• Tidak ada hasil yang ditemukan

Vegetasi

Dalam dokumen TESIS A131208012 HENDRO WIDIYANTO (Halaman 43-55)

BAB III METODE PENELITIAN

C. Tatalaksana Penelitian

1. Vegetasi

2. Vegetasi skunder. 3. Vegetasi Primer 1. Rendah (≤ 5 Jenis). 2.Sedang (6-10 Jenis). 3. Tinggi (≥11 Jenis). 1.< 1.000 m dpl 2.1.000-1.400 m dpl. 3.> 1.400 m dpl SENSITIFITAS PENENTUAN

BLOK/ZONASI KAWASAN TAHURA MANGKUNAGORO I

Peta Vegetasi Peta

Kelerengan 1. < 30 % 2. 30 – 45 % 3. > 45 % Zonasi Kawasan Blok/zona Perlindungan

Blok/zona Koleksi Blok/zona Pemanfaatan Survei Lapangan

28

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat Penelitian

1. Waktu Penelitian

Waktu penelitian pada bulan Januari 2014 sampai dengan Desember 2014 dengan rincian sebagai berikut.

Tabel 1. Jadwal Kegiatan Penelitian

No. Alokasi Waktu Kegiatan Keterangan

1. 21 Februari 2014 Seminar Proposal 2. 24 Februari 2014 s/d.

14 Maret 2014

Pengumpulan data lapangan dan sekunder.

3. 17 Maret – Juli 2014 Analisis data dan pembuatan draft tesis.

4. 18 Agustus 2014 Seminar hasil 5. 11 Desember 2014 Ujian tesis 2. Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Taman Hutan Raya (TAHURA) KGPAA Mangkunagoro I Ngargoyoso Karanganyar Jawa Tengah Juli sampai dengan Oktober 2014. Daerah penelitian secara administratif terletak di Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah. (Gambar.2).

B. Sumber Data dan Peralatan

1. Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder:

a. Data primer, meliputi: catatan lapangan (field report) sebagai hasil pengamatan langsung dan wawancara kepada informan yang berkepentingan.

29

b. Data sekunder, meliputi:

Peta penggunaan lahan, peta topografi/peta kelerengan, peta indeks vegetasi, peta ketinggian, peta satwa liar, dan peta wilayah TAHURA KGPAA Mangkunagoro I.

2. Peralatan dan Bahan

Alat survei yang digunakan meliputi: alat tulis menulis, GPS Receiver, plastik, kamera, tally sheet, meteran 5m, tabung okuler, rol meter 20m, tali rafia, plastik terpal, haga meter, kantong spesimen, sunto meter, ember plastik, dan kompas. Alat pengolah data, yaitu: komputer dan printer, Software ArcGIS 10.0, Microsoft exel. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah literatur dan citra quick TAHURA Ngargoyoso Karanganyar (1:500.000), peta identifikasi kawasan Taman Hutan Raya Ngargoyoso Karanganyar (skala 1:500.000), peta kontur dan peta penutupan lahan dengan skala 1:15.000 (peta Rupa Bumi Indonesia).

C. Tatalaksana Penelitian 1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang dilakukan peneliti adalah penelitian deskriptif kualitatif karena data yang dikumpulkan dinyatakan dalam bentuk nilai relatif, pada umumnya dilakukan pada penelitian sosial dan hasilnya bersifat obyektif, berlaku sesaat dan setempat. Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk memaparkan, melaporkan dan menuliskan suatu peristiwa sehingga dapat dianalisis serta penyajian data dapat disajikan secara sistematik (Sukandarrumidi, 2006).

2. Prosedur Penelitian a. Metode Pemetaan

Metode yang digunakan dalam kajian sensitifitas kawasan TAHURA, merupakan alat yang digunakan untuk mengukur tingkat sensitifitas ekologi terhadap zonasi kawasan, yaitu dengan menggunakan teknologi penginderaan jauh dan Sistem Informasi Geografi (SIG). Dalam kaitannya dengan kajian sensitifitas kawasan TAHURA dititikberatkan pada penggunaan SIG untuk masukan rencana awal pengelolaan kawasan TAHURA Mangkunagoro I. commit to user

Secara skematis pelaksanaan kegiatan studi disajikan pada gambar 1. Teknik pelaksaanaan kegitan dapat diuraikan sebagai berikut: 1) Identifikasi Awal

a) Delineasi batas-batas kawasan TAHURA, pengumpulan dokumen yang berkaitan dengan TAHURA.

