KANDUNGAN POKOK AJARAN WIHDATUL WUJUD
B. Teori-TeoriPaham Wihdatul Wujud
3) Ibnu ‘Arabi
Ibn ‘Arabi terlahir di Mursia, Andalusia pada 28 Juli 1165 dan meninggal pada 10 November 1240 M (Khazim, 2002: 128). Nama lengkapnya adalah Muhammad ibn Ahmad ibn Abdullah al Hatimi. Ayahnya Ali ibn Muhammad, merupakan seorang yang alim terkenal dengan kezuhudannya. Sejarah lain mengatakan ayahnya adalah pengikut dekat Syekh ‘Abdul Qadir Jailani (Haeri, 2001:131). Para sufi menjulukinya sebagai asy-Syaikh al-Akbar (guru besar).
Tiga gagasan besar ibn Arabi yang paling berpengaruh pada perkembangan tasawuf adalah Wahdatul al-Wujud (kesatuan wujud). Konsep tersebut sebenamya tidak pemah digunakan oleh Ibn Arabi sendiri, namun para pengikutnya mengadopsi ungkapan ini untuk menjelaskan pemikiran ibn Arabi. Setiap menggunakan kata wujud,
beliau selalu memperhatikan asal-usul etimologisnya. Baginya,
wujud tidak hanya berarti “menjelma” atau “mengada”, melainkan juga berarti “menemukan” dan “ditemukan” (Khazim, 2002: 129)
Dalam konteks ketuhanan, kata ini berarti bahwa Tuhan “Ada” dan tidak pemah tidak ada. Dan hanya dialah yang “menemukan” diri-Nya dan segala sesuatu selain-Nya. Dengan kata lain, wujud tidak hanya bermakna keberadaan (existence), melainkan juga awareness, kesadaran dan pengetahuan. Bagi ibn Arabi, manusia berada tepat di titik tengah yang tak terhingga. Ia adalah penampakan dari Dia atau bukan Dia, dari wujud atau bukan wujud. Dia selalu berada di tahap yang tak bertahap (Khazim, 2002: 131).
Ibn Arabi meggambarka bahwa antara Allah dan hamba tidak ada jarak rentang. Demikian menurut ibn Arabi:
Pada satu saat, aku mendekati-Nya, dan pada saat yang
lain, aku mengingkari-Nya.
Dia tahu akan aku dan aku mengingkari-Nya, aku tahu akan
dia lalu aku melihat-Nya.
Sungguh aku ini dengan nyanyianku aku
membahagiakan-Nya.
Lalu Dia memujiku dan aku memuji-Nya. Dia menyembah
aku dan aku menyembah Dia.
Selanjutnya ibn Arabi mengatakan bahwa Allah itulah wujud dari semua yang tampak di permukaan bumi ini. Dialah perindu dan
yang dirindukan, Dia lelaki dan Dia perempuan dan rupa-rupa jasad adalah rupa Dia (‘Ali ‘Awaji, 2003:182)
Ajaran tasawufnya adalah dikenal dengan wihdatul wujud
(kesatuan wujud). Dalam paham ini nasut yang ada dalam hulul
diubah olehnya menjadi al-khalq (mutlak) dan lahut menjadi Al-Haq
(Tuhan). Khalaq dan haq merupakan dua aspek bagi setiap sesuatu. Aspek yang sebelah luar disebut khalq, sedangkan aspek sebelah dalam disebut haq. Kata haq dan khalq, merupakan sinonim dari
al-‘aradh (accident) dan al-jauhar (substance). Menurut paham ini, setiap yang ada mempunyai dua aspek, pertama aspek luar mempunyai sifat kemakhlukan. Dan kedua sifat ketuhanan. Dengan kata lain setiap yang wujud terdapat sifat ketuhanan dan sifat kemakhlukan (supiana & karman, 2001: 246).
