BAB II LANDASAN TEORI
A. Tinjauan Pustaka
2. Hutan
Hutan secara konsepsional yuridis dirumuskan di dalam Pasal 1 Ayat (1) undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. Menurut Undang-undang tersebut, Hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumberdaya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungan, yang satu dengan yang lainnya tidak dapat dipisahkan.
Berdasarkan definisi hutan yang disebutkan, terdapat unsur-unsur yang meliputi :
a. Suatu kesatuan ekosistem b. Berupa hamparan lahan
c. Berisi sumberdaya alam hayati beserta alam lingkungan yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain
d. Mampu memberikan manfaat secara lestari (Rahmawaty, 2004).
Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia No. P.18/Menhut-II/2011 Tentang Pedoman Pinjam Pakai Kawasan Hutan pada pasal I berbunyi bahwa hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumberdaya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan. Hutan commit to user
memiliki kawasan yang mencakup wilayah tertentu yang ditunjuk dan/atau ditetapkan oleh pemerintah untuk dipertahankan keberadaannya sebagai hutan tetap.
a. Jenis-Jenis Hutan di Indonesia
Jenis-jenis hutan di Indonesia berdasarkan iklim adalah:
1) Hutan Hujan Tropika, adalah hutan yang terdapat didaerah tropis dengan curah hujan sangat tinggi. Hutan jenis ini sangat kaya akan flora dan fauna. Di kawasan ini keanekaragaman tumbuh-tumbuhan sangat tinggi. Luas hutan hujan tropika di Indonesia lebih kurang 66 juta hektar Hutan hujan tropika berfungsi sebagai paru-paru dunia. Hutan hujan tropika terdapat di Pulau Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua.
2) Hutan Monsun, disebut juga hutan musim. Hutan monsun tumbuh didaerah yang mempunyai curah hujan cukup tinggi, tetapi mempunyai musim kemarau yang panjang. Pada musim kemarau, tumbuhan di hutan monsun biasanya menggugurkan daunnya. Hutan monsun biasanya mempunyai tumbuhan sejenis, misalnya hutan jati, hutan bambu, dan hutan kapuk. Hutan monsun banyak terdapat di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
b. Jenis-Jenis Hutan di Indonesia Berdasarkan Variasi Iklim, Jenis Tanah, dan Bentang Alam.
Jenis-jenis hutan di Indonesia berdasarkan variasi iklim, jenis tanah, dan bentang alam adalah sebagai berikut:
1) Kelompok Hutan Tropika :
a) Hutan Hujan Pegunungan Tinggi b) Hutan Hujan Pegunungan Rendah c) Hutan Tropika Dataran Rendah d) Hutan Subalpin
e) Hutan Pantai f) Hutan Mangrove g) Hutan Rawa h) Hutan Kerangas i) Hutan Batu Kapur
j) Hutan pada batu Ultra Basik 2) Kelompok Hutan Monsun
a) Hutan Monsun Gugur Daun
b) Hutan Monsun yang Selalu Hijau (Evergreen) c) Sabana
c. Jenis-Jenis Hutan di Indonesia Berdasarkan Pembentukan
Jenis-jenis hutan di Indonesia berdasarkan pembentukan adalah sebagai berikut:
1) Hutan alam, yaitu suatu lapangan yang bertumbuhan pohon-pohon alami yang secara keseluruhan merupakan persekutuan hidup alam hayati beserta alam lingkungannya. Hutan alam juga disebut hutan primer, yaitu hutan yang terbentuk tanpa campur tangan manusia.
2) Hutan buatan disebut hutan tanaman, yaitu hutan yang terbentuk karena campur tangan manusia.
d. Jenis-Jenis Hutan di Indonesia Berdasarkan Status
Jenis-jenis hutan di Indonesia berdasarkan status adalah sebagai berikut:
1) Hutan negara, yaitu hutan yang berada pada tanah yang tidak dibebani hak atas tanah. Beberapa hutan negara yang dikelola oleh badan usaha atau pemerintah yaitu; Perum Perhutani, Ijin Usaha Pemanfataan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK).
2) Hutan hak, yaitu hutan yang berada pada tanah yang dibebani hak atas tanah. Hak atas tanah, misalnya hak milik (HM), Hak Guna Usaha (HGU), dan hak guna bangunan (HGB). Hutan hak merupakan hutan yang status kepemilikan tanahnya milik rakyat, atau disebut hutan rakyat. Hutan rakyat adalah hutan yang tumbuh di atas tanah milik dengan luas minimal 0.25 ha.
3) Hutan adat, yaitu hutan negara yang berada dalam wilayah masyarakat hukum adat.
e. Jenis-Jenis Hutan di Indonesia Berdasarkan Jenis Tanaman
Jenis-jenis hutan di Indonesia berdasarkan jenis tanaman adalah sebagai berikut:
1) Hutan Homogen (Sejenis), yaitu hutan yang arealnya lebih dari 75 % ditutupi oleh satu jenis tumbuh-tumbuhan. Misalnya: hutan jati, hutan bambu, dan hutan pinus.
2) Hutan Heterogen (Campuran), yaitu hutan yang terdiri atas bermacam-macam jenis tumbuhan.
f. Jenis-Jenis Hutan di Indonesia Berdasarkan Fungsi
Jenis-jenis hutan di Indonesia berdasarkan fungsi adalah sebagai berikut:
1) Hutan Lindung
Hutan lindung adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan.
2) Hutan Konservasi.