b) Pengumpulan data yang terkait dengan rencana pengelolaan baik di dalam kawasan maupun di luar kawasan.

c) Pengumpulan data sekunder lainnya seperti data sosial, ekonomi dan budaya

b. Penentuan Satuan Pemetaan

Penentuan satuan pemetaan tahap awal sebelum analisa SIG dirancang dan dilaksanakan adalah penentuan unit mapping (satuan pemetaan) sebagai dasar analisa SIG. Analisis hasil inventarisasi vegetasi dan satwa merupakan hasil survei sebagai parameter penentu skor, selanjutnya hasil skor dimasukan dalam data kriteria pemetaan. Parameter penentu ketinggian dan kelerengan berdasarkan karakteristik yaitu dari penampakan peta Rupa Bumi Indonesia (RBI) dan di Parameter penentu didelinasi dan diklasifikasikan dalam satuan luas masing-masing dalam bentuk peta. Peta masing-masing parameter penentuan kemudian di tumpang susun (overlay) dalam bentuk peta sensitifitas kawasan TAHURA. Unit pemetaan didasarkan pada landasan teoritis dan observasi awal kawasan yang menggambarkan karakteristik fisik kawasan. Langkah pertama penentuan satuan pemetaan adalah membagi kawasan ke dalam unit-unit geomorfologi/unit lahan. Tahap berikutnya penentuan tingkat keanekaragaman hayati dan nilai arkeologis secara spasial. Hasil tumpang susun (overlay) ketiga faktor diatas dipakai sebagai dasar unit mapping.

c. Dasar Pelaksanaan Analisa SIG

Secara umum untuk analisa SIG dibagi dalam beberapa tahapan, yaitu: (1) Desain database, (2) Digitasi/pemasukan data, (3) Klasifikasi, (4) Analisis. (5) Kartografis.

1) Desain Data Base dan Pemasukan Data (Digitasi)

Desain data base berkaitan dengan rancangan klasifikasi dan struktur data base yang akan dibuat dalam kerangka hasil akhir yang akan dicapai baik penstrukturan data spasial maupun data yang berbentuk tabular. Input data/masukan data dilakukan dengan cara digitasi, merubah data analog (peta hardcopy) ke dalam data digital. Data analog yang didigitasi adalah peta dasar dan peta tematik hasil interpretasi data penginderaan jauh.

2) Editing

Merupakan proses perbaikan setelah proses pemasukan data selesai dikerjakan dan sebelumnya proses editing berlangsung dilakukan pembangunan topologi. Editing bertujuan untuk melakukan perbaikan dari kesalahan yang terjadi pada waktu digitasi atau pemasukan data. antara lain overshoot maupun undershoot.

a) Transformasi Data

Pada dasarnya transformasi data bertujuan untuk merubah koordinat meja ke koordinat geografi maupun koordinat UTM. Tranformasi ini dilakukan terhadap semua peta yang telah didigitasi layer per layer baik peta dasar maupun peta tematik yang telah ditentukan.

b) Analisis Data

Pada tahap ini merupakan pembangunan database untuk pelaksanaan analisis dan pembuatan peta akhir. Dalam Analisa data ini menggunakan Software ArcGIS 10.0, dimana proses dilakukan dengan cara tumpang susun tumpang susun (overlay) pada tingkat I dalam klasifikasi unit pemetaan yang dibuat. Sedangkan pada analisa berikutnya adalah dengan proses analisa spasial- tabuler dalam penentuan zonasi kawasan.

c) Proses Kartografis

Proses rancangan penyajian grafik (peta) dibuat untuk menampilkan hasil akhir sehingga lebih bersifat menjaga tampilan agar lebih menarik dan informatif. Beberapa komponen untuk desain peta commit to user

dalam proses kegiatan: desain komponen peta, simbol, penentuan tujuan peta, parameter peta, layout peta, data simbol dan peta tabuler.

Pelaksanan pengumpulan data di lapangan sebagai dasar dalam penentuan letak dan luasan kawasan digunakan peta kawasan Taman Hutan Raya Ngargoyoso, peta kontur dan peta penutupan lahan dengan skala 1:10.000. GPS digunakan dalam penentuan titik-titik pengamatan dan ketingian tempat (mdpl). Pengamatan kondisi kawasan baik flora maupun fauna yang ada dilakukan dengan pedoman identifikasi flora dan fauna dan mengunakan alat pengamatan jarak jauh (Binokuler), membuat petak pengamatan dengan mengunakan tali tambang/roll meter. Analisis data penataan blok digunakan aplikasi ArcGis dalam Sistem Informasi Geografis (SIG).