Paham wihdatul wujud itu tampak sekali di kalangan sufi Tijaniyah, kedudukan makhluk di hadapan al-Haq Yang Maha Tinggi, hal ini adalah bagi orang-orang yang tahu akan wihdatul wujud sehingga di dalam wihdatul wujud itu ia mampu melihat hubungan bagian yang satu dengan bagian yang lain, sesungguhnya yang ada itu adalah satu mata, dan karena itu tidak pembagian atas baunya, jenisnya dan macam-macamnya. Kesatuan mata itu tidak terpisahkan dari perbedaan orang-orang disebabkan aturan-aturan dan
kekhususan-kekhususannya. Dalam persaksian itu seorang hamba lupa akan dirinya dalam Allah dan Allah akan bersemayam dalam tubuh orang-orang sufi, Allah ada dalam pendengaran mereka, penglihatan mereka, tangan-tangan mereka dan kaki-kaki mereka, dzat-Nya telah menyatu dengan dzat orang-orang sufi tersebut (‘Ali ‘Awaji, 2003: 208-210)
Inti ajaran tasawuf yang dibawa oleh Ibnu Arabi; menekankan pengertian kesatuan keberadaan hakiki. Maksudnya, seluruh yang ada, walaupun ia nampak, sebenamya tidak ada dan keberadaannya tergantung pada Tuhan Sang Pencipta. Yang nampak hanya bayang-bayang dari Yang Satu (Tuhan). Paham ini tampaknya merupakan lanjutan dari paham hulul yang dibawa oleh Mansur al- Hallaj, an-nasut (sifat kemanusiaan) dalam hulul diistilahkan oleh Ibnu Arabi menjadi al-Khalaq dan al-Lahut (sifat ketuhanan). Al-Khalaq dan al-Khalq adalah dua aspek yag terdapat pada segala sesuatu; al-Khalq adalah aspek luar dan al-Khaq merupakan aspek dalam.
Paham wihdatul wujud timbul dari filsafat bahwa Tuhan ingin melihat diri-Nya di luar diri-Nya. Kemudian diciptakn-Nya alam sebagai cerminan yang merefleksikan gambaran diri-Nya. Setiap kali la ingin melihat diri-Nya, maka Ia melihat alam karena
pada setiap benda alam terdapat aspek al-haq. Hal ini disebabkan dari teori-teori yang dimajukan banyak unsur-unsur filsafatnya, seperti materi awal penciptaan Tuhan, Nur Muhammad (yang dikenal dalam filsafat sebagai materi awal atau akal pertama), dan dua aspek yang terdapat pada setiap benda dalam filsafat, yang dikenal dengan ide dan bentuk. Sedangkan unsur tasawufnya terdapat pada pemahaman penyatuan wujud segala sesuatu kepada wujud Allah SWT (Ensiklopedi, 1994: 160).
Secara utuh, manusia yang kurang menyadari dan kurang memahami dengan maksud Allah mengadakan alam ini adalah untuk cerminan adanya Allah. Mereka mengatakan bahwa alam ini adalah fatamorgana belaka. Namun jika dilihat dari keterangan di atas temyata itu salah besar. Kama alam ini adalah bagian dari Tuhan, yang di dalamnya terdapat aspek al-khaq-Nya, sehingga alam
merupakan suatu bagian dari Tuhan.
Penulis dapat berpendapat bahwa ketika anda ingin melihat dunia ini, maka keluarlan anda dari dunia ini. Artinya cari cerminan yang dapat membuat diri kita menjadi tahu, sama halnya dengan ketika Tuhan ingin melihat dirinya dengan melihat dunia ini. Keluar bukan berarti kita melihat sisi bumi dari luar, namun dengan
banyaknya pengetahuan dan pengalaman yang membuat kita seakan keluar dari bumi.
Ketika kita bercermin, yang tampak adalah diri kita, namun itu bukan diri kita. Dalam cermin, tangan kita yang kanan akan menjadi tangan kiri, dan tangan kiri akan menjadi yang kanan. Begitu juga dengan anggota yang lain.
Begitulah gambaran dunia ini sebagai cerminan dari Tuhan, ia (bumi) adalah Tuhan, namun ia (bumi) bukanlah Tuhan, kama ia hanya bayangan cerminan dari Tuhan yang sebenarnya.
BAB IV
PENYEIMBANGAN RASIONALITAS, MORALITAS DAN