BAB II LANDASAN TEORI
A. Landasan Teori
6. IAS 41 Agriculture
IAS 41 mengatur perlakuan akuntansi, penyajian dan pengungkapan laporan keuangan yang terkait dengan aset biologis dan produk hasil pertanian pada saat masa panen sejauh kaitannya dengan
kegiatan pertanian. Standar ini berhubungan dengan aktivitas agrikultur yakni berupa aset biologis, produk hasil pertanian pada masa panen, dan hibah pemerintah. IAS 41 hanya diterapkan untuk hasil pertanian yang merupakan produk panen biologis entitas aset hingga titik panen. Dengan demikian, IAS 41 tidak memiliki hubungan dengan pengolahan hasil pertanian atau perkebunan setelah panen, karena hasil dari proses agrikultur akan dianggap sebagai persediaan yang akan diatur tersendiri dalam IAS 2 (IAS 41:3).
Berdasarkan IAS 41 paragraf 40, perusahaan yang memperoleh hasil dari aset biologis perusahaannya, diharuskan menggunakan nilai wajar yang dikurangkan dengan perkiraan biaya untuk menjual aset biologis tersebut, hal ini bertujuan agar perusahaan dapat mengungkapkan keuntungan atau kerugian agregat yang akan diakui sebagai bagian dari laba rugi tahun berjalan.
a. Pengakuan Aset Biologis berdasarkan IAS 41
Menurut IAS 41, aset biologis mulai diakui pada saat entitas dapat mengendalikan aset tersebut sebagai akibat dari peristiwa masa lalu, terdapat kemungkinan besar aliran manfaat ekonomik masa depan yang terkait aset tersebut, serta biaya perolehan atau nilai wajar aset dapat diukur dengan andal.
Perusahaan dapat mengakui Biological Asset jika, dan hanya jika:
1) perusahaan mengontrol aset tersebut sebagai hasil dari transaksi masa lalu;
2) Memungkinkan diperolehnya manfaat ekonomi pada masa depan yang akan mengalir ke dalam perusahaan; dan
3) Mempunyai nilai wajar atau biaya dari aset dapat diukur secara andal.
Aset biologis dalam laporan keuangan dapat diakui sebagai aset lancar maupun aset tidak lancar sesuai dengan jangka waktu
transformasi biologis dari aset biologis yang bersangkutan. Aset biologis diakui ke dalam aset lancar ketika masa manfaat/masa transformasi biologisnya kurang dari atau sampai dengan 1 (satu) tahun dan diakui sebagai aset tidak lancar jika masa manfaat/masa transfomasi biologisnya lebih dari 1 (satu) tahun.
b. Pengukuran Aset Biologis berdasarkan IAS 41
IAS 41 mewajibkan penggunaan nilai wajar untuk produk agrikultur yang baru saja dipanen. Lefter dan Roman (2007) berpendapat bahwa hal ini dilakukan agar proses transformasi yang ada bisa segera terwakili di laporan keuangan sehingga membantu investor dalam mengestimasi keuntungan ekonomis pada masa depan. Pegukuran dilakukan saat awal perolehan dan setiap akhir periode pelaporan sebesar nilai wajar dikurangi dengan biaya untuk menjual. Pengukuran nilai wajar dapat dilakukan dengan mengelompokkan aset sesuai dengan atribut yang signifikan, misalnya berdasarkan usia atau kualitas. Terkadang perkiraan nilai wajar dapat mendekati biaya perolehan. Hal ini dapat terjadi ketika hanya terjadi sedikit transformasi biologis dari saat perolehan awal atau dampak transformasi biologis pada harga tidak diharapkan menjadi material. Terdapat kemungkinan pula bahwa nilai wajar aset biologis tidak dapat diketahui, namun terdapat pasar aktif untuk aset gabungan antara aset biologis dan jenis aset lain sebagai satu kesatuan. Pada kasus seperti ini, nilai wajar aset biologis dapat diketahui dengan mengurangkan nilai wajar aset gabungan dengan nilai wajar aset lainnya tersebut (Natasari dan Rizky Wulandari, 2018:75).