Perencanaan dan persiapan survei, sebagai berikut: a. Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan dalam penelitian

b. Membuat titik ikat untuk memulai pengambilan jalur menggunakan tali rapia

c. Memotong garis kontur tanah dengan tujuan untuk mewakili data yang akan diambil dalam penelitian

d. Membuat petak ukur dengan ukuran 20 x 20 m (pohon), 10 x 10 m (tiang), 5 x 5 m (pancang) dan 2 x 2 m (semai)

e. Melakukan pengamatan langsung di lapangan berdasarkan petak ukur yang telah ditentukan.

f. Menghitung vegetasi, satwa, ketinggian dan kelerengan serta penggunaan lahan yang terdapat pada area pengamatan

g. Mengamati bentuk lahan penelitian yang sudah ditetapkan

h. Pengamatan satwa beserta jejak dan posisi geografis dimasukkan dalam table

i. Inventarisasi mamalia dilakukan dengan Metode Transek.

j. Pengamatan burung dilakukan pada pagi hari dengan metode Point count.

k. Memasukkan data yang diperoleh ke dalam Tabel yang sudah disediakan l. Menyimpulkan data yang diperoleh dilapangan. commit to user

Data merupakan sekumpulan informasi tentang sesuatu hal yang disusun secara sistematis sesuai dengan tujuan tertentu. Pengumpulan data dan informasi dilakukan dengan melakukan pendekatan survei dengan cara penggambilan data primer dan data sekunder, baik di lapangan maupun kantor serta instansi terkait yang memiliki informasi tantang kawasan TAHURA. Jenis data yang dikumpulkan terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer meliputi data penyebaran vegetasi (penutupan lahan), satwa liar, informasi gangguan kawasan (perambahan, pencurian hasil hutan, perburuan, kebakaran hutan, longsor), serta data peranan masyarakat. Sedangkan data sekunder berasal dari data spasial, laporan, dan dokumen kegiatan serta informasi penunjang. (Table.2).

3. Populasi & Sampel Penelitian

Populasi daerah penelitian adalah seluruh kawasan Taman Hutan Raya (TAHURA) KGPAA Mangkunagoro I seluas 231,300 Ha. Sampel diperlukan untuk uji medan dan kerja lapangan serta untuk menguji hasil interpretasi dan melengkapi data yang tidak dapat diperoleh dari citra satelit maupun dari data sekunder. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 23 hektar dengan jumlah petak penelitian yang dilakukan secara vertikal sejumlah 46 petak ukur (PU). Setiap petak ukur (PU) berukuran 20 m x 20 m. Jarak antara petak ukur (PU) yang satu dengan petak yang lain adalah 100 m. Untuk pengamatan satwa, jumlah petak yang digunakan sebanyak 25 petak dengan jarak petak yang satu dengan yang lain adalah 200 m. Pengambilan data dilakukan pada zona pemanfaatan, perlindungan dan koleksi. Penghitungan jumlah vegetasi berdasarkan tingkat pertumbuhan, yaitu: semai (permudaan tingkat kecambah sampai setinggi <1,5 m), pancang (permudaan dengan >1,5 m sampai pohon muda yang berdiameter <10 cm), tiang (pohon muda berdiameter 10 s/d 20 cm), dan pohon dewasa (diameter > 20 cm). Untuk memudahkan pelaksanaannya ukuran kuadrat disesuaikan dengan tingkat pertumbuhan tersebut, yaitu umumnya 20 x 20 m (pohon dewasa), 10 x 10 m (tiang), 5 x 5 m (pancang), dan l x l m atau 2 x 2 m (semai dan tumbuhan bawah) (Azwar, 2013).

Tabel 2. Jenis data yang diambil.