Hutan Konservasi adalah kawasan hutan dengan ciri khas tertentu, yang mempunyai fungsi pokok pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya. Hutan konservasi terdiri atas:
a) Hutan Suaka alam adalah hutan dengan ciri khas tertentu yang mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan, satwa dan ekosistemnya serta berfungsi sebagai wilayah penyangga kehidupan. Kawasan hutan suaka alam terdiri atas cagar alam, suaka margasatwa dan Taman Buru.
b) Kawasan Hutan pelestarian alam adalah kawasan dengan ciri khas tertentu, baik didarat maupun di perairan yang mempunyai fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan secara lestari sumberalam hayati dan ekosistemnya. Kawasan pelestarian alam terdiri atas taman nasional, taman hutan raya (TAHURA) dan taman wisata alam.
3) Hutan Produksi
Hutan produksi adalah kawasan hutan yang diperuntukkan guna produksi hasil hutan untuk memenuhi keperluan masyarakat pada umumnya serta pembangunan, industri, dan ekspor pada khususnya. Hutan produksi dibagi menjadi tiga, yaitu hutan produksi terbatas (HPT), hutan produksi tetap (HP), dan hutan produksi yang dapat dikonversikan (HPK). (Kainde, 2011) g. Hutan Rakyat
Hutan rakyat adalah hutan yang tumbuh di atas tanah milik dengan luas minimal 0.25 ha. Penutupan tajuk didominasi oleh tanaman perkayuan, dan atau tanaman tahun pertama minimal 500 batang (Dephutbun, 1999). Penanaman pepohonan di tanah milik masyarakat oleh pemiliknya, merupakan salah satu butir kearifan masyarakat dalam rangka memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya. Dengan semakin terbatasnya kepemilikan tanah, peran hutan rakyat bagi kesejahteraan masyarakat semakin penting. Pengetahuan tentang kondisi tanah dan faktor-faktor lingkungannya untuk dipadukan dengan pengetahuan jenis-jenis pohon yang akan ditanam untuk mendapatkan hasil yang diharapkan oleh pemilik lahan, merupakan faktor yang menentukan keberhasilan pembangunan hutan rakyat. (Rahmawaty, 2004)
Pengelolaan di areal hutan rakyat dapat dilakukan penanaman dengan mengkombinasikan tanaman perkayuan dengan tanaman pangan/palawija yang biasa dikenal dengan istilah agroforestry. Pola pemanfaatan lahan seperti ini banyak manfaatnya, antara lain:
1) Pendapatan per satuan lahan bertambah 2) Erosi dapat ditekan
3) Hama dan penyakit lebih dapat dikendalikan 4) Biaya perawatan tanaman dapat dihemat 5) Waktu petani di lahan lebih lama.
Beberapa tanaman perkayuan yang dikembangkan di hutan rakyat, adalah: sengon (Paraserianthes falcataria), kayu putih (Melaleuca leucadendron), aren (Arenga pinata), sungkai (Peronema canescens), akasia (Acacia sp.), jati putih (Gmelina arborea), johar (Cassia siamea), kemiri commit to user
(Aleurites moluccana), kapuk randu (Ceiba petandra), jabon (Anthocepallus cadamba), mahoni (Swietenia macrophylla), bambu (Bambusa), mimba (Azadirachta indica), cemara pantai (Casuarina equisetifolia), dan kaliandra (Calliandra calothyrsus).
Berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan dan perkebunan No. 677/Kpts-II/1998, hutan kemasyarakatan adalah hutan negara yang dicadangkan atau ditetapkan oleh menteri untuk dikelola oleh masyarakat yang tinggal di dalam dan di sekitar hutan dengan tujuan pemanfaatan hutan secara lestari sesuai dengan fungsinya dan menitikberatkan kepentingan mensejahterakan masyarakat. Pengusahaan hutan kemasyarakatan bertumpu pada pengetahuan, kemampuan dan kebutuhan masyarakat itu sendiri (Community Based Forest Management), proses berjalan melalui perencanaan bawah-atas, dengan bantuan fasilitasi dari pemerintah secara efektif, terus menerus dan berkelanjutan. (Dephutbun, 1999).
Pengusahaan hutan kemasyarakatan dikembangkan berdasarkan keberpihakan kepada rakyat khususnya rakyat yang tinggal di dalam dan sekitar kawasan hutan, dengan prinsip-prinsip:
1) Masyarakat sebagai pelaku utama
2) Masyarakat sebagai pengambil keputusan
3) Kelembagaan pengusahaan ditentukan oleh masyarakat. 4) Kepastian hak dan kewajiban semua pihak
5) Pemerintah sebagai fasilitator dan pemandu program
6) Pendekatan didasarkan pada keanekaragaman hayati dan keanekaragaman budaya.
Berdasarkan jenis komoditas, pengusahaan hutan kemasyarakatan memiliki pola yang berbeda untuk setiap status kawasan hutan, disesuaikan dengan fungsi utama, yaitu:
1) Kawasan hutan produksi dilaksanakan dengan tujuan utama untuk memproduksi hasil hutan berupa kayu dan non kayu serta jasa lingkungan, baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk diusahakan.
2) Kawasan hutan lindung dilaksanakan dengan tujuan utama tetap menjaga fungsi perlindungan terhadap air dan tanah (hidrologis), dengan memberi commit to user
pemanfaatan hasil hutan berupa hasil hutan non kayu dan jasa rekreasi, baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk diusahakan. Tidak diperkenankan pemungutan hasil hutan kayu.
3) Kawasan pelestarian alam dilaksanakan dengan tujuan utama untuk perlindungan sumberdaya alam hayati dan ekosistem, yang pada hakekatnya perlindungan terhadap plasma nutfah. Oleh karena itu pada kawasan ini kegiatan hutan kemasyarakatan terbatas pada pengelolaan jasa lingkungan khususnya jasa wisata.