c. Penyajian Aset Biologis berdasarkan IAS 41
Dalam IAS 41 Agrikultur perusahaan harus menyajikan diskripsi untuk setiap Biological Asset yang terdapat pada Laporan Keuangannya. Biological Asset disajikan dalam Neraca perusahaan
pada aktiva tidak lancar yaitu Biological Asset dengan mengklasifikasikan jenis aset biologisnya. Sedangkan persediaan berupa produk agrikultur disajikan dalam neraca pada pos aktiva lancar. Menurut Maghfiroh (2017:29) kerangka konseptual atau penyajian laporan keuangan pada entitas agrikultur secara umum mengacu pada standar yang berlaku secara umum. Entitas menyajikan rekonsiliasi perubahan jumlah tercatat aset biologis antara awal dan akhir periode berjalan. Rekonsiliasi tersebut mencakup sebagai berikut:
1. Keuntungan atau kerugian yang timbul dari perubahan nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual;
2. Kenaikan karena pembelian;
3. Penurunan yang diatribusikan pada penjualan dan aset biologis yang diklasifikasikan sebagai dimiliki untuk dijual (termasuk dalam kelompok pelepasan yang diklasifikasikan sebagai dimiliki untuk dijual) sesuai dengan PSAK No.58 tentang aset tidak lancar yang dimiliki untuk dijual dan operasi yang dihentikan;
4. Penurunan karena panen;
5. Kenaikan yang ditimbulkan dari kombinasi bisnis;
6. Selisih kurs neto yang timbul dari penjabaran laporan keuangan kedalam mata uang penyajian yang berbeda dan penjabaran dari keg iatan usaha luar negeri kedalam mata uang penyajian entitas pelapor.
d. Pengungkapan Aset Biologis berdasarkan IAS 41
Pengungkapan yang ditetapkan oleh IAS 41 menurut (Ankarath, 2012) sebagai berikut:
1. Keuntungan atau kerugian keseluruhan yang timbul pada pengakuan awal dari aset biologis dan produk pertanian dan dari
perubahan dalam nilai dikurang dengan biaya untuk menjual dari pada aset biologis;
2. Keterangan mengenai setiap kelompok aset biologis. Apabila informasi ini tidak diungkapkan didalam laporan keuangan, maka sifat dari aktivitasnya dan non keuangan mengukur atau mengestimasi kuantitas fisik dari pada setiap kelompok dari aset biologis entitas pada akhir periode dan bahwa keluaran untuk produk pertanian selama periode harus diungkapkan;
3. Metode dan asumsi yang diterapkan dalam menentukan nilai wajar dari setiap kelompok produk pertanian pada titik panen dan dari setiap kelompok aset biologis;
4. Nilai wajar dikurang dengan biaya untuk menjual dari produk pertanian yang dipanen selama periode, harus diungkapkan pada titik panen;
5. Keberadaan dan jumlah yang tercatat dari aset biologis yang dimiliki dibatasi dan bahwa setiap aset biologis yang ditempatkan sebagai jaminan hutang;
6. Jumlah dari setiap komitmen untuk pengembangan atau akuisisi aset biologis;
7. Strategi manajemen resiko keuangan;
8. Rekonsiliasi jumlah tercatat pada awal dan akhir periode, yang meliputi:
a. Keuntungan dan kerugian yang timbul dari perubahan nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual;
b. Kenaikan karena pembelian;
c. Penurunan penjualan dan aset biologis yang diklasifikasikan sebagai dimiliki untuk penjualan sesuai dengan IFRS 5; d. Penurunan karena panen;
e. Peningkatan sebagai akibat dari penggabungan badan usaha atau kombinasi bisnis;
f. Selisih kurs neto atas transaksi laporan keuangan menjadi penyajian selisih dan atas translasi dari operasi luar negeri menjadi penyajian mata uang entitas yang melaporkan. Bilamana aset biologis yang dinyatakan atas dasar biaya perolehan dikurang akumulasi penyusutan dan rugi kerena penurunan nilai yang dihentikannya, entitas harus mengungkapkan keuntungan atau kerugian atas penghentian pemakaian dan melakukan rekonsiliasi seperti di atas, dan memberikan perincian dari kerugian karena penurunan nilai dan depresiasi. Bilamana nilai wajar dari aset biologis tidak dapat diukur, maka tambahan pengungkapan harus dilakukan terkait dengan keterangan aset, maka suatu penjelasan mengapa nilai wajar tidak dapat diukur secara andal, batasan, jika memungkinkan, dari estimasi di dalam mana nilai wajar mempunyai kemungkinan akan menurun, metode penyusutan yang digunakan, masa manfaat atau tarif penyusutan yang digunakan dan jumlah tercatat bruto, dan akumulasi penyusutan pada awal dan akhir periode. Bilamana nilai wajar dari aset biologis yang sebelumnya diukur atas dasar harga perolehan dikurang akumulasi penyusutan dan rugi karena penurunan nilai yang sekarang dapt diukur, tambahan pengungkapan mengenai keterangan mengenai aset biologis, penjelasan mengapa nilai wajar kini dapat diukur secara andal, dan efek dari perubahan yang harus diungkapkan.
7. Perlakuan Akuntansi Keuntungan dan kerugian Aset Biologis