No Data Sumber Data Teknik

A. Keadaan Umum Kawasan

1. Kondisi Fisik

a. Luas, letak, dan batas b. Topografi

c. Iklim

d. Geologi dan tanah

Instansi terkait Studi pustaka

2. Kondisi Flora Fauna

a. Flora b. Fauna

Lapangan, masyarakat, dan instansi terkait Observasi lapang, interview, dan studi pustaka 3. Potensi Wisata a. Air terjun b. Sungai c. Bumi perkemahan

d. Outbond, dan lain-lain

Lapangan, masyarakat, dan pengunjung Observasi lapang, dan interview 4. Aksesibilitas a. Jalur akses b. Jarak tempuh c. Waktu tempuh d. Sarana akses e. Kondisi akses Lapangan, masyarakat, pengunjung, dan instansi terkait

Observasi lapang, interview, dan studi pustaka

B. Kondisi Sosial Ekonomi dan

Budaya

1 Kependudukan

a. Jumlah penduduk b. Jumlah KK

Instansi terkait Studi pustaka

2 Mata Pencaharian

a. Jenis mata pencaharian

Lapangan, masyarakat, dan instansi terkait

Observasi lapang, interview, dan studi pustaka

3 Tata Guna Lahan

a. Luas wilayah

b. Jenis pemanfaatan lahan

Lapangan, masyarakat, dan instansi terkait

Observasi lapang, interview, dan studi pustaka

4 Pendidikan dan Kesehatan

a. Tingkat pendidikan b. Sarana pendidikan c. Sarana kesehatan

Lapangan, masyarakat, dan instansi terkait Observasi lapang, interview, dan studi pustaka 5 Tenaga Kerja

a. Jenis tenaga kerja

Lapangan, masyarakat, dan instansi terkait Observasi lapang, interview, dan studi pustaka commit to user

lanjutan table.2.

No Data Sumber Data Teknik

6 Agama dan Adat Istiadat

a. Agama b. Adat Istiadat

c. Sejarah dan arkeologi

Lapangan, masyarakat, dan instansi terkait Observasi lapang, interview, dan studi pustaka 7 Kelembagaan Masyarakat

a. Jenis kelembagaan masyarakat

Lapangan, masyarakat, dan instansi terkait

Observasi lapang, interview, dan studi pustaka

8 Pemanfaatan Jasa Lingkungan

a. Jenis jasa lingkungan yang dimanfaatakan masyarakat b. Kepentingan

pribadi/umum/komersial

c. Sistem pemanfaatan jasa lingkungan

Lapangan, masyarakat, dan instansi terkait

Observasi lapang, interview, dan studi pustaka

9 Tingkat Ketergantungan Masyarakat

terhadap Kawasan TAHURA KGPAA Mankunagoro I

a. Intensitas masyarakat masuk ke dalam kawasan

b. Lokasi yang dituju masyarakat di dalam kawasan TAHURA KGPAA Mankunagoro I

c. Tujuan masuk ke dalam kawasan d. Jenis-jenis SDA yang dimanfaatkan masyarakat dari kawasan

e. Pemanfaatan SDA dari dalam Kawasan TAHURA KGPAA Mankunagoro I

Lapangan, masyarakat, dan instansi terkait

Observasi lapang, interview, dan studi pustaka

10 Permasalahan di Kawasan TAHURA

KGPAA Mankunagoro I a. Jenis permasalahan b. Tingkat/kondisi masalah c. Upaya penyelesaian

Lapangan, masyarakat, dan instansi terkait Observasi lapang, interview, dan studi pustaka A. Kebijakan Pembangunan Daerah

1 Kebijakan Pembangunan Kehutanan Instansi terkait Interview, dan

studi pustaka

2 Kebijakan Pembangunan Wilayah Instansi terkait Interview, dan

studi pustaka

3 Kebijakan Pembangunan Pariwisata Instansi terkait Interview, dan

studi pustaka

4 Kebijakan Penegakan Hukum Instansi terkait Interview, dan

studi pustaka commit to user

lanjutan table.2.

No Data Sumber Data Teknik

B. Penataan Blok Kawasan

1 Penyebaran Vegetasi (Penutupan

Lahan)

Lapangan, instansi terkait, dan masyarakat Observasi lapang, sensitifitas ekologi, landskap ekologi, dan interview

2 Penyebaran Satwa Liar Lapangan, instansi terkait,

dan masyarakat Observasi lapang, sensitifitas ekologi, landskap ekologi, dan interview

3 Data Spasial Tanah, Geologi, Iklim,

Topografi, Geomorfologi, Penggunaan tanah

Instansi terkait dan citra SIG

Penentuan atau pengambilan sampel didasarkan pada karakteristik fisik lahan yang merupakan hasil analisis dan interpretasi citra satelit maupun satuan lahan dari hasil overlai parameter bentuk lahan yang diperoleh dari peta kontur atau Digital Elevation Model (DEM) dengan peta penutupan lahan Rupa Bumi Indonesia (RBI). Penentuan titik sampel di lapangan dilakukan dengan menggunakan metode Stratified random sampling atau sampel secara acak berstrata. Pertimbangan yang diambil dalam penentuan lokasi sampel adalah sukar atau mudahnya dikenali suatu obyek pada saat interpretasi, tingkat kesulitan dan keterjangkauan dalam mencapai lokasi sampel yang ditetapkan. Dalam penentuan plot sampel pada setiap satuan lahan tetap memperhatikan penutupan lahan berupa lahan hutan kering primer dan sebaran luasan pada setiap satuan lahan.

