan aktivitas olahraganya itu sendiri, maupun dalam bisnis olahraganya.
Mempromosikan hubungan sosial antar manusia, banyak sekali kegiatan yang dapat memunculkan persahabatan akibat dari olahraga. Karena warisan terbesar dari olahraga itu sendiri adalah persahabatan, memandang lawan menjadi kawan yang kemudian diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat. Namun tidak jarang akibat dari olahraga itu sendiri menjadi konflik yang berkepanjangan. Hal ini lebih dari sekedar olahraga, biasanya sudah ditumpangi nilai-nilai politik pada level yang sudah tinggi.
Memotivasi orang untuk mencapai tujuan budaya (budaya terbuka), adalah nilai sosial dari teori fungsionalis yang lebih kepada memperluas jaringan persahabatan dan kekeluargaan sebagai impact dari olahraga itu sendiri
Namun kelemahan yang muncul dari teory funcionalist adalah: 1) tidak mengakui bahwa olahraga adalah konstruksi sosial 2) pernyataan dampak posistif dan negative dari olahraga 3) menyamaratakan kebutuhan masyarakat secara keseluruhan.
Seperti telah dikatakan diatas jika olahraga sudah ditumpangi nalai lain dan tujuan lain dari olahraga, maka yang uncul adalah keadaan yang berlawanan dengan konstruksi sosial dari olahraga itu sendiri.
Sebagaimana diamanatkan dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara, olahraga adalah gerakan yang diarahkan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia yang sehat jasmani, mental, dan rohani, serta ditujukan untuk pembentukan watak dan kepribadian, disiplin dan sportivitas
yang tinggi, serta peningkatan prestasi yang dapat membangkitkan rasa kebanggaan nasional. Dari rumusan itu, selain untuk prestasi, olahraga pada dasarnya justru dimaksudkan pemerintah untuk membangun manusia Indonesia seutuhnya.
Kegiatan olahraga tidak hanya bertumpu pada pembinaan di pemusatan latihan nasional/daerah (pelatnas/pelatda) tetapi di segala lapisan masyarakat, mulai dari tingkat sekolah sebagai bagian dari upaya pembibitan maupun untuk kesehatan, sampai dengan kegiatan sekadar hobi belaka (sports for all).
Dalam sport for all, disana akan ditemukan sekelompok orang dengan hobi yang sama yaitu olahraga, juga sekelompok orang yang saling ketergantungan, sekelompok orang dengan kegiatan sosial, sehingga mereka memiliki tujuan yang berbeda-beda dari olahraga itu sendiri. Teori Figurational didasarkan pada gagasan bahwa khidupan sosial terdiri dari jaringan orang saling tergantung. Orang itu ada karena melalui hubungan mereka dengan orang lain, dan jika kita ingin memahami kehidupan sosial, kita harus mempelajari figuratisi sosial yang muncul dan berubah sebagai hubungan sosial antara masyarakat yang ada dan yang berubah9 Begitu
besarnya dampaknya dari olahraga.
Ada tiga pihak yang menjadi induk dari kegiatan olahraga nasional di Indonesia, yaitu Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) untuk kegiatan olahraga di sekolah, KONI Pusat untuk kegiatan olahraga prestasi (pelaksanaannya dilakukan induk organisasi olahraga dan KONI Daerah serta Pengda), serta Menteri Negara Pemuda dan Olahraga untuk kegiatan olahraga masyarakat.
Ketiga induk ini kalau menjalankan peranannya masing-masing sebaik-baiknya serta berkoordinasi jika ada kebutuhan lintas sektoral, sebetulnya bisa menciptakan kondisi kehidupan olahraga yang kondusif untuk pembinaan.
Kalau dijabarkan lebih rinci, olahraga dapat dipilah menjadi dua yaitu olahraga prestasi dan olahraga non prestasi. Setelah itu maka tugas pembinaan diserahkan kepada induk seperti disebut di atas. Namun dalam
pelaksanaan di lapangan, tidaklah semudah membalik telapak tangan. Salah satu hal yang kini menjadi masalah adalah kurangnya kerjasama antara pihak-pihak itu dalam pembinaan yang berkelanjutan.
Prestasi di tingkat pelajar yang baik, tidak segera ’dijemput bola’ karena instansi pembinanya berbeda. Ini terasa sekali dalam sepakbola. Prestasi bagus tim pelajar Indonesia bukan hanya untuk kawasan Asia Tenggara, tetapi juga untuk Asia, tetapi kemudian berhenti di sana. Banyak sekolah sepak bola yang dibangun di daerah, tetapi ketika mereka hendak masuk ke klub yang serius mengalami kesulitan. Ketidaklancaran juga terjadi ketika atlet junior melakukan pematangan untuk menjadi atlet senior, karena ’lembaga’ untuk itu yakni kompetisi rutin dan berjenjang, tidak ada.
Pembinaan olahraga kita yang bersifat terkotak-kotak, tidak ber- jenjang, tidak berlanjut, tidak konsisten, diyakini merupakan kunci dari keadaan yang semrawut sekarang ini. Keadaan yang bagai ’lingkaran setan’ sehingga tidak diketahui bagaimana mencari jalan keluarnya. Dalam teori Interaksionis, berfokus pada makna dan interaksi yang terkait dengan olahraga dan pertisipasi olahraga. Hal ini menekankan pada kompleksitas tindakan manusia dan kebutuhan untuk memahami tindakan dalam hal bagaimana orang-orang yang berhubungan dengan olahraga mendefinisikan situasi melalui hubungan mereka dengan orang lain.
Salah satu usulan yang disampaikan adalah membentuk sebuah badan yang mendudukkan semua unsur yang secara langsung terlibat dalam pembinaan olahraga, seperti yang terlihat dilakukan negara lain dan berhasil. Misalnya saja Singapore Sports Council di Singapura, Majelis Sukan Malaysia, dan Australia Sports Commission di Australia. Di ketiga negara itu, lembaga tadi berhasil baik dalam menjembatani berbagai instansi yang ada.
Keanggotaan badan itu tidak hanya wakil dari ketiga instansi di atas, tetapi juga instansi lain yang terkait, seperti perguruan tinggi, Departemen Dalam Negeri, Kantor Menteri Negara Perumahan Rakyat, sekadar menyebut contoh. Namanya bisa saja Dewan Olahraga Nasional atau Badan Keolahragaan Nasional, tetapi yang jelas fungsinya tidak bersifat eksekutif, hanya menjadi tempat para pelaku memikirkan berbagai hal untuk pengembangan olahraga. Termasuk di sana menyelaraskan program
mendukung. Badan seperti itu diyakini dapat menjadi jembatan yang menghubungkan semua pihak, sekaligus menjadi lem perekat berbagai perbedaan persepsi yang masih terlihat.
Untuk menuju ke arah sana memang tidak mudah, karena membutuhkan kebesaran jiwa masing-masing pihak. Dan melihat fungsinya yang seperti ”di atas” lembaga-lembaga yang kini telah ada maka pembentukan ini tampaknya harus punya pijakan yang kuat yakni Undang-Undang No. 3 tahun 2005 mengenai Sistem Keolahragaan Nasional.
Dari catatan sejarah, pada tahun 1965, Menteri Olahraga dan Mendikbud membuat Surat Keputusan Bersama (SKB) tentang olahraga pelajar meliputi olahraga wajib dan olahraga karya. Posisi Menteri Olahraga ketika itu terasa kuat sampai ke daerah terpencil, sehingga mampu menyelenggarakan pertandingan secara teratur di daerah dan memantau bibit-bibit unggul serta mencetak pelatih/guru olahraga daerah di seluruh Indonesia. Hal ini bisa dilakukan karena Departemen Olahraga memiliki anggaran sendiri dan memiliki aparat di tingkat provinsi hingga kecamatan.10
Peningkatan prestasi olahraga tidak bisa lepas dari dukungan pemerintah. Henry dan Uchiumi (2001) mengatakan bahwa kebijakan olahraga sebuah negara ikut ditentukan oleh warna politik penguasa.11
Apalagi saat ini prestasi Indonesia menurun di Asian Games Busan 2010 maupun SEAG Laos 2009. Harus ada kebijakan olahraga (sports policy) yang jelas dari pemerintah agar pembangunan olahraga di sebuah negara berhasil.
Pengalaman dan sejarah di Indonesia menunjukkan bahwa ketika almarhum Sultan Hamengkubuwono IX menjadi Wakil Presiden tahun 1978-1983, Indonesia menjadi juara umum SEA Games 1979, 1981, dan 1983, serta berprestasi di Asian Games 1978 dan 1982. Ketika itu lembaga Kantor Menegpora belum ada, tetapi Ketua Umum KONI Pusat, Sri Sultan
10 Munas Tundang,”Pemerintah Perlu Berperan Membangun Olahraga”, Kompas Sabtu, 13
Januari 1996, p.18
11 Ian Henry dan Kazuo Uchiumi,”Political Ideology, Modernity, and Sports Policy: A Comparative
Analysis of Sports Policy in Britain and Japan”, Hitotsubashi Journal of Social Studies 33 (2001), pp. 161-185
Hamengkubuwono IX selaku Wakil Presiden bisa memanggil Mendikbud, Mendagri, Mensesneg, Meneg PPN/Ketua Bappenas, Menkeu, Menteri PU, dan menteri lainnya untuk membicarakan pembangunan olahraga nasional.12