Penentuan titik sampel di lapangan dilakukan dengan menggunakan metode Stratified random sampling atau sampel secara acak berstrata. Pertimbangan yang diambil dalam penentuan lokasi sampel adalah sukar atau mudahnya dikenali suatu obyek pada saat interpretasi, tingkat kesulitan dan keterjangkauan dalam mencapai lokasi sampel yang ditetapkan. Dalam penentuan plot sampel pada setiap satuan lahan tetap memperhatikan

penutupan lahan berupa lahan hutan kering primer dan sebaran luasan pada setiap satuan lahan.

Untuk menentukan sampel responden dalam survei sosial didasarkan dari hasil analisis data sekunder tofografi desa, terkait dengan desa terdekat dengan kawasan, jumlah penduduk untuk menentukan derajat interaksi masyarakat sekitar dengan kawasan.

4. Variabel Penelitian

Variabel bebas dalam penelitian ini adalah vegetasi, satwa liar, ketinggian dan kelerengan di kawasan TAHURA KGPAA Mangkunagoro I. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah sensitifitas kawasan TAHURA KGPAA Mangkunagoro I.

5. Analisis Data

Analisis data digunakan dalam proses mengolah data, baik primer maupun sekunder dipilah dan diklasifikasikan dalam tahap kompilasi data untuk memperoleh informasi dengan cara kualitatif deskriptif.

Teknik pelaksanaan kegiatan ini ialah memanfaatkan jasa survei dan pemetaan dalam penataan ruang atau blok. Berdasarkan satuan pemetaan dilakukan analisis geografis melalui tahapan kegiatan sebagai berikut: mendesain klasifikasi data berdasarkan struktur data spasial dan non spasial yang akan mencerminkan klasifikasi unit pemetaan.

1. Input data melalui digitasi, dengan mengubah data analog menjadi data digital.

2. Analisis data dengan bantuan software SIG melalui proses teknik tumpang susun (overlay), untuk kemudian dilanjutkan dengan program analisis spasial.

Faktor pertimbangan dalam penentuan zonasi berdasarkan tingkat sensitifitas, yaitu:

1. Faktor kualitatif yang meliputi; keterwakilan, keaslian atau kealamian, keunikan, kelangkaan, laju kepunahan keutuhan satuan ekosistem, keutuhan sumberdaya atau kawasan, luasan kawasan, keindahan alam, kenyamanan, kemudahan pencapaian lokasi, nilai sejarah/ arkeologi/ keagaman, dan ancaman manusia. commit to user

2. Faktor spasial meliputi; data spasial tanah, geologi, iklim, topografi, geomorfologi, dan penggunaan lahan.

Penelaahan terhadap paramater yang ada dari masing-masing lansekap ekologi dengan validasi melalui cross checking dengan data yang reliable dan kondisi aktual di lapangan. Penerapan pertimbangan faktor-faktor tersebut dalam penentuan usulan penataan blok/zonasi pengelolaan TAHURA Mangkunagoro I dikembangkan sebagai berikut:

D. Metode Sensitifitas Ekologi

Teknik dalam metode penilaian sensitifitas ekologi, yaitu dengan teknik tumpang susun (overlapping) dengan menggunakan data spasial dari peta vegetasi, peta penyebaran satwa, peta kelas ketinggian tempat, dan peta kelas kelerengan. Dari keempat peta tersebut diklasifikasikan sesuai dengan penilaian sebagaimana tabel berikut.

Tabel. 3. Penilaian Sensitifitas Ekologi No Parameter

Peta

Nilai Kelas Sensitifitas

0 1 2 3

1 Vegetasi Lahan kebun, perambahan, tambang, dan lain-lain Vegetasi rusak akibat illegal logging Vegetasi sekunder Vegetasi primer

Dalam dokumen TESIS A131208012 HENDRO WIDIYANTO (Halaman 43-55)

Dokumen